Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-25
Updated:
2026-06-25
Words:
4,398
Chapters:
1/3
Comments:
6
Kudos:
2
Hits:
40

[松三] It’s perfect so far. I’m still afraid.

Summary:

Bisakah kamu melihat sekat tipis di antara kita? Meskipun terlihat begitu baik, aku tetap merasa ketakutan (kehilanganmu).

Chapter 1: the distance we mistake for safety (i keep running)

Chapter Text


Perasaan buruk yang membuncah menghadirkan ketidaknyamanan yang tak kunjung mereda dalam diri Matsumoto Minoru. Titik terburuk datang ketika ia terbangun sendiri di atas kasur lebar. Matanya melirik ke arah sisi kanan kasur yang dingin dan rapi. Garis-garis seprai seakan menyamarkan fakta bahwa seseorang sempat tertidur di sana beberapa jam yang lalu. Matsumoto terbangun terlalu lambat dan kehangatan tubuh yang seharusnya tertinggal telah menguap sempurna, digantikan oleh jejak dingin yang menyengat kulitnya.

Apa yang ia harapkan sebenarnya?

Matsumoto mengusap wajah dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya. Efek gesekan kulitnya terdengar di kamar yang sunyi itu. Debu-debu halus tampak menari di bawah semburat cahaya pagi yang menembus celah gorden. Ia merasa ingin tertawa sekaligus menangis. Kehidupannya kini tak ubahnya teater komedi yang menyedihkan. Pria itu akhirnya terkekeh pelan, tawa serak dan kering yang menggema di sudut-sudut kamar yang sepi.

“Enam bulan, huh?” gumamnya pada jendela yang menelusupkan cahaya matahari.

Sudah setengah tahun ia berbagi atap dengan Mitsui Hisashi, tepat setelah Fukatsu Kazunari mempertemukan mereka kembali di sebuah kedai minum yang remang. Dulu, Matsumoto mengira perasaan yang mengakar sejak mereka berbagi kamar asrama akan membusuk dan layu termakan waktu. Namun, ia keliru. Menatap Mitsui yang tersenyum hangat dari balik pintu geser kayu ruang izakaya berhasil membuat dadanya sesak. Rasanya seperti ada kelopak bunga yang tumbuh liar di tenggorokannya — menggelitik, namun sekaligus mencekik napasnya dengan kebahagiaan yang semu.

Matsumoto memejamkan mata, membiarkan ingatannya terseret kembali pada malam di kedai minum itu. Aroma pekat sake dan kepulan asap rokok seolah kembali mengepung indra penciumannya.

Saat itu, Mitsui yang sudah setengah mabuk menyandarkan beban tubuhnya pada bahu Fukatsu. Matanya yang sayu menatap Matsumoto.

“Kudengar dari Kazunari bahwa Minoru akan pindah ke Tokyo. Bagaimana jika kita menyewa apartemen bersama? Tempatku terlalu luas untuk seorang diri dan biaya sewanya tidak terlalu mahal.”

Pertanyaan ringan itu seketika memicu dentum keras di dada Matsumoto. Jemarinya yang memegang gelas ocheoko bergetar samar. Sudah teramat lama sejak terakhir kali Mitsui memanggil namanya dengan nada seakrab itu.

“Pyon tidak perlu berpikir terlalu banyak atau rambutmu akan kembali rontok dan mengalami kebotakan permanen,” potong Fukatsu.

Suara monoton Fukatsu malam itu terdengar seperti vonis. Pandangan Matsumoto bergulir pada sang mantan kapten Sannoh. Point guard terbaik yang selalu membaca arah pertandingan itu kini menatapnya dalam. Sebagai rekan dan teman yang selalu bersama, Fukatsu jelas tahu persis rahasia yang dipendam Matsumoto. Lagi pula, bagi Matsumoto, Fukatsu selalu tampak seperti alien yang mampu menguliti isi pikiran manusia dengan mudah.

Merasa telanjang di bawah tatapan Fukatsu, Matsumoto mengalihkan pandangannya ke bawah. Atensinya tertuju pada jemari Fukatsu dan Mitsui yang bertumpu di atas meja kayu. Di sana, pada jari manis keduanya, ada jejak melingkar yang samar — kulit yang sedikit lebih terang karena kehilangan cincin yang biasa mereka pamerkan saat pesta kelulusan dulu.

Malam itu, Matsumoto tidak lagi fokus pada pembicaraan selanjutnya. Ia hanya melihat bagaimana tatapan Fukatsu sarat akan kerinduan yang tertahan pada Mitsui. Ia juga mengabaikan racauan mabuk Mitsui yang mulai melantur hingga pria itu nekat menelepon Sawakita di Amerika, memicu tangisan terisak dari sang ace Sannoh di seberang saluran telepon.

