Actions

Work Header

Blackhole

Summary:

Siapa sangka lingkaran hitam yang tampak mengerikan itu bisa mengirimkanmu ke masa depan yang jauh disana.

Notes:

Aku nulis ini karena terinsipirasi dari salah satu fanart nagurion yang aku liat di X. Ini aku kasih link nya yaa
https://x.com/i/status/1997312090621755844

Selamat membaca semoga sukaa!!

Work Text:

"Steel Dragon? Norak banget namanya."

Pemuda berambut hitam terkekeh setuju sedangkan pemuda yang berambut putih diikat hanya mengangguk ikut menyutujui apa yang dibilang wanita satu-satunya diantara mereka. Akibat perbuatan mereka yang –katanya– tak sengaja merusak fasilitas umum saat ujian diluar ruangan, mereka di keluarkan dari Akademi dan syarat untuk kembali yaitu harus menyelesaikan misi yang kepala Akademi berikan.

Yang jelas-jelas membuat keributan itu hanya tiga orang tapi di tengah perjalanan, kepala Akademi menambahkan satu orang lagi yang terlihat lugu. Namun, bukti bahwa anak itu ada bersama mereka berarti sikapnya tak selaras dengan wajahnya yang lugu. Dan kini mereka sedang berjalan menuju sebuah mall besar yang mana target mereka adalah pemilik mall besar tersebut. Namun, di tengah perjalanan fokus mereka teralihkan oleh lingkaran besar berwarna hitam yang tak jauh darimana mereka berdiri.

Satu-satunya perempuan disana yang mana paling aktif dan paling cerewet lah yang lebih dulu menemukan sesuatu yang seperti blackhole itu,"Sakamoto! Nagumo! Liat ini, apa-apaan ini? Blackhole?"

Yang dipanggil mendekat untuk ikut melihat fenomena langka itu,"Woahh, iya ini blackhole. Apa ini bisa memotong kita jika kita masuk ke dalamnya?" ucap pemuda berambut hitam yang dipanggil Nagumo sembari melihat-lihat ke berbagai sisi lingkaran hitam yang tak terlalu besar itu, hanya setinggi tinggi badannya dan berbentuk lingkaran.

"Seperti mesin pemotong?" Celetuk Sakamoto pemuda berambut putih panjang yang diikat.

"Atau apa ini kayak pintu isekai? Kayak di manga-manga gitu?"

"Pfft- hahahah! Akao, aku ga nyangka kamu pecinta genre yang seperti itu?"

"Ck! Apa salahnya?!"

Akao, perempuan satu-satunya diantara mereka yang memiliki rambut berwarna biru itu selalu saja di usili oleh Nagumo membuat mereka setiap saat saling bercekcok seperti anjing dan kucing.

"Coba aja ga sih? Siapa tau beneran isekai."

"Jangan, Akao. Kita punya misi buat balik ke Akademi, jadi ayok biarin aja."

Nagumo menarik tangan Akao untuk menjauh dari lingkaran hitam mencurigakan itu. Nagumo tau tabiat wanita itu, yang tak takut oleh apapun dan selalu penasaran akan hal apapun. Dan firasat buruknya dengan cepat terjadi saat ia bisa melihat senyum menyeringai di bibir wanita itu.

"Akao ... jangan."

Akao tak mengindahkan peringatan dari Nagumo dan malah mencengkram tangannya juga tangan Sakamoto bersamaan, dan tanpa aba-aba melompat masuk kedalam lingkaran hitam itu sembari menarik kedua tangan temannya.

Dengan menutup matanya, Akao pun berhasil melewati lingkaran hitam itu, "Hap! Hahahah– eh? Nagumo? Sakamoto? Dimana kalian, dasar cowok-cowok penakut kenapa kalian ga ikut masuk!"

Akao tertawa senang bahwa tak terjadi apa-apa pada tubuhnya seperti yang ditakutkan Nagumo, tapi saat menyadari tak ada Nagumo atau Sakamoto di sampingnya ia jadi kesal. Akao membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam lingkaran hitam itu, namun dalam sekejap mata lingkaran itu mengecil lalu menghilang seperti debu yang tertiup angin.

"Eh? EHHHH! SAKAMOTO! NAGUMO! OYY! SAKAMOTO! NAGUMO!" Panik menyerang Akao, ia memanggil-manggil nama temannya berharap bahwa mereka hanya terjatuh di tempat yang berbeda dengannya namun nihil, yang ia terima hanya keheningan. Dan dia baru sadae bahwa dirinya tidak berada di tempat terbuka atau diluar ruangan, melainkan di sebuah rumah? Apartment?

"Akao?"

Tubuhnya berjengit ketika mendengar suara seorang pria memanggil namanya dari arah belakang, Akao memutar badannya sambil memasang kuda-kuda bersiap menyerang jika orang itu menyerangnya dari belakang. Namun yang ia temui hanyalah seorang pria yang sangat ia kenali, namun juga berbeda di waktu bersamaan. Pria itu tak memakai atasan, namun tubuhnya di balut oleh perban putih yang sudah tercampur warna merah darah, bahkan perbannya pun masih belum dipotong dan ada ditangannya.

"Nagumo? LOHH APA BLACKHOLE NYA BENERAN MOTONG-MOTONG TUBUH MU?!" Akao berlari kearah Nagumo sedikit panik, ia merasa bersalah melihat Nagumo terluka seperti itu karena itu perbuatannya yang memaksa Nagumo masuk ke dalam blackhole.

Akao hendak membantu Nagumo membalutkan perban namun belum sempat ia menyentuh perban yang ada di genggaman Nagumo, tubuhnya lebih dulu menyentuh lantai dingin dibawahnya. Matanya membulat tak mengerti apa yang baru saja terjadi, wajahnya menempel pada lantai, tangannya terlipat di belakang tubuh dan Nagumo berada di belakang nya, menekan tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan, idiot! Lepaskan aku, sakit tahu!" Akao meronta-ronta berusaha lepas, namun ia tak menyangka bahwa Nagumo sekuat itu bahkan beberapa kali latihan tanding pun dirinya selalu menang dari Nagumo tapi sekarang ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu? Kenapa kau memakai wujud Akao?"

"Woy gila! Apa maksudmu? Apa kepalamu terbentur saat mendarat tadi?"

Akao tak mengerti dengan tindakan Nagumo, sejak awal ia memang sadar bahwa ada yang berbeda dengan penampilan fisik Nagumo dan tatapan kosongnya yang sangat berbeda dengan Nagumo yang sehari-hari ia temui. Tiba-tiba ia teringat dengan spekulasinya sendiri tentang isekai dan ia pun mulai menggabung-gabungkan hal-hal yang baru saja terjadi. Apartment mewah yang tak ia kenali, fisik Nagumo yang terlihat berbeda dan lebih kuat, juga respons Nagumo yang terlihat tak biasa melihat dirinya.

