Actions

Work Header

Rumah Retak

Summary:

Masih terpeta jelas dalam ingatan Fang bagaimana angin rumah yang semestinya membawa kehangatan justru meniupkan dingin yang menusuk setelah kabar paling mustahil terucap oleh Komandan Koko Ci. Satu kalimat sederhana yang mampu memutarbalikkan dunianya dalam sekejap.

“Kapten Kaizo gugur dalam misi.”

Fang short fic ft. Kaizo (Gogobugi brothers)

Notes:

Commission work on X

Work Text:

SETIAP yang merasakan duka pasti akan memiliki reaksi berbeda, dan dunia ini belum punya buku panduan yang benar-benar mampu menuntun semua orang melalui masa kehilangan. Banyak yang bilang bagian tersulit dari melepas sesuatu adalah penerimaan. Memang tidak keliru, sebab untuk bisa sampai pada titik kerelaan tersebut, tentu ada harga yang harus dibayar di muka. Seperti misalnya, menempuh fase penyangkalan yang senantiasa datang di awal serta diikuti oleh badai emosi. Kemarahan menjadi salah satu yang acapkali termanifestasi dari pengingkaran takdir perpisahan. Mereka menolak fakta, menghindar dari kenyataan, kemudian murka terhadap diri sendiri serta objek yang meninggalkan mereka. Mereka menyalahkan semua hal atas nestapa yang sedang dilaluinya.

Masih terpeta jelas dalam ingatan Fang bagaimana angin rumah yang semestinya membawa kehangatan justru meniupkan dingin yang menusuk setelah kabar paling mustahil terucap oleh Komandan Koko Ci. Satu kalimat sederhana yang mampu memutarbalikkan dunianya dalam sekejap.

“Kapten Kaizo gugur dalam misi.” 

Kapten Kaizo mati. 

Tiga kata lucu yang Fang dapatkan siang ini resmi menuai dengkus ejek darinya. 

Kapten Kaizo mati.

Seriusan?

Kapten Kaizo yang itu? Sang Legenda Kapten terkuat kepunyaan TAPOPS?

Kaizo yang merupakan Abangnya? Kakak kandungnya?

Abang kandungnya mati. 

Haha. Lelucon yang tidak lucu sama sekali.

Fang tidak perlu Boboiboy berubah menjadi Halilintar untuk menyengatnya dengan petir di siang bolong. Berita yang disampaikan Komandan Koko Ci kala itu lebih dari cukup membuatnya bagai tersambar petir dan listrik paling dahsyat yang pernah ada.

Seumur-umur menjalani kehidupan, tidak pernah sekali pun terlintas dalam benak Fang bahwa abangnya bisa mati. Barangkali citra yang selama ini dikenakan oleh sang kakak kandung membuatnya berkeyakinan demikian. Bukankah hal yang wajar bila Fang, yang sejak kecil terpapar oleh sosok Kaizo, menanamkan pemikiran tersebut?

Fang menilai Kaizo sebagai makhluk yang keras nan tegas, selalu kuat, tampak begitu hebat, dan selalu menyelesaikan misi dengan sempurna. Kaizo Sang Kapten      TAPOPS. Bahkan nama serta julukan megahnya pun membuat orang-orang merinding saat mendengarnya. Jadi, sangat amat tidak mungkin kalau abangnya itu pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Katakanlah bahwa ia keras kepala dan naif. 

Fang memang naif.

Sepertinya ia lupa kalau abang kandungnya bukanlah makhluk abadi yang kebal di tangan takdir semesta. Juga, galaksi ini luas. Terlalu luas untuk pemikiran sempit Fang yang merasa mereka tidak bisa mengambil Kapten Kaizo dari dunia fana. Ia cuma seorang mantan anak kecil yang menginjak remaja untuk mengetahui bahwasannya galaksi tidak akan segan mencabut apa pun dan siapa pun dalam hitungan detik. 

Fang tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat akan hidup tanpa kehadiran sang abang—yaitu sekarang. Lucu bagaimana ia merasa dirinya begitu kontradiktif. Ia selalu kesal karena abangnya terlalu keras, sering kali marah padanya, dan sangat galak seolah akan memakan orang sampai habis. Namun ketiadaan Kaizo justru membuatnya hilang arah. Fang menjadi linglung. Tidak tahu kehidupannya mau dibawa ke mana. Tidak tahu harus bagaimana kedepannya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Semuanya terlalu mendadak. Kepergian Kaizo sekadar tinggalkan jejak.

Semestinya, kehadiran kedua orang tuanya bisa membuat lara yang singgah di hati menjadi sirna seketika. Fang sama sekali tidak merasa terhibur akan itu. Luka yang menganga tidak serta-merta dapat diberi kain kasa biasa. 

Benar juga. Orang tua kandungnya telah kembali.