Tepat saat mereka hendak pulang, Fukatsu sempat menepuk bahu Matsumoto dan membisikkan sesuatu yang terus berdenging hingga enam bulan setelahnya.

“Kita selalu menyukai orang yang sama sejak dulu, pyon.”

Matsumoto hanya mampu mengangguk kecil, mengatupkan bibir rapat-rapat saat melihat punggung lebar Fukatsu menuntun Mitsui masuk ke dalam taksi.

Entah bagaimana jalannya takdir, Matsumoto akhirnya benar-benar berakhir di apartemen ini. Mitsui layaknya seorang penyihir yang mengacaukan hati banyak orang hanya dengan kilau iris cokelat mudanya. Matsumoto bahkan hampir tidak mengingat kapan ia mengucapkan kata setuju. Semuanya terjadi begitu alami, hingga tahu-tahu barang-barangnya sudah menyatu di dalam apartemen bernuansa putih dan cokelat kayu milik Mitsui.

Kenangan itu perlahan memudar seiring dengan Matsumoto yang akhirnya memaksa dirinya bangkit dari kasur. Langkah kakinya terseret menuju dapur. Aroma sup miso dan tumisan sayur langsung menyambutnya, memecah keheningan pagi. Mitsui telah menyiapkan sarapan untuknya, selalu seperti itu.

Melihat susunan makanan di atas meja itu, Matsumoto teringat akan percakapan mereka di meja makan beberapa bulan lalu. Ketika hujan badai mengguyur Tokyo dan petir menyambar di balik jendela balkon yang mengembun.

Saat itu, Matsumoto memberanikan diri untuk membuka suara di sela denting sumpit. Ia menarik napas panjang sebelum menatap pada sepasang mata berwarna cokelat cerah milik Mitsui.

“Hisashi sudah pernah mendengarnya dari kapten, bukan? Aku tidak menyukai perempuan.”

Suaranya yang kecil malam itu hampir terendam dalam deru hujan. Mitsui yang sedang mengunyah makanannya sempat menghentikan gerakan sumpitnya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, menatap Matsumoto lurus-lurus tanpa ada riak keterkejutan atau penghakiman di wajahnya.

“Tentu. Kemudian, apakah ada masalah?” Mitsui meletakkan sumpitnya perlahan, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja.

“Minoru bahkan sudah tahu bahwa aku dan Kazunari pernah menjalin hubungan.”

Mitsui kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Matsumoto dengan pandangan meneduhkan.

“Kuharap Minoru bisa berhenti menyalahkan perasaan yang tumbuh pada orang lain. Menyukai seseorang bukanlah hal yang salah dan kita tidak bisa mengendalikannya. Berbahagialah dengan perasaanmu, Minoru.”

Mengingat kalimat naif itu membuat cengkeraman Matsumoto pada sumpit mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

Bagaimana aku bisa bahagia dan menerima perasaan ini, Hisashi?’

Jika saja Mitsui tahu bahwa orang yang selalu mengacaukan hatinya adalah dia, pria yang sedang tersenyum hangat di depan Matsumoto.

Lamunan Matsumoto buyar ketika ia mendudukkan diri di sana. Uap dari masakan telah menghilang, menyisakan makanan dingin yang sama sekali tidak menarik selera makan. Mitsui telah pergi sangat pagi tanpa membangunkannya. Mereka telah bertengkar semalam — tentu saja pria itu tidak akan tahan bersamanya pada waktu penuh kecanggungan seperti sekarang.

Matsumoto tidak bergerak. Ia tetap duduk di sana, memandangi konter yang sepi. Matanya menatap kosong ke depan, seolah mencari batas tak kasatmata yang memisahkan dirinya dan Mitsui.

‘Hisashi, bisakah kamu melihat garis yang begitu jauh antara kita? Bukankah lucu bahwa kita sudah sedekat ini, tetapi celah tipis yang tajam selalu memisahkan dan menyakitiku?’

Semalam, Mitsui memunggunginya dan bersenandung kecil sembari memasak makan malam untuk keduanya. Suasana hangat dengan pertukaran pembicaraan ringan mengenai kegiatan sehari-hari mengalir begitu mudah di antara mereka. Saat itu, Matsumoto tahu bahwa ia tidak bisa menuntut banyak hal.

Jika saja Mitsui menunjukkan separuh, tidak, bahkan seperempatnya saja sudah cukup. Ia menginginkan, mengetahui bagaimana isi hati Mitsui sebenarnya. Apakah Mitsui meletakkan perasaan dan kehadiran Matsumoto lebih dekat atau berada di tempat yang lebih jauh daripada Fukatsu di sana.

Tentu, ia tidak bisa melakukannya. Berada di sisi Mitsui sudah cukup untuknya. Matsumoto tidak bisa bersikap lebih serakah lagi.

“Kapten, aku setuju untuk pindah ke apartemen yang sama dengan Hisashi mulai pekan depan.”