'Apa ini masa depan?' batinnya menerka.

Diantara mereka bertiga, Akao memiliki insting dan penglihatan yang paling tajam. Dia pun bukan orang bodoh yang tak mampu menerka keadaan dalam sekejap, jika dia tak bisa mengatasi hal seperti ini dia tak akan bisa menjadi seorang pembunuh bayaran.

"Nagumo! Tunggu dulu, ini aku Akao Rion! Akao Rion umur 18 tahun!"

"Kau bodoh? Kenapa kau mengatakan omong kosong seperti itu?" jawab Nagumo dengan nada dinginnya.

"Kau yang bodoh, idiot! Aku benar-benar Akao Rion, dasar lambat! Apa dewasa bikin otak mu semakin kecil!?" Akao tetap berusaha meyakinkan Nagumo di posisinya, urat lehernya terasa akan putus karena berteriak kesal pada pria di belakangnya.

Nagumo tenggelam dalam pikirannya, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dibawahnya ada seseorang yang mengaku sebagai sahabatnya yang meninggal 3 tahun lalu, mana mungkin ia bisa percaya hal itu ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tubuh Akao yang membeku dengan tusukan dalam di jantungnya. Tapi yang membuat ia gundah sekarang adalah sikap orang yang berpura-pura menjadi Akao itu, terlalu persis dengan Akao yang asli. Nagumo berpikir mungkin orang yang berpura-pura ini memiliki skill yang sama dengannya, yang bisa menyamar dengan sempurna. Namun yang ia tahu tak ada seseorang yang ahli dalam penyamaran berada di dekat Akao selama ia masih di JCC.

Nagumo terlalu tenggelam dalam pikirannya membuat tekanan yang ia buat pada Akao sedikit melemah, dan hal itu di manfaatkan oleh Akao. Dengan cepat dan lihat, ia menggerakan kakinya untuk membalikkan posisi diantara mereka membuat Akao menduduki tubuh Nagumo dalam sekejap. Tangannya ia tekan kan di pundak Nagumo, agar pria itu tak bisa bangkit.

"Dengarkan aku, bodoh! Ini aku Akao Rion, aku melakukan sesuatu yang kau larang dan berakhir disini."

Nagumo tampak tak terkejut dengan tindakan Akao yang dengan mudah membalikkan posisi mereka, tapi pria itu terlihat masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Akao.

"Aku akan mendengarkanmu, jadi buat alasan yang masuk akal agar aku bisa memercayaimu."

Akao merasa mendapatkan lampu hijau, walau ia masih tak tahu apakah Nagumo di depannya percaya dengan apa yang ia katakan tapi setidaknya pria itu akan mendengarkan ceritanya. Maka Akao pun menceritakan semuanya, bagaimana mereka bisa di keluarkan dari Akademi dan mendapatkan misi agar bisa kembali ke Akademi lalu di perjalanan menuju target ia menemukan blackhole. Akao menceritakan bagaimana Nagumo yang disana melarangnya masuk tapi dengan keusilannya Akao malah masuk dan menarik kedua temannya tapi hanya dirinya yang berhasil melewati blackhole itu.

Tanpa wanita berambut biru aqua itu sadari, Nagumo menatapnya dalam selama ia berbicara dengan bersungut-sungut,"Jadi apa yang bisa kau lakukan agar aku percaya bahwa kau adalah Akao Rion berusia 18 tahun?" tanya Nagumo.

"Ck! Biar aku tebak bahwa ini adalah masa depan, melihat fisik mu yang sedikit berubah mungkin ini sekitar 5 tahun ke depan. Bagaimana? Kau percaya kan? Kamu juga tahu kalau aku memiliki insting dan penglihatan paling tajam, jadi tolong percaya padaku."

Ada keheningan yang cukup lama menyelimuti atmosphere mereka. Akao tak mengatakan apapun juga ia sedikit gugup dengan respon Nagumo, takut-takut pria itu tak memercayainya karena memang hal yang menimpa dirinya ini sangat tak masuk akal. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan Nagumo berumur 18 tahun, ia harus meminta maaf karena tak mendengarkan perkataanya.

Lamunan Akao terhenti ketika merasakan tangannya di genggam oleh tangan yang lebih besar dan lebih kasar. Akao menatap Nagumo yang berusaha melepaskan tekanan tangannya dari pundak pria itu, Akao tak melawan karena pergerakkan Nagumo begitu lembut dan ia tak merasakan aura mengancam. Nagumo sepenuhnya berubah posisi menjadi duduk, membuat Akao menjadi berada di pangkuannya.

Pria itu dengan tiba-tiba menarik Akao ke dalam pelukannya,"Bodoh, kamu salah. Ini sudah 9 tahun."

Akao membulatkan matanya terkejut, terkejut karena ia salah menerka, terkejut karena sudah selama itu tapi ia tak melihat perbedaan yang jauh dari Nagumo dan terkejut karena pelukan yang diberikan pria berambut hitam ini. Pelukannya penuh perasaan, Akao yang memiliki insting yang tajam bisa merasakan banyak perasaan dari pelukan sederhana ini. Rindu, sedih, lega bercampur aduk membuat Akao lagi-lagi melakukan spekulasi.

"Nagumo."

"Hm?"

"Apa aku di masa depan ... mati?"

Akao tak perlu menunggu jawaban perkataan dari mulut Nagumo, ia bisa merasakannya dari bagaimana tubuh Nagumo yang menegang saat memeluknya. Sesaat pikiran Akao kosong, namun ia kembali tersadar dan tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Nagumo. Kematian adalah hal yang paling sering si temui oleh para pembunuh bayaran, walau sedikit menyedihkan tapi ia tak bisa melarikan diri dari takdir seorang pembunuh bayaran. Jika berani memburu, maka harus siap diburu.

"Ayolah, apa kau sangat merindukanku. Mati itu sudah menjadi hal wajar bagi pem-"

"Kamu kuat! Kamu seharusnya tidak mati semudah itu! Kenapa kau memilih mati?!"

Akao berniat mencairkan suasana dengan sedikit bercanda, namun ia tak menyangka bahwa respon Nagumo akan seperti ini. Jauh di dalam hatinya, ia sedikit merasa hangat dan tenang bahwa kematiannya juga bisa membuat seseorang sedih. Merasa bersalah karena membuat kesedihan seseorang menjadi kebahagiaan untuk nya.

"Apa kamu sesedih itu, huh? Carilah teman lain, bukannya kamu terkenal?"

"Tak ada, tak ada yang bisa menggantikanmu–" Nagumo menjauhkan tubuhnya meremas bahu Akao,"Jangan. Jangan lanjutkan misinya, lebih baik kalian keluar dari Akademi dan berhenti menjadi pembunuh bayaran."

