Work Text:
Setelah berhari-hari ibu kota diguyur hujan tanpa henti, pagi ini akhirnya langit menunjukkan belas kasihan. Hamparan awan kelabu yang sepekan lebih menggantung entah ke mana perginya, kini digantikan oleh langit biru yang berhias kapas dan matahari yang bersinar terang sejak pagi.
Melihat cuaca secerah ini, Sadewa memutuskan untuk segera mencuci pakaian yang sudah menumpuk beberapa hari terakhir. Mumpung panas, pikirnya. Jikalau menunggu nanti, siapa tahu hujan akan kembali mengguyur ibu kota.
Kaki jenjangnya membawa dirinya ke kamar sebelah yang pintu bercat biru tuanya sedikit terbuka. Tangannya mendorong pintu kayu itu hingga netra madunya menangkap sosok adiknya yang tengah terduduk di atas kasur dengan tangan yang asik menari di atas layar ponselnya.
“Nakula, baju kotormu bawa ke bawah. Saya mau nyuci, mumpung lagi cerah,” ujarnya dengan nada yang sengaja ia tinggikan mengingat sang adik tengah mengenakan TWS baru berwarna biru muda yang ia belikan beberapa waktu lalu.
Nakula yang menyadari kakaknya tengah berbicara padanya pun melepas TWS sebelah kanannya, “Hah? Apa, Dew?”
“Saya mau nyuci, bawa baju kotormu ke bawah.”
“Oh, bentar! Aku kumpulin dulu!”
Terdengar helaan napas kasar sebelum Sadewa kembali menutup pintu kamarnya, Nakula dengan tergesa-gesa turun dari kasurnya hingga salah satu TWS-nya terjatuh dari genggamannya. Benda kecil itu terpantul dan masuk ke dalam kolong tempat tidurnya.
“Yaelah ….”
Ia urungkan niat mengumpulkan pakaiannya untuk mengambil TWS yang jatuh ke kolong tempat tidurnya itu. Tubuhnya ia bungkukkan untuk mengintip, lalu ia arahkan cahaya senter dari ponselnya ke dalam sana. Sial, jaraknya terlalu jauh untuk digapai tangannya tanpa harus memasukkan sebagian dari tubuhnya ke dalam.
Nakula menengok ke sekeliling kamarnya yang berantakan. Ah, akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan sesuatu untuk membantunya mengambil TWS-nya. Jadi ia putuskan untuk mengambil langsung ke dalam sana sebelum Sadewa datang mengomel.
Tubuhnya kembali ia bungkukkan. Cahaya dari ponselnya ia arahkan ke depan, lalu perlahan kepala dan tubuh bagian atasnya memasuki kolong. Tangannya yang bebas ia ulurkan untuk meraih benda itu. Namun, setelah beberapa menit berlalu, tangannya tak kunjung menggapainya.
“Na, lama banget sih ka—”
Omelan itu terhenti begitu Sadewa membuka pintu kamar. Ia kembali untuk mengomeli sang adik yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya untuk membawa tumpukan pakaian kotornya. Namun, pemandangan yang menyambutnya justru membuat kata-kata berikutnya tertahan di tenggorokan.
Apa ini? Apa yang sedang dilakukan oleh adik kembarnya? Dari sudut pandangnya, tubuh bagian atas Nakula sepenuhnya berada di kolong tempat tidurnya, sementara bagian bawahnya tengah menungging dengan kedua lutut dan tulang kering menempel pada lantai.
“Dew, sebentar, TWS-ku tadi jatuh ke kolong,” ujar Nakula dari bawah tempat tidur, “Kau bisa bantu aku dulu nggak?”
Permintaan tolong itu menyadarkan dirinya dari acara menatap pantat adik kembarnya yang bergerak. Sadewa membawa tubuhnya untuk mendekat, otaknya terselip sebuah ide tak senonoh. Ia sedikit menunduk bukan untuk membantu adiknya, melainkan mengganggu adik kesayangannya.
Tangan kanannya terangkat sedikit sebelum ia ayunkan secepat kilat untuk bertemu dengan bongkahan sintal yang terbalut dengan kain katun. Indra pendengarnya menyambut suara nyaring dari pertemuan antara telapak tangannya dengan pantat sang adik, disusul oleh suara peraduan antara kepala adiknya dengan tempat tidur.
Plak! Dugh!
“Ahg! Ngapain, sih, Dew? Jangan jahil dulu!”
Sadewa terkekeh mendengar protes yang dilayangkan oleh adiknya. Kemudian tangannya bergerak untuk menurunkan celana pendek juga celana dalam Nakula, menunjukkan buah persik yang masih memiliki jejak pergumulan mereka kemarin lusa.
“Dew! Sumpah, lagi begini kau malah sange?”
Tak mengindahkan protesan dari adiknya, jemari Sadewa mulai bergerak untuk membelai klitoris sang adik. Ia usap klitorisnya dengan gerakan perlahan, sementara tangan yang satunya sibuk mengelus batang kemaluan Nakula. Sang empu yang diberikan stimulasi mendadak mengeluarkan desahan dari mulutnya.
“Ngghhh Dewhwah …,” mulutnya berkomat-kamit tak jelas, “sstoph hngh—ahh! Dewah!”
Tanpa aba-aba, sang kakak menyelipkan telunjuk dan jari tengahnya ke liang sanggama Nakula, sementara ibu jarinya masih setia bergerak memutar di klitorisnya. Lubang itu semakin menyempit menjepit jemarinya yang tertanam di dalam sana.
“Rileks, Na. Kalau dijepit gini gimana saya mau gerak?”
“Perih, bodoh!” protesnya dengan napas tersengal.
“Keluarin, Dew—ahhh, Dewh sstoph nggh Dewhah!”
Sadewa bergeming, jemarinya bergerak maju mundur di lubang adiknya yang masih kering. Ia menundukkan kepalanya, didekatkan pada tempat di mana dua jarinya tengah bekerja. Lalu lidahnya menjulur tuk berikan jilatan pada klitoris milik si cantik.
Nakula menggeliat di bawah sana. Lubangnya perlahan mulai basah berkat usaha lidah dan jemari sang kakak. Akhirnya ia dapatkan pelepasannya yang membasahi wajah dan jemari Sadewa.
“Dewwh …,” rengekan tak keruan terdengar seiring dengan embusan napas yang tak beraturan, “Bantuin keluar, Dew.”
“Ini ‘kan udah saya bantu, sayang.”
Sadewa menurunkan kolor hitam serta dalaman yang ia kenakan. Batang kemaluannya menampar paha si cantik ketika dikeluarkan dari persembunyiannya. Panjangnya telah sepenuhnya tegang. Ia mengurut miliknya sendiri sebelum ia masukkan ke liang sanggama adiknya.
“Kamu masih mau keluar? Oke, saya bantu lagi.”
Sadewa mengarahkan kepala penisnya di labia sang adik. Ia gesek-gesekkan ujungnya untuk menggoda pintu gua itu. Nakula menggeliat tak nyaman di bawah sana. Ia berteriak panik ketika batang milik kakaknya perlahan memasuki lubangnya.
“Ahh—Dewa! Nggh—a-aku nggak sukahk posisinya … keluarin aku dul—ahhk, Mas! Eungghh Mash Dewhaa!”
Sadewa mendorong pinggulnya hingga panjangnya masuk seutuhnya. Ia menggeram pelan kala merasakan lubang adiknya yang menyempit. Kekehan keluar dari bibirnya ketika Nakula kembali merengek untuk mengeluarkan tubuhnya dari kolong tempat tidurnya.
“Sebentar, sayang …,” Ia menggerakkan pinggulnya membuat keluar masuk batangnya dengan tempo perlahan, “kamu baru boleh keluar kalau saya udah keluar, oke?”
“Hngghh Massh …,” si cantik mendesah, “Mahs ‘khanh k-ke-luarnya—ahhk! La-lama—eunggh ….”
