Work Text:
Kamu dan Rafayel adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah tiga bulan lalu. Kehidupan kamu dan pria itu setelah menikah tidak terlalu banyak perubahan, toh kalian sudah saling mengenal lama rutinitas kalian satu sama lainㅡyang berbeda dari hubungan kalian hanya status awal kalian yang awalnya berpacaran dan sekarang berubah menjadi pasutri baru. Tentu kamu tak lupa bahwa status resmi menikah kalian yang sudah sah secara hukum dan tercatat di dokumen negara juga membuat kalian sekarang bisa bersenggamaㅡsaling berbagi rasa hangat dan ikatan emosional dari kontak fisik kalian yang terpaut.
Awalnya kamu malu-malu untuk sampai ke titik itu, butuh waktu dua minggu hingga kamu siap. Untungnya Rafayel mengerti kegelisahanmu dan tidak memaksamu atau bahkan mengungkit masalah tersebut sampai kamu yang membahasnya duluan. Persetubuhan pertama kalian juga mulanya dari inisiatifmu duluan, Rafayel bahkan sampai bertanya berkali-kali untuk memastikan apakah kamu benar-benar siap.
Melakukan seks pertama kali dengannya tentu ada rasa kesulitan karena pintu masukmu yang terlalu rapat dan tubuhmu sangat tegang sampai Rafayel berkali-kali mengaduh kesakitan saat miliknya di remas begitu kuat oleh milikmu. Padahal baru ujung penisnya yang masuk di liangmu. Tidak tega melihatmu yang kesakitan oleh miliknya, keinginan Rafayel untuk mencabut kejantanannya darimu pun semakin kuat, namun kamu dengan bersih keras menolak dan tetap melanjutkan.
Perlu waktu yang agak lama hingga kamu menemukan titik enaknya dan persenggamaan pertama kalian pun berakhir dengan rasa bahagia karena berhasil memuaskan hasrat suamimuㅡRafayelㅡunfuk pertama kalinya.
Setelah itu, keseharian kamu serta dirinya berubah semakin instens. Terkadang Rafayel jahil sekali mencuri-curi waktu untuk melakukan aksi liciknya. Misalnya, ketika kamu sedang menyiapkan sarapan, dia suka tiba-tiba muncul di belakang lalu mencium tengkukmu dan saat kamu mengedipkan mataㅡtangannya sudah ada di balik celemekmuㅡmeremas payudaramu yang masih terbungkus oleh baju. Selalu seperti itu! Mencari segala cara untuk melakukan tindakan mesum saat kamu sedang lengah sampai kamu gemas sekali dengannya.
Kamu tidak marah dengan kelakuannya yang suka tiba-tiba cabul seperti itu, malah kamu juga tidak mau kalah darinya.
Beberapa kali ini Rafayel sibuk menjawab telepon manajernya kala kalian sedang menghabiskan waktu bersama di kamar. Membuatmu jengkel karena quality time kalian terganggu oleh telepon dari Thomas. Alhasil, kamu memutuskan untuk mengelus penisnya yang masih terbungkus oleh celanaㅡkamu melakukannya dengan perlahan-lahan, naik-turun, menatap wajahnya yang memerah. Semakin dia mengeluarkan lenguhan tertahan semakin kamu semangat untuk membelai kejantanannya yang tercetak jelas di balik celananya, hingga cairan pre-cum-nya ikut menodai kain tersebut. Berakhir Rafayel yang mematikan telepon secara sepihak dan selanjutnya adalah kegiatan-kegiatan yang tentu tidak perlu kamu jelaskan.
Saat ini kamu dan suamimu berada di kamar. Kalian berdua saling diam-diaman walaupun dalam satu ranjang. Kamu sibuk doom scrolling TikTok, sedangkan dirinya sibuk dengan laptop dan pekerjaannya yang belum selesai sampai sekarang. Akhir-akhir ini Rafayel memang sangat sibuk karena exhibition miliknya akan segera tampil dalam waktu dekat. Kamar kalian begitu sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard dan suara-suara TikTok yang berasal dari ponselmu. Sebenarnya kamu masih ingin mengajaknya bicara, namun melihat suamimu yang terlalu fokus dengan kerjaannya bahkan tak membuka suara sedikit pun, membuatmu mengurungkan niatmu dan berakhir sok sibuk dengan menggulir layar ponsel kesana kemari hingga mengantuk.
Tapi rasa kantukmu hilang ketika Rafayel tahu-tahu sudah memelukmu dari belakang dalam sekejap.
"Rafayel..." Sapuan napas hangatnya menerpa tengkukmu, menciptakan lenguhan pelanmu yang memanggil namanya. Bulu kudukmu meremang seketika.