Akao membulatkan matanya, ia terkejut melihat ekspresi dan emosi yang diberikan Nagumo. Ini pertama kalinya ia melihat Nagumo seperti ini, mendengar perkataanya Akao semakin yakin bahwa ia terbunuh saat melakukan misi itu. Instingnya mengatakan untuk tak bertanya atau menjawab perkataan Nagumo lagi, ia harus menghentikan pembahasan ini. Maka dari itu, Akao menariknya kembali ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk pundak Nagumo yang menegang tak turun-turun sedari tadi.

Keheningan kembali mengelilingi mereka, setelah merasa pundak yang tegang itu perlahan mengendur mata Akao beralih pada perban yang melilit tubuh bagian atas Nagumo. Ia memundurkan tubuhnya untuk melihat kondisi perbannya, saat ia melihatnya pertama kali ada banyak darah merembes ke perban yang tak membalut lukanya dengan benar, dan firasat nya pun benar bahwa perban itu kini sudah penuh oleh darah.

"Nagumo lukamu!"

"Hm?" Respon Nagumo terlihat tak begitu peduli, ia masih melingkarkan tangannya di pinggang Akao.

"Lepaskan aku bodoh! Bersihkan dulu luka mu."

"Biarkan saja."

"Kamu mau mati?!"

"Aku tak seperti mu, luka seperti ini tak akan membuatku mati," ucap Nagumo ringan diiringi senyuman miring meledek Akao.

"Heehhh." Akao cukup kesal mendengarnya, namun ia juga merasa lega di waktu bersamaan melihat Nagumo tak lagi menatapnya dengan tatapan horor akan takut kehilangan dan juga bisa mulai bercanda lagi. Tapi ia tetap tak akan membiarkan luka Nagumo begitu saja, dengan sengaja Akao menekan lukanya membuat Nagumo mengerang kesakitan dan otomatis melepaskan Akao.

Dengan sigap wanita itu turun dari pangkuan Nagumo dan menyenderkan Nagumo pada kaki kursi sofa yang tak jauh dari mereka. Dengan lihai ia membuka kembali perban asal-asalan itu dan melihat luka Nagumo yang cukup dalam dan panjang, ia meringis merasa ngilu namun sang empu nya hanya mengangkat bahunya tak peduli. Akao berdiri untuk mengambil kotak P3K yang sebelumnya dipakai Nagumo, mengambil kapas dan alkohol untuk mengobati ulang luka itu.

"Kamu habis lawan siapa sampai dapat luka sebesar ini?" tanya Akao masih fokus pada pengobatan Nagumo.

"Ketua order, mantan order deh."

"Order?"

Nagumo terdiam, ia menutup mulut nya rapat enggan menjawab. Toh Akao ada disini berarti misi mereka tak jadi dimulai sebab dia yakin dirinya di masa lalu dan Sakamoto, kini sedang berusaha mencari Akao dan melupakan misi mereka. Beruntung Akao tak bertanya apapun lagi karena ia sedang fokus mengobati Nagumo.

Dalam diam, Nagumo menatap wajah Akao lekat. Memang benar wajahnya sangat muda, persis Akao di dalam ingatan terakhir nya. Pria itu masih tak mengerti apa yang terjadi, tapi ia tak mau memikirkan hal diluar akal manusia ini, ia hanya berpikir mungkin ini imbalan dari Tuhan karena bertahan hidup padahal kemauannya untuk hidup sudah tidak ada. Benar, saat melawan Oki sebenarnya Nagumo sudah pasrah ia ingin menyerah dan mati tapi entah dorongan apa tiba-tiba ia ingin bertahan dan mungkin inilah alasannya.

Nagumo menyenderkan kepalanya sembari menengadah, helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Bahkan ketika ini hanya mimpi pun Nagumo akan tetap berterimakasih pada Tuhan, karena sudah memberi hal baik pada pendosa sepertinya.

"Nagumo? Kenapa, apa sakit?" Akao cemas, melihat Nagumo yang terlihat tak nyaman akan sesuatu.

"Nggak, udah malem. Aku akan buatkan makan malam."

Pria jangkung itu berdiri setelag Akao menyelesaikan pengobatannya, berjalan menuju dapur minimalis yang elegan terletak di sudut ruangan. Akao mengekorinya dan duduk di kursi meja bar tepat di belakang Nagumo.

"Nagumo, kok kamu bisa percaya gitu aja kalo aku Akao?"

"Gitu aja? Bukannya kamu yang kukuh bilang kamu Akao?"

Akao menutup mulutnya tak bisa menjawab, karena dia memang berusaha keras untuk membuat Nagumo dewasa percaya padanya tadi. Dan pria itu juga diam, dia percaya bahwa wanita di depannya adalah Akao karena gaya bertarungnya sebelumnya. Saat Akao membalikkan posisi mereka membuat Nagumo teringat saat-saat mereka sering latihan tanding di JCC dulu, dan itu gaya yang sering Akao lakukan padanya.

Suasana kembali menjadi hening, hanya ada suara penggorengan dan alat alat masak yang saling beradu berasal dari pria berambut hitam yang tak memakai atasan di depannya. Nagumo sama sekali tak banyak berubah bahkan setelah 9 tahun, membuat Akao sedikit merinding melihatnya yang awet muda. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Akao lontarkan, namun rasanya seperti salah jika ia menanyai masa depan yang tak ada dirinya. Melirik ke sekitar, ruangan luas terbuka ini adalah milik Nagumo dan matanya berhenti di tempat ia terjatuh tadi.

'Apa blackhole itu akan muncul lagi disana, jika tidak, bagaimana aku kembali ke tempat asliku?' batin Akao.

Benar, ia belum menemui cara ia kembali. Ia memang bertemu dengan Nagumo, sahabat yang ia kenal tapi tak ia kenal di waktu yang bersamaan. Akao menatap punggung lebar berbalut perban itu, Akao sepertinya mengerti mengapa hanya dirinya yang bisa melewati blackhole itu. Blackhole itu adalah pintu menuju masa depan, dan mengapa ia bisa datang kesini karena tidak ada Akao Rion di masa depan berbeda dengan Sakamoto, Nagumo dan Uzuki. Ada yang membuat Akao tenang, setidaknya kawan-kawannya masih hidup.

"Aku tak biasa memasak, dan hanya ada ini di tempat ini."

Nagumo memberikan sepiring makanan berisik dua telur mata sapi dan sosis goreng, Akao sedikit terkejut bahwa Nagumo bisa membuat telur mata sapi sebagus ini. Mereka pun menyantap makanan mereka dalam keheningan. Ini yang membuat Akao tiba-tiba merasa rindu dengan Nagumo-nya, Nagumo dimasanya. Nagumo dewasa terlalu pendiam rasanya tak nyaman.

"Apa hidup dewasa seberat itu?" gumam Akao dengan mulut penuh nya.

"Pfft."

Akao mengangkat kepalanya mendengar tawa dari pria di depannya, ia baru sadar pikirannya tak sengaja ia ucapkan secara langsung.