Rasanya seperti baru kemarin ia cicipi tangis haru beserta kehangatan rumah yang dibawa oleh mereka. Baru kemarin dirinya direngkuh oleh cinta kasih dari dua orang dewasa yang menghadirkannya ke dunia. Dan baru kemarin merasakan kedatangannya dinanti-nanti oleh keluarga sendiri.

Fang sering kali menyaksikan teman-teman manusianya disambut dengan penuh suka cita oleh keluarga masing-masing. Mereka menerima rentangan dan uluran tangan yang  senantiasa terbuka, kemudian terjadilah pelukan singkat yang kelihatannya sangat amat berharga dibanding permata jenis apa pun yang ada di dunia. 

Fang begitu penasaran, tetapi tidak banyak yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa duduk termenung sendirian, berpura-pura menjaga kapal angkasa sampai Tok Aba dan Boboiboy menawarinya tempat berpulang sementara.

Baru kemarin Fang akhirnya bisa merasakan apa yang selalu teman-temannya miliki. Namun sekarang kebahagiaan kecilnya direnggut lagi karena ulah Kaizo. Si bangsat itu mati. Kalau ada alien terbangsat yang pernah Fang ketahui, maka jawaban mutlaknya adalah Kaizo si Kapten TAPOPS.  

Si bangsat itu berani mati sebelum tahu apa yang terjadi.  

Berani-beraninya dia mati tanpa mengetahui kembalinya kedua orang tua mereka.

Si bangsat itu kini hanya terbujur kaku di atas ranjang mayat, dan tampak siap untuk dikremasi segera. Tangis pilu kedua orang tua, dan ucapan-ucapan duka dari pasukan    TAPOPS lainnya cuma menjadi latar belakang kebisingan saat ia berdiri tepat di samping kepala abangnya yang bermuka jelek. Jelek sekali. Mana yang katanya alien paling tampan segalaksi? Kaizo dihiasi noda merah tanda perjuangannya, yang mengalir dari dahi hingga ke sisi kanan wajahnya. Tetap saja jelek. Pakaian misi penyamarannya compang-camping, membuat luka-luka lain di sekujur permukaan kulitnya terpampang nyata. Salah satu kakinya terbentang aneh seperti dislokasi.

Ia menyaksikan wajah damai dari mayat sang kapten. Jelek tapi damai. Raut sangar itu berganti laiknya orang yang tengah tertidur sangat pulas lantaran baru saja melepas beban dunia dari kedua pundaknya. Kelopak matanya menyembunyikan tatapan tajam nan keras yang biasa dia layangkan tanpa pandang bulu—terutama ke adiknya sendiri. Mulut yang suka mengeluarkan kalimat tegas dan tidak segan membentak siapa saja yang menurutnya bodoh itu resmi terkunci rapat.

Kendati perangai abangnya yang galak terhadap siapa pun, Fang tahu bila di balik tabir sang kapten terdapat sikap protektif. Yang paling penting dari semua hal, Fang tahu kalau abangnya tidak pernah membencinya meski Fang dibiarkan kosong dan menyendiri kala itu. Meski setiap pertemuan mereka hanya diisi oleh sarkasme dan bentakan keras sang kapten. Dan meski seolah tidak sudi menatap matanya disertai setitik kelembutan. Setidaknya, Fang pernah menerima rekaman suara dia di hari spesialnya. 

“Bagaimana misimu yang kemarin, Pang? Kudengar situasinya hampir di luar kendali, dan kau terluka cukup parah. Dasar lemah. Aku tidak pernah mendidikmu untuk tumbuh menjadi pasukan yang payah. Tugas berikutnya kau wajib menyelesaikannya tanpa cacat. Aku tidak mau mendengar kabar kegagalanmu. 

Lekaslah pulih agar kau bisa berlatih lebih keras, karena kau memiliki pertarungan berat lainnya di masa depan. Berdiri dengan kedua kakimu sendiri. Jadilah pasukan yang dapat diandalkan. Jangan manja dan merengek kekanakan.” Fang menekan tombol jeda untuk mengembuskan napas letih. 

Siapa juga yang ingin berbaring di ranjang orang sakit lama-lama? Fang pun ingin menjadi kuat melampaui batas. Ia lihat teman-temannya sudah improvisasi kuasa lebih baik dari sebelumnya. Fang tidak sudi tertinggal. 

Fang memejamkan mata kala pusing mendera. ‘Oleh-oleh’ kepulangan misinya berdenyut sakit. Bagus sekali. Di hari ulang tahunnya, Fang justru malah mendapat bencana, dan badannya terasa remuk bagai dihantam dua planet besar yang bertabrakan. Ditambah rekaman pesan dari Kapten Kaizo tidak menunjukkan keprihatinan sedikit pun. 

