Chapter Text
.
.
Malam itu gedung serbaguna kampus masih ramai meski acara BEM sudah memasuki sesi penutupan. Lampu-lampu sorot masih menyala terang, suara musik pelan mengalun dari speaker, dan beberapa panitia berseliweran membersihkan meja serta membongkar dekorasi. Anxin berdiri di pinggir panggung, kemeja putihnya sedikit kusut setelah seharian bolak-balik mengurus dokumentasi acara. Ia menghela napas panjang, merasa lelah tapi puas.
Tak jauh darinya, Sangwon — ketua divisi acara BEM yang dikenal tegas dan karismatik — sedang berbincang dengan beberapa anggota lain. Matanya sesekali melirik ke arah Anxin. Sudah sejak awal acara tadi ia memperhatikan mahasiswa tahun ketiga jurusan Sosiologi itu. Gerak-gerik Anxin yang kalem, senyumnya yang sopan saat berinteraksi dengan orang lain, hingga cara ia menggigit bibir bawah ketika sedang konsentrasi — semuanya tak luput dari pengamatan Sangwon.
Setelah acara resmi selesai, Sangwon mendekati Anxin dengan langkah santai. Senyumnya terlihat ramah, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di balik tatapannya.
“Anxin, kan? Kerja bagus tadi dokumentasinya. Capek ya?” tanya Sangwon dengan suara rendah yang sudah terlatih sebagai pemimpin acara.
Anxin menoleh, sedikit terkejut. “Ah, Kak Sangwon. Iya, lumayan capek. Tapi senang acara lancar. Kakak sendiri juga luar biasa, ngatur semuanya.”
Mereka berbasa-basi sebentar. Sangwon bertanya tentang jurusan, kegiatan Anxin di kampus, dan sedikit bercanda soal deadline skripsi. Obrolan terasa ringan, tapi Sangwon sudah mulai mendekatkan tubuhnya secara perlahan. Saat Anxin hendak pamit pulang, Sangwon tersenyam tipis.
“Hati-hati di jalan ya. Malam-malam gini.”
Anxin mengangguk dan berjalan menuju gerbang kampus. Ia tak sadar bahwa Sangwon mengikuti dari kejauhan. Motor Sangwon melaju pelan, menjaga jarak agar tak terlihat. Saat Anxin berbelok ke gang kecil menuju kosannya, Sangwon tetap menguntit dengan sabar. Ia sudah mencari tahu alamat kos Anxin sejak dua minggu lalu — sejak pertama kali melihatnya di rapat panitia BEM.
Hujan mulai rintik-rintik saat Anxin tiba di depan kosannya yang sederhana, sebuah kamar tipe 3x3 di lantai dua sebuah rumah kontrakan. Ia baru saja memasukkan kunci saat mendengar langkah di belakangnya.
“Anxin.”
Suara itu membuat Anxin tersentak. Ia menoleh dan melihat Sangwon berdiri di ujung tangga, jaket hitamnya basah oleh gerimis, rambutnya sedikit acak-acakan tapi tetap terlihat menawan.
“Kak Sangwon? Kok … di sini?”
Sangwon naik satu anak tangga, senyumnya masih terpasang. “Tadi lihat kamu jalan sendirian. Aku kebetulan lewat daerah sini, jadi ikut memastikan. Boleh masuk sebentar? Hujan mulai deras.”
Anxin ragu, tapi sopan santun kampus membuatnya sulit menolak langsung. “Masuk dulu deh, Kak. Tapi kamarnya berantakan.”
Begitu pintu kos tertutup, suasana langsung berubah. Sangwon berdiri di tengah kamar kecil itu, matanya mengamati setiap sudut sebelum kembali tertuju pada Anxin. Basah kuyup oleh gerimis, kemeja Anxin menempel di tubuhnya, memperlihatkan garis pinggang dan dada yang ramping.
“Kamu lucu ya,” kata Sangwon tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Dari tadi di acara aku perhatiin terus. Gerak-gerikmu, senyum kecilmu … bikin aku penasaran.”
Anxin mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding. “Kak … maksudnya apa sih? Kita cuma ketemu di acara kok.”
Sangwon melangkah maju, menyudutkan Anxin dengan tubuhnya yang hampir sama tingginya. “Memang cuma ketemu di acara. Tapi aku udah lama ngamatin kamu. Tiap rapat, tiap kali kamu lewat koridor fakultas. Kamu gak sadar ya?”
Suara Sangwon berat, hampir seperti desahan tertahan. Ia mengangkat tangan dan menyentuh cuping telinga Anxin dengan ibu jempolnya, mengusapnya pelan. Sentuhan itu ringan, tapi cukup membuat bulu kuduk Anxin langsung berdiri.
“Ka-kak, jangan gini ….” Anxin mencoba mendorong dada Sangwon. Tapi tangannya lemah, seolah tubuhnya sudah mulai merespons sentuhan itu dengan cara yang aneh.
Sangwon tidak mundur. Ia malah mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Anxin. “Kenapa? Kamu gemeteran gini … padahal aku baru sentuh telinga doang.” Suaranya berat, penuh nafsu yang tertahan. “Aku suka lihat kamu gini. Kayak tikus kecil yang ketakutan, tapi gak bisa lari.”
Tangan Sangwon turun, meraih jemari Anxin. Ia merematnya pelan, lalu membawa tangan itu ke dadanya sendiri sebelum membalikkan telapak tangan Anxin dan menelusuri garis-garis telapaknya dengan jari telunjuk. Gerakan naik-turun itu lambat, sensual, membuat getaran aneh menjalar dari telapak tangan Anxin ke seluruh lengannya.
Anxin merinding hebat. Bulu kuduknya berdiri semua. “Kak Sangwon … lepasin. Aku gak mau—”
Ia mendorong lebih keras, mencoba melepaskan diri. Tapi Sangwon lebih kuat. Dengan satu gerakan cepat, ia menekan kedua pergelangan tangan Anxin ke dinding di atas kepala, tubuhnya menempel rapat. Dada Sangwon menekan dada Anxin, pinggulnya mendesak ke depan hingga Anxin bisa merasakan kehangatan dan kekerasan yang sudah terbangun di balik celana Sangwon.
“Susah ya nolaknya?” bisik Sangwon sambil tersenyum tipis. “Kamu dorong-dorong gini, tapi tubuhmu malah merapat. Lihat? Kamu gemeteran.”
Anxin menggeleng, napasnya memburu. “Ini salah … Kak, please ….”
Sangwon tidak mendengarkan. Ia mulai mencium punggung tangan Anxin yang masih ditahan, lalu naik ke pergelangan, lengan, bahu, leher, pipi, dahi, dan akhirnya ke bibir. Ciuman pertama lembut, hanya menempel. Tapi detik berikutnya menjadi dalam, menuntut, lidahnya menyusup masuk saat Anxin membuka mulut karena terkejut.
“Kak—mmh!” Anxin mencoba menoleh, tapi Sangwon menahan dagunya dengan tangan yang bebas.
Ciuman itu semakin panas, basah, penuh dominasi. Tangan Sangwon yang lain turun, meremas pinggang Anxin, lalu merayap ke bawah punggungnya, menekannya lebih rapat. Anxin masih berusaha melawan. Ia menggeliat, mendorong bahu Sangwon, tapi setiap gerakan hanya membuat Sangwon semakin bergairah. Dengan mudah Sangwon mengangkat tubuh Anxin sedikit, membalik posisinya hingga punggung Anxin menempel di dinding dan kakinya hampir tak menyentuh lantai.
“Kamu milikku malam ini,” gumam Sangwon di sela ciuman, suaranya parau. “Gak ada yang bisa nolong kamu di kos kecil ini.”
Tangan Sangwon menarik kemeja Anxin ke atas, telapaknya yang hangat menyentuh kulit perut dan dada Anxin yang halus. Jari-jarinya menelusuri puting Anxin, meremas pelan, lalu menariknya hingga Anxin mengeluarkan desahan kecil yang tak sengaja.
“Ah—! Kak, stop ….”
Tapi Sangwon malah tersenyum di bibir Anxin. “Desahanmu lucu. Coba lagi.”
Ia menurunkan celana pendek Anxin bersama boxer-nya dalam satu gerakan, lalu mengangkat satu kaki Anxin ke pinggangnya. Tanpa banyak persiapan, Sangwon menyentuh bagian belakang Anxin dengan jarinya yang sudah licin oleh ludahnya sendiri, memainkan area sensitif itu dengan gerakan melingkar yang ahli.
