Actions

Work Header

dientot_kakak_penggoreng_tempe_waktu_stock_opname.3gp

Summary:

Jiseok, si Staff Quality Assurance yang baru masuk sehari di pabrik tempat kerja barunya itu dikejutkan oleh Jungsu si buruh pabrik yang kalau ngegoreng keripik tempe cuma pake celemek doang.

Notes:

JOROK JOROK JOROK. read at your own risk.

 

hi.. idk what is this.. i should've menulis my laporan gw instead.. tapi inilah yang aku kerjakan dari jam clock in sampai clock out sebagai intern dontol. no beta read and ignore some typos, please :>

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mari kita ucapkan selamat pagi kepada Kwak Jiseok di hari pertama kerjanya. Setelah berbulan bulan nganggur dan cuma scroll Linkedin dan Jobstreet dari pagi sampai malam, akhirnya Jiseok diterima kerja sebagai Quality Assurance Staff di sebuah pabrik produksi segala macam keripikan. Walaupun pabriknya jauh dan agak terpencil, tapi jujur allowance dan transport fee dari pabriknya ini sangat menggiurkan apalagi untuk Jiseok yang notabene nya fresh graduate.

Jiseok bangun dengan semangat, ia bergegas mandi lalu sarapan nasi goreng cabe ijo buatan mamah yang paling enak sedunia itu. Padahal masuk kantor masih jam 9 tapi Jiseok sudah siap satu setengah jam lebih awal. Ya sudah lah, lebih baik kecepetan daripada terlambat, pikir Jiseok. 

Jiseok tiba di depan pabrik 30 menit sebelum jam masuk kantor.

Sebentar, sebentar.

Jiseok bingung ini pintunya dimana.. dan masuknya lewat mana? Jiseok coba mengetok ngetok gerbang tapi tidak ada yang menjawab.

“Masuknya lewat samping aja, dek!” Tiba-tiba ada yang meneriaki Jiseok dari kejauhan, rupanya ada sosok tampan nan rupawan berkaos hitam dan rambut pirang menuju ke arah Jiseok. Sepertinya, ia juga salah satu karyawan pabrik ini.

“Ikut saya aja dek.”

“O-oh.. iya, makasih banyak, kak.” Jawab Jiseok canggung sambil mengikuti kemana Kakak Ganteng—eh maksudnya, kakak berkaos hitam ini pergi. Rupanya si Kakak juga yang memegang gembok dan kunci dari pintu samping.

“Kantor ada di lantai 2, naik aja dek.”

Lagi-lagi Jiseok merasa kikuk dan hanya menjawab terimakasih dengan nada yang sangat sangat kecil, mungkin si Kakak juga tidak mendengar ucapan terimakasih dari Jiseok.

Lalu Jiseok mengikuti arahan dari si Kakak tadi, ia naik ke lantai 2, dan memang ruangan staff office ada disana. Ternyata dia yang pertama datang. Jiseok canggung. Ia tidak tahu harus duduk dimana, ia memilih untuk menuju pantry dan berdiam diri disana… ntah apa yang dilakukannya ini. Tapi, Jiseok berpura-pura memasukkan buah dari bekal yang disiapkan mamanya ke dalam kulkas. Penyamaran yang cukup bagus, Jiseok.

Selang 5 menit, Jiseok mendengar suara pintu terbuka, ah akhirnya ada sosok yang ia kenal. Kak Wonpil, Senior QA Manager sekaligus Supervisor Jiseok selama masa training.

“Hi, Kwak Jiseok, ya? Cepet banget kamu datangnya!” Sambut Wonpil dengan riang.

“Sini, sini. Kamu duduknya di meja ini ya.” Wonpil menunjuk salah satu meja kosong yang ada di ruangan, lebih tepatnya meja di sebelah meja kerja Wonpil persis.

Jiseok langsung merasa lega. “Iya, Pak. Makasih banyak.”

“Hahah panggil aku kak ajaa, aku belum setua itu lho Jiseok.” 

“Eh.. oh iya, maaf Kak Wonpil.” Jawab Jiseok sambil cengengesan.

Setelah duduk dan mengatur barang-barangnya, Wonpil mulai menjelaskan tugas Jiseok. Ternyata pabrik ini memang sedang berusaha lolos sertifikasi Food Safety System. Jiseok yang punya sertifikat di bidang tersebut justru jadi “senjata rahasia” mereka dan alasan kuat kenapa Jiseok bisa diterima di perusahaan ini.