"Kamu terlalu pendiam, membuatku tak nyaman. Tak seperti Nagumo muda." Pada akhirnya Akao mengucapkan ketidaknyamanannya.

"Hahaha, aku gak pendiam kok. Aku masih sama seperti saat aku muda." Nagumo tersenyum hingga matanya hilang menjadi sebuah lengkungan, tapi senyum itu tak bertahan lama dan bola mata gelap itu lagi-lagi menatap Akao.

"Tuh, tuhh kan." Akao menunjuk Nagumo dengan garpu yang ada di tangannya dengan kesal, tapi pria itu hanya tertawa lalu bangkit dari posisinya, membersihkan alat makanya karena ia lebih dulu habis.

"Setelah selesai makan, simpan pitingmu ke wastafel lalu datang ke kamar–"

"Tunggu, Nagumo!" Akao menghentikan Nagumo yang akan pergi menuju kamarnya.

"Apa?"

"Kau tahu? Aku harus kembali  ke tempat asalku, kan? Apa kamu bisa membantuku?"

Nagumo tak langsung menjawab, ada jeda cukup lama sebelum ia membalikkan badannya menghadap Akao dengan senyum menyebalkannya,"Loh, kan kamu sendiri yang datang kesini. Carilah caranya sendiri, Akao~"

"Bagaimana aku tahu cara membuat blackhole yang kamu maksud, kamu ini kadang-kadang bodoh, ya~"

Akao mengepalkan tangannya kesal, hampir saja ia melempar garpu yang ia pegang namun ia tahan karena yang dibilang Nagumo ada benarnya. Nagumo dewasa tak terlibat apa-apa disini, juga apa yang ia alami tak masuk akal. Kini bagaimana caranya Akao bisa kembali ke tempat asalnya?

Dipikirkan sebagaimana rupa pun, dirinya tak tahu harus bagaimana untuk membuka 'pintu' menuju masa lalu. Untuk sekarang sepertinya ia akan menumpang hidup sementara waktu dengan Nagumo dewasa, karena tak mungkin orang yang sudah mati di masa depan kini berkeliaran dengan bebas. Setelah menyimpa bekas makannya, Akao menuju kamar Nagumo seperti apa yang pria itu bilang.

Membuka pintu tanpa mengetuk, Akao langsung masuk ke dalam kamar mendapati Nagumo yang terlentang diatas kasur dengan tangan yang menutupi kepalanya. Mendekat hingga sampai di samping ranjang besar dimana pria itu berada,"Oyy, ada apa kamu menyuruhku ke kamar?"

Nagumo mengintip dari balik tangannya,"Ini sudah tengah malam, Akao. Apa kamu tak akan tidur?"

Akao tampak mengernyitkan matanya heran,"Apartemen mu seluas ini, gak mungkin kamarnya cuma satu, kan? Berikan aku kamar yang lain."

"Gaada loh, cuma satu. Sisanya ruang perpustakaan dan tempat senjata."

"Hah? Yasudah aku tidur di sofa luar, sejak kapan pembunuuh bayaran harus tidur di kasur yang empuk?" Akao hendak beranjak keluuar namun ditahan oleh tangan Nagumo.

"Sejak kapan kamu pemilih soal teman sekamar, huh? Bahkan saat di JCC kita tidur bersama di satu kasur dengan Sakamoto."

"I-itu berbeda, bodoh!"

"Ehh, apa yang berbeda? Aku tetap Nagumo, lohh."

"Beda, bodoh! Kamu sekarang sudah dewasa!"

"Kamu sendiri yang bilang aku tak banyak berubah seperti saat diriku di JCC?" Nagumo terus menjawab perkatan dengan nada main-main dan sok polosnya membuat Akao mulai kesal.

"Argh, iya iya kamu menang. Awas, beri aku tempat." Tanpa Akao sadari, Nagumo tersenyum menang.

Nagumo memberikan tempat untuk Akao berbaring disebelahnya, mereka sama-sama berbaring terlentang menatap langit-langit dengan selimut menutupi hingga perut, tenggelam pada pikiran masing-masing.

"Hey, bagaimana hidupmu?"

Nagumo memutar kepalanya kesamping menatap wajah bagian samping Akao, lalu tersenyum,"Biasa saja~"

Bukan itu jawaban yang diinginkan Akao, ia ingin mendengar cerita hidup Nagumo dewasa. Namun Nagumo tetaplah Nagumo, bahkan Nagumo yang masih di JCC pun sama misteriusnya seperti pria disampingnya ini.

"Bagaimana dengan Sakamoto?" Maka Akao memberikan pertanyaan lainnya, karena ia tahu pria itu tak akan mengatakan apapun tentang kehidupannya.

"Dia sudah menikah loh~"

Bola mata berwarna emas itu membulat terkejut, kepalanya refleks menatap Nagumo,"Serius? Sakamoto yang itu?"

"Hmm, hmm. Dia sudah lama pensiun dan kini memiliki keluarga~"

Akao tiba-tiba terdiam menatap Nagumo. Dirinya di masa depan mati, Sakamoto pensiun menjadi pembunuh bayaran, lalu Nagumo ...

"Jangan menatapku seperti itu, Akao. Kalian tak sepenting itu di hidupku~"

"Bocah ini!"

Perasaan khawatir Akao sirna begitu saja mendengar ucapan Nagumo. Ia kesal, lalu mengubah posisinya membelakangi Nagumo yang kini tertawa-tawa tak merasa bersalah.

'Nagumo memanglah Nagumo, bocah menyebalkan,' batin Akao kesal.

Niatnya ingin menanyakan banyak hal pada Nagumo pun ikut sirna, ia memilih memendamnya dan menutup mata berusaha tidur tak memperdulikan eksistensi menyebalkan dibelakang tubuhnya. Tak lama kamar luas itu kembali hening, Nagumo sudah berhenti tertawa. Dan Akao pun benar-benar berusaha untuk tidur, walaupun ia tak tahu apakah ia bisa tertidur atau tidak.

"Akao."

"..." Akao tak berniat menjawab.

"Bolehkah aku tertidur dengan memelukmu?"

"Huh?" Akao belum mengizinkannya, tapi sepasang lengan kekar penuh tato itu sudah melingkar di pinggang rampingnya.

"Hei, lepas–"

"Kumohon."

Tubuhnya menegang mendengar nada suara Nagumo yang tak biasa. Walau samar, Akao bisa merasakan getaran frustasi dari nada itu. Ia ingin membalikkan badannya untuk melihat pria dibelakangnya, namun pelukan erat di pinggangnya membuat ia suit bergerak. Disaat seperti ini, Akao benar-benar percaya bahwa Nagumo yang saat ini bersamanya adalah Nagumo dewasa yang memiliki peraakan lebih maskular dan lebih kuat. Bahkan kini ia bisa merasakan tubuhnya mengecil dalam pelukan hangat Nagumo.