Anxin menggigit bibirnya kuat-kuat, tubuhnya bergetar hebat. Perlawanannya semakin melemah saat Sangwon menambahkan satu jari lagi, mengembangkannya perlahan sambil terus mencium lehernya, meninggalkan jejak merah.
“Rileks … aku bakal pelan dulu,” bisik Sangwon dengan suara berat penuh kendali. “Tapi nanti … aku gak janji.”
Sangwon menarik napas dalam, menikmati getaran tubuh Anxin yang masih menegang di bawahnya. Ia tidak buru-buru. Malah, ia sengaja menahan diri, menikmati setiap detik perlawanan yang semakin melemah itu.
“Shh … jangan tegang gini,” bisik Sangwon tepat di cuping telinga Anxin. Suaranya lembut, hampir seperti desahan rendah yang bergetar. “Kamu boleh tolak aku sebanyak yang kamu mau … tapi tubuhmu sudah jujur banget.”
“Kak… lepasin… aku gak mau… ini salah…” suaranya bergetar, tapi napasnya sudah memburu.
Sambil Anxin masih berusaha mendorong badan Sangwon, Sangwon kembali menelusuri leher Anxin dengan bibirnya. Ciuman ringan, basah, diselingi gigitan kecil yang membuat Anxin menggigil. Setiap kali Anxin mencoba mendorong bahu Sangwon, Sangwon hanya menekan pinggulnya lebih rapat, membuat Anxin merasakan betapa keras dan panas milik Sangwon yang sudah siap di balik celana.
Tangan Sangwon berpindah naik. Mulai dari bahu Anxin, meremas pelan otot yang tegang, lalu turun ke dada. Telapak tangan yang hangat menutupi dada Anxin, ibu jarinya berputar pelan di sekitar puting yang sudah mengeras.
“Ah—!” Anxin tersentak.
Kepalanya pusing. Otaknya berteriak menolak, tapi tubuhnya bereaksi dengan cara yang memalukan — putingnya mengeras hanya karena sentuhan ibu jari Sangwon yang lambat dan penuh tekanan.
Sangwon mendekatkan bibirnya ke telinga Anxin lagi. “Lihat? Sudah keras …” desahnya lembut, suaranya berat dan basah. “Ngg … kamu sensitif banget di sini.”
Ia menunduk, lidahnya menyentuh puting Anxin yang kiri, menjilat pelan, lalu mengulumnya perlahan. Sedangkan tangan kanannya terus meremas dada yang satu lagi, menarik putingnya pelan-pelan. Anxin menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit, berusaha menahan desahan yang ingin keluar. Tapi Sangwon tak memberi kesempatan — ia menggigit kecil puting Anxin sambil mendesah rendah di kulitnya.
“Mmh … enak … rasanya manis,” bisik Sangwon di antara gigitan dan jilatan.
Anxin merasa kepalanya mau pecah. “Kak … stop … please … aku mohon ….”
Ia mendorong kepala Sangwon dengan kedua tangan, tapi tenaganya lemah. Sangwon hanya tertawa pelan, lalu menangkap kedua pergelangan Anxin lagi dan menekannya ke samping kepala.
“Kamu boleh tolak terus … tapi lihat ini,” Sangwon menggerakkan pinggulnya pelan, menggesekkan kejantanan yang sudah sangat keras ke bagian depan Anxin yang perlahan bereaksi. “Tubuhmu sudah basah di ujungnya. Kamu ngeluarin cairan buat aku.”
Tangan Sangwon turun lagi, kali ini melewati perut Anxin yang naik-turun karena napas memburu. Ia mengusap paha dalam Anxin dengan telapak tangan yang kasar, naik-turun perlahan, semakin mendekati pangkal paha tapi tidak langsung menyentuh. Setiap kali jarinya hampir menyentuh kejantanan Anxin, ia malah mundur lagi, membuat Anxin gelisah tanpa sadar.
“Ngg … Kak Sangwon … jangan … jangan di situ ….” Anxin menggeliat, mencoba menutup pahanya, tapi Sangwon menahan lututnya dengan kuat.
Sangwon mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Matanya gelap penuh nafsu. “Kamu bilang jangan, tapi pinggulmu malah maju sedikit. Lucu banget …” Ia mendesah lembut di bibir Anxin. “Mmh … aku suka lihat kamu berantem sama diri sendiri.”
Akhirnya tangan Sangwon menyentuh kejantanan Anxin. Bukan langsung menggenggam, tapi hanya mengusap batangnya dengan punggung jari, naik-turun sangat pelan. Sentuhan itu ringan, hampir menyiksa. Anxin mengeluarkan suara setengah erangan setengah isakan.
“Uhh … lihat? Sudah basah semua ….” Sangwon mengusap ujung Anxin dengan ibu jarinya, menyebarkan cairan yang keluar ke seluruh batang. Gerakannya tetap lambat, penuh kendali, kadang meremas pelan di pangkal, kadang hanya mengelus ujung dengan gerakan melingkar.
Setiap sentuhan membuat Anxin semakin pusing. Kepalanya penuh teriakan ‘tolak’, tapi tubuhnya malah menggigil nikmat, pinggulnya bergerak kecil mengikuti irama tangan Sangwon.
Sangwon kembali mendekat ke telinga Anxin, napasnya panas. “Mmh … kamu enak banget disentuh … rasanya panas … berdenyut di tangan …” desahnya lembut, suaranya semakin parau. “Aku mau masuk … tapi belum sekarang.”
Ia membalik tubuh Anxin dengan mudah hingga Anxin menghadap dinding, dada Anxin menempel dingin ke tembok. Sangwon berdiri di belakang, satu tangannya masih memainkan kejantanan Anxin dari depan, sementara tangan satunya merayap ke belakang.
Jari tengah Sangwon menyentuh lubang Anxin lagi, mengelusnya pelan dengan gerakan melingkar. Lalu ia membawa jarinya ke mulutnya sendiri, melumasi dengan ludah, dan kembali ke sana. Kali ini jarinya masuk perlahan, hanya ujungnya dulu, berputar pelan.
Anxin mengejang. “Ahh—! Sakit … Kak, keluarin …!”
“Sakit? Tapi kamu mengencang gini …” Sangwon mendesah di tengkuk Anxin sambil memasukkan jarinya lebih dalam, menggerakkan perlahan keluar-masuk. “Rileks … mmh … di dalam panas banget … sempit ….”
Ia menambah satu jari lagi, merentangkan Anxin dengan sabar sambil tangan depannya terus memompa kejantanan Anxin dengan irama yang sama. Foreplay itu berlangsung lama, sangat lama. Sangwon terus berbisik desahan lembut di telinga Anxin setiap kali jarinya menyentuh titik sensitif di dalam.
“Ngg … di sini ya? Kamu langsung gemetaran ….”
“Mmh … enak … aku bayangin nanti milik aku masuk ke sini ….”
“Kamu basah banget … buatku semua ….”
Anxin sudah menangis pelan. Kepalanya sakit karena konflik yang tak tertahankan. Ia masih mengucapkan kata-kata penolakan yang semakin lemah, “Jangan … Kak … aku gak mau …” tapi pinggulnya malah mundur sedikit, seolah mencari sentuhan Sangwon lebih dalam.
Akhirnya, setelah Anxin benar-benar gemetar tak terkendali, Sangwon menarik jarinya keluar. Ia membalik Anxin lagi, mengangkat satu kaki Anxin ke pinggangnya, lalu menempelkan ujung kejantanan yang sudah sangat keras dan basah ke lubang yang sudah agak terbuka.
“Sekarang … aku masuk ya,” bisik Sangwon dengan suara berat penuh kemenangan. “Tarik napas dalam-dalam … biar kamu ngerasain semuanya.”
Sangwon menatap wajah Anxin yang sudah memerah dan basah oleh air mata. Ujung kejantanannya yang tegang dan panas sudah menekan lubang Anxin yang berkedut-kedut karena rangsangan panjang tadi. Ia tidak langsung mendorong masuk. Masih dengan sabar, ia menggesekkan ujungnya ke sana kemari, melumasi lubang yang sudah licin oleh ludahnya sendiri.
“Tarik napas … pelan,” bisik Sangwon tepat di telinga Anxin. Suaranya rendah, bergetar seperti desahan. “Mmh … aku mau kamu ngerasain setiap senti.”
