Actions

Work Header

Ngewe_Sama_Mas_Pacar.mp4

Summary:

Kamu malu dan jijik pada dirimu sendiri karena harus masturbasi dan menyemburkan cairan ejakulasi yang sangat banyak setiap bulannya. Kamu menyembunyikan hal ini dari pacarmu, tapi ternyata dia sudah tau sejak lama.

Work Text:

Duh, kamu selalu benci fase yang datang setiap sebulan sekali ini. Meski kamu sudah memiliki pacar kamu tetap tidak punya muka untuk memintanya membantu menyelesaikan "masalah" ini.

Jadi, disini lah kamu, menyentuh dirimu sendiri di depan cermin.

Kamu duduk di atas handuk, mengangkang hebat di depan cermin memperlihatkan lipatan vaginamu yang merah dan mengkilap karna cairanmu sendiri.

Hanya dengan satu sentuhan di klitorismu, kamu mendesah melengking dan mendongak.

Kamu menengakkan kepalamu perlahan, fokus kembali ke jari-jarimu yang berkelana di lipatanmu. Satu jari masuk perlahan dengan mudah.

Kamu mulai mendesah seperti pelacur, dan kamu benci itu. Sejak kamu pertama kali menstruasi, kamu menyadari bahwa tubuhmu jadi sangat sensitif saat memasuki masa ovulasi. Hal ini membuatmu menjadi pribadi yang malu dan tak percaya diri, kamu tidak bisa membayangkan bagaimana orang akan bertindak setelah tau bahwa kamu ternyata seorang yang mesum dan mendambakan kegiatan seksual setiap bulannya.

Meski sudah melalukan kegiatan ini sejak remaja, kamu tak pernah paham mengapa vaginamu tetap sensitif parah hanya dengan masturbasi jari yang payah.

Tiga jari sudah masuk, dan kamu tidak menghiraukan untuk mengecilkan suaramu. Kamu sudah mendongak dan merem melek keenakan.

"Agh-! oh~ Archon!" Perutmu mengencang, vaginamu berkedut. Kamu bisa merasakan sebentar lagi akan ada yang keluar.

Kamu mempercepat tempomu, tapi kenapa disituasi seperti ini malah muncul wajah pacarmu, Lohen sedang menghantam dinding vaginamu dengan penisnya?

Bayangan Lohen menggenjot brutal lubangmu, membuat desahanmu semakin keras. 

Kamu memenjamkan matamu, "Ah! Lohen.. Lohen—! Muncrat~ Aku mau munc-mmhh!!♡" Kamu menarik keluar jarimu dan menyemburkan semuanya.

Kamu muncrat. Banyak sekali. Semburan itu membasahi cermin dan lantai, bahkan handuk itu sama sekali tidak membantu.

Selama squirt, kamu menyibak lipatanmu, membuat semburannya semakin berantakan.

Kamu langsung terkulai lemas di lantai, dadamu naik turun meraup udara untuk bernafas.

"Kamu memanggilku, sayang?" Kamu bisa merasakan jantungmu merosot ke perut, kamu hafal suara ini.

Seluruh badanmu panas, seolah terbakar. Kamu tak sanggup untuk duduk dan menoleh ke belakang mencari tau asal suara itu.

Wajahmu memerah, kamu ingin menangis, kamu sekarang telanjang bulat dan lantai di sekitarmu becek karena ejakulasimu.

"Sayang?" kamu bisa melihat Lohen muncul dari atas kepalamu. Kamu menutup wajahmu dan mulai meringkuk untuk menutup dada dan vaginamu. Sungguh ini sangat memalukan.

Lohen terbahak dan membantu mu duduk, lalu melingkarkan handuk kering baru—yang sebenarnya memang kamu siapkan untuk dirimu sendiri—untuk menutupi tubuhmu.

Lohen menyingkirkan kedua tanganmu dari wajahmu. Kamu sudah menangis sedar tadi menahan malu. "Astaga, sayang, kamu menangis melihat seseorang yang kamu desahkan secara sadar saat masturbasi?" Ucapnya dengan nada meledek sambil menyeka air matamu.

"Jangan dibahas! Sungguh, ini memalukan. Kumohon jangan jijik padaku" Kamu tak berani menatap matanya, jantungmu berdegub kencang, kamu mual sekali membayangkan jutaan kemungkinan respon pacarmu—jika dia tidak meminta untuk putus karena jijik.

"Ngomong apasih? Aku udah tau kalau kamu sebulan sekali masturbasi sambil nyebut namaku." Kamu mendongak, manikmu menatap maniknya, kamu berkedip seolah tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Tak sempat merespon, Lohen dengan cepat mendorong tengkukmu membuat bibir kalian bertemu. Jantungmu berdegub kencang.

Lohen menyesap bibirmu dengan rakus, dia mengigit bibir bawahmu, membuatmu meringis sedangkan dia mengambil kesempatan ini untuk beradu lidah denganmu.

Kedua tanganmu mencengkram kerah bajunya, seolah memberi kode untuk berhenti. Namun, Lohen tampak tak peduli dan tetap mencicipi seluruh inci bibir dan mulutmu.

Dadamu sesak, sulit untuk bernafas, kamu sama sekali tidak bisa mengimbangi ciumannya. Kamu memukul dadanya pelan, tapi tidak ada respon.

Panik. Kamu malah memilih untuk menarik chokernya, berharap rasa sakit dari tarikan itu bisa membuatnya berhenti.

Lohen melepaskan ciumannya, seutas benang saliva tipis terbentang. Kamu dan dia sama-sama terengah-engah. Lohen mencengkram pergelangan tangan kananmu yang masih senantiasa di chokernya.

"Sayang, kamu tidak tau sudah berapa kali aku membayangkan kita melakukan ini~" mata Lohen tampak menggila oleh nafsu, dia mengecup tanganmu pelan.

Perlahan dia memasukkan jari-jarimu ke dalam mulutnya. Badanmu bergidik saat ujung jarimu merasakan kelembutan lidahnya.

"Lohen! Jariku kotor!" Kamu berusaha menarik tanganmu, tapi Lohen bergerak lebih cepat untuk menahan pergelanganmu. Dia tak peduli.

Dia terus meliuk-liukan lidahnya di jarimu, matanya menatap dalam ke matamu. Begitu seduktif, kamu bisa merasakan vaginamu mulai basah.

Lohen menyesap habis sisa-sisa rasa dari ejakulasimu yang ada di jarimu. Dia sendiri bisa merasakan sesuatu di selangkangannya mulai berdiri.

Puas dengan membersihkan jarimu, dia membawa tanganmu ke pipinya, dia memejamkan matanya merasakan sentuhan jarimu di wajahnya.

Dia membuka matanya perlahan dan menatap matamu, "mau aku bantu, sayang?" ucapnya.

Wajahmu memerah, "aku aneh ya?" Lohen memiringkan kepalanya seolah bingung dengan pertanyaanmu.

"Aneh? Sayang, ini justru membuatku makin jatuh cinta padamu. Astaga, kamu imut sekali." Lohen benar-benar tidak bisa menahan nafsunya lagi, dia sudah ratusan kali membayangkan berhubungan intim denganmu tanpa kamu ketahui sedikitpun.

"Lagipula aku sudah tau dari awal, sayang~ I have my own file on you~" Belum sempat merespon, Lohen melanjutkan ucapannya, "Kamu tidak tau setiap kali aku melihat setiap inci kulitmu, itu membuatku terangsang." dia berbisik tepat di telingamu membuat seluruh badanmu merinding.

Lohen mengangkat dirimu dan merebahkanmu di kasur. Dia mulai mengecup bibirmu, tak memberimu waktu untuk mengolah dan merespon kata-katanya.

Ciumannya bergerak turun ke lehermu, menjilatinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhmu, serta tak lupa dia memberikan tanda-tanda keunguan disana.

Kamu hanya menggelinjang tak jelas di kasur sambil meremas seprai hingga berantakan. Badanmu menegang saat merasakan bibirnya menyentuh payudaramu.

Lohen mengistirahatkan wajahnya di tengah gundukan besarmu itu sejenak, menikmati kelembutannya yang sudah ia bayangkan sedari dulu setiap kamu hanya memakai piyama tipis untuk tidur. Dia mulai mnyedot kuat puting kirimu, sementara tangan kanannya sibuk menarik dan memilin puting kananmu, sesekali juga ia menyetil dan memutarnya.

Kamu mendesah keras secara spontan saat dia melakukannya, reflek. Malu akan hal itu, kamu langsung menutup mulutmu berniat meredam.

Namun, tangan kiri lohen dengan cepat mengunci kedua pergelangan tanganmu ke atas, sehingga sekarang kedua ketiakmu terangkat. Posisi ini membuatmu semakin terangsang.

Lohen sangat sibuk, mulutnya sibuk menyedot putingmu seolah akan ada susu yang keluar dari sana, lidahnya juga terkadang bergerak liar mengisengi putingmu, tangan kanannya sibuk meremas menikmati kelembutan payudaramu, dan lututnya di bawah sana dengan sengaja dia gesek ke lipatan vaginamu.

Seluruh perlakuan Lohen membuatmu overstimulasi, rasanya kamu bisa saja muncrat hanya dengan digesek dan disedot.

Lohen puas dengan payudaramu, bergerak naik ke ketiakmu, dia menjilatnya pelan membuatmu berteriak karena geli. Dia mencicipi aroma tubuhmu disana, "Lohen aku kotor~!" Ucapmu saat Lohen bergantian menjilati ketiakmu hingga basah.

Lohen tampak tak peduli dan lanjut menjilati ketiakmu sambil mempercepat tempo gesekkan lututnya di bawah sana.

Kamu sudah menggeliat di atas kasur menerima seluruh rangsangan yg diberikan, badanmu sudah melengkung sempurna, perutmu mengencang, kepalamu sudah mulai berputar.

Kamu akhirnya ejakulasi, hingga kejang kecil, pertama kali menerima stimulasi sebanyak ini. Cairan cintamu muncrat hingga ke wajah Lohen, membasahi lututnya juga.

Kamu yang tadinya lemas terkulai di kasur langsung duduk tegap kelabakan, berusaha membersihkan wajah indah kekasihmu.

"Aku tak sengaja!" Ucapmu sambil mengusap wajahnya, namun Lohen hanya tertawa kecil.

Dia meraih dagumu dan mengecupmu pelan, menatap manikmu sebentar, sebelum mencium kamu lebih dalam sambil mendorong dirimu agar merebahkan diri kembali.

Kamu tidak dapat menolak, kamu menikmati ciumannya yang lebih lembut dibanding tadi. Tangan Lohen tentu saja tidak menganggur, dia sibuk meremas payudaramu.

Kamu sesekali mendesah kecil di tengah ciumanmu, "Lohen-mmhh~♡" dadamu sesak, dia tak lama melepas ciumannya, menatap matamu dalam-dalam.

Tatapannya sangat lembut, membuat hatimu terenyuh, "Keluarkan saja tidak usah ditahan, ya? berlaku untuk suara dan cairan mu yang di bawah sini" ucapnya sambil menyentuh lipatan vaginamu.

Kamu menjerit saat merasakan jarinya di bawah sana, kamu meremas bahunya sambil melempar kepalamu ke belakang.

Lohen mulai melakukan gerakan memutar di sekitar klitorismu, sesekali ia cubit karena milikmu yang sudah bengkak di bawah sana karena sangat terangsang. Kamu mendesah melengking, tak sanggup.

Kamu mulai memeluknya, menaruh kepalamu di pundaknya dan terus mendesah. Lohen kemudian memasukkan jari tengahnya ke dalam.

Pelukanmu semakin erat disertai erangan kuat darimu, Lohen mulai menggerakan jarinya dengan cepat sembari ibu jarinya menekan klitorismu.

Kamu hanya bisa mendesah dan meracau tidak jelas, tak lama Lohen menambah jumlah jarinya dan mempercepat temponya.

Kamu sudah mengerang, kedua tanganmu sudah berada di kepalanya, membuat pelukan kalian semakin dalam.

Badan kalian sudah menempel seutuhnya, namun stimulasi di vaginamu terlalu intens hingga kamu tak sadar akan tonjolan keras di celana lohen di atas perutmu.

"Lohen aku ingin keluar-!" Ucapmu yang kemudian membuat Lohen menarik jarinya keluar.

Kamu mendesah kecewa karena vaginamu tiba-tiba kosong, tak sempat protes ternyata Lohen sudah mensejajarkan wajahnya dengan vaginamu.

Lohen mulai menjilat pelan vaginamu, badanmu menegang. Sensasi ini belun pernah kamu rasakan sebelumnya.

Lidahnya begitu lembut dan hangat, dan itu kemudian meliuk-liuk di dalam vaginamu.

Kamu mendorong kepalanya agar memperdalam lidahnya, hal itu membuat hidungnya bergesekan dengan klitorismu. 

Badanmu melengkung, jemarimu sudah menjambak rambutnya mencoba menyalurkan sensasi yg kamu terima.

Kamu sudah merasakan dindingmu berdenyut, "Lohen cum-! ingin NGHH~~♡" padahal sudah ejakulasi yang ketiga hari ini tapi cairanmu tetap menyembur dengan deras.

Cairan itu mengalir kedalam kerongkongan Lohen, dia berhasil mencicipi cairanmu. Beberapa mengalir keluar dan membasahi dagunya, membuktikan betapa banyaknya cairan cintamu. Matanya bertemu dengan matamu, dia tampak senang.

Lohen mulai melepas seluruh pakaiannya, kamu menatapnya seolah pertunjukan karya eksklusif.

Penisnya sudang tegang dan keras, ukurannya besar, tebal, agak berurat. Kepalanya sudah memerah meneteskan pre-cum. Kamu menelan ludahmu, membayangkan penisnya masuk ke dalam dirimu.

Lohen mulai memposisikan kepala penisnya di depan lipatanmu, dia perlahan menggeseknya. Menggodamu.

Kamu mendesah kecil, "kumohon masukkan sekarang..." Ucapmu dengan suara bergetar. Kamu sudah tak sanggup menahan libido, isi kepalamu hanya ada bayangan dirimu yang hancur disetubuhi Lohen.

"Hm? Gak kedengeran, sayang."

"Lohen... Kumohon, setubuhi aku, hingga lututku bergetar dan tubuhku penuh dengan spermamu..."

Mendengar kalimat itu, Lohen mulai menggenjot masuk penisnya ke dalam vaginamu.

Kamu menjerit, selain jari kini penis pacarmu yang menjelajahi vaginamu. Seprai di bawah mu sudah berantakan, kamu sudah menggeliat tak karuan menahan rasa nikmat disetubuhi.

Lohen mengangkat kakimu dan menaruhnya di pundak, membuat genjotannya terasa semakin dalam. Kamu sudah meracau tak jelas, memanggil namanya berkali-kali.

Kepalamu rasanya sudah kopong, badanmu tersentak kebelakang berirama sesuai dengan genjotannya.

Lohen mengerang, merasakan jepitan vaginamu, "ah-sempit banget, sayang." Ucapnya sambil mempercepat genjotannya.

Kamu sama sekali tidak bisa membalas ucapannya, lidahmu kelu, kamu hanya bisa mendesah di bawahnya. Lohen semakin bersemangat melihat wajahmu yang teler karena penisnya.

Lohen membungkukan badannya, membawa dadamu yang terpental-pental itu ke mulutnya. Dia kenyot sambil menghantam lubangmu di bawah sana. Kamu menekan kepalanya, memperdalam rasangan yang kamu terima.

"Lohen... Lohen..." Kamu hanya bisa memanggil namanya, tidak ada hal lain yang terlintas di kepalamu.

Tak lama, kamu merasakan penis Lohen yang membesar di dalam lubangmu. Kamu juga merasa ejakulasimu sebentar lagi akan keluar.

"Aku keluarkan di dalam ya?" Bisik Lohen di samping telingamu yang sudah puas mencari susu.

"Kumohon, keluarkan semuanya di dalamku."

Gerakan Lohen semakin brutal, hingga akhirnya dia mendorong dalam-dalam penisnya dan mewarnai dinding vaginamu dengan spermanya yg panas dan kental.

Kamu mengerang panjang, mengeluarkan ejakulasimu juga. Rasa hangat menjalar di perutmu, vaginamu penuh dengan cairan kalian.

Lohen menarik keluar penisnya, melihat hasil karyanya. Badanmu terkulai lemas, dadamu naik turun terengah-engah, vaginamu berkedut-kedut sembari meneteskan spermanya.

Kamu merem melek, mencoba mencari kembali nyawamu. Kamu yakin kehamilanmu akan segera terjadi, karna pacarmu menyemprot begitu banyak di fase ovulasimu.

Lohen ikut merebahkan dirinya di sampingmu, mengecup pipimu pelan. "Sayang, boleh lanjut ronde kedua?"

Dan malam itu kalian habiskan dengan erangan erotis tiada henti hingga fajar menyambut. Tak terhitung sudah berapa kali kamu banjir di atas kasur hingga kuyup.

Seluruh tubuhmu digenjot habis oleh pacarmu, vaginamu, analmu, mulutmu, pahamu, payudaramu. Dia tidak meninggalkan satu tempatpun. Menandai seluruh badanmu dengan spermanya.

Kamu benar-benar merasa malam ini tidak akan kamu lupakan, dan mungkin akan menjadi titik mula kamu mendambakan penis kekasihmu setiap saat.