Work Text:
Jovie sudah capek bahkan sebelum cerita dimulai.
Masalahnya, ini bukan capek yang bisa hilang dengan tidur delapan jam. Bukan capek yang bisa disembuhkan dengan liburan seminggu. Tapi capek yang membuat seseorang bangun pagi dan langsung berharap hari itu cepat selesai.
Capek yang membuat seseorang berpikir, kalau besok aku nggak bangun lagi, mungkin nggak apa-apa.
Dan yang menyedihkan, Jovie bahkan tidak merasa dirinya depresi atau sedang mengalami sesuatu yang serius. Ia hanya merasa lelah.
Sangat lelah.
Terlalu lelah.
Angin laut membawa aroma asin yang samar saat taksi berhenti di depan deretan pondok kayu kecil yang menghadap pantai.
Jovie membuka mata perlahan. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan dirinya tertidur. Atau mungkin bukan tidur. Hanya memejamkan mata karena terlalu lelah untuk memikirkan apa pun.
Supir taksi menoleh. "We've arrived."
Jovie mengangguk pelan. "Thank you."
Ia turun dengan tubuh yang terasa berat. Padahal koper yang dibawanya tidak seberapa. Yang berat adalah dirinya sendiri.
Sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali Jovie mengambil cuti panjang.
Tiga tahun bangun pagi, tiga tahun rapat, tiga tahun kejar target, tiga tahun mendapat telepon dari rumah.
Tiga tahun mendengar,
"Jov, ibu butuh uang."
"Mas, bisa transfer dulu?"
"Cuma kamu yang bisa bantu."
"Sebentar aja."
"Nanti diganti."
Padahal bohong. Tidak pernah diganti.
Jovie memejamkan mata sebentar.
Laut di depannya luas. Langit juga terlihat cerah. Udara bahkan terasa sangat sejuk.
Vancouver kini terbentang tepat didepan matanya.
Pemandangan yang seharusnya membuat orang merasa hidup. Namun yang ia rasakan hanya kosong belaka.
Sebulan.
Ia hanya perlu bertahan satu bulan. Dan ia akan mematikan semua akses dari kantor maupun rumah.
Setelah masuk ke pondoknya, ia langsung menaruh koper di lantai. Melepas jaket, melempar ponsel ke atas meja. Lalu menekan tombol daya untuk mematikan total ponselnya.
Inilah pertama kalinya tidak ada yang bisa menjangkaunya.
Jovie menghembuskan napas panjang sampai dadanya terasa sakit. Ia berdiri lama di tengah ruangan kecil itu. Memandangi dinding beraroma kayu. Mendengarkan suara ombak dari kejauhan.
Dan tanpa alasan yang jelas, pikiran yang sama muncul lagi.
Pikiran yang selama berbulan-bulan terus datang.
Apa gue mati disini aja ya sekarang?
Namun tentu saja, itu hanya sebatas pikiran.
Sore itu akhirnya ia memutuskan berjalan ke luar. Hanya untuk menghirup udara. Hanya untuk memastikan dirinya masih bisa merasakan sesuatu.
Namun baru beberapa langkah keluar dari pondok, pintu dipondok sebelah terbuka.
Seorang lelaki ikut keluar. Tubuhnya tinggi, agak kurus, rambutnya hitam pendek dan berantakan.
Ia juga menoleh, membuat pandangan mereka bertemu.
Lelaki itu mengangguk kecil dan tersenyum. Ramah sekali untuk ukuran orang asing.
Jovie langsung mengalihkan pandangan.
Aduh.
Jangan.
Ia datang jauh-jauh ke sini untuk sendirian. Bukan mencari teman. Bukan mencari kenalan baru. Apalagi bertemu tetangga yang terlalu ramah.
"Hadeh," gumamnya pelan sambil menatap laut dan mulai berjalan. "Gue harus hidup tenang di sini. Jangan ada turis lain yang ganggu."
Namun dari pondok sebelah terdengar suara tawa yang renyah. Seolah baru mendengar lelucon terbaik hari itu.
"Hey!"
Jovie menoleh refleks.
Lelaki itu berdiri di teras sambil menyandarkan siku ke pagar kayu. Senyumnya makin lebar. "Orang Indo juga, Mas?"
Jovie sontak mengerutkan kening.
Lelaki itu masih tersenyum. "Aduh, gue cape banget ngomong inggris terus, syukur deh kalo ada orang indo disini."
Jovie mendengus, kembali berjalan kearah pantai tanpa menanggapinya.
"Bodoamat anjir, gue cuma mau tenang disini. Semoga dia nggak gangguin gue deh selama disini."
Meski sedikit kesal karena keberadaan tetangga pondok yang terlalu ramah itu, Jovie akhirnya tetap melanjutkan jalannya.
Ia menyusuri pesisir pantai yang membentang panjang di depan deretan villa.
Angin sore berembus pelan. Tak terasa dingin maupun panas di kulit.
Pas.
Hari ini hingga sebulan kedepan, tidak ada suara notifikasi yang memecah pikirannya. Tidak ada panggilan dari kantor dan pesan dari rumah. Hanya ada suara ombak dan langkah kakinya sendiri.
Kemudian, kamera yang sejak tadi menggantung di lehernya mulai bekerja. Jovie mulai memotret langit. Memotret burung-burung laut yang melintas rendah. Memotret perahu kecil yang bergerak perlahan di kejauhan. Lalu memotret apa saja yang menarik perhatiannya.
Bahkan sebuah bangku kosong pun terasa lebih menarik daripada layar laptop yang selama ini menemaninya.
Dan tak terasa, waktu berlalu lebih cepat dari yang ia kira.
Saat akhirnya menurunkan kamera dari wajahnya, langit sudah berubah jingga. Tak lama kemudian menjadi ungu. Lalu perlahan menggelap.
Jovie kembali ke pondok untuk sekedar mandi dan mengganti pakaian. Dan memutuskan keluar lagi untuk mencari makan malam.
Namun baru saja pintunya tertutup, pintu pondok sebelah ikut terbuka. Lelaki yang sama muncul lagi. Masih dengan senyum yang sama. Seolah dunia memang tidak pernah memberinya alasan untuk murung.
"Eh, ketemu lagi."
Jovie menahan diri untuk tidak mengumpat.
"Mau makan, Mas?"
Tidak ada jawaban dari Jovie.
Namun lelaki itu tetap tersenyum. "Gue tahu tempat enak banget di sini."
Jovie memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Lalu berjalan melewatinya begitu saja.
"Boleh kok kalau mau bareng."
Tetap tidak ada jawaban dari Jovie yang terus berjalan itu.
Beberapa detik kemudian, suara tawa kecil terdengar dari belakang. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti seseorang yang sedang terhibur.
Jovie menggeleng pelan.
Aneh banget tu orang.
Ia terus berjalan hingga menemukan sebuah restoran kecil yang menghadap laut. Suasananya ramai, tetapi tidak berisik. Cukup nyaman.
Jovie memilih meja dekat jendela dan memesan makanan. Lalu membuka hasil foto-fotonya hari ini.
Baru beberapa menit berlalu ketika kursi di belakangnya bergeser.
Seseorang masuk. Dan Jovie tidak perlu menoleh untuk tahu siapa orang itu.
"Excusme."
Suara yang sama.
Jovie memejamkan mata sesaat.
Ya Tuhan.
Saat akhirnya melirik, lelaki itu memang ada di sana. Duduk berjarak beberapa meja darinya.
Sendirian. Tidak mengganggu. Tidak mencoba mengajak bicara. Tidak melakukan apa pun. Namun entah kenapa keberadaannya terasa mengganggu.
Seolah-olah semesta sedang berusaha memaksakan mereka untuk terus bertemu.
Jovie mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Bodo amat. Yang penting nggak duduk semeja.
Setidaknya untuk hari ini.
••~🦀🌊~••
Jovie tidur nyenyak malam itu.
Sangat nyenyak.
Mungkin terlalu nyenyak.
Sudah lama sekali ia tidak tidur tanpa mimpi buruk tentang pekerjaan, tanpa suara notifikasi yang membuatnya terbangun tengah malam, tanpa rasa cemas yang menggantung bahkan saat matanya terpejam.
Suara ombak terus terdengar dari kejauhan.
Naik turun. Datang dan pergi. Seolah sepanjang malam ada sesuatu yang menjaganya tetap terlelap.
Menenangkannya.
Membiarkannya beristirahat.
Saat membuka mata, sinar matahari pagi sudah menembus tirai tipis di jendela.
Jovie mengucek wajahnya pelan. Lalu berjalan mendekat. Dan begitu tirai dibuka, hamparan laut langsung menyambutnya.
Jovie berdiri beberapa saat di sana. Memandang tanpa tujuan. Kemudian tanpa sadar mengembuskan napas panjang.
"Wow..."
Satu kata itu lolos begitu saja.
Vancouver memang tidak pernah mengecewakan.
Ia lalu memanaskan air menggunakan teko listrik kecil yang tersedia di pondok. Setelah mendidih, ia menuangkannya ke dalam gelas berisi kopi sachet yang dibawanya dari Indonesia.
Murahan. Dan rasanya terlalu manis. Tapi entah kenapa terasa nyaman.
Beberapa menit kemudian Jovie sudah duduk di teras. Secangkir kopi hangat di tangan. Sebungkus rokok terjepit di antara jari.
Angin pagi berembus pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun itu, ia tidak memiliki jadwal apa pun.
Namun tentu saja.
Semesta tidak mungkin sebaik itu.
Saat melirik ke samping, lelaki dari pondok sebelah juga sudah duduk di terasnya. Seolah memang tidak punya pekerjaan lain selain muncul di mana-mana.
Jovie mendengus pelan.
Lelaki itu tersenyum. "Selamat pagi."
Jovie memilih mengabaikannya. Mengeluarkan sebatang rokok. Menyelipkannya ke bibir. Lalu menyalakan korek.
"Asli, gue kira lo nggak bakal keluar sampai siang."
Tidak ada jawaban.
"Hari ini mau jalan-jalan ke mana?"
Tetap tidak ada jawaban.
Lelaki itu tampak tidak keberatan. Justru senyumnya makin santai. "Emang kesini buat liburan apa gimana, Mas?"
Jovie mengembuskan asap rokok ke udara. Matanya tetap menghadap laut.
"Kalau gue sih ke sini buat kabur."
Dan karena kata-kata itu, Jovie menoleh.
Lelaki itu sedang memandangi laut. Bukan memandang Jovie. Seakan kalimat tadi memang tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus.
Jovie mengernyit.
Kabur?
Dari apa?
Tapi ia tidak bertanya. Tidak ingin tahu. Tidak peduli.
"Udah seminggu gue di sini." Lelaki itu melanjutkan. "Jadi lumayan tahu tempat-tempat sekitar."
Jovie kembali mengalihkan pandangan.
"Kalau lo pengen ditemenin ke mana-mana..." Lelaki itu menunjuk pintu di belakangnya. "...tinggal ketok pintu aja."
Jovie akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. "No, thanks."
Jawabannya pendek. Datar. Tidak ramah.
Namun alih-alih tersinggung, lelaki itu malah terkekeh kecil.
"Ya udah." Ia mengangkat kedua tangan menyerah. "Gue cuma nawarin."
Jovie menggeleng pelan.
Orang ini aneh banget.
Tapi entah mengapa, tiba-tiba ia tersenyum. tipis.
