Actions

Work Header

Menyerah, berserah, sesukanya.

Summary:

“Capek?” tanya Illuga
“Kangen,” balas Lohen, “Udah mandi, udah makan masakan lo, udah goler di pangkuan lo. Capeknya hilang, kangennya tetep.”

Lima minggu Lohen harus berpisah dari para kekasihnya.
Lima minggu juga Illuga, Flins, dan Varka menahan rindu dan dahaga.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Oh, kamu pulang.”

Lohen mengurungkan senyumnya, mengganti ekspresinya dengan sebuah cibir bosan serta satu decak kecil. “Kenapa lo yang buka pintu, dah,” omelnya sambil memasuki rumah tanpa menunggu dipersilakan oleh sang pembuka pintu.

“Pak pacar sibuk,” balas pria dengan rambut indigo yang diikat dalam bentuk ekor kuda tinggi.

“Kerja?”

“Dikerjain,” jawab Flins sekenanya.

“Hah? Ngibul mulu lo,” seloroh Lohen tanpa menghentikan langkah menuju ruang kerja Varka. Orang gila mana coba yang berani ngerjain Varka? Well, selain dirinya sendiri, mungkin. Meski sejak dulu Lohen juga tidak pernah mengkategorikan dirinya sebagai orang gila, rasanya.

Namun, ketika ia sampai di depan pintu ruang kerja dan melongok apa yang tengah dilakukan Varka di dalam sana, ia langsung mengangguk paham. Bahkan ia pun enggan untuk masuk ke ruangan tersebut, merasa cukup melihat dari celah pintu yang setengah terbuka itu.

“Illuga, yang ini aku cek besok saja bisa ka—”

“Sekarang, Mas,” potong Illuga lugas, lalu meletakkan beberapa lembar kertas lagi di hadapan Varka.”Ini juga direview, sekarang.”

“Kenapa malah ditambahin ya, sayang? Yang sebelumnya aja belum selesai.”

“Kalau gak selesai sekarang, besok Pak Seamus yang ke sini dan nungguin Mas garap itu semua. Mau emangnya mau kerjain itu laporan sendirian sama Pak Seamus aja? Kutinggal ke planetrium juga?”

“Gak mau,” Varka menarik nafas pendek, meratapi setumpuk laporan yang masih belum terjamah.

“Ya udah kerjain!”

“Bener dikerjain, sih,” gumam Lohen melihat adegan layaknya sitcom di hadapannya.

“Ganteng ya kalau Illuga marah-marah gitu,” komentar Flins sekenanya. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di belakang Lohen, menopangkan dagunya ke lelaki bersurai toska muda tersebut.

Lohen mendengus kecil, “Pantes lo kalau garap laporan sengaja ngaret lama-lama,” ucapnya tanpa bisa menahan senyum yang tersembul di bibirnya. Bagaimana juga, ia sendiri tidak akan bisa menolak pesona seorang Illuga yang sedang marah-marah.

“Hen, saya lapar,” ujar Flins kemudian. “Rayuin Illuga buat masak, ya.”

Lohen menelengkan kepalanya, menghindar dari beban yang disebabkan oleh Flins. “Tinggal masak sendiri apa susahnya?”

“Ckckck…. Kamu itu gimana kok gak paham? Pertama, saya maunya makan masakan Illuga. Kedua, tugas kantor saya dibawa sama Illuga, masih di tas. Kalau saya disuruh mengerjakan laporan, nanti saya gak bisa segera makan masakan Illuga. Ketiga, kalau kamu yang merajuk minta masakan Illuga dalam kondisi masih dekil, bau keringat sama matahari begini, pasti dia akan lebih semangat buat pampering kamu, and by extension ya kita semua.” Flins masih sempat mengecup ubun-ubun Lohen sebelum pergi, “Titip ya, Hun.”

Lohen menatap punggung lelaki yang tampaknya beranjak ke lantai dua tersebut. Mungkin sebaiknya dia adukan saja kelakukan pacarnya satu itu ke Illuga—meski ia tahu Flins tidak akan pernah kapok.


Illuga sedang membaca buku di ruang tengah saat Lohen menginvasi ketenangannya. Lohen memilih untuk berbaring di sofa yang sama dan menggunakan paha Illuga sebagai bantalan kepala. Illuga tidak berkomentar, hanya satu tangan secara otomatis mulai menyisir rambut Lohen dengan lembut.

“Capek?” tanya Illuga, masih tetap membaca paragraf terakhir di halaman bukunya.

“Kangen,” balas Lohen, kalem, dengan mata terpejam dan senyum tipis tersungging di ujung bibirnya. “Udah mandi, udah makan masakan lo, udah goler di pangkuan lo. Capeknya hilang, kangennya tetep.”