"Sayang, aku capek banget." Hidungnya menempel erat pada tengkukmuㅡmencium dan mengendus aromamu. "Your scent soothes me so much after working nonstop all day. Even by this little touch from you instantly makes my body melt in relaxation." Ujung lidahnya terjulur keluar, menyapu tengkukmu. Kedua tangannya tertaut di dalam baju tidurmuㅡmendekap erat dan merasakan perut hangatmu di balik sana.
"Emang udah selesai sama kerjaan kamu sekarang?" Kamu ingin membalikkan kepalamu ke belakang untuk melihat wajahnya namun sang pemilik tidak mengizinkannya dan memaksamu agar terus melihat ke depan.
"Belumㅡ" Telapak tangan dan jari-jarinya mengitari area perutmu sebelum menepuk-nepuk lembut di sana, "tapi aku nggak bisa biarin istriku bosen dan sendirian terus dari kemarin," sembari mengatakan itu, kepalanya naik untuk mengecup daun telingamu.
"Thomas emang nggak marah kalau kamu nunda kerjaan lagi? Acara kamu bentar lagi mulai lho." Walaupun kamu memang butuh perhatian darinya dari hari-hari kemarin, tapi kamu tidak bisa egois melihat dia yang menunda pekerjaannya demi dirimu.
"I dun really care 'bout that. Besides, you are the most important to me right now," ucapnya sebelum melanjutkan, "lagian dari kemarin-kemarin kamu aku tinggal terus di rumah."
"Raf..." desah lirihmu terselip dari bibirmu saat tangannya bergerak ke atas dan menangkup buah dadamu.
"Mhm? Kenapa sayang?"
"Kalau Thomasㅡ"
Rafayel segera memotongmu duluan sebelum kamu menyelesaikan ucapanmu. "Shh, Aku nggak mau denger nama cowok itu keluar lagi dari mulut kamu." Ia berhenti sejenak sebelum nadanya yang rendah berbisik, "udah berapa hari kita nggak gini? Kamu nggak kangen suami kamu mainin badan kamu?" Tangannya menyusup di balik bra yang kamu kenakan, memilin-milin putingmu yang sudah mencuat.
"Kange-nhh..." Kali ini kamu jujur dan terus terang padanya. Ungkapan darimu membuat Rafayel spontan merapatkan tubuhnya padamuㅡkamu bisa merasakan batangnya yang keras berkali-kali menggesek belahan pantatmu.
"Yang di bawah juga kangen buat masuk ke memek kamu," omongan jorok darinya berhasil membuat kemaluanmu semakin berkedut, bahkan kamu tanpa malu melolongkan desahan panjang ketika jarinya memelintir dan menarik putingmu keras.
"Lihat sini, sayang." Kamu memalingkan kepalamu ke belakang dan langsung disambut oleh pagutan bibirnya. Kakimu sedikit kamu naikkan ke atas agar pinggulnya semakin menempel rapat dengan tubuhmu terutamaㅡpenis miliknyaㅡyang semakin menggesek lipatanmu dengan leluasa. Tangan Rafayel juga tidak berhenti untuk memijat dan memainkan gundukanmu liar. Desahanmu terus lolos walau mulutmu dibungkam oleh ciuman dalamnya.
Atmosfer di kamar seketika berubah menjadi lebih panas, bahkan pendingin pun tidak berhasil menutupi rasa gerah yang ada di tubuh kalian. Rafayel melepas lumatannya pada bibirmu, menciptakan untaian jembatan tipis yang terjalin sebelum dipaksa putus. Kamu dan dirinya saling mengatur dan menarik napas satu sama lain hingga embun hangat menerpa wajah kalian yang memerah.
Keheningan yang awalnya hanya diisi oleh suara napas berat kalian terhenti saat Rafayel kembali angkat bicara, "sayang, hari ini nggak pakai kondom ya?" Dia membalikkan badanmu hingga kalian saling bertatapan.
Kamu mengangguk pelan.
Matanya yang berkilang penuh nafsu mulai bergemerlap atas persetujuan darimu. Bukan tanpa sebab alasan dia menanyakan hal itu, karena perjanjian awal kalian sebelum menikah adalah kamu dan Rafayel berkomitmen untuk setidaknya jangan memiliki anak dulu dalam waktu dekat-dekat ini. Bisa dibilang, kamu dan Rafayel masih ingin menikmati masa bermadu kasih kalian sebelum menginjakkan satu kaki lebih serius dari yang sekarang.