•••••
Siang itu cuaca jauh lebih hangat dibanding kemarin.
Langit biru membentang tanpa banyak awan, membuat laut terlihat berkilauan di bawah sinar matahari. Setelah menghabiskan pagi dengan bermalas-malasan dan beberapa batang rokok di teras, Jovie akhirnya memutuskan keluar lagi.
Ia tidak datang sejauh ini untuk menghabiskan waktu di dalam pondok. Lagipula, laut seperti ini terlalu sayang untuk hanya dipandangi.
Tak jauh dari pesisir terdapat sebuah pondok kecil yang menyewakan papan selancar. Jovie menyewa satu tanpa banyak berpikir. Ia sudah berganti pakaian yang lebih nyaman, membawa papan itu di bawah lengannya, lalu berjalan menuju air.
Begitu ombak pertama menyentuh kakinya, pikirannya benar-benar kosong.
Jovie mendayung beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menangkap ombak yang datang. Tubuhnya meluncur mengikuti arus, lalu jatuh lagi, lalu mencoba lagi.
Sesekali ia berpapasan dengan peselancar lain.
Ada yang melambaikan tangan. Ada yang mengangguk. Ada yang sama sekali tidak peduli. Dan semuanya terasa menyenangkan.
Sebuah ombak besar sempat menggulung tubuhnya hingga papan selancarnya terlepas beberapa meter. Air asin masuk ke hidung dan mulutnya. Namun Jovie hanya tertawa kecil saat berhasil muncul kembali ke permukaan. Ia sudah terlalu akrab dengan laut untuk takut pada hal seperti itu.
Setelah hampir satu jam bermain air, Jovie akhirnya memilih duduk di atas papan selancarnya. Membiarkan tubuhnya terombang-ambing mengikuti arus. Memandangi garis cakrawala yang tampak tak berujung.
Hingga tanpa sengaja pandangannya jatuh ke bibir pantai.
Seseorang sedang duduk di sana. Sendirian. Mengenakan kaus hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Namun Jovie tetap mengenalinya.
"Dih." Ia mendecak pelan. "Tu orang lagi."
Entah kenapa mood-nya langsung turun beberapa tingkat.
Jovie akhirnya memutuskan kembali ke daratan. Ia menyerahkan papan selancarnya, membeli sebotol air mineral, lalu berjalan menyusuri pantai sebelum akhirnya duduk di pasir.
Tidak terlalu jauh dari lelaki itu. Tidak terlalu dekat juga. Namun cukup dekat untuk membuatnya merasa terganggu.
Beberapa menit berlalu dengan perasan tak tenang, dan akhirnya Jovie menyerah.
"Lo kenapa sih ngikutin gue mulu?"
Lelaki itu menoleh. Wajahnya langsung terlihat bingung. "Siapa juga sih?"
"Lah?"
Ia tertawa. Begitu ringan dan mudah keluar. "Gue nyewa pondok sebelah pondok lo."
Jovie diam.
"Gue makan di resto langganan gue seminggu ini."
Jovie masih diam.
"Terus sekarang gue duduk di sini." Lelaki itu menunjuk pasir di bawahnya. "Dan lo tiba-tiba bilang gue ngikutin lo?"
Jovie mengernyit tidak suka.
Sial.
Masuk akal juga.
Lelaki itu masih terkekeh pelan. Seolah sangat menikmati ekspresi kesal yang sedang diperlihatkan Jovie.
Lalu tanpa diminta, ia sedikit menggeser posisi duduknya mendekat.
"Jago juga lo surfing."
Jovie menatap laut. "Pernah tinggal di Bali."
"Oh."
"Udah biasa sama laut."
Lelaki itu mengangguk pelan. Memandang ombak yang datang silih berganti. "Masuk akal."
Beberapa saat mereka kembali diam. Angin laut bertiup pelan. Membawa aroma asin yang samar.
Lalu lelaki itu mengulurkan tangan.
"Gue Han Ranu."
Untuk pertama kalinya, Jovie benar-benar menoleh. "Han Ranu?"
"Iya."
"Unik juga nama lo."
Han Ranu langsung tertawa. "Orangnya juga."
Jovie mendengus. Entah kenapa ia tidak meragukan kalimat itu sedikit pun.
Dengan setengah terpaksa, ia akhirnya menjawab.
"Jovie."
Han Ranu mengangguk pelan. Seolah sedang menyimpan nama itu baik-baik.
"Oke, Jov."
Dan itulah pertama kalinya mereka saling mengenal satu sama lain. Bukan sebagai tetangga pondok. Bukan sebagai orang asing yang kebetulan berasal dari negara yang sama. Melainkan sebagai Han Ranu dan Jovie. Dua orang yang datang ke Vancouver membawa alasan masing-masing, tanpa tahu bahwa perjalanan mereka akan segera bertaut untuk sementara waktu.
••~🦀🌊~••
Hari ketiga tiba.
Pagi itu Jovie bangun jauh lebih awal dari biasanya. Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika ia keluar dari pondok dengan kamera yang menggantung di leher.
Sebatang rokok terselip di bibirnya. Asap tipis membubung ke udara dingin Vancouver.
Jovie berdiri menghadap laut. Membidik garis cakrawala yang perlahan berubah warna.
Biru tua ke ungu, lalu ke jingga, lalu emas.
Beberapa kali suara rana kamera terdengar.
"Anjir..." Ia menurunkan kameranya sebentar. "Wah gila sih." Matanya kembali menatap laut. "Gue kudu kesini lagi taun depan."
Dan entah mengapa, kalimat tentang masa depan keluar begitu saja dari mulutnya. Dan Jovie sendiri tidak menyadarinya.
Ia berjalan lebih dekat ke bibir pantai. Duduk di pasir. Memperhatikan ombak yang datang dan pergi.
Beberapa toko kecil di sepanjang pantai mulai membuka pintu. Lampu-lampu yang tadi malam menyala kini satu per satu dimatikan.
Hari baru dimulai. Angin laut berembus pelan.
Terlalu nyaman.
Sampai tanpa sadar Jovie merebahkan tubuhnya. Lalu menutup mata.
Hanya sebentar.
Katanya.
Namun entah kapan ia benar-benar tertidur.
"Jov?"
Suara seseorang terdengar samar.
"Jovie?"
Jovie tersentak. Matanya langsung terbuka. Sinar matahari menyambut wajahnya. Silau. Dan jauh lebih tinggi dibanding saat terakhir ia melihatnya.
Jovie langsung bangun setengah duduk. "Anjir."
Di sampingnya, Han Ranu sedang jongkok sambil menatapnya. Wajahnya terlihat antara lega dan gemas.
"Sumpah." Han menghela napas panjang. "Gue udah dari tadi ngeliatin lo dari pondok."
Jovie mengusap wajahnya. Masih setengah sadar.
"Tapi lo nggak gerak-gerak, Jov." Han menunjuk dirinya. "Gue kira mati."
Jovie langsung tertawa kecil karena malu. "Sorry. Sorry."
"Ya ampun, " Han menggeleng. "Lagian lo ngapain sih pagi-pagi rebahan di sini?"
Jovie mengangkat bahu. "Ya..."
"Ya jelas ketiduran lah." Han tertawa. "Suasananya aja nyaman banget gini."
Jovie tidak membantah. Karena memang benar.
Han berdiri sambil menepuk pasir yang menempel di celananya. "Gue mau sarapan."
Jovie mengangguk pelan.
"Mau bareng nggak?" Han menunjuk salah satu deretan kedai di pinggir pantai. "Kalau nggak ya gue duluan."
Jovie hanya diam.
Lalu Han mengangguk dan mulai berjalan menjauh. Namun baru beberapa langkah dari sana,
"Han."
Han menoleh.
Jovie berdeham kecil. Tiba-tiba merasa agak bodoh. "Ikut dong."
Han memandangnya beberapa detik. Lalu tersenyum. "Yuk."
Dan entah kenapa, Jovie langsung merasa lebih lega. Padahal kemarin ia yang kesal jika Han ada di sekitarnya, tapi malah sekarang ikut sarapan dengannya.
Malu, Jov.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah kedai kecil yang menghadap laut.
Han mengambil menu. "Punya alergi?"
Jovie menggeleng.
Han lalu memanggil pelayan. "Hi, we'd like the sweet and spicy clams, and two beers, please."
Wanita itu tersenyum ramah. "Sure, honey. It'll be ready in a few minutes."
Setelah pelayan pergi, Jovie langsung menoleh. "Beer?"
Han mengangguk. "Kenapa?"
"In this morning?"
"Hm." Han melirik jam di ponselnya. "It's not morning anymore, Jovie."
Jovie ikut melihat. Dan langsung terdiam saat tau jika sudah hampir jam dua belas.
Han terkekeh. "Lo tidur nyenyak banget di pasir sampe lupa waktu."
"Ya tetep aja." Jovie menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Mau pagi atau siang, masa langsung minum bir sih?"
Han tertawa. "Kenapa emangnya?"
"Belom makan nasi, anjir."
Tawa Han makin keras. Beberapa pengunjung sampai menoleh. "Mumpung nggak di Indo, Jov." Ia mengangkat bahunya santai. "Kita kan jadi turis di sini."
Jovie hendak membalas. Namun makanan mereka keburu datang. Sepiring besar kerang dengan saus merah mengilap diletakkan di tengah meja. Aromanya langsung memenuhi udara.
Jujur saja, air liur Jovie hampir menetes.
Han yang melihat ekspresinya langsung terkekeh. "Makan, Jov."
Dan kini di Vancouver, Jovie makan bersama seseorang tanpa merasa terganggu. Bahkan, diam-diam, ia mulai menikmati keberadaan Han Ranu di sana meski baru satu hari.
Setelah sarapan kesiangan itu selesai, mereka memilih berjalan sebentar menyusuri pantai sebelum akhirnya duduk di bawah pohon kelapa yang tumbuh miring menghadap laut.
Angin siang bertiup pelan. Cukup untuk membuat orang betah berlama-lama di sana.
Han Ranu menyandarkan kedua tangannya ke belakang tubuhnya sambil menatap laut.
"By the way, lo di sini liburan?"
Jovie mengangguk pelan. "Kurang lebih."
"Kurang lebih gimana?"
"Gue cuti sebulan."
Han menoleh. "Sebulan?"
"Iya."
"Wah lama juga."
Jovie mengangkat bahu. "Otak gue udah penuh banget soalnya."
Han mengangguk mengerti. Beberapa detik kemudian ia bertanya lagi. "Lo kerja apa emang?"
Jovie langsung mendecak pelan. "Ada lah."
Han tertawa. "Jawaban apaan tuh?"
"Lo bisa kaget kalo gue kasih tau."
"Oalah." Han kembali menatap laut. "Jadi lo cuti karena lagi burn out?"
Jovie terdiam sesaat. Lalu mengangguk.
Han ikut mengangguk. "Hampir sama sih kayak gue."
Jovie meliriknya.
"Sama-sama kabur."
Kalimat itu membuat Jovie teringat ucapan Han di teras pagi yang lalu. Ia akhirnya bertanya. "Jadi maksud lo kabur tuh... kabur dari kerjaan?"
Namun Han menggeleng. "Ada lah."
Jovie langsung menoleh.
Dan Han tersenyum lebar. "Lo bisa kaget kalo gue kasih tau."
Jovie merengut seketika.
Han langsung tertawa. Tawa yang kali ini membuat Jovie ingin melempar pasir ke mukanya.