Illuga tertawa pendek, senyum di bibir Lohen pun melebar. Ia tutup buku yang tengah ia baca dan diletakkannya di meja samping sofa dengan hati-hati. “Kamu sering ngatain Flins tapi sekarang cara ngomongmu udah mirip kayak gombalannya Flins.”

“Beda kelas kali gue sama dia,” gerutu Lohen dengan tidak serius, karena ia pun tak bisa menahan secercah tawa yang lolos di jeda katanya. Susah untuk terus merasa capek kalau ada Illuga di sisinya.

“Bedanya apa?” tanya Illuga, tangan tak berhenti memainkan rambut Lohen, sesekali mengusap lembut pelipisnya.

“Banyak, lah. SMA-nya aja beda, apalagi kelasnya.”

Illuga terkekeh, tak habis pikir dengan jawaban yang diberikan Lohen. Tangan lainnya menyentil pelan hidung Lohen. Gemas, pikirnya. Rindu, imbuhnya dalam hati.

I miss you too,” ujar Illuga, menghadiahi dahi Lohen dengan satu kecupan. “Kamu dinas luar lama banget. Mas Varka udah bolak-balik mau nyusulin kamu, lho.”

“Lah, dia kan nyamperin gue sekali?”

Kali ini Illuga mencium tahi lalat di pipi Lohen. “Itu yang berhasil. Yang gak berhasil? Banyak.”

Lohen yang tertawa pendek kali ini. Masih dengan mata terpejam. Masih menikmati tiap kecup acak yang Illuga bubuhkan ke wajah dan rambutnya. Masih membiarkan penat di tubuhnya menyesap ke dalam sofa yang empuk dan hangat itu. “Miss your lips,” gumamnya ketika Illuga mengecup pipinya, lagi.

Yeah?” Illuga mengetuk pertengahan dahi Lohen dua kali, pelan, “Then, who would dare stop you from claiming my lips once again?”Illuga berbisik rendah, tepat di telinga Lohen, sebelum mengecup dan menggigit lembut daun telinga tersebut.

Lohen membuka mata, menatap langsung sepasang iris berwarna ungu muda dengan cincin merah kesayangannya itu. Satu tangannya meraih belakang kepala Illuga, menarik pria itu hingga bibirnya kembali berlabuh di tempat yang seharusnya.

Bibir Illuga.

Bercumbu bukan sesuatu yang bisa ia awali dengan lembut. Lohen selalu melakukan semuanya dengan efektif, jelas, dan tepat sasaran. Segala rasa ia curahkan dalam kecup yang terbuka, menagih napas dan seluruh perhatian dari pasangannya. Bibirnya melumat dua kali, sebelum lidahnya menginvasi cavum dan merasakan saliva Illuga. Persetan dengan karbon dioksida yang mulai memenuhi tubuhnya perlahan. Ia akan menenggak oksigen nanti, setelah rindunya mereda pada pagut nan dalam.

No one,” bisiknya, dengan bibir basah yang masih tersambung oleh jaring saliva ke bibir Illuga. Ia bangun dari posisinya, dengan segera duduk di pangkuan Illuga. Kedua lutut ditekuk seadanya, kedua paha mengapit tubuh Illuga di tengah, sepasang bibir kembali mendarat di tempat yang seharusnya.

Lidah Illuga yang menginvasi mulutnya lebih dulu, bersamaan dengan rangkul di pinggang yang mengerat, dengan jemari menggaru rambut Lohen yang masih agak lembab, dengan ingin yang teramat sangat dan membuat Lohen gemetar karena intensitasnya. Lidah bertemu lidah, gigi menarik bibir, saliva pun tak ayal mengalir perlahan di ujung mulut seiring dengan ciuman mereka yang semakin jauh dari definisi lugu.

Dan sungguh, setelah lima minggu berpisah dari kekasihnya, Lohen tidak ingin malam ini berakhir dengan dirinya baik-baik saja.

Lohen menyajikan lehernya untuk Illuga santap begitu pagut bibir mereka terpisah. Panggul bergerak lambat, menekankan gundukan di tengah celananya ke tubuh lelaki yang mulai menjilati kulit karotisnya. Lohen mendesah, tak menahan suaranya, seolah ingin suaranya bergema—memantul ke dinding dan menarik perhatian dua kekasih lainnya yang tengah mencuci piring kotor di dapur.

Our little hare seems ready for some post-meal playtime, wouldn't you say?

