Work Text:
Blue.
Dia terbaring, menyoroti sinar biru di balik jendela. Sendu sore mulai menyapa dan diantara lentera silver yang berterbangan, satu hal yang membuat dia balik badan dengan senyum lebar tercetak di wajah.
Bayangan hitam yang perlahan mendekat, kemudian sosok itu tersorot lampu kamar yang temaram.
Lelaki di hadapannya sedang meliuk melepas jas, membuka kancing baju yang mencekik sejak pagi. Dasi sudah absen dari leher, disusul jas yang terlempar ke sisi ujung kasur.
“Aah~ Cape.”
Jaehyun langsung jatuhkan tubuhnya di atas kasur dan peluk pinggang Taeyong erat.
Kecupan ringan di bibir Taeyong adalah cara Jaehyun mengucapkan rindu. Dekapan erat yang dibalas tawa ringan Taeyong adalah obat lelah paling manjur untuk tubuhnya yang sudah kepala tiga.
“Aku mandi dulu.”
Taeyong menganggukkan kepala.
“Kamar mandinya uda aku siapin buat kamu.”
Jaehyun tersenyum, dia pamerkan dua lesung pipi kebanggaannya seraya mengusak surai Taeyong, “Makasi, Sayang.”
A subtle, gentle hint of blue rays threaded through her dim room, breathing a calming, relaxing stillness between the two.
Sesaat mereka saling tatap, senyuman tipis yang dapat mereka tangkap meski hanya dalam hitungan detik, menjanjikan bahwa malam akan berlangsung tenang, seakan selimut panjang tengah tergelar menghangatkam mereka berdua.
Taeyong bangun dari kasurnya, dengan dress sutra sebetis yang memeluk badannya. Kain itu jatuh dengan anggun, ringan, bergerak mengikuti liuk tubuhnya dengan sempurna.
Rambut panjang yang manis dia gerai, dengan sisi surai yang dia tahan dibalik telinga.
Suara langkahnya terdengar seiring gelang kaki yang serukan gemerincing setiap kali dia melangkah.
“Need help?”
Taeyong membuka sedikit pintu kamar mandi dan dia dapati Jaehyun sedang buka kemeja putih kusutnya.
Jaehyun menoleh.
Setelah baju itu tanggal sempurna, dia rangkul Taeyong dengan sebelah tangannya, “Mau ikut?” bisiknya pelan, tepat di telinga Taeyong.
Taeyong terkekeh geli, lehernya ikut menciut menarik telinga menjauh dari bibir Jaehyun. Kemudian, dia balas dengan menghadap ke arah lelaki dengan kacamata minus bertengger sempurna di wajah.
Jemari Taeyong merayap, menyapa pipi dingin Jaehyun dengan elusan. Dia raih kacamata Jaehyun untuk ditaruh di atas meja wastafel, sebelum menjemput ciuman yang sudah dia damba sejak pagi tadi.
“Lembur?”
“Macet,” balas Jaehyun singkat diantara ciuman mereka, “Hujan soalnya.”
“Kehujanan?”
“Dikit.”
Jaehyun genggam tangan Taeyong yang masih melekat di pipinya, “Makanya pipiku dingin banget. Hujannya deras.”
“Iya, deras dari sore tadi,” sahut Taeyong, tanpa pisahkan bibir mereka terlalu jauh, “Aku kira kamu gaakan mampir.”
Jaehyun terkekeh dengan bibir yang masih tersumpal bibir Taeyong.
Dia peluk pinggang Taeyong erat, kemudian menggendong Taeyong bagai koala. Dia dudukkan Taeyong pada sisa area meja wastafel yang masih kosong, agar lebih mudah menciumi perempuan yang beberapa senti lebih pendek darinya itu.
Melihat wajah Taeyong sejajar wajahnya, dia kurung Taeyong diantara dua tangannya dan pendekkan sedikit posisinya — hingga kini Taeyong terlihat agung dari pandangannya, menjulang di atasnya, menyorot penuh kasih ke arahnya.
Wajah Jaehyun diraih lagi untuk ciuman yang begitu lembut, menyalakan seluruh indranya sampai merinding sekujur tubuh. Saraf-sarafnya jadi terlampau sensitif, bahkan hembus nafas Taeyong pada pipinya membuat dia gemetaran.