Namun entah kenapa ia malah ikut tersenyum tipis.
Han mengangguk-anggukan kepala. "Gue sadar sih."
"Apa?"
"Dari awal ketemu gue... lo kayak benci banget."
Jovie mendengus.
Han kembali tertawa. "Lo takut banget ya gue tempelin mulu?"
Kali ini Jovie menjawab dengan jujur. "Iya."
Han tampak terkejut. "Anjir. Jujur banget."
"Lah emang iya kok." Jovie beralih memandang laut. "Gue ke sini mau tenang."
Han mengangguk.
"Jadi ya gue pikir..." Jovie menghela napas. "...gue nggak mau kenalan sama siapa pun."
Beberapa detik berlalu dan Han tampak memikirkan jawabannya. Lalu ia mengangguk pelan.
"Paham kok."
Jovie meliriknya sebentar. Entah mengapa malah sedikit aneh saat Han tidak bercanda.
"Gue nggak bakal ganggu liburan lo kok, Jov."
Jovie terdiam.
Han melanjutkan dengan senyum kecil. "Kecuali kalau lo yang mau sih."
Jovie mendecak pelan. "Ya lihat nanti deh."
Han terkekeh. "Siap."
Mereka kembali diam. Namun kali ini tidak lagi terasa canggung.
Di depan mereka, ombak terus bergulung ke pantai. Anak-anak berlarian di sepanjang pasir. Beberapa wisatawan mulai memenuhi deretan toko dan kedai. Suasana yang tadinya tenang perlahan berubah ramai.
"Eh."
Han menoleh. "Hm?"
"Lo bilang udah seminggu di sini kan?"
Han mengangguk. "Kenapa?"
"Terus di sini sampai kapan?"
Han terlihat berpikir sejenak. Matanya menjelajah mengikuti garis cakrawala. "Hmm..."
Ia tersenyum kecil.
"Dua minggu lagi harusnya gue pergi sih."
"Pergi?"
"Iya."
"Balik maksudnya?"
Han terdiam untuk beberapa detik. Namun entah kenapa terasa lebih lama dari seharusnya. Lalu ia mengangguk kecil.
"Yap." Senyumnya tetap ada. "Bisa dibilang gitu."
Jovie hanya mengangguk. Tidak memikirkan jawabannya lebih jauh. Tidak merasa ada yang aneh. Tidak merasa perlu bertanya lagi.
Baginya itu hanya percakapan biasa.
Sementara Han meliriknya sebentar. Memperhatikan wajah Jovie yang sedang menatap laut. Lalu tersenyum kecil.
•••••
Malam itu, entah bagaimana, mereka makan bersama lagi.
Padahal tiga hari yang lalu Jovie bahkan berharap tidak perlu melihat wajah Han Ranu selama sebulan penuh. Kini ia justru mengikuti lelaki itu menyusuri jalan setapak yang cukup jauh dari deretan pondok mereka.
Melewati beberapa kedai. Melewati toko-toko kecil yang mulai tutup. Lalu menaiki tangga kayu yang mengarah ke sebuah bukit rendah di pinggir laut.
"Nih." Han menunjuk sebuah bangunan sederhana dengan lampu-lampu kuning menggantung di terasnya. "Tempat favorit gue seminggu ini."
Jovie mengedarkan pandangan. Dari atas sana, laut terlihat jauh lebih luas. Lampu-lampu dari kapal tampak seperti bintang yang jatuh ke permukaan air.
"Oke." Ia mengangguk. "Kalau rasanya nggak enak, gue balik."
Han langsung tertawa. "Gue yakin lo betah."
Dan ternyata Han tidak berbohong. Kepiting yang mereka pesan memang luar biasa enak. Bumbunya meresap sampai ke dalam daging. Jovie bahkan sempat lupa berbicara selama beberapa menit karena terlalu sibuk makan.
Han yang melihatnya hanya terkekeh pelan. "Tuh kan."
"Hm... iya enak." Jovie mengaku dengan malas.
"Makanya."
Han kembali sibuk mengorek isi kepitingnya. Mereka sempat terdiam cukup lama. Bukan karena kehabisan topik. Melainkan karena suasana di sana memang terlalu nyaman untuk dirusak dengan percakapan yang tidak perlu.
Angin malam bertiup pelan ditemani suara ombak terdengar samar dari bawah bukit. Akhirnya kini, Jovie boleh merasa tidak terburu-buru. Tidak ada tempat yang harus ia datangi setelah ini. Tidak ada pekerjaan yang menunggu. Tidak ada siapa pun yang menuntut apa-apa darinya.
Han memecah keheningan lebih dulu. "While you're here, just enjoy everything."
Jovie mengangkat kepala.
Han menunjuk laut dengan capit kepiting di tangannya. "Enjoy Vancouver. The ocean. The food."
Lalu ia tersenyum kecil.
"Everything at home, leave it behind."
Jovie memperhatikan wajahnya beberapa detik. Kemudian mengangguk pelan. "I'll try."
Han tersenyum puas. Seolah itu memang jawaban yang ia harapkan.
Jovie kembali memandangi laut. Lalu tanpa sadar berkata, "It seems like you're here because there's something big that you can't talk about deh, Han."
Han tidak langsung menjawab. Ia hanya terus membersihkan isi kepiting dari cangkangnya.
"Tapi gue sadar satu hal." lanjut Jovie.
"Hm?"
"Lo jago banget ngontrol emosi."
Han akhirnya menoleh.
Jovie melanjutkan. "Lo bahkan nggak marah waktu gue jutek banget pas hari pertama ketemu."
Han tertawa pelan. "Oh itu."
Jovie mengangguk.
"Gue kan ke sini buat enjoy." Ia mengangkat bahu. "Kalau ada yang nggak ngenakin ya yaudah."
Sesederhana itu. Tidak ada nada bijak. Tidak ada kesan sedang menggurui. Seolah memang itulah cara Han melihat dunia.
Jovie memperhatikannya sebentar.
Lalu Han kembali bicara. "Jov."
"Hm?"
"Dari awal lo kan udah pengen banget nggak kenal siapa-siapa."
Jovie mengangguk.
"Yang ada jadi gini."
Jovie mengernyit. "Gimana?"
Han menunjuk dirinya sendiri. "Ketemu gue."
Jovie langsung mendecak.
Han tertawa puas. "Maksud gue..." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Harusnya lo santai aja."
Jovie diam mendengarkan.
"Nggak usah berharap ini itu." Han menoleh menatap laut. "Yang penting liburan. Nggak mikirin rumah."
Jovie terdiam.
Aneh.
Padahal kalimat itu sederhana sekali.
Namun entah kenapa terasa pas.
Seolah ada seseorang yang akhirnya mengizinkannya berhenti memikirkan semuanya untuk sementara.
"Clear kan?"
Jovie mengangguk kecil. "Iya."
Han tersenyum.
"Bener juga." Jovie menyandarkan siku di meja. "Kayaknya lo udah pengalaman banget ya buat kabur dari masalah?"
Han langsung terkekeh. Tawa itu terdengar berbeda kali ini. Lebih pelan dan pendek. Benar-benar da sesuatu yang tidak ingin ia jelaskan.
Namun Jovie tidak menyadarinya.
Sebaliknya, ia malah bertanya, "Lo umur berapa sih, Han?"
Han berhenti tertawa. "Kenapa emang?"
"Penasaran aja."
"Hmm." Ia berpikir sebentar. "Tiga puluh dua."
Jovie berkedip kaget. "Serius?"
"Iya. Tua ya?"
Jovie tertawa kecil untuk pertama kalinya. Benar-benar tertawa. "Nggak keliatan kok."
Han mengangkat alis. "Oh ya?"
"Iya." Jovie mengangguk. "Kirain seumuran gue."
"Lo berapa?"
"Dua puluh sembilan."
Han langsung bersiul pelan. "Wuuu jauh ya."
"Apanya yang jauh?"
"Tiga tahun."
Jovie mendecak. "Ya nggak jauh-jauh amat lah, masih kategori seumuran."
Mereka sama-sama tertawa.
Lalu Jovie menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata, "Sorry ya."
Han menoleh. "Apa?"
"Gue agak nggak sopan waktu awal-awal."
Han langsung tertawa lagi. "Elah." Ia mengibaskan tangan. "Santai aja sumpah."
"Ya tetap aja."
"Nggak apa-apa." Han tersenyum. "Malah gue seneng."
Jovie kembali mengangkat kepala.
"Tiba-tiba ada orang Indo di sini." Han memandang lampu-lampu kapal yang berkelip di kejauhan. "Gue kira bakal sendirian banget sampe gue pergi nanti."
Jovie tidak tahu harus menjawab apa. Ada rasa bersalah yang perlahan muncul. Karena selama dua hari pertama ia memang berusaha menghindari lelaki ini.
Namun di saat yang sama, ada perasaan lain yang lebih kecil. Perasaan yang membuat sudut bibirnya terangkat sedikit. Mungkin... Sedikit saja. Ia juga senang tidak jadi sendirian di Vancouver.
~~🦀🌊~~
Hari keempat datang dengan langit yang begitu cerah.
Pagi baru berjalan beberapa jam, namun Jovie sudah berada di luar pondok dengan kameranya. Sejak tiba di Vancouver, rasanya ada banyak hal yang ingin ia abadikan. Laut yang selalu berubah warna setiap pagi. Burung-burung yang melintas rendah di atas air. Deretan perahu kecil yang bergoyang pelan mengikuti ombak.
Bahkan pagar kayu yang mulai lapuk di depan pondok pun sempat ia potret.
Suara bidikan kamera terus terdengar. Hingga pintu pondok sebelah akhirnya terbuka.
Tanpa berpikir panjang, Jovie langsung mengangkat kameranya.
Klik. Han Ranu yang baru melangkah keluar langsung terkejut. "Eh!"
Jovie tertawa kecil.
Han mengusap dadanya. "Anjir, kaget gue." Lalu ia menggeleng sambil ikut tertawa. "Ngapain, Jov?"
Jovie membiarkan kameranya kembali tergantung di leher. Kemudian berjalan mendekat.
"Han."
"Hm?"
"Naik kapal yuk."
Han mengernyit. "Naik kapal?"
Jovie mengangguk. "Don't you wanna swim? Let's go?"
Han terdiam beberapa detik. Ekspresinya berubah sedikit ragu. Sangat tipis.
Namun Jovie menangkapnya. "Kenapa?"
Han menggaruk tengkuknya. "Jov..."
"Hm?"
"Gue mau sih."
"Ya udah."
"Tapi gue nggak ikut renang ya."
Jovie langsung mengernyit. "Loh kenapa?"
Han menatap laut sebentar sebelum menjawab. "I can't swim."
Beberapa detik hening karena ucapan itu. Lalu tiba-tiba Jovie tertawa. Sebenarnya tidak berniat mengejek. Lebih karena tidak menyangka.
"Serius lo?"
"Ya serius." Han berdecak kesal. "Gue suka laut bukan berarti gue bisa renang, Jov."
Jovie masih tersenyum. Entah kenapa hal itu terdengar lucu baginya. Seseorang yang setiap hari duduk berjam-jam memandangi laut ternyata tidak bisa berenang.
Han mendengus. "Jangan ketawa."
"Sorry."
"Nggak keliatan tuh sorry-nya."