Sebuah erangan menyambut kalimat tersebut. Suara Flins yang mendayu penuh rayu dibarengi dengan gigit yang menyengat lehernya membuat Lohen terduduk pasrah di pangkuan Illuga. Lohen menyandarkan kepalanya di bahu Illuga, menoleh ke arah sumber suara, mendapati dua kekasihnya yang lain menatapnya lamat-lamat.

Flins bersandar di kusen pintu, kedua tangan terlipat rapi di depan dada, senyum terkulum sempurna dengan kedua mata yang terpaku pada tiap geriknya. Varka, di lain pihak, menyembunyikan mulutnya di bahu Flins, tangan mengerat di pinggang ramping pasangannya, Lohen melihat bagaimana kardigan yang dikenakan Flins kusut saking kuat genggamannya.

“Kamu kalau nafsu sama Lohen, tolong jangan kardigan saya yang dirusak. Ini hadiah dari Illuga.” Flins menyodok pinggang Varka dengan sikunya, serta merta menyingkir dari rengkuhan Varka. “Kalian pindah kamar, ya. Saya kunci pintu-pintu dulu,” ujar Flins yang masih mampir untuk mengacak rambut Lohen dan mencium pelipis Illuga sambil lalu.

“Varka…,” bisik Lohen lambat, terlalu pelan untuk terdengar dari tempat Varka berdiri. Namun, ia tahu Varka bisa membaca gerak bibirnya. Ia eratkan pelukannya di leher Illuga. Ia gerakkan panggulnya perlahan. Ia tekankan ereksi setengah matangnya ke tubuh yang tengah memangkunya. Sekalipun, tak pernah ia melepaskan tatapannya pada Varka. Bibirnya setengah terbuka seolah mendesah tanpa suara, kedua mata tajam layaknya pemburu yang menunggu mangsa jatuh ke perangkap.

Var. Ka.

Bibirnya bergerak lagi. Lebih lambat. Lebih lebar.

V A R.

K A.

“Perlu kutaruh sesuatu di mulutmu agar kau berhenti menggoda seperti itu?”

Seringai berkembang wajah Lohen ketika Varka menekan rentet gigi bawahnya dengan ibu jari. Lohen harus menengadah untuk melihat wajah Varka—tegang di rahang, tajam di kedua matanya, sepasang bibir yang tertaut erat di ujung menahan kata, dan gerak nafas yang dipaksakan normal.

“Yah?” jawab Lohen tak bulat, karena ia memilih memberikan gigit ke ibu jari yang menahan gerak mulutnya. Prioritas, menurut Lohen. Tak lupa ia sapukan ujung lidahnya ke kulit yang terasa agak asin dan sepenuhnya Varka.

You only tempt him with a good time, Mas.” Lohen mengeratkan gigitannya ketika ia merasakan jemari Illuga menetak tulang belakangnya perlahan, meremangkan bulu kuduknya dalam antisipasi akan apa yang bisa terjadi berikutnya. Namun, Illuga hanya tertawa kecil sambil melepas kedua tangannya dari tubuh Lohen, mengurangi kontak yang sungguh ia inginkan banyak-banyak malam ini.

“Ya kalau gak enak ngapain dikejar, kan?”

Varka mengambil tubuh Lohen dari pangkuan Illuga dengan mudah—bukan karena Lohen terlalu enteng, tapi memang karena Varka saja yang terlalu rajin membangun otot tubuhnya. Serta merta ia memposisikan tubuh Lohen agar bisa duduk di satu lengannya, tangan lain memegangi pinggang kecil itu erat. Lohen hanya menyandarkan tubuhnya pada Varka, sepenuhnya percaya bahwa pria itu tak akan membiarkannya jatuh.

“Harus banget pindah ke kamar?”

“Sofanya habis dicuci sama Illuga,” jawab Varka sembari berjalan menuju kamar utama di kediaman mereka. “Bosen dia di rumah karena kamu kelamaan dinas. Segala perabot dicuci sama dia sampai aku sama Flins gak berani turun ke bawah.”

Lohen terkekeh pelan, hafal betul kebiasaan pacarnya satu itu. Tawanya hanya sejenak, karena begitu Varka meletakkanya di kasur, bibirnya segera dilumat dalam-dalam. Lohen menyambutnya, tentu. Kedua lengan bertaut di belakang leher Varka, menariknya agar cumbu mereka lebih lekat tanpa celah.

Varka yang melepas pagutan mereka lebih dulu, tak mengindahkan bibirnya yang masih ingin dimanja basah. Bibir Varka telah menemukan tempat lain untuk ia puja lebih lanjut. Mulai dari dagu, beranjak ke rahang, lanjut ke otot leher nan menegang, singgah di tulang selangka yang menonjol, hingga bahu mulus ketika kerah pakaiannya digeser sampai miring.

