Work Text:
Hari semakin sore, pun area sekolah semakin sepi. Kebanyakan murid yang tidak berkegiatan pada Rabu sore itu memilih pulang dibanding nangkring tanpa tujuan di sana. Kecuali seorang pemuda berambut jamet dengan aksen kehijauan, nama "Yudistira Yogendra" terpatri di seragamnya. Si empu asyik menggenjreng gitar, mengalunkan nada beberapa lagu lokal sembari bersenandung. Dia begitu terlarut dalam permainannya sendiri hingga tak sadar para anggota OSIS mulai berhamburan dari ruang serbaguna yang sebelumnya dipakai rapat. Hingga tepukan pelan di pundak menyadarkannya.
"Kan udah gue bilang ga usah nungguin. Batu banget, heran," petikannya terhenti, cengiran tak bersalah terbit di wajahnya, memamerkan gigi taring yang menyembul.
"Yaudah sih gapapa. Kayak baru kali ini aja aku tungguin rapat,"
"Masalahnya sekarang mendung, kocak. Kalo lu keujanan gimana? Tau sendirinya gampang sakit," sungut yang lebih lebih tua. Sebelum ucapannya kembali disahuti, dia merapikan paksa gitar Yudistira dan menyerahkannya pada si pemilik. "Wait, mau aku tinggal di kelas aja Jun. Sayang gitarnya kalo sampe kena ujan, "
Kan. Normal ini mah.
Arjuna menghela napasnya pasrah, kaki jenjangnya mengikuti langkah Yudistira menuju lantai 3 tempat kelasnya berada. Sesekali memandang cemas terang mentari sore yang meredup tertutup awan gelap. Sepertinya hujannya akan deras dan buruknya, Arjuna lupa membawa payung.
Perjalanan bolak-balik dari ruang serbaguna di lantai dua ke kelas Yudistira, lalu kembali ke lobby sekolah tidak terlalu membosankan karena ada saja topik aneh bin nyeleneh yang mereka bicarakan— kebanyakan Arjuna hanya mendengarkan, sesekali menanggapi dengan emosi.
Sialnya, takdir hendak membuat keduanya bersama lebih lama. Rintik hujan di depan sana begitu deras untuk diterobos begitu saja. Buku-bukunya sih aman karena tasnya waterproof, tapi tidak dengan pemiliknya.
"Loh, kak Juna kok sama Yudis? " Panggilan seorang gadis membuat keduanya menoleh. Iris perak yang persis dengan milik Arjuna menatap keduanya silih berganti. Senyum jahil terbit di wajahnya.
"Hayoo.. abis ngapain—"
"Nggak ada, nggak ada. Nih sawit satu udah ku bilangin gausah nungguin rapat. Dianya yang ngeyel, mamam lu kejebak ujan sekarang, " sanggah Arjuna. Matanya memincing kepada Yudistira yang berjongkok untuk mengeluarkan jaket dari tasnya. "Aku ada ini, nih. Juna sama Aya bawa payung nggak? "
"Eh... Aya bawa payung kok. Ini nunggu reda sedikit biar ga tampyas banget, gamau bareng aja? Payungnya lebar kok, " yang ditawari menggeleng, dia menyampirkan jaket hitamnya di atas kepala. "Juna aja yang bareng kamu, "
"Ujannya deres, kocak. Lu kalo gamau payungan, seenggaknya tunggu reda dikit napa " Arjuna buru-buru menarik kerah Yudistira sebelum yang lebih muda melangkah menerobos guyuran hujan.
Akhirnya mereka bertiga ngemper di lobby sekolah bersama beberapa murid lainnya yang juga terjebak hujan. Bermain "Jempol Kaget" sampai beberapa ronde untuk membunuh waktu. Jam di ponsel Arjuna menunjukkan pukul setengah enam, tapi tidak terlihat kalau hujan akan mereda barang sejenak.
"Bisa kemaleman kita kalo nungguin reda. Terobos ajalah, yuk, " dia bangkit dan menyambar jaket Yudistira yang masih bertengger di kepala pemiliknya, si empu segera menahan tangannya. "Kamu ngapain ngambil jaketku? "
"Ya mau gue pake lah, kocak. Lu payungan berdua sama Aya sana, "
"Lah emang aku ada bilang boleh? Jaketku, aku yang pake lah, "
"Yud, ayolah... Lu tuh kesentil dikit sakit, gausah macem-macem, " Arjuna agak gemas. Tidak salah maksud baiknya disalah pahamkan oleh Yudistira, tapi tolonglah, keburu malam ini hoi!
"Lebay kamu—"
"UDAH IH! Malah berantem! Sekalian aja kalian berdua yang pake jaket, payungnya buat Aya sendiri! " Manik hijau dan perak itu bersinggungan Aya memandang dua pemuda di hadapannya heran. Mereka bisa telepati kah? Pikirnya.
"Yang bener aja kalian berdua... " Aya kehabisan kata-kata, memandang malas dua punggung di depannya. Tidak sangka kalimatnya yang asal terlontar karena kesal betulan dituruti.
Yup, kini ketiganya sedang berjalan pulang bersama. Aya tetap dengan payungnya, sementara Yudistira dan Arjuna berdempetan di bawah jaket hitam milik yang lebih muda. Arjuna yang memegang jaketnya dan Yudistira menenteng sepatu keduanya. Aya yang berjalan di belakang mereka menghela napas lelah, padahal ruang di payungnya cukup untuk menampung satu orang lagi, dan pastinya lebih kering ketimbang berlindung dibalik jaket. Tapi ya sudahlah, nanti dia malam dia mengadu ke Naia saja.
"Geseran kocak, basah! " Gerutu Arjuna yang merasa punggung kirinya terciprat air hujan.
"Ga muat, Junaa.. Tadi dikasih bareng Aya kau ga mau, yaudah terima aja kita sempit-sempitan di sini, "
Untungnya, jarak rumah si kakak beradik dengan sekolah tidak begitu jauh. Tak butuh waktu lama sampai rumah dua tingkat dengan pagar hitam masuk pandangan mereka. Aya berjalan mendahului untuk membuka gerbang dan kunci pintu. Lalu menepis sisa air yang menempel di payungnya supaya tidak bau.
"Kakak sama Yudis basah, jangan masuk! Aya ambilin lap sama handuk sebentar, " titahnya sebelum salah satu dari mereka ada yang berani menginjak lantai rumah dengan kaki yang habis nyeker itu. Kebetulan hari ini jadwalnya Aya bersih-bersih dan dia tidak mau menambah kerjaan.
Yudistira mengusak rambutnya yang masih setengah basah, pakaian Arjuna melekat pas di tubuhnya. Tungkainya melangkah ke ruang tengah, ada Aya yang duduk di sofa sambil menikmati camilannya. Juga Arjuna yang duduk di lantai, bersandar pada sofa tempat Aya duduk dengan sehelai selimut yang menutupi sampai paha. Dipangkunya beberapa bungkus cemilan.
Tidak ada perbincangan panjang di antara mereka lantaran keduanya hanyut dalam tontonan "Bengkel Paranormal Bertopi". Yudistira turut bersimpuh di samping Arjuna, menarik selimut yang dipakai si empu untuk ikut menghangatkan diri. Meski sempat melirik dengan sewot, Arjuna tidak berkokmentar. Mulutnya tentram mengunyah cemilan kentang.
"Udah jam 8, lu ga dicariin, Yud? " Tanya Arjuna di sela tayangan mereka.
"Keajaiban dunia kalo aku sampe dicariin sama orang rumah, Jun, " benar juga. Arjuna meringis maaf, Yudistira hanya mengedikkan bahu, tidak mempermasalahkan.
Waktu terus bergulir, sudah hampir lima episode mereka tonton. Di luar sana, hujan masih mengguyur deras. Hawa sejuk menyerempet dingin tersebar di rumah. Tanpa ada yang memperhatikan, satu persatu dari mereka mulai terlelap.
Dini hari, Aya terbangun karena tubuhnya yang pegal selama tidur di sofa. Dia meregangkan tubuhnya sejenak dan berniat pindah ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Tapi beberapa bekas kekacauan mereka membuatnya mau tidak mau sedikit beberes dulu.
"Yailah ini dua..." Lirihnya. Yudistira tidur dalam posisi duduk bersandar pada sofa, sementara Arjuna bersandar pada bahunya. Ditambah lengan kokoh itu melingkar posesif di pundak Arjuna, entah modus atau menjaga yang lebih tua supaya tidak terhantuk ke lantai, selimut yang mereka pakai masih tersampir manis menghalau dingin.
Sudahlah, Aya terlampau malas setelah berkali-kali dijadikan anak bawang di antara dua sejoli ini. Biarlah mereka terbangun dalam keadaan encok.
Setelah membereskan sisa sampah, Aya melengos begitu saja, meninggalkan dua orang yang dia ingat jelas belum terikat hubungan apa-apa itu dengan pose ala telenovela mereka.
Huee, Aya mau ngadu ke Naia!