Jovie kembali tertawa. Lalu perlahan tawanya mereda. Matanya jatuh pada wajah Han. Dan untuk sesaat ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Menimbang sesuatu.
Sampai akhirnya sebuah kalimat keluar begitu saja. Dengan natural. Tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.
"Kan ada gue."
Han menatapnya cepat.
"Nanti gue jagain."
Angin laut tetap berembus. Ombak tetap datang dan pergi. Namun entah kenapa suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sedikit sunyi.
Karena Han benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.
Dari Jovie.
Dari lelaki yang empat hari lalu bahkan terlihat ingin pindah pondok hanya agar tidak perlu melihat wajahnya.
Jovie sendiri tampaknya tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia hanya menunjuk ke arah dermaga kecil yang terlihat dari kejauhan.
"Udah."
Han masih diam.
"Nggak usah banyak mikir." Lalu Jovie berbalik. "Gue cariin kapal dulu ya."
"Jov—"
Namun Jovie sudah berjalan cepat. Kemudian berubah menjadi setengah berlari. Meninggalkan Han yang masih berdiri di tempatnya.
Di ujung pantai, seorang lelaki tua tampak sedang menyiapkan kapal kecilnya.
Jovie menghampirinya. Mereka berbicara beberapa saat. Menunjuk laut. Menunjuk kapal.
Lelaki tua itu tertawa. Jovie mengangguk berkali-kali.
Lalu beberapa detik kemudian berlari kembali. Benar-benar berlari. Seperti anak kecil yang baru mendapat kabar baik.
"Han!"
Han mengangkat kepala.
"Ayok!" Jovie melambaikan tangan dari kejauhan. "Buruan!"
Senyumnya terlihat lebar. Jauh lebih lebar dibanding hari pertama mereka bertemu.
Ini pertama kalinya sejak tiba di Vancouver, Han Ranu ikut tersenyum seperti itu juga. Seolah ada sesuatu yang kembali menyala di dalam dirinya.
Ia... ingin hidup lebih lama.
•••••
Di atas kapal, Jovie terlihat jauh lebih hidup dibanding hari-hari pertama saat mereka bertemu.
Angin laut membuat rambutnya berantakan. Senyumnya tidak hilang sejak kapal meninggalkan dermaga. Bahkan beberapa kali ia berdiri hanya untuk melihat laut dari sisi yang berbeda.
Han Ranu yang duduk di bangku kayu hanya memperhatikannya sambil tersenyum kecil. Entah kenapa melihat Jovie sebahagia itu terasa menyenangkan. Padahal mereka baru saling mengenal beberapa hari.
"Beautiful day, huh?" Bapak yang mengemudikan kapal itu bertanya sambil tersenyum.
Jovie langsung tersenyum. "Very much."
Lelaki tua itu tertawa. Lalu pandangannya bergantian antara Jovie dan Han.
"Are you two a couple?"
Jovie yang sedang minum langsung tersedak.
Han pun spontan menggeleng. "No." Ia tertawa kecil. "We just met here."
"Oh." Si bapak mengangkat kedua alisnya. "Really?"
Han mengangguk. "Ya..."
Lelaki tua itu hanya terkekeh sambil kembali mengarahkan kapal. Namun ekspresinya jelas tidak terlalu percaya.
Jovie memilih pura-pura tidak mendengar.
Han pun akhirnya menoleh kembali ke laut. Meskipun sudut bibirnya masih terangkat lembut.
Beberapa saat kemudian kapal mulai melambat. Mesinnya mati perlahan. Meninggalkan suara ombak yang bergoyang lembut di sekitar mereka.
Jovie langsung berdiri. "Here?"
Si bapak mengangguk. "I'll lower the net."
Ia mulai menurunkan jaring pengaman yang menggantung di salah satu sisi kapal.
"You can swim." Lalu menunjuk laut yang luas di sekitar mereka. "But don't go too far."
Jovie mengangguk semangat. "Oke!"
Bahkan sebelum kalimatnya selesai, ia sudah mulai melepas rompi pelampung.
Han hanya bisa tertawa. "Pelan-pelan, Jov."
Namun Jovie tidak mendengarkan. Kaosnya ikut dilepas. Lalu, ia terjun begitu saja. Tubuhnya langsung menghilang ke bawah permukaan air.
Han refleks berdiri. Dan beberapa detik kemudian kepala Jovie muncul kembali. Rambutnya menutupi wajah. Kulitnya memerah karena air dingin. Dan tawanya langsung pecah.
"Dingin banget!" Suaranya menggema di tengah laut. Jovie menyeka wajahnya sambil masih ttertawa. "Han!"
Han mengangkat kepala.
"Ayo turun!" Ia menunjuk rompi pelampung yang masih dipakai Han. "Pake aja rompinya!"
Han langsung menggeleng. "Gak ah."
"Kenapa?"
"Gue gak tahan dingin."
Jovie mendecak. "Banyak alasan deh lo."
Han membuka mulut ingin membalas. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, sebuah tangan basah tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
"Jov—"
Terlambat.
Han ikut tercebur ke laut.
Air dingin langsung menyergap seluruh tubuhnya.
Ia bahkan sempat kehilangan napas selama beberapa detik. "Ugh!"
Han langsung panik. Tangannya bergerak mencari pegangan. Dan yang pertama ia temukan hanyalah lengan Jovie. Ia mencengkeramnya erat. Sangat erat.
Jovie yang melihat itu malah tertawa. "Tenang aja."
Han masih mencoba mengatur napas. "Jov..."
"Tenang." Suara Jovie jauh lebih lembut kali ini. "Gue di sini."
Han menatapnya.
Air laut membuat rambut Jovie menempel di dahinya. Namun lelaki itu tetap terlihat santai. Tidak ada sedikit pun rasa khawatir.
"Pegangan gue."
Han akhirnya mengangguk. Tangannya masih menggenggam lengan Jovie. Sedikit gemetar. "Dingin banget, Jov."
"Iya." Jovie tersenyum. "Emang dingin."
Han mendengus. "Ini yang lo bilang seru?"
"Seru lah."
Jovie mulai bergerak perlahan. Menarik Han ikut mengelilingi sisi kapal. "Habis ini naik lagi aja."
Han tidak membantah.
"Yang penting udah ngerasain air lautnya kan."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa membuat Han terdiam. Ia memandang permukaan laut yang berkilauan di sekitar mereka. Merasakan dingin yang menusuk kulit. Mendengar suara ombak dari jarak yang sangat dekat.
Dan untuk sesaat, ia membiarkan dirinya menikmati semuanya. Benar-benar menikmati.
Jovie akhirnya membawa mereka kembali ke sisi kapal. Pada tangga kecil yang tergantung di sana.
"Nah." Ia menepuk bahu Han. "Naik aja."
Han mengangguk. Lalu mulai menaiki tangga perlahan. Sebelum naik sepenuhnya, ia sempat menoleh ke bawah.
Jovie masih mengambang di dekat kapal. Tersenyum seperti orang yang tidak memiliki satu pun masalah di dunia.
Han ikut tersenyum kecil. Mungkin Jovie tidak akan pernah tahu. Tapi jika hari itu ia tidak menariknya ke laut... Mungkin Han tidak akan pernah merasakan air laut Vancouver secara langsung.
Dan entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa hangat meski tubuhnya masih menggigil kedinginan.
•••••
Han Ranu duduk di ranjang milik Jovie sambil menunggu.
Setelah kembali dari laut, mereka sempat mampir ke beberapa toko kecil di sekitar pantai sebelum akhirnya pulang ke pondok masing-masing. Han sudah lebih dulu bebersih, dan Jovie baru masuk ke kamar mandi setelah seluruh tubuhnya berakhir lengket oleh air laut.
Sementara Han menunggu di dalam. Matanya sesekali memperhatikan pondok kecil itu. Sederhana. Rapi. Tapi juga menunjukkan dengan jelas bahwa pemiliknya tidak terlalu memikirkan banyak hal selain kebutuhan dasar.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Uap hangat keluar lebih dulu sebelum Jovie muncul dengan rambut basah dan kaus bersih yang baru diganti.
Han langsung berdiri. Lalu menyerahkan sesuatu. "Nih."
Jovie berkedip bingung menatap sebuah handuk tebal digenggaman Han Ranu. "Apaan?"
"Gue beliin di depan."
Jovie menatap handuk itu beberapa detik. Lalu tertawa kecil. "Hehe. Thanks, Han."
Han mendengus. "Gue heran sama lo. Lo tuh nggak prepare banget ya."
Jovie menerima handuk itu. "Apa lagi?"
"Lo nggak punya handuk."
Jovie terdiam.
Han menunjuk kamar mandi. "Terus empat hari ini lo gimana?"
Jovie terkekeh. "Ya kering sendiri."
Han memejamkan mata. Seolah sedang kehilangan kesabaran. "Jorok ah."
"Nggak dong."
"Jadi empat hari ini lo nggak handukan?"
Jovie mengangkat bahu. "Nggak masalah itu mah." Ia mulai menggosok rambutnya dengan handuk baru tersebut. "Yang penting gue liburan aja udah."
Han hanya bisa menggelengkan kepala.
Aneh.
Benar-benar aneh.
Namun entah kenapa ia sudah mulai terbiasa.
Jovie kemudian duduk di sisi kasur sambil masih sibuk mengeringkan rambutnya. Han ikut duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Hanya cukup dekat untuk bisa berbicara tanpa harus meninggikan suara.
Beberapa saat mereka sama-sama diam.
Lalu Jovie menoleh. "Lo nggak papa kan, Han?"
Han balas menatapnya. "Gue kenapa?"
"Tadi. Pas jatuh."
"Oh." Han tersenyum kecil. "Aman."
Jovie mengangguk pelan. "Yaudah."
Tidak ada percakapan panjang setelah itu.
Namun Han tetap memperhatikan bagaimana Jovie sesekali mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk.
Entah kenapa suasananya terasa nyaman. Seperti dua teman lama yang sedang menghabiskan sore bersama. Padahal mereka bahkan belum saling mengenal seminggu.
"Duh." Jovie merebahkan tubuh ke kasur. "Sore-sore gini enaknya nonton nggak sih?"
Han otomatis melirik sekeliling ruangan.
"Tapi di sini nggak ada TV." lanjut Jovie sambil mendesah sebal. "Sedih."
Han mengangkat alis. "Lah, emangnya lo nggak bawa laptop?"
Jovie langsung menggeleng. "Nggak."
Han menatapnya aneh. "Serius?"
"Iya."
"Terus lo bawa apa?"
"HP sama kamera."
Han menunjuk meja. "HP yang mati itu?"
Jovie tertawa. "Yoi."
Han kembali menggeleng. "Lo tuh ekstrem juga ya."
Jovie tampak bangga. "Thanks.."
"Gue nggak lagi muji ya."
Mereka sama-sama tertawa.
Lalu Han menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Yaudah, gini aja,"
"Hm?"
"Ntar maleman ke kamar gue."
Jovie langsung menoleh. "Buat?"
"Ya nonton." Han mengangkat bahu. "Sambil makan mie."
"Mie?"
"Gue bawa banyak dari rumah."
Jovie langsung menunjuknya dengan bangga. "Nah ini."
Han tertawa. "Kenapa?"
"Ini nih."
"Apa?"
"Orang normal ke Vancouver bawa outfit se koper. Lo malah bawa stok mie. Emang kita tuh orang Indo asli, Han."
Han langsung tertawa. "Takut nggak cocok makanan sini."