Apa boleh buat. 

Fang mengedikkan kedua bahunya tak acuh, lalu menekan tombol putar lagi di layar tablet canggihnya.

“...Satu lagi pesanku, Pang. Kau sudah besar. Usiamu bertambah hari ini. Jangan membuat orang-orang repot membereskan semua masalahmu.” 

Tidak ada sejarahnya Kaizo berlemah lembut mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Adikku tersayang!” Tetapi kalimat sang kakak yang Fang dengar di hari kelahirannya terakhir kali menjadi bukti kecil bahwa abangnya masih peduli untuk sekadar mengingat hal remeh. 

            Kaizo juga jadi agak melunak pasca pertarungan Gur’latan—tepatnya usai hubungannya dengan Kira’na terpulihkan. Entah bujuk rayu atau hantaman telak yang seperti apa dari wanita itu hingga membuat Kaizo pertama kalinya membawa permintaan maaf ke tangan ia. 

Masih terpeta jelas dalam ingatan si alien remaja bagaimana ekspresi tegas Kapten Kaizo berubah total. Senyuman lembut disertai kelegaan luar biasa yang munculnya cuma satu kali di Bulan Biru itu terlukis. Malam itu Kapten Kaizo melunturkan pangkat serta formalitasnya di hadapan Fang. Netra lirdarah memancarkan ketulusan yang selama ini tersembunyi dengan baik. Fang sampai tidak percaya pada apa yang ia lihat. 

“Pang… Abang minta maaf atas segalanya.” Suara Kaizo terdengar sedikit bergetar di ujung kalimat, menyesali sikap dan tindakan kerasnya pada sang adik. 

“Abang sadar kalau selama ini Abang sangat tidak mencerminkan seorang kakak yang patut dicontoh oleh adiknya.” Bang Kaizo menjeda, sementara Fang menantu dengan sabar. “Abang bukan seorang kakak yang sempurna—dan Abang tidak menganggap itu merupakan hal yang wajar.”

“Abang membesarkanmu terlalu ketat dan keras, memaksamu mandiri di usia belia hingga kau hampir lupa caranya ‘bernapas’ bebas seperti bocah-bocah lainnya. 

“Abang juga meninggalkanmu sendirian di Bumi, dan mengacaukan pertemanan barumu. Padahal seharusnya kau bisa menjadi teman yang dapat dipercaya.

“Abang sadar kalau Abang telah merusak masa kecilmu, dan pada akhirnya berimbas ke kehidupan remajamu sekarang.”

“Abang tidak membencimu, Pang. Sama sekali.”

Fang belum merespons apa pun. Alien remaja itu menengadah, memanjakan pandangannya dengan kerlip bintang di langit kelam yang membentang. Kaki bersepatu boots-nya menggantung dan berayun-ayun pelan. 

Pengakuan dan penyesalan abangnya membuat hati Fang sedikit menghangat. Ia memvalidasi bahwa Kaizo bukanlah seorang kakak yang sempurna bila dilihat dari berbagai aspek. Tapi dari kecil sampai detik ini, cuma abangnyalah yang sedekat nadi dan berbagi darah yang sama dengannya. Mereka hanya memiliki satu sama lain sebagai tempat berpulang walaupun rumah yang mereka bangun terlalu temaram disertai fondasi yang retak parah sebagian.

Di atas box tinggi yang mereka duduki bersama, Fang turut mencurahkan isi hatinya.

“Aku pun sebenarnya tidak membencimu, Abang.”

‘Abang’, ia bilang? Biasanya ‘Kapten’. Ah. Lidahnya masih seluwes dulu saat masih piyik. 

“Tapi Abang tahu, aku selalu berusaha mati-matian, ketika di saat yang sama, Abang juga yang menjatuhkan semua usahaku.” Fang menunduk, memandangi kedua telapak tangannya sendiri. “‘Bocah ini’ tidak pernah merasa cukup, dan cuma bisa mengantongi harapan semu….” 

Fang menelan ludahnya sukar. Tenggorokannya bagai terlilit akar berduri, tapi ia menolak terlihat tak berdaya. “...Kalau suatu saat nanti, sang kakak akan melihat dan mengakui adiknya.”

Tidak ada air yang menetes dari dua pasang mata kembar milik kakak beradik Gogobugi, karena malam itu, mereka saling merengkuh canggung. Tepukan di pundak Fang, serta suara parau Kaizo menjelma sebagai penambal retakan fondasi yang selama ini diabaikan begitu saja. 

“Abang bangga padamu, Pang.”

Sialan. 

Sialan. 

Itu beberapa bulan lalu mereka akur kikuk. Sekarang apa? Abangnya mati dan minggat dari rumah retak mereka yang telah ditambal susah payah? Bang Kaizo telah meninggalkannya sendirian di rumah yang hancur tinggal puing.