Dengan telapak tangan sebesar wajah Taeyong, dia letakkan di sisi wajah Taeyong — dia rengkuh, kemudian jemarinya menjalar ke belakang kepala untuk perdalam ciuman.
Sebelah tangannya menyingkap dress sutra Taeyong, menyapa paha kenyal yang cukup dalam satu genggamnya.
Suara ciuman mereka bahkan lebih basah dari deru keran yang sedang menyala — dan lebih basah lagi area tengah diantara kaki milik Taeyong kalau sekarang.
Lumatan demi lumatan mulai buat Taeyong gelagapan. Terutama kala Jaehyun terus mendorong kepalanya, dan di saat yang sama menekan leher belakangnya. Sesekali Jaehyun agaknya bingung mau berikan tenaga esktra ke tangan atau bibir untuk puaskan nafsu — Taeyong sampai pegangan pada tembok dan peluk leher Jaehyun dengan sebelah tangan untuk menjaga posisinya.
Dia remas rambut belakang Jaehyun kala tubuhnya mulai terpental ke belakang.
Taeyong rasa dia di bully habis-habisan, badannya dipepet sampai punggung menabrak kaca luas kamar mandinya.
Sesaat mereka lepaskan ciuman untuk terengah bersama. Seakan dua bakpao dalam kukusan, kaca kamar mandi jadi berembun karena panas tubuh mereka dengan dingin derajat kamar mandi terus beradu.
Setiap Jaehyun tarik diri dan menatap Taeyong lamat-lamat, jantungnya berdegup begitu kencang sampai lututnya melemas.
Bahkan, dari pertama kali dia melihat Taeyong, sampai hari ini, tidak ada yang berubah dari bagaimana dia pandang perempuan cantik di hadapannya. Tentang apa yang indranya tangkap, tentang apa yang terucap oleh perasaannya. Tentang bagaimana sekujur dirinya berekasi, luar dan dalam.
Tangannya masih sering bergetar gugup, sebagaimana yang kini tengah terjadi. Dia coba raih dagu mungil Taeyong, untuk mencium Taeyong lagi dan lagi — karena sejatinya dahaganya untuk lumat bibir Taeyong tidak akan pernah bisa terpenuhi, sekalipun berciuman seharian penuh. Bibir bawahnya masih sering gelagapan penuh antusias setiap bibir mereka bertemu. Lidah Jaehyun selalu menjilat lapar, masuk ke rongga oral Taeyong sampai Taeyong kewalahan.
Kepala Taeyong semakin tertekan pada cermin di belakangnya, namun dia tidak akan minta Jaehyun untuk berhenti — karena dia juga sama laparnya, sama hausnya, dengan bagaimana Jaehyun menikmati dirinya.
Taeyong bisa rasakan dia basah di bawah sana. Celana dalamnya sudah terlampau kuyup untuk sekedar disebut ‘basah’ saja.
Tali bajunya melorot turun, yang kirimkan sinyal untuk Jaehyun tarik resleting di punggungnya.
Payudara Taeyong langsung jadi sasaran. Jaehyun menyergap susu di depan matanya dengan lahap, dan Taeyong hanya mampu membusungkan dada sambil mendesah pasrah.
Taeyong elus rambut Jaehyun pelan, mengintruksi Jaehyun untuk tidak buru-buru saat mengenyot dadanya. Penuh kasih, penuh sayang, dia serahkan kedua payudarannya untuk dihisap dan diremas.
“Ahh~” Taeyong menengadah, keenakan, saat lidah Jaehyun menekan putingnya dan bermain naik-turun. Tekanan yang gelitik sekujur tubuhnya, dan hisapan-hisapan kecil yang lemaskan ototnya. Sesekali, Jaehyun menggigit dan menghisap kulit payudaranya, mencetak lebam cantik yang tidak akan hilang sampai seminggu kedepan.
Rasanya, baru saja mereka bercumbu, namun entah bagaimana bercak tanda yang Jaehyun tinggalkan sudah ada dari leher menjalar ke dada.
Payudara Taeyong yang lain tidak luput tercicipi juga. Sementara yang basah habis dikulum Jaehyun, kini dipijat-pijat nikmat.
Jaehyun, Jaehyun. Menyusu lahap seperti anak pintar.
“Sayang, nen sampe kenyang,” bisik Taeyong, sambil dia elus dan sisir surai halus Jaehyun.
Aroma terapi yang otomatis menyala, wangi lavender memenuhi ruangan.