“Kamu tugasnya cukup berat sih di awal, tapi gajinya sepadan kok,” kata Wonpil sambil tersenyum. “Nanti jam 10 kita keliling pabrik ya, biar kamu liat proses produksinya langsung.”

Sekarang jam menunjukkan pukul 10 tepat, setelah setengah jam membuka laptop dan menatap kosong ke layar Excel akhirnya Wonpil mengajak Jiseok turun ke lantai produksi. Bau fermentasi tempe dan hawa minyak goreng panas langsung menyambut mereka begitu pintu ruang produksi terbuka.

“Ini area penggorengan utama,” jelas Wonpil. “Kita punya tiga shift pekerja di sini.”

Jiseok mengangguk sambil mencatat di clipboard yang ada di pelukannya. Matanya menyapu ruangan yang panas dan lembab. Beberapa pekerja sedang sibuk mengaduk, meniriskan, dan mengemas keripik. Tapi ada satu sosok yang langsung membuat langkah Jiseok terhenti.

Di depan tungku penggorengan paling besar, berdiri seorang cowok bertubuh tinggi dengan hanya memakai celemek hitam panjang dan celana jeans. Iya, cowok itu nggak pakai baju sama sekali. Telanjang dada. Cuma celemek yang sudah agak basah oleh cipratan minyak. Kulit punggungnya mengkilap, otot lengannya jelas terlihat setiap kali ia menggerakkan serok penggorengan. Rambut pirangnya sedikit acak-acakan karena uap panas.

Walah cik, kok bisa ya ini pabrik gak disidak BPOM.. bisa pingsan mereka kalau ngeliat karyawan pabrik ngegoreng keripik bugil begini.” Yang barusan itu suara hati terdalamnya Jiseok, jujur janggal, dia benar-benar bingung dan punya seribu pertanyaan di kepalanya sekarang. Kenapa kak Wonpil nggak ngelarang? Kenapa dibiarin aja? Jelas-jelas ini nggak comply sama aturan sertifikasi yang mau mereka ikutin.. 

Kayaknya cowok penggoreng tempe ini sadar kalau lagi diliatin, Jungsu menoleh ke arah Jiseok yang refleks ngalihin pandangannya, gelagapan, nggak tau harus liat kemana, karena dada gedenya Jungsu kayak lagi ikutan natap Jiseok juga sekarang.

“Oalah, ini staff baru?” Jungsu berseru dari tempatnya, seolah-olah baru melihat Jiseok sekarang.

“Hati-hati kena minyak panasnya, dek.”

Wonpil yang melihat scene ini tertawa garing. “Itu Jungsu. Dia… emang suka kerja begitu. Katanya biar adem.” Jiseok merasa wajahnya memanas. “K-kak… ini beneran boleh? Maksud saya… standar higiene—” suaranya kecil, tapi masih bisa terdengar oleh Wonpil.

“Sudah diatur kok,” potong Wonpil cepat, jelas tidak mau bahas terlalu dalam. “Yang penting keripiknya bagus.”

Kali ini Jiseok merasa ia yang diperhatikan, walupun Jungsu sudah kembali mengerjakan pekerjannya, tapi sorot mata Jungsu seperti mengikuti Jiseok. Jiseok buru-buru mengalihkan pandangan, tapi sudah terlambat. Jungsu sudah melihatnya. Dan dari ekspresi wajahnya, cowok itu kelihatan… senang.


Akhirnya jam istirahat siang, Jiseok memutuskan untuk ke toilet di lantai produksi karena toilet kantor lagi antri. Begitu masuk koridor sempit di belakang ruang Production Planning and Inventory Control, ia mendengar suara aneh.

Desahan. 

Napas berat. 

Suara benda.. yang beradu pelan?

Pintu ruang PPIC sedikit terbuka. Harusnya ia tidak sepenasaran ini.. tapi dengan hati-hati, Jiseok mengintip. Di dalam, ada Kak Wonpil sedang membungkuk di atas meja kerja. Celananya sudah turun sampai mata kaki. Di belakangnya, seorang cowok tinggi berambut cokelat sedang menggerakkan pinggulnya dengan ritme kuat dan cepat. Tangan cowok itu mencengkeram pinggang Wonpil, sementara Wonpil menggigit lengan sendiri supaya tidak terlalu berisik.

Cowok itu.. Mas Jaehyung, Staff PPIC yang kemarin sempat dikenalkan oleh Kak Wonpil saat tour pabrik.

