Actions

Work Header

The Forgotten Name

Summary:

Dohoon mulai kehilangan ingatannya sedikit demi sedikit, dan Youngjae menjadi orang yang paling sabar menunggunya pulang—meski kadang Dohoon bahkan lupa siapa dirinya. Di apartemen yang pelan-pelan penuh label, Youngjae menulis ulang nama benda, arah, dan bahkan dirinya sendiri agar Dohoon tidak takut. Di antara kenangan liburan pertama mereka di Furuzamami, lagu lama yang masih terasa akrab, cincin yang tidak pernah sempat diberikan, dan panggilan “Youngjae” yang makin jarang sampai utuh, cinta mereka bertahan bukan sebagai janji besar, melainkan sebagai pengulangan paling sunyi: memperkenalkan diri lagi dan lagi kepada orang yang paling dicintai.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hujan turun sejak pagi dengan kesabaran yang nyaris kejam. Ia tidak deras, tidak pula cukup ringan untuk dilupakan; ia hanya ada, menempel di kaca apartemen lantai sembilan seperti napas seseorang yang terlalu lama menunggu di luar pintu. Kota di bawah sana tampak kabur, gedung-gedungnya melebur dalam warna abu-abu, lampu kendaraan pecah menjadi garis merah dan kuning di atas aspal basah, sementara di dalam apartemen itu, Youngjae berdiri di depan lemari dapur dengan selembar kertas kecil di tangan dan spidol hitam terselip di antara jari-jarinya.

Ia sudah menulis banyak sejak pagi. Bukan lirik lagu, bukan daftar belanja, bukan catatan kecil yang dulu biasa ia selipkan di bawah gelas kopi Dohoon saat harus berangkat lebih awal. Yang ia tulis sekarang adalah nama-nama benda. Instruksi-instruksi pendek. Kalimat-kalimat sederhana yang terlalu sedih untuk sebuah rumah.

GELAS.
RAK KEDUA.
UNTUK MINUM AIR.

Ia menempelkannya di pintu lemari kaca, menekan ujung selotip bening dengan ibu jari sampai rata. Di laci bawahnya sudah ada label lain, sedikit miring karena tangan Youngjae sempat gemetar saat menempelkannya.

SENDOK DAN GARPU.
BUKA PELAN-PELAN.
JANGAN PANIK KALAU LUPA.

Di dekat kompor:

KOMPOR.
PASTIKAN MATI.
KALAU BINGUNG, PANGGIL YOUNGJAE.

Di pintu apartemen:

PINTU KELUAR.
JANGAN PERGI SENDIRI.
TELEPON YOUNGJAE DULU.

Youngjae mundur satu langkah, menatap seluruh dapur yang mendadak seperti ruang kelas untuk seseorang yang sedang belajar ulang tentang hidupnya sendiri. Rak, pintu, laci, sakelar, dispenser, kulkas—semuanya diberi nama seakan rumah itu telah kehilangan bahasa dan harus diajari mengeja dirinya sendiri dari awal. Ada sesuatu yang tidak manusiawi dari benda-benda yang tiba-tiba harus menjadi lebih sabar daripada manusia. Ada sesuatu yang menghancurkan dari sebuah dapur kecil yang dulu hanya tahu aroma bawang putih, minyak wijen, nasi hangat, dan tawa Dohoon, kini berubah menjadi peta darurat untuk membawa Dohoon pulang dari kabut yang tumbuh di dalam kepalanya.

Di meja makan, masih ada satu label yang belum ia tempel. Youngjae sudah menulisnya tiga kali, mengganti kertasnya dua kali, dan tetap tidak puas pada hasil akhirnya. Huruf-hurufnya rapi, tetapi dadanya tidak. Ia membaca tulisan itu pelan, seperti menguji apakah kata-katanya akan melukai Dohoon atau dirinya sendiri lebih dulu.

YOUNGJAE.
ORANG YANG TINGGAL DI SINI BERSAMAMU.
KALAU PANIK, CARI DIA.
DIA TIDAK AKAN MARAH.

Youngjae menatap kalimat kedua terlalu lama. Orang yang tinggal di sini bersamamu. Begitu netral. Begitu aman. Begitu jauh dari semua kata yang pernah ia inginkan.

Padahal di kertas pertama, berbulan-bulan lalu, ia pernah menulis:

YOUNGJAE. KEKASIHMU.

Waktu itu ia menulisnya dengan harapan bodoh bahwa cinta, jika diberi nama, akan lebih mudah dikenali. Ia menempelkannya di lemari kamar, tepat di samping foto kecil mereka di pantai: Dohoon tertawa dengan rambut basah, Youngjae memegang jaket di belakangnya, laut Zamami membentang begitu biru sampai tampak mustahil mereka pernah akan kehilangan apa pun. Label itu bertahan kurang dari satu jam.

Dohoon menemukannya ketika sedang panik mencari ponsel yang sebenarnya tergeletak di atas meja rias. Ia berdiri di depan lemari, membaca label itu berkali-kali, lalu menoleh kepada Youngjae dengan wajah yang membuat seluruh tubuh Youngjae dingin.

“Kalau kamu kekasihku,” kata Dohoon malam itu, suaranya pecah dengan cara yang tidak keras tapi membuat lantai terasa miring, “kenapa aku nggak bisa ingat caranya sayang sama kamu?”

Youngjae mencabut label itu sebelum Dohoon tertidur. Ia tidak membuangnya. Ia melipatnya kecil-kecil dan menyimpannya di laci meja kerja, di samping kotak cincin yang juga tidak pernah berhasil ia berikan. Sejak malam itu, ia berhenti menulis kata kekasih pada benda apa pun. Bukan karena ia tidak ingin menjadi itu. Justru karena ia terlalu ingin, sampai ia tidak sanggup menjadikan kata itu beban di tangan Dohoon yang sudah kehilangan terlalu banyak pegangan.

“Rumah kita kayak masuk taman kanak-kanak.”

Suara Dohoon datang dari ambang dapur, serak oleh tidur. Youngjae menoleh terlalu cepat, lalu segera melunakkan wajahnya, seperti orang yang hampir ketahuan sedang menangis di tempat umum. Dohoon berdiri dengan sweter kebesaran yang lengan bajunya menelan setengah telapak tangan, rambutnya berantakan, pipinya pucat, dan matanya masih menyimpan sisa mimpi yang tidak sepenuhnya ramah. Ia menatap label-label itu satu per satu, lalu tersenyum kecil; senyum yang berusaha nakal, tetapi kehabisan tenaga di tengah jalan.

Youngjae mengambil gelas dari rak kedua, mengisinya dengan air hangat, lalu menyodorkannya. Gerakannya biasa, terlalu biasa, dan Dohoon selalu tahu bila Youngjae sedang berusaha keras membuat sesuatu terlihat biasa.

“Biar kamu nggak nuduh sendok kabur lagi,” kata Youngjae.

Dohoon menerima gelas dengan dua tangan. Uap tipis naik, menyentuh wajahnya, membuat bulu matanya tampak lembap. “Sendok bisa aja kabur kalau tinggal sama kamu. Tiap hari dipaksa kerja lembur.”

Youngjae ingin tertawa. Ia sungguh ingin. Tapi ada sesuatu yang tertahan di dadanya, sesuatu yang terlalu berat untuk diangkat oleh candaan sepagi itu. Ia hanya tersenyum sambil membereskan potongan selotip di meja.

Dohoon meminum airnya seteguk, lalu menatap label yang belum ditempel itu. Matanya berhenti di nama Youngjae. Bukan lama, tapi cukup lama untuk membuat Youngjae kehilangan napas.

“Kamu ganti lagi tulisannya?” tanya Dohoon.

Youngjae diam sebentar. “Yang lama bikin kamu nggak nyaman.”

Dohoon menurunkan gelas. Ia tidak bertanya label yang mana. Ada hari-hari ketika Dohoon lupa letak kamar mandi, lupa tanggal ulang tahunnya sendiri, lupa bahwa ia sudah makan siang. Tetapi tubuhnya kadang masih menyimpan sisa rasa dari luka tertentu, seperti kulit yang tahu pernah terbakar meski tidak lagi ingat api.

“Aku jahat banget waktu itu, ya?”

“Nggak.”

“Aku nanya kenapa aku nggak bisa ingat caranya sayang sama kamu.” Dohoon tertawa kecil, tetapi tidak ada yang lucu dari suaranya. “Itu jahat.”

Youngjae menaruh gulungan selotip ke meja. Ia berjalan mendekat, berhenti di depan Dohoon, lalu merapikan ujung lengan sweter yang hampir masuk ke air hangat. Dulu, gerakan sekecil itu tidak perlu dipikirkan. Youngjae bisa menyentuh Dohoon kapan saja—mengacak rambutnya, mencolek pipinya, menariknya ke pelukan dari belakang saat Dohoon memasak, menyandarkan dagu di bahunya sambil mengeluh lapar. Sekarang, tiap sentuhan harus datang dengan pelan, dengan izin yang tidak selalu terucap, karena pada hari-hari buruk Dohoon, kasih sayang bisa terasa seperti penyergapan dari orang asing.

“Kamu takut,” kata Youngjae. “Orang takut suka ngomong hal yang tajam.”

“Terus kamu nggak takut?”

Youngjae menatap Dohoon. Dari sedekat ini, ia bisa melihat garis halus di bawah mata Dohoon, bisa melihat bibirnya yang sedikit pecah, bisa melihat semua bukti bahwa orang yang dicintainya masih di sini, berdiri di dapur mereka, memegang gelas air hangat, bernapas. Seharusnya itu cukup. Tetapi cinta manusia selalu rakus; ia ingin bukan hanya tubuh, melainkan ingatan, nama, sejarah, cara seseorang menoleh ketika dipanggil.

“Aku takut terus,” jawab Youngjae akhirnya. “Cuma aku lebih takut kalau kamu sendirian.”

Dohoon menunduk ke gelasnya. Lama. Di luar, hujan mengetuk kaca, pelan dan tidak sabar. Ketika Dohoon bicara lagi, suaranya lebih rendah.

“Kamu jangan jadi baik terus. Nanti aku nggak tahu harus marah ke siapa.”

Youngjae tersenyum, kali ini sungguhan walau kecil. “Marah ke aku juga boleh.”

“Nanti kamu nangis.”

“Enak aja.”

“Kamu tuh kalau nangis jelek.”

Youngjae tertawa pendek. “Kamu yang sakit, kenapa aku yang dihina?”

Dohoon ikut tersenyum, tetapi senyum itu perlahan lepas dari wajahnya ketika ia kembali menatap label-label di dapur. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya—bukan lupa, melainkan kesadaran yang datang terlalu penuh. Ia mengangkat tangan, menyentuh salah satu label di dekat kulkas dengan ujung jari.

“Sebanyak ini, ya?” bisiknya.

Youngjae tidak menjawab.

Karena jawaban yang benar adalah: belum. Belum sebanyak yang mungkin akan mereka butuhkan nanti.


 

Gejala pertama Dohoon datang sebagai lelucon.

Atau setidaknya, begitulah cara mereka menamainya supaya tidak terlalu takut.

Waktu itu awal musim panas. Apartemen mereka masih belum penuh label. Dindingnya masih bersih, pintu-pintunya masih bebas dari instruksi, meja makan masih sering dipakai untuk menumpuk majalah, kabel charger, bungkus camilan, dan piring bekas makan malam yang terlalu malas mereka cuci malam itu juga. Dohoon lupa menaruh dompetnya, lalu menemukannya di dalam freezer, terselip di antara sekantong pangsit beku dan es batu berbentuk bintang yang dulu ia beli karena menurutnya “air putih juga berhak punya estetika.”

Youngjae tertawa sampai duduk di lantai dapur. Dohoon, yang awalnya ikut tertawa, akhirnya melempar handuk kecil ke wajahnya.

“Jangan ketawa gitu. Aku lagi mikir keras.”

“Mikir apa sampai dompet masuk freezer?”

“Siapa tahu uangku butuh didinginkan. Panas lihat saldo.”