"Masuk akal sih."
"Emang."
Jovie menggeleng-gelengkan kepala, masih tersenyum karena perkataan Han Ranu.
"Yaudah." Han berdiri. "Maleman gue tunggu, ketok-ketok aja."
Namun sebelum ia sempat melangkah menuju pintu, Jovie sudah lebih dulu bangkit dari kasur.
"Ngapain?"
Jovie menunjuk keluar. "Ke kamar lo."
Han mengernyit. "Sekarang?"
"Iya."
"Kan janjian nya malem."
Jovie mengangkat bahu. "Ya sekarang aja."
Han tertawa tidak percaya. "Kemarin-kemarin tuh siapa sih yang paling pengen sendirian?"
Jovie pura-pura tidak dengar. Sudah berjalan menuju pintu. "Gas lah."
"Jov."
Tidak ada jawaban.
"Jov."
Tetap tidak ada.
Han hanya bisa tertawa sambil mengikuti langkahnya keluar. Mulai hari ini, pondok kecil itu terasa sedikit lebih hidup daripada biasanya.
•••••
"Wah gila sih." Han menatap mangkuknya."Racikan lo boleh juga."
Jovie yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang langsung terkekeh bangga. "Tuh kan."
"Sumpah." Han kembali menyuap mie ke mulutnya. "Ini enak banget."
"Makanya." Jovie menunjuk mangkuk miliknya."Gue nggak pernah gagal soal mie instan."
Han tertawa. "Segitu yakin?"
"Banget." Jovie bahkan terlihat sedikit lebih hidup saat membicarakan hal itu.
"Kenapa emangnya?"
Jovie mengangkat bahu. "Dulu adek gue kalau pengen makan mie harus gue yang masakin."
Han menoleh, berbinar. "Lo punya adek?"
Jovie mengangguk. "Punya."
Namun senyum di wajahnya perlahan memudar. Hanya sedikit. Tapi cukup terlihat.
"Ah." Ia langsung melambaikan tangan. "Nggak usah diceritain lah."
Han menunggu.
Namun Jovie tidak melanjutkan. "Rese dia sekarang."
Han akhirnya hanya mengangguk. "Ya terserah."
Tidak bertanya lagi.
Tidak memaksa.
Dan Jovie benar-benar menghargai itu. Karena kebanyakan orang selalu penasaran. Selalu ingin tahu lebih jauh. Sementara Han tampaknya cukup puas dengan jawaban seadanya.
Mereka akhirnya kembali fokus pada laptop yang berada di atas meja kecil. Film lawas Amerika yang entah kenapa dipilih Han malam itu terus berjalan. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus. Alur ceritanya kadang membingungkan. Namun tidak ada yang benar-benar mempermasalahkannya.
Suasana yang membuat semuanya terasa menyenangkan.
Di luar, angin laut masih terdengar berembus. Sesekali suara ombak ikut masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Sementara di dalam kamar, mereka duduk berselimut. Mangkuk mie hangat di tangan. Film berjalan di depan mereka.
Nyaman. Sederhana. Dan anehnya, terasa cukup.
Siangnya mereka berenang di laut. Sekarang mereka makan mie sambil menonton film.
Jovie tidak ingat kapan terakhir kali ia menjalani hari yang sesederhana ini.
Ia melirik ke samping. Pada Han yang sedang tertawa melihat salah satu adegan film. Matanya sedikit menyipit. Bahunya bergerak pelan. Tampak benar-benar menikmati dirinya sendiri.
Entah kenapa, Jovie ikut tersenyum.
Gue kira sendirian tuh lebih tenang.
Pandangannya kembali ke layar.
Ternyata jauh lebih enak kalau ada temennya gini.
Pikiran itu datang begitu saja tanpa izin. Dan Jovie membiarkannya tinggal.
Tiba-tiba Han menunjuk layar.
"Jov!"
"Hm?"
"Yang ini mirip lo banget anjir!"
Jovie menoleh.
Karakter yang sedang muncul di layar adalah seorang gelandangan berwajah kusut yang sedang dimarahi orang-orang.
Han langsung tertawa keras. "Reinkarnasi ini mah!"
Jovie menatap layar beberapa detik.
Lalu menatap Han.
Lalu kembali menatap layar.
Kemudian tanpa banyak bicara, ia menepuk bahu Han pelan. "Kurang ajar!"
Han malah semakin tertawa. "Mirip sumpah."
"Mirip dari mana?"
"Dari auranya."
"Aura bapak lo?"
Han sudah hampir tersedak karena tertawa.
Jovie akhirnya ikut tertawa juga. Dan itu cukup untuk membuat suasana kamar kecil itu terasa semakin hangat.
Setelah itu mereka kembali menyantap mie masing-masing.
Film terus berjalan. Malam perlahan turun di luar sana. Lampu-lampu di sepanjang pantai juga mulai menyala satu per satu.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang terburu-buru. Tidak ada rencana besar. Tidak ada tujuan khusus.
Hanya dua orang yang kebetulan bertemu di tempat yang jauh dari rumah.
Duduk berdampingan.
Makan mie instan.
Menonton film.
Dan untuk malam itu, rasanya sudah lebih dari cukup. Biarlah seperti ini dulu. Untuk sementara waktu, mereka tidak perlu memikirkan apa pun selain hari yang sedang mereka jalani.
~~🦀🌊~~
Pagi di hari kelima datang dengan tenang.
Langit di luar jendela masih berwarna pucat ketika Jovie perlahan membuka mata. Beberapa detik pertama ia bahkan lupa sedang berada di mana. Yang ia lihat hanya langit-langit kayu. Bukan miliknya. Bukan pondoknya.
Lalu ingatannya perlahan kembali pada film semalam, pada mie instan buatannya, pada tawa Han yang menyenangkan. Dan ya, semalam mereka menonton 4 film yang bahkan tidak mereka selesaikan karena keduanya keburu tertidur.
Jovie mengerjap pelan.
Di samping ranjang, Han Ranu sedang duduk membelakanginya. Kepalanya sedikit menunduk. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Han?"
Han menoleh. Ekspresinya terlihat biasa saja.
"Ngapain?"
Han mengangkat gelas yang berada di tangannya. "Minum."
"Oh."
"Gue baru bangun juga kok."
Jovie hanya mengangguk. Masih terlalu mengantuk untuk berpikir lebih jauh.
Ia tidak memperhatikan apa pun selain gelas di tangan Han. Tidak melihat apa yang sebelumnya ada di meja. Tidak melihat apa yang baru saja disimpan Han ke dalam laci kecil di samping ranjang.
Dan Han juga tidak berniat menjelaskan. Beberapa hal memang lebih mudah disimpan sendiri.
Jovie menarik selimut sedikit lebih tinggi. Menyembunyikan sebagian wajahnya.
Kamar itu masih hangat. Terlalu hangat untuk ditinggalkan pagi-pagi.
Han memperhatikan tingkahnya sebentar sebelum tersenyum kecil. "Jovie."
"Hm?"
"Agenda hari ini apa?"
Jovie mengeluarkan suara tidak jelas dari balik selimut.
Han terkekeh. "Gue nanya serius."
"Masih pagi..."
"Justru itu gue tanya sekarang." Han menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu disamping ranjang. "Mau ke mana?"
Jovie memejamkan mata lagi. Masih setengah tertidur dan tidak berencana menjawab.
Han menunggu. Beberapa detik. Lalu beberapa detik lagi. Sampai akhirnya terdengar suara pelan dari balik selimut.
"Atur aja, Han."
Han mengangkat alis. "Hah?"
"Lo aja yang atur." Jovie menarik selimut sampai hampir menutupi hidungnya. "Gue merem lagi sepuluh menit."
"Jov."
"Ntar bangunin."
"Jov."
"Sepuluh menit doang kok."
Han tertawa pasrah. "Molor mulu sih."
Jovie hanya mengangkat satu jempol dari balik selimut. Tanda bahwa ia mendengar. Atau mungkin tidak. Han sendiri tidak yakin. Karena kurang dari satu menit kemudian, napas Jovie sudah kembali teratur. Benar-benar tertidur lagi.
Han menatapnya beberapa saat. Lalu menggeleng sambil tersenyum.
Jika lima hari lalu, lelaki berjama Jovie ini bahkan tidak mau menjawab sapaan darinya. Sekarang malah dengan santainya tidur di kamar orang lain dan menyerahkan seluruh rencana hari itu padanya.
Aneh. Namun Han tidak keberatan. Sama sekali tidak.
Ia menoleh ke arah jendela. Memandang laut yang perlahan mulai disinari matahari pagi. Lalu kembali melirik Jovie yang masih meringkuk di bawah selimut.
Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
"Sepuluh menit ya." gumamnya pelan.
•••••
Siang itu mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan mengelilingi kota. Tidak ada tujuan khusus. Tidak ada tempat wisata yang harus didatangi.
Mereka hanya berjalan. Masuk ke jalan yang terlihat menarik. Berhenti di toko yang terlihat ramai. Keluar lagi beberapa menit kemudian. Lalu berjalan tanpa arah.
Aneh sekali. Padahal Jovie biasanya selalu hidup dengan jadwal. Namun selama berada di Vancouver, rasanya ia mulai lupa bagaimana cara hidup seperti itu.
"Eh istirahat bentar." Han tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.
Jovie menoleh. "Lah."
Han memegangi lututnya. "Capek gue."
Jovie langsung tertawa. "Ya gini nih kalo jalan bareng orang tua."
Han mengangkat kepala. "Kurang ajar juga lo."
"Bener kan."
Han menunjuk Jovie. "Bukannya lo sendiri yang bilang kalo kita seumuran ya?"
"Tiga tahun tuh jauh."
"Apanya yang jauh?"
"Intinya lo tua."
Han langsung tertawa. Jovie ikut tertawa.
Dan beberapa menit kemudian mereka kembali berjalan.
Mereka masuk ke toko oleh-oleh hanya untuk melihat-lihat. Mencoba topi aneh yang tidak akan dibeli. Menertawakan magnet kulkas berbentuk ikan paus. Membahas kartu pos yang menurut Han terlalu mahal. Lalu keluar lagi tanpa membeli apa pun.
Mereka masuk ke toko buku kecil. Keluar lagi.
Masuk ke toko cokelat. Keluar lagi.
Berjalan. Berhenti. Berjalan lagi.
Dan tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat.
Menjelang sore, mereka membeli es krim dari sebuah van kecil yang terparkir di pinggir jalan. Lalu duduk di taman yang menghadap laut.
Angin bertiup lembut. Beberapa anak berlarian di rumput. Seekor anjing mengejar bola di kejauhan. Dan untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati es krim masing-masing.
"Han."
"Hm?"
"Kayaknya gue tahun depan bakal ke sini lagi deh."
Han menoleh. Senyumnya langsung muncul. "Bagus dong."
Jovie mengangguk. Matanya masih memandangi laut. "Semoga sih."
Han memperhatikannya sebentar. Jovie terlihat jauh berbeda dibanding hari pertama. Jauh.
"Lo nggak pengen?"
Han mengangkat alis. "Pengen apa?"
"Ke sini lagi."
"Hmm." Han berpikir sebentar. "Maksudnya lo ngajak gue lagi ke sini tahun depan apa gimana?"
Jovie langsung tertawa. "Ya anggep aja gitu."
Han ikut tertawa. Suara tawanya melebur dan bercampur dengan angin sore. "Gatau deh."