Sehari setelah acara kremasi Bang Kaizo, akhirnya Fang diboyong ke tanah kelahirannya untuk menetap sementara selama masa berduka. Bertahun-tahun kebanyakan bolak-balik tinggal di bumi dan Markas TAPOPS membuat semuanya terasa asing bagi Fang. Ia cukup terkejut ternyata keluarga mereka pernah memiliki rumah yang normal, dan bukannya rumah sewaan di suatu planet tertentu (dan bumi) yang sekadar dijadikan tempat ia dan abangnya ‘tuk bersinggah. Menginjakkan kaki pertama kali di lantai bangunan sederhana ini tidak serta-merta buatnya familier. Yah, setidaknya ada ayah dan ibunya yang akan mendampingi Fang selama membiasakan diri di sini

Namun ia salah mengira. Kesehariannya berubah seratus delapan puluh derajat. 

Hari pertama dan kedua, Fang masih duduk bersama orang tuanya di meja makan meski sering kali mencuri lirikan ke arah kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Bang Kaizo—andaikata lelaki itu masih hidup dan ikut serta dalam agenda santai keluarga.

“Kau makan lambat sekali, Pang. Tak heran jika kau tertinggal jauh di bawah teman-temanmu.” Adalah sarkasme yang biasa ia terima sejak kecil, lalu setelahnya dengkusan pasrah disertai ejekan penuh kekesalan cuma bisa diekspresikan di dalam hati.

Seandainya saja Bang Kaizo tidak mati, mungkin kalimat tajamnya itu sudah menyerang Fang sampai kupingnya pengang. Sekarang nada galak itu sirna, tergantikan oleh intonasi lembut kedua orang tuanya. Dan saat menyadarinya lagi, dada Fang bagai ditusuk ribuan jarum tak kasat mata. 

Hari ketiga, ia menolak bicara pada siapa pun karena kepalanya semakin dikepung berbagai macam pemikiran ‘seandainya’ yang berhubungan dengan Kaizo. Tiap kali melakukan sesuatu, otaknya secara otomatis mengarahkan ingatan akan sang kapten. Contoh kecilnya; kala itu Fang berlatih untuk meningkatkan kekuatannya di halaman belakang rumah, lalu tanpa bisa dikendalikan, imajinasinya melukis sosok Kaizo yang tampak sangat siap memberinya menu latihan neraka. 

“Kalau kau tidak mampu melukaiku seujung kuku pun, artinya kau lemah!”

“Jangan biarkan tubuhmu bergerak terlalu impulsif! Insting mentah tidak akan membuatmu menang melawan musuh!”

“Kontrol emosimu, Pang!”

“Kau terlalu bergantung pada kuasa bayangmu! Ada saatnya di mana kau harus bertarung menggunakan tangan sendiri!

“FOKUS, PANG!”

Bayang-bayang dampratan maut sang kapten berhasil membuat Fang menghancurkan samsak tinjunya dalam beberapa kali pukulan. Buku jarinya sobek, dihiasi luka kecil-kecil yang perih bukan main. Tetapi rasanya masih tidak sebanding dengan amarah yang masih bergemuruh. Pelampiasannya barusan seolah belum cukup untuk melepaskan hantu Bang Kaizo di akar pikirannya. 

“Sialan…,” rintihnya pelan.

Fang semakin murung. Kedua orang tuanya sudah berkali-kali membujuknya untuk sekadar berbicara pada mereka. Namun ia tetap bungkam, lebih memilih berbaring seharian di dalam gelap gulita kamar. 

“Fang… Ayo keluar sebentar, Nak.” Sang kepala keluarga berdiri di depan pintu kamar anaknya

Ibu Fang menatap suaminya dengan sirat kekhawatiran luar biasa. “Belum berhasil juga?” 

Pria paruh baya itu menghela napas panjang. “Belum,” jawabnya singkat.

“Nak… Kami rindu padamu. Mak bikinkan cokelat panas, ya?” Begitu lembut bujukan sang ibu, berharap Fang akan luluh. Wanita itu mengelus-elus kayu daun pintu dengan nanar. “Atau Mak panggilkan teman-teman kamu?” 

Fang mendengar semuanya dari dalam ruangan. Tapi ia kukuh bergeming.

Panggilan dari teman-temannya pun tak diindahkan sama sekali ketika mereka berkunjung. Kedengaran egois. Fang tahu betul kalau mereka semua cuma berusaha menghiburnya. Bukan salah mereka. Tapi apa mau dikata; ia sendiri belum sanggup pulih dari cedera yang abangnya ciptakan.

Tubuhnya hadir di masa sekarang, di rumah ternyaman kedua orang tua, tetapi jiwanya masih berkelana jauh melampaui memori tempo hari lalu, tepat di hari kematian sang abang. Ternyata sudah beberapa hari sejak peristiwa itu, ya. Batinnya getir. 

Masih terpatri di dalam ingatan bagaimana kepalan tangannya mendarat keras di dada dan bahu jasad sang abang, memuntahkan kemarahannya pada Kaizo yang tergolek lemas dengan wajah yang kelewat damai. Berani-beraninya dia terlihat begitu damai di saat fondasi rumah retak yang perlahan-lahan mereka perbaiki waktu itu, sekarang dibiarkan runtuh seketika.  

Sialan!

Orang ini harus bangun sekarang juga—atau ia sendiri yang akan memukulinya sampai wajahnya hancur. Biar mampus penggemarnya pada kabur. 

Atau sekalian saja Fang matikan dia dengan tangannya sendiri.  

Kaizo seharusnya tidak boleh mati kecuali di tangan Fang.  

“Kapten Kaizo! Bangun! Brengsek!” Fang berteriak murka. Ia menarik kerah kaos sang kapten seraya meninju wajahnya berkali-kali.  

“BANGUN, ABANG!” Fang membabi buta dan akan nekat naik ke atas ranjang besi untuk menginjak raga tak bernyawa abangnya andaikata kelakuan barbariknya tidak dicegah oleh sang ayah.

“FANG! BERHENTI!”

Merah bukan hanya penggambaran betapa Fang ingin meledak, tetapi juga seluruh permukaan wajahnya. Dadanya kembang kempis disertai napas yang tidak beraturan. Tubuhnya ditahan kuat oleh sang ayah.

“Ayah tahu kamu begitu kehilangan abangmu, tapi jangan seperti ini, Nak.” 

Fang menepis rangkulan sang ayah, kemudian ia berjongkok. Ia menjambak rambut ungunya sendiri sebagai pelampiasan. 

Bang Kaizo bajingan. Bajingan tengik itu masih tidak mau bangun juga bahkan setelah ia berteriak di depan mukanya—bahkan setelah barusan ia hajar di tempat, di ranjang besinya.

Di mana tanggung jawabnya? Fang ditinggal lagi sendirian. Bajingan itu belum sempat pula bertemu dengan orang tua kandung mereka. Kaizo melarikan diri dari dunia tanpa sudi membenahi apa yang telah dia perbuat. Dia membuat Mak mereka menangis dan meraung-raung histeris. Dia membuat Ayah mereka berpura-pura tegar, lalu sekarang diam bagai patung memandangi putra sulung kebanggaannya.

Tangan Fang menunjuk ke arah kedua orang tuanya. “Lihatlah, brengsek! Lihat apa yang telah kau perbuat! Kau… Kau anak durhaka! Kau membuat orang tuamu menangis!” Fang memukul dada nihil detak milik abangnya lagi. “Apa yang harus kubilang pada Putri Kira’na?”

Fang terlalu sibuk mengamuk di hadapan mayat sang abang. Telinganya seolah menuli hingga derap langkah teratur yang muncul dari belakang tidak disadari olehnya. 

“Fang.”

Panggilan serta tepukan di bahu secara tiba-tiba sontak membuatnya terperanjat. Ia melepas cengkeraman kerah baju Kaizo, lalu menoleh ke sumber suara—dan langsung terbelalak lebar-lebar. Putri Kira’na berdiri di belakangnya dengan raut sendu. Fang tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.

Mengerti akan keterdiamannya, Kira’na bersuara kembali. “Aku turut berduka cita,” Wanita itu mengucapkan belasungkawa yang mendalam seraya mengusap-usap bahunya seolah ingin menenangkannya.

Cukup berhasil. Fang lantas menunduk, enggan balas menatap wanita yang pernah dekat dengan abangnya.

Kira’na melanjutkan, “Aku mengerti perasaanmu.” dan Fang bisa menyaksikan mata indah sang dara menatap lurus nan tajam ke arah jasad sang kapten kebanggaan        TAPOPS. “Aku benar-benar tidak sudi percaya kalau Kaizo tewas dalam misi. Tapi…,” jedanya. “Buktinya ada di sini.”

Fang bisa merasakan atmosfer di selingkungnya kian menyesakkan. Ruangan luas ini dijejali berbagai macam emosi duka yang berasal dari tiga makhluk hidup lainnya (Kira’na dan kedua orang tuanya), dan mau tidak mau, Fang malah semakin menghirup aroma kental bernama kehilangan. Fang pusing. Netra di balik kacamata visornya bergetar rapuh menatap Kira’na.

“Aku juga marah, Fang. Sama sepertimu,” lirih sang dara.

Fang menggigit bibirnya kuat-kuat. Dalam hati berteriak sejadi-jadinya. Ia menyalahkan abangnya lagi karena telah berani membuat Putri Kira’na bersedih, padahal keadaan wanita itu baru saja membaik pasca perang Gur’latan. Ini semua salah Kaizo.