“Kangen?” tanyanya ketika Varka tak bergeming dan mengulur waktu dengan menatap Lohen lekat-lekat.

“Banget,” jawab Varka, singkat.

“Terus? Gak lanjut ciuman atau grepenya?” Lohen bertanya, ada sedikit humor di ujung katanya. Tanpa melepas tatapannya tepat ke kedua mata Varka, ia membuka kancing pakaiannya satu per satu, memperlihatkan tubuh atletisnya dengan satu dua bekas luka samar yang ia masih ingat apa penyebabnya.

“Sebentar,” balas Varka, mata kini meneguk pemandangan di hadapannya, “mikir.”

Lohen mengerjap. Sekali. Dua kali.

Dirinya sudah siap bugil dan pacarnya ini masih sempat buat mikir?

MIKIR?!

Tak peduli dengan badan Varka yang jauh lebih besar darinya, Lohen segera mendorong pria itu dan menindihnya dengan mudah. Tergesa ia melepaskan atasannya, menyusul segera bawahan serta dalamannya. Semua ia lempar ke sembarang arah, menyisakan tubuhnya tanpa busana mengangkangi Varka tepat di panggulnya.

“Gue udah telanjang gini, lo masih perlu mikir lagi?” tantang Lohen, kedua tangan terlipat di depan dada, ereksi setengah matang masih telentang di perut Varka. “Mikir apa, sih?”

Kini giliran Varka yang mengerjap, menatap Lohen yang mulai tak sabar. “Mikir enaknya ngapain kamu biar besok tetep bisa bangun jam 8 dan jalan kaki.”

“Kan besok gue libur!”

“Besok kita ke planetarium jam 9,” suara Illuga menyahut dari belakang. Dua tangan melekat di pinggang Lohen, bahunya dikecup singkat. “I booked the 11 AM show. Aku udah bilang ini ke kamu sejak 2 bulan lalu dan ada di shared calendar kita.”

“Just book it for another time, Illu. I need my five weeks worth of sex!

Illuga tersenyum, Lohen bisa merasakan senyum itu menempel di bahunya. Namun, kuku Illuga yang menekan kulitnya mengisyaratkan hal lain. “Besok last day dari special show tour, jam 11 siang,” ujarnya informatif. “If Varka and I said you have to wake at 8 AM and walk straight, you would comply, Lohen.” Lagi, tekanan kuku Illuga di kulitnya mendalam, dan Lohen menahan diri agar tidak mendesah.

We will take care of you properly, our little hare.


Tidak ada suara yang keluar dari bibir Lohen ketika Varka mendorong ereksinya melawan tonus otot anus yang masih ketat itu. Mulutnya terbuka, nafasnya tercekat di ujung tenggorok, dadanya membusung meski telapak Varka menahan pinggangnya agar tetap diam. Suara Lohen perlahan bocor seiiring dengan panjang ereksi yang berhasil memasuki tubuhnya, menetes menjadi desah yang menarik sebuah senyum tipis di bibir Flins.

“Oh, tampaknya saya kurang melemaskan tonus ototmu, ya?” ucapnya, ringan, seolah Lohen tak sedang menatap tajam ke arahnya. “Tapi, seingat saya kan itu kesukaanmu, Hun.” Flins menjilat ujung bibir Lohen, tak setitikpun ada niat tuk bercumbu, “dilebarin langsung pakai penis Varka.”

Flins terkekeh ketika Lohen berusaha mengigit bibirnya, yang gagal karena Varka mendorong kemaluannya dalam-dalam, membuat Lohen tersedak ludahnya sendiri. Kali ini, sebuah desahan kabur dari bibirnya yang sudah merona nyaris bengkak, merajuk tak puas karena perutnya belum juga penuh oleh panas yang cuma dimiliki oleh Varka.

“Rileks,” ucap Varka, berusaha mengatur nafas agar ia tak blingsatan saat itu juga. Ia pandangi tempat menyatunya tubuh mereka, mendapati penisnya yang baru separuh masuk liang. Oh, sungguh Varka ingin langsung menyodok saja sampai mentok. Namun, anus Lohen seolah lupa dengan diameter kejantanannya setelah lima minggu tidak dikunjungi. Terlalu sempit untuk kejantanan Varka yang ukurannya kebesaran itu.

“Mentokin aja,” desis Lohen, berusaha menurunkan panggulnya.

“Kamunya ketat banget, Hen,” balasan Varka hanya membuat Lohen berdecak kesal.