Mereka tertawa lagi. Malam itu, lupa masih terdengar seperti kebiasaan lucu orang yang terlalu banyak bekerja, terlalu banyak memikirkan hal kecil, terlalu sering tidur larut karena menonton video pendek sampai mata pedih. Youngjae mencatatnya dalam kepala sebagai cerita yang kelak bisa ia ungkit untuk menggoda Dohoon. Ia belum tahu bahwa suatu hari, ia akan merindukan jenis lupa yang masih bisa ditertawakan.

Lalu Dohoon lupa mematikan kompor.

Tidak lama. Hanya beberapa menit. Sup di panci belum sampai gosong, hanya mendidih terlalu keras sampai kuahnya meluap sedikit dan mengenai api. Youngjae yang sedang mandi mencium bau aneh, keluar dengan rambut basah dan handuk di leher, menemukan Dohoon berdiri di depan wastafel dengan wajah kosong. Bukan wajah orang panik. Justru itu yang membuat Youngjae lebih takut.

“Sayang?”

Dohoon menoleh pelan. Di tangannya ada spons cuci piring. Air mengalir dari keran, menabrak piring yang sudah bersih.

“Aku tadi mau ngapain?” tanyanya.

Youngjae mematikan kompor, mengecilkan napasnya sendiri, lalu berjalan ke wastafel untuk mematikan keran. “Masak sup.”

Dohoon melihat panci itu. Kedipan matanya lambat. “Oh.”

“Kamu capek?”

Dohoon tersenyum cepat, terlalu cepat. “Iya, mungkin. Belakangan jadwal padat banget, kan.”

Youngjae mengangguk karena waktu itu jawaban seperti itu masih masuk akal. Semua orang bisa lupa saat capek. Semua orang pernah kehilangan kunci yang sedang digenggam, mencari ponsel yang menempel di telinga, membuka kulkas lalu lupa ingin mengambil apa. Mereka memberi nama yang aman untuk hal-hal yang belum mereka pahami: lelah, stres, kurang tidur, terlalu banyak pikiran.

Tetapi Dohoon mulai berubah. Bukan menjadi orang lain, belum. Ia hanya menjadi versi dirinya yang lebih mudah terluka oleh dirinya sendiri. Lupa membuatnya marah. Marah membuatnya malu. Malu membuatnya menolak dibantu. Ada pagi ketika Youngjae mengingatkan bahwa Dohoon sudah minum vitamin, dan Dohoon menjawab terlalu tajam, “Aku masih bisa ingat obat sendiri.” Padahal lima menit kemudian ia bertanya, “Aku tadi udah minum belum?” Ada sore ketika Dohoon membeli tiga botol susu yang sama karena lupa sudah membelinya kemarin. Youngjae tidak berkata apa-apa, hanya menata semuanya di kulkas. Dohoon melihatnya dan tiba-tiba berkata, “Kalau mau ketawa, ketawa aja.”

Youngjae menutup pintu kulkas pelan. “Aku nggak mau ketawa.”

Dohoon menatapnya dengan mata merah. “Itu lebih ngeselin.”

Malam yang membuat Youngjae akhirnya berhenti mencari alasan datang pada hari Rabu.

Ia pulang kantor sedikit terlambat, membawa payung basah dan kantong makan malam dari restoran kecil dekat stasiun. Lampu apartemen mati. Bukan listrik padam; hanya belum dinyalakan. Dari ruang tengah, ia mendengar suara napas Dohoon yang tidak beraturan. Youngjae menaruh kantong makanan di meja dekat pintu, melepas sepatu tanpa suara, lalu berjalan masuk.

Dohoon berdiri di tengah ruang tengah, masih memakai pakaian rumah, satu tangan memegang remote AC, tangan lain menggenggam kunci laci meja. Rambutnya acak-acakan seperti habis ia tarik berkali-kali. Di lantai, beberapa bantal sofa jatuh. Selimut terseret sampai dekat rak buku. Pintu lemari kecil terbuka. Ruangan itu tampak seperti seseorang mencari sesuatu dengan panik, lalu lupa apa yang dicari, lalu panik karena lupa.

“Hoon,” panggil Youngjae pelan.

Dohoon menoleh. Wajahnya basah. Ia menangis tanpa suara, tetapi dadanya naik turun seperti baru selesai berlari jauh.

“Jangan lihat aku kayak gitu,” katanya.

Youngjae berhenti di dekat sofa. Tas kerjanya masih menggantung di bahu, tetesan air dari ujung celananya jatuh ke lantai kayu. Ia tidak bertanya kayak apa, karena ia tahu jawabannya: seperti orang yang iba. Seperti orang yang takut. Seperti orang yang sedang menyaksikan sesuatu retak tepat di depan matanya.

“Aku nggak lihat kamu kayak apa-apa.”

“Bohong.” Dohoon mengangkat remote AC, lalu menurunkannya lagi seakan benda itu tiba-tiba terlalu berat. “Mukamu tuh muka orang yang mau bilang sabar.”

Youngjae menarik napas. “Ya aku memang mau bilang sabar.”

“Aku nggak mau sabar.” Suara Dohoon naik, pecah, lalu runtuh. “Aku mau ingat.”

Kalimat itu membuat Youngjae tidak bergerak. Di luar, bunyi hujan di kanopi balkon terdengar seperti beras jatuh dari langit. Dohoon menunduk, menatap remote dan kunci di tangannya seolah dua benda itu baru saja mempermalukannya.

“Aku tahu ada yang harus kulakuin,” katanya, lebih pelan, lebih hancur. “Aku tahu. Dari tadi aku berdiri di sini karena aku tahu aku harus ngapain. Tapi aku nggak tahu apa. Aku buka laci, aku ambil kunci, aku nyalain AC, aku matiin lagi, aku ke dapur, terus balik ke sini. Aku tahu ada sesuatu, Youngjae. Rasanya ada di ujung kepala, tapi nggak bisa kupegang.”

Youngjae melepas tas dari bahunya dan menaruhnya di sofa. Ia mendekat perlahan, memberi Dohoon ruang untuk mundur. Dohoon tidak mundur, tetapi tubuhnya tegang seperti kawat.

“Boleh aku pegang?”

Dohoon menatapnya dengan marah yang lelah. “Kalau aku bilang nggak?”

“Aku duduk di lantai sampai kamu mau.”

Dohoon tertawa kecil, basah. “Bodoh.”

“Iya.”

“Kamu tuh selalu begini. Bikin susah orang mau marah.”

Youngjae tidak menjawab. Ia hanya berdiri di hadapan Dohoon sampai akhirnya Dohoon menyerah lebih dulu. Remote AC jatuh ke sofa. Kunci laci menyusul ke karpet dengan bunyi kecil. Lalu Dohoon melangkah maju dan menabrak dada Youngjae dengan seluruh berat tubuhnya yang gemetar.

Tangis Dohoon pecah di bahu Youngjae. Bukan tangis yang cantik. Bukan tangis yang sinematik. Ia sesenggukan seperti anak kecil yang terlalu lama menahan takut, jari-jarinya mencengkeram punggung kemeja Youngjae, napasnya putus-putus, dan berkali-kali ia mengucapkan kalimat yang sama: “Aku lupa, aku lupa, aku lupa.” Youngjae memeluknya erat, satu tangan di punggung Dohoon, satu tangan menahan kepala Dohoon agar tetap bersandar di bahunya. Ia tidak berkata tidak apa-apa. Malam itu, untuk pertama kalinya, Youngjae merasa kalimat itu tidak lagi pantas dipakai.

Mereka tidur larut. Makanan yang Youngjae bawa menjadi dingin di meja. Remote AC tetap di sofa. Kunci laci tetap di karpet. Mereka berbaring menghadap satu sama lain di kamar yang hanya diterangi lampu kecil dari meja samping, dan Youngjae memperhatikan wajah Dohoon lama-lama sebelum akhirnya berani membuka percakapan yang sejak berminggu-minggu ia hindari.

“Sayang,” panggilnya.

Dohoon sudah hampir tidur, tetapi matanya terbuka sedikit. “Hm?”

“Gimana kalau kita cek ke dokter?”

Seketika, kantuk di wajah Dohoon hilang. Ia menatap Youngjae, lalu menarik selimut sampai ke dada, bukan karena dingin, melainkan seperti seseorang yang tiba-tiba merasa perlu melindungi diri.

“Aku cuma capek.”

“Aku tahu kamu capek.”

“Kalau tahu, kenapa harus dokter?”

Youngjae menggeser tubuh lebih dekat, tetapi tidak menyentuh. “Karena capek yang bikin kamu nangis di ruang tengah sendirian itu harus kita cek.”

Dohoon menoleh ke langit-langit. Rahangnya mengeras. “Kita?”

“Iya. Kita.”

“Aku yang lupa. Kamu nggak.”

Youngjae diam. Di luar kamar, kulkas berdengung pelan. Cahaya lampu meja membuat bayangan bulu mata Dohoon jatuh ke pipinya, tipis dan rapuh.

“Aku nggak suka diperlakukan kayak orang sakit,” kata Dohoon.

“Aku tahu.”

“Bahkan kalau demam pun aku nggak suka kamu ribet.”

“Kamu kalau demam tetap nyuruh aku pegang jidatmu.”

“Itu beda. Aku cuma butuh bukti objektif kalau aku panas.”

Youngjae tersenyum kecil. Dohoon tidak membalasnya.

“Aku bukan nggak suka dokter,” lanjut Dohoon, suaranya turun, kehilangan tajamnya sedikit demi sedikit. “Aku cuma... aku takut. Begitu dokter ngomong sesuatu, semuanya jadi punya nama. Kalau punya nama, berarti nyata. Kalau nyata, berarti aku nggak bisa pura-pura ini cuma aku yang ceroboh atau kurang tidur.”

Youngjae akhirnya menyentuh tangannya di bawah selimut. Dohoon tidak menarik diri.

“Kita nggak harus langsung kuat,” kata Youngjae. “Kita cuma harus tahu dulu.”

Dohoon memejamkan mata. Lama sekali ia tidak bicara, sampai Youngjae mengira jawaban itu tidak akan datang malam ini. Tetapi kemudian ibu jari Dohoon bergerak pelan, mengusap buku jari Youngjae seperti isyarat kecil dari tempat yang terlalu gelap.

“Kalau nanti dokternya ngomong yang jelek,” bisiknya, “kamu jangan langsung pasang muka sedih.”

Youngjae menelan sesuatu yang pahit. “Aku usahakan.”

“Usahain beneran.”

“Iya.”

“Kalau kamu sedih, aku jadi pengin marah. Tapi nanti kamu baik banget, aku jadi nggak tega marah. Terus aku makin kesal.”

Youngjae tertawa pelan. “Kamu rumit.”

Dohoon membuka mata, menatapnya dengan sisa air mata yang belum kering. “Makanya kamu suka.”

Dan Youngjae, yang malam itu merasa dunia mulai miring di bawah ranjang mereka, hanya menggenggam tangan Dohoon lebih erat sambil menjawab, “Iya. Makanya aku suka.”


 

Diagnosis tidak jatuh seperti petir. Ia datang seperti musim hujan: mula-mula berupa mendung yang bisa disangkal, lalu gerimis yang mengganggu, lalu pada suatu hari seluruh jalan sudah banjir dan mereka terlambat mengangkat barang dari lantai.

Ruang praktik dokter berbau antiseptik dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Dohoon duduk sangat tegak di kursi, kedua tangan terlipat di pangkuan, wajahnya tenang dengan cara yang membuat Youngjae lebih takut daripada jika ia menangis. Di meja, dokter menunjukkan hasil pemeriksaan, menjelaskan dengan suara hati-hati tentang gangguan memori yang bersifat progresif, tentang pemantauan, terapi, kemungkinan penurunan, rutinitas, sistem pendukung, dan kata-kata lain yang terasa seperti benda logam jatuh satu per satu ke lantai.

Youngjae mendengar semuanya. Setidaknya ia mencoba. Ia mengangguk di tempat yang benar, mengajukan pertanyaan yang diperlukan, mencatat saran dokter di ponsel. Tetapi di bawah meja, tangannya menggenggam tangan Dohoon begitu erat hingga buku jarinya memutih. Dohoon tidak menggenggam balik. Ia hanya membiarkan tangan itu ada di sana, hangat dan tegang, seperti tali yang dilemparkan ke seseorang yang belum memutuskan apakah ia ingin diselamatkan.

Di lift rumah sakit, Dohoon akhirnya bicara.

“Aku benci, Youngjae.”

Youngjae menoleh. “Dokternya?”

Dohoon menggeleng. Pantulan wajah mereka kabur di pintu lift yang mengilap. “Nama penyakitnya.”

Youngjae tidak tahu harus berkata apa.

“Sekarang dia kedengaran lebih nyata dari aku,” lanjut Dohoon. Ia menatap angka lantai yang turun perlahan, seakan hidup mereka juga sedang dibawa turun ke tempat yang lebih rendah. “Sebelum punya nama, mungkin ini masih bisa jadi kebetulan. Sekarang kalau aku lupa, aku bukan cuma lupa. Aku gejala.”

Youngjae menutup mata sebentar. Ketika pintu lift terbuka, orang-orang menunggu di luar: seorang ibu membawa anak kecil, laki-laki tua dengan tongkat, perawat dengan map, hidup-hidup lain yang tidak tahu bahwa di dalam lift tadi ada dua orang yang baru saja kehilangan masa depan dengan cara yang sangat administratif.

Malam itu, Dohoon tidak menangis. Ia pulang, mandi, makan sedikit, lalu tidur lebih cepat dari biasanya. Youngjae duduk di ruang tengah sampai lewat tengah malam, membuka laptop, mencari informasi tentang negara yang menerima pernikahan sesama jenis untuk warga asing, syarat dokumen, kemungkinan cuti, biaya perjalanan, prosedur legalisasi, hak medis, surat kuasa, kontak darurat. Ia membuka satu folder lama yang berisi rancangan perjalanan mereka ke luar negeri—bukan untuk berobat, bukan untuk kabur dari apa pun, melainkan untuk menikah seperti dua orang yang percaya hidup masih panjang dan bisa dirapikan dengan tiket pulang-pergi.

Dohoon pernah bercanda soal itu sambil makan mi instan dari panci yang sama.

“Lucu kali ya kalau kita punya surat nikah yang nggak bisa dibaca tetangga sebelah.”

Youngjae waktu itu tertawa. “Kenapa harus nggak bisa dibaca?”

“Biar kalau ada yang kepo, kita bilang aja itu sertifikat kursus masak.”

Mereka tertawa sampai kuah mi hampir tumpah ke meja. Tapi setelah Dohoon tidur malam itu, Youngjae benar-benar mencari tahu. Ia bukan tipe yang mencintai dengan kejutan besar dan kalimat manis setiap hari. Youngjae mencintai dalam bentuk jadwal cuti, tabungan, dokumen yang disusun rapi, nomor darurat, stok obat di laci, payung lipat di tas Dohoon, dan rencana masa depan yang diam-diam ia bangun sebelum Dohoon sempat memintanya.

Cincin itu ia beli dua minggu sebelum diagnosis.

Sederhana. Tidak mencolok. Permukaannya halus, bagian dalamnya diukir kecil dengan tanggal liburan pertama mereka ke luar negeri—tanggal ketika Dohoon berdiri di Furuzamami, air laut sampai mata kaki, dan berteriak kepada Youngjae bahwa pasir adalah konsep mengganggu yang diciptakan semesta untuk menyiksa orang perfeksionis. Youngjae menyimpan cincin itu di laci meja kerja, di dalam kotak hitam kecil. Ia berencana melamar saat ulang tahun Dohoon berikutnya. Atau mungkin lebih cepat, kalau keberaniannya datang. Ia ingin bertanya dengan bahagia. Ia ingin Dohoon menjawab dengan kesal karena menangis duluan.

Lalu dokter memberi nama pada sesuatu yang mereka takutkan, dan cincin itu berubah bentuk tanpa bergerak sama sekali.

Dulu, Youngjae ingin melamar karena cinta. Setelah diagnosis, ia ingin melamar karena takut. Dan justru di situlah ia berhenti. Ia takut Dohoon akan melihatnya bukan sebagai janji, melainkan sebagai langkah darurat. Bukan aku memilih kamu, melainkan aku harus mengamankanmu sebelum kamu hilang lebih jauh. Cincin yang diberikan karena cinta dan cincin yang diberikan karena panik bisa berkilau dengan cara yang sama di bawah lampu, tetapi Youngjae tahu Dohoon akan bisa membedakan beratnya.

Dan Dohoon memang menemukannya suatu sore.

Ia sedang mencari charger di laci meja kerja Youngjae ketika kotak itu tergeser keluar. Youngjae baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, dan ia berhenti di ambang kamar saat melihat Dohoon duduk di kursi kerjanya dengan kotak cincin terbuka di tangan.

“Ini buat siapa?” tanya Dohoon.

Pertanyaan itu seharusnya mudah. Dua kata saja. Buat kamu. Tetapi Dohoon bertanya dengan wajah yang benar-benar tidak tahu; bukan menggoda, bukan pura-pura polos, bukan menahan senyum. Ia menatap cincin itu seperti benda asing yang cantik, lalu menatap Youngjae seolah menunggu penjelasan yang tidak terlalu membebani siapa pun.

Youngjae menggenggam handuk di tangannya sampai kainnya kusut. “Buat kamu.”

Dohoon melihat cincin itu lagi. Lama. Terlalu lama. “Aku pernah tahu?”

“Belum.”

“Kamu mau ngasih ini kapan?”

Youngjae bersandar ke kusen pintu karena mendadak ia tidak yakin kakinya cukup kuat. “Dulu.”

Satu kata itu membuat wajah Dohoon berubah sedikit. Dulu. Seakan masa depan mereka sudah diam-diam dipindahkan ke rak masa lalu tanpa minta izin.

“Kenapa nggak jadi?”

Youngjae tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut. “Karena aku takut kamu kira aku melamar penyakitmu, bukan kamu.”

Dohoon menutup kotak itu pelan-pelan. Suara klik-nya kecil sekali, tapi Youngjae merasa ada sesuatu di ruangan itu yang patah dan tidak akan bisa direkatkan lagi.

“Aku bakal marah kalau kamu ngelamar karena takut,” kata Dohoon.

“Aku tahu.”

“Tapi aku mungkin bakal sedih kalau kamu nggak pernah ngelamar karena takut aku marah.”

Youngjae tertawa tanpa suara. “Kamu rumit banget.”

Dohoon menatap kotak kecil itu, lalu mengusap permukaannya dengan ibu jari. “Aku tahu.” Ada senyum tipis di wajahnya, sedih dan cantik dengan cara yang tidak adil. “Makanya kamu suka.”

Youngjae tidak pernah memindahkan cincin itu dari laci meja kerja. Kotaknya tetap di sana, berdampingan dengan label pertama yang sudah dicabut, hasil pemeriksaan yang dilipat rapi, dan sisa-sisa rencana perjalanan yang tidak lagi berani mereka buka. Kadang Youngjae membukanya ketika Dohoon tidur. Ia tidak menangis setiap kali. Beberapa malam, ia hanya duduk, menatap cincin itu, dan merasa seperti seseorang yang membeli tiket menuju kota yang sudah tidak ada di peta.


 

Lagu itu diputar pada sore ketika hujan kembali turun.

Speaker kecil di ruang tengah mengeluarkan suara piano yang agak pecah di nada tinggi. Lagu lama, terlalu lama untuk tangga lagu, terlalu baru untuk disebut klasik, tetapi bagi mereka ia selalu menjadi bunyi dari sesuatu yang pernah mudah. Dohoon duduk di sofa dengan selimut di pangkuan, menatap jendela. Youngjae melipat pakaian di karpet, satu telinga memperhatikan musik, satu telinga lain diam-diam mendengarkan napas Dohoon.

“Lagu ini...” Dohoon memiringkan kepala. Dahinya berkerut. “Aku tahu.”

Youngjae berhenti melipat kaus. Ia tidak menoleh langsung, takut gerakannya membuat ingatan itu kabur seperti burung yang terkejut.

“Kamu tahu?”

Dohoon mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke lutut, mencoba mengikuti irama. “Tahu. Tapi nggak tahu dari mana.”

Youngjae meletakkan kaus yang setengah terlipat. “Kita pernah dengar di jalan pulang dari pantai.”

“Pantai?”

“Zamami. Okinawa.”

Dohoon diam. Matanya menyipit sedikit, mencari sebuah pintu di dalam kepalanya. Youngjae bisa melihat proses itu terjadi di wajahnya: mula-mula penasaran, lalu tegang, lalu frustrasi yang ditelan cepat-cepat. Dohoon menunduk, menggigit bagian dalam pipinya.

“Aku suka pantai?”

Youngjae duduk di lantai, menyandarkan punggung ke kaki sofa. “Kamu bilang nggak suka. Katanya pasir itu konsep mengganggu.”

Dohoon tersenyum kecil. “Kedengarannya kayak aku.”

“Iya. Sangat kamu.”

“Tapi aku pergi?”

“Kamu yang paling lama berdiri di air.”

Lagu memasuki chorus. Sore turun di apartemen mereka dengan warna yang tipis dan murung. Dohoon menyentuh rambut Youngjae dari belakang, hanya dengan ujung jari, seakan memastikan orang di depannya nyata. Youngjae memejamkan mata sesaat. Tubuhnya mengenal sentuhan itu sebelum kepalanya sempat sedih.

“Aku bahagia?” tanya Dohoon.

Youngjae menatap pantulan mereka di layar televisi yang mati. Di sana, Dohoon tampak seperti bayangan yang sedang duduk di sofa, dirinya seperti seseorang yang berjaga di lantai, dan hujan di kaca menjadi garis-garis panjang yang membelah dunia luar dari dunia kecil mereka.

“Kamu bahagia,” jawab Youngjae.

“Kelihatan?”

“Kelihatan banget.”

“Terus kamu?”

Youngjae menoleh sedikit. Dohoon menatapnya dengan sungguh-sungguh, seolah jawaban itu lebih penting daripada pantai, lagu, atau ingatan apa pun yang gagal ia tarik dari kabut. Youngjae ingin berkata bahwa ia juga bahagia. Tetapi ada bagian dari dirinya yang tahu kebenarannya lebih rumit.

“Aku bahagia karena kamu bahagia,” katanya.

Dohoon menatapnya lama, lalu menghela napas. Jarinya turun dari rambut Youngjae ke bahunya. Tidak ada lagi yang mereka katakan sampai lagu selesai.

Malamnya, Youngjae memasak sup rumput laut.

Dohoon duduk di meja makan, mengaduk supnya pelan-pelan, memperhatikan potongan daun hijau tua yang berputar di mangkuk seperti sesuatu yang pernah ia tahu namanya. Uap naik di antara mereka, hangat, asin, dan akrab. Di luar, hujan membuat jendela terlihat seperti kaca kamar mandi setelah seseorang menangis lama di dalamnya.

“Ini ulang tahunku?” tanya Dohoon tiba-tiba.

Youngjae yang sedang mengambil nasi berhenti. Ia menatap punggung tangannya sendiri, lalu kembali bergerak, merapikan nasi di piring Dohoon dengan sendok.

“Bukan.”

“Oh.” Dohoon tertawa kecil, malu. “Sup ini biasanya buat ulang tahun, kan?”

“Iya. Tapi boleh juga buat hari biasa.”

“Ulang tahunku kapan?”

“Tiga puluh Januari.”

Dohoon mengulang tanggal itu pelan, seperti anak sekolah mengeja jawaban ujian yang takut salah. “Tiga puluh Januari.”

“Iya.”

“Kalau kamu?”

“Tiga puluh satu Mei.”

“Tiga puluh satu Mei.” Dohoon mengangguk, lalu menyuap sup. “Aku pernah kasih kamu kado bagus?”

Youngjae menunduk ke mangkuknya sendiri. “Kamu pernah kasih aku gantungan kunci kura-kura karena katanya aku lambat kalau balas chat.”

Dohoon tertawa. “Itu bagus?”

“Menurut kamu, iya.”

“Menurut kamu?”

“Menurut aku kamu nyebelin.”

Dohoon tersenyum sambil mengunyah. Ada kilas kecil di wajahnya, seperti matahari yang lolos sebentar dari awan. Youngjae memandanginya terlalu lama, menyimpan tiap detail seakan diam-diam ia sedang menggantikan ingatan Dohoon dengan ingatannya sendiri.

“Kalau kita sering bertengkar,” kata Dohoon, “aku biasanya menang atau kalah?”

“Kamu nggak pernah kalah karena kamu nggak pernah merasa kalah.”

“Jadi aku menyebalkan?”

“Sedikit.”

“Sedikit?”

“Banyak, tapi aku sayang.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Terlalu biasa untuk luka sebesar ini. Dohoon berhenti mengunyah. Youngjae juga berhenti bergerak. Mereka saling menatap di bawah lampu meja makan, di antara mangkuk sup dan piring nasi, di tengah rumah yang sekarang penuh instruksi agar Dohoon tidak tersesat terlalu jauh.

Dohoon menunduk lebih dulu.

“Aku suka kalau kamu bilang begitu,” katanya lirih. “Walaupun kadang aku nggak tahu harus menaruhnya di mana.”

Youngjae tidak sanggup menghabiskan supnya setelah itu.


 

Furuzamami dulu begitu biru sampai Dohoon berkata lautnya tampak tidak bertanggung jawab.

“Serius,” katanya, berdiri di pasir putih dengan sandal di satu tangan dan topi jerami yang ia beli lima menit sebelumnya di kepala. “Biru kayak gini tuh sombong. Kita harus gimana coba? Merasa kecil? Menangis? Bikin caption panjang?”

Youngjae, yang sedang membetulkan tali tas kamera, mengangkat alis. “Kamu bisa mulai dengan berhenti mengeluh.”

“Aku nggak mengeluh. Aku sedang mengkritisi alam.”

“Kamu bilang pasir masuk sandal tiap tiga langkah.”

“Karena itu fakta.”

Mereka tertawa, muda dan asin oleh angin laut. Liburan pertama mereka ke luar negeri tidak mewah. Tiketnya dibeli setelah menghitung cuti dan tabungan tiga kali, penginapannya kecil dengan AC yang terlalu dingin dan handuk yang tidak cukup lembut, jadwal ferry membuat mereka hampir bertengkar di pelabuhan karena Dohoon yakin Youngjae terlalu santai, sementara Youngjae yakin Dohoon terlalu percaya pada kemampuan alam semesta untuk membuat mereka terlambat. Tetapi begitu mereka sampai di pantai, semua kekacauan perjalanan seperti menguap dari tubuh Dohoon. Ia berjalan ke air dengan celana digulung sampai betis, mulutnya masih mengomel tentang pasir, tetapi wajahnya terbuka oleh bahagia yang tidak ia sembunyikan dengan cukup cepat.

Youngjae mengambil foto punggungnya.

Dohoon menoleh tepat saat kamera berbunyi. “Jangan ambil foto jelek!”

“Nggak jelek.”

“Kamu belum lihat.”

“Kamu kelihatan bahagia.”

Kalimat itu membuat Dohoon diam. Angin mengangkat rambutnya. Air menyentuh pergelangan kakinya, lalu mundur lagi, meninggalkan kilau tipis di kulitnya. Ia menatap Youngjae dari kejauhan, dan untuk beberapa detik, pantai yang ramai terasa seperti mengosongkan ruang untuk mereka berdua saja.

“Aku memang bahagia,” kata Dohoon akhirnya, tidak keras, tetapi cukup sampai.

Youngjae menurunkan kamera. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak meminta nama. Waktu itu, ia mengira masa depan adalah benda yang bisa disusun pelan-pelan: satu perjalanan, satu tabungan, satu apartemen, satu cincin, satu pagi ketika Dohoon bangun dengan rambut berantakan dan berkata bahwa ia lapar. Ia belum tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dicegah bahkan dengan cinta paling teliti sekalipun.

Sore itu mereka duduk di bawah payung pantai, berbagi minuman dingin yang terlalu manis. Dohoon menyandarkan kepala di bahu Youngjae sambil mengeluh kulitnya lengket garam, tetapi menolak kembali ke penginapan karena langit sedang berubah warna. Youngjae membiarkan bahunya menjadi tempat Dohoon menaruh seluruh berat tubuhnya. Di depan mereka, laut memantulkan matahari seperti serpihan kaca yang tidak melukai. Di belakang mereka, orang-orang bicara dalam bahasa yang bercampur dengan tawa, bunyi kamera, langkah anak kecil, suara ombak yang datang dan pergi tanpa perlu diingatkan untuk pulang.

“Aku pengin ingat ini,” kata Dohoon tiba-tiba.

Youngjae menoleh. “Apa?”

“Ini.” Dohoon menggerakkan tangan malas ke arah laut, langit, kaki mereka yang penuh pasir, botol minuman yang hampir kosong, dan bahu Youngjae yang menjadi bantalnya. “Bukan cuma fotonya. Rasanya juga.”

Youngjae menatapnya. “Kamu bakal ingat.”

Dohoon mendengus. “Kok yakin?”

“Karena kamu yang paling dramatis kalau bahagia.”

Dohoon mencubit pinggangnya. Youngjae tertawa dan hampir menumpahkan minuman. Mereka bergulat kecil di bawah payung, saling menyalahkan, saling tertawa, sampai Dohoon akhirnya menyembunyikan wajah di bahu Youngjae karena malu dilihat turis lain. Youngjae mencium puncak kepalanya, singkat, seperti tanda baca di akhir kalimat yang terlalu penuh.

Malamnya, di kamar penginapan kecil, lagu itu diputar dari ponsel Youngjae dengan volume rendah, seolah bahkan musik pun tahu ia sedang berada di ruang yang terlalu intim untuk bersuara keras. Jendela terbuka sedikit. Dari luar terdengar laut yang sudah tidak lagi biru, hanya gelap dan bernapas jauh di balik barisan pohon. AC kamar terlalu dingin, tetapi Dohoon menolak mematikannya karena katanya ia butuh alasan yang sah untuk mencuri hoodie Youngjae. Rambutnya masih lembap setelah mandi, jatuh berantakan ke dahi, sementara kulitnya menyimpan aroma sabun hotel, matahari, dan garam yang tidak sepenuhnya hilang dari sore tadi. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggosok rambut dengan handuk, mengeluh bahwa Youngjae terlalu banyak mengambil foto punggungnya.

“Karena punggungmu bagus,” kata Youngjae dari dekat meja kecil, suaranya tenang, tetapi matanya tidak.

Dohoon berhenti menggosok rambut. Handuk putih menggantung di kedua tangannya. Ia menoleh dengan satu alis terangkat, setengah mengejek, setengah tertangkap basah oleh cara Youngjae menatapnya. “Itu pujian apa alasan kriminal?”

“Pujian.”

“Kamu aneh.”

“Tapi kamu suka.”

Dohoon melempar handuk ke wajahnya. Youngjae menangkapnya sambil tertawa, lalu berjalan mendekat. Tidak ada yang terburu-buru malam itu. Mereka sudah memiliki seluruh malam, atau setidaknya waktu itu mereka percaya begitu. Youngjae berhenti di depan Dohoon, berdiri di antara kedua lututnya yang terbuka malas di tepi ranjang. Dohoon mendongak, masih dengan wajah menantang yang selalu ia pakai ketika tahu Youngjae sedang menahan diri terlalu keras. Lampu kuning dari meja samping jatuh di garis rahangnya, di lehernya, di tulang selangka yang muncul sedikit dari kaus longgar, membuat Dohoon terlihat seperti sesuatu yang tidak sengaja ditemukan Youngjae di tepi dunia: indah, asin, hidup, dan terlalu mungkin hilang kalau disentuh sembarangan.

Youngjae mengangkat tangan, menyentuh ujung rambut Dohoon yang masih basah. “Dingin.”

“Terus?”

“Nanti sakit.”

“Aku nggak selemah itu.”

“Aku tahu.” Youngjae menunduk sedikit, ibu jarinya turun dari rambut ke pelipis Dohoon, lalu ke pipinya. “Kamu cuma paling bawel kalau sakit.”

Dohoon mendengus, tetapi tidak menyingkir. Justru pipinya bergerak pelan mengikuti telapak tangan Youngjae, seperti tubuhnya memilih jujur ketika mulutnya terlalu sibuk mempertahankan gengsi. Youngjae melihat itu. Tentu saja Youngjae melihat itu. Ia selalu melihat hal-hal kecil yang Dohoon kira berhasil ia sembunyikan: napas yang berubah saat disentuh, mata yang jatuh ke bibir Youngjae setengah detik terlalu lama, jari yang diam-diam meremas seprai ketika Youngjae berdiri terlalu dekat.

“Kalau cuma lihat terus,” gumam Dohoon, suaranya turun sedikit, “aku bisa tidur duluan.”

Youngjae tersenyum. “Boleh aku cium?”

Dohoon memutar mata, tetapi lehernya sudah memerah. “Sok sopan.”

“Jawab dulu.”

Ada jeda pendek. Di luar, ombak memecah jauh, berulang, seperti sesuatu yang sabar mengikis batu. Dohoon menatap Youngjae, dan keberaniannya kali ini tidak datang sebagai tantangan, melainkan sebagai penyerahan kecil yang ia bungkus dengan nada kesal.

“Boleh,” katanya. “Tapi jangan setengah-setengah.”

Youngjae menunduk dan mencium Dohoon.

Awalnya pelan, nyaris terlalu lembut untuk kalimat Dohoon barusan. Youngjae mencium bibirnya seperti mengecek suhu air sebelum masuk lebih jauh, seperti memastikan Dohoon benar-benar di sana, benar-benar mau, benar-benar membuka ruang untuknya. Dohoon bertahan tiga detik sebelum tangannya naik ke dada Youngjae, meremas kausnya, menariknya lebih dekat dengan kesal yang gemetar. Ciuman itu berubah. Tidak meledak, tetapi menebal; seperti langit sore yang pelan-pelan menjadi malam. Youngjae melangkah maju sampai lutut Dohoon menyentuh sisi tubuhnya, sampai Dohoon harus sedikit mendongak untuk mengikuti mulutnya, sampai napas mereka bercampur dan lagu di ponsel terdengar makin jauh, makin tidak penting.

Youngjae menahan rahang Dohoon dengan satu tangan, ibu jarinya bergerak di bawah telinga, sementara tangan lain bertumpu di ranjang. Dohoon mengeluarkan suara kecil yang langsung ia telan sendiri, seolah malu tubuhnya lebih cepat mengaku daripada lidahnya. Youngjae tersenyum di sela ciuman.

“Jangan ditahan.”

Dohoon membuka mata sedikit. Tatapannya buram, kesal, dan panas. “Kamu nyebelin kalau mulai sok tahu.”

“Aku memang tahu.”

“Tahu apa?”

Youngjae tidak langsung menjawab. Ia menunduk ke leher Dohoon, mencium kulit di bawah rahangnya, pelan dulu, lalu lebih dalam ketika Dohoon refleks memiringkan kepala, memberi ruang yang tadi tidak ia akui ia berikan. “Tahu kamu suka kalau aku yang pimpin.”

Dohoon memaki pelan, nyaris tidak berbentuk kata. Tangannya mencengkeram bahu Youngjae. “Jangan ngomong gitu kalau kamu masih berdiri.”

Ada tawa rendah di dada Youngjae, hangat dan gelap. Ia mendorong Dohoon pelan, bukan memaksa, hanya memberi arah. Dohoon mengikuti. Punggungnya jatuh ke kasur dengan bunyi lembut, rambutnya menyebar di bantal, kausnya tertarik sedikit hingga memperlihatkan kulit pinggang yang masih menyimpan sisa matahari. Youngjae berada di atasnya, satu lengan menahan beban di samping kepala Dohoon, tubuhnya menutup cahaya lampu sebagian, membuat wajah Dohoon berada dalam bayangan tipis yang bergerak setiap kali Youngjae bernapas.

Dohoon menatapnya dari bawah. Semua tajamnya masih ada, tetapi kini tajam itu dikelilingi sesuatu yang lebih lunak, lebih berbahaya: percaya. Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Youngjae, menelusuri alisnya dengan ibu jari, lalu berhenti di sudut bibirnya.

“Kalau kamu begini,” bisik Dohoon, “aku jadi susah pura-pura biasa.”

Youngjae mencium telapak tangannya. “Nggak usah pura-pura.”

“Gampang banget ngomongnya.”

“Karena kamu di bawahku. Susah kabur.”

Dohoon tertawa pendek, tetapi tawanya berubah menjadi tarikan napas ketika Youngjae kembali mencium lehernya. Kali ini lebih rendah. Lebih pelan. Lebih tahu. Youngjae mencintai Dohoon seperti seseorang membaca ulang surat yang sudah hafal, tetapi tetap takut melewatkan satu kata. Ia tahu bagian mana yang membuat Dohoon geli, bagian mana yang membuat Dohoon menahan napas, bagian mana yang membuat Dohoon meremas seprai dan pura-pura marah karena tubuhnya terlalu mudah dibujuk. Ia membuka setiap jarak dengan sabar: kaus yang terangkat, kulit yang bertemu udara dingin, napas Dohoon yang patah saat Youngjae mencium dadanya, jari-jari Dohoon yang masuk ke rambut Youngjae untuk menahan sekaligus menarik lebih dekat.

“Youngjae.”

Nama itu keluar utuh. Tidak ada jeda. Tidak ada ragu. Tidak perlu label. Tidak perlu ditulis di lemari. Malam itu, nama Youngjae masih menjadi sesuatu yang tinggal dengan aman di mulut Dohoon.

Youngjae berhenti sebentar, mengangkat wajah. “Hm?”

Dohoon menatapnya, pipinya merah, matanya basah oleh sesuatu yang bukan sedih. “Jangan pelan-pelan banget.”

Youngjae menatapnya lama. “Yakin?”

Dohoon menggeser lututnya, memberi Youngjae tempat yang lebih jelas di antara tubuhnya. Gerakan itu kecil, tetapi artinya tidak. Seluruh tubuh Youngjae terasa menegang, bukan oleh terburu-buru, melainkan oleh kesadaran bahwa Dohoon sedang memilihnya dengan sadar, dengan penuh, dengan cara yang tidak bisa disalahartikan. Dohoon menyadari perubahan itu, lalu tersenyum tipis, masih sempat sombong bahkan ketika napasnya tidak sepenuhnya rapi.

“Jangan bikin aku ngomong dua kali.”

Youngjae menunduk, mencium bibirnya sekali, dalam dan lama, lalu berbisik di sana, “Kalau mau berhenti, bilang.”

Dohoon mengangguk. “Aku tahu.”

“Kalau sakit, bilang.”

“Aku tahu.”

“Kalau—”

Dohoon menarik wajah Youngjae dengan kedua tangan dan mencium kalimat berikutnya sampai hilang. Youngjae menyerah sambil tertawa kecil, tetapi setelah itu tidak ada lagi yang terasa main-main. Semua menjadi lebih dekat, lebih panas, lebih berat oleh napas yang bertumpuk. Kamar kecil itu menyempit sampai hanya tersisa ranjang, lagu yang mengulang chorus, laut di luar jendela, dan tubuh Dohoon yang perlahan belajar menerima ritme Youngjae dengan kepercayaan yang membuat Youngjae hampir takut pada kebahagiaannya sendiri.

Youngjae tidak mengambil Dohoon dengan tergesa. Ia menuntunnya. Membaca setiap perubahan di wajahnya, setiap kerutan dahi, setiap suara kecil yang lolos ketika jarak terakhir di antara mereka mulai hilang. Dohoon, yang siang tadi masih mengkritisi alam dan mengeluh tentang pasir, kini terbaring di bawahnya dengan tangan mencengkeram seprai, mata terpejam, bibir terbuka untuk napas yang tidak lagi bisa ia susun rapi. Ada saat ketika tubuhnya menegang, dan Youngjae langsung berhenti, menahan diri dengan seluruh kekuatan yang terasa menyakitkan.

“Hoon?”

Dohoon membuka mata. Beberapa detik pertama ia hanya bernapas, lalu tangannya naik ke tengkuk Youngjae, menariknya turun sampai dahi mereka bersentuhan.

“Jangan pergi jauh,” bisiknya.

Youngjae merasa dadanya diremas dari dalam. “Aku di sini.”

“Beneran di sini.”

“Iya.” Youngjae mencium sudut matanya, pipinya, bibirnya. “Aku di sini.”

Dohoon mengangguk kecil. Setelah itu, ia yang bergerak lebih dulu, pelan, memberi izin yang tidak lagi perlu diterjemahkan. Youngjae mengikuti. Malam bergeser di sekitar mereka, lembap dan hangat meski AC terlalu dingin. Youngjae tetap di atasnya, menahan tubuhnya agar tidak menimpa Dohoon sepenuhnya, tetapi cukup dekat untuk membuat Dohoon merasa dilingkupi. Dohoon membuka diri dengan cara yang membuat semua leluconnya tanggal satu per satu, sampai yang tersisa hanya suara napas, nama Youngjae, dan kepercayaan yang begitu telanjang hingga terasa lebih intim daripada kulit.

“Youngjae,” panggil Dohoon lagi, kali ini lebih patah.

Youngjae menjawab bukan dengan kata, melainkan dengan mencium lehernya, merapatkan genggaman mereka di samping kepala Dohoon, dan bergerak dalam ritme yang pelan-pelan menemukan mereka berdua. Tidak ada yang kasar. Tidak ada yang tergesa. Tetapi panasnya naik seperti air pasang, diam-diam memenuhi seluruh kamar sampai tidak ada sudut yang tersisa untuk berpura-pura. Dohoon menahan wajahnya di bahu Youngjae, menggigit kain kaus yang masih melekat setengah di tubuh Youngjae ketika suara-suara kecilnya mulai terlalu jujur. Youngjae menunduk ke telinganya, suaranya rendah, pecah oleh kendali yang nyaris habis.

“Kamu indah banget kalau percaya sama aku.”

Dohoon mengeluarkan tawa kecil yang langsung berubah menjadi desah tertahan. “Jangan... ahh... jangan ngomong cantik-cantik sekarang.”

“Kenapa?”

“Aku bisa kalah.”

Youngjae mencium pelipisnya. “Kamu nggak harus menang terus.”

Dohoon membuka mata, menatapnya dari bawah dengan wajah yang sudah tidak punya cukup tenaga untuk sombong. Untuk beberapa detik, tidak ada penyakit, tidak ada masa depan yang menunggu dengan pisau, tidak ada label, tidak ada dokter, tidak ada cincin yang kelak tertinggal di laci. Hanya Dohoon yang memilih untuk percaya, dan Youngjae yang memimpin dengan kelembutan yang hampir membuatnya hancur sendiri. Hanya dua orang yang saling mencintai dalam sebuah kamar kecil di pulau asing, tidak tahu bahwa suatu hari ingatan akan menjadi barang paling mahal yang tidak bisa mereka beli kembali.

Ketika malam akhirnya membawa mereka ke tempat paling sunyi, Dohoon menutup wajah di leher Youngjae. Tubuhnya gemetar halus, napasnya pecah, tangannya menggenggam Youngjae seperti seseorang yang menahan diri agar tidak hanyut terlalu jauh. Youngjae tetap di sana, memeluknya melalui seluruh gelombang itu, mencium rambutnya, pundaknya, setiap bagian yang bisa ia capai, seolah sedang menaruh penanda-penanda kecil di tubuh Dohoon: di sini aku pernah mencintaimu, di sini kamu pernah memanggil namaku, di sini kita pernah utuh.

Lama setelah lagu berhenti, mereka masih berbaring saling melekat di bawah selimut kusut. Laut tetap terdengar dari luar, lebih pelan sekarang, atau mungkin tubuh mereka yang terlalu lelah untuk mendengar dunia dengan jelas. Dohoon berbaring miring, punggungnya menempel ke dada Youngjae, sementara Youngjae memeluknya dari belakang dan mengusap perutnya dengan gerakan malas. AC masih terlalu dingin. Kulit Dohoon hangat. Di dekat bantal, napas mereka berdua pelan-pelan kembali menjadi sesuatu yang manusiawi.

“Kamu senang?” tanya Youngjae, suaranya serak di tengkuk Dohoon.

Dohoon, yang matanya sudah hampir terpejam, mendengus pelan. “Pertanyaan bodoh.”

“Aku butuh jawaban objektif.”

Dohoon tersenyum samar. Tangannya mencari tangan Youngjae di pinggangnya, lalu menggenggamnya. “Aku senang.”

Youngjae mencium bahunya. “Sakit?”

“Enggak.”

“Capek?”

“Sedikit.”

“Marah?”

“Karena kamu terlalu banyak nanya, iya.”

Youngjae tertawa tanpa suara, menempelkan senyumnya di kulit Dohoon. Dohoon ikut tertawa kecil, lalu diam lagi. Beberapa saat kemudian, ia memutar tubuhnya pelan hingga menghadap Youngjae. Matanya mengantuk, tetapi masih menyala oleh sisa bahagia yang lembut. Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Youngjae seperti ingin menghafalnya dari dekat.

“Youngjae, aku beneran mau ingat ini,” katanya.

Youngjae menahan napas.

“Bukan cuma pantainya,” lanjut Dohoon, suaranya semakin pelan. “Ini juga. Kamar jelek ini. AC yang terlalu dingin. Lagu kamu yang sok mellow. Kamu yang cerewet banget padahal lagi...” Ia berhenti, tertawa malu, lalu menyembunyikan wajah sebentar di dada Youngjae. “Pokoknya kamu.”

Youngjae merapikan rambut dari dahi Dohoon. “Kamu bakal ingat.”

Dohoon menatapnya. “Kok yakin?”

Karena waktu itu Youngjae belum tahu apa-apa, ia menjawab dengan mudah. Terlalu mudah.

“Karena aku bakal ingat juga. Jadi kalau kamu lupa, aku ceritain.”

Dohoon tersenyum, puas dengan jawaban itu. Ia merapat lagi, menyelipkan wajah ke ceruk leher Youngjae. “Deal.”

Malam itu, Youngjae mengira kalimat tersebut hanya janji kecil sepasang kekasih setelah bercinta di kamar penginapan yang terlalu dingin. Ia belum tahu bahwa kelak janji itu akan menjadi pekerjaan seumur hidup. Ia belum tahu bahwa suatu hari Dohoon benar-benar akan lupa, dan Youngjae harus menceritakan kembali malam ini kepada seseorang yang mendengarkan dengan sopan seperti orang asing mendengar kisah cinta milik orang lain.

Maka Youngjae memeluk Dohoon lebih erat, tanpa tahu ia sedang memeluk sebuah kenangan sebelum kenangan itu mulai belajar pergi.

Youngjae belum tahu bahwa tubuh akan mengingat lebih lama daripada kepala. Ia belum tahu bahwa kelak ia akan mengenal Dohoon sampai ke tulang, sementara Dohoon menatapnya seperti pintu yang salah. Ia belum tahu bahwa suatu hari, lagu dari kamar penginapan itu akan diputar di ruang tengah apartemen, dan Dohoon hanya akan berkata, aku tahu, tapi nggak tahu dari mana.

Pagi setelahnya, Dohoon berdiri lagi di pantai sebelum mereka pulang. Ia menulis sesuatu di pasir dengan jari kaki, lalu tertawa sendiri karena ombak segera menghapusnya.

“Kamu tulis apa?” tanya Youngjae.

Dohoon mengangkat bahu, sok misterius. “Rahasia.”

“Bilang.”

“Nggak mau.”

Youngjae memotret jejak yang hampir hilang itu, tetapi fotonya buram, tulisannya tidak terbaca. Bertahun-tahun kemudian, ketika Dohoon mulai lupa, Youngjae akan membuka foto itu berulang kali, memperbesar sampai layar ponselnya pecah oleh piksel, mencoba menebak kata apa yang pernah Dohoon tinggalkan di pasir sebelum laut mengambilnya.

Ia tidak pernah tahu.

Dan mungkin itulah bentuk kehilangan paling awal yang mereka abaikan: laut sudah menghapus sesuatu dari Dohoon, jauh sebelum penyakit itu punya nama.


 

Dohoon lupa gedung apartemen mereka di bawah lampu minimarket.

Malam itu hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, lampu kendaraan memanjang di aspal seperti luka yang diberi warna. Youngjae sedang memilih apel di rak buah ketika ia menyadari Dohoon tidak lagi berdiri di sampingnya. Awalnya ia tidak panik. Dohoon mungkin pindah ke lorong minuman. Dohoon mungkin sedang mempertimbangkan yoghurt rasa apa yang ingin ia benci minggu ini. Dohoon mungkin terdistraksi oleh rak camilan diskon, sebagaimana Dohoon selalu terdistraksi oleh apa pun yang ditempeli angka merah.

Lalu Youngjae melihat keranjang belanja mereka tergeletak di dekat rak roti. Di dalamnya ada sekotak susu, dua bungkus mi, dan permen mint yang dulu mereka beli di Okinawa karena Dohoon bilang rasanya seperti pasta gigi yang bercita-cita menjadi makanan.

Youngjae keluar dari minimarket dengan dada mengeras.

Ia menemukan Dohoon di bawah lampu putih dekat pintu otomatis, berdiri dengan ponsel menyala di tangan. Wajahnya pucat, matanya menatap gedung apartemen di seberang jalan seperti menatap teka-teki yang jawabannya pernah ia hafal tetapi kini ditulis dalam bahasa asing.

Youngjae mendekat perlahan. “Hoon.”

Dohoon menoleh. Ketakutan di wajahnya tidak besar, justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang berusaha keras agar tidak membuat masalah.

“Gedung kita yang mana?”

Youngjae berhenti di sampingnya, bukan di depannya. Ia mengikuti arah pandang Dohoon ke seberang jalan. “Yang kanopinya hitam. Lihat? Dekat pohon kecil itu.”

Dohoon menatap lama. Lalu ia mengangguk, meski Youngjae tidak yakin apakah anggukan itu berarti ia ingat atau hanya mempercayai suara Youngjae.

“Aku tadi mau beli susu,” gumam Dohoon.

“Kita beli bareng.”

“Aku keluar duluan?”

“Iya. Mungkin kepanasan di dalam.”

Dohoon tertawa kecil, tetapi tawa itu patah sebelum selesai. “Aku takut, Youngjae.”

Nama itu masih sampai. Ada jeda kecil sebelum suku kata terakhir, tetapi masih sampai. Youngjae menelan napas yang nyaris menjadi tangis.

“Aku juga,” katanya.

Dohoon menoleh, seolah terkejut Youngjae mengakuinya.

Youngjae memasukkan kedua tangan ke saku jaket supaya Dohoon tidak melihat jari-jarinya gemetar. “Aku takut terus. Tiap hari. Kadang sama hal besar, kadang sama hal kecil. Kamu bengong terlalu lama di depan pintu, aku takut. Kamu berhenti di tengah kalimat, aku takut. Aku tidur, aku takut besok pagi kamu bangun dan aku harus memperkenalkan diri lagi.”

Lampu penyeberangan berubah hijau. Orang-orang mulai berjalan, payung-payung gelap bergerak seperti bunga yang terbuka di malam basah. Dohoon tetap berdiri.

“Terus kenapa kamu masih di sini?”

Youngjae menatapnya. Di bawah lampu minimarket, wajah Dohoon tampak seperti foto yang terlalu lama terkena cahaya: masih indah, tetapi ada bagian yang mulai pudar.

“Karena takut nggak selalu berarti pergi,” jawab Youngjae. “Kadang takut cuma berarti aku tahu sesuatu berharga banget sampai aku nggak siap kehilangannya.”

Dohoon menutup mata. Untuk beberapa detik, Youngjae mengira ia akan menangis. Tetapi Dohoon hanya menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangan. Tidak berkata apa-apa. Tidak meminta. Hanya tangan terbuka di antara mereka, sedikit gemetar, jujur dalam ketidakberdayaannya.

Youngjae menggenggamnya.

Mereka menyeberang ketika lampu pejalan kaki mulai berkedip. Di tengah jalan, Dohoon menggenggam tangan Youngjae lebih erat, seakan seluruh kota bisa berubah asing kapan saja, dan satu-satunya alamat yang masih bisa ia percaya adalah telapak tangan itu.


 

Pada kontrol berikutnya, dokter berkata kondisinya memburuk.

Tidak dengan kalimat sekejam itu. Tentu saja tidak. Dokter memakai bahasa yang lebih bersih, lebih sopan, lebih bisa ditulis di rekam medis tanpa membuat kertasnya ikut berduka. Ada kata penurunan. Ada kata frekuensi. Ada kata pengawasan. Ada saran agar Dohoon tidak pergi sendiri dulu. Ada pembicaraan tentang penyesuaian rutinitas, pengingat visual, sistem keamanan, kemungkinan episode disorientasi yang lebih sering.

Youngjae mendengar semuanya seperti mendengar suara dari dalam air.

Dohoon duduk di sampingnya, sangat tegak, dua tangan di atas lutut. Ia tidak menangis. Ia malah bertanya hal-hal praktis dengan suara tenang. Apa ia masih boleh memasak. Apa ia boleh keluar rumah kalau membawa kartu identitas. Apa obatnya akan membuatnya mengantuk. Apa ada latihan yang bisa memperlambat semuanya. Dokter menjawab satu per satu, hati-hati, seperti orang berjalan di ruangan penuh kaca.

Lalu Dohoon bertanya, “Kalau makin parah, aku masih bisa tahu orang yang aku sayang?”

Dokter tidak langsung menjawab.

Dan dari jeda itu saja, Youngjae sudah tahu ada kalimat yang tidak sanggup dikatakan siapa pun dengan bersih.

Di mobil, perjalanan pulang berlangsung tanpa musik. Hujan tidak turun, tetapi kaca depan tetap tampak buram karena Youngjae lupa menyalakan penghangat. Dohoon duduk di kursi penumpang, menatap jalan. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya saling mengunci terlalu erat.

“Jangan pasang muka sedih,” katanya.

Youngjae menatap jalan. “Aku nggak sedih.”

“Kamu sedih dari cara kamu nutup pintu mobil.”

Youngjae hampir tersenyum. Hampir. Dohoon masih tajam. Masih Dohoon. Bahkan di ambang sesuatu yang mengambilnya, ia masih bisa membaca Youngjae dari bunyi pintu mobil.

“Aku mikir.”

“Bohong.”

“Iya,” kata Youngjae setelah beberapa detik. “Aku sedih.”

Dohoon menghela napas. “Aku juga. Tapi kalau kita dua-duanya sedih, nanti siapa yang nyetir?”

Youngjae menoleh sebentar. Dohoon tidak tersenyum, tetapi matanya lebih lembut dari tadi. Youngjae kembali menatap jalan, menggenggam setir lebih erat.

“Aku bisa sedih sambil nyetir.”

“Pamer.”

“Kamu yang ngajarin multitasking.”

Dohoon tertawa kecil. Tidak panjang. Tidak ringan. Tetapi cukup untuk membuat ruang mobil terasa sedikit lebih manusiawi.

Setelah sampai rumah, Dohoon langsung tidur. Youngjae duduk di meja kerja, membuka laci, menatap kotak cincin. Ia tidak membukanya. Ia hanya memindahkannya ke samping tumpukan kertas label kosong, spidol, selotip, dan map hasil pemeriksaan terbaru. Kotak hitam kecil itu tampak salah tempat di antara alat-alat darurat yang murah dan praktis. Tapi mungkin memang di sanalah masa depan mereka sekarang tinggal: bukan di altar kecil di luar negeri, bukan di foto pernikahan, bukan di surat nikah yang bisa mereka jadikan lelucon sertifikat kursus masak, melainkan di laci yang sama dengan label untuk kompor dan pintu keluar.

Youngjae menutup laci pelan-pelan.

Malam itu, ia menulis ulang label yang selama beberapa minggu terakhir paling ia benci, tetapi paling sering ia butuhkan.

YOUNGJAE.
ORANG YANG TINGGAL DI SINI BERSAMAMU.
KALAU PANIK, CARI DIA.
DIA TIDAK AKAN MARAH.

Ia menatap kalimat kedua lama sekali.

Orang yang tinggal di sini bersamamu.

Bukan kekasihmu. Bukan orang yang pernah ingin memasangkan cincin di jarimu. Bukan orang yang tahu bagaimana suara napasmu berubah ketika bahagia, bagaimana marahmu selalu datang lebih dulu daripada takutmu, bagaimana tubuhmu mencari pelukan bahkan ketika mulutmu menolak terlihat lemah. Hanya orang yang tinggal di sini bersamamu. Kalimat paling kecil yang bisa Youngjae pilih agar Dohoon tidak merasa ditagih untuk mencintai seseorang yang sedang gagal ia kenali.

Youngjae mengambil selotip, menempelkannya di belakang kertas itu, lalu berjalan ke lemari kamar. Di sana, bekas label lama masih samar terlihat: sisa lem yang menolak hilang sepenuhnya, seperti kata kekasihmu yang sudah dicabut tetapi tetap meninggalkan bentuk di permukaan kayu.

Ia menempelkan label baru itu tepat di atas bekasnya.

Lalu, dengan ibu jari, Youngjae merapikan ujung selotipnya pelan-pelan, seolah sedang menutup luka yang tidak pernah benar-benar kering.


 

Pertama kali Dohoon lupa nama Youngjae, hujan turun lagi. Kota seperti tidak punya cuaca lain untuk kisah mereka selain basah dan abu-abu.

Youngjae pulang dari apotek dengan kantong plastik kecil berisi obat, vitamin, dan permen mint yang dibeli karena Dohoon dulu menyukainya. Ketika ia membuka pintu apartemen, lampu ruang tengah sudah menyala, tetapi tidak ada suara televisi, tidak ada musik, tidak ada Dohoon yang biasanya menyahut dari sofa dengan keluhan palsu karena Youngjae terlalu lama.

Sepatu Dohoon ada di dekat pintu. Satu menghadap ke depan, satu miring ke samping. Di meja, ada gelas yang belum diminum. Di lantai dekat dapur, sebuah label terlepas dari lemari dan jatuh dengan tulisan menghadap atas.

YOUNGJAE.
ORANG YANG TINGGAL DI SINI BERSAMAMU.
KALAU PANIK, CARI DIA.
DIA TIDAK AKAN MARAH.

Youngjae merasa darahnya berhenti sebentar.

“Hoon?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia menemukan Dohoon di kamar tidur, duduk di lantai dekat lemari, memeluk lutut. Semua laci terbuka. Beberapa baju tercecer. Album foto mereka tergeletak di samping kaki Dohoon, terbuka pada halaman pantai: Dohoon di Furuzamami, tertawa dengan rambut basah; Youngjae di belakangnya, memegang jaket; laut begitu biru sampai tampak seperti kebohongan yang indah.

Dohoon mengangkat wajah ketika Youngjae masuk. Matanya merah. Napasnya pendek-pendek.

“Kamu siapa?” tanyanya.

Dunia tidak hancur dengan suara besar. Tidak ada kaca pecah, tidak ada langit runtuh, tidak ada lantai yang membelah. Dunia hancur seperti itu: satu pertanyaan pelan dari mulut orang yang paling kau cintai, di kamar yang masih menyimpan bau sabun mandinya, di depan lemari tempat bajumu dan bajunya masih saling bersentuhan seperti tidak ada yang berubah.

Youngjae berhenti di ambang pintu. Tangannya masih memegang kantong plastik apotek. Plastik itu berkerisik pelan, bunyinya konyol sekali untuk sebuah momen yang akan ia ingat seumur hidup.

Ia ingin berkata, ini aku. Ia ingin berkata, jangan bercanda. Ia ingin berkata, kamu tahu aku. Ia ingin berkata, tolong, jangan ambil ini juga. Ambil pantai, ambil lagu, ambil ulang tahun, ambil minimarket, ambil semua pertengkaran kecil soal cucian dan piring kotor, tapi jangan ambil namaku. Sisakan namaku. Sisakan satu benda yang bisa kupakai untuk memanggil diriku di depanmu.

Tetapi Dohoon menatapnya dengan takut. Bukan takut pada penyakitnya. Bukan takut pada lupa. Takut pada Youngjae, sosok asing yang berdiri di pintu kamar mereka.

Maka Youngjae menaruh kantong plastik itu perlahan di lantai. Ia mengangkat kedua tangan sedikit, seperti seseorang yang mendekati hewan terluka.

“Aku Youngjae,” katanya. Suaranya serak, tetapi stabil. “Aku tinggal di sini sama kamu.”

Dohoon menatapnya, lalu menatap label yang jatuh di lantai. “Youngjae.”

“Iya.”

“Kamu...” Dohoon menelan ludah. “Kamu orang yang nggak akan marah?”

Youngjae tersenyum. Senyum paling menyakitkan yang pernah ia pakai. “Aku usahakan.”

Dohoon menunduk lagi. Tangannya mencengkeram kain celana. “Maaf. Aku nggak tahu kenapa aku nggak tahu. Aku tadi buka mata, terus kamar ini... kamar ini tahu aku, tapi aku nggak tahu kamar ini. Semuanya punya tempat, semuanya seperti pernah kusentuh, tapi kepalaku kosong sekali. Aku lihat foto itu dan aku tahu orang di foto itu aku, tapi rasanya seperti melihat seseorang yang mirip aku sedang hidup lebih baik.”

Youngjae masuk pelan-pelan. Ia duduk di lantai, tidak terlalu dekat. Di antara mereka ada album foto terbuka, seperti jembatan yang retak.

“Nggak apa-apa,” kata Youngjae.

Dohoon menggeleng keras. “Jangan bilang nggak apa-apa.”

Youngjae diam.

“Jangan bilang itu terus,” lanjut Dohoon, suaranya pecah. “Aku tahu ini apa-apa. Aku tahu dari wajahmu. Aku tahu dari catatan-catatan itu. Aku tahu dari caramu masuk kamar seperti takut aku lari. Aku tahu ini pasti apa-apa banget sampai kamu harus pura-pura biasa.”

Youngjae menutup mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh satu, hangat dan memalukan, melewati pipinya begitu saja. Ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan, tetapi Dohoon sudah melihat.

“Maaf,” bisik Dohoon.

Youngjae tertawa kecil, hancur. “Kamu paling bandel. Sudah dibilang jangan minta maaf karena sakit.”

“Aku nggak ingat kamu, tapi aku bikin kamu nangis.” Dohoon menatapnya seperti orang yang dihukum atas kesalahan yang tidak ia ingat lakukan. “Itu lebih jahat.”

Youngjae tidak sanggup menjaga jarak lagi. Ia bergeser mendekat, pelan, memberi waktu bagi Dohoon untuk mundur kalau ia mau. Dohoon tidak mundur. Ketika Youngjae duduk di depannya, Dohoon menatap wajahnya lama-lama, menelusuri alis, mata, hidung, bibir, seolah wajah Youngjae adalah peta yang pernah ia hafal di luar kepala lalu disiram hujan semalaman.

“Boleh aku pegang?” tanya Dohoon.

Youngjae mengangguk.

Dohoon mengangkat tangan, menyentuh pipi Youngjae dengan ujung jari. Sentuhannya dingin. Ragu. Ia berhenti di tulang pipi, turun ke rahang, lalu berhenti lagi di dekat sudut bibir. Youngjae menahan napas. Di bawah sentuhan itu, ia merasa bukan seperti kekasih, melainkan artefak yang sedang diperiksa seseorang yang kehilangan bahasa untuk membaca sejarahnya sendiri.

“Aku pasti sayang kamu,” kata Dohoon pelan.

Youngjae tidak bisa menjawab.

Dohoon tersenyum sedih. “Aku nggak ingat caranya, tapi badanku seperti tahu harus hati-hati sama kamu.”

Youngjae meraih tangan Dohoon di pipinya, menggenggamnya dengan kedua tangan. Ia menunduk, menempelkan kening ke punggung tangan Dohoon, dan menangis tanpa suara. Tidak lama. Hanya beberapa detik. Cukup untuk membuat seluruh tubuhnya mengaku lelah.

Malam itu, Youngjae tidak memaksa Dohoon mengingat apa pun. Ia tidak memutar lagu lama, tidak membuka foto-foto lain, tidak bercerita tentang pantai atau cincin atau label yang pernah bertuliskan kekasihmu. Ia hanya membantu Dohoon duduk di ranjang, mengambilkan air, menutup laci yang terbuka, lalu menempel kembali label yang jatuh dengan selotip baru. Dohoon memperhatikannya dari ranjang dengan mata sayu.

“Youngjae,” panggilnya hati-hati, seperti anak kecil mengeja kata baru.

Youngjae menoleh.

Dohoon menunjuk label di lemari. “Itu kamu?”

Youngjae melihat tulisan namanya sendiri.

“Iya.”

Dohoon mengangguk pelan. “Youngjae.”

“Iya.”

“Aku takut lupa lagi.”

Youngjae berdiri di depan lemari, punggungnya terasa dingin. “Aku juga.”

“Kalau aku lupa, kamu bilang lagi?”

Youngjae berjalan ke ranjang, duduk di tepiannya, lalu merapikan selimut yang menutupi kaki Dohoon. Gerakan itu sudah ia lakukan ratusan kali, mungkin ribuan, tetapi malam itu rasanya seperti pertama kali merawat seseorang yang bisa hilang sambil tetap berada dalam jangkauan tangan.

“Aku bilang lagi,” katanya. “Sebanyak yang kamu butuh.”


 

Listrik apartemen padam pada malam yang tidak istimewa.

Tidak ada badai. Tidak ada petir. Hanya suara kecil dari ruang panel, lalu gelap turun ke ruang tengah seperti kain hitam yang dibentangkan perlahan. Kota di luar tetap menyala, tetapi apartemen mereka tenggelam dalam remang yang lembut. Youngjae menyalakan senter ponsel dan mencari lilin di laci ruang tengah. Dohoon duduk di sofa dengan selimut di pangkuan, memperhatikan lingkaran cahaya kecil bergerak dari meja ke rak buku, dari rak buku ke lantai, dari lantai ke tangan Youngjae.

“Dulu kita pernah mati lampu?” tanya Dohoon.

Youngjae menemukan lilin kecil dalam gelas kaca. “Pernah.”

“Aku takut?”

“Kamu pura-pura nggak takut.”

Dohoon tersenyum samar. “Kedengarannya menyebalkan.”

“Sangat kamu.”

Youngjae menyalakan lilin. Api kecil tumbuh di antara mereka, mula-mula biru, lalu kuning. Wajah Dohoon tampak lebih lembut dalam cahaya itu, seperti lukisan yang hanya boleh dilihat malam hari. Youngjae meletakkan lilin di meja, lalu duduk di lantai dekat sofa. Ia tidak memutar musik. Gelap sudah cukup bersuara.

Dohoon memandangi api lilin lama-lama.

“Aku kangen,” katanya tiba-tiba.

Youngjae menoleh. “Kangen apa?”

Dohoon mengerutkan dahi. “Nggak tahu.”

Youngjae tidak menyela.

“Aku kangen sesuatu,” lanjut Dohoon. “Rasanya ada di dada, bukan di kepala. Kayak ada orang yang berdiri di balik pintu. Aku tahu dia datang buat aku, tapi aku lupa cara bukanya.”

Youngjae merasakan tenggorokannya mengencang. “Mungkin kamu kangen ingatanmu.”

“Mungkin.” Dohoon menatapnya. Api lilin bergerak di matanya. “Atau mungkin aku kangen kamu.”

Kalimat itu membuat Youngjae lupa bernapas.

Dohoon tampak ikut terkejut oleh ucapannya sendiri. Ia menurunkan pandangan ke tangan yang terlipat di pangkuan, malu dan bingung, seperti baru saja mengeluarkan sesuatu yang tidak ia tahu masih dimiliki.

“Aku nggak tahu kenapa aku bilang begitu,” katanya cepat.

Youngjae memaksakan diri tersenyum. “Nggak apa-apa.”

Dohoon menggeleng kecil, tetapi kali ini tidak marah. “Aku serius. Aku lihat kamu duduk di situ, terus rasanya... aku pernah menunggu kamu pulang. Aku pernah kesal karena kamu lupa beli sesuatu. Aku pernah pura-pura tidur waktu kamu masuk kamar, tapi sebenarnya aku senang kamu sudah pulang. Aku nggak tahu kapan. Aku nggak lihat gambarnya jelas. Tapi rasanya ada.”

Youngjae menunduk. Cahaya lilin berhenti di punggung tangannya. Ada bagian dirinya yang ingin bersorak, ada bagian lain yang takut bersuara terlalu keras dan membuat ingatan itu pecah. Jadi ia hanya berkata, “Aku pulang.”

Dohoon menatapnya.

“Aku selalu pulang,” tambah Youngjae.

Dohoon diam lama sekali. Lalu, dengan gerakan pelan, ia turun dari sofa dan duduk di lantai di samping Youngjae. Bahu mereka hampir bersentuhan. Tidak ada yang memeluk duluan. Tidak ada yang membuat momen itu lebih besar dari kesanggupan mereka. Mereka hanya duduk berdampingan, diterangi api kecil, sementara listrik kota menunggu giliran untuk kembali.

“Nama kamu...” Dohoon memulai, lalu berhenti.

Youngjae menegang.

Dohoon menekan keningnya dengan ujung jari, frustrasi. “Tunggu. Jangan bantu.”

Youngjae menggigit bibir. Ia mengangguk meski Dohoon tidak melihat.

“Y...” Dohoon memejamkan mata. “Young...”

Jantung Youngjae berdetak begitu keras sampai ia takut Dohoon mendengarnya.

“Youngjae,” ucap Dohoon akhirnya.

Satu kata.

Hanya satu kata.

Tetapi bagi Youngjae, seluruh dunia berhenti bergerak untuk memberi tempat. Hujan seperti menahan diri di luar jendela. Api lilin berdiri lebih tegak. Gelap melunak. Kota mundur beberapa langkah. Nama itu keluar dari mulut Dohoon dengan utuh, tidak terburu-buru, tidak tersandung, tidak dibantu label, foto, atau suara ponsel. Ia keluar seperti seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah berjalan terlalu lama di hutan.

Youngjae menoleh pelan.

Dohoon membuka mata. Ia tampak lelah, tetapi di balik lelah itu ada cahaya kecil yang hampir Youngjae kenali sebagai dirinya sendiri. “Youngjae,” ulangnya, lebih yakin.

Air mata Youngjae jatuh sebelum ia sempat memutuskan untuk kuat.

Dohoon panik. “Aku salah?”

Youngjae menggeleng, tertawa sambil menangis. “Nggak.”

“Kenapa nangis?”

Youngjae mencoba menjawab, tetapi suaranya patah. Ia menutup wajah dengan satu tangan, malu pada tangis yang terlalu lama ditahan dan kini keluar tanpa sopan santun. Dohoon memperhatikannya dengan cemas, lalu mengulurkan tangan. Sama seperti malam di kamar. Dingin, ragu, tetapi mencari.

Youngjae meraih tangan itu dan menggenggamnya erat.

“Kamu pulang,” bisiknya.

Dohoon menatapnya, bingung dan sedih, tetapi tidak menarik tangan. “Aku pergi jauh?”

Youngjae mengangguk. Tangisnya makin sulit dikendalikan. “Jauh banget.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.”

“Kebiasaan, mungkin.”

Youngjae tertawa kecil di antara air mata. Dohoon tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepala ke bahu Youngjae. Gerakannya lambat, seakan ia meminta izin pada tubuhnya sendiri. Youngjae membeku sesaat, lalu menunduk sedikit, menempelkan pipi ke rambut Dohoon. Aroma sampo Dohoon masih sama. Sabun lembut, hujan, dan sesuatu yang selalu Youngjae sebut rumah meski kini rumah itu sering lupa menyalakan lampu untuknya.

“Aku kangen kamu,” kata Dohoon pelan.

Youngjae memejamkan mata. “Aku di sini.”

“Aku tahu.” Dohoon menarik napas. “Malam ini aku tahu.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun justru karena Dohoon menambahkan malam ini, Youngjae menangis lebih dalam. Mereka berdua sama-sama mengerti bahwa pagi bukan jaminan. Besok, nama itu bisa hilang lagi. Besok, Dohoon mungkin bangun dan membaca label di lemari dengan alis berkerut. Besok, Youngjae mungkin harus memperkenalkan diri sebagai orang yang tinggal di sini bersamamu, orang yang tidak akan marah, orang yang pernah kamu cintai dengan cara yang tubuhmu masih ingat meski kepalamu tidak.

Tetapi malam ini, Dohoon tahu.

Malam ini, nama Youngjae duduk kembali di mulut Dohoon seperti burung yang menemukan ranting setelah badai. Malam ini, Dohoon menyandarkan kepala di bahunya bukan karena label menyuruhnya mencari Youngjae saat panik, melainkan karena sesuatu di dalam dirinya masih mengenali arah pulang. Malam ini, di ruang tengah yang gelap, di depan lilin kecil yang apinya gemetar, mereka berdua menjadi dua orang yang pernah saling mencintai dan, untuk beberapa menit yang rapuh, berhasil mengingatnya bersamaan.

Listrik menyala kembali tidak lama kemudian. Lampu ruang tengah berkedip sekali, lalu terang. Dunia kembali terlalu jelas: meja dengan bekas gelas, selimut di sofa, label di lemari dapur yang terlihat dari tempat mereka duduk, kalender di dinding, ponsel Youngjae yang tergeletak di karpet, wajah Dohoon yang basah sedikit oleh air mata yang entah sejak kapan ikut jatuh.

Dohoon mengangkat kepala, silau. Ia mengusap pipi dengan punggung tangan, lalu tertawa pelan.

“Kita dramatis banget cuma gara-gara mati lampu.”

Youngjae menatapnya. Ada Dohoon lama di sana, sebentar, seperti bayangan bulan di air yang tidak berani disentuh.

“Kamu yang mulai,” balas Youngjae.

Dohoon tersenyum, lalu melihat wajah Youngjae yang masih sembap. Senyumnya melembut. Ia mengangkat tangan dan menyeka air mata di bawah mata Youngjae dengan ibu jari. Kali ini sentuhannya tidak seragu dulu.

“Youngjae,” panggilnya lagi.

Youngjae menutup mata.

“Ya?”

“Kalau besok aku lupa...” Dohoon berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati. “Jangan marah sama Dohoon yang besok, ya. Dia pasti cuma tersesat.”

Youngjae menggenggam pergelangan tangannya. “Aku nggak akan marah.”

“Bilang sama dia,” lanjut Dohoon, suaranya semakin pelan, “kalau malam ini aku ingat.”

Youngjae membuka mata. Dohoon menatapnya sungguh-sungguh, seolah menitipkan benda paling berharga yang tidak bisa ia bawa sendiri ke pagi.

“Bilang apa?”

Dohoon tersenyum. Hancur, indah, lembut.

“Bilang aku pulang.”

Youngjae mengangguk. Ia tidak percaya suaranya cukup kuat untuk menjawab, jadi ia membawa tangan Dohoon ke bibirnya dan menciumnya pelan. Bukan ciuman penuh janji besar. Bukan pula perpisahan. Hanya tanda kecil yang diletakkan di kulit, seperti label tanpa selotip: aku dengar, aku simpan, aku akan bilang lagi kalau kamu lupa.


 

Beberapa minggu setelah malam mati lampu, label di lemari dapur mulai pudar.

Youngjae menyadarinya pada pagi yang terlalu terang. Tidak hujan. Tidak ada musik sedih. Tidak ada tanda-tanda dari alam bahwa seseorang di lantai sembilan sedang melakukan pekerjaan paling kejam dalam hidupnya: menulis ulang namanya sendiri agar orang yang ia cintai tidak takut padanya.

Dohoon duduk di sofa, menonton acara memasak tanpa benar-benar mengikuti. Volume televisi kecil. Matahari masuk dari jendela dan jatuh di lantai kayu, membuat apartemen itu terlihat hangat dengan cara yang hampir menipu. Youngjae berdiri di meja makan dengan spidol hitam baru, kertas label, dan gulungan selotip. Di sampingnya ada kotak kecil berisi cadangan obat, kartu rumah sakit, nomor dokter, dan kotak cincin yang kini ia pindahkan ke sana karena laci meja kerja sudah terlalu sering dibuka Dohoon tanpa ingat tujuannya.

Youngjae mengambil label lama dari lemari. Selotipnya meninggalkan bekas lengket. Huruf-hurufnya mulai kabur di tepi, terutama pada bagian namanya.

Ia menulis ulang dengan pelan.

YOUNGJAE.
ORANG YANG TINGGAL DI SINI BERSAMAMU.
KALAU PANIK, CARI DIA.
DIA TIDAK AKAN MARAH.

Tangannya berhenti.

Di bawahnya, ia menambahkan satu baris kecil. Hurufnya lebih kecil dari yang lain, seakan ia malu pada harapan yang masih nekat hidup.

MALAM ITU, KAMU PERNAH INGAT.

Youngjae menatap kalimat itu lama. Lalu ia menggunting ujung kertas agar rapi.

Dari sofa, Dohoon memanggil, “Itu siapa?”

Gunting di tangan Youngjae berhenti.

Tidak ada suara dramatis. Tidak ada kilat. Tidak ada hujan yang tiba-tiba turun untuk membantu dunia tampak berduka. Hanya televisi yang menayangkan seseorang mengaduk saus, sendok logam menyentuh mangkuk kaca, cahaya pagi masuk terlalu bebas, dan Dohoon bertanya dengan suara sopan, hampir penasaran, seolah Youngjae sedang menulis nama tamu yang akan datang berkunjung.

Youngjae menelan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Ia menurunkan gunting ke meja, mengambil selotip, lalu menempelkan label itu di lemari dengan hati-hati. Ia merapikan ujungnya memakai ibu jari, memastikan tidak ada sisi yang mengelupas.

Setelah itu, ia berbalik.

Dohoon menatapnya dari sofa. Wajahnya tenang. Matanya tidak panik hari ini, hanya kosong oleh jarak yang tidak ia sadari. Ada hari-hari ketika lupa datang sebagai badai, membuat Dohoon menangis, marah, menggigil, meminta maaf. Ada hari-hari seperti ini, ketika lupa datang sebagai kabut yang sopan, duduk di antara mereka tanpa membuat keributan, lalu mengambil kursi Youngjae di hidup Dohoon seolah memang selalu kosong.

Youngjae berjalan ke sofa dan duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Aku,” katanya. “Namaku Youngjae.”

Dohoon mengangguk, sopan seperti kepada orang asing yang baik hati. “Oh.”

Youngjae menatap tangannya sendiri di pangkuan. Di jari manisnya tidak ada cincin. Di jari Dohoon juga tidak. Di meja makan, kotak hitam kecil itu tertutup rapat di antara label cadangan dan obat. Youngjae pernah mengira komitmen terbesar adalah memasangkan cincin di jari Dohoon dan berkata, aku memilihmu untuk seluruh hidupku. Sekarang, komitmen itu mengecil menjadi hal-hal yang tidak pernah disaksikan siapa pun: menulis ulang label yang pudar, memeriksa kompor tiga kali, menyimpan nomor dokter di panggilan cepat, menjawab pertanyaan yang sama tanpa terdengar lelah, dan memperkenalkan diri kepada orang yang paling ia cintai tanpa menyebut dirinya kekasih.

Dohoon memiringkan kepala. “Aku tinggal sama kamu?”

“Iya.”

“Sudah lama?”

Youngjae menatap label di lemari dapur. Huruf-huruf namanya hitam, tegas, dan sama sekali tidak menjamin apa-apa.

“Sudah lama,” jawabnya.

Dohoon tampak memikirkan jawaban itu, lalu mengangguk lagi. Di televisi, seseorang tertawa terlalu keras. Matahari merayap sedikit lebih jauh ke lantai. Dunia terus berjalan dengan kekejaman paling biasa: tidak berhenti, tidak menoleh, tidak ikut berkabung.

“Kamu mau aku ceritain sesuatu?” tanya Youngjae.

Dohoon menoleh. “Tentang apa?”

Youngjae meremas jari-jarinya sendiri sampai sakitnya cukup untuk membuat ia tetap di tempat. “Tentang malam ketika kamu pulang.”

Dohoon tampak bingung, tetapi tidak menolak. “Aku pergi ke mana?”

“Jauh,” kata Youngjae. “Tapi kamu pulang sebentar.”

Dohoon menatapnya dengan perhatian yang lembut dan asing. “Terus?”

Maka Youngjae mulai bercerita dari awal. Tentang mati lampu. Tentang lilin kecil. Tentang seseorang yang lupa jalan, lupa tanggal, lupa pantai, lupa nama, tetapi sempat pulang sebentar hanya untuk menitipkan pesan: bilang aku pulang. Ia bercerita pelan-pelan, dengan suara yang dijaga agar tidak pecah, sementara Dohoon mendengarkan seperti anak kecil mendengar dongeng sebelum tidur. Sesekali Dohoon mengangguk. Sesekali ia bertanya, “Terus?” Sesekali ia tersenyum kecil ketika Youngjae menirukan cara Dohoon bilang mereka dramatis cuma gara-gara mati lampu.

Dan Youngjae terus bercerita, meski orang yang pulang di cerita itu sudah tidak ada di sofa bersamanya.

Karena beginilah akhirnya cinta mereka bertahan: bukan sebagai ingatan yang dibagi dua, bukan sebagai cincin yang melingkar, bukan sebagai kata kekasih yang aman diucapkan, melainkan sebagai kisah yang harus diceritakan satu orang saja. Setiap hari. Setiap kali perlu. Setiap kali Dohoon lupa bahwa ia pernah mencintai Youngjae dengan seluruh dirinya.

Di akhir cerita, Dohoon diam cukup lama. Lalu ia menatap Youngjae dengan mata yang jernih, kosong, dan baik.

“Aku pasti sayang banget sama kamu,” katanya.

Youngjae tersenyum.

Tidak besar. Tidak hancur. Hanya senyum kecil dari seseorang yang sudah belajar bahwa ada kalimat yang bisa menjadi hadiah dan pisau sekaligus.

“Iya,” jawabnya. “Kamu sayang banget.”

Dohoon mengangguk pelan, seolah menerima informasi baru tentang orang asing yang terdengar menyenangkan. Lalu ia kembali menatap televisi. Tangannya tergeletak di atas selimut, terbuka sedikit.

Youngjae menatap tangan itu lama.

Dulu ia membayangkan cincin di sana. Logam sederhana. Sumpah kecil. Masa depan yang bisa difoto. Sekarang, ia hanya meletakkan tangannya di samping tangan Dohoon, tidak menggenggam duluan, menunggu apakah tubuh Dohoon masih mengenali arah.

Beberapa detik berlalu.

Lalu jari kelingking Dohoon bergerak pelan, menyentuh jari Youngjae.

Bukan genggaman. Bukan ingatan. Mungkin hanya kebetulan.

Youngjae tidak mengusiknya.

Ia membiarkan sentuhan kecil itu ada, rapuh dan tanpa nama, sampai acara memasak berganti iklan, sampai cahaya pagi bergeser dari lantai ke kaki sofa, sampai kota di luar apartemen terus hidup seolah tidak ada yang sedang hilang di dalam sebuah rumah yang penuh label.

Dan di lemari dapur, nama Youngjae menempel dengan tinta baru.

Hitam. Rapi. Sabar.

Menunggu untuk dibaca lagi oleh seseorang yang pernah pulang, lalu lupa jalan kembali.

Notes:

oh, kalau teman-teman wondering lagu yang mereka dengarkan, ini yaa