Ketika Fukatsu bertemu dengannya di sebuah bar tanpa Mitsui bersama mereka, ia mengutarakan pilihannya. Bulir keringat mengalir meskipun ruangan itu sangat dingin. Matsumoto sendiri sudah siap apabila Fukatsu tidak menyukai pilihannya yang lancang dan mengayunkan tinju padanya hingga babak belur.

“Tentu bagus untukmu, pyon. Bersemangatlah.”

Matsumoto tidak dapat mengingat ekspresi yang diberikan oleh Fukatsu ketika berbicara padanya. Matanya yang hitam terlihat lebih gelap saat mendengar ucapannya, tetapi Fukatsu tetap memiliki ketenangan yang sama seperti saat menerima kekalahan Sannoh atas Shohoku. Ia masih setenang ketika memberitahu tentang hubungannya dengan Mitsui ketika semua orang terkejut. Kaptennya masihlah orang yang sama dan tidak memandang remeh.

Kemudian semua terasa sempurna bagi Matsumoto. Ia berada di sisi Mitsui, orang yang mengubah perasaan penasaran dangkal menjadi cinta yang mendalam. Namun, kedekatan ini justru memicu masalah yang aneh dalam dirinya. Matsumoto menyadari bahwa ia memiliki obsesi yang rumit tentang Mitsui. Pria itu selalu dipenuhi rasa ingin tahu yang tak berdasar tentang segala hal yang melibatkan Mitsui. Bahkan ketika ia mencoba sekuat tenaga untuk menolak dan menahan diri, pikirannya selalu berakhir dengan memikirkan Mitsui secara berlebihan.

Sihir-sihir Mitsui tidak bisa dipatahkan dan terus berkembang menjadi semakin kuat.

Sejauh ini, semuanya memang terasa baik-baik saja. Tidak ada ruang untuk meragukan apa pun yang terjadi di antara mereka sekarang. Namun, kesempurnaan yang digapai justru membuatnya ketakutan. Semuanya terasa terlalu sempurna sampai pada tahap yang mengerikan, dan Matsumoto masih didera ketakutan yang hebat.

Ia luar biasa takut jika semua ilusi indah ini mendadak hancur berantakan, terutama jika mereka kembali terjebak dalam malam-malam panjang, saling menatap, dan membiarkan emosi yang mabuk menelanjangi rahasia terdalam mereka.

Pandangan Matsumoto terpaku pada sepasang sumpit yang tergeletak miring di atas meja kayu. Kilau pelapis pernisnya memantulkan cahaya lampu gantung dapur yang redup, sama persis dengan atmosfer mencekam yang menyelimuti mereka beberapa jam yang lalu. Rasa dingin dari makanan di depannya seolah menarik kesadarannya mundur, melemparkannya kembali ke detik-detik menegangkan saat kata-kata kutukan itu pertama kali lolos dari mulutnya semalam.

“Aku berpikir untuk pindah ke Akita setelah kontrak kerjaku selesai tahun ini,” ucap Matsumoto dengan datar. Suaranya memotong keheningan malam, terdengar asing dan dingin bahkan di telinganya sendiri.

Seketika itu juga, gerakan Mitsui membeku. Bunyi desis minyak di wajan mendadak terdengar begitu nyaring. Kebisingan mengolok-olok rasa putus asa yang disembunyikan Matsumoto, sebelum Mitsui dengan cepat memutar kenop kompor hingga mati. Suasana dapur mendadak senyap dan menyisakan deru napas mereka berdua yang berkejaran di udara.

Mitsui membalikkan badan perlahan. Langkah kakinya yang biasa terdengar ringan kini terasa berat saat ia berjalan mendekati meja makan. Ujung celemeknya bergesek lirih dengan kaki meja. Pria berambut hitam itu menarik kursi di hadapan Matsumoto, lalu duduk dengan punggung yang tidak lagi setegap biasanya.

“Apakah ada masalah di kantormu?” tanya Mitsui. Suaranya sedikit bergetar, menyiratkan kecemasan yang ia berusaha menyembunyikan.

Matsumoto melangkah maju, lalu duduk di hadapan Mitsui. Ia hanya menggelengkan kepala. Tatapannya jatuh pada permukaan meja kayu, memilih bungkam setiap kali Mitsui melontarkan pertanyaan demi mengejar alasan di balik keputusan mendadak tersebut. Jemari Matsumoto mencengkeram lutut celananya sendiri, menyalurkan rasa sesak yang kian meninggi.

“Apakah ini karena kau menyukaiku?”

Pertanyaan terakhir itu lolos begitu saja dari bibir Mitsui, memecah keheningan dapur yang tegang.