Rafayel bergerak, mengubah posisinya dan mengukungmu. Ia melepaskan baju tidur serta bra yang terpasang di tubuhmu dengan mudah. Setelahnya ia mengecup-ngecup kecil lehermu turun hingga ke pusar. Ia berhenti sesaatㅡkepalanya ia dongakkan ke atas agar netranya yang indah memandangmu lekat di atas sana.
"Malam ini kamu mau dicolmekin atau dijilmekin?"
"Both." Pandanganmu sedikit melirik ke sampingㅡtidak berani (lebih tepatnya malu) untuk melihat reaksi suamimu.
"Both? Aku nggak inget istriku bisa seserakah ini." Rafayel tergelak pelan sebelum menurunkan celana tidurmu ke bawah dan membuangnya ke segala arah. Kedua tangannya melepas pelan celana dalammu, hingga seutas benang tipis terlihat dari kain tersebut yang terhubung dari vaginamu. "My, my... look at this, already dripping so much for meㅡ" Matanya yang menggelap kian berkabut dengan senyuman yang terukir lebar dari wajahnya. "ㅡand they're coming from my greedy wife."
Ketiga jarinya mengusap-usap lipatanmu yang becek lalu memperlihatkan untaian tipis lendirmu yang berada di jarinya. "See that? That's how much you're soaking wet for your husband even without me touching you properly." Tiga digit jarinya yang basah itu ia kulum habis, tidak menyisakan sedikit pun cairan yang tertinggal di jemarinya. Pandangannya tetap tak lepas darimu seraya melakukan hal tersebut, meninggalkan banyak sensasi yang menggelitik perutmu.
Setelah itu, Rafayel melepaskan baju tidur yang ia kenakan, memperlihatkan otot-otot dan pahatan dada bidangnya yang tercetak indah di tubuhnya. Kemudian memposisikan kepalanya agar sejajar dengan kemaluanmu yang sudah merekah. Ia meniup-niup area intimmu yang refleks membuat vaginamu kembang kempis dengan tiupan pelannya. Lidahnya terjulur keluar untuk menyesap kelentitmu yang menguncup, tapi tidak berlangsung lama karena kepalanya sudah ia mundurkan.
Dorongan gairahmu yang memuncak buyar begitu saja, menciptakan erangan parau yang putus asa. "Sayanghh, kenapa nggak diisep lagi?"
"Aku mau kobelin dulu soalnya lobang kamu mesum banget bisa megap-megap tiap aku sentuh kaya gini." Tangannya mengusap lalu membuka lebar labiamu dan disambut oleh lubang kecilmu yang terbuka-tutup. "Your hole is so fucking small and pretty, cutie. Can't wait to make that tight little cunt all swollen and stretch just from my fingers alone."
Tiga jarinya langsung menusuk masuk ke liang sempitmu. Begitu ia sampai ke titik terdalammu, jarinya yang lentik ia tekuk dan garuk ke atas. "Want me to swell your cunt until it's all puffy and red, hm?"
Kamu berpegangan erat pada sprei di sampingmu. Kepalamu sangat pusing dan berkunang-kunang hingga tidak mengerti dengan apa yang Rafayel katakan. Mulutmu terbuka lebar dengan desahan putus-putus.
"Answer me." Jemarinya semakin menukik ke dalam. Badanmu menggelinjang dan melengkung hebat seketika. Kamu mengumpulkan segala akal sehatmu yang tersisa, mengingat-ingat apa yang Rafayel bicarakan barusan.
"Should I repeat what I said before?" Senyum liciknya semakin melebar melihatmu yang bersusah payah mengumpulkan suaramu yang putus-putus.
"Hmphh! Aㅡ Ayel...! Mau-unghhㅡmau dikobelin, eumnghh... sampai bengkak."
"Yeah, that's all I need to hear. Pintar banget istriku." Rafayel menambahkan satu digit jarinya masuk ke lubangmu, empat jarinya bertubi-tubi menekan g-spotmu."Here's my little present to you for answering my question so damn well." Ia menurunkan kepalanya untuk mengisap biji kelentitmu yang membengkak keluar.
Kepalamu praktis mendongak ke belakang, tubuhmu semakin mengejang tidak karuan dengan dua stimulus yang ada di bawah sana. Kamu memekik keenakan hingga kakimu menghentak-entak ke atas. Rafayel menyungging senyum sambil lidahnya yang sibuk menjilati klirotismu. Pemandanganmu saat ini sungguh erotis sampai Rafayel enggan untuk memutus kontak matanya darimu. Hasratnya kian membuncah sampai-sampai ia menambahkan digit baru di lubangmu. Hal itu membuatmu semakin keliyengan dengan empat jari panjangnya yang menekan dan mengeruk dalam dinding vaginamu bersamaan dengan lidahnya yang terus memutari itilmu brutal.