Mas.. pelan dikit,” desah Wonpil tertahan, suaranya sudah parau. 

“Mhm? Kamu yang minta dicepetin tadi,” balas Jae dengan suara dalam sambil tertawa kecil, bukannya memelankan temponya sesuai permintaan Wonpil Jae malah semakin mendorong masuk ke dalam hingga Wonpil tidak sengaja mengeluarkan pekikan.

Jiseok langsung mundur dengan wajah merah padam. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru balik ke kantor tanpa suara, berharap tidak ketahuan.


Keesokan harinya, Jiseok datang ke pabrik dengan perasaan campur aduk. Semalam ia hampir tidak bisa tidur—bayangan Jungsu yang telanjang dada di depan tungku penggorengan, ntah kenapa Jiseok merasa tubuhnya panas saat mengingat betapa tubuh besar dan defined itu mengkilap akibat keringat dicampur cipratan minyak. 

“Pengen digagahi Kak Jungsu..” tiba-tiba ada suara itu berbisik di kepalanya. Jiseok refleks menampar dirinya sendiri. Wake up, Jiseok! This isn’t you!

Ditambah lagi adegan Wonpil dan Jae di ruang PPIC, terus berputar di kepalanya.

Begitu masuk ruangan office, Jae sudah berdiri di depan meja Jiseok dengan wajah buru-buru.

“Jiseok, tolong banget deh. Hari ini aku ada urgent matters sama supplier, nggak bisa ikut stock opname malam nanti. Padahal stock keripik tempe jadi banyak banget. Kamu bisa bantu kan? Kerjaannya cuma hitung jumlah toples sama catat tanggal produksi. Orang produksi biasanya juga ikut bantu.”

Jiseok mengerjap. “Eh? Bukannya itu tugas PPIC ya, Mas?”

Jae nyengir lebar sambil menepuk bahu Jiseok. “Iya sih, tapi kali ini tolong ya. Anggap aja ini bagian dari training kamu. Nanti aku traktir makan siang seminggu!”

Sebelum Jiseok sempat protes lebih lanjut, Jae sudah menghilang ke luar ruangan.

Malam harinya, pukul 19.30, Jiseok berdiri di antara tumpukan toples keripik tempe yang sudah rapi, memegang checklist sambil menghitung jumlah tempe dan mencatat tanggal produksi serta expirednya. Namun, tiba-tiba pintu gudang terbuka.

Jungsu masuk ke dalam gudang, masih memakai celemek hitam dan tubuhnya mengkilat oleh keringat dan sisa minyak goreng dari shift tadi. Celemeknya terlihat longgar di pinggang, seolah kapan saja bisa lepas.

“Malam, adek QA,” sapa Jungsu dengan suara rendah yang santai. Senyumnya tipis, tapi matanya sudah menatap Jiseok dengan intens dari atas sampai bawah. “Jadi adek yang gantiin Jae malam ini?”

Jiseok merasa tenggorokannya kering. “I-iya, Kakak… Mas Jae bilang ada urgent matters.”

Jungsu mengangguk pelan lalu mendekat. Ia berdiri di sebelah Jiseok, bahu mereka hampir bersentuhan. “Ya udah, kita kerjain bareng ya. Adek hitung yang sebelah kiri, Kakak yang kanan.”

Mereka mulai bekerja sebentar. Kadang, Jungsu membantu Jiseok untuk menggeser dan mengangkat toples toples yang berat itu. Maklum, Si Kecil tidak terbiasa dengan pekerjaan berat begini. 

“Sebentar dek, minggir dulu ya.”

Jiseok berusaha playing it cool saat Jungsu menyentuh pinggangnya beberapa kali dengan maksud menggeser dan mengangkat toples. Tapi Jiseok nggak bodoh, dia tau, untuk menggeser toples keripik tempe itu tidak perlu sampai menyentuh pinggangnya sampai 5 kali begini.

Jiseok berusaha mengalihkan perhatian, tapi Jungsu semakin berani.

“Kakak.. Kak Jungsu,” gumam Jiseok pelan, suaranya sudah agak goyah.

“Kenapa, dek?” Jungsu berbisik di belakang telinganya. Napasnya panas. Adek nggak nyaman?”

Jiseok menggeleng pelan, tapi tubuhnya malah bereaksi. Jungsu tersenyum melihat itu. Ia membalik tubuh Jiseok perlahan hingga menghadapnya. Tangan Jungsu naik pelan ke bawah kaos Jiseok, jari-jarinya menyentuh kulit perut dengan lembut.