"Kenapa gatau?"
"Pengen sih pengen." Han menggigit ujung sendok es krimnya. "Tapi gatau ada waktu nggak."
Jovie langsung mendengus. "Ya usahain lah."
Han hanya tersenyum.
"Cuti dua minggu gitu juga oke kan?" Jovie menyikut lengannya pelan. "Ntar gue samain deh harinya."
Han memandang wajah Jovie beberapa saat. Lalu tersenyum lagi. "Gak janji ya."
"Iya iya." Jovie melambaikan tangan malas. "Yang penting niat dulu."
Han hanya terkekeh.
Beberapa saat mereka kembali diam. Lalu tiba-tiba Jovie menoleh.
"Eh Han."
"Hm?"
"Lo tuh kerja apa sih sebenarnya?"
Han mengangkat alis. "Tiba-tiba banget?"
"Gue udah pernah nanya belum ya?"
Han berpikir sejenak. "Kayaknya belum."
"Nah." Jovie menunjuknya.
Han tertawa.
"Gue kerja bareng bokap, di kantornya. Makanya bisa liburan santai banget kayak gini."
Jovie langsung mencibir. "Nepotisme."
Han malah tertawa lebih keras. Sama sekali tidak tersinggung. "Ya gimana."
"Parah sih lo, Han."
"Cuma itu satu-satunya keberuntungan gue dalam hidup."
Jovie yang tadinya hendak menyuap es krim langsung berhenti. "Emang hidup lo kenapa?"
Han mengangkat bahu. Santai sekali. "Ada lah."
Jovie langsung mendecak, memutar bola mata dengan malas.
Namun Han tiba-tiba terdiam. Seolah mengingat sesuatu. "Oh iya."
"Apa?"
"Sebenarnya ada satu lagi sih keberuntungan gue."
Jovie mengernyit. "Apaan?"
Han menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Ketemu lo di sini."
Jovie terdiam beberapa detik.
Han tersenyum kecil. "Menurut gue..." Ia mengalihkan pandangan ke laut. "Gue beruntung banget."
Angin sore berembus melewati mereka. Membawa aroma laut yang samar.
Jovie menatap es krim yang mulai meleleh di tangannya. Lalu menatap lalu lalang orang-orang di depan taman. Tidak tahu harus menjawab apa. Karena tiba-tiba, ia merasa dadanya sedikit bergetar entah mengapa.
Akhirnya ia berdeham kecil. "Gue yang beruntung kali, Han."
Han menoleh. Senyumnya perlahan melebar.
"Yaudah." Ia tertawa pelan. "Berarti kita ketemu di sini cocok kan ya?"
Jovie mengangguk. "Iya."
"Berarti nggak sia-sia gue gangguin lo dari hari pertama."
"Masih aja dibahas."
"Bakal gue bahas sampe minggu depan pas gue balik."
Jovie mendengus. Namun kali ini tidak benar-benar kesal.
Han kemudian menepuk bahunya pelan. "Jov."
"Hm?"
"Semangat ya."
Jovie langsung menoleh. Ekspresinya penuh curiga."Apasih tiba-tiba banget?"
Han tertawa. "Nggak apa-apa."
"Gak jelas."
"Gue cuma berharap..." Han memandang laut di kejauhan. "...habis pulang dari sini, lo bisa lebih baik lagi jalanin hidup. Lebih menghargai waktu, dan bisa menikmati masa muda lo."
Jovie terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa terasa tulus sekali. Setelah beberapa detik, ia akhirnya mengangguk. Lalu menoleh ke Han.
"Lo juga, Han."
Senyum Han tidak hilang. Ia mengangguk kecil. "Iya."
Lalu memalingkan wajah. Memandang laut yang berkilauan diterpa cahaya sore.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena lelah berjalan seharian. Bukan juga karena udara dingin. Ia hanya... ingin berada di situasi ini lebih lama.
Sedikit lebih lama.
Kalau bisa, selamanya.
~~🦀🌊~~
Hari keenam datang.
Lalu hari ketujuh.
Hari kedelapan.
Kesembilan.
Dan entah bagaimana, waktu yang awalnya terasa berjalan lambat kini justru berlari begitu cepat.
Hari-hari mereka hampir selalu mirip. Kadang berjalan-jalan. Kadang naik kapal. Kadang hanya duduk di pantai sambil mengobrol berjam-jam. Kadang bahkan tidak melakukan apa-apa selain meminum kopi dan menghabiskan sore bersama.
Namun justru karena sederhana, semuanya terasa menyenangkan. Terlalu menyenangkan bahkan.
Sampai akhirnya hari kedua belas tiba.
Dan kenyataan yang selama ini berusaha diabaikan Jovie akhirnya berdiri tepat di depan matanya.
Lusa, Han Ranu akan pulang.
Sementara Jovie masih memiliki dua minggu tersisa di Vancouver.
Dua minggu sendirian. Memikirkan itu saja sudah membuatnya tidak nyaman.
"Makanya cari temen." Han berkata begitu saat mereka sarapan pagi tadi. "Jangan gaya-gayaan introvert."
Jovie langsung mencibir. "Apaan sih."
"Lo tuh aslinya butuh temen, Jov."
"Gak juga."
Han mengangkat alis.
Jovie menyandarkan dagu di meja. "Cocok-cocokan sih, Han."
Han memperhatikannya.
"Kebetulan aja gue cocoknya sama lo." Jovie menghela napas berat. "Belum tentu cocok sama yang lain."
Han hanya tertawa.
Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
Namun beberapa jam kemudian mereka masih membahas hal yang sama.
Kini sambil memancing.
Mereka duduk di atas bebatuan karang yang menjorok ke laut. Angin pagi bertiup cukup kencang. Dua pancing terulur ke air. Sementara ember yang masih kosong berada di antara mereka.
Malam nanti mereka berencana memasak ikan hasil tangkapan sendiri.
Kalau dapat.
Kalau tidak... ya mereka mungkin makan mie instan. Yang tentu saja stoknya masih banyak di pondok Han Ranu.
"Tunggu." Han tiba-tiba berdiri. Matanya membesar. "Wah."
Jovie menoleh. "Wah gila."
Han mulai menggulung kailnya. "Gede nih."
Jovie langsung ikut memperhatikan.
Pancing Han memang terlihat bergerak cukup kuat. Han menariknya dengan penuh semangat. Sedikit demi sedikit.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Lalu—
Kosong.
Tidak ada apa pun. Kail itu muncul dari permukaan laut sendirian.
Han langsung terdiam.
Jovie menatap kail itu.
Lalu menatap Han.
Lalu kembali menatap kail.
"Sukurin." ejek Jovie.
Han mendecak.
"Lagian dari tadi sombong doang." Jovie menunjuk kail kosong itu. "Dapet juga enggak."
Han kembali duduk. Namun ekspresinya masih sok tenang. "Master tuh dapetnya belakangan, Jov."
Jovie langsung memutar mata. "Master tai."
Han tertawa karena Jovie terlihat kesal. Kemudian kembali melempar kail ke laut.
Untuk beberapa saat mereka hanya mendengarkan suara ombak. Dan angin. Sampai akhirnya Jovie kembali membuka suara. Sedikit lebih pelan kali ini.
"Besok hari terakhir lo di sini dong ya."
Han langsung meliriknya. "Jov."
"Hm?"
"Sekarang baru jam sepuluh pagi."
Jovie diam.
"Dari jam enam tadi lo bilang gini terus."
Jovie menghela napas panjang. "Ya gue sedih aja."
Han kembali menatap laut. "Hm."
"Gue habis ini kesepian."
Han tertawa kecil. "Yaelah."
Jovie langsung mendecak. "Apasih?"
"Tujuan awal lo kan emang pengen sendirian."
Jovie membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Karena Han benar. Sangat benar. "Ya iya."
"Nah."
"Tapi kan..." Jovie memainkan gagang pancingnya. "Pas ketemu lo..."
Kalimatnya menggantung sesaat. Lalu ia melanjutkan dengan jujur. "...gue jadi nggak mau sendirian lagi, Han."
Untuk beberapa detik, Han tidak mencoba menjawab. Ia hanya menatap Jovie dengan tenang. Dan entah kenapa tatapan itu membuat Jovie tidak bisa memalingkan wajah.
Akhirnya Han tersenyum lembut. "Tugas gue cuma nemenin lo dua minggu."
Jovie diam.
"Terus dua minggu sisanya..." Han menunjuk laut di depan mereka. "...lo harus bisa nikmatin liburan lo sendiri."
Jovie menunduk.
"Sesuai niat awal lo." Han kembali tersenyum. "Yang tenang." Lalu ia menunjuk ke arah deretan orang yang sedang berjalan di pantai. "Di sini semua orang ramah sama kita, Jov."
Jovie mengangguk lemah. "Ya iya sih."
"Iya kan."
"Tapi—"
"Jov." Han memotongnya pelan. "Nggak usah takut sama sesuatu yang belum kejadian."
Jovie terdiam cukup lama.
Karena lagi-lagi Han Ranu benar.
Untuk apa ia takut? Bukankah sejak awal memang itu yang ia cari? Kesendirian. Ketenangan. Waktu untuk dirinya sendiri.
Hanya saja...
Kini kesendirian itu terasa berbeda karena ada seseorang yang membuatnya lupa bagaimana rasanya sendirian.
Jovie akhirnya mengembuskan napas. "Yaudah lah."
Han tersenyum puas. "Nah gitu dong."
Mereka kembali diam. Pancing masih mengapung di atas permukaan laut. Sampai tiba-tiba Jovie teringat sesuatu.
"Eh."
"Kenapa?"
"Lo tinggal di mana sih di Indo?"
Han mengangkat alis. "Emang kenapa?"
"Ya siapa tau." Jovie pura-pura fokus pada pancingnya. "Bisa ketemu."
Han mengangkat bahu. Sesederhana itu. "Kalau takdir, pasti ketemu lagi kok nanti."
Jovie langsung mendecak. "Yaelah, Han."
Han tertawa. "Kenapa?"
"Nggak usah sok-sok pemeran film romance deh, Han."
Han justru semakin terkekeh. "Tapi gue serius."
"Apanya?"
"Pasti ketemu."
Jovie menggeleng. Namun tidak membantah lagi. Tidak memaksa. Tidak bertanya lebih jauh. Karena entah kenapa, untuk pertama kalinya ia hidup, ia benar-benar percaya pada seseorang tanpa meminta bukti.
Maka ia hanya kembali menatap laut.
Dan memilih percaya.
Bahwa nanti, setelah Vancouver berakhir, setelah mereka kembali ke kehidupan masing-masing, mereka akan bertemu lagi. Entah kapan. Entah di mana. Namun pasti. Setidaknya itulah yang ingin ia percayai.
•••••
"Gue benci banget sama lo sumpah."
Han langsung tertawa keras di sampingnya.
Mereka kini berjalan menyusuri pesisir pantai. Di tangan Han tergantung sebuah kresek hitam berisi beberapa ikan.
Bukan hasil pancing mereka.
Tentu saja bukan.
Karena setelah berjam-jam duduk di atas karang sambil sok menjadi nelayan profesional, hasil tangkapan mereka adalah... Nol besar. Akhirnya mereka membeli ikan dari seorang nelayan yang baru pulang melaut.
"Buang-buang waktu banget dah." Jovie lanjut mengomel. "Mana sok-sokan bilang master."
Han kembali tertawa.