Illuga mencium kerut di tengah dahi Lohen dengan lembut. Kontras dengan jemari Flins yang tengah giat melonggarkan lubang anus kekasihnya. Ciuman itu mampir ke pelipis, lalu ke mata, lalu ke hidung, dan berakhir dengan satu gigitan manja di dagu.

“Jangan bete gitu,” ucap Illuga penuh rayu, mendesah saat Flins dengan sengaja menekan prostatnya. “Kami juga sama gak sabarnya kayak kamu, kok.”

Wants you too,” bisik Lohen, tatapan tertumbuk pada tangan Flins yang masih giat menyiapkan lubang Illuga.

And you’ll have me.” Illuga tersenyum, lembut, penuh kasih, seolah ia tengah berderma—bukan sibuk siap-siap senggama. Namun, bukankah mereka selalu dalam belas kasihan Illuga sepanjang waktu? Mengambil dan meraih segala sesuatu yang Illuga sodorkan hingga lelaki itu tidak memiliki apapun untuk ditawarkan selain dirinya sendiri?

Ah, Lohen akan memikirkan itu nanti. Saat Illuga tidak mencium pipi Varka dan berkata, “Aku mau ngemut Lohen.” Begitu enteng, seolah dia cuma mau makan camilan.

Ya kalau ereksinya jadi salah satu camilan kesukaan Illuga, Lohen juga tidak akan protes, kok!

Illuga dengan mudah memposisikan tubuhnya di bawah Lohen—yang badannya tengah bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, mengangkang lebar dengan tangan Varka menahan beban tubuhnya. Ia menggeser posisinya sedemikian rupa hingga mulutnya tepat menadah ereksi Lohen yang tergantung bebas. Lohen merasakan hembusan nafas hangat Illuga menyapa kejantanannya, membuat panggulnya gatal ingin segera merapat.

Sungguh, Lohen tak perlu menunggu. Karena sedetik kemudian ada liat yang menyentuh uretranya, membuatnya mendesah begitu nyaring sampai tangan Varka mengerat di pinggang. Lohen mendengar dengus tawa, juga tarikan nafas dalam seolah menjaga kewarasan. Namun, yang mendapat seluruh perhatiannya adalah lembab hangat yang perlahan melingkupi kejantanannya.

Ciuman di kepala penisnya sebelum satu jilat melingkari kelilingnya.

Satu hisapan sebelum kecup di lubang pelepasannya.

Jilatan panjang dari ujung ke pangkal sebelum satu rongga menampung ereksinya.

Sepenuhnya, karena ia bisa merasakan bagaimana kedua buah zakarnya ditopang oleh wajah Illuga. Penisnya berkedut, atau mungkin tenggorokan Illuga yang tengah menelan saliva. Entahlah. Lohen ingin menancapkan ereksinya ke jalan nafas kekasihnya, kalau bisa. Berseteru dengan udara untuk memenuhi tubuh Illuga sepenuhnya.

“Panggulmu gak perlu gerak,” tutur Flins tenang, “Varka sama Illu yang akan gerak untuk kamu,” lanjutnya.

Entah sejak kapan Flins sudah menarik rambutnya, membuatnya menengadah. Lohen menatap kedua netra kuning yang terlalu tenang itu. Seolah tengah menimbang langkah macam apa yang setelah ini perlu ia ambil untuk membuat Lohen kehabisan kesabaran.

“Lalu lo nganggur?” Suaranya seharusnya bisa lebih lantang kalau bukan karena penis Varka yang mulai memasuki tubuhnya lagi dan ereksinya yang dikulum Illuga bak permen loli. Nyeri yang terasa membuat ia ingin mendesah. Hangat yang memerangkap membuat panggulnya ingin menyodok dalam-dalam. Namun, tangan Varka memastikannya untuk diam—hanya menerima semuanya.

Flins tertawa rendah, suaranya membuat perut Lohen makin diaduk oleh ingin dan hasrat. Percayakan semua permainan di ranjang ke tangan Flins, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang akan mengeluh kurang puas di esok harinya. Sejujurnya, Lohen bahkan tidak akan heran kalau suatu saat Flins bilang pernah jadi gigolo atau mucikari. Muka dan tingkahnya cocok.

“Seperti yang Illuga bilang,” Flins meraih kejantanan Illuga, mengocoknya perlahan, menimbulkan satu hisapan kuat di penis Lohen, meloloskan satu desah basah dari mulut pria yang tengah disetubuhi itu. “You’ll have me too, eventually, hunny.”

Lohen masih sempat melihat sebuah senyum tipis terkembang di bibir Flins sebelum kepalanya didorong ke bawah. “Suck him.”