“K-kakak.. kita lagi stock opname..” protes Jiseok lemah.

“Memang. Ini juga bagian opname kok,” balas Jungsu sambil tersenyum nakal. “Opname kualitas.. dan reaksi adek.”

Ia menarik kaos Jiseok ke atas secara perlahan, memperlihatkan dada yang sudah naik-turun cepat. Jungsu menunduk, napasnya menyapu puting Jiseok sebelum lidahnya menyentuh pelan. Hanya menjilat dulu, berputar pelan di sekitar puting Jiseok yang sudah mulai mengeras.

Jiseok menggigit bibir kuat, tangannya mencengkeram lengan Jungsu. “Kakak.. Ahh..”

Jungsu semakin berani. Ia menghisap puting satu dengan lembut tapi dalam, sementara jari-jarinya memilin yang satunya dengan gerakan lambat dan teratur. Sesekali ia menggigit pelan, membuat Jiseok mengejang dan mengeluarkan suara kecil yang manja.

Air mata mulai menggenang di mata Jiseok. “Kakak.. cukup.. aku nggak tahan..”

Sial. Kenapa mimpi basahnya harus terjadi secepat ini, Jiseok bingung antara ingin bersyukur atau merutuki Kak Jungsu.

“Tahan aja dulu, dek,” bisik Jungsu di kulitnya. “Kakak baru mulai.”

Jungsu mengangkat tubuh Jiseok dengan mudah dan mendudukkannya di atas meja packing yang kosong. Celemek hitamnya sudah hampir lepas, tapi masih menjuntai di pinggang. Dengan gerakan lambat, ia menarik celana dan celana dalam Jiseok turun hingga ke mata kaki, lalu membuka lebar kedua paha Jiseok yang gemetar.

“Cantik banget memeknya adek..” gumam Jungsu dengan suara serak khas cowok sagapung. Matanya menatap vagina Jiseok yang sudah mengkilap cairan, bibirnya yang tebal dan merah muda terbuka sedikit karena kakinya dibuka lebar.

“Baru dimainin putingnya kok udah sebasah ini sih, sayang?” Sial. Mendengar ocehan Jungsu seperti itu bikin Jiseok mau muncratin pipisnya.

“Kakak.. jangan diliatin lama-lama..” Jiseok merintih malu, tangannya mau menutup paha tapi langsung ditahan oleh Jungsu.

“Kenapa? Punya adek ini bagus loh. Pink, basah, sama baunya enak,” kata Jungsu sambil nyengir nakal. Ia berlutut di depan meja, wajahnya tepat di depan selangkangan Jiseok. Napasnya yang panas menyapu kulit sensitif itu.

Pertama-tama Jungsu cuma mengecup pelan di paha dalam Jiseok, naik perlahan ke arah tengah. Lidahnya keluar, menjilat garis paha dengan lambat, meninggalkan jejak air liur yang dingin.

“Ahh.. Kakak..” Jiseok sudah mulai menggeliat.

Jungsu menempelkan hidungnya ke clit Jiseok, menghirup dalam-dalam, lalu mengeluarkan lidahnya yang lebar untuk menjilat dari bawah lubang vagina sampai ke atas clit dalam satu sapuan panjang dan lambat. Sengaja menggoda Jiseok.

“Uhhmm…” Jungsu mendengung puas, “Enak banget rasanya, dek. Manis asin gitu.”

Lidahnya bergerak lagi, kali ini berputar-putar pelan di sekitar clit, menekan, menjilat, menggoda. Sesekali ia menghisap pelan clit itu ke dalam mulutnya, lalu melepaskan dengan bunyi “chup” yang mesum.

Keadaan Jiseok sekarang? Udah nangis. Air matanya jatuh mengalir ke pipi.

Tanpa aba-aba dua jari Jungsu yang tebal dan kasar karena kerja pabrik perlahan mengusap bibir vagina Jiseok, mengolesi cairan yang sudah meluber ke mana-mana. Lalu satu jari masuk pelan-pelan, merasakan dinding dalam yang panas dan sempit.

“Nghh—! Kakak.. jari kakak gede..” Jiseok menggigit bibir bawahnya kuat, air matanya semakin deras. Jungsu mulai menggerakkan jarinya keluar masuk dengan ritme sangat lambat, sambil lidahnya terus menjilat clit tanpa henti. Sesekali ia menambah gerakan memutar di dalam, mencari titik yang bikin Jiseok kejang.