Diantara lonjakan nafsu dari adrenalin yang terus terpompa, kepala mereka jauh dari rasa tenang — si aroma terapi gagal dalam misinya untuk berikan relaksasi maksimal.
Tanggal sampai telanjang bulat Taeyong di atas meja, kemudian badannya digendong lagi bagai balita untuk masuk duluan ke dalam bath-tub.
Sementara Jaehyun berdiri di samping Taeyong untuk buka sabuk dan celana, sebelum ikut serta merendam diri dengan kekasihnya.
“Aku mau…”
Mata Taeyong berbinar memandangnya. Gemerlapan di bawah cahaya kuning kamar mandi yang temaram.
Kala tanggal celana Jaehyun sempurna, Taeyong meraih penis yang menjuntai panjang di depan wajahnya.
Tepat di depan hidungnya, dia menyapa kelamin yang begitu akrab dia kenal.
Air sudah menyapa pusarnya, gelitik di perut semakin terasa saat dia majukan wajahnya, menggosokkan hidung dengan penis Jaehyun yang mengeras.
Bibirnya mengukir senyum puas
Bagi tangan Jaehyun, kepala Taeyong hanya sebesar kepalan tangannya. Mudah untuk dia jadikan telapaknya sebagai topi yang lindungi tempurung kepala Taeyong secara sempurna — yang mana kini tengah dia lakukan.
Rematan pada kepalanya menjadi pijatan yang membuat tubuh dia tenang — Taeyong masukkan inci demi inci kedalam mulutnya, dan sisanya yang tidak dapat masuk dia genggam dengan tangan.
Taeyong atur nafasnya, sesekali telan penis Jaehyun agar terpijat kerongkongan. Alunan desisan Jaehyun, lenguhan pelan yang lolos malu-malu, Taeyong pancing lagi dengan hisapan dan kenyotan pada penis Jaehyun, sembari menatap mata sayu Jaehyun.
Gelinang air mata Taeyong perlahan menetes, pipi Taeyong kian merah sampai ronanya menyentuh telinga, dengan mulut menenggak haus batang kelaminnya, dengan alis yang sesekali bertaut saat tersedak, dengan mata yang sesekali terpenjam saat mengenyot penisnya penuh khidmat. Jaehyun tenggelam dalam lautan nikmat tanpa ujung, dia terus menyelam di laut lepas tanpa dasar, dan sesak di dadanya semakin menjadi, tertekan nafsu yang kian menggila.
Jantungnya berdegup terlalu cepat, tanpa sadar dia jambak rambut Taeyong dalam genggamnya.
Dia mengerang, melenguh, mendesah lebih kencang, tidak pernah terbiasa dengan kerumunan nikmat yang mengulum penisnya. Dia mengernyit, kepalanya seperti kesemutan, matanya mulai merabun berkaca-kaca, dan secara terpaksa dia tarik kepala Taeyong menjauh dari penisnya.
Pada pandangannya, Taeyong dengan liur menetes di sisi bibir, air mata menggenang pada bulu mata tebalnya, dengan mulut terbuka gelagapan mengambil nafas.
Jaehyun menunduk, kembali dia jambak rambut Taeyong dan tarik Taeyong mendekat, mencium bibir Taeyong yang bengkak dengan lahap.
Taeyong letakkan tangan pada dada Jaehyun — ciuman mereka seakan-akan penuh paksaan, walaupun Taeyong secara suka rela dilumat bibirnya meski dalam posisi yang bikin badannya pegal.
Jaehyun ikut masuk ke bathtub, supaya Taeyong bisa bersandar pada dadanya.
Dia pangku Taeyong, merasakan bongkahan pantat Taeyong menjejali penisnya.
Kedua tangannya menangkup payudara Taeyong, bibirnya mengecup sepanjang leher sampai bahu kekasihnya itu.
“How’s work?”
“Pusing,” ujar Jaehyun disela kecupnya, “Aku ga sabar pulang dan ketemu kamu.”
Taeyong sandarkan badannya.
Sebelah tangannya menangkup pipi Jaehyun.
“Aku juga kangen,” Taeyong berkata dengan mata memandang mata Jaehyun, tanpa berkedip, “Kangen banget.”
“Banget?”
“Banget banget,” Taeyong terkekeh kecil, “Cium aku lagi.”