Anxin menggeleng lemah, kedua tangannya mencengkeram bahu Sangwon. “Jangan … Kak … terlalu besar … aku gak kuat … tolong keluarin ….” Suaranya pecah, tapi pinggulnya justru bergerak kecil, seolah tubuhnya sudah tak bisa menahan lagi.
Sangwon tersenyum tipis di leher Anxin. Dengan satu tangan ia memegang pinggul Anxin kuat-kuat, tangan satunya memegang kejantanannya sendiri dan mengarahkan ujungnya tepat ke lubang yang sudah agak terbuka. Perlahan, sangat perlahan, ia mendorong maju.
“Ahh—!!” Anxin menjerit pelan.
Kepalanya mendongak ke belakang, mulutnya terbuka lebar. Rasanya terlalu penuh. Ujung Sangwon saja sudah meregangnya lebar, membakar dinding dalamnya yang sensitif.
“Ngg … sempit banget ….” desah Sangwon di telinga Anxin, suaranya berat dan parau.
Ia berhenti sejenak, hanya separuh masuk, memberi Anxin waktu untuk bernapas. Tapi tangannya tetap aktif — ia meremas pinggul Anxin, mengusap punggungnya naik-turun, lalu meraih kejantanan Anxin yang masih keras dan memompa pelan.
“Rileks … mmh … kamu menggigit aku di dalam … enak sekali ….” bisiknya lagi sambil mencium cuping telinga Anxin.
Setelah Anxin agak terbiasa, Sangwon mendorong lagi. Sentimeter demi sentimeter, ia memasuki Anxin dengan kontrol penuh. Rasanya panas, ketat, dan basah. Setiap kali Anxin mengejang karena perlawanan, Sangwon malah mendesah panjang di telinganya.
“Uhh … bagus … seperti itu … remas aku lagi ….”
Akhirnya, setelah dorongan panjang yang menyiksa, Sangwon sepenuhnya masuk. Pangkalnya menempel rapat di bokong Anxin. Anxin merasa perutnya penuh, seperti ada sesuatu yang terlalu besar di dalam dirinya. Air matanya mengalir deras.
“Kak … penuh … sakit … keluarin … please ….” Ia mencoba mendorong dada Sangwon, kuku-kukunya menancap di kulit.
Tapi Sangwon hanya memeluknya lebih erat, hampir mengangkat tubuh Anxin sedikit dari lantai. “Sakit? Tapi lihat ini …” Ia menggerakkan pinggulnya pelan ke depan-belakang, hanya beberapa senti, tapi cukup membuat kepala kejantanan Sangwon menggesek titik sensitif di dalam Anxin.
“Ahh—! Di situ— jangan—” Anxin tersentak hebat. Tubuhnya menggigil, kejantanannya meneteskan cairan bening di perutnya sendiri.
Sangwon mulai bergerak lebih ritmis. Lambat, tapi dalam. Setiap kali ia masuk sepenuhnya, ia menekan pinggulnya kuat-kuat, memutar sedikit agar Anxin merasakan tekanan di segala arah. Gerakannya runtut dan terkontrol — keluar hampir sepenuhnya, lalu masuk lagi dengan dorongan tegas.
“Mmh … dengar suara kita ….” desah Sangwon di telinga Anxin.
Suara basah dan berdebum pelan dari pertemuan tubuh mereka memenuhi kamar kos yang kecil. “Kamu basah banget di dalam ….”
Anxin menggiti bahu Sangwon untuk menahan erangan. Otaknya masih berusaha menolak — “Ini salah … aku gak mau …” Tapi setiap dorongan Sangwon membuat otaknya kosong sejenak. Tubuhnya berkhianat, dinding dalamnya mengencang setiap kali Sangwon menyentuh titik prostatnya.
Sangwon mempercepat sedikit. Ia mengangkat satu kaki Anxin lebih tinggi, mengubah sudut penetrasi sehingga ia bisa masuk lebih dalam. Setiap hantaman kini lebih kuat, lebih tepat.
“Uhh … di sini ya? Kamu langsung berdenyut keras tiap aku tekan sini …” bisik Sangwon sambil terus mendesah lembut. Napasnya panas membelai telinga Anxin. “Enak … kamu enak banget ….”
Tangan Sangwon memompa kejantanan Anxin mengikuti irama hantaman pinggulnya. Gerakan naik-turun yang cepat dan basah. Anxin sudah tak bisa menahan suaranya lagi — erangan kecil lolos dari bibirnya setiap kali Sangwon menghunjam dalam.
“Ah … ahh … Kak … pelan … terlalu dalam ….”
“Pelan?” Sangwon tertawa pelan, suaranya serak. “Tapi kamu kayak menggigit punyaku lebih erat tiap aku masuk ke dalam.”
Ia sengaja menghunjam lebih keras sekali, membuat Anxin menjerit kecil. Sangwon membalik posisi mereka. Ia mendudukkan Anxin di pangkuannya sambil duduk di tepi ranjang kecil. Sekarang Anxin berada di atas, tapi Sangwon yang sepenuhnya mengendalikan. Kedua tangannya memegang pinggul Anxin kuat, mengangkat dan menurunkannya sesuai irama yang ia inginkan.
“Gerak sendiri … atau aku yang gerakin?” tanya Sangwon sambil menatap mata Anxin yang berkabut.
Ia mendesah panjang saat Anxin tanpa sadar mengencang di dalam. “Mmh … bagus … turun lebih dalam … ya seperti itu ….”
Anxin mencoba diam, tapi Sangwon malah mengangkat pinggulnya sendiri dengan kuat dari bawah, menghunjam naik dengan ritme yang semakin cepat. Suara ranjang berderit keras, suara kulit bertemu kulit semakin basah dan mesra. Keringat mereka bercampur. Sangwon terus berbisik desahan lembut di telinga Anxin setiap kali ia menghunjam.
“Ngg … dalam banget … Mmh … kamu milikku malam ini … Uhh … enak … remas lagi … Aku mau penuhin kamu ….”
Anxin sudah tak kuat lagi menolak. Tubuhnya lemas, hanya bisa bersandar di dada Sangwon sambil menerima setiap hantaman kuat dan dalam. Kepalanya pusing oleh kenikmatan yang tak bisa ditolak, meski mulutnya masih sesekali menggumamkan kata ‘jangan’ yang semakin tidak meyakinkan.
Sangwon tersenyum puas di leher Anxin. Ia tahu, sebentar lagi Anxin akan benar-benar menyerah.
Sangwon masih mendudukkan Anxin di pangkuannya, kejantanannya terbenam sangat dalam di dalam tubuh Anxin. Ia memeluk pinggang Anxin erat sambil menggerakkan pinggulnya pelan dari bawah, naik-turun dengan irama santai. Napas keduanya sudah sama-sama memburu.
“Uhh … enak banget posisi gini,” gumam Sangwon dengan suara serak dan santai. “Kamu di atas, tapi aku yang ngatur semuanya. Rasain ya, pelan-pelan dulu.”
Anxin menggigit bibirnya kuat, kedua tangannya mencengkeram bahu Sangwon. “Kak … cukup … aku capek … keluarin ….” katanya lemah, tapi pinggulnya malah ikut bergerak kecil mengikuti dorongan Sangwon.
Sangwon terkekeh pelan di leher Anxin. “Capek? Badanmu malah ngencang gini tiap aku dorong. Bohong deh.”
Ia mengangkat Anxin sedikit lebih tinggi, lalu menurunkannya dengan kuat hingga pangkalnya masuk sepenuhnya. Anxin menjerit kecil, kepalanya ambruk ke bahu Sangwon.
Setelah beberapa menit di posisi itu, Sangwon mengangkat tubuh Anxin tanpa keluar, lalu membalik posisinya dengan mudah. Ia meletakkan Anxin telungkup di ranjang kecil yang sempit, bokong Anxin terangkat sedikit karena bantal yang ia selipkan di bawah perutnya.
“Posisi baru ya … biar lebih dalam,” kata Sangwon santai sambil mengusap punggung Anxin yang berkeringat.
Ia berlutut di belakang, memegang pinggul Anxin dengan kedua tangan, lalu menggesekkan kejantanannya yang masih keras di antara belahan bokong Anxin. Anxin mencoba merangkak maju, tapi Sangwon langsung menarik pinggulnya kembali.
“Kak … jangan dari belakang … malu ….” protesnya dengan suara gemetar.