Sebuah perintah, dan Varka mendorong kejantanannya kuat-kuat, membuat Lohen nyaris berteriak kalau bukan karena tangan Flins menekan kepalanya sampai tenggorokannya tersodok penis tumpul dan hidungnya terbenam di antara buah zakar Illuga. Telinganya mendengar bagaimana Varka melenguh, mengumpat soal lubangnya yang ketat, Flins yang tertawa pendek namun puas, dan hidungnya hanya bisa menghidu aroma intim dari Illuga disertai satu geraman ketika ereksinya dihisap kuat lagi.

Lohen membiarkan tubuhnya dipakai semena-mena oleh tiga kekasihnya.

Varka memerlukan waktu untuk mengatur nafas. Namun, pada akhirnya, pria itu menarik panggulnya dan mendorong kembali ereksi besarnya itu ke dalam tubuh Lohen. Pelan, awalnya. Namun Lohen bisa merasakan bagaimana sodokan itu bertambah tempo dan amplitudonya. Semakin cepat. Semakin dalam. Semakin berantakan rasa di dalam perutnya tiap prostatnya digempur tak karuan.

Flins menaikturunkan kepalanya, seolah mulutnya dan ereksi Illuga hanyalah pompa yang bisa ia mainkan sesuka hatinya. Mata Lohen melirik ke atas, mendapati tangan Flins yang lain tengah sibuk mengocok penisnya sendiri yang makin tegang dan mulai meneteskan cairan pre-ejakulasi.

Illuga? Satu-satunya suara yang keluar dari mulut itu hanyalah kecap basah tiap kali ia menggerakkan kepalanya agar kejantanan Lohen masuk makin dalam ke kerongkongannya. Entah kemana refleks muntah milik pria itu. Kadang Lohen curiga kalau Illuga memang dilahirkan sebagai pelahap penis yang begitu hebat sampai ia tak pernah tersedak, ataupun kehabiskan nafas, meski disodok kejantanan Varka sampai lehernya menonjol.

“Mulai keenakan dia,” komentar Flins dengan desah di ujung lidahnya sembari ia meremas ereksinya sendiri.

“Yeah?” sahut Varka, terengah. “Ini juga enak banget,” tambahnya sambil menyodok prostat Lohen kuat-kuat. Kedua tangan mengerat di pinggang Lohen, sengaja bergerak agak turun hingga Varka bisa merasakan gundukan perut Lohen yang bergerak seiring dengan sodokan penisnya. “Bisa melar ini perut lama-lama,” komentar Varka asal sembari menekan ereksinya sendiri dari luar tubuh Lohen.

Flins terkekeh melihat kelakuan tiga orang di hadapannya. Matanya bergantian merekam ekspresi semua kekasihnya. Pelipis Varka yang berkeringat dan bibir yang sumringah oleh tamak, kedua mata Lohen yang mulai berkabut penuh hasrat, dan pipi Illuga yang menggembung oleh ereksi dan memerah oleh nafsu. Ah, sungguh Flins pun ingin turut serta dalam pergumulan seronok ini.

Karenanya, ia angkat kedua kaki Illuga dan ia lingkarkan di pinggangnya. Tak lupa ia jambak kembali rambut Lohen, memisahkan mulut basah itu dengan ereksi matang yang berkilat di bawah cahaya lampu. Flins memposisikan penisnya di depan lubang anal Illuga, menempelkannya erat.

“Nih, kesukaan kamu,” ujar Flis sambil mendorong ereksinya memasuki lubang anal Illuga. Ia mendesah, namun juga terkekeh pelan ketika melihat langsung bagaimana pupil Lohen yang membulat ketika senggama tersebut berlangsung.

Fuck!” Varka memaki, kedua tangan mengerat di pinggang kecil Lohen menahan agar pria itu tak bertingkah dengan penisnya di dalam. “Makin sempit aja kamu liat Illuga dikontolin begitu?” Ia tarik keluar penisnya sampai ke ujung sebelum ia hantam lagi lubang anus Lohen tanpa peduli kejut macam apa yang membuat tubuh Lohen menggelinjang keenakan.

Lohen hanya bisa mendesah, panjang, karena lagi-lagi Varka menyodok titik sensitifnya. Lagi-lagi kerongkongan Illuga memijat ereksinya. Flins? Tentu saja kembali menyulut nafsunya : menarik penisnya keluar dari lubang Illuga, mendorongnya cepat tepat di depan mata Lohen, dan membiarkan kejantanan keras Illuga yang menampar mulut Lohen yang mulai terengah pendek.

“Jadi inget waktu dia klimaks saat liat Illuga kita garap bareng,” Flins menggerakkan panggulnya lambat, menikmati tiap tarikan dari liang Illuga yang terlalu suka menghisap penisnya. “Diiket di kursi, gak diapa-apain. Eh, Illuga klimaks dia ikutan klimaks.”

Kali ini, Varka yang terbahak. Tubuhnya yang bergetar terasa bagai stimulasi baru di bokong Lohen, membuat lelaki bersurai toska muda itu kembali mendesah. “Hahaha! Seleranya bagus,” seloroh Varka, menarik penisnya menjauh sambil ia melihat Illuga yang mulai mabuk oleh kejantanan Lohen di mulutnya. “Siapa yang gak sange kalau liat Illuga lagi klimaks coba?” Varka berhenti sejenak, memastikan Illuga masih bisa bernafas dan tidak sesak karena terlalu khidmat menikmati ereksi Lohen di mulutnya.

Illuga yang tengah dibicarakan tidak menjawab. Mulutnya penuh, lidahnya berat, anusnya pun tengah disodok oleh Flins. Ia sibuk menggerakkan kepalanya naik turun, memijat ereksi Lohen dengan otot kerongkongannya dengan kedua pipi menggembung dan nafas yang berpacu dengan nafsu. Beberapa kali ini merasakan penisnya hampir masuk ke mulut Lohen, membuat lubangnya mengetat oleh ingin yang makin menanjak.

“Varkaaa,” Lohen merengek, berusaha mendorong panggulnya yang tetap tak bergerak dalam cengkraman kedua tangan Varka, “kencengin,” pintanya tak sabar. Ia menjulurkan lidahnya, berusaha menjilat ereksi Illuga di depan mata. Flins yang tak berhenti menyodok Illuga membuat kejantanan itu tidak bisa diam di tempat untuk dia kulum, hanya berulang kali menampar wajahnya. “Mau Illu juga,” desahnya pada Flins.

“Gak mau saya?” goda Flins sambil menghantam prostat Illuga lagi dengan penisnya.

Lohen berdecak, seolah lupa kalau tengah sibuk senggama. Kedua mata menatap Flins tajam, namun lidahnya perlahan menjilat ereksi Illuga. Pangkal, ke ujung, kembali ke pangkal, naik kembali ke kepala penis yang memerah itu lalu terus berlanjut sampai ke salah satu buah zakar Flins.

Menjilat.

Mengecup.

Menghisap.

Mengigit kulit tipis yang meledakkan erang nikmat dari bibir Flins begitu saja.

Good boy,” puji Flins singkat. Tangannya segera meraih rambut Lohen, mengarahkan kepala itu ke tempat yang ia mau. Sesukanya. “Pakai tanganmu buat Illu,” perintahnya, nafas terburu dengan panggul yang masih terus bergerak, “mulutmu buat saya.”

Lohen mengikuti omongan Flins bukan karena ia seorang penurut. Namun, nafsu sudah kepalang dalam. Dia mau enak. Mereka semua ingin jatuh dari puncak kenikmatan bersama-sama. Apalah Lohen kalau tidak mencari kesenangan dari sesuatu yang mungkin tidak masuk akal dari posisi mereka senggama ini?

Karenanya, ia meraih ereksi Illuga dengan satu tangan, mengabaikan nyeri di punggung karena menahan posisi yang mungkin terlalu lama tegangnya. Ibu jarinya mengusap uretra Illuga kasar, telapaknya memijat ereksi tegak itu kuat, Illuga tersedak oleh penisnya di bawah, dan Lohen ingin membuat pacarnya yang itu gumoh oleh ejakulasinya.

Ia mendesah ketika kulit kepalanya terasa panas oleh erat tangan Flins di sana. Lehernya menekuk dalam, hidung terkubur di selangkangan Flins, dengan mulut yang masih berusaha menampung pelir yang tak berhenti bergoyang hebat.

Seseorang mendesah, dan memaki, menyerukan nikmat. Bukan dia, karena mulutnya sibuk mencumbu kemaluan Flins. Bukan Illuga, karena mulutnya masih lahap menyantap kejantanannya. Mungkin Varka, yang meremas kedua bokongnya, menubrukkan panggul kuat sampai Lohen berharap ada memar bekas senggama mereka di sana. Bisa jadi Flins, yang menarik rambut Lohen lebih erat, yang titik senggamanya dengan Illuga mulai berbusa karena kebanyakan goyang.

Oh, sungguh Lohen bisa merasakan nafsu itu mendaki begitu cepat. Dari basah kulit dan becek seluruh lubangnya. Dari panas yang bergulir dan mengaduk badannya. Dari desah yang bersahutan. Dari erang yang saling menyusul. Dari nikmat, nyeri, damba, sesak, pasrah, serta nafsu yang memenuhi seluruh jengkal tubuhnya dari ujung kepala, kaki, sampai ereksinya. Seluruhnya, menyoraki dan mendorongnya sampai ke puncak elasi yang tak ingin ia sudahi.