Sang kakak abai, pinggulnya terus digerakkan maju mundur. Tangan kirinya mencengkeram pinggang yang lebih muda, sementara yang kanan meraih kembali Nakula kecil yang ujungnya telah mengeluarkan lelehan putih. Gesekan antarkulit membuat batang milik si cantik semakin berkedut.
Kepala Nakula pusing, penisnya berdenyut seperti akan meledak, sementara ritme pinggul kakaknya justru semakin cepat. Tidak lama, yang lebih muda menyemburkan spermanya hingga bercucuran di lantai. Sadewa yang masih belum mendapatkan pelepasan kian mengencangkan hentakan panjangnya ke lubang sang adik.
“Ahhg—Massh! Udahhnggh Dewhaa! S-stpohh dhuluungghh—Mass!”
Dugh! Dugh!
Kepala Nakula terus beradu dengan kolong tempat tidur. Yang lebih tua terkekeh pelan mendengar desahan nikmat sang adik bersamaan dengan keluh kesakitan. Ia sendiri masih setia menggoyangkan pinggulnya untuk mencapai puncaknya, tak mengindahkan protes sang adik untuk berhenti sejenak.
Sebelah tangan yang lebih tua meraba buah persik tembam yang ciptakan bunyi berisik ketika bertabrakan dengan panggulnya. Bongkahan sintal itu ia remas, buat si adik mengerang di dalam sana. Kemudian—
Plak! Dugh!
“Ahhk! Mass!”
Plak! Dugh!
Berulang kali Sadewa menampar buah persik sang adik hingga si empu terus-menerus membenturkan kepala dengan kolong tempat tidurnya.
“Ma—ahh, akhh aduhhg … s-sakiithh, ungghhh mass udhaahh hnggghh mahss pi—ahhk! Pi-pindah massh!”
Teriakan Nakula semakin keras, meminta sang kakak untuk berhenti. Bukannya menurut, Sadewa malah semakin semangat untuk menggoyangkan pinggulnya. Akhirnya, kakak beradik itu menjemput putih mereka bersamaan.
“AAHHH DEWAAA!”
Tubuh Nakula ambruk, bagian tengahnya mengenai cairannya yang mengucur di lantai. Matanya membuka-tutup merasakan sensasi penis sang kakak yang menyemburkan benih ke dalam rahimnya. Sungguh, tubuhnya terasa sangat sakit, terlebih kepalanya yang berkali-kali terbentur permukaan bawah tempat tidurnya.
“Bodoh …,” ujar Nakula lirih, “Sakit, bodoh ….”
Sadewa mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal. Ia menarik tubuh sang adik hingga keluar dari kolong tempat tidur. Dipeluknya tubuh itu, lalu dikecup wajah si cantik yang memerah dan dipenuhi oleh peluh serta air mata. Nakula menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang kakak.
“Maaf, ya, sayang.”
“Ambilin TWS-ku!”
“Iya, sayang, sebentar, ya?”
Tubuh si cantik didudukkan di atas tempat tidur. Dengan cepat, Nakula menarik selimut untuk menutupi bagian bawahnya yang telanjang bulat. Netra birunya menatap nyalang ke arah sang kakak yang menyeringai seolah tak merasa bersalah.
Kemudian Sadewa menunduk ke bawah tempat tidur untuk mencari TWS biru muda milik sang adik. Nakula dengan tanggap menyerahkan ponselnya yang telah menyalakan senter. Sang kakak menerimanya, lalu ia arahkan cahaya itu ke dalam. Tangannya yang panjang menjulur ke depan untuk mengambil benda kecil itu.
Nakula menatap bosan kakaknya yang masih berusaha untuk mengambil TWS kesayangannya. Kemudian, sebuah ide jahil terlintas di pikirannya. Senyumnya sontak mengembang. Sesekali, ia ingin membalas perbuatan Sadewa yang terkadang tidak tahu keadaan!
Maka, ia angkat tangannya ke udara. Kemudian ia mengempaskan tangannya hingga menubruk pantat lelaki yang tengah berusaha mengambil benda kecil di kolong tempat tidurnya.
Plak! Dugh!
“Awwh! Na, ngapain kamu?”
Senyum di wajah Nakula semakin lebar, “Rasain!”
Sadewa mendengus sembari mengusap pantat dan juga kepalanya, “Ini kamu dendam, ya?”
Namun, si surai biru langit itu tak menjawab. Ia malah merebahkan dirinya, meringkuk dengan selimut biru tua polos menutupi tubuhnya. Sadewa menghela napas. Setelah meletakkan earbuds ke dalam charging case, ia mengambil pakaian Nakula yang berserakan di kamar sang adik.
“Kamu mau mandi sekarang apa nanti?” tanyanya sembari memunguti pakaian di meja belajar Nakula, tetapi si empu kamar masih bergeming, “Sayang, masih marah?”
Tak kunjung mendapatkan jawaban, yang lebih tua memilih meninggalkan kamar sang adik. Ia menuruni tangga menuju ruang cuci. Setumpuk pakaian yang didominasi oleh pakaian berwarna biru dan hitam itu ia masukkan ke dalam mesin cuci, disusul pakaian miliknya yang sedari tadi teronggok di keranjang cucian.
Setelah menuangkan deterjen, Sadewa memilih program pencucian pada panel mesin, lalu menekan tombol mulai. Dengungan pelan segera memenuhi ruangan ketika mesin mulai bekerja. Tak berlama-lama, ia beranjak menuju kamar mandi. Keran air hangat pada bathtub ia putar hingga aliran uap tipis mulai mengepul, mempersiapkan semua untuk sang adik.
Ia membiarkan bathtub perlahan terisi sebelum kembali menaiki tangga. Masih ada satu hal yang harus diselesaikan lebih dahulu. Langkahnya berhenti di depan kamar Nakula. Begitu pintu itu ia buka, sang adik masih meringkuk di atas kasur.
Sadewa mendekat, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Jemarinya menyisir pelan rambut berkeringat sang adik akibat kegiatan mereka beberapa waktu lalu. Selimut biru tua yang menutupi wajah Nakula ia turunkan perlahan hingga wajah cemberut adiknya terlihat.
Nakula tengah sibuk menatap layar ponselnya, terus menggulir demi menggulir isi media sosial tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia lihat. Namun, begitu kain yang menyelimuti dirinya terbuka, ia segera mengangkat kepala dan melemparkan tatapan sebal.
“Mandi dulu, yuk, Na? Saya sudah siapkan air hangatnya di bawah,” ujarnya berusaha membujuk.
Jawaban lirih pun terdengar, “Mandiin ….”
“Iya, sayang. Maaf untuk yang tadi, ya? Saya yang salah,” Ia membantu Nakula mendudukkan diri, “ada yang sakit?”
Nakula menggeleng, lalu merentangkan tangannya, “Mau gendong.”
Sadewa dengan sigap mengangkat tubuh sang adik. Satu lengannya menyangga punggung, sementara lengan lainnya menopang di kedua lututnya. Nakula refleks mengalungkan kedua tangannya di leher sang kakak. Setelah memastikan gendongannya terasa nyaman, barulah Sadewa melangkah keluar menuju kamar mandi.
“Nanti kau beresin kamarku,” gumam sang adik, “hari ini aku nggak mau banyak gerak.”
“Iya, cantik,” Sadewa mengecup dahi adiknya dengan penuh kasih, “nanti kamu duduk anteng aja, saya yang beberes.”
Begitu sampai kamar mandi, ia membungkukkan tubuh, lalu perlahan menurunkan sang adik ke dalam bathtub yang telah ia persiapkan tadi. Nakula menyapukan air hangat ke wajahnya sebelum mengangkat kepalanya.
Sudut bibirnya terangkat tipis. Tatapannya yang mengarah pada sang kakak perlahan berubah jahil, seolah baru saja mendapatkan sebuah ide. Akhirnya, sebuah undangan ia layangkan pada kakak tersayangnya.
“Mas, mau mandi bareng?”