Dari kening, pipi, hidung, sampai ke bibir — kecupan ringan yang tidak pernah gagal kirimkan kupu-kupu untuk penuhi perut sampai dadanya.
Sementara bibirnya dilumat, sebelah tangan Jaehyun aktif meremas-remas dadanya, dan tangan yang lain mulai gerilya ke area kelaminnya.
Jaehyun sudah terlampau kenal tubuh Taeyong, dia bisa sambil tutup mata untuk tahu dimana klitoris Taeyong.
“A- ahh — ” disela ciuman mereka, Taeyong mendesah pelan. Gelitik di puting dan klitorisnya membuat tubuhnya tegang. Uratnya tercetak menjalar di leher, genggamannya pada lengan dan paha Jaehyun menguat.
Mata Jaehyun masih terpejam — lelaki itu tenggelam dalam nikmat yang mereka ciptakan. Namun, Taeyong mulai risau, terutama saat sengatan listrik menjalar pada pahanya.
“S-sayang — ” Taeyong berbisik, dengan genggaman tangan yang menguat, “Masukin,” dengan nafas yang terengah, dia bicara.
“Ga ah,” Jaehyun kecup pipi Taeyong, “Belum.”
Bicara Jaehyun terdengar begitu lembut, kontras dengan tangannya yang bergerak menggoda klitoris Taeyong semakin cepat.
Semakin cepat.
Semakin cepat.
Tubuh Taeyong mengejang.
“C — curang,”
Taeyong mengerang lirih, badannya tegang. Dia pegangan pada Jaehyun erat-erat, dia sematkan wajahnya pada leher Jaehyun.
Saat Jaehyun cium dia lagi, Taeyong hanya bisa menengadah pasrah.
Sebisa mungkin dia tahan lengan Jaehyun yang sedang mengucek klitorisnya. Namun, Jaehyun yang lelah masih jauh lebih kuat dibanding dirinya, terlebih badannya yang mulai tidak berdaya dibawah sentuhan semi sentuhan yang tidak pernah gagal membuat badannya gemetar.
Pinggang Taeyong mencuat naik ke permukaan, dia bergerak gelisah hendak kabur dari tangan Jaehyun, tertuma pada vaginanya.
Namun entah bagaimana jadinya, posisi tubuhnya memperbolehkan Jaehyun untuk memijat klitorisnya cepat, seraya menyusu pada dadanya.
Tanpa izin, tanpa permisi, kaki Taeyong diangkat dan tergantung pada pinggiran bathtub, kakinya menjuntai keluar sampai lantai jadi basah karena juntaian air dari tungkainya.
Posisinya kalah telak, dan dia bisa rasakan jari Jaehyun masuk dua ruas, memijat liang senggamanya pelan-pelan.
Taeyong hanya bisa pegangan erat-erat, dia genggam rambut belakang Jaehyun yang masih lapar menyusu pada payudaranya.
Taeyong semakin gelisah, antara tergelitik dari dadanya yang bengkak atau lubang vaginanya yang digoda keluar-masuk hingga air ikut menyusup mengisi rongganya.
Rasanya sesak, tidak nyaman, namun pompa nafsunya melewati batas wajar — orgasme mulai di ujung mata, dia bisa rasakan sekujur tubuhnya tegang sampai kaku tidak bergerak.
“J-Je — ” lalu badannya menggigil gemetaran, terutama kakinya — bagai listrik ber volt-volt menjalar dari pangkal paha sampai telapak kaki, bahkan kaki Taeyong masih megap-megap, mencoba mensingkronkan lagi koneksi antara otak dan para sarafnya.
Kemudian geli menyergap intens sampai Taeyong meringkuk di pelukan Jaehyun.
“Pinter deh mandinya,” ujar Jaehyun separuh meledek, dengan kecupan ringan di kening Taeyong, dan kekehan puas melihat Taeyong orgasme dari dua jemarinya.
“Bilas bentar, ya?”
Jaehyun bisikkan satu ajakan.
“Kali ini aku janji nanti masukin.”
“Awas bohong.”
“Emang aku pernah bohong?”
Taeyong terdiam.
Kikuk menyapa ruangan, cukup mengganggu atmsofir diantara mereka berdua.
“Sama kamu?” lanjut Jaehyun, mencoba menyelamatkan suasana.
Namun, sayang jika jarang-jarang bisa bertemu, berujung gagal bersetubuh sampai raga tidak punya tenaga untuk sekedar berdiri dan berjalan — ya, kan?