Dan, Lohen lah yang pertama jatuh.

Karena Varka menampar kedua bokongnya sampai merah.

Karena Illuga menghisap penis dan mencubit kedua buah zakarnya bersamaan.

Karena Flins menahan kepalanya di tempat, hingga hidungnya hanya bisa menghirup aroma persetubuhan antara dirinya dan Illuga.

Sekali lagi, Lohen diingatkan bahwa ia tidak sendirian. Meski klimaksnya tidak disertai desah nikmat berkepanjangan. Meski ereksinya membuncah tanpa gempita di mulut Illuga. Ia jatuh, namun ketiga kekasihnya akan menangkapnya dengan senang hati. Bangga, mungkin, karena Lohen sudah membiarkan dirinya dicintai sebegitu binalnya.

Varka klimaks sesaat setelah Lohen, menghadiahi tubuhnya dengan semburan ejakulasi kental, hangat, dan berlimpah. Illuga menampung seluruh cairannya, menelannya sampai tuntas, dan mendesah begitu dalam setelahnya. Panggulnya kemudian bergerak, mencari pelepasan, hingga Flins akhirnya memberikan mulut Lohen sebagai wadah untuk melepas hasrat. Lohen melenguh, dengan penis Illuga memenuhi mulut, dengan mani yang menafikan dahaganya sementara. Flins lah yang paling akhir mengejar klimaksnya sendiri. Baru pecah ketika Lohen mengangkat wajah, dengan cairan mani putih menetes dari ujung bibirnya, dengan lidah masih dengan sisa cairan putih ia pamerkan kepada sang maestro yang sedari tadi memainkan orkestra hasrat semuanya.

Flins klimaks. Sebagian ia keluarkan di dalam Illuga. Sebagian di wajah Lohen yang sudah mabuk oleh rasa dan senggama. Ia ciumkan ujung kejantanannya di sekeliling bibir pria yang masih berenang dalam sisa elasinya. Mata berkilat melihat kulit yang kini sudah lembab oleh keringat dan cairan semen hangat yang baru keluar dari lubang.

“Enak?” tanya Flins, masih dengan goda di ujung kata. Mudah baginya untuk merengkuh Lohen, menarik pria itu hinggga duduk di pangkuannya. Satu tangan memijat lembut punggung yang sejak tadi tegang itu. Tangan lainnya meratakan cairan ejakulasi di wajah mungil Lohen.

Lohen mengangguk, karena ia sibuk mengulum cairan hangat di lidahnya sebelum ia buka kembali mulutnya dan memamerkan lidahnya yang sudah kembali bersih dan merah.

What a perfect boy,” pujinya tulus, menghadiahkan sebuah kecup di bibir Lohen yang basah.

Lohen masih tak menjawab. Kepalanya menolak bekerja keras. Tubuhnya masih hangat, elasinya masih belum sepenuhnya reda. Ia melingkarkan kedua tangan di punggung Flins, memilih menyandarkan kepala di bahu lebar yang terasa lembab oleh keringat.

Namun, ketika tangan Flins meninggalkan punggungnya, perlahan turun ke celah pantatnya, menarik salah satu belahnya perlahan, dan mendorong satu jari melewari cincin otot anusnya. Seluruh tubuh Lohen meremang kembali dalam satu antisipasi yang mengaduk perutnya.

“But I still want you here,” bisik Flins. Bibir mendarat di leher Lohen, mencumbunya mesra. “Illuga too,” lanjutnya, kembali mencium. “Both of us.

Dan Lohen mendesah. Kembali menyerahkan tubuhnya untuk disantap habis oleh ketiga kekasihnya.

Lagi.

.

“Cukup ya, Kyryll. Besok kita ke planetarium.”

Notes:

Seharusnya ini selesai sebelum banner Lohen rilis tapi ya hidup ada aja kerjaannya. I love them. Oh my I LOVE THEM. I have this urge to pamper each of them. Indulge them in pure lust, ecstasy, and greed. But also drizzled them with something toothachingly sweetness, love, devotion, and maybe bits of well mannered teases here and there. This is my first time writing a 4P PWP (yeah, I have another poly series but the rating just so safe), so yeah apologize for ridiculous positioning for those four. Illuga has to make sure they'll be arrived at the planetarium at 9 AM sharp--and I am not immune with his threat either. So, yeah.

Biggest thankies for my beta reader @nyaonichi. This Lohen-centric for you.
That sexy dom!Illuga is mine, tho.

Series this work belongs to: