Work Text:
Rendaman air itu memerah, mendistorsi kejernihan, akan lebih pekat bila Xinyu kurang cekatan menyesap rembesan darah dari sela ibu jari yang Sohyun sumpalkan pada taringnya.
Mati-matian ia mempertahankan diri di posisi tidak nyaman. Punggungnya merosot oleh permukaan bathtub licin. Tangan perempuan di atas pinggangnya, yang bertumpu pada bahu semakin memperburuk semua.
Sepasang iris bak permata rubi menggebu-gebu oleh ketamakan, menuding kepada milik Sohyun yang kelam oleh nafsu. Menawan wajah sang manusia mengukir seringai, seakan menantang kerakusan Xinyu; menantang maut.
Namun, bukankah itu titik menyenangkannya?
"Merasa lebih hidup, lil vampire?" ejek Sohyun. Alisnya menekuk naik. Ibu jari menyeka bercak di sudut mulut Xinyu, menawarkan kembali pada lidah yang langsung menyelip keluar.
"Seperti terlahir kembali."
"Untukku?"
Cengkeraman Sohyun menuntut di rahang yang tegas. Namun, dominasi tersebut tak lebihnya intimidasi receh dibandingkan dengan Xinyu yang turut menyasar pergelangan tangannya ketika kekuatan anomali mendefinisikan dirinya.
"Untuk menghancurkanmu," geram Xinyu.
Ia terkekeh. Sohyun menarik vampir di bawahnya hingga menegap. Embus napas bertabrakan, hangat di tengah basah dan dingin sentuhan Xinyu menjamah tubuh—bersih tanpa sehelai kain menyampir.
"Kamu berhutang." Lengan Sohyun mengalung posesif di leher Xinyu. "Tidak boleh semena-mena."
"Aku sedang membayarnya."
Kening mereka beradu. Dalam jarak menyisa sebuku jari, tatapan keduanya seolah sedang mempelajari fitur cantik satu sama lain, sebelum akhirnya rekahan bibir itu saling memagut; menyempurnakan lekukan.
"Hanya setengah," lenguh Sohyun, di antara kecupan tipis yang mengawang-awang.
"Hm ... bagaimana memenuhinya?"
"Oh, little miss vampire."
Tawanya merdu, menggelitik pendengaran Xinyu yang peka bahkan pada bagaimana para kelelawar berbicara. Kehangatan tangan Sohyun menangkup wajahnya. Begitu hidup, begitu menjamin untuk melelehkan bahkan seorang bongkahan es yang mewujud raga.
"Manusia tidak mengenal puas."
"Menyedihkan," ledek Xinyu.
"Makanya, tolong hapuskan kesedihan itu."
Sohyun meraih jari-jemari lentik Xinyu, dituntun menyusuri kesempurnaan yang memahat segenap tentang dirinya. Tenggelam ke antara kedua paha yang mengangkangi tungkai jenjang.
Ia meringis. Kontras suhu Xinyu menyengat di sela-sela dinding intimnya. Tanpa perlu diberitahu lebih jauh, mengacak-acak dalam air yang meredam.
"Apakah akan melunasi hutangku?" Xinyu terlena keindahan paras yang mempercayakan surgawi di tangannya.
"Mhm, setidaknya."
Kepala Sohyun mendongak, diangkat kenikmatan. Mengekspos godaan yang membuat pergerakan Xinyu kian antusias. Taringnya memanjang secara naluriah.
Bagian mananya bukanlah perkara, tetapi vampir juga memiliki selera. Ibarat manusia dengan paha dan dada, begitupun Xinyu perihal leher sebagai yang paling menggugah.
"Aku mau menambahkannya."
Lengan Sohyun terlipat ke belakang, menyisir lembaran rambut dari satu sisi. Atentif, seduktif.
"Silahkan."