“Basah banget nih… bunyinya enak loh, dek.”

Jiseok menjerit kecil, tubuhnya melengkung. “Kakak—! P-penuh.. aku mau pipis.. kakak..”

“Itu bukan pipis, dek. Keluarin aja… kakak suka kalau adek muncrat,” balas Jungsu sambil mempercepat sedikit gerakan jarinya. Lidahnya sekarang menghisap clit lebih kuat, bergantian dengan jilatan lebar yang basah.

Suara mesum “slurp… schlick… schlick…” memenuhi gudang yang sepi. Jungsu semakin rakus, wajahnya basah oleh cairan Jiseok sampai dagu. Ia mengaduk-aduk dua jarinya dalam-dalam, menekan dinding atas vagina Jiseok dengan telapak tangannya.

Jiseok sudah menangis tersedu. Air matanya mengalir deras, mulutnya terbuka sambil mengeluarkan desahan putus-putus.

“Kakak.. K-kak Jungsu.. a-aku mau keluar–nghh! Kakak.. tolong..”

Jungsu mendongak sebentar, bibir dan dagunya mengkilap. “Keluar aja dek, muncrat di mulut kakak. Adek cantik banget kalau nangis gini..”

Ia langsung menunduk lagi, lidahnya bergerak cepat di clit sementara dua jarinya mengaduk semakin dalam dan cepat. Jiseok mencengkeram rambut Jungsu kuat-kuat, pinggulnya naik turun sendiri mencari kenikmatan.

Akhirnya tubuh Jiseok menegang hebat. Dengan jeritan tertahan yang pecah, ia squirting cukup deras ke mulut Jungsu. Cairannya memuncrat ke lidah dan dagu Jungsu yang terus menghisap rakus, tidak mau menyia-nyiakan setetes pun.

Jiseok gemetar hebat, air matanya masih mengalir, napasnya tersengal-sengal.

Jungsu berdiri di depan Jiseok yang masih duduk lemas di meja packing, tubuhnya gemetar sisa orgasme tadi. Air mata masih mengalir pelan di pipi Jiseok. Jungsu mengusap dagunya yang basah oleh cairan Jiseok dengan punggung tangan, lalu nyengir lebar.

“Gantian ya, dek,” katanya dengan suara serak. “Adek harus bantu kakak juga. Stock opname kita belum selesai kan?”

Jiseok menatap ke bawah. Celemek hitam Jungsu sudah benar-benar terbuka. Kontolnya berdiri tegak di depan wajahnya—besar, tebal, urat-uratnya menonjol, kepalanya sudah mengkilap precum yang bercampur minyak goreng tipis dari celemek tadi. Bau campuran keringat asam, minyak goreng tempe, dan aroma laki-laki dewasa langsung menyerbu hidung Jiseok.

“K-kakak.. besar banget..” bisik Jiseok, matanya berbinar melihat kejantanan milik Jungsu yang sudah tegang.

Jungsu tertawa pelan sambil memegang pangkal kontolnya sendiri, menggoyang-goyangkannya pelan di depan bibir Jiseok yang plumpy.

“Iya, gede kan? Adek coba dulu pelan-pelan ya, sayang?”

Jungsu memegang belakang kepala Jiseok dengan lembut tapi tegas, lalu menarik wajahnya mendekat. Jiseok membuka mulutnya ragu-ragu. Pertama hanya lidahnya yang keluar, menjilat ujung kontol Jungsu yang licin.

“Mmphm..” Jungsu mengerang. “Lidah adek panas..”

Jiseok menjilat lebih berani. Rasa asin keringat bercampur minyak goreng yang sudah agak tengik langsung terasa di lidahnya. Bau pabrik yang kuat—bau tempe goreng, keringat Jungsu seharian kerja di depan tungku, dan sedikit bau asap—membuat kepalanya pusing. Tapi anehnya, justru membuat memek Jiseok kembali becek. Jiseok sange gak ketolong.

Jiseok membuka mulutnya lebih lebar, memasukkan kepala kontol Jungsu ke dalam mulutnya. Hanya kepalanya dulu. Bibir Jiseok meregang karena ketebalannya.

“Pinter.. pelan-pelan gitu, dek,” puji Jungsu sambil mengelus rambut Jiseok. “Hisap pelan.. iya, kayak gitu.. ahh anjing!”

Jiseok mulai menghisap pelan, lidahnya bergerak di batang milik Jungsu, menjilat urat-urat yang menonjol. Air liurnya bercampur dengan precum dan minyak yang ada di sana, membuat suara “slurp.. gluck..” yang basah dan cabul setiap kali ia naik turun.

Jungsu mendesah panjang. Keringat baru mulai mengalir lagi dari perut sixpacknya yang keras, menetes ke rambut Jiseok yang sedang bekerja di bawah.

“Lebih dalam boleh, sayang.. coba masuk ke tenggorokan adek,” bisik Jungsu sambil pelan-pelan mendorong pinggulnya maju. Jiseok tersedak saat kontol Jungsu menyentuh tenggorokannya. Air matanya langsung keluar lagi. Tapi Jungsu menahan kepalanya pelan, tidak memaksa terlalu dalam.

“Pelan.. tarik napas lewat hidung, sayang. Kakak suka liat adek nangis gini.. matanya basah banget, lucu.”

Jiseok berusaha menurut. Ia menarik napas lewat hidung, lalu menelan lebih dalam. Air liurnya menetes deras dari sudut mulutnya, membasahi kontol Jungsu yang sudah licin parah. Bau keringat dari selangkangan Jungsu semakin kuat karena Jiseok semakin dekat.

Jungsu menggerakkan pinggulnya sangat lambat, keluar masuk mulut Jiseok dengan ritme santai. Setiap kali masuk lebih dalam, ia mendesah kotor.

“Enak banget mulut adek.. anget sayang..  kayak dijepit memek. adek jago ngisep ya? Belajar dari mana?”

Jiseok hanya bisa menjawab dengan desahan pelan, suaranya teredam oleh kontol Jungsu. Air matanya terus mengalir, campur dengan air liur yang menetes ke lantai gudang. Ia menggunakan tangan untuk memegang pangkal kontol Jungsu yang tidak muat masuk, mengocoknya pelan sambil terus menghisap dan menjilat.

Jungsu semakin mendesah. Keringatnya menetes dari dada ke bahu Jiseok. Ia memegang rambut Jiseok lebih erat tapi masih sabar.

“Lihat kakak, adek,” perintah Jungsu lembut.

Jiseok mendongak dengan mata basah, mulutnya penuh kontol Jungsu. Jungsu menatapnya dengan pandangan gelap dan puas.

“Pinter sayang..  adek cantik banget kalau lagi ngisep kontol kakak gini. Nangis aja.. makin dalam ya sedikit.”

Jungsu mendorong sedikit lebih dalam, sampai Jiseok tersedak lagi dan air matanya semakin deras. Tapi ia tidak menarik diri. Malah lidahnya terus bergerak, menjilat di bawah kontol Jungsu yang sudah basah kuyup campur air liur, minyak, dan keringat.

Jungsu semakin mendesah kasar, pinggulnya bergerak pelan tapi dalam di mulut Jiseok. Keringatnya terus menetes dari perut ke dada, beberapa tetes jatuh ke wajah Jiseok yang sudah basah oleh air liur dan air mata.

“Anjing.. adek.. mulutnya enak banget.. kakak udah mau bucat sayang,” geram Jungsu dengan suara serak.

Jiseok mendongak, matanya basah dan merah, bibirnya meregang penuh di sekitar kontol Jungsu. Ia menghisap lebih kuat, lidahnya berputar di bawah kepala kontol sambil tangannya mengocok pangkal yang licin.

“Iya gitu.. bagus.. adek jago banget,” puji Jungsu sambil mengelus rambut Jiseok. “Cantik.. adek cantik banget kalau lagi ngisep kontol kakak sambil nangis gini.”

Beberapa detik kemudian, pinggul Jungsu menegang. Ia mendorong pelan tapi dalam ke mulut Jiseok.

Jungsu mendesah panjang saat sperma panasnya memuncrat deras ke dalam mulut Jiseok. Jiseok tersedak, tapi Jungsu menahan kepalanya pelan agar tidak mundur. Beberapa kali muncratan masuk langsung ke tenggorokan, sisanya memenuhi mulut Jiseok sampai penuh dan meluber dari sudut bibir.

Jungsu menarik kontolnya keluar perlahan. Begitu keluar, ia masih memegang kontolnya yang berdenyut dan mengocoknya cepat. Sisa sperma yang tebal memuncrat ke wajah Jiseok—ke pipi, ke bibir, bahkan sedikit ke bulu mata.

“Ahh.. cantik banget,” gumam Jungsu dengan suara puas sambil melihat hasil karyanya. Wajah Jiseok yang polos sekarang belepotan sperma putih kental, campur air liur dan air mata. “Adek paling cantik kalau lagi kotor gini… peju kakak cocok di muka adek.”

Jiseok terbatuk pelan, napasnya tersengal, sperma masih menetes dari dagunya. Jungsu mengusap pipi Jiseok dengan ibu jari, mengoleskan sperma yang ada ke bibirnya.

“Telan yang di mulut, dek. Pinter.”

Setelah Jiseok menelan dengan susah payah, Jungsu menarik tubuhnya berdiri, lalu membalikkan Jiseok menghadap meja packing. Ia menekuk tubuh Jiseok di atas meja hingga bokongnya terangkat tinggi.

“Gantian sekarang,” bisik Jungsu di telinga Jiseok sambil mengusap memek Jiseok yang sudah sangat basah dan cengap cengap. “Kakak mau masukin ke sini ya, manis?”

Jungsu mengarahkan kepala kontolnya yang masih keras ke lubang Jiseok, menggosok-gosok pelan di sana dulu, mengolesi cairan Jiseok dan sisa sperma ke seluruh permukaan.

Jungsu mendorong masuk perlahan. Kepalanya masuk dulu, lalu perlahan-lahan seluruh batang tebalnya menghunjam masuk sampai pangkal. Jiseok menjerit kecil, tangannya mencengkeram pinggir meja kuat-kuat.

“Besaaar.. Ahh kakak–! penuh banget..”

Jungsu mulai bergerak lambat tapi dalam, setiap hentakan keluar-masuk terasa berat dan panas. Suara “plok… plok… plok…” basah memenuhi gudang. Ia memegang pinggang Jiseok erat, sesekali memberi tamparan pada pantat Jiseok hingga kulitnya memerah.

“Enak kan, dek? Kontol kakak ngentotin dalem banget ya?” tanya Jungsu sambil mempercepat temponya sedikit. “Memeknya adek nyedot kakak terus.. rakus banget.”

Jiseok hanya bisa menangis dan mendesah. Setiap kali Jungsu menghunjam dalam, ia merasa mau muncrat. Satu tangan Jungsu tidak tinggal diam dan meraih ke depan untuk menggosok itil Jiseok yang udah tegang.

Jungsu terus menggenjot Jiseok dengan ritme sedang tapi dalam dari belakang. Setiap hentakan kontol tebalnya membuat meja packing berderit pelan. Jiseok sudah tidak bisa berpikir jernih. Otaknya penuh sama sensasi penuh dan panas di dalam vaginanya.

Kenapa… kenapa enak banget? pikir Jiseok sambil menangis. Bau Jungsu—campuran keringat asam seharian kerja di depan tungku, minyak goreng tempe, dan aroma tubuh laki-laki dewasa—menyelimuti dirinya sepenuhnya. Bau itu bukannya bikin jijik, malah bikin Jiseok semakin basah dan sange.

“Kakak..” Jiseok mendesah memanggil nama Jungsu, suaranya manja. “Adek.. adek suka banget wangi kakak.. bikin adek sange.. ahh!”

Jungsu tertawa serak di belakangnya, pinggulnya mendorong lebih dalam sampai pangkal.

“Oh iya? Adek suka bau kakak yang keringetan gini?” Jungsu menekan tubuhnya lebih rapat, dadanya licin karena keringat menempel di punggung Jiseok. Jiseok mengangguk lemah sambil menghirup dalam-dalam. Bau itu membuat kepalanya pusing karena keenakan. “Iya kakak.. adek suka… adek jadi basah banget gara-gara bau kakak.. Kontol kakak juga.. tebel.. nyodok memeknya adek dalem banget..”

Jungsu semakin bergairah mendengar Jiseok yang sudah mulai berani berbicara kotor. Ia menarik tubuh Jiseok sedikit ke belakang hingga posisinya lebih tegak, satu tangannya meremas dada Jiseok sambil memilin putingnya.

“Bilang lagi, cantik. adek suka apa, sayang?” tanya Jungsu sambil menggigit bahu Jiseok pelan.

Jiseok menangis semakin deras, tapi mulutnya terus ngomong, “Mmmhp.. adek suka..  suka kontol kakak yang besar.. Adek mau jadi pelacur kakak.. ahh—! kakak pelan.. adek mau pipis lagi..”

Jungsu tertawa puas. Ia mempercepat sedikit hentakannya, tangannya turun ke clit Jiseok dan menggosoknya kasar.

“Pipis aja dek, muncrat lagi di kontol kakak. Adek cantik banget kalau lagi pipis sambil nangis gini.”

Jiseok gemetar hebat. Sensasi di dalam perutnya semakin kuat. Ia mencengkeram meja sambil menangis tersedu, “Kakak–hngg! a-adek mau pipis.. adek nggak tahan..” 

Dengan jeritan panjang yang pecah, Jiseok squirting lagi untuk kedua kalinya. Cairannya memuncrat deras mengguyur paha Jungsu dan lantai gudang. Tubuhnya kejang-kejang hebat, vagina-nya mencengkeram kontol Jungsu kuat-kuat.

Jungsu mendesah kasar, tapi ia tidak berhenti. Ia terus merogok Jiseok yang sedang orgasme, membuat Jiseok kembali memuncratkan cairan beningnya lagi dan lagi.

Jiseok gemetar hebat, orgasme terakhirnya membuatnya hampir ambruk di atas meja. Jungsu memeluk tubuh Jiseok dari belakang, dada licinnya menempel erat sambil mengelus perut Jiseok yang kembung karena penuh sperma.

Beberapa menit kemudian, Jungsu menarik kontolnya keluar perlahan. Sperma putih kental langsung menetes banyak dari vagina Jiseok yang masih berdenyut ke lantai gudang.

Jungsu membalik tubuh Jiseok dengan lembut, lalu mengangkatnya ke atas meja supaya duduk menghadapnya. Jiseok langsung bersandar lemas di dada Jungsu, napasnya masih tersengal.

“Udah.. udah ya kakak.. adek udah lemes..” gumam Jiseok lemah, suaranya serak.

Jungsu tertawa pelan sambil mengusap punggung Jiseok yang basah keringat. Ia mengambil kain lap bersih dari rak dekat meja, lalu dengan hati-hati membersihkan wajah Jiseok yang belepotan sperma, air liur, dan air mata.

“Cantik banget adek pas habis dientot gini,” bisik Jungsu sambil mengecup kening Jiseok. “Nangisnya lucu, muncratnya banyak, sama mulutnya nakal banget pengen kakak entotin lagi.”

Jiseok cuma bisa merengut malu sambil menyembunyikan wajah di dada Jungsu.


Pagi harinya, Jiseok masuk ke ruangan office dengan langkah yang pelan dan canggung. Setiap gerakan terasa mengingatkannya pada malam tadi—tubuhnya pegal luar biasa.

Wonpil sudah duduk di meja kerjanya. Begitu melihat Jiseok, ia langsung tersenyum lebar dan mendekatkan kursinya tanpa basa-basi.

“Pagi, Jiseok,” sapa Wonpil pelan, ia mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Jiseok,

“Kamu habis dientot Jungsu semalam, ya?”

Jiseok langsung tersedak. Wajahnya memerah seketika.

“K-Kak Wonpil?!” bisiknya panik sambil melirik ke sekitar.

Wonpil terkekeh pelan, ekspresinya terlihat santai banget. “Keliatan banget sih. Jalanmu agak aneh, leher ada bekas gigitan, terus baunya.. bau Jungsu banget. Campuran keringat sama minyak goreng. Aku hafal banget aroma itu.”

Jiseok menutup muka dengan kedua tangan, malu setengah mati. “Kak.. aku.. itu..”

Wonpil mengusap punggung Jiseok lembut, suaranya masih berbisik tapi penuh rasa ingin tahu,

“Aku juga tahu kamu ngintip aku sama Mas Jae waktu itu. Pintu PPIC kebuka sedikit, kamu buru-buru kabur dengan muka merah padam. Lucu banget.”

Jiseok melongo. “Kakak.. tau dari kapan?!”

“Ya tahu lah,” Wonpil nyengir. “ Mas Jae sampe ketawa pas kamu lari. Terus semalam pas stock opname… Jungsu yang ‘bantu’ kamu opname juga, kan? Sampai berapa kali adek-nya muncrat?”

Jiseok sudah ingin tenggelam ke bawah meja. Tapi Wonpil malah semakin mendekat, bisikannya semakin nakal,

“Kalau gitu.. mau gabung sama kita nggak? Foursome. Aku, Mas Jae, Jungsu, sama kamu. Bisa di ruang PPIC atau di gudang packing lagi. Jungsu bilang dia malah excited kalau bisa liat ‘adek’-nya dientot bareng-bareng.”




Notes:

im so jungjipilled mabok jungji anjay,, expect more of them from me hehe!
alterspring | twitter