“Malu apa? Bagus kok ini,” jawab Sangwon sambil tersenyum.
Ia menunduk, meludahi lubang Anxin yang sudah agak longgar, lalu mendorong masuk lagi dengan satu gerakan panjang dan mantap.
“Ahh—!!” Anxin menjerit, wajahnya tertanam di bantal.
Posisi ini membuat Sangwon masuk jauh sekali, menyentuh titik paling sensitif dengan setiap dorongan. Sangwon mulai bergerak. Awalnya pelan dan panjang, keluar hampir sepenuhnya lalu masuk hingga pangkalnya menempel rapat di bokong Anxin. Setiap hantaman menghasilkan suara basah yang memalukan.
“Fuck … ketat banget masih,” desah Sangwon santai, suaranya penuh kenikmatan. “Tiap aku masuk, kamu langsung remas gini. Enak, Sayang.”
Tangan Sangwon merayap ke depan, memegang kejantanan Anxin yang tergantung dan memompa pelan mengikuti irama pinggulnya. Gerakannya semakin dalam, tapi masih terkontrol. Ia suka melihat bagaimana punggung Anxin melengkung setiap kali ia menghunjam.
“Pelan … Kak … terlalu dalam … sakit ….” Anxin masih mencoba menolak, tangannya mencengkeram sprei ranjang.
“Sakit? Tapi kamu ngucur terus,” Sangwon tertawa kecil sambil mempercepat sedikit. “Denger suara basahnya? Kamu udah basah banget di dalem.”
Ia mengubah sudut sedikit, membuat kejantanannya menggesek prostat Anxin lebih sering. Anxin langsung menggigil hebat, erangannya tertahan di bantal. Sangwon mencondongkan tubuhnya ke depan, dada bidangnya menempel di punggung Anxin. Gerakannya jadi lebih pendek tapi cepat dan kuat. Ia menggigit pelan bahu Anxin sambil berbisik di telinganya.
“Mmh … enak banget … kamu panas di dalem … Uhh … gerak pinggulmu dikit dong … iya gitu … Kamu suka ya? Badanmu jujur banget meskipun mulutnya nolak ….”
Anxin hampir tak bisa berpikir. Kepalanya pusing berat. Setiap hantaman membuatnya melihat bintang-bintang. Tubuhnya gemetar hebat, kejantanannya berdentut-denyut di tangan Sangwon.
Sangwon merasakan Anxin sudah di ambang klimaks. Ia mempercepat gerakannya, hantaman demi hantaman yang kuat dan dalam. Suara ranjang berderit keras, suara kulit bertemu kulit memenuhi kamar.
“Uhh … mau keluar ya? Keluar bareng aku,” bisik Sangwon serak. “Aku isi dalem kamu … penuh-penuh.”
Ia menarik Anxin sedikit ke belakang hingga posisinya hampir doggy style penuh. Tangan kirinya memegang pinggul Anxin kuat, tangan kanannya memompa kejantanan Anxin dengan cepat.
“Shit … ketat … aku keluar ya—” Sangwon mendesah panjang.
Dengan beberapa hantaman akhir yang sangat kuat dan dalam, ia meledak di dalam Anxin. Cairan panasnya memenuhi dinding dalam Anxin berkali-kali, terus menyembur selama ia masih bergerak pelan.
Saat itu juga Anxin mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang hebat, kejantanannya menyemburkan cairan putih ke sprei dan tangan Sangwon. Erangannya pecah, campur antara isakan dan desahan yang tak bisa ditahan lagi.
Sangwon masih bergerak pelan beberapa kali, menikmati denyutan Anxin di sekitar kejantanannya sambil mengeluarkan sisa-sisa cairannya. Napasnya memburu di punggung Anxin.
“Gila … kamu cantik banget,” gumamnya santai sambil mencium tengkuk Anxin yang basah keringat. “Besok-besok kita ulang lagi ya ….”
Anxin hanya bisa tergeletak lemas di ranjang, tubuhnya masih bergetar hebat, cairan Sangwon perlahan keluar dari lubangnya yang sudah merah dan bengkak.
Sangwon masih berada di dalam Anxin, kejantanannya yang mulai melunak berdenyut pelan di dalam tubuh yang panas dan penuh cairannya. Ia tidak langsung keluar. Malah, ia menekan tubuhnya lebih rapat ke punggung Anxin, memeluknya dari belakang sambil napasnya yang memburu pelan-pelan reda.
“Uhh … masih bergetar di dalem,” gumam Sangwon santai, suaranya serak dan puas. Ia mencium tengkuk Anxin yang basah keringat, lalu mengusap punggungnya pelan dengan telapak tangan yang hangat. “Kamu oke? Capek banget ya tadi.”
Anxin hanya tergeletak lemas, wajahnya tertanam di bantal. Tubuhnya masih gemetar hebat, lubangnya berkedut-kedut di sekitar kejantanan Sangwon. “Kak … keluarin … udah cukup ….” bisiknya lemah, suaranya pecah.
Sangwon tersenyum kecil. Ia perlahan menarik kejantanannya keluar, membuat cairan putih kentalnya mengalir keluar dari lubang Anxin yang sudah merah dan agak terbuka. Tapi bukannya berhenti, Sangwon malah membalik tubuh Anxin hingga telentang, lalu menyelipkan bantal di bawah pinggulnya agar bokong Anxin sedikit terangkat.
“Belum cukup kok,” kata Sangwon santai sambil mengusap paha dalam Anxin. “Aku mau pijat dulu buat kamu. Biar rileks.”
Tangan Sangwon turun ke antara kedua paha Anxin. Dua jarinya yang panjang dan tebal kembali menyentuh lubang yang masih basah oleh campuran cairan mereka. Anxin langsung tersentak.
“Kak … jangan lagi … aku habis keluar ….”
Ia mencoba menutup pahanya, tapi Sangwon menahan lututnya dengan mudah.
“Tenang aja … aku pelan-pelan,” bisik Sangwon di telinga Anxin sambil mencium pipinya. “Cuma pijit dalem dikit. Kamu bakal suka.”
Ia memasukkan dua jarinya perlahan ke dalam lubang Anxin yang licin. Gerakannya sangat pelan dan hati-hati, menelusuri dinding dalam yang masih berdenyut. Lalu jarinya menemukan titik prostat yang terasa panas dan sensitif setelah orgasme tadi.
“Nah … ini dia,” gumam Sangwon dengan nada puas.
Ia menekan titik itu pelan dengan bantalan jarinya, lalu menggerakkan melingkar secara lembut.
“Ahh—!!” Anxin mengejang hebat, punggungnya melengkung. Sensasinya terlalu kuat, campuran antara sakit dan kenikmatan yang menyiksa. “Kak … jangan di situ … aku gak tahan— ahh!”
Sangwon tidak berhenti. Ia terus memijat prostat Anxin dengan gerakan runtut dan terkontrol — tekan, lingkar, gosok pelan, lalu tekan lagi. Tangan satunya memegang kejantanan Anxin yang mulai mengeras lagi meski baru klimaks.
“Lihat? Udah bangun lagi,” kata Sangwon santai sambil terkekeh pelan. “Enak kan? Badanmu jujur banget. Mmh … remas jari aku gitu … bagus.”
Anxin menggeleng-geleng, air matanya kembali mengalir. “Stop … Kak … aku mau keluar lagi … sakit … enak ….”
Kepalanya pusing parah. Otaknya ingin kabur, tapi tubuhnya malah mendesak pinggul ke jari Sangwon. Sangwon semakin intens memijatnya. Jarinya sekarang bergerak lebih cepat, menekan prostat Anxin dengan irama yang stabil dan kuat. Tangan kanannya memompa kejantanan Anxin dengan gerakan basah dan cepat.
“Keluar lagi aja … aku mau lihat kamu orgasme cuma dari pijitan ini,” bisik Sangwon di telinga Anxin, suaranya rendah dan mesra. “Hayo … lepasin aja … mmh … kamu gemeteran banget.”
Anxin tak kuasa menahan lagi. Tubuhnya mengejang hebat, kejantanannya menyemburkan cairan tipis dan bening untuk kedua kalinya. Orgasme kering yang membuatnya hampir pingsan. Lubangnya mengencang kuat di sekitar jari Sangwon, berkedut-kedut panjang.
Setelah Anxin selesai gemetar, Sangwon akhirnya menarik jarinya keluar. Ia membersihkan tangannya dengan tisu di meja kos, lalu naik ke ranjang dan memeluk Anxin dari belakang, tubuh besarnya menempel rapat.
“Tapi … jangan coba kabur ya,” kata Sangwon santai sambil mengunci pinggang Anxin dengan lengannya yang kuat.
Satu kakinya juga melingkar di paha Anxin, mengunci pergerakannya total. “Besok aku masih ada rencana buat kamu. Pagi-pagi aku mau bangunin kamu dengan cara yang lebih seru. Terus siangnya … kita lanjut di kos ini seharian. Tubuh kamu belum cukup aku pakai.”
Anxin hanya bisa terengah-engah lemas dalam pelukan Sangwon. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit, tapi Sangwon langsung mempererat pelukannya.
“Jangan gerak-gerak. Tidur aja sekarang,” gumam Sangwon sambil mencium belakang telinga Anxin. “Besok pagi … aku bakal pastiin kamu gak bisa jalan lurus.”
.
Pagi berikutnya, sinar matahari masuk tipis melalui celah gorden kos yang tipis. Anxin terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam. Setiap ototnya terasa pegal, terutama pinggang, paha, dan bokongnya yang masih terasa penuh dan nyeri samar. Ia sadar ada lengan kuat yang melingkar erat di pinggangnya sepanjang malam. Sangwon masih tidur di belakangnya, dada bidangnya menempel hangat di punggung Anxin.
Anxin mencoba bergeser pelan, tapi lengan Sangwon langsung menegang.
“Udah bangun?” suara Sangwon serak khas bangun tidur, tapi sudah ada nada nakal di dalamnya. “Pagi yang bagus.”
Anxin langsung tegang. Kenangan semalam membanjiri kepalanya. “Kak … lepasin. Ini salah. Kemarin itu … aku gak waras. Kita harus berhenti,” katanya dengan suara gemetar sambil mencoba mendorong lengan Sangwon.
Di dalam hati ia bahkan sempat berdoa pelan, memohon ampun dan kekuatan untuk menolak godaan ini. Sangwon hanya tertawa pelan, napas hangatnya menyapu tengkuk Anxin.
“Salah? Padahal semalam kamu orgasme dua kali. Badanmu yang bilang beda, Sayang.”
Ia tidak melepaskan pelukannya. Malah, Sangwon bangkit sedikit dan membalik tubuh Anxin hingga telentang. Lalu ia naik ke atas Anxin, duduk mengangkang di pinggulnya tanpa membebani terlalu berat. Tangan besarnya langsung menyentuh bahu Anxin yang tegang.
“Pertama-tama … aku pijit dulu ya. Badan kamu kaku banget,” kata Sangwon santai.
Mulai dari bahu. Telapak tangan Sangwon yang hangat dan kuat menekan otot-otot bahu Anxin dengan gerakan melingkar yang dalam tapi perlahan. Tekanannya pas, meredakan ketegangan sekaligus membuat Anxin mengeluarkan desahan kecil yang tak sengaja.
“Uhh … lihat? Bahumu langsung rileks,” gumam Sangwon.
Tapi jarinya tak hanya memijat. Sesekali ibu jarinya mengusap tulang selangka Anxin dengan sentuhan sensual, menelusuri garis leher, lalu turun ke dada.
Anxin menggeleng kuat. “Kak Sangwon … cukup. Aku serius. Ini salah… aku gak mau lagi.”
Ia mendorong dada Sangwon dengan kedua tangan, tapi tenaganya masih lemah karena tubuhnya yang lelah. Sangwon menangkap kedua tangan Anxin, menempelkannya ke ranjang di samping kepala.
“Doa aja terus kalau mau. Tapi badanmu ini … aku yang lebih paham.”
Tangan Sangwon turun ke punggung Anxin setelah membaliknya lagi ke posisi telungkup. Ia memijat punggung tengah dengan kedua telapak tangan, menekan otot-otot yang tegang akibat hantaman semalam. Gerakan pijatannya panjang, dari pinggang naik ke bahu, lalu turun lagi. Setiap kali tangannya turun ke pinggang, jarinya menyelinap ke sisi tubuh Anxin, mengusap tulang rusuk dengan sentuhan ringan yang membuat bulu kuduk Anxin berdiri.
“Mmh … di sini pegel ya?” tanya Sangwon sambil menekan otot di pinggang Anxin.
Lalu tangannya merayap lebih bawah, memijat bokong Anxin dengan gerakan menggenggam yang sensual. Jempolnya sengaja menekan dekat celah bokong, mengusap pelan tanpa langsung masuk.
Anxin menggigit bantal. “Jangan … di situ … Kak, aku mohon … ini salah besar ….”
Suaranya sudah mulai pecah. Tubuhnya panas lagi, kejantannya yang pagi-pagi sudah setengah mengeras menusuk kasur. Sangwon membalik Anxin kembali ke posisi telentang. Kali ini ia membuka lebar kedua paha Anxin dan duduk di antaranya. Tangan kirinya melanjutkan pijatan di paha dalam — tekanan kuat yang merilekskan otot, tapi semakin naik ke pangkal paha semakin ringan dan sensual.
“Salah apaan sih? Kamu kan sudah basah lagi di sini,” kata Sangwon santai sambil mengusap kejantanan Anxin yang sudah keras penuh dengan punggung jarinya. “Lihat? Pagi-pagi udah ngaceng buat aku.”
Ia menunduk, mencium perut Anxin pelan, lalu naik ke dada. Lidahnya menjilat puting Anxin yang mengeras, mengulumnya lembut sambil tangan kanannya memijat paha yang satu lagi. Setiap sentuhan pijatan di otot berubah jadi elusan sensual yang memabukkan. Anxin merasa kepalanya pusing lagi — perasaan bersalah yang berat bertabrakan dengan gelombang kenikmatan yang membuat tubuhnya gemetar.
“Kak … hentikan … aku gak mau … ini salah ….” Anxin masih mencoba menolak, tangannya mendorong kepala Sangwon, tapi dorongannya lemah dan malah terasa seperti memeluk.
Sangwon naik lebih tinggi. Ia menggenggam kedua pergelangan tangan Anxin dengan satu tangan di atas kepala, sementara tangan satunya turun memainkan lubang Anxin yang masih licin sisa semalam. Dua jarinya masuk pelan, memijat dinding dalam sambil mencari prostat.
“Ngg … masih sempit meskipun semalam udah aku isi,” desah Sangwon di bibir Anxin. “Rileks aja … biar aku pijit yang enak di dalem.”
Jarinya menemukan titik prostat dan mulai menekan pelan dengan gerakan melingkar yang ahli. Anxin langsung mengejang, erangan lolos dari bibirnya meski ia berusaha menahannya.
“Ahh—! Kak … jangan di situ … aku … aku gak kuat ….”
Sangwon tersenyum di leher Anxin, menciumi dan menggigit kecil sambil jarinya terus memijat prostat dengan irama memabukkan. Tangan lainnya memompa kejantanan Anxin pelan-pelan.
“Kamu boleh tolak terus, doa sekeras apa pun. Tapi badanmu ini udah ngemis dari tadi,” bisik Sangwon santai di telinga Anxin. “Sekarang … aku mau masuk lagi ya. Pelan-pelan, biar kamu ngerasain semuanya.”
Ia melepaskan pegangan di tangan Anxin, tapi langsung mengangkat kedua paha Anxin ke bahunya, memposisikan diri di depan lubang yang sudah basah dan berkedut. Anxin masih menggeleng lemah, air mata menggenang di sudut matanya.
“Jangan … Kak Sangwon … please ….”
Tapi Sangwon hanya mendekatkan ujung kejantanannya yang sudah sangat keras ke lubang Anxin, menggeseknya pelan sambil tersenyum.
“Terlambat, sayang.”
Sangwon mengusap ujung kejantanannya yang sudah basah di lubang Anxin beberapa kali, lalu mendorong maju dengan perlahan. Sangat perlahan. Hanya kepala dulu, lalu batangnya masuk sedikit demi sedikit hingga akhirnya seluruhnya tenggelam dalam satu dorongan panjang yang mantap.
“Uhh … masuk semua,” desah Sangwon santai, suaranya rendah dan puas.
Ia menekan pinggulnya rapat sampai pangkal kejantanannya menempel sempurna di bokong Anxin. “Gitu aja … sekarang diem dulu.”
Anxin mengejang hebat, matanya membelalak. “Ahh—! Kak … keluarin … terlalu penuh ….”
Ia langsung mencoba menggeliat, mendorong dada Sangwon dengan kedua tangan, dan menggerakkan pinggulnya ke belakang untuk melepaskan diri. Tapi justru itu yang Sangwon tunggu. Setiap kali Anxin bergerak menolak, kejantanan Sangwon yang besar dan keras bergeser di dalam dirinya. Gesekan itu langsung menyentuh dinding dalam dan prostatnya dengan tajam.
Anxin tersentak, tubuhnya gemetar hebat. “Ngh—!!” erangannya pecah tanpa bisa ditahan.
Sangwon tersenyum lebar, matanya penuh kemenangan. Ia tidak bergerak sama sekali. Pinggulnya tetap diam, hanya menempel rapat. Kejantanannya dibiarkan berada di dalam Anxin sepenuhnya, panas, berdenyut, dan memenuhi.
“Gerak lagi dong,” goda Sangwon santai sambil mengusap dada Anxin dengan telapak tangan. “Semakin kamu tolak dan gerak-gerak, semakin kamu ngerasain aku di dalem. Enak kan?”
Anxin menggigit bibir kuat-kuat, mencoba diam. Tapi Sangwon tidak membiarkannya tenang. Tangan Sangwon terus bergerak melakukan foreplay yang memabukkan. Ia memijat dada Anxin dengan kedua tangan, ibu jarinya berputar pelan di puting yang sudah keras, menariknya lembut, lalu mengulum salah satunya dengan mulut sambil mendesah rendah.
“Mmh … putingmu keras banget pagi-pagi,” gumamnya di kulit Anxin.
Lidahnya menjilat dan menggigit kecil, membuat Anxin menggeliat lagi tanpa sadar. Begitu Anxin bergerak, kejantanan Sangwon bergeser dalam-dalam. Gesekan panas itu membuat Anxin menjerit pelan, lututnya gemetar.
“Kak … stop … aku mohon … ini terlalu—” Anxin mencoba mendorong bahu Sangwon lagi, tapi gerakan itu malah membuatnya merasakan betapa tebal dan panjangnya benda yang mengisi dirinya.
Ia merasa penuh sekali, setiap denyut jantung Sangwon terasa di dalam perutnya.
Sangwon tertawa pelan. “Lihat? Tiap kamu dorong aku, penisku malah gesek prostatmu. Kamu gemeteran gitu lucu banget.”
Ia melanjutkan rangsangan tanpa menggerakkan pinggulnya sama sekali. Tangan kanan Sangwon turun, menggenggam kejantanan Anxin yang sudah basah di ujungnya. Ia memompa pelan, naik-turun dengan irama santai sambil ibu jarinya mengusap ujung yang sensitif.
“Uhh … kamu ngucur lagi,” bisik Sangwon di telinga Anxin. “Badanmu suka banget diisi gini ya? Meskipun mulutnya nolak terus.”
Anxin menangis pelan, kepalanya pusing berat. Perasaan bersalah dan dosa masih kuat, tapi kenikmatan dari benda panas yang diam tapi berdenyut di dalam dirinya membuat otaknya kabur.
“Aku … aku gak mau … ini salah … Kak, keluarin please ….”
Ia mencoba mengangkat pinggulnya untuk melepaskan, tapi gerakan itu malah membuat kejantanan Sangwon menghunjam lebih dalam karena sudutnya berubah. Anxin langsung mengejang, desahan lolos dari bibirnya.
Sangwon mendesah puas. “Bagus … gerak sendiri lagi. Aku gak bakal gerak kok. Aku mau kamu yang ngerasain semuanya sendiri.”
Tangan Sangwon semakin aktif. Ia memijat paha Anxin yang tegang, mengusap perutnya yang naik-turun karena napas memburu, lalu kembali ke puting dan leher. Sesekali ia mencium bibir Anxin dalam-dalam, lidahnya menyusup masuk saat Anxin membuka mulut karena erangan.
Setiap kali Anxin mencoba melawan atau bergeser, ia merasakan kejantanan Sangwon yang diam itu seperti benda hidup di dalam tubuhnya — panas, tebal, dan selalu menyentuh titik paling sensitifnya. Sensasi itu membuatnya gila. Sangwon menatap wajah Anxin yang sudah basah air mata dan keringat dengan senyum santai.
“Betah kan di dalem? Aku bisa begini berjam-jam. Sampai kamu ngemis minta digerakin.”
Ia menunduk lagi, mengulum puting Anxin sambil tangannya memompa kejantanan Anxin lebih cepat. Kejantanannya tetap diam di dalam, hanya berdenyut pelan, membuat Anxin tersiksa oleh gerakannya sendiri setiap kali ia mencoba kabur.
Sangwon tetap diam di dalam Anxin untuk beberapa saat yang terasa sangat lama. Kejantanannya yang tebal dan panas berdenyut pelan di dalam tubuh Anxin, mengisi setiap ruang tanpa ampun. Ia menatap wajah Anxin yang sudah merah, basah air mata, dan penuh konflik dengan senyum santai.
“Masih mau nolak?” tanya Sangwon pelan sambil mengusap pipi Anxin dengan ibu jarinya. “Tenang aja … aku belum gerak kok.”
Tapi tangannya tak tinggal diam. Ia menunduk ke dada Anxin, bibirnya menyentuh kulit di samping puting kiri. Ia mencium pelan, lalu mengisap kuat-kuat. Anxin tersentak, tubuhnya menggeliat tanpa sadar.
“Ah—! Jangan di situ … Kak … bakal kelihatan ….” protes Anxin lemah.
Sangwon malah semakin semangat. Ia mengisap lebih lama, meninggalkan kissmark merah gelap di kulit putih di sebelah puting. Lalu ia pindah ke sisi kanan, melakukan hal yang sama — mengisap, menggigit kecil, dan menjilat hingga meninggalkan beberapa lingkaran merah yang jelas di sekitar dada Anxin.
“Bagus … sekarang ada tandaku di sini,” gumam Sangwon puas sambil melihat hasil karyanya. “Tiap kali kamu lihat cermin, ingat yang isi kamu pagi ini.”
Tangan Sangwon turun ke pinggang Anxin. Telapaknya yang hangat dan kasar memijat pinggang itu dengan gerakan sensual — menekan otot yang tegang, mengusap naik-turun, lalu remas pelan dengan ibu jari yang menekan tulang pinggul. Pijatan itu terasa menenangkan sekaligus memprovokasi.
Anxin mencoba menolak lagi. Ia mendorong bahu Sangwon dengan kedua tangan, pinggulnya berusaha mundur untuk melepaskan benda besar yang memenuhinya.
“Keluarin ….” suaranya sudah parau.
Tapi setiap gerakan penolakannya malah membuat kejantanan Sangwon bergeser di dalam. Gesekan pelan itu langsung menyentuh prostatnya berulang kali. Anxin mengejang, desahannya lolos tanpa bisa ditahan.
“Nghh … ahh!”
Sangwon mulai bergerak sangat perlahan. Bukan hantaman, hanya gerakan menggoyang pinggul kecil ke depan dan ke belakang, hanya beberapa senti. Cukup untuk membuat kejantanannya menggesek dinding dalam Anxin secara konstan.
“Uhh … enak banget dalemnya,” desah Sangwon di telinga Anxin.
Tangannya terus memijat pinggang Anxin dengan sensual, kadang meremas bokongnya, kadang menarik pinggul Anxin agar lebih rapat ke tubuhnya. “Gerak aja kalau mau … semakin kamu berontak, semakin dalam aku ngerasain.”
Anxin sudah mulai kewalahan. Tubuhnya gemetar hebat. Ia masih mencoba mendorong Sangwon, masih menggelengkan kepala sambil berbisik “jangan … salah …”, tapi pinggulnya perlahan pasrah. Kadang ia malah menggerakkan pinggulnya sendiri secara kecil, seolah mencari gesekan yang lebih dalam. Sangwon menyadari itu. Ia tersenyum di leher Anxin sambil meninggalkan kissmark kecil lagi di dekat tulang selangka.
“Lihat? Badanmu udah pasrah. Mulutnya nolak, tapi lubangnya ngencang gini tiap aku gerak pelan,” bisiknya santai.
Gerakan pinggulnya masih lambat, tapi semakin dalam dan penuh tekanan. Setiap kali ia mendorong maju, tangannya memijat pinggang Anxin lebih kuat, seolah menekankan bahwa Anxin benar-benar miliknya saat ini.
Anxin menangis pelan. Air matanya mengalir ke samping wajah. “Kak Sangwon … aku … aku gak kuat lagi … penuh banget … panas ….”
“Iya, penuh kan? Itu penisku,” jawab Sangwon dengan nada santai tapi penuh dominasi.
Ia menekan pinggang Anxin ke bawah sambil mendorong pinggulnya pelan tapi mantap. “Rasain aja … gak usah mikir salah atau apa. Nikmatin dulu.”
Tangan Sangwon terus memijat pinggang dan perut Anxin dengan gerakan sensual yang memabukkan. Kadang ia meremas bokong Anxin dari samping, membuka sedikit agar kejantanannya bisa masuk lebih dalam. Gerakannya masih pelan, tapi konstan — menggoyang, memutar sedikit, lalu mendorong pelan.
Anxin sudah benar-benar kewalahan. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Perlawanannya semakin melemah. Tangannya yang tadinya mendorong bahu Sangwon sekarang hanya mencengkeram erat, seolah mencari pegangan. Pinggulnya bergerak kecil mengikuti irama Sangwon, pasrah menerima benda panas dan tebal yang terus mengisi dirinya. Sangwon menatap wajah Anxin yang sudah hancur dengan tatapan puas.
Sangwon melihat Anxin sudah mulai pasrah. Senyumnya melebar, matanya penuh nafsu. Ia menarik pinggang Anxin lebih rapat, lalu mulai menggerakkan pinggulnya dengan lebih intens. Awalnya masih pelan, tapi semakin lama semakin cepat dan kuat. Hantaman demi hantaman kini terdengar basah dan berdebum di kamar kos yang kecil.
“Uhh … enak banget … sekarang aku gerak beneran ya,” gumam Sangwon serak sambil mempercepat irama.
Setiap kali pinggulnya menghantam, kejantanannya masuk hingga pangkal, menyentuh titik paling dalam Anxin dengan keras. Di dalam kepala Anxin kacau balau. Setiap hantaman membuat otaknya seperti mati sejenak. Rasa penuh yang luar biasa, panas, tekanan yang menyakitkan sekaligus nikmat gila. Ia merasa seperti lubangnya diregang maksimal, dinding dalamnya digesek tanpa ampun. Setiap kali kepala Sangwon menyentuh prostatnya, gelombang listrik panas menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kejantanannya berdentut dan mengeluarkan cairan bening terus-menerus.
“Kak … terlalu keras … ahh—! Aku … aku gak tahan …” Anxin menjerit kecil, tangannya mencengkeram sprei ranjang kuat-kuat. Air matanya mengalir deras. “Ini salah … tapi … ahh … kenapa enak ….”
Sangwon tertawa pelan di antara desahan. Ia menekuk tubuh Anxin lebih dalam, hampir melipatnya jadi dua. Gerakannya kini cepat, kuat, dan tanpa ampun.
“Enak kan? Bilang jujur,” kata Sangwon sambil menghantam lebih dalam. “Penisku enak ya di dalem? Kamu ngucur terus nih.”
Ia memegang pinggang Anxin dengan kedua tangan kuat, menariknya ke arahnya setiap kali mendorong maju. Suara basah memenuhi ruangan. Setiap hantaman membuat tubuh Anxin bergoyang, dada dengan kissmark merah ikut bergoyang. Rasa bersalahnya masih ada, tapi semakin terdorong ke belakang oleh gelombang kenikmatan yang tak bisa ditolak.
Setiap kali Sangwon masuk dalam, Anxin merasa seperti ada sesuatu yang meledak di perut bawahnya. Prostatnya dipukul berulang-ulang, membuatnya ingin buang air kecil sekaligus ingin meledak. Lubangnya sudah sangat licin, cairan mereka bercampur keluar setiap kali Sangwon keluar-masuk. Ia merasa kotor, tapi juga sangat dipenuhi. Pikirannya berulang bahwa ini salah, tetapi ia menginginkan lebih dan tidak ingin berhenti. Anxin menggeleng lemah, tapi suaranya sudah berubah jadi erangan mesra.
“Kak Sangwon … pelan … pelan … aku mau … ahh—!! Mau keluar lagi ….”
“Keluar aja,” jawab Sangwon cepat sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
Ia sekarang menghantam dengan ritme ganas, napasnya memburu. Tangan Sangwon turun, memompa kejantanan Anxin dengan cepat mengikuti irama hantaman. Ia menunduk, menggigit kecil kissmark di dada Anxin sambil terus bergerak liar.
“Uhh … ketat banget … remas aku gitu … bagus … kamu enak banget, Anxin,” desah Sangwon parau. “Bilang … bilang punyaku enak ….”
Anxin sudah benar-benar kewalahan. Tubuhnya gemetar hebat, pinggulnya tanpa sadar naik menyambut setiap hantaman Sangwon.
“Enak … Kak … enak … ahh—!!” akhirnya ia menyerah, suaranya pecah penuh kenikmatan. “Dalam banget … aku penuh … mau keluar …!”
Sangwon menghantam semakin cepat dan kuat, ranjang kecil itu berderit keras seolah mau roboh. Ia memeluk Anxin erat, bibirnya di telinga Anxin.
“Keluar bareng ya … sekarang!”
Dengan beberapa hantaman akhir yang sangat dalam dan ganas, Sangwon meledak di dalam Anxin. Cairan panasnya menyembur kuat-kuat, memenuhi dinding dalam Anxin berkali-kali. Hampir bersamaan, Anxin menjerit panjang, tubuhnya mengejang hebat saat orgasme keduanya di pagi hari datang. Kejantanannya menyemburkan cairan putih ke perut mereka berdua. Sangwon masih bergerak pelan beberapa kali setelah itu, menikmati denyutan Anxin di sekitar kejantanannya sambil mencium lehernya yang basah.
“Gila … kamu nikmat banget,” gumamnya santai sambil tersenyum lelah. “Pagi ini baru pemanasan doang. Masih ada rencana seharian di kos ini.”
Anxin hanya tergeletak lemas di bawah Sangwon, napasnya tersengal, tubuhnya masih bergetar hebat. Matanya kosong, pikirannya hancur antara rasa bersalah yang dalam dan kenikmatan yang tak bisa ditolak lagi.
Sangwon masih berada di dalam Anxin saat orgasme mereka reda. Ia tidak langsung keluar. Dengan gerakan pelan, ia menarik kejantanannya keluar, membuat cairan putih kental mengalir dari lubang Anxin yang sudah merah dan bengkak. Anxin hanya tergeletak lemas, napasnya tersengal.
Sangwon turun dari ranjang, mengambil handuk kecil dan air mineral. Ia membersihkan tubuh Anxin dengan lembut — mulai dari perut yang penuh cairan, lalu ke pangkal paha, dan akhirnya membersihkan lubangnya yang masih berkedut dengan sangat hati-hati.
“Uhh … masih sensitif ya?” tanya Sangwon santai sambil mengusap pelan.
Tangan kirinya memijat paha Anxin yang tegang, sementara tangan kanannya membersihkan. Sentuhannya lembut, tapi sesekali jarinya sengaja mengusap lubang Anxin lebih lama, membuat Anxin menegang dan menggigit bibir.
“Kak … cukup … tolong pulang sekarang,” bisik Anxin lemah.
Tubuhnya tidak melawan, malah pasrah menerima sentuhan Sangwon, tapi mulutnya tetap menolak. Sangwon tersenyum. Ia naik lagi ke ranjang, memeluk Anxin dari belakang dan memijat bahu serta punggungnya dengan pijatan ringan yang sensual.
Telapak tangannya yang hangat menekan otot-otot yang pegal, tapi sesekali merayap ke pinggang dan meremas pelan.
“Rileks dulu. Badanmu remuk gara-gara aku. Biar aku pijit,” kata Sangwon sambil mencium tengkuk Anxin.
Jarinya sesekali menyelinap ke depan, mengusap puting Anxin yang masih merah karena kissmark. Anxin pun menggigil seketika.
“Kak … berhenti … aku mau sendiri ….”
.
Matahari sudah tinggi. Sangwon memesan makanan lewat aplikasi — nasi goreng dan es teh. Saat makan, ia menyuruh Anxin duduk di pangkuannya. Anxin mencoba menolak duduk terlalu dekat, tapi Sangwon menarik pinggangnya hingga bokong Anxin menempel di pangkuannya.
Sambil Anxin makan pelan, tangan Sangwon memijat pinggang dan perutnya dari belakang. Gerakan pijatan itu lembut, tapi semakin lama semakin sensual. Jarinya turun ke paha dalam, mengusap naik-turun, kadang menyentuh kejantanan Anxin yang mulai bereaksi lagi.
“Kak … aku sudah makan. Pulang … ini sudah siang,” kata Anxin dengan suara pelan, wajahnya memerah.
Tubuhnya tetap diam menerima pijatan, bahkan sedikit condong ke belakang. Sangwon hanya terkekeh pelan mendengar usiran halus itu.
“Belum. Masih ada pijatan siang.”
Ia membalik Anxin menghadapnya, lalu memijat paha dan bokongnya sambil sesekali mencium dada yang penuh kissmark. Meskipun kulitnya tertutup kain, tapi terasa begitu panas dan mengeluarkan desahan kecil.
“Uhh … Kak … jangan lagi … aku capek …” protes Anxin.
Namun, tangannya hanya bertumpu di dada Sangwon tanpa memberikan dorongan yang kuat untuk menjauh.
Saat matahari mulai condong ke barat. Kamar kos terasa hangat. Sangwon memaksa Anxin berbaring telungkup. Ia mengoleskan minyak pijat yang ditemukan di meja belajar Anxin, lalu memijat punggung, pinggang, hingga bokong dengan telapak tangan yang kuat dan hangat.
Pijatan itu benar-benar merilekskan otot-otot Anxin yang tegang. Tapi Sangwon sengaja membuatnya sensual — ibu jarinya menekan pinggang Anxin sementara tangan satunya merayap ke celah bokong, mengusap lubang yang masih sensitif dengan gerakan melingkar pelan.
Anxin menggenggam bantal kuat-kuat. Tubuhnya menegang setiap kali jari Sangwon menyentuh area sensitif.
“Kak Sangwon … sudah sore … tolong pulang … kamu sudah terlalu lama,” katanya lagi, suaranya lemah dan hampir menyerah.
Sangwon menunduk, mencium punggung Anxin sambil terus memijat. “Pulang? Belum lah. Masih sore. Aku janji pijatannya enak.”
Ia membalik Anxin lagi, lalu memijat bagian depan — paha, perut, dada. Tangan Sangwon memijat dada Anxin dengan gerakan melingkar sensual, ibu jarinya terus mengganggu puting yang sudah keras. Sesekali ia menunduk dan mengisap kissmark yang sudah agak memudar, meninggalkan bekas baru yang kontras.
Anxin sudah benar-benar kewalahan sepanjang hari. Tubuhnya pasrah total menerima setiap sentuhan Sangwon, bahkan kadang pinggulnya bergerak kecil sendiri. Tapi mulutnya tetap konsisten menolak.
“Kak … berhenti … aku mohon … ini gak boleh lagi ….”
Sangwon naik ke atas Anxin, memeluknya erat sambil tangannya masih memijat pinggang dan bokong. Kejantanannya yang sudah setengah keras menempel di perut Anxin.
“Mulutmu bilang berhenti, tapi badanmu bilang lanjut,” bisik Sangwon santai di telinga Anxin. “Tenang aja … sore ini aku cuma pijit yang lebih dalam lagi.”
Anxin hanya bisa menghela napas panjang, tubuhnya gemetar di bawah sentuhan Sangwon yang tak pernah berhenti sepanjang hari. Rasa bersalah masih ada, tapi kenikmatan pijatan yang diselingi sentuhan sensual itu membuatnya semakin sulit melawan.
Sore mulai berganti petang. Sangwon melihat tubuh Anxin yang lemas dan berkeringat. Ia tersenyum tipis lalu mengangkat Anxin dengan mudah seperti bridal style.
“Kita mandi dulu yuk. Badanmu lengket banget,” kata Sangwon santai.
Anxin langsung gelisah dalam gendongan. “Kak … turunin. Aku bisa jalan sendiri. Kamu pulang aja ….”
Tapi Sangwon tak menggubris. Ia menggendong Anxin masuk ke kamar mandi kecil kos tersebut. Air hangat dari shower langsung mengalir. Sangwon berdiri di bawah pancuran bersama Anxin, tubuh besarnya menutupi Anxin dari semprotan air.
Ia memegang Anxin dengan satu tangan, tangan satunya mengambil sabun cair. Mulai dari leher, bahu, dada — ia memijat dan membersihkan dengan telapak tangan yang penuh busa. Jari-jarinya sengaja berlama-lama di dada Anxin, mengusap kissmark merah yang ia tinggalkan, memilin puting pelan hingga Anxin menggigil.
“Uhh … Kak … jangan di situ … cukup ….” protes Anxin lemah.
Namun, tubuhnya tetap pasrah dalam pelukan Sangwon. Sangwon tidak menyisakan satu bagian pun. Tangan kirinya membersihkan punggung Anxin, menekan otot-otot yang pegal, sementara tangan kanannya turun ke perut, lalu ke pangkal paha.
Ia menggenggam kejantanan Anxin dengan lembut, membersihkannya dengan gerakan naik-turun yang lambat dan sensual. Jari-jarinya bahkan menyusup ke belakang, membersihkan lubang Anxin yang masih sensitif dengan sangat teliti — memutar, mengusap, dan sesekali memasukkan ujung jari pelan.
“Ahh … Kak … di situ jangan … malu …” Anxin menggigit bibir, wajahnya memerah hebat.
Tubuhnya menegang setiap kali jari Sangwon menyentuh area sensitif.
“Malu apa? Semua sudah aku lihat kok,” jawab Sangwon santai sambil mencium leher Anxin.
Ia membalik tubuh Anxin menghadap dinding, lalu membersihkan bokongnya dengan telaten. Kedua tangannya meremas bokong Anxin sambil ibu jarinya mengusap lubang yang masih agak bengkak. Air hangat mengalir di antara tubuh mereka, membuat semuanya semakin licin dan sensual.
Setelah selesai memandikan Anxin dari ujung rambut sampai ujung kaki — tanpa satu pun cela yang terlewat — Sangwon mematikan air. Ia mengeringkan tubuh Anxin dengan handuk, lalu menggendongnya kembali ke kamar seperti tadi.
“Kak … aku berat … turunin ….” protes Anxin lagi.
Namun, lengannya tanpa sadar melingkar di leher Sangwon.
“Ringan kok,” jawab Sangwon sambil tersenyum.
Ia meletakkan Anxin di ranjang, lalu ikut naik dan memeluknya dari belakang. Malam semakin larut. Lampu kamar hanya menyala redup. Sangwon menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, tapi sebelum tidur, ia membalik wajah Anxin ke arahnya.
“Cium dulu,” katanya dengan nada yang tak bisa ditolak.
Anxin mencoba menoleh ke samping. “Kak … sudah cukup hari ini … besok aku ada—”
Belum selesai bicara, Sangwon sudah menangkap dagu Anxin dan menciumnya dengan paksa. Ciuman itu dalam, menuntut, dan penuh nafsu. Lidahnya menyusup masuk, menjelajahi mulut Anxin tanpa ampun.
Satu tangannya memegang tengkuk Anxin agar tidak bisa kabur, sementara tangan satunya merayap ke pinggang dan meremas pelan.
“Mmh ….” Sangwon mendesah di antara ciuman, lidahnya terus bermain dengan lidah Anxin.
Ciuman itu panjang, basah, dan berulang. Setiap kali Anxin mencoba menarik napas, Sangwon malah mencium lebih dalam. Baru setelah beberapa menit yang terasa lama, Sangwon melepaskan bibir mereka. Seutas air liur menghubungkan bibir keduanya.
“Tidur ya,” kata Sangwon santai sambil memeluk Anxin erat dari belakang.
Satu kakinya melingkar di paha Anxin, mengunci gerakannya. “Besok pagi aku bangunin.”
Anxin hanya bisa menghela napas panjang, tubuhnya lemas dalam pelukan Sangwon. Mulutnya masih ingin protes, tapi rasa lelah dan hangat pelukan itu membuatnya tak sanggup lagi berkata apa-apa. Malam itu, ia tertidur dalam dekapan Sangwon yang posesif, dengan tubuh yang masih penuh tanda dari seharian penuh sentuhan.
.
.