'Huh? Hangat?' batin Akao.

Ya, pelukan yang diberikan Nagumo begitu hangat. Ia belum pernah merasa setenang ini ketika ada seseorang dibelakangnya, ia merasa nyaman membuat rasa kantuk tiba-tiba menyerang.

"Hiks."

Akao membuka matanya dalam sekejap ketika mendengar isakan tangis dari arah belakang. Akao tampak terkejut dan hampir lupa ia sedang berada dimana. Ingatan terakhirnya adalah Nagumo yang memeluknya lalu setelah itu tanpa sadar ia terlelap, dan kini ia terbangun oleh isakan tangis.

"Nagumo?"

Akao tak tahu sekarang sudah jam berapa, namun melihat suasana kamar yang sebelumnya gelap dan hanya disinari oleh lampu-lampu dari gedung sekitar kini terang benderang menandakan bahwa matahari sudah muncul.

"Nagumo? Kenapa, ada apa?"

Akao hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar, namun isakan itu tak berhenti. Satu-satunya orang yang ada dibelakangnya adalah Nagumo. Tapi ia tak tahu alasan mengapa Nagumo menangis. Seumur hidupnya kenal dengan Nagumo, ia tak pernah melihat Nagumo menangis seperti ini. Pria itu memang pernah menangis namun karena hal-hal sepele yang menurut Akao tak layak ditangisi, seperti pocky nya yang tak sengaja jatuh dan tak sengaja dinjak oleh Sakamoto, atau saat Sakoda-sensei melilit tangannya dengan tangan Sakamoto karena tak bisa diam.

Namun kali ini Akao merasa pria dibelakangnya menangis bukan karena hal sepele. Lagi-lagi Akao bisa merasakan nada frustasi dibalik isakan itu, pilu dan sangat menyakitkan.

"Akao, kumohon."

"Nagumo, kenapa? Lepaskan tanganmu, biarkan aku melihatmu."

Namun yang terjadi adalah pelukan Nagumo yang semakin mengerat. Wanita berabut biru aqua itu bisa merasakan punggungnya yang sedikit basah, kepala Nagumo berada tepat dipunggungnya.

"Nagumo jangan keras kepala!"

Mungkin karena kaget oleh bentakan Akao, pelukan Nagumo tiba-tiba mengendur dan kelengahan itu lagi-lagi dimanfaatkan oleh Akao untuk mendudukan tubuhnya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat Nagumo yang kini meringkuk sembari menutupi kepala dan wajahnya. Pria itu masih terisak, entah mengapa isakan itu membuat hati Akao sakit.

"Hey, ada apa?" Akao dengan susah payah menjauhkan tangan Nagumo dari wajahnya untuk melihat wajah pria itu.

Dan Akao terkesiap melihat kondisi wajah Nagumo yang begitu berantakan. Anakan rambut yang menempel di sisi wajahnya karena keringat, mata yang tertutup tapi terlihat sembab dengan bibir yang bengkak dan ada sedikit bercak darah sepeti sengaja di gigit.

"Kau kenapa?!" Akao menangkup wajah pria dewasa di depannya itu, Nagumo membuka matanya sebentar sebelum kembali menyembunyikan wajahnya, kini ia menyembunyikan wajahnya di perut Akao, tangannya ikut melingkar disana.

"Aku takut–"

"Aku takut, jika aku melepaskan pandanganku darimu kamu akan menghilang," ucap Nagumo dengan terbata.

"Apa karena itu kamu ga tidur?" Akao tahu setelah melihat bola mata Nagumo sebelumnya, yang begitu merah dengan kantung mata yang sedikit menghitam.

"Aku takut jika aku menutup mataku, aku akan terbangun dari mimpi ini."

Akao membeku, ia tak menyangka bahwa pria ini menganggapnya sebuah mimpi selama ini. Ia tahu bahwa kejadian yang menimpa diirnya memang tak masuk akal, tapi apa kehadirannya ini adalah sebuah mimpi bagi Nagumo. Hatinya sangat sakit, bukankah pria itu semalam yang berkata bahwa dirinya atau Sakamoto tak sepenting itu idi hidupnya? Namun mengapa kini ia terlihat begitu putus asa dan menyedihkan.

"Hey, Nagumo. Nagumo Yoichi, lihat aku."

Akao berhasil menangkup wajah pria itu lagi dan membuatnya menatap kearahnya,"Lihat. Aku bisa menyentuhmu, kamu bisa memelukku dan melihatku. Aku nyata dan bukan sebuah mimpi."

"Daripada kamu menangis seperti ini, bukankah lebih baik kamu melakukan banyak hal denganku? Hal yang belum aku dan kamu lakukan semenjak aku di masa depan tak ada?" Akao tersenyum begitu lembut, berusaha membuang kesedihan di mata Nagumo.

"Maafkan aku, maaf Akao." Nagumo memejamkan matanya membiarkan tetesan terakhir air matanya jatuh.

Akao membawa wajah Nagumo mendekat lalu menyatukan kedua kening mereka,"Aku juga minta maaf, maafkan aku Nagumo." Akao tak tahu mengapa ia meminta maaf. Apa ia merasa bersalah karena membuat Nagumo menangis seperti ini? Atau karena ia lemah dan mati lebih dulu meninggalkan Nagumo? Entahlah, untuk sekarang Akao hanya ingin mengikuti kata hatinya.

Tak lama setelah sesi menangis mereka –lebih tepatnya Nagumo, Akao mulai membangun suasana baru lagi dengan meledek wajah Nagumo yag sembab dan membuatnya terlihat jelek. Nagumo yang tak terima pun langsung beranjak dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mendinginkan wajahnya. Dan Akao sendiri beranjak menuju dapur untuk membuatkan sesuatu, sebenarnya ia tak terlalu ahli dalam memasak namun setidaknya ia bisa membuat ramen dan menggoreng telur.

Beruntung masakan Akao langsung disantap oleh Nagumo tanpa komen apapun, membuatnya sedikit lega. Setelah itu Akao membantu Nagumo mengganti perbannya lagi. Mereka duduk di sofa ruang tengah, saling berhadapan untuk mengobati lagi luka Nagumo. Entah mengapa Akao merasa apa yang mereka lakukan ini seperti keseharian sepasang kekasih atau sepasang suami istri? Tidur bersama, bangun lalu mengeluarkan keluh kesah, dan membuatkan sarapan lanjut mengobati Nagumo.

'Apa wanita-wanita normal diluar sana melakukan hal seperti ini dengan kekasih mereka?' batin Akao membayangkan status pasangan diantara mereka dan tanpa sadar membuat wajahnya memerah merona dan itu disadari oleh Nagumo.

"Kenapa wajahmu memerah begitu? Kamu demam?"

