Work Text:
Dalam sekali lempar, bidikan Chaeyeon yang sembrono, strap-on itu menampar wajah Zhou Xinyu. Mengabaikan marah-marah korbannya, ia berlari menghampiri pintu, ditutup pelan-pelan sambil mengintip lewat celah, memastikan kebisingan menetap di lantai bawah.
Klik! Kunci berputar. Sekarang sepasang perempuan terkurung dalam kamar.
"Lo punya beginian? udah ngewe sama siapa aja lo?" tanya Xinyu. Menyelidik pada replika penis berwarna pink di tangannya.
"Enak aja!" Chaeyeon membantah. "Itu cuman antisipasi kalo momen begini kejadian."
"Hah?"
Berkerut kening. Xinyu menganga, bertanya-tanya sesaat sebelum bingungnya lenyap ketika si teman Korea menghampiri. Menjulang di depannya yang terduduk di tepi kasur.
"Oh, ngarepin gue pake?" Ia menyeringai.
Chaeyeon menarik kerah kaos figur di bawah tatapannya. "Lo yang godain gue duluan sepanjang di bawah."
"Terus? becek lo diceng-cengin begitu?" ledek Xinyu.
Tak mau kalah, genggamannya menyasar bokong sintal perempuan tersebut. Lantas turun, mencolek belahan berkedut di balik celana pendek yang mencetak.
Bibir Chaeyeon melipat. Gesekan jemari Xinyu membuat matanya redup. Dengan punggung yang semakin landai, ia mengandalkan bahu Xinyu sebagai tumpuan dari gemetar yang melemahkan persendian.
"Mhm ... m-menurut lo?"
"Harus disodokin sih ini."
Chaeyeon terbata. "M-mau."
Dan Xinyu setia menggoda. "Mau apa?"
Bergeming. Lidah Chaeyeon kelu untuk berterus terang. Namun, kesabaran Xinyu setipis tisu, apalagi untuk orang yang malu-malu.
"Yaudah. Gue balik ke bawah," ketus Xinyu. Hendak bergeser, bersiap berdiri.
"Jangan!"
Seperti seluruh kekuatan mendadak memberat pada tangannya, Chaeyeon mendorong pundak figur jangkung tersebut hingga terbaring.
"Anj—" Si pemilik surai coklat mendesis manakala lutut Chaeyeon menghimpit ke selangkangan.
"Nanti temen-temen pada nyariin, kocak."
Teguran Zhou Xinyu seperti halnya angin lalu bagi seorang yang nafsunya memuncak, senada dengan oktaf bicaranya yang kemudian meninggi.
"Kalo gitu sebentar aja!"
"Sebentar ngapain!?" tanya Xinyu, tak kalah berisik.
"Gausah pura-pura goblok!"
Kekesalan itu nyaring di antara decakan lidahnya. Xinyu memberontak. "Udahlah. Awas! gue mau cabut—"
Sayangnya, di momen begini Chaeyeon justru terlalu tanggap. Apalagi mudah baginya memblokade setiap kemungkinan pergerakan dari sosok setipis Xinyu.
"Okay! maaf, tapi sekali ini aja."
Tatapan perempuan China itu tajam. "Apa?"
"Ngewe sama gue!"
Wajah Chaeyeon bersemu merah. Rasa malu menghantarkan panas yang menjalar hingga ke telinga. Ia berpaling, enggan menatap sepasang netra yang mengejar pandangannya.
Selama beberapa saat hanya ada hening, kemudian dipecah oleh kekehan Xinyu, yang bangun dan mendudukkan diri. Telapak tangannya terbuka, meminta keyakinan sang rekan.
Menurut. Chaeyeon menggapai strap-on yang tergeletak tak jauh di samping. Mempercayakan pada sosok yang diharapkan bisa memenuhi libidonya.
"Quicky?" tanya Xinyu.
"Quicky."
"Di atas?"
Chaeyeon berdeham. "Hm. Biar lo ga semena-mena kalo gue belum selesai."
Anggukan kepalanya terkesan meledek sebagai tanggapan. Xinyu menampar paha Chaeyeon, meminta perempuan tersebut menyingkir dari pangkuan. Ia mulai memasang strap di pinggang, mengeratkannya dengan beberapa tarikan yang membuat sudut mulut merengut.
Sesekali Chaeyeon mencuri pandang, selalu terpergok. Salah tingkahnya tak pandai ia samarkan, sejelas dari bagaimana rambut yang terus disekanya ke belakang telinga.
"Gue ga sejahil itu," kata Xinyu. Mencondongkan badan, hendak mengungkungi perempuan yang langsung membalikkan posisi mereka.
"Siapa tau," sahut Chaeyeon. Tersenyum sarat kemenangan setelah menaklukkan pangkuan Xinyu kembali.
Bersitatap, mengesampingkan ragu, Chaeyeon menangkup wajah temannya. Siap memulai adegan dewasa berlendir dengan pertemuan dua bibir, tetapi Xinyu sempat kaku oleh lamat-lamat hasrat yang menggebu pada sorot mata di depannya.
