Work Text:
Sore itu gladi sebuah acara karnaval digelar di desa dekat perumahan tempat Sancaka menjaga sebagai satpam. Walaupun tidak masuk ke dalam gerbang perumahan tersebut, tetap saja itu merupakan area yang termasuk dekat dengan perumahan.
Jika saja terjadi kejadian di perumahan maupun di sekitar perumahan yang berpotensi dapat membahayakan atau mengganggu kenyamanan warga perumahan, seperti volume yang terlalu keras, atau orang yang berkerumun terlalu banyak, tentu sudah menjadi tanggungjawab Sancaka untuk menjaga keamanan perumahan tersebut.
Dan inilah yang sekarang ia lakukan. Perjanjian awalnya adalah truk sound horeg itu akan berparkir di lapangan dekat gerbang komplek dengan volume yang wajar, untuk cek sound karnaval besok katanya. Namun rupanya semakin dibiarkan, semakin melunjak saja.
"Ini siapa yang kerasin sound horegnya! Udah baik saya bolehin masuk, malah ngelamak makin dikerasin!" teriak Sancaka ditengah kerasnya degupan bass sound horeg kepada gerombolan bapak bapak yang sedang ngopi di dekat sound horeg. Ia berasumsi salah satu dari orang itu pasti dalang dari makin kerasnya volume sound horeg ini.
"Mas Awang operatornya, pak satpam, orangnya ada di tenda situ." tunjuk salah satu orang di segerombol bapak bapak yang sedang ngopi itu.
Sambil menahan bass sound horeg yang menusuk, sebagai seorang satpam yang berbaik hati dan menjalankan amanah dengan baik, Sancaka segera menghampiri operator tersebut. Lagian sangat kesal Sancaka dibuatnya, sudah mata uang menurun, satu satunya yang naik malah volume sound horeg!
"Permisi, mas!" Sancaka membuka tirai terop tempat operator sound kutukan itu berada. Tak disangka ia disuguhi dengan pemandangan pria gondrong dengan badan seperti gapura kabupaten yang seumuran dengannya.
"Eh, ada apa, pak satpam?" pria itu melepas headphone yang ia pakai dan segera menengok ke arah Sancaka.
Sancaka memindahkan berat badannya ke kaki sebelahnya kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
"Saya 'kan tadi sudah bilang perjanjiannya, cek sound di sini boleh, tapi jangan sampai mengganggu warga perumahan. Kasihan sama mereka, ini udah sore mau malem, loh mas. Kecilin lagi ya volumenya."
Mas-mas operator itu bangkit dari kursi plastik warna hijaunya, "Emangnya ada saya masuk bawa sound horeg saya ke dalam perumahannya, pak? Emang ada saya paksa semua warga perumahan buat dengerin sound horeg saya?"
Tak seperti dugaan Sancaka, ternyata mas mas operator sound horeg itu berbadan lumayan besar. Ia perhatikan (dengan hampir ngiler) otot gemuk dan berurat itu ikut bergerak ketika yang punya melepas headphone yang tadi bertengger di lehernya.
Pertanyaan Sancaka kok bisa cuma seorang operator sound horeg memiliki badan seterlatih itu?—Ya, tidak sebesar itu juga untuk jadi seram dan membuatnya ilfeel, malah yang ada pas membuat otak Sancaka berhenti bekerja sejenak karena sang—Oh, menjawab pertanyaan tadi, bisa jadi karena sering ngangkat peralatan sound horeg kali ya...
Pasti kuat untuk mengangkat tubu-
Oke itu tadi cabul. Malahan bisa ditangkap polisi karena berpikir cabul kepada orang tidak dikenal seperti itu.
Sadar. Fokus saja pada tujuan utama. Sampai mana tadi?
"Lah, pak satpam ga dengerin saya dari tadi?" orang itu melambaikan tangannya di depan wajah memerah Sancaka.
"Saya ini operator sound horeg berlisensi, pak. Pernah viral di tiktok 3 kali, sebagai 'Thomas Awang Edi Sound!'"Ia menunjukkan sebuah kartu seukuran KTP yang sebagai gantinya bertuliskan KLMISH 'Kartu Lisensi Mengoperasikan Instalasi Sound Horeg'. Serta terlulis nama 'Awang' di situ.
"Tapi lak tadi sudah ada perjanjiannya seh, mas. Ga bisa-"
"Bodoamat mau lu gusur kek, mau lu sumpel kek, udah gua bilang gua ini berlisensi, emang kenapa kalo gua nyalain sound horeg?" Awang yang sangat kesal maju selangkah mendekati Sancaka di dalam tenda sempit itu. Ia bahkan kehilangan sopan santunnya, yang awalnya memanggil dengan saya-kamu, berubah menjadi lu-gua.
"Yang ada saya sumpel mulut mas pake kontol."
Sancaka yang terlanjur kesal tidak sengaja mengucapkan apapun yang ada di dalam otaknya tanpa berpikir.
Jancok. Lapo mau awakmu ngomong ngono. Batin Sancaka.
"Lah, boleh?" jawab Awang yang sama sama tololnya. Senyum lebar tiba tiba muncul di wajah Awang yang tadinya kesal. Seperti ia berhasil mendapatkan sesuatu.
"Udahlah, mana ini tombolnya! Saya matikan sendiri!" Sancaka segera mengalihkan perhatiannya, ia tak tahan dengan suara keras memekikkan yang dari tadi masih terputar di luar. "Wes tak pateni dewe ae jancok, jancok," Ia mendorong badan besar Awang mundur agar memberinya ruang untuk mengutak atik sekian banyak tombol pengatur sound horeg itu. "Seng endi seh iki mateni ne, asem." Sancaka tak berhenti berhentinya memaki sendiri.
Sebelum Sancaka sempat memencet apa-apa, tangan kanan Awang segera memegang pergelangan tangan kanan Sancaka dari belakang yang membuat nafasnya tercekat. Kemudian ia mulai mengarahkan tangan Sancaka ke tombol yang tepat.
"Santai pak, ah, yang ini, diputar ke kiri dulu, pelan pelan pak." Karena di luar suara yang masih keras di luar sedangkan mereka sudah tidak meneriaki satu sama lain lagi. Awang harus mendekatkan mulutnya ke telinga Sancaka agar terdengar jelas.
"Jangan panggil saya pak, saya nggak setua itu, panggil Sancaka aja." Sancaka terdiam dan hanya nurut dengan arahan Awang. Mereka berdiri sangat dekat. Bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas Awang yang berbicara tepat di telinganya.
"Oke Sancaka, katanya tadi mau matiin sendiri. Saya kasih tau caranya ya." Yang namanya dipanggil langsung merinding sebadan, Awang terus mendekatkan badan mereka hingga dada bidangnya bertemu dengan punggung Sancaka.
"Eh, eh, belum selesai, puter yang ini, dan yang itu juga barengan ke kiri." Lanjut Awang, perlahan ia mengusap dan merasakan ujung jarinya di urat lengan kiri Sancaka yang seragam satpamnya dinaikkan. Kemudian pelan pelan turun, mengarahkan jari Sancaka ke tombol yang ia maksudkan.
Seketika atmosfer dalam tenda sempit itu berubah, udara panas di luar terasa sampai dalam. Bahkan kipas angin hijau Awang di dalam tenda itu sudah tidak terasa lagi. Bagian tubuh Sancaka yang dipegang tangannya, tapi yang terasa hingga ke selangkangannya.
Sancaka menghembuskan nafas dalam. Tak bisa berkutik, namun dia kesenengan juga si mas mas operator ganteng yang namanya Awang ini megang megang dia.
Sekarang Sancaka sudah lupa tujuan utamanya di sini, malah yang ada dipikirkannya adalah bagaimana mas Awang ini pegang dia lebih banyak.
Jadi tanpa sadar ia memundurkan pantatnya hingga menyentuh ereksi Awang yang ternyata juga sudah mengeras. Sebuah desahan pelan tanpa sadar keluar dari mulut Sancaka. "Anjing."
Awang yang tangannya masih memegang lengan Sancaka langsung berpindah menarik pinggangnya mendekat agar lebih banyak gesekan yang terjadi di antara mereka.
"Sebenernya kamu ini satpam, lonte, atau perek?"
Sancaka hanya bisa menjawabnya dengan desahan dan dorongan kebelakang. Meminta lebih banyak sentuhan tanpa kata kata verbal.
Namun tetap saja pria di belakangnya itu terus menggoda.
"Jawab dulu, kamu mau diapa apain sama saya apa enggak, Sancaka? Jangan nyesel loh ya." kedua tangan Awang masih setia mengelus pinggang Sancaka. Sedangkan hidungnya mulai mencium aroma Sancaka, dan lidahnya menjilati leher Sancaka. Campuran aroma deterjen murah dan sabun Zen itu membuat Awang pusing. Walaupun dia sudah berjaga dari tadi masih wangi saja aromanya. "Kalo kamu ga mau gapapa, kabur aja."
"Iya iya mas, jangan banyak ngomong, saya mau. Ayo cepetan sepong saya sekarang." Sancaka langsung berbalik badan, mengalungkan lengannya di leher Awang, dan malah menciumnya.
Awang menyambut Sancaka dengan mulut terbuka dan membiarkan Sancaka menghisap lidahnya. Sebagai ganti, Awang balas menjilat dan melumat bibir Sancaka dengan semangat yang sama.
Tangan Awang kembali mengelus pinggang Sancaka dan secara perlahan turun, turun, hingga mencapai pantatnya. Ia remas dan ia dekatkan pantat Sancaka hingga kedua kontol mereka yang terbalut kain itu saling menabrak.
Friksi itu menyebabkan lenguhan kenikmatan muncul di antara mereka, entah siapa, tapi yang jelas mereka sangat menikmati ini.
Tak peduli jika dengan orang lain di luar yang dapat masuk kapan saja—toh, suara mereka masih terendam suara sound horeg yang walaupun sudah lebih pelan dari sebelumnya, tetap saja cukup keras agar membuat mereka tidak dapat terdengar dari luar—mereka terus mencumbu satu sama lain dengan begitu ganas, hingga Sancaka kehabisan nafas.
"Mas, ayo sepong saya." Sancaka mencengkeram kedua lengan kaus kutang Awang dan mendorongnya sedikit menjauh.
"Beneran di sini banget? Iya iya, sabar," bisik Awang berpindah menggigit pelan dan menghisap kuping Sancaka.
"Jancok, Ahh, mas tolong, saya udah ngaceng banget nih." Sancaka menggesekkan selangkangannya pada paha Awang saking ia tidak tahannya.
Ia mengambil tangan Awang yang sedari tadi memeras pantatnya untuk berpindah memegang penisnya yang sudah sangat tegang dan minta untuk disentuh.
Mulut Awang semakin turun, seraya tangannya membuka satu demi satu kancing seragam satpam Sancaka, ia menciumi, menjilati dan menghisap bagian yang sudah terbuka. Mulai dari lehernya, dadanya, putingnya, dan perut ratanya yang terbentuk.
"Badannya pak satpam ternyata ganteng banget, mau saya puja terus rasanya. Sama kaya mukanya, ganteng." Awang kembali lagi ke putingnya untuk menjilat, dan menghisap dengan keras di sana, yang menyebabkan dada Sancaka melengkung ke depan. Awang melepas hisapannya sebentar sebelum melanjutkan lagi dan berkata, "Jambak aja, gapapa."
"Mashh, ayoo, kalo kamu mainin saya terus, ntar saya keburu keluar, udah ga tahan." Sancaka menggenggam rambut panjang Awang di tangannya, walaupun ia berkata begitu tapi tangannya tetap menahannya, tidak ada tanda tanda untuk melepaskan.
Awang menyadari bahwa puting adalah titik sensitif Sancaka. Maka sembari menghisap satunya, ia membawa tangannya untuk memilin puting Sancaka yang menganggur.
"Mas- mas, Awang- saya," Keluar lenguhan keras yang lebih terdengar seperti desahan dari mulut Sancaka. Paling keras dari yang sedari tadi ia keluarkan. Dan hanya dengan itu Sancaka sudah bucat di dalam celananya.
"Segitu doang udah keluar? Kamu senaksir itu kah sama saya? Ternyata dari tadi itu kamu cuma caper ya aslinya? Kamu saya ciumin aja udah muncrat segini banyaknya, apalagi saya entotin. Udah banjir Indonesia." Awang terkekeh sedikit mengejek mengetahuinya, ia membuka sabuk Sancaka dan memasukkan tangannya ke celana dalam Sancaka. Awang terus memerah penis Sancaka yang masih mengeluarkan cairan peju.
"Mas Awang, saya ga kuat- Mas belum nyepong saya, sayanya udah- Lanjutin lain kali aja gapapa, mas."
"Ooh, lain kali? Kamu mau lagi ya berarti, tapi kalo mau sekarang sama lain kali saya juga gapapa." Ia mengeluarkan tangannya yang sudah berlumuran dengan cairan Sancaka, kemudian sambil menatap Sancaka dengan intens, ia jilati tangannya sendiri hingga bersih. "Saya mau lagi sekarang boleh, ya."
Awang berlutut, tidak pernah sekalipun melepaskan tatapan mereka.
"Sebenernya saya dari tadi perhatiin pak satpam lagi jaga di sana tau. Biasanya saya nyalain sound horeg gak sekeras ini, tapi sengaja volumenya saya full in biar pak satpam marahin saya." kata Awang sambil mengusapkan pipinya ke celana dalam Sancaka yang sudah basah.
"Kurang ajar ya kamu,"
Sancaka mengeluarkan lenguhan dan meremas rambut panjang Awang yang ada di genggamannya.
"Ternyata pak satpam ga cuma marahin saya. Malah nyium saya sama nawarin kontol."
Setelah menjilat panjang Sancaka dari luar kain, akhirnya Awang memasukkan kontol putih yang ujungnya memerah Sancaka yang masih basah akibat ejakulasinya tadi ke dalam mulutnya.
Ia jilat semua sisa peju yang menempel dari pangkal hingga ujung. Penis Sancaka yang sedari tadi sensitif karena baru saja ejakulasi, makin di ujung tanduk karena sepongan Awang.
"Awang, ga perlu kamu makan gitu- cok, gapapa." Sancaka semakin menguatkan cengkramannya di rambut Awang. "Sumpah, saya ga bisa liat mata kamu, takut makin-"
Di tengah mereka menikmati senggama itu. Tiba tiba terdengar suara ketua RW di luar tenda operator itu. Mereka segera menjauh dari satu sama lain dan segera membenahi pakaiannya mereka.
"Mas Awang! Tadi sampean ditergur sama pak sat-" sang ketua RW seketika terdiam melihat pemandangan di depannya. Awang, seorang operator sound horeg lokal andalan yang membanggakan desa karena prestasinya akan memodifikasi sound horeg. Sedang berlutut di depan satpam komplek sebelah yang membetulkan celananya.
Seketika ketua RW tersebut terdiam.
"Maaf, pak Saptadi, anu, eh ini tadi saya sudah ditegur pak satpam, kok. Maaf mengganggu." Awang langsung berdiri dan membungkuk sedikit meminta maaf kepada ketua RW tersebut.
"Ng- nggak apa apa, justru saya yang minta maaf sudah ganggu panjenengan, saya tadi diem bukan apa apa, cuma kelingan mantan. Saya cuma mau bilang kalian hati hati ya, kalo sama saya mah ndak papa. Oh iya, baguslah pak satpam sudah menegur, oke makasih nggeh saya pamit dulu." Dan dengan itu pak ketua RW langsung keluar dari terop mereka.
"Baru tau pak RW punya mantan cowo?"
"Saya juga baru tau, ngomong-ngomong saya harus balik jaga lagi, mas Awang..." Sancaka menggaruk tengkuknya polos seperti tidak baru saja melakukan adegan dewasa dengan orang di depannya. "Tapi saya belum balas budi sama mas Awang."
"Eh, beneran mau lagi kapan-kapan? Sini save nomer hp saya." Awang tersenyum sangat lebar rasanya seperti matahari bersinar dari wajahnya.
Sancaka merogoh kantongnya kemudian baru sadar bahwa sedari tadi ia meninggalkan ponselnya di pos. "Ketinggalan, mas." Sancaka balas tersenyum tipis. "Tulis nomer mas di tangan saya aja."
Awang kemudian mengobrak abrik lacinya untuk mencari pulpen, "Yaampun, Sancaka, Sancaka. Saya nggak ngira loh ternyata satpam komplek yang selama ini kelihatannya serem ternyata belum saya pegang udah bu-" mendengarnya, Sancaka refleks memukul lengan Awang pelan.
"Aduh, iya iya maaf." Awang memgang tangan Sancaka dengan lembut, kemudian menuliskan nomor telepon di telapak tangan Sancaka. Membuat Sancaka sedikit terkejut geli ketika ujung pulpen itu mulai menuangkan tinta di tangannya.
"Sekarang cuma nulis nomor, nanti mas tulis nama kamu di buku pernikahan kamu sama mas." ingin Awang mengatakannya, tapi ia tahan di dalam hatinya, nanti saja, pelan pelan.
Setelah selesai, Sancaka mencium bibir Awang sebentar sebelum mengucapkan perpisahan sementaranya.
"Jangan lupa save nomor mas ya."
Sancaka hanya mengangguk.
Ia sekarang tahu suara keras sound horeg tidak ada apa apanya dibandingkan dengan betapa kerasnya ia karena Awang.