“Sudah kubilang, seharusnya TAPOPS dibubarkan saja.” Kira’na menunjukkan senyum pedih ke arahnya. “Tapi semua sudah terlambat, bukan?”

Semua sudah terlambat.

Putri Kira’na ada betulnya juga. Fang dipaksa menelan pil pahit berisi kalimat sang dara waktu itu, dan efeknya masih terasa hingga sekarang. Tenggorokannya amat tercekat biarpun sudah meminum air berupa ketenangan semu. Fakta bahwa semua pihak yang terlibat dalam misi tersebut terlambat mengantisipasi kematian pionirnya terlalu membekas dan bercokol di kepala.

Andai saja abangnya lekas menghubungi bala bantuan saat itu. Andai saja markas pusat merespons Kaizo dengan secepat kilat. Andai saja sang kapten tidak memaksakan diri. Andai saja bukan abangnya yang turun langsung mengeksekusi misi penyamaran itu. Andai saja petinggi     TAPOPS melarang kapten terkuatnya untuk tetap diam di tempat sambil memantau pergerakan musuh saja. Andai saja TAPOPS bubar. Dan seandainya saja—

PRANG!

—ia mau menerima kenyataan kalau Kaizo telah mati.

“ARGHHH! BAJINGAN! SEMUANYA BAJINGAN!” Fang berteriak histeris setelah tangannya menghancurkan cermin kamar. Tidak diacuhkannya jari tangan yang baru sembuh dari luka latihan, kini timbul sobekan yang lebih parah. Bau anyir besi menguap seiring tetes demi tetes bentuk dari kekalapannya itu jatuh ke lantai.

Fang menatap refleksi dirinya sendiri yang terpecah di cermin. Ia menyaksikan betapa menyedihkan sosok remaja berambut ungu itu. Bibirnya bergetar. Matanya melotot marah disertai kumpulan serabut merah. Nihil air mata. Tetapi bukan berarti keadaannya jauh dari kata kacau.

“Semuanya brengsek! Kaizo juga bajingan!”

Panah kesalahan berulang kali ditujukan untuk Kaizo yang sudah berwujud abu sekaligus kepada semua orang yang tidak becus menyelamatkan abangnya. Sekarang, kepada siapa lagi Fang akan jeluakkan penghakimannya?

“Nak… Kami ingin bicara sebentar. Ada Laksamana Maskmana yang ingin bertemu denganmu. Ini tentang masa lalumu dengan abangmu.” 

“...”

Jawabannya adalah kepada mereka yang tiba-tiba datang, dan dengan entengnya membongkar kotak pandora berisi kisah masa lalu ke atas meja ruang tamu rumah orang tuanya. Tepat seminggu masa berduka setelah kematian Kaizo.

“Kalian sengaja menyembunyikan kebenaran cerita dariku selama ini?” Pertanyaan retoris mengalun dingin. Bibir Fang membentuk garis lurus disertai permata ruby miliknya mengabsen satu per satu dari tiga sosok dewasa yang menunduk dalam penuh penyesalan. 

Fakta baru terkuak, padahal Fang masih membalut asal-asalan luka basahnya dengan kain kasa sederhana. Kedua orang tuanya serta Laksamana Maskamana menguraikan untaian benang kusut berupa cerita masa kecil Fang, meletakkan kepingan-kepingan lengkap di puzzle ingatan yang telah terhapus oleh waktu.  

“Maafkan abangmu, Fang. Walaupun sangat banyak kesalahan didiknya terhadapmu, Kaizo seperti itu sebab dibentuk oleh pengalaman menyakitkan di Gogobugi. Dia Cuma ingin melindungimu dengan caranya sendiri.”  

Fang tidak akan pernah bisa memahami apa yang membuat mereka berpikir bahwa menceritakan itu tepat setelah Kaizo mati merupakan langkah yang benar. Fang sudah berada di tahap tidak mampu mendeskripsikan perasaan hancurnya. Ia dikhianati oleh orang yang sepatutnya membimbing dan mengarahkan kehidupannya. Namun apa ini? Apakah mereka menganggapnya sebagai upaya penebusan dosa pengkhianatan? Atau barangkali mereka mengerdilkan rasa kehilangannya?

“Kenapa kalian baru menceritakannya sekarang?”

Semua sudah terlambat. 

Ah. Kalimat Putri Kira’na terngiang lagi.

“Saya yang dulu meminta Kaizo untuk menyembunyikannya darimu, Fang. Kau pun masih terlalu belia saat itu.”

Fang tidak tahu kalau ternyata Maskmana senang bermain-main dengan api kemarahannya. Masih belia, katanya. Baiklah. Alibi tersebut bisa dimaklumi. Tapi mengapa baru sekarang? Jika menurut logika dari orang dewasa yang ia hormati itu berlandaskan pertimbangan risiko trauma yang akan Fang alami di fase kanak-kanaknya, lantas bagaimana dengan kemarin-kemarin saat sudah menginjak remaja dan terhitung cukup besar? Selama ini ia dianggap apa, sih? Ia dibiarkan tenggelam sendirian di dalam lautan pertanyaan tentang keberadaan orang tuanya. 

Dan di detik ini, ia ketahui bahwa rumah keluarga mereka sempat dihancurkan oleh Bora Ra tengik yang pernah dikalahkannya bersama Boboiboy dan teman-teman lain kala itu—sebelum akhirnya dibangun ulang. Tidak ia sangka ternyata musuh tersebut adalah bajingan yang sama.

“Lalu, apakah kalian berencana terus menutupi hal ini dariku seandainya Bang Kaizo tidak mati?”

Nihil jawaban. Fang muak setengah mati. Itulah awal dari keengganannya menyentuh dunia luar. Biar saja ia mendekam selamanya di dalam kamar pribadi. Ini cuma sebagian kecil dari bentuk pertahanan diri.

Tok! Tok! Tok!

“Fang, ayo makan dulu. Qually sudah memasak makanan kesukaanmu—janji, bukan yang aneh-aneh, kok.” Boboiboy belum menyerah membujuknya.

Fang menyelubungi seluruh tubuh dengan selimut. Kebungkamannya pertanda kalau ia menolak keluar, sengaja menghindari perasaan canggung dan asing terhadap kedua orang tuanya sendiri. Sekali lagi ia tegaskan. Ia tidak akan mau menyentuh dunia luar yang tidak ada abangnya—terutama Markas TAPOPS. Semua hal dan semua tempat di sana hanya akan bermuara ke satu ingatan, yakni Kaizo. Untuk apa lagi Fang mengunjungi ruang hampa? Tidak berguna. Semuanya kosong. Cuma ada sisa-sisa tentangnya berserakan yang sukar ‘tuk disapu bersih.

Kini, wajah menyebalkan abangnya hanya terpajang abadi di pojok memori otak dan album foto yang isinya hanya secuil. Suara galak khas Kaizo juga tersimpan baik-baik di dalam kepala serta di tablet canggihnya. Kalau-kalau Fang lupa bagaimana cara abangnya berbicara setelah berhasil menjemput masa depan sekian tahun kemudian, rekaman tersebut akan diputar bagai kaset rusak.

Fang tahu, suatu hari nanti akan ada masa-masa di mana ingatan tentang abangnya memudar seiring beranjak dewasa. Oleh karena itu, ia berjanji pada dirinya sendiri, reruntuhan rumah retak peninggalan abangnya tidak akan pernah diratakan oleh tanah. Biarlah Fang simpan semuanya ke dalam buku bertajuk kenangan.

Hari demi hari dijalani dengan begitu berat. Tidak terasa waktu bergulir cepat. Selama empat bulan ia berupaya bangkit dari keterpurukan—tak bisa dibilang berhasil sebab Fang bagai cangkang tanpa daging. Percik dan rona kehidupannya tidak sekadar meredup, melainkan hilang sebagian besar, menguap bersama angan-angan di mana Kaizo masih hidup.

Yah, setidaknya ia sudah berani menginjakkan kaki keluar rumah meski kadang kala perlu disadarkan ke tanah realitas lantaran terlalu betah melamun kosong. 

Planet Gur’latan selalu menjadi tempat favorit kedua bagi Fang—tolong, jangan tanyakan kenapa. Hari ini ia berkunjung ke sana untuk yang ketiga kalinya setelah sekian lama mengendap di sarangnya. Niat awal melepas rindu (lagi) dengan Putri Kira’na, tapi ia malah berakhir tergeletak mengenaskan di matras latihan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Atau mungkin pernyataan kedua adalah objektif asli bertemu dengan wanita itu.

Napas Fang tersengal-sengal parah. Badannya sakit semua. Tapi ini masih belum sebanding dengan—

Ah, sial. Dadanya nyeri lagi. 

Ia membawa telapak tangannya ke udara, dibolak-balikkan berulang kali. Luka-lukanya yang telah sembuh malah tampak sangat jelas dan kemerahan akibat dipaksa menjadi alat pertarungan ringan. 

Pencahayaan yang masuk ke mata Fang mendadak terhalang. Netra ruby bergulir, dan mendapati sang Putri Gur’latan berdiri tepat di bawah sinar lampu sasana. 

“Fang, kantung matamu menebal,” ucapnya seraya mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Fang masih berbaring, melirik sang dara yang sedang menatapnya dengan sirat kekhawatiran. 