Lendir putih kian meluber keluar dari lubang kecilmu. Rafayel tidak membuang kesempatannya untuk meliukkan lidahnya ke atas-bawah, menjilat habis semua cairan kentalmu yang bocorㅡlalu membenamkan lidahnya tepat di lubangmu.
"NOㅡuhnghh! Ayel, pleaseee, you shouldn't emnhh... touch them!" Kamu memberontak dengan menjambak rambutnya kuat hingga kusut. Bukannya berhenti lidahnya malah makin menusuk-nusuk liang sempitmu, mengeksplorasi tempat yang seharusnya tidak boleh ia jamah dengan daging lunaknya. "Rafaㅡyel... if you keephh doing thisㅡhngh.. You're gonna make me cumhhh!" protesmu dengan suara yang kian melengking.
Rafayel tetap menghiraukan permintaanmu dan melanjutkan kesibukannyaㅡmengacaukan lubang senggamamu hingga bengkak memerah. Ludahnya hingga turun ke dagu lantaran mulutnya yang terlalu penuh; tidak bisa menelan habis semua percikan cairanmu yang terus keluar. Kobokan tangannya di dalammu terdengar sangat berisik di kamar kalian disertai dengan desahan-desahanmu yang mendengking.
Kamu mulai merasakan kilatan getaran listrik yang mengalir dari ujung kakimu hingga puncak kepala. Pahamu langsung kontraksi. Kamu menggelengkan kepala kesana kemari akibat ransangan berlebih yang tak bisa kamu tampung. Napasmu tercekat dan mulutmu terus terbuka dan terkatup; tidak bisa mengucapkan sepenggal kata pun.
Kamu yang tidak bisa menahannya lebih lama pun segera melepaskan sensasi aneh yang terus menjanggal perut bawahmu. Membebaskan pelepasan orgasmemu ke depan tanpa pikir panjang.
Semburan beningmu tak berhenti mengucur keluar dari uretra. Rafayel tetap menghiraukan dan terus menyeruput klirotismu dan menenggak setengah cairanmu yang keluar. Digit-digit jarinya juga masih mengobok seisi mu.
"Raf, lepas! AHHㅡ jangannh diseruput! Itu jorokhhh." Kamu malu melihat suamimu yang menerima begitu saja semua cairan klimaksmu, seharusnya kamu bisa mengontrol pelepasan itu dan memberinya peringatan untuk menjauh dari awal. Namun, rasa overstimulasi yang merambat di tubuhmu membuat pikiranmu menjadi tumpul dan tidak bisa berpikir selain melepaskan orgasmemu dengan cepat.
Rafayel menjauhkan kepalanya dari kemaluanmu saat cairan orgasmemu berhenti. Jakunnya turun ke bawahㅡmeneguk cairan klimaksmu yang terakhir. Tatapanmu tak percaya bahwa lelaki itu menelan semuanya seperti menenggak air minum biasa.
Rafayel menyeringai melihatmu yang masih tertegun. "Makasih minumannya, sayang."
"Raf... kamu gila. Itu jorok, harusnya kamu jijik." Semburat merah kian mencolok di ujung telingamu. Sangat memalukan bagimu melihat Rafayel yang menelan semua cairan produksimu seperti hal yang biasa. Kamu membencinya karena dia melakukan semua itu dengan cara yang begitu seksi. Jika libidomu tidak semakin bergejolak karena tindakannya barusan, maka itu adalah sebuah kebohongan terbesar darimu.
"Why not? I love every single part of my wife, including that too." Dia mengucapkan hal itu dengan nada yang begitu genit, lidahnya mengecap sisa rasamu yang tertinggal di langit-langit mulutnya.
Rafayel beranjak ke atas, mengurung tubuhmu kembali. Kepalanya ia condongkan ke depan untuk melumat bibirmu lembut. Kamu dengan senang hati membalas ciumannyaㅡmembuka mulutmu lebar-lebar, memberi akses lidahnya masuk ke rongga mulutmu, serta mengalungkan kedua lenganmu di lehernya. Lidah kalian saling beradu mesra, meninggalkan suara kecapan basah yang bergemuruh. Lenguhanmu terselip di dalam mulutnya kala tangannya memijat payudaramuㅡbibirmu ikut bergetar dengan sentuhan baru yang ada di putingmu.
Ia melepaskan ciuman panas tersebut bersamaan dengan napas kalian yang sudah di ujung. Rafayel menatap lekat wajahmu yang sudah berantakan dengan air mata, bulir peluh, dan air liur. Matamu yang sayu berkaca-kaca dan mulutmu yang terus menganga lebar; terengah-engah untuk mengambil banyak oksigen yang tersisa. Begitu indahnya pemandangan tersebut jika diambil dari sudut pandang matanya. Netranya kian membara melihatmu yang perlahan hancur di bawah sentuhannya.