"Hah? Nggak, nggak kok. Aku–"

Ting

Tong

Tiba-tiba perkataan Akao terhenti ketika mendengar ada suara bunyi bel yang menggema ke seluruh ruangan. Akao menatap kearah Nagumo,"Siapa? Apa aku harus sembunyi?"

Bukan kah itu sudah jelas bahwa Akao harus sembunyi? Karena mau bagaimanapun dia adalah orang mati di masa ini,"Tunggu, aku seperti nya tahu siapa diluar."

Nagumo beranjak dan berjalan menuju pintu masuk apartemen, sebelum membuka pintu pria itu memastikannya lewat lubang kecil di tengah pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan membuka pintu tersebut membuat tubuh Akao berjengit terkejut dan refleks meringkuk menyembunyikan dirinya.

"Idiot, kenapa dia bawa masuk orang. Harusnya keberadaanku ini kan tabu?" gumam Akao tak percaya dengan tindakan Nagumo.

Akao bisa mendengar Nagumo berbicara dengan suara pria yang tak ia kenal, dan pria itu berbicara dengan logat kansai. Akao semakin menyembunyikan dirinya ketika mendengar suara itu semakin mendekat.

"Nagumo-san, siapa wanita itu?" Akao terkejut, yang bertanya itu bukan suara laki-laki berlogat kansai lagi, tapi suara seorang wanita dengan mulut penuh.

"Ahh, ketahuan ya?"

"Nagumo, kamu menyembunyikan seorang wanita?"

"Ah, aku akan memberitahu kalian. Tapi tolong jangan katakan pada siapapun jika tidak ... kalian ku bunuh."

"Hah?"

"Bercanda, bercanda~ aku percaya pada kalian. Akao munculah, tidak apa ini teman-temanku dari order."

Akao benar-benar tak mengerti dengab apa yang pria berambut hitam itu pikirkan, namun perlahan ia keluar dari persembunyiannya. Ketiga orang disana tak termasuk Nagumo saling bertukar pandang dan menyelidik satu sama lain. Akao bisa melihat satu orang pria berambut pirang panjang setinggi dirinya dan wanita berambut hitam mungil yang cantik berdiri diantara Nagumo dan pria berambut pirang itu.

"Siapa dia Nagumo?" tanya Shishiba.

"Apakah dia istrimu yang kau sembunyikan, Nagumo-san?" Osaragi menimpali dengan pertanyaan absurd nya.

"Hahahah, ketahuan ya~"

"Apa yang ketahuan sialan!" bentak Akao kesal dengan respon Nagumo yang terlalu santai, padahal ini situasi yang begitu serius.

"Shishiba, Osaragi, kalian tahu Akao Rion temanku dan Sakamoto saar di JCC? Dia orang itu."

"Ya? Jadi dia orang itu? Yang membuat ———"

Akao tak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba telinganya berdenging saat pria bernama Shishiba itu berbicara. Tubuhnya limbung karena dengingan itu menyakiti kepalanya, hal itu disadari oleh Nagumo yang langsung berlari kearahnya.

"Akao? Kamu baik-baik saja?"

"Telingaku berdenging saat pria itu berbicara denganmu. Seperti ucapannya di filter agar aku tak mendengarnya."

Nagumo terdiam, tadi Shishiba menyebut nama Uzuki di masa ini dan alasan mengapa JAA sedang tidak baik-baik saja. Nagumo seperti nya mengerti, Akao Rion dari masa lalu tak bisa mendengar apa yang terjadi di masa depan.

Nagumo meremat pelan pundak Akao yang ia pegangi karena wanita itu hampir jatuh sebelumnya, lalu menggiring Akao untuk duduk di sofa meredakan pusingnya,"Duduklah dulu, Shishiba, Osaragi. Aku akan mengatakan sesuatu jadi tolong dengarkan dan percaya."

Nagumo pun menceritakan apa yang terjadi dengan Akao, menceritakan bahwa Akao Rion yang saat ini berada di depan mereka bukan lah Akao Rion dari masa kini yang sudah mati atau hidup kembali melainkan Akao Rion dari masa lalu. Nagumo menceritakan bagaimana Akao Rion masa lalu tiba-tiba terjatuh di tengah apartment nya dan akhirnya berada di depan mereka. Setelah Nagumo menceritakan semuanya, wajah tak percaya Shishiba begitu tercetak jelas.

"Aku masih tak percaya, tapi untuk seumuranmu. Dia terlalu muda," ucap Shishiba menatap Akao.

"Apa maksudmu! Bahkan jika aku masih hidup pun aku akan awet muda!"

"Iya, iya. Tapi, Nagumo. Bukankah seharusnya kamu menghubungi, Sakamoto-san?"

"Ya, aku sudah menghubunginya. Mungkin kini ia sedang menuju kemari, bagaimanapun tempat ini cukup jauh dari tempatnya berada saat ini."

"Kamu menghubungi Sakamoto?" Nagumo hanya mengangguk meng-iyakan peryanyaan Akao. Wanita bermata emas itu menatap Nagumo dengan tatapan tak percaya nya, bagaimana mungkin pria itu dengan tenang membeberkan keberadaannya dengan orang-orang.

"Ah, Nagumo-san. Apa ada camilan disini? Aku lapar."

Wanita berambut hitam yang sedaritadi hanya diam menatap Akao tiba-tiba membuka suaranya hanya untuk meminta makanan, kesan pertama Akao pada wanita itu seperti nya berubah secepat kilat. Wanita yang cantik tapi aneh, menurutnya. Sedangkan Nagumo hanya tertawa lalu beranjak dari sampingnya dan diikuti wanita berambut hitam itu. Akao menatap keduanya berjalan menjauh, entah mengapa pemandangan itu membuatnya tak nyaman.

"Mereka terlihat cocok," bisiknya.

"Ya? Ada apa, Akao-san?" tanya Shishiba yang mendengar wanita di depannya berbisik samar

"Ah, nggak." Akai menundukkan kepalanya.

'Apa Nagumo juga akan hidup normal seperti Sakamoto? Memiliki istri yang cantik dan berkeluarga?' batinnya.

Akao memegangi dadanya, terasa sakit disana saat memikirkan Nagumo hidup bahagia. Bukannya seharusnya ia senang? Tapi entah kenapa Akao merasa ia ingin terlibat di kehidupan normal Nagumo, ia juga ingin hidup seperti orang normal.

Saat Akao tenggelam dalam pikirannya, suara bel lagi-lagi terdengar menggema ke seluruh ruangan. Ia melihat Nagumo membuka-kan pintunya dan seorang pria tinggi dan besar masuk kedalam. Ya, pria tinggi dan besar. Mereka sudah saling bertatapan dari jauh, mata Akao membulat saat menyadari siapa itu.

"Pffft, bwahahahahaha! Sakamoto? Sialan, hahahahah. Gendut sekali."

"Pfftt." Nagumo yang berada tepat dibelakang Nagumo juga ikut tertawa, membuat urat kesal diwajah Sakamoto muncul.

Setelah puas tertawa akhirnya mereka berkumpul di ruang tengah, Nagumo kembali meceritakan soal Akao tapi pria itu tak begitu merasa terkejut seperti Nagumo. Mereka bereaksi seperti itu karena beberapa hari lalu mereka baru saja bertemu Akao di tubuh Uzuki, jadi melihat Akao muda datang ke masa depan membuat mereka merasa itu memungkinkan walau tetap tidak masuk akal.

Mereka berpindah topik dengan membicarakan bagaimana cara Akao kembali pada masa nya. Tepat saat membicarakan itu, Sakamoto melihat sekilas kearah Nagumo yang terdiam tak mengucapkan sepatah kata apapun.

"Akao-san, saat anda masuk ke dalam blackhole itu apa kau ingat jam berapa itu?" tanya Shishiba.

"Mungkin jam 10 pagi?"

"Dan kau datang kesini tepat jam 10 malam." Timpal Nagumo, spontan mereka semua menatap kearah Nagumo.

"Mungkin saja blackhole itu akan muncul di waktu yang sama. Entah jam 10 pagi atau 10 malam nanti. Aku tak mengerti teori asli tentang blackhole, tapi ini hanya spekulasi ku saja."

Disaat mereka yang ada disana sedang berteori bagaimana cara Akao kembali ke masa-nya, ada Nagumo yang terdiam membisu. Matanya menatap kosong kearah lantai, ia tak mau mendengar apa yang mereka katakan. Ia tak mau Akao kembali, ia tak mau Akao meninggalkannya lagi. Tapi apa dayanya jika Akao sendiri yang ingin pergi? Tanpa sadar Nagumo menggigit bibir bagian dalamnya terlalu kuat hingga darah keluar dari sudut bibir nya.

"Nagumo. Darah!" Akao memekik terkejut tiba-tiba melihat darah dari mulut Nagumo.

"Ah, maaf. Aku ke kamar mandi dulu." Nagumo pergi masuk ke kamarnya untuk menggunaka toilet yang ada di dalam kamar, tatapan Akao mengikuti kemana perginya Nagumo. Ia merasa lagi-lagi ada yang tak beres dengan Nagumo, saat bangun tidur tadi juga ia melihat bercak darah di sudut bibirnya.

"Sebenarnya ada apa dengan pria itu," gumam Akao.

"Itu karena kau," jawab Sakamoto yang kebetulan duduk disampingnya dan mendengarkan gumaman Akao.

"Hah? Kenapa aku?"

"Pikirkan saja sendiri."

"Cih, gajelas kau gendut."

Shishiba dan Osaragi hanya menatap kedua orang itu tak mengerti. Mereka kini sedang menunggu jam 10 berharap teori yang Shishiba katakan itu benar, namun setelah jam 10 lebih 30 menit pun tak ada tanda-tanda apapun. Akao menggigit jarinya gugup, bagaimana jadinya jika ia tak bisa kembali?

"Mungkin jam 10 malam nanti, Akao-san. Karena aku pikir tak mungkin juga kamu akan terjebak di masa depan seperti ini, jika kamu berada disini, masa depan yang kita ketahui akan berubah."

Akao mengangguk menyetujui, mereka semua yang ada disini memutuskan untuk menunggu bersama hingga jam 10 malam nanti. Keempat orang itu berbincang-bincang ringan, dengan Akao yang menceritakan soal JCC pada Shishiba dan Osaragi yang tak pernah sekolah disana. Dan setelah satu jam berlalu Akao baru sadad Nagumo belum kembali lagi, maka ia menyusul pria itu untuk melihat keadaannya. Takut-takut darah yang keluar dari mulut Nagumo itu berasal dari luka dalam yang tak disadari.

"Nagumo?"

Akao tak mendapati Nagumo di sekitaran kasurnya, maka ia lanjut berjalan menuju kamar mandi dan mendapati pria itu sedang terduduk dengan kepala tenggelam diantara lutut yang ditekuk.

"Nagumo!"

"Ssstt, jangan berisik." Nagumo mengangkat kepalanya menatap Akao dengan gestur jari dimulut, menyuruh Akao untuk mengecilkan suaranya.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" bisik Akao mengikuti apa kata Nagumo.

Pria itu terkekeh membuat Akao menatapnya bingung,"Kenapa ketawa sih, kamu gila ya?"

"Hmm, mungkin. Aku memang sudah gila sejak kamu ninggalin aku."

Akao terdiam tak mengerti dengan apa yang pria itu katakan.

"Aku gila, Akao. Saat kau —— dan ——, aku beneran gila. Aku hampir gabisa nemu alasan aku hidup."

Akao benar-benar tak mengerti apa yang Nagumo katakan, apalagi ada beberapa kata yang membuat kepalanya berdenging hingga tak mengerti apa yang Nagumo ucapkan. Ia mengernyit ngilu,"Apa yang kau kata–"

"Aku menyukaimu, Akao. Aku mencintaimu."

Mata dengab bola mata emas itu membulat kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu," ucap Nagumo dengan senyum tulus yang hangat. Senyum yang pertama kali Akao lihat diwajah Nagumo.

"Ak–"

"Akao!" Tiba-tiba suara Sakamoto menginterupsi mereka berdua,"Akao! Balckhole nya muncul!"

Tubuh Nagumo menegang, ia semakin meringkukkan tubuhnya kembali menyembunyikan dirinya. Akao dibuat bingung, ia tak mengerti mengapa blackhole itu tiba-tiba muncul. Akao paham ia harus segera menuju kesana dan kembali ke tempat asalnya, namun Nagumo yang kini meringkuk menyedihkan membuatnya bimbang.

"Nagumo! Blackhole nya muncul, ayok kita keluar."

"Pergilah, Akao. Pergilah." Nagumo mengatakan itu dengan suara yang terendam oleh kedua lutut nya.

"Apa? Kau mengatakan apa? Ayok keluar sebelum blackhole nya hilang lagi."

"Sudah kubilang pergi! Jika kau ingin pergi maka pergilah, jangan memaksaku untuk mengantarmu untuk pergi!"

Akao membeku mendengar bentakan Nagumo, wajah pria itu terlihat sangat sedih berbeda dengan bada suaranya yang begitu penuh amarah.

"Dengar Nagumo–"

"Akao-san cepat, blackhole nya mengecil!"

"Ah, sial!"

Tanpa melanjutkan apa yang ingin dirinya ucapkan pada Nagumo, Akao berlari keluar dari toilet dan kamar Nagumo menuju ruang tengah. Ia bisa melihat lingkaran hitam yang sama seperti yang ia lihat kemarin ada disana. Ia pun buru-buru mendekat menyadari bahwa lingkaran hitam itu benar-benar perlahan mengecil. Sebelum masuk ke dalam lingkaran itu, Akao menatap kearah pintu kamar Nagumo berharap pria itu menatapnya untuk terakhir kali, tapi nihil pria berambut hitam itu benar-benar tak mau mengantarnya. Lalu mata Aka berpindah menatap Sakamoto, Shishiba dan Osaragi bersamaan iya membungkukkan badannya berterimakasih.

"Tolong jaga diri kalian dan tolong jangan tinggalkan Nagumo." Akao tersenyum kearah mereka bertiga dan memutar badannya hendak masuk ke dalam lingkaran hitam itu, sebelum sebuah tangan menghentikannya.

"Nagumo?!"

"Tolong, tolong hidup Akao. Keluar dari JCC dan berhenti jadi pembunuh bayaran kumohon."

Nagumo yang menarik tangan Akao, yang membuat wanita itu terkejut adalah kondisi wajah Nagumo yang lagi-lagi dipenuhi peluh dan air mata membuat Akao juga ikut berlinang air mata.

"Aku akan melakukannya sebisaku."

"Kumohon hidup, demi dirimu, demi orang yang menyayangi dan mencintaimu. Aku muda mungkin tak mengatakannya, tapi aku benar-benar mencintaimu, Akao. Kumohon, hiks."

Sesak memenuhi dada Akao, dalam sehari ia membuat Nagumo, seseorang yang pandai menyembunyikan emosinya menangis seperti anak kecil yang direbut permennya. Ini benar-benar membuatnya sedih.

"Aku akan berusaha, terimakasih." Akao mendekat kearah Nagumo yang kini berlutut karena tak kuasa untuk berdiri lagi. Menangkup rahang tajam pria itu, Akao mencium kening Nagumo penuh perasaan. Tersenyum dengan tulus sebelum akhirnya melompat masuk ke dalam lingkaran hitam yang semakin mengecil.

Dukkk

Akao berhasil mendarat dengan selamat. Ia bisa mendengar suara orang-orang yang ia kenal memanggil namanya, namun pikirannya masih tertinggal pada permohonan juga wajah menyedihkan Nagumo. Hatinya begitu sakit meninggalkannya begitu saja.

"Akao! Apa kau baik-baik saja?!"

'Ah, disini juga masih ada satu Nagumo ya,' batin Akao tersenyum.

"Kau!" Akao mencengkram bahu Nagumo, membuat pemuda itu terkejut.

"Apa benar kau mencintaiku?" tanya Akao dengan gablangnya tanpa memerdulikan sekitar.

Nagumo tampak mencerna apa yang Akao ucapkan, namun sesaat setelah ia paham, wajah nya memerah padam seperti akan meledak sebentar lagi. Dan itu membuktikan bahwa perkataan Nagumo dewasa itu benar, pria itu sudah mencintainya bahkan saat mereka masih bersekolah. Kini yang wajahnya memerah padam bukan hanya Nagumo tapi juga Akao.

𝟎𝟎𝟎

Nagumo menjalani hidup nya kembali seperti biasa, kini sudah 3 bulan berlalu semenjak kepergian Akao muda. Bertemu Akao satu hari itu benar-benar seperti sebuah mimpi indah baginya, hanya saja mimpi itu diketahui oleh Sakamoto, Shishiba bahkan Osaragi. Ya, benar. Jika saja ketiga orang itu tak tahu soal Akao muda, mungkin saja Nagumo benar-benar merasa bahwa hari itu hanyalah mimpi belaka.

Setelah tiga bulan berlalu tak ada tanda-tanda perubahan yang berarti, yang mengatakan bahwa nasib berjalan dengan sama bahkan ketika Akao sudah mengetahui sedikit tentang masa depan. Hatinya sakit menyadari bahwa Akao benar-benar pergi untuk selamanya. Nagumo menengadah menatap langit biru Jepang yang sejuk dan damai tak seperti dua bulan lalu.

Setelah Akao pergi tak lama setelah itu pertarungan melawan JAA baru benar-benar pecah. Sakamoto dan Nagumo melawan Uzuki, membunuhnya dan kawanannya juga membubarkan JAA. Kini Jepang hanyalah negara biasa yang ketat oleh pemerintah dan hukum, tak ada lagi yang namanya organisasi pembunuhan, semuanya berjalan sesuai kemauan Sakamoto.

"Bahkan setelah pensiun pun, kamu tetap pemeran utama ya, Sakamoto-kun."

Nagumo sebenarnya butuh waktu cukup lama untuk kembali ke kanyataan, setelah membunuh Uzuki dan tersadar bahwa Akao yang ada di dalam tubuh Uzuki tak pernah lagi muncul menemuinya, Nagumo butuh waktu sekitar tiga minggu. Ia mengurung diri di apartemen yang pernah Akao singgahi, beberapa orang seperti Shishiba, Osaragi, Kindaka, dan Yotsumura bergantian menjenguk dirinya mengajak Nagumo untuk menghirup udara Jepang yang baru tapi Nagumo tetap enggan meninggalkan apartment itu. Hingga pada akhirnya hanya Sakamoto yang bisa menariknya keluar.

Kini kerjaan Nagumo hanya berjalan-jalan mengelilingi Jepang tanpa tujuan, sesekali mengunjungi toko Sakamoto dengan mengusili para pegawai yang lebih muda darinya itu, lalu pergi lagi mengikuti langkah kakinya tak karuan. Sudah satu bulan ia tak kembali ke apartemen nya, sudah saatnya ia pulang dan beristirahat sebelum kembalu berpetualang.

Nagumo tersenyum pada wanita paruh baya di sampingnya yang memujinya karena tinggi dan tampan, mereka sedang menunggu lampu hijau untuk para penyebrang hingga matanya tertuju ke satu arah di seberang sana. Tubuhnya membeku melihat seseorang yang sangat familiar tengah melambai-lambaikan tangan kanannya dengan tangan kiri yang memegang sepuntung rokok yang menyala. Rambutnya lurus sebahu dengan poni rapi yang menutupu jidatnya, memakai jas kantoran dengan rok span pendek diatas lutut. Rambut berwarna biru aqua itu melambai-lambai terhembus oleh angin dengan bola mata berwarna emas mengkilau.

"Akao?"

"Oyy, cowok cengeng!"

"Akao. Akao. Akao. Akao."

Saat lampu lalu lintas berganti merah, dan lampu tanda penyebrang berganti hijau, Nagumo langsung berlari sekencang yang ia bisa tanpa berkedip mendekat pada wanita yang sangat ia kenali itu. Saat tubuhnya sudah berada satu meter di depan wanita itu, Nagumo tak sanggup lagi melangkah, kakinya melemas. Tapi, seperti menyadari hal itu, Akao lah yang kini memperkikis jarak, melingkarkan tangannya di pinggang Nagumo dan memeluknya.

"Lama tidak bertemu, Nagumo. Maaf membuatmu menunggu lama."