Matsumoto tersentak. Ia terpaksa mendongakkan kepala. Pupil matanya seketika bersibobrok dengan sepasang iris cokelat muda Mitsui yang kini berkaca-kaca. Ekspresi wajah Mitsui tampak begitu sendu, dengan senyuman pahit yang dipaksakan hadir di sudut bibirnya. Ada kekecewaan dan luka baru yang tercetak jelas di sana. Matsumoto dapat melihat bagaimana jakun Mitsui naik turun menahan emosi yang bergolak.

Ternyata Mitsui sudah tahu mengenai perasaannya. Matsumoto terlalu bodoh untuk bersikap tidak terlalu terlihat dan Mitsui jelas merupakan pengamat yang baik sejak ia berada di dunia pendidikan. Matsumoto tetap mengunci mulutnya, sementara tangannya di bawah meja saling meremas dengan gemetar.

Ia merendahkan perasaannya sendiri dalam diam, mengutuk afeksi di dalam dadanya sebagai sebuah kesalahan yang egois. Mitsui menghela napas panjang. Bahunya merosot saat ia menatap Matsumoto dengan pandangan memohon.

“Berhenti menyalahkan dan membatasi perasaanmu sendiri, Minoru. Kita, bahkan kamu sendiri, tidak akan pernah bisa mengerti jika kamu terus berlari.”

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir sebelum Mitsui berdiri, memunggungi Matsumoto tanpa sepatah kata lagi untuk melanjutkan tidurnya. Bayang-bayang punggung yang menjauh itulah yang akhirnya membawa Matsumoto kembali pada kenyataan pagi ini. Ia mengembuskan napas berat, menatap kosong pada kursi di hadapannya yang kini benar-benar kosong.

Kemudian Matsumoto menutup kembali makanan yang telah dibuat Mitsui ke dalam kotak penyimpanan, meletakkan ke sisi terdalam kulkas mereka. Ia bersiap-siap untuk pergi bekerja sekarang.

Gerakannya saat memasang kancing kemeja kerja terasa kaku. Kamar mandi yang biasa menyisakan aroma sabun berbau buah eksotis yang manis dan menyegarkan milik Mitsui. Matsumoto menghela napas, menyemprotkan parfum berbau pinus yang terasa dingin untuk menutupi aroma Mitsui yang tertinggal.

Pandangan mata menatap lurus ke arah cermin wastafel, merapikan kerah jas gelapnya dengan ujung jari yang dingin. Keheningan di dalam apartemen ini mendadak terasa mencekik, seolah-olah gema pertengkaran semalam masih tertinggal dan merambat di antara dinding-dinding putih.

Tanpa memandang sekeliling lagi, ia menyambar tas kerja di atas meja konter, memutar kunci pintu kayu apartemen dengan bunyi klik yang kering, dan melangkah keluar menuju lorong sunyi. Namun, begitu ia menginjakkan kaki ke area luar gedung, kesunyian itu langsung pecah berkeping-keping, ditelan oleh deru mesin kota yang mulai menggeliat.

Pagi hari di Tokyo selalu bergerak terlalu cepat untuk Matsumoto.

Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul di balik deretan gedung pencakar langit Chiyoda, namun stasiun sudah menjelma menjadi lautan manusia. Kereta komuter yang datang setiap tiga menit langsung penuh sesak. Orang-orang berdiri berdempetan, saling mengunci siku dengan wajah lelah yang seragam dan tas besar yang didekap erat di depan dada. Suara pengumuman stasiun yang melengking lewat pengeras suara bersahutan tanpa henti, memantul di antara dinding beton yang lembap.

Matsumoto membenci jam berangkat kerja. Ini tidak berarti perjalanan panjangnya melelahkan, melainkan penuh sesak terus mengundang pikirannya untuk berteriak dan memenuhi dengan segala hal yang merepotkan.

Semua tentang Mitsui.

Ia berdiri diam di dekat pintu gerbong, membiarkan tubuh yang tinggi terombang-ambing mengikuti laju kereta pada rel. Pantulan wajah samar di kaca jendela terlihat kusut, begitu buruk seolah tidak mendapatkan istirahat yang cukup.

Ponsel Matsumoto bergetar untuk kali selanjutnya. Tentu, pengirim pesan pada perjalanan pergi ke kantor tidak lain adalah Mitsui. Pria itu selalu melakukan hal yang teratur setiap harinya hingga Matsumoto menghapalnya tanpa harus berusaha. Jika setiap waktu ia membalas pesan Mitsui, maka hari ini Matsumoto memilih mengabaikannya. Perasaan yang dibawa terlalu menyakitkan untuk menghadapi kebaikan tanpa balasan milik Mitsui, merendahkannya seolah sedang dikasihani oleh pria bermata cokelat muda itu.

Pengumuman lain terdengar ketika mereka mencapai stasiun selanjutnya. Sekelompok murid SMA masuk dengan suara tawa mereka, sedikit mengalihkan pikiran Matsumoto. Mereka memakai seragam olahraga dan meletakkan sepatu di antara bahu. Salah satu murid itu mengeluh mengenai latihan pagi di lapangan terdekat, menyandarkan diri pada murid lain yang lebih tinggi. Kemudian tertawa bersama dan menimang keluhan untuk memberikan semangat pada si murid pendek, mereka benar-benar tenggelam dalam dunia sendiri.

Tanpa sadar, Matsumoto membayangkan bahwa Mitsui berada di tengah-tengah para murid. Tidak mungkin bayangan itu terjadi. Jelas, Mitsui saat ini sedang meniup peluit dari sisi lapangan sekolah dengan semangat. Kedua pipinya yang sedikit lebih tirus tentu akan memerah hingga pangkal leher akibat panas dari latihan. Rambutnya yang mulai memanjang dan menutupi tengkuk akan berantakan. Matsumoto bisa tahu bagaimana rupa Mitsui di latihan pagi. Mereka telah bersama sejak berada di perkuliahan — tepat pada klub basket yang sama dengan Fukatsu.

Aneh.

Hanya dengan membayangkannya sudah membuat sudut bibir Matsumoto terangkat tipis. Denyut di jantungnya mulai terasa menyakitkan. Dia tahu bahwa dia pengecut. Pengecut paling hina dan tidak tahu diri yang pernah ada. Matsumoto selalu di sana dan bersikap egois untuk memonopoli Mitsui, memanfaatkan kerentanan dan kebaikan hati milik pria api itu.

‘Bajingan tidak tahu malu.’

Kemudian, ia kembali memejamkan mata sesaat. Tokyo selalu berisik, bahkan di pagi hari, sangat berbeda dengan Akita yang tenang. Kereta mengerem, kembali berhenti pada stasiun selanjutnya, Otemachi. Matsumoto melangkah turun dan mengikut arus manusia yang langsung seperti gelombang, meninggalkan kumpulan murid SMA yang masih sibuk berbagi cerita mengenai klub dan sekolah mereka.

Kelompok dalam jas formal dan wajah yang tertekuk melangkah tergesa. Matsumoto hanya mendengar suara sol sepatu menghantam lantai stasiun dengan bunyi yang nyaris seragam. Suara berat yang berbeda dari decitan sepatu basket yang bergesek di lapangan dengan ringan dan bebas. Terkadang Matsumoto merindukannya.

Mastumoto sekali lagi membenci ritme kota yang berisik dan berat. Tempat di mana semua orang tampak tahu ke mana mereka harus pergi dan berbohong pada diri masing-masing. Kemudian, ia tersenyum remeh, sadar bahwa dirinya sama seperti orang-orang yang dibenci itu.

Gedung perkantoran di distrik bisnis Chiyoda menjulang angkuh, begitu pula kantor tempat Matsumoto bekerja. Bangunan tinggi yang dikelilingan kaca tampak serupa satu sama lain, begitu bersih dan tidak berkarakter. Matsumoto melangkah memasuki lobi dengan ekspresi datar, selalu seperti itu sejak beberapa tahun yang lalu. Kelompok pekerja berwajah tenang yang cukup sopan dan diterimaa. Mereka yang cukup tertutup dan selalu memasang batas dengan pekerja lain di atap yang sama, di sana tempat Matsumoto berada.

Tubuhnya yang tinggi membungkuk beberapa detik ketika resepsionis perempuan berlipstik merah menyapa dengan hangat, beralih cepat mencapai lift. Angka empat belas ditekan oleh jarinya yang panjang dan penuh kapalan kasar, semua tanda dari setiap pertandingannya selama masa sekolah hingga pendidikan selanjutnya. Matsumoto lalu mengalihkan pandangan dari jari-jari itu ke pantulan diri di antara lapisan mengilap. Menyedihkan, begitu letih dengan gurat samar kelelahan di bawah mata yang tidak dapat disembunyikan.

Kini Matsumoto sadar mengapa anak-anak di lapangan basket dekat apartemen selalu memanggilnya dengan kata ‘paman’, sedangkan Mitsui dipanggil ‘kakak.’ Wajah mengerikan itu menjelaskan semuanya. Jari Matsumoto menekan pelan buku-buku sendiri satu per satu, kebiasaan yang selalu datang setiap pikirannya mulai ramai dan dipenuhi emosi merepotkan. Untuk sesaat ia menatap wajah itu, lalu mengalihkan dengan cepat. Matsumot bergerak seolah melihat pantulan diri, terlalu lama adalah bentuk penghukuman yang tidak sanggup ia tanggung. Pundaknya tegang bahkan ketika lift berhenti dan pintu terbuka perlahan di lantai tujuan.

Ruang kerja menyambut Matsumoto dengan suara yang akrab. Ketikan papan, dengung pendingin ruangan, suara printer yang bekerja tanpa henti, dan percakapan ringan antar rekan kerja yang tidak pernah benar-benar ia ikut dengan benar. Beberapa wanita menyapa Matsumoto dengan nada genit ketika melewati lorong menuju meja kerja, cukup dengan balasan dingin seperti anggukan kecil yang sopan. Matsumoto bahkan tidak mengambil peduli dengan wanita-wanita yang mencibir di belakang punggungnya.

Cubicle miliknya berada di tempat yang sempurna. Tepat di sudut ruangan yang cukup jauh sehingga seperti memiliki ilusi privasi adalah kenyataan. Begitu komputer dinyalakan dan layar menyala, wajah Matsumoto seolah ikut berubah menjadi lebih kosong.

Ini seperti seseorang yang telah menyerahkan dirinya secara penuh kepada rutinitas dan memilih mati di sana. Melonggarkan dasi seolah kain itu menekan lehernya terlalu erat. Ia lalu membuka dokumen pertama hari itu dengan gerakan cepat, membiarkan jarinya bergerak di atas papan ketik sementara pikirannya tertinggal di tempat lain.

‘Sebenarnya apa yang aku inginkan?’

Pekerjaan Matsumoto tidak buruk. Gajinya cukup, posisi yang diberikan stabil, dan jalur karier yang ditawarkan sangat jelas, semua hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai bentuk keberhasilan dewasa yang patut disyukuri. Kawata bahkan mengeluh mengenai kenyamanan yang didapatkan Matsumoto, yang jelas lebih baik daripada karier atlet bola basketnya. Keluhan itu tidak berarti bagi Matsumoto; semua terasa seperti lorong panjang tanpa jendela yang aman, tetapi tidak memiliki ruang untuk bernapas.

“Matsumoto-san, kita akan mengadakan rapat dengan Yamada-san. Tolong pesan ruangan dan kirimkan laporan keuangan proyek yang telah kamu kerjakan.”

Salah satu rekannya yang menepuk bahu berbicara sembari meletakkan beberapa bungkus permen cokelat di atas meja Matsumoto. Ia pergi begitu saja tanpa menunggu balasan. Terlihat sibuk mengambil kertas-kertas yang berantakan di atas meja printer.

Matsumoto menghela napas dan mengangguk pada angin. Ia menghabiskan pagi dengan meninjau laporan keuangan, membalas surel klien, dan menghadiri rapat daring yang tidak meninggalkan kesan apa pun setelah selesai. Di tengah rapat, jemarinya beberapa kali berhenti mengetuk papan ketik hanya untuk memijat pelipisnya perlahan sebelum kembali bekerja.

“Kerja bagus, Matsumoto-san. Yamada-san terlihat begitu puas dengan perencanaan dan laporan milikmu.” Pujian itu tidak terdengar tulus bagi Matsumoto.

“Namun, Matsumoto-san, kuharap kamu bisa lebih berekspresi dan bersahabat untuk selanjutnya. Matsumoto-san sangat cakap dan paham bahwa ekspresi yang tidak mengenakan akan menciptakan ketidaknyamanan antara rekan kerja dan klien,’kan?”

Mendengar ucapan berakhiran pertanyaan retoris dari ketua tim membuat Matsumoto mengangguk pelan. Ia tidak menjawab, justru membungkuk lebih dalam sebelum pergi meninggalkan ruang rapat tanpa berbicara.

‘Lebih berekspresi?’ Matsumoto tersenyum kecut.

Seseorang mengeluh mengenai jadwal lembur di meja sebelah saat Matsumoto datang. Mereka tertawa ketika keluhan itu mengungkit kemarahan sang istri saat ia pulang larut malam. Matsmoto tidak ikut berbicara, cukup dengan menarik kursi dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Pria itu tak pernah menoleh, tersenyum, atau memberikan tanggapan pada interaksi-interaksi singkat dengan orang lain.

Tangannya mulai bergerak lebih lambat ketika cerita mulai bergulir dari satu topik menuju topik yang lain, sementara tatapannya tertahan cukup lama pada pantulan samar di layar komputer yang menghitam ketika tidak digunakan beberapa menit. Teguran ketua tim tinggal lebih lama di kepala daripada yang ingin diakuinya.



Setelah menyelesaikan latihan pagi, Mitsui memilih duduk di bangku kayu dekat lapangan sembari mengusap tengkuknya dengan handuk kecil. Helaian rambut hitam kecokelatan yang telah memanjang kini mengundang rasa panas yang lebih tinggi, menyisakan sensasi tidak nyaman saat keringatnya mengalir dari sisi-sisi terpanjang. Napas pria itu masih memburu, namun wajahnya terlihat jauh lebih hidup daripada ketika ia datang.