Tidak biasa. Terlalu dalam. Terlalu jelas menerangkan betapa seorang Kim Chaeyeon sedang terpikat.
"M-mau ngapain?" tanya Xinyu.
"I-iya ... ciuman," timpal Chaeyeon. Ikut heran.
"Orang di mana-mana kalo mau ngentod pasti cipokan dulu, kan?"
"Harus banget? Kalo mulut lo—"
Irisnya berputar muak bersama napas yang berembus berat. Chaeyeon menarik tengkuk si perempuan China. Melahap bibir ranum tersebut atau Xinyu akan agresif mempertanyakan segala hal demi menyembunyikan ketegangannya sendiri. Buang waktu.
Tipikal pribadi bermental kerupuk. Jahilin yang lain kencang, giliran diludahin langsung melempem.
Xinyu membiasakan diri dengan situasi, dengan lidah Chaeyeon yang menggoda di antara rongga dan becek dari belaian bagian selatan sosok di pangkuannya.
"Mmh ... C-chae!"
Jarak kembali membentang di antara mereka. Oleh tarikan Xinyu di rambut Chaeyeon, ciuman terputus dengan benang saliva yang memanjang. Deru napas keduanya tak beraturan, memburu.
"Habis napas gue gimana, 'nyet!?" keluh Xinyu.
"Jangan, dong. Fetis gue bukan mayat," canda Chaeyeon di sela tawa lembut.
Ia melepas setiap bawahan yang melekat, lalu mencampakkannya ke sembarang arah. Menggigit bibir, Chaeyeon melumuri penis plastik tersebut dengan cairan yang terus dimuntahkan liangnya.
Susah payah Xinyu menelan ludah. Dadanya memberat oleh nafsu yang kian pekat. Memerhatikan gemulai tangan itu menuntun batang yang keras menembus milik Chaeyeon sendiri. Kini pipi mereka sama semu merahnya.
"Dimentokin banget, nih?" ejek Xinyu.
"B-biasa," rintih Chaeyeon. Ia menggeram ketika vaginanya makin sesak, pedih—mungkin ukuran yang dibelinya salah. Lagian, ide dari mana juga dildo yang gemuk akan cocok dengan sosok Xinyu? Entahlah.
"Dah biasa?"
"Sambil bayangin lo, iya."
Cengkeraman Xinyu pada seprai mengerat. "Wow, cabul."
Dan sekali hentak, semua bagian penis tersebut terbenam sempurna. Kepala Chaeyeon terlempar ke belakang, memanipulasi sakitnya hingga ia dapatkan makna kenikmatan sejati tentang interaksi manusia paling akrab.
"Ssh— suruh siapa keliatan enak," desis Chaeyeon.
"Aahh ... hngh— a-anjingh!"
Desahannya meremangkan bulu roma Xinyu. Perempuan tersebut turut meringis di sela berisiknya Chaeyeon yang mulai menggoyangkan pinggul.
"Memeknya baperan," hina Xinyu.
"Buat lo," goda Chaeyeon.
"Hhh, lonte."
Punggung Xinyu merebah atas tuntutan orang yang kian menggila di atasnya. Chaeyeon mengangkat ujung kaos, menggigitnya. Kaitan bra ia longgarkan, memamerkan buah dada montok yang mengambul.
Enggan tinggal diam, jari-jemari lentik Xinyu menggerayangi. Mencangkol payudara cantik itu. "Anj— toket lo mantep banget, Chae."
Terkadang dalam fantasinya, Xinyu terdengar hanya melontarkan cercaan. Berdasarkan bagaimana bahasa kasih mereka adalah dengan kebiasaan merendahkan satu sama lain. Karena seberapa tinggi menghalu, yang paling menggugah itu masih bersentuhan dengan realitas.
Namun, dipuji cantiknya oleh Xinyu manakala sesi panas ternyata tetap memantik sengatan hasrat yang lebih hebat. Chaeyeon gencar menggenjotkan pinggulnya.
Akhirnya, rasa sangenya tak lagi sebatas dibantu bantal dan screenshot foto Instagram Xinyu.
"Hnghh ... X-xin—"
"Suka, cantik? Manjain memek di atas badan gue," gumam Xinyu.
"M-mau ngewein lo terus, Xinyu," rengek Chaeyeon.
"Nanti yang lain curiga."
"Peduli amat anj—"
Tok, tok, tok! Nyaring ketukan pintu. Napas mereka langsung tercekat, menengok ke sumber suara.
"Woy! ngapain kalian berdua?!" Suara Nakyoung. Gedoran kepalannya membabi buta.
"Mau ikut makan kagak?"
"Kim Chaeyeon, mana?! katanya Lo mau pinjemin gue chargeran, 'nyet!" Giliran Jiwoo melayangkan frustasinya.
"Pantes lama, lagi pada ngentod, anjing!"