Jadi, Taeyong kecup hidung Jaehyun.
“Ayo, bilas bentar.”
Kemudian mereka menuju area shower kamar mandi Taeyong.
Just a quick rinse, mungkin Jaehyun masih belum merasa cukup segar. Jadi, Taeyong ikut saja.
Sampai kemudian mereka masuk ke dalam bilik shower yang lebih sempit dan Jaehyun langsung menyeragap bibirnya.
Tidak lama berselang dari ciuman yang berantakan, badan Taeyong dibalikkan sampai memunggungi Jaehyun.
Taeyong berpegangan pada tembok kaca ruang showernya, dia menungging sedikit untuk mudahkan Jaehyun mengakses dirinya.
Sebelah kaki Taeyong, Jaehyun angkat dengan lengannya. Dia butuh ruang yang lebih luas karena meskipun Taeyong sudah orgasme barusan, air mandi mereka menjadikan akses masuknya kembali kesat.
Benar.
Taeyong merasakan perih dan sakit saat Jaehyun masuk, lalu nikmat tiada tara saat Jaehyun mulai menggenjot vaginanya.
Sebelah tangan Jaehyun untuk menahan kakinya agar tetap terangkat, tangan yang lain memeluk pinggang Taeyong, mengelus-elus perut Taeyong, sesekali memencet area rahim kekasihnya itu.
Taeyong berjengit merasakan tumbukan penis Jaehyun bersamaan dengan tekanan dari tangan Jaehyun pada rahimnya.
Sakit — namun vaginanya ketagihan. Lendir kelaminnya semakin banyak terproduksi. Jaehyun maju-mundur lebih mudah seiring kelaminnya yang semakin licin.
Sebelah kaki Taeyon diturunkan, pinggang Taeyong dibikin lebih menungging. Dua tangan Jaehyun bagai pekerja full time di kedua pinggang Taeyong, menggenggam kedua sisinya kuat-kuat untuk mementalkan sekujur penisnya sedalam yang dia bisa.
“Ah! AKh! AH!” Tiap hantaman pada bibir rahim Taeyong, disambut rematan kencang dari vagina Taeyong.
Dia dirikan bada Taeyong.
Jaehyun cumbu leher kekasihnya, dia peluk posesif badan Taeyong seraya meremas dada si cantik yang selalu mengadiksinya.
Jaehyu. ikut bungkukkan badan agar tubuh mereka melekat sempurna.
Pinggangnya tanpa lelah mendobrak keluar-masuk vagina Taeyong. Meski pemiliknya mulai teriak-teriak, dia terus tekan pinggangnya untuk masuk sedalam yang dia bisa.
Taeyong pernah bilang, kalau Jaehyun masuk lewat belakang, rasa penetrasinya jadi berbeda.
Linu di bawah perut Taeyong lebih intens terasa, sampai dia mengaduh keenakan dan berharap Jaehyun terus menggunakan tubuhnya tanpa secerca belas kasihan.
Dia bisa rasakan telapak tangan Jaehyun mengusap-usap rahimnya dari luar, sesekali menepuk-nepuk perut bawahnya itu, kemudian mengucek lagi klitorisnya sampai Taeyong berjengit — kaki menjinjit keenakan, pantat semakin menungging kelaparan, dan dia sudah terlampau tolol untuk bisa bicara.
“Enak — ahh — ahh!” Apa lagi yang Taeyong bisa ujarkan selain desahan penuh puja dan puji terhadap kekasihnya?
“Don’t come yet — Sayang,” Jaehyun berbisik dengan nafasnya yang berantakan, dengan nada bicara tidak jelas karena tanpa berhenti menyodok-nyodok vagina Taeyong.
“Sayang — ”
“Jangan keluar, tahan orgasmenya Sayang. Kempitin memeknya.”
“Ahh — ahhhh!”
“Tahan, Taeyong.”
Taeyong kepalkan jemari tangan maupun kaki.
Bibir bawahnya dia gigit erat.
“I’ll fuck you all night, Sayang. I’ll — fucking fuck you, all night.”
Setiap kata terucap, mentok penis Jaehyun masuk ke rongga senggamanya, dengan sodokan terkuat yang buat Taeyong kian terpental.
Ujaran itu bagai janji yang ingin Taeyong genggam selamanya.
Selamanya.