Rafayel sedikit memundurkan badannya, melepaskan baju tidur yang ia kenakan asal-asalan. Menurunkan celana dan boxernya hingga terlepas. Penisnya langsung ia gesekkan ke bibir vaginamu yang bengkak. Ujung penisnya menekan-nekan pintu liangmu. Tanpa pikir panjang, kamu mengeratkan kalungan lenganmu di lehernya. Desahanmu lolos tiap kali penisnya menggoda lipatanmu tanpa benar-benar memasukinya.
Kamu yang tidak kuat segera mengaduh dan memohon, "Rafayel, buruan masukin!"
"Why are you in such a hurry, huh? We still have plenty of time tonight." Rafayel terkekeh pelan melihat kakimu yang sudah mengunci pinggulnya. Kakimu terus menghentak-entakkan pinggulnya ke depan, memaksa dirinya untuk segera masuk ke liang senggamamu, namun Rafayel tetap tak kunjung bergerak dan malah sibuk menggesek-gesek penisnya di labia dan kelentitmu.
"Rafayel, cepet masukin kontolnya!" Kamu mengaduh sekali lagi.
"Why would I? Care to explain to me?"
"Because... hnn, my pussy keep throbbing so bad-hhh.. I need your thick cock..!! To stretch and stuffed my holeㅡ fuckkh, pleaseee, I can't hold it anymore-ngh," rancaumu dengan sisa-sisa kewarasanmu yang tersisa. "I want you to f-fuck me hard, Raf."
Begitu kamu mengucapkan sepenggal kalimat terakhir itu, Rafayel langsung menyodok keras liangmu tanpa peringatan. Pinggulmu bergetar dan punggungmu melengkung seketika.
"Oh... that's it. You're taking me so well, what a good girl." Rafayel mencium puncak kepalamu lalu turun untuk mengecup pipimu. Mulutnya dia dekatkan ke daun telingamu, merapalkan segala desahan merdu yang terus ia keluarkan tiap kali pinggulnya menghentakkan maju mundur.
Rafayel merengkuh badanmu eratㅡseluruh tubuhmu hampir tidak terlihat dengan badannya yang besar.
"Ahngh, Rafㅡ genjotth yang di situ terushh huff... mmnhh, yeaah.. keep going with this pace."
Lelaki itu menghantam serviksmu berkali-kali, membuatmu mengadu nikmat hingga ketagihan. Rasa gatal yang ada di dalam liangmu sudah berganti dengan banyaknya sensasi kenikmatan yang tak bisa kamu rangkai dengan kata-kata. Matamu berkaca-kaca dan penuh gelimang air mata, sangat menggodanya untuk menjilatmu di situ. Mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur untuk menjilat habis bulir bening tersebut. Kini yang terlihat di pandangannya hanyalah matamu yang sayu.
Berkat kontak mata itu, kamu bisa melihat jelas netranya yang berkabut oleh nafsu. Matanya saat ini berkilauan cantik, menggambarkan banyaknya ribuan penjelasan bahwa dia begitu menikmati persenggamaan kalian dan begitu memujamu dalam keintiman tersebut.
Kamu pun tak kuasa untuk meminta lebih. "Kiss me, Raf," pintamu pada pada pria yang ada di depanmuㅡpujangga hatimu.
Berikutnya, bibirnya sudah menempel di milikmu. Lidahmu menekan bibirnya yang terkatup untuk terbuka lebar dan memberimu akses masuk. Setelah mulutnya terbuka, kamu meliukkan lidahmu masuk ke dalamㅡmengisap lidahnya dan mengecap seluruh langit-langit serta rongga mulutnya. Kamu juga menggigit kecil bibir bawahnya, menambah gairah pada ciuman membara kalian. Rafayel terpana melihat dirimu yang sangat agresif dengannya. Dia tidak protes melihatmu yang mulai mengambil kendali, malah dia semakin ingin melihatmu sejauh mana ia memegang kendali tersebut.
Rafayel tetap membalas ciumanmu, namun tidak seaktif kamu. Kedua matanya ia buka lebar untuk melihat kamu yang ugal-ugalan dalam ciuman tersebut. Lenganmu yang awalnya ia kalung di lehernya pun berpindah menangkup wajahnya. Kamu sempat melepaskan tautan bibir kalian yang terpaut selama beberapa detik untuk mengambil sepenggal napasmu yang habis, setelah itu kamu mencium bibirnya kembaliㅡlebih dalam dari sebelumnya. Kedua mata Rafayel menyipit kegirangan dengan kamu yang begitu berapi-api dengannya. Ia semakin semangat untuk menghantam lubangmu lebih keras, akibatnya desahan lirihmu terlepas dari mulutmu.