Helaan napas dikeluarkan. “Biarkan saja,” Fang menyahut kelewat kering. 

“Kau seperti sedang menghukum diri sendiri.” 

Fang diam total. Tembakan kalimat telak dari Kira’na langsung terasa di buku-buku jarinya. 

“Fang,” panggil sang dara, berusaha mengambil atensi adik dari mantan Kapten TAPOPS. 

“Ya?” Fang menoleh. Tidak etis rasanya memberi bahu dingin kepada si tuan rumah setelah menumpang latihan. 

“Abangmu pasti akan mengomel dan membentakmu habis-habisan kalau sampai melihat adiknya seberantakan ini.”

Fang mendengkus keras. “Kalau dengan begitu bisa membuat abu Bang Kaizo balik menjadi makhluk hidup, biarkan sajalah.” 

Kira’na memijat pelipisnya. Walau baru tiga kali Fang datang untuk memintanya jadi lawan di arena latihan, wanita itu tahu bahwa si lelaki ungu sedang berada di ambang batas antara ingin melupakan kejadian paling menyakitkan sepanjang hidup dan tetap menyimpan Kaizo dalam ingatannya. Sang Putri Gur’latan paham rasanya. Mereka terhubung secara tidak langsung oleh ikatan tak kasat mata sebagai korban kehilangan. Tapi perilaku Fang itu sudah mengarah menyakiti diri sendiri. Kira’na gatal ingin memberi petuah kepada si remaja ungu. 

“Kau tidak bisa begini terus-menurus, Fang.” Pada akhirnya semua wejangan menggurui ditelan kembali. Kira’na sadar kalau yang anak itu butuhkan bukanlah ceramah panjang lebar. 

Fang memutar bola matanya malas. “Bla bla bla, ucap orang yang setiap malam masih menangis sambil memeluk jaket abangku.”

“SIALAN KAU, BOCAH!” 

“Heleh.” 

Fang memejamkan matanya, mengabaikan Putri Kira’na yang mengamuk konyol lantaran aibnya dibuka terang-terangan.



TAMAT.

 


 

 

BONUS EPILOG

 

Sepasang permata ruby mengerjap pelan, menyambut berkas cahaya yang memantulkan pemandangan wadah kaca berisi abu di hadapannya. Tangan kanan yang terbalut sarung tangan mengambil benda tersebut. Ibu jari mengusap bagian penutupnya.

Sepuluh tahun merupakan waktu yang sangat panjang untuk akhirnya Fang tiba di sebuah titik penerimaan. Tidak disangka ia mampu bertahan melewati hari-hari di mana matahari menolak terbit dan bulan menggelap di peraduan malamnya. Ternyata ia mampu melepas belenggu keterpurukan akibat kematian abang kandungnya. 

Fang tidak bisa membakar hangus kisah hidupnya yang sempat roboh tak berbentuk itu, tetapi saat ini, dewasa mengajarkannya untuk membangun rumah baru yang lebih segar, dan jauh lebih kuat fondasinya dari masa lalu—bersebelahan dengan yang lama tersebut. 

“Kapten! Cepatlah! Kita harus bergegas sekarang!”

Fang lantas menengok begitu teriakan nyaring dari Boboiboy menusuk gendang telinga. 

“Satu menit lagi. Kau panaskan kapal angkasa dulu!” Serunya tak kalah kencang. 

“Siap, Kapten!” 

Fang menggelengkan kepalanya lelah. Satu hal lagi yang ia ketahui. Rupanya menjadi kapten di usia muda bukanlah hal yang patut digembar-gemborkan. Beban tanggung jawabnya sangat besar. Tapi ia tidak menyesal sama sekali saat petinggi TAPOPS menunjuknya sebagai pemimpin seluruh prajurit. Kalau abangnya saja sanggup mengemban tugas dunia di kedua pundaknya kala itu, tentu Fang juga bisa. 

“Abang, aku berangkat menjalankan misi.”

Fang beranjak dari kursinya. Jubah tempur berkibar seiring langkah mantap diambil menuju garasi besar kapal angkasa. Ia telah menitipkan seluruh kenangan tentang Bang Kaizo di atas meja kerja bersama wujud abunya dalam wadah kaca. 

“Abang bangga padamu, Pang.”

Semilir angin membawa suara Kaizo.

Fang kecil duduk memeluk lututnya di tengah-tengah reruntuhan rumah, sementara tubuh remajanya mematung dengan secuil keropos dinding di dalam genggaman yang tak lagi mampu ia susun tanpa adanya Kaizo. Tapi, kedatangan sosok dewasa Fang membuat dua versi masa lalunya itu menoleh.

Ia membawa kedua wujud rapuhnya ke dalam dekapan hangat, kemudian membisikkan kalimat sederhana di telinga mereka.

“Aku pun bangga pada kalian, Fang.”