Salah satu murid, Hayato, menyerahkan sebotol Pocari padanya dengan wajah datar yang tidak bersemangat. Pemuda dengan helaian perak yang mencolok itu terus mengingatkan Mitsui pada rambut merah Sakuragi. Keduanya berbeda, namun benar-benar mengalihkan perhatian pada permainan.

“Terima kasih,” Mitsui berbicara dengan suara kecil saat menerima minuman pemberian muridnya.

Iris cokelatnya berhadapan dengan hijau teduh milik Hayato, yang kini menatap merendah, terlihat seperti anak anjing yang belajar menyalak pada orang asing. Hayato lalu berdecak keras, tidak memedulikan kerutan heran milik Mitsui.

“Michan-sensei tidak dalam keadaan baik hari ini. Kamu terlihat seperti orang bodoh.”

Hayato berbicara dan mengabaikan Mitsui yang kini menatapnya tajam, tidak membiarkan guru dan pelatih itu menyela ucapan.

“Apakah pria yang pernah aku lihat pergi bersamamu ke pusat perbelanjaan itu yang merepotkanmu hingga berubah menjadi orang bodoh?”

Matanya menyipit ke arah Mitsui, penyelidik gelagat pria itu dengan tangan bersilang di depan dada. Mitsui mengerjap beberapa detik dan menggeleng. Ekspresi tegangnya bahkan diketahui dengan jelas oleh murid yang jauh lebih muda. Sekarang Mitsui berpikir untuk berlatih menjaga ekspresi wajah dan berhati-hati.

Tangan Mitsui terulur untuk menyentuh helaian rambut abu-abu milik Hayato, membuatnya acak-acakan. Tawa Mitsui menutupi suara menggeram Hayato. Jelas, remaja terganggu oleh tingkah Mitsui.

“Haya-chan sangat mengkhawatirkan sensei, huh? Astaga, apakah Matahari akan terbit dari barat?”

Hayato berdecak lebih keras. Ia tidak lagi berbicara untuk menanggapi Mitsui, melainkan mendengus dan melempar tangan pria yang lebih dewasa sedikit lebih keras. Pemuda yang baru memasuki tingkat kedua sekolah tampak tersinggung dan berbalik, berjalan dengan langkah kasar saat meninggalkan Mitsui yang masih tertawa ringan.

Punggungnya semakin kecil secara perlahan, menghilang ketika pemuda lain dari kelas tiga datang dan menarik tangannya menuju sisi lain gedung. Senyum pada wajah Mitsui menurun sebelum berubah semakin samar.

‘Entahlah Haya-chan. Kurasa, akulah yang terlalu bergantung padanya.’

Jeda itu singkat. Tangan Mitsui bergerak untuk mengambil ponsel pada kantung tasnya. Tidak ada pesan baru dari Matsumoto, bahkan balasan pesan pun terlihat kosong. Mitsui tersenyum masam.

‘Si bodoh ini akan melarikan diri tepat sebelum ia pergi ke Akita.’

Jari Mitsui sempat bergerak untuk mengirimkan pesan baru di atas layar, menyusun kalimat-kalimat lain yang kemudian dihapus dengan cepat. Ia mengurungkan niat sebelum melonggarkan genggaman pada ponsel.

Mitsui mengenal Matsumoto sama baiknya dengan tim Sannoh, sangat cukup untuk tahu bahwa pengabaian yang diberikan menyembunyikan perasaan ingin melarikan diri. Ia bahkan tahu dan bertaruh bahwa Matsumoto telah melewatkan sarapan untuk dikembalikan ke dalam kulkas setelah keributan mereka.

Matsumoto adalah pria yang canggung dan penuh rasa gelisah. Ia selalu menjadi orang yang menganggap bahwa kebaikan adalah sesuatu yang tidak pantas untuknya menerima. Namun, Mitsui tidak pernah berhenti. Api yang selalu menyala akhirnya akan membakar sekelilingnya. Matsumoto mulai menerima kebaikan Mitsui.

Sawakita pernah bertanya apakah kebaikan yang diberikan Mitsui pada Matsumoto adalah sesuatu yang benar-benar tulus. Kepala pemuda tinggi itu miring sedikit saat menatap Mitsui yang menertawakan pertanyaannya.

Bagi Mitsui, kebaikan untuk Matsumoto bukanlah kewajiban, ia melakukan semua hal seperti memperhatikan Matsumoto sebagai kebiasaan yang berlangsung alami. Bahkan Mitsui tidak tahu sejak kapan ia memulainya. Secara tanpa sadar, Mitsui mulai mengenali Matsumoto, lebih daripada bagaimana ia mengenal Fukatsu.

“Ya, mungkin Minoru harus pergi dan kembali ke Akita segera.”

Mitsui tertawa canggung dan menggelengkan kepalanya. Senyum di wajah pria itu menjadi lebih pahit. Ia kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan kursi yang kosong, tidak berbalik sedetik pun.



Langit di luar jendela kantor telah berubah menjadi warna jingga kusam ketika Matsumoto akhirnya menyadari bahwa ia terlalu lama menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa yang terpampang di sana. Suara ketikan rekan-rekannya mulai berkurang satu per satu, digantikan oleh derit kursi dan ucapan perpisahan yang terdengar samar dari berbagai sudut ruangan. Ia mengangkat tangan untuk memijat tengkuk yang terasa kaku sebelum meraih ponselnya.

Layar itu kembali menyala, menampilkan notifikasi yang sejak pagi sengaja ia abaikan. Nama Mitsui masih berada di sana. Tidak ada rentetan pesan baru yang memaksa ataupun pertanyaan yang menuntut jawaban. Hanya satu kalimat sederhana yang dikirim beberapa jam lalu, kalimat yang terasa begitu biasa hingga justru membuat dadanya semakin sesak. Mitsui hanya mengingatkannya untuk makan malam.

Matsumoto menatap pesan itu cukup lama. Ia tahu bahwa mengabaikannya lebih lama tidak akan mengubah apa pun. Ketakutan yang bersarang di dalam dirinya tetap ada, sama seperti semalam ketika Mitsui menatapnya dengan mata yang terlalu jujur dan mengatakan bahwa ia terus berlari. Pada akhirnya, ibu jarinya bergerak di atas layar. Tidak ada kalimat panjang yang tersusun, tidak ada penjelasan mengenai Akita, tidak ada permintaan maaf atas keheningan yang ia ciptakan sejak pagi. Ia hanya mengetik balasan singkat dan mengirimkannya sebelum sempat berubah pikiran. Beberapa detik kemudian, tanda bahwa Mitsui sedang mengetik muncul dan menghilang berulang kali. Seolah-olah pria itu juga sedang mempertimbangkan banyak hal yang tidak sanggup ia tuliskan. Namun balasan yang akhirnya datang sama sederhananya dengan pesan pertama. Singkat, tenang, dan tidak seperti Mitsui.

Matsumoto mengembuskan napas pelan lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. Di luar gedung, Tokyo masih bergerak dengan ritmenya yang tidak pernah berubah. Lampu-lampu mulai menyala satu demi satu, kerumunan pekerja memenuhi trotoar, dan suara kereta yang datang silih berganti terdengar dari kejauhan. Semuanya tampak sama seperti hari-hari sebelumnya, tetapi entah mengapa langkah Matsumoto terasa sedikit lebih ringan ketika ia berjalan mengikuti arus manusia menuju stasiun. Ketakutan itu belum pergi. Ia masih takut kehilangan semua yang dimilikinya sekarang. Masih takut bahwa suatu hari nanti kedekatan yang ia miliki dengan Mitsui akan runtuh seperti mimpi yang terbangun terlalu pagi. Namun untuk pertama kalinya sejak semalam, ia tidak merasa ingin berlari.

Kereta yang membawanya pulang melaju menembus lautan cahaya kota. Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca jendela yang menggelap, bercampur dengan bayangan gedung-gedung yang berlalu cepat di luar sana. Matsumoto memejamkan mata sesaat, membiarkan dirinya tenggelam dalam suara roda kereta yang berderak di atas rel. Besok mungkin tidak akan lebih mudah. Ia mungkin masih memikirkan Akita ketika terbangun. Ia mungkin masih terlalu mencintai Mitsui untuk kebaikannya sendiri.

Namun saat kereta terus melaju menuju apartemen yang mereka bagi bersama, Matsumoto mendapati dirinya memikirkan satu hal sederhana yang tidak mampu ia sangkal. Sejauh ini semuanya masih terasa sempurna. Dan justru karena itulah ia takut. Takut kehilangan. Takut berharap terlalu banyak. Takut suatu hari nanti harus menerima bahwa semua yang ia miliki sekarang hanyalah kebetulan yang dipinjamkan sementara oleh takdir. Ketakutan itu tidak pernah benar-benar pergi, hanya berubah bentuk dan bersembunyi di sudut-sudut hatinya yang paling sunyi.

Jemarinya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia membuka daftar kontak yang jarang disentuh selama beberapa bulan terakhir. Nama ibunya muncul di layar, sederhana dan akrab. Matsumoto menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali, bercampur dengan pengumuman stasiun yang menggema dari pengeras suara gerbong. Saat suara hangat di seberang sana akhirnya menyahut, sesuatu di dalam dadanya ikut melunak.

“Halo, kaa-san,” ucap Matsumoto pelan sambil menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada bayangan dirinya sendiri di kaca jendela yang gelap. Untuk pertama kalinya hari itu, ia membiarkan dirinya mengutarakan kegelisahan yang terus menghantuinya. “Aku sedang memikirkan untuk kembali ke rumah.”