Dengan berat hati, kamu melepas kontak bibir kalian agar kamu bisa lebih puas mengeluh keenakan. Rafayel menghujam serviksmu, membuatmu semakin banyak merintih. Hingga di titik ia menyentuh rahim terdalammuㅡtempat di mana semua titik sensitifmu berkumpul.
"AHHH! Rafㅡ Rafa... Rafaㅡyel!!" Kamu refleks menjerit keras, kakimu semakin kencang mengunci pinggulnya. Pinggangmu tak berhenti kelojotan. Tanganmu meraih bahunya dan kamu menggores kulit mulusnya dengan kuku panjangmu, meninggalkan banyak garis merah tipis di punggungnya.
"What is it, baby? Why you suddenly calling my name three times in a row." tanyanya dengan polos.
"Jangannhhㅡ" perkataanmu terputus saat ia lagi-lagi menghentakkan penisnya di rahimmu tanpa ampun. "Jangan digenjot heukh! di situ... terusshh!"
"Tapi yang di sini kayak godain aku terus buat masuk sampe mentok." Ia menggoyangkan pinggulnya lagi, menyodok titik sensitifmu, membuat dinding-dinding vaginamu menjepit penisnya kuat. "Tuh liat, memek kamu bahkan lebih jujur daripada kamu."
Kepalamu sangat pusing dengan gempurannya yang makin tak bisa kamu setarakan dengan kapasitas tubuhmu. Cairan nektarmu terus bercipratan keluar di setiap hantamannya. Tanganmu yang berada di punggungnya bergeser untuk berpegangan kuat pada sprei, menahan tubuhmu agar tidak terus bergerak saat ia menggauli dahsyat. Mulutmu kadang terbuka lebar untuk mendesah, terkadang tertutup rapat, atau bahkan menggigit bibir bawahmu akibat sensasi ngilu yang memabukkanmu. Tiap kali ia menggerakkan pinggulnya, suara deritan kasur ikut terdengar bersama jeritanmu. Begitu besarnya tenaga yang ia miliki untuk menggaulimu hingga kasur pun ikut bergoyangan mengikuti tempo pinggulnya.
"Raf..." Matamu terbuka, memanggil namanya.
"Yeah?" Wajah Rafayel dekat sekali denganmu, hingga bulir keringat yang ada di pelipisnya terjatuh di pipimu.
"Hold me tight."
"Like this?" Rafayel mengambil kedua tanganmu yang berpegangan erat dengan sprei, memindahkannya ke atas kepalamu, menyatukan telapak tangan kalian erat.
"Don't ever try to pull away."
Rafayel membalas perintahmu dengan senyuman manisnya lalu mendekatkan kepalanya padamu. Mencium bibirmu dalam ciuman yang penuh kasih. Sedemikian lembutnya pagutan bibirnya padamu sampai-sampai air matamu terjatuh mengikuti pagutan bibirnya. Kali ini ciuman kalian bukan ciuman yang menggebu-gebu, melainkan hanyalah ciuman tulus yang saling membagikan perasaan kalian melalui sapuan bibir.
Rafayel melepas kecupan bibirnya padamu saat kamu mulai memberontak.
"Rafayel, STOP! Hhnghh, aku nggakㅡf-fuck... kuat-hhh, berhenti... nghhㅡ aku nggak sukaa!!" Kamu menggelengkan kepala tak kuat menahan ledakan tersebut. Dengan bersih keras, kamu menolak gairah overstimulasimu yang kembali bergejolak di perut bawahmuㅡrasanya begitu aneh dan panas. Sangat menyiksamu.
Namun, penolakan keras darimu dibantah mentah-mentah saat jalinan ikatan kalian berkilauan di dadanya. Tatapannya ke bawah untuk melihat simbol pengabdiannya yang terang menderang. Seringai di senyumannya kian melebar mengetahui niat terselubung dari perkataanmu.
"Don't lie to yourself that you didn't like it when your pussy keep clenching my cock like this," ucapnya sebelum melanjutkan, "let your heart be sincere."
Rafayel mengeratkan genggamannya padamu. Menghentakkan pinggulnya patah-patah, sengaja agar kejantannya semakin menelusuk masuk sampai batas ujung rahimmu. Napasmu tersenggal-senggal bersamaan dengan goyangan pinggulnya yang patah-patah. Kamu tak bisa mengeluarkan suara yang jelas selain rintihan nikmat. Penglihatanmu menjadi lebih tidak jelas dan kabur. Dinding vaginamu mengapit kejantanannya kuat seakan mengatakan bahwa dirimu akan segera mencapai pelepasanmu.
Rafayel mengerti dengan bahasa tubuhmu dan dengan sigap bertanya, "mau pipis?"
Kamu mengangguk cepat. Ingin segera melepas cairan orgasmemu.
Atas keinginanmu, ia menggaulimu liar seperti binatang. Payudaramu yang bergelantungan semakin bergoyang atas bawah. Air liurmu turun dari bibirmu akibat mulutmu yang terus menganga. Rafayel terus menumbukmu tanpa ampun hingga suara tepukan kulit kalian menggema keras di kamar sunyi kalian. Deritan kasur yang terus bergoyangan menjadi saksi atas persenggamaan brutalnya padamu pada malam ini.
Dan di hentakkan terakhir, kamu melolongkan desahan panjang dan keras bersamaan dengan pelepasan cairan beningmu. Penisnya masih berada di dalammu, ikut merasakan hangatnya cairanmu yang mengalir keluar dan membasahi tempat tidur kalian. Ia merapikan rambut lepekmu yang menutupi sebagian wajahmu. Rafayel diam, tidak menggerakkan pinggulnya sama sekali, menunggu cairan orgasmemu mengucur keluar hingga selesai.
Setelah uretramu berhenti mengeluarkan cairan. Rafayel kembali bertanya, "aku boleh gerak sekarang?"
Kamu mengangguk pelan. Tenagamu sudah terkuras habis. Suaramu juga serak akibat kamu yang terus mendengking.
Dia menggoyang pinggulnya pelan, mencari segala cara agar kamu tetap nyaman setelah pelepasanmu yang membuatmu kehilangan seluruh tenaga. Penisnya yang masih keras ia pompa masuk kembali hingga bersentuhan lagi dengan serviksmu. Rafayel membuahi seluruh lehermu dengan banyak kecupan kecil hingga turun ke payudaramu dan berakhir bermain-main di sana. Liang senggamamu sangat basah dan sempit dari yang sebelumnya, membuatnya semakin cepat untuk melepaskan ejakulasinya.
Hentakan demi hentakan terus bertambah kian detik. Kamu yang tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhmu hanya bisa merintih pelan. Penisnya kembali menyentuh titik kesukaannya, mengakibatkan dirinya mengeluarkan erangan panjang yang menggelitik telingamu.
Penisnya terus-terusan berdenyut di titik itu. Tanda bahwa suamimu akan keluar sebentar lagi. Kamu yang tidak ingin kehilangan kesempatan, segera membuka mulutmu, "Rafayel, keluarin di dalam aja."
Ia melepaskan kulumannya di putingmu. "Are you sure?"
Kamu membalas pertanyaannya dengan senyuman simpul. Bahkan dengan wajahmu yang berantakan sekali pun, parasmu masih begitu elok dan mempesona di matanya. Rafayel sampai tak bisa untuk menahan raut mukanya yang terenyuh. Pandangannya mulai berkaca-kaca. Ia melepaskan genggaman tangannya padamu dan beralih untuk memeluk tubuhmu erat. Kalian saling berbagi temperatur tubuh kalian masing-masing dalam pelukan tersebut.
Dengan satu entakkan finalnya, ia dengan cepat meraup bibirmu sambil menyeburkan pelepasan kentalnya di dalammu sepenuhnya. Rahimmu diisi berkali-kali oleh spermanya. Penisnya tidak berhenti berdenyut tiap kali dia memuncratkan cairan kentalnya. Rafayel melepaskan ciuman kalian saat cairan kentalnya sudah berhenti keluar.
Kamu bisa merasakan perbedaan suhu yang signifikan pada perut bawahmu dan juga rahimmu. Hangat dan penuh sekali. Ini pertama kalinya dia keluar di dalammu, pertama kalinya juga bagi kalian untuk bersenggama tanpa pengaman. Kamu tidak tahu bahwa rasanya akan sehangat dan semenyenangkan ini ketika seluruh tubuh dan insan jiwa kalian berkelindan satu tanpa sekat atau penghalang apapun. Saling kaitannya tubuh kalian saat ini seakan mengatakan bahwa ini adalah tempat yang sangat tepat bagi kalian untuk benar-benar menjadi satu.
Kamu menatap wajahnya yang berada di atasmu. Lucu sekali, melihat semburat merah itu memenuhi wajahnya yang begitu cantik. Setelah mengamatinya beberapa saat, kamu baru sadar bahwa matanya berkaca-kaca. Gemasnya... saking gemasnya kamu sampai memainkan pipinya kesana kemari. Rafayel tertawa renyah hingga matanya terbentuk bulan sabit.
Setelah kamu sudah berpuas-puas memainkan pipinya, dia membuka mulutnya dan berkata, "I never thought being inside you would be this warm and comfortable." Rafayel menghempaskan badannya ke samping, posisi kalian saling berhadapan. Ia menggesek-gesekkan kepalanya di dadamu manja dan beberapa helai rambutnya menggelitik kulitmu. Sedangkan kamu menyusuri dan menyurai rambutnya yang berantakan.
Rafayel terlalu menikmati pelukannya di dadamu hingga akhirnya dia tersadar bahwa penisnya masih belum ia cabut dari liangmu. Tapi sebelum ia bergerak, kamu sudah menahan badannya duluan.
"No! Don't pull out!" rengekmu sambil mencengkram lengannya kuat.
"Sayang... tapiㅡ"
Kamu segera memotong perkataannya dan dengan lantang mengucapkan, "I want to carry your child."
Lelaki itu awalnya sedikit terdiam, seperti mencerna apa yang baru saja kamu katakan, lalu tak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. "You're fully aware of what you said before, right?" Rafayel memastikan sekali lagi ucapan kamu barusan.
"Aku serius, Raf. Aku beneran udah siap punya anak kamu dan memulai kehidupan keluarga kecil kita." Kamu menatap netranya sungguh-sungguh. Dia juga menatap lekat netramu, mencari setidaknya setitik keraguanmu yang terlihat di sana, namun nihil.
Rafayel bukannya tidak mempercayaimu, ia hanya memastikan bahwa kamu mengucapkan kata-kata barusan itu dengan kesadaran penuh, bukan bermain-main atau bercandaㅡkarena dia saat ini tidak bisa menahan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang sampai dia merasa akan pingsan begitu saja jika dia tidak menahannya.
"You don't know how much you always driving me crazy." Rafayel kembali membenamkan wajahnya di dadamu, menyembunyikan semburat mukanya yang semakin memerah padam seperti lobster rebus.
Kamu tertawa pelan melihat telinganya yang sudah berubah warna menjadi lebih pekat dari sebelumnya. "I don't know how much I'm driving you crazy but... I love seeing how desperate you get for me," ucapmu manja, pinggulmu kamu gerakkan pelan untuk menggoda kejantanannya yang masih setengah ereksi dan tertanam di dalammu. "Oh.. your ears is getting more redder, Raf." Kamu tahu apa penyebab telinganya yang makin memerah tapi kamu memilih untuk berpura-pura polos saja. Menjahili suamimu adalah dopamin kebahagiaanmu yang harus kamu penuhi tiap hari.
Rafayel tidak menjawab ucapanmu dan makin menyembunyikan wajahnya di dadamu, enggan menampakkan sedikit pun kondisinya saat ini. Reaksinya yang seperti itu membuatmu semakin menyeringai lebar, ditambah kamu yang merasakan penisnya kian berdenyut-denyut di dalammu. Ternyata tidak perlu banyak waktu dan effort untuk membuat penisnya langsung full ereksi gini. Kamu suka dengan sensasi bagaimana penuhnya perut bawahmu dan rahimmu ketika penisnya tegang. Dinding vaginamu bahkan ikut meremas kejantanannya tiap kali organ reproduksinya itu berdenyut.
Kamu mengintip ke bawah untuk mengamati bagaimana kemaluanmu melahap miliknya sepenuhnya. Tapi kamu malah dikejutkan dengan jalinan ikatan kalian yang berada di dadanya kembali berkilau menyala terang.
Ah, pantesan napas Rafayel jadi lebih memburu dari yang sebelumnya. Kalau sudah begini, kamu tidak perlu repot-repot banyakㅡcukup godain dia sedikit lagi.
"Sayang, kamu tahu kan, kalau ngelakuin sekali itu nggak cukup buat langsung hamilin aku?" Kamu berbisik, menggodanya, menggigit pelan daun telinganya. "So why don't we try again? You said we still have plenty of time tonight, right?" Kamu menjeda pertanyaanmu barusan dengan menggerakan pinggulmu, tidak, lebih tepatnyaㅡmerayu penisnyaㅡmengadu manja di setiap pergerakan kecilmu. "I want you to fuck me more deep. More rough. Want you to ruin my tight pussy with your thick cock and fill me up with all your cum."
Kamu menutup kalimatmu yang selanjutnya dengan kata-kata yang penuh penekanan serius. "Breed me, Rafayel. Pump me full until you get me pregnant."