"The fisherman is the real master tau, Han."
"Iya iya."
"Master apaan sih lo."
"Sorry lah..."
"Dari tadi juga zonk."
"Iya, maafin gue deh."
Jovie mendengus. "Kesel gue."
Dan entah kenapa, pemandangan itu terlihat sangat lucu di mata Han.
Karena Jovie benar-benar kesal. Tapi kesalnya tidak pernah bertahan lama. Tidak pernah benar-benar serius.
Han diam-diam mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka kamera. Mulai merekam tanpa Jovie tau.
Han menggenggam ponsel dengan taj stabil, namun ia yakin suara omelan Jovie akan tetap terekam dengan jelas.
Video itu dipenuhi rekaman langkah kaki mereka di pasir. Suara kaki yang berjalan dan bertabrakan dengan angin sore. Dan juga wajah Jovie yang sesekali tertangkap kamera sebelum keluar lagi dari frame.
"Heh." Jovie langsung menoleh. "Lo ngerekam ya?"
Han refleks menurunkan ponsel. "ENGGAK."
"Boong."
"Serius."
"Boong."
Han akhirnya tertawa.
Jovie mendengus. "Padahal kalau mau ngerekam ya bilang aja." Lalu mengulurkan tangan. "Sini HP lo."
Han menyerah. Menyerahkan ponselnya begitu saja.
Jovie langsung membuka kamera. Memencet tombol rekam. Lalu mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri. "Halo."
Han sudah mulai tertawa bahkan sebelum Jovie melanjutkan.
"Hari ini di Vancouver..." Jovie menunjuk Han yang sedang berjalan di sampingnya. "...Han Ranu yang jelek ini udah nyita waktu gue seharian cuma buat duduk di atas karang sambil mancing emosi."
Han langsung tertawa keras.
Jovie tetap melanjutkan. "Dengan hasil akhir..." Ia mengarahkan kamera ke kantong plastik hitam. "...beli ikan dari nelayan karena nggak dapet apa-apa."
Han sekarang benar-benar tidak bisa berhenti tertawa.
Sementara video itu dipenuhi dua wajah yang terlihat jauh lebih bahagia daripada yang seharusnya.
Video sederhana. Mungkin tidak penting bagi siapa pun. Namun entah kenapa Han merasa ingin menyimpannya.
Lama.
Selamanya.
Setelah selesai merekam, Jovie mengembalikan ponsel itu. Lalu mereka kembali berjalan. Menyusuri garis pantai yang mulai berwarna keemasan.
Senja sudah mulai turun sedikit demi sedikit. Membuat laut tampak seperti kaca cair yang memantulkan cahaya.
"Eh Jov!" Han memecah keheningan.
"Hm?"
"Fotoin gue dong."
Jovie menoleh.
"Pake kamera lo tapi."
Jovie mendengus. Tapi tetap mengangkat kamera yang tergantung di lehernya. "Cepetan."
Han tersenyum. Lalu berdiri menghadap laut. Membiarkan cahaya senja jatuh tepat di wajahnya. Angin menerbangkan sedikit rambutnya. Dan untuk sesaat, ia terlihat benar-benar bahagia.
Jovie memotret beberapa kali. Meski kadang ia akan berpura-pura menunggu kameranya memproses gambar, hanya karena ingin sedikit lebih lama memandang senyuman di wajah Han. Karena baginya, Han Ranu yang disinari cahaya senja itu... indah.
"Udah."
Han mengangguk, lalu berjalan mendekat.
"Mau liat dulu?"
Namun Han justru menggeleng. "Ntar malem gue pinjem memory card lo ya."
"Buat apa?"
"Gue pindahin sendiri ke laptop."
Jovie mengangkat bahu. "Terserah lo dah."
"Siap." Han tersenyum.
Lalu tanpa berpikir panjang, merangkul bahu Jovie pelan. Begitu alami. Seperti yang sudah sering mereka lakukan selama beberapa hari terakhir.
Jovie sempat sedikit terkejut. Namun tidak menolak. Tidak menghindar. Mereka terus berjalan seperti itu. Berdampingan. Menuju deretan pondok yang mulai terlihat di kejauhan.
"Udah dong ngambeknya, Jov."
Jovie menghela napas panjang. "Gue tuh nggak ngambek, Han."
"Terus?"
"Kesel aja."
"Karena gue pulang?"
Jovie tidak menjawab. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Han hanya tersenyum kecil. Lalu membiarkan keheningan menemani mereka sampai tiba di depan pondok.
"Abis mandi kita ke sini lagi ya." Han mengangkat kantong ikan. "Gue mau pinjem panggangan ke pondok situ dulu. Ntar gue siapin."
Jovie mengangguk. "Yaudah. Ntaran gue bantu kalau udah selesai mandinya."
Han tersenyum. "Oke."
Mereka akhirnya berpisah di depan pintu pondok masing-masing.
Jovie masuk lebih dulu. Pintu kayu itu tertutup perlahan. Meninggalkan Han sendirian di luar.
Angin sore masih bertiup. Suara laut masih terdengar. Namun entah kenapa semuanya terasa sedikit berbeda hari ini. Sedikit lebih sunyi.
Han berdiri cukup lama. Menatap pintu pondok di sebelahnya. Pintu yang selama dua minggu terakhir hampir selalu terbuka. Pintu yang setiap pagi memunculkan seseorang yang kini sudah menjadi bagian dari hari-harinya.
Ia tersenyum kecil, terasa rapuh. Karena sebenarnya... Ia juga sedih. Bahkan mungkin lebih sedih.
Jauh lebih sedih.
Hanya saja Han sudah terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Menyimpan rasa sakit, ketakutan. Menyimpan hal-hal yang tidak bisa ia ubah.
Dan kali ini pun begitu.
Jovie tidak perlu tahu. Tidak sekarang. Mungkin belum.
Han menundukkan kepala. Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel di saku. Ponsel yang berisi foto-foto Jovie. Video omelan Jovie. Tawa Jovie.
Hari-hari yang mungkin akan terus ia putar berulang kali nanti. Saat semuanya sudah berbeda. Saat Vancouver hanya tinggal kenangan. Saat Jovie kembali ke hidupnya.
Dan dirinya...
Han menatap sekali lagi ke arah pintu pondok itu. Lalu tersenyum tipis.
"Semoga ya, Jov..." ucapnya lirih.
Semoga setelah ini hidup Jovie benar-benar membaik.
Semoga nanti Jovie pulang dengan hati yang lebih ringan.
Semoga bisa bertemu lagi.
Semoga Jovie menemukan alasan untuk bertahan.
Dan semoga... saat suatu hari nanti Jovie mengingat Vancouver, yang Jovie ingat hanyalah kebahagiaannya. Bukan perpisahannya.
Han memejamkan mata sebentar. Lalu berbalik. Berjalan menuju pondok sebelah.
Sementara di belakangnya, langit senja perlahan tenggelam ke dalam laut. Dan tanpa disadari siapa pun, waktu yang mereka miliki bersama kini tinggal menghitung jam.
•••••
Malam itu halaman kecil di antara dua pondok dipenuhi aroma ikan bakar. Tidak mewah atau istimewa. Hanya panggangan pinjaman, beberapa ekor ikan hasil beli dari nelayan, dan bumbu racikan seadanya yang mereka campur berdasarkan ingatan samar Jovie terhadap video-video tiktok yang pernah lewat di berandanya.
Namun justru karena sederhana, semuanya terasa menyenangkan.
Han yang bertugas membolak-balik ikan tampak sangat serius. Seolah sedang mengurus hidangan restoran bintang lima. Sementara Jovie duduk di kursi plastik sambil memperhatikan dengan ekspresi skeptis.
"Gue nggak percaya sama muka penuh tipu lo itu."
Han menoleh. "Kenapa lagi?"
"Kelihatan kayak orang yang habis naruh racun."
Han langsung tertawa. "Makin didiemin makin kurang ajar cara ngomong lo."
Beberapa menit kemudian Han mengambil sedikit daging ikan yang terlihat matang. Ia meniupnya pelan karena masih panas. Lalu mengulurkan garpu ke arah Jovie.
"Cobain, Jov."
Jovie menatap potongan ikan itu. Lalu menatap Han. Lalu kembali menatap ikan. Ekspresinya penuh curiga.
"Ini gue dijadiin kelinci percobaan?"
Han terkekeh. "Enggak. Ini kan racikan lo sendiri. Habis ini gue juga ngicip kok."
Jovie mengerutkan hidungnya dengan lucu. Namun akhirnya membuka mulut juga. Menerima suapan itu. Lalu mengunyah. Lalu terdiam. Dan mengunyah lagi. Menganalisis dengan sangat serius.
Han mulai tegang. "Gimana?"
Jovie masih diam.
Han semakin tegang. "Jov?"
Akhirnya Jovie mengangguk. "Enak sih."
Han langsung tersenyum puas. "Wihh."
"Tapi."
Senyumnya langsung hilang. "Tapi kenapa?"
Jovie mendadak tertawa. "Masih agak mentah dalemnya."
"Hah?" Han langsung membungkuk memeriksa ikan di atas panggangan. "Emang iya?"
"Liat aja tuh."
Han membelah bagian tengah ikan. Lalu terdiam.
Jovie sudah tertawa lebih dulu karena melihat ekspresi Han yang meringis.
"Kan."
"Sorry, sorry, Jov."
Jovie terkekeh. "Gak papa kali." Ia mengambil minuman kaleng di meja. "Vitamin tuh."
Han ikut tertawa.
Dan suasana kembali hangat seperti biasanya.
Setelah ikan benar-benar matang dan akhirnya bisa dimakan tanpa risiko menjadi pasien rumah sakit, mereka duduk berhadapan sambil menikmati makan malam sederhana itu.
Suara laut terdengar dari kejauhan. Angin malam membawa hawa dingin yang nyaman. Dan untuk beberapa saat mereka hanya makan. Tanpa banyak bicara.
Sampai Han tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya."
Jovie mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Katanya mau lanjutin cerita yang kemarin."
Jovie mengernyit.
"Yang soal hidup lo." Ucap Han. Lalu buru-buru menambahkan. "Tapi nggak juga gapapa sih."
Jovie masih terdiam mengingat-ingat.
Han menatap ikan di piringnya. "Gue nggak maksa."
Beberapa saat berlalu. Lalu Jovie mengangguk pelan. "iya juga ya." Ia tertawa kecil. "Lupa gue."
Han tidak menyela.
Hanya menunggu.
Dan kini, Jovie mulai benar-benar membuka dirinya. Tentang ayahnya, lelaki yang meninggal ketika ia masih remaja. Tentang bagaimana hidup mereka berubah setelah itu, dirinya yang harus belajar cepat menjadi dewasa. Tentang kuliah yang dijalani sambil bekerja paruh waktu. Tentang hari-hari ketika uang makan harus dihitung dengan teliti. Di malam-malam ketika ia belajar sampai pagi karena takut gagal. Juga bagaimana akhirnya ia diterima di salah satu perusahaan besar yang dulu hanya berani ia impikan.
Han sampai melongo. "Sumpah? Lo kerja disana?!"
Jovie tertawa. "Kenapa emang?"
"Gila sih." Han benar-benar terlihat kagum. "Lo ternyata pinter banget."
Jovie langsung mendengus. "Baru tau?"
"Iya."
"Kurang ajar juga lo."
Mereka tertawa sebentar.
Lalu cerita berlanjut. Tentang ibunya, adiknya. Tentang uang. Tentang tuntutan yang tidak pernah selesai. Tentang rasa lelah yang selama ini terus menumpuk. Tentang bagaimana perlahan-lahan hidup Jovie berubah menjadi sesuatu yang hanya dijalani karena harus dijalani.
Han tidak banyak bertanya. Tidak memotong. Tidak memberi nasihat panjang.
Ia hanya mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sesekali mengumpat saat mendengar perlakuan tidak adil yang diterima Jovie. Sesekali membela Jovie dengan penuh semangat.
Dan entah kenapa, itu membuat Jovie semakin nyaman untuk bercerita. Karena tidak semua orang benar-benar mendengarkan. Kebanyakan hanya menunggu giliran bicara.
Namun Han berbeda. Ia mendengarkan seolah setiap kata Jovie penting. Seolah hidup Jovie memang layak untuk didengar.
Waktu terus berjalan.
Ikan di piring mereka perlahan habis. Minuman mereka sudah tinggal sedikit.
Namun cerita Jovie terus mengalir.
Dan malam itu, akhirnya, ada seseorang yang mengetahui hampir seluruh hidupnya. Padahal Han Ranu bukan rekan kerja. Bukan keluarga ataupun teman lama. Hanya seseorang yang kebetulan bertemu di pulau yang jauh dari rumah.
Dan anehnya, justru kepada orang itulah Jovie paling mudah bercerita.
Mungkin karena besok adalah hari terakhir mereka bisa bersama seharian. Mungkin karena setelah itu semuanya akan berubah. Atau mungkin karena jauh di dalam hati, Jovie ingin Han membawa sedikit bagian dirinya ketika nanti pergi.
Agar saat Vancouver berakhir, ia tidak benar-benar hilang dari hidup lelaki itu.
Dan Han Ranu...
Han mendengarkan setiap cerita itu dengan senyum kecil di wajahnya. Menyimpan semuanya baik-baik. Seolah sedang menghafal sesuatu yang tidak ingin ia lupakan.
Karena ia tahu, jauh lebih baik daripada Jovie. Bahwa waktu mereka memang tidak banyak lagi.
••~🦀🌊~••
Pagi itu benar-benar dingin. Entah karena udara laut yang menusuk kulit. Entah karena keduanya sama-sama tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir.
Langit masih gelap ketika mereka sudah duduk di pasir.
Belum ada jam lima pagi. Belum ada matahari. Hanya suara ombak dan dua batang rokok yang menyala di antara mereka.
Mereka tidak bisa tidur. Sudah mencoba. Sudah berbaring. Sudah memejamkan mata. Namun setiap kali mengingat bahwa malam nanti Han Ranu akan pergi, rasanya tidur menjadi hal yang mustahil.
Jadi mereka memilih duduk di pantai dan menunggu pagi bersama untuk terakhir kalinya.
Jovie mengembuskan asap rokok perlahan. Matanya memandangi garis laut yang masih gelap.
Sementara di sampingnya, Han Ranu merebahkan diri di atas pasir. Beanie hitamnya ditarik hingga menutupi mata. Rokok masih terjepit di bibirnya. Seolah sedang berusaha terlihat santai. Padahal tidak.
"Han..."
Tidak ada jawaban. Lalu Jovie menoleh.
"Han Ranu."
Kali ini Han menggeser beanie-nya sedikit. Membuka satu mata dan menatap Jovie. "Kenapa?"
Jovie terdiam sesaat. Padahal tadi ia ingin mengatakan sesuatu. Namun sekarang justru lupa. Atau mungkin tidak tahu bagaimana mengatakannya.
Akhirnya yang keluar justru pertanyaan paling sederhana. "Are we... friend now?"
Han menatapnya sejenak. Lalu terkekeh. Rokok diambil dari bibirnya. Ia bangkit dan duduk di samping Jovie. Lebih dekat dari sebelumnya.
"We're friends since day one, Jov."
Jovie langsung mendengus. "Boong."
"Serius."
"Hari pertama aja gue jutek banget."
Han tertawa. "Emang."
"Terus?"
"Ya tetep temen."
Jovie menggeleng tak percaya. Namun senyum kecil mulai muncul di wajahnya.
Han melihat itu. Dan diam-diam merasa lega.
Mereka kembali menatap laut. Perlahan langit mulai berubah warna. Dari hitam menjadi biru gelap, lalu keabu-abuan. Lalu sedikit oranye muncul di kejauhan.
Matahari akan segera datang.
"Nanti gue anter ya ke airport."
Han mengangguk pelan. "Iyaa."
Jovie menggigit bibir. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena setiap kalimat terasa tidak cukup. Setiap percakapan terasa terlalu pendek. Dan setiap menit yang berlalu terasa terlalu cepat.
"Nanti kabarin gue kalau udah sampai Jakarta."
Han kembali mengangguk. "Iya, Jovie."
Jovie masih belum selesai. Ia terus mencari alasan agar percakapan tidak berhenti.
"Gue bakal cari lo pas udah balik nanti, Han."
Han meliriknya.
Jovie terlihat sangat serius. "Gue janji."
Han terkekeh kecil. "Kayak anak kecil aja lo pake janji-janji segala."
Namun kali ini Jovie tidak membalas dengan kesal. Tidak mendengus atau bercanda. Ia hanya menunduk. Memainkan pasir dengan ujung jarinya.
Dan berkata pelan. "Gue bakal kesepian banget mulai besok."
Kalimat itu membuat Han terdiam. Karena jika boleh jujur, ia juga ingin mengatakan hal yang sama. Bahwa dirinya juga tidak siap. Bahwa dirinya juga sedih. Bahwa dirinya juga ingin tinggal sedikit lebih lama.
Namun tidak ada gunanya.
Maka Han hanya tersenyum. Lalu mematikan rokoknya di pasir.
"Udah, Jov." Suara lelaki itu tetap ringan. "Jangan terlalu dibikin susah."
Jovie tidak menjawab.
Han akhirnya merangkul bahunya pelan. Menariknya sedikit lebih dekat. Mengusap bahu itu perlahan. Seperti yang sering dilakukannya ketika tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Nikmatin liburan lo ya."
Jovie tetap diam. Namun ia juga tidak menjauh dari rangkulan itu.
Han menatap matahari yang mulai muncul dari balik laut. Cahayanya perlahan menyinari wajah mereka. Cantik sekali.
"Thanks, Jov."
Jovie menoleh.
"Hm?"
"Lo udah bikin liburan gue di sini seru." Han tersenyum kecil. "Sumpah."
Jovie menatapnya lekat. Entah mengapa di matanya pagi ini, Han terlihat sedikit rapuh.
Sedikit. Namun cukup untuk membuat dada Jovie terasa sesak.
"Gue nggak bakal lupa Vancouver." Han kembali menatap laut. "Lautnya. Ombaknya. Mie instan lo."
Jovie tertawa kecil.
Han ikut tertawa. Lalu melanjutkan. "Sama lo."
Jovie terdiam.
Sementara Han memandang matahari yang semakin tinggi.
"Eight thousand miles from home..." Ia tersenyum. "...and I never felt alone."
Jovie menatap wajahnya beberapa saat. Lalu perlahan tersenyum.
"I feel the same way too."
Han menoleh.
Jovie mengangguk pelan. "Thanks, Han."
Untuk beberapa detik mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Karena beberapa perasaan memang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Akhirnya Han berdeham kecil. Berusaha mengembalikan suasana. "Yaudah."
"Hm?"
"Hari ini ada agenda nggak?"
Jovie berpikir sejenak. Lalu menggeleng. "Nggak ada."
"Yakin?"
"Iya."
"Terus?"
Jovie menatap laut. Kemudian tersenyum kecil. "Hari ini di pondok aja."
Han mengangkat alis. "Gitu doang?"
"Ya paling nggak jalan disekitar sini deh." Jovie mengangkat bahu. "Kita ngobrol lagi seharian."
Han terkekeh. "Oke kalau gitu."
Mudah sekali jawabannya.
Namun justru itu yang membuat dada mereka semakin sesak. Karena mereka berdua tahu. Hari ini bukan tentang pergi ke mana. Bukan tentang melakukan apa. Bukan tentang mengisi waktu.
Tapi tentang memperlambatnya.
Sebisa mungkin.
Sebelum malam datang.
Sebelum ucapan hati-hati berubah menjadi perpisahan. Dan sebelum Vancouver hanya tinggal kenangan yang akan mereka bawa pulang masing-masing.
•••••
Benar saja. Hari terakhir mereka bersama tidak diisi dengan sesuatu yang besar. Tidak ada perjalanan jauh ke tempat wisata baru. Tidak ada petualangan terakhir yang spektakuler.
Justru sebaliknya. Mereka hanya menjalani hari seperti biasanya.
Jovie membantu Han berkemas, melipat bajunya, memastikan charger tidak tertinggal, dan mengomel karena isi koper Han berantakan.
Lalu mereka menonton satu film yang bahkan tidak terlalu mereka perhatikan karena lebih sibuk mengobrol.
Siangnya makan kepiting di atas bukit favorit mereka.
Sorenya kembali ke pondok. Membuat mie instan lagi. Dan menghabiskan waktu dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Namun entah kenapa terasa sangat berarti.
Han juga tidak bodoh. Ia sangat tahu. Bahwa senyum Jovie hari ini terlalu cerah. Terlalu sering dipaksakan.
Jovie terus bercanda, terus tertawa, terus berbicara. Seolah jika ia berhenti satu detik saja, kesedihan itu akan keluar begitu saja.
Maka Han membiarkannya. Pura-pura tidak sadar. Pura-pura tidak melihat. Karena mungkin itulah yang dibutuhkan Jovie hari ini. Kesempatan untuk tertawa sampai malam tiba tanpa harus membahas perpisahan.
Meski diam-diam, Han sendiri juga tidak baik-baik saja.
Membayangkan Jovie besok yang berjalan sendirian di pantai, memotret matahari terbit sendirian, duduk minum beer sendirian, atau makan mie instan tanpa seseorang yang mengomentari racikannya. Membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Sedikit bersalah. Sedikit sedih. Namun seperti biasa, Han menyimpan semuanya sendiri.
Dan begitu saja... malam akhirnya datang.
Terlalu cepat.
Dan sebelum mereka benar-benar siap, koper Han sudah berdiri di depan pondok. Taksi yang akan membawa mereka ke bandara juga sudah menunggu.
Han mengangkat koper itu dan memasukkannya ke bagasi.
Jovie berdiri di sampingnya. "Aman kan?"
Han menoleh dan tersenyum. "Aman, Jov."
Mereka masuk ke dalam taksi. Duduk berdampingan seperti biasanya. Namun kali ini berbeda. Karena mereka sama-sama tahu.
Perjalanan yang ini punya tujuan akhir.
Radio mobil memutar lagu yang tidak mereka kenal. Entah lagu Kanada, entah lagu lama. Namun melodinya justru membuat suasana semakin menyedihkan.
Han menoleh. Dan tanpa banyak bicara, ia mengambil tangan Jovie. Menepuknya ringan ke pahanya.
"Jov."
Jovie menoleh. "Hm?"
"Besok..." Han tersenyum kecil. "Lo harus makan enak."
Jovie mengangguk.
"Terus jalan-jalan agak jauh."
"Iya."
"Ikut nelayan yang kemarin biar bisa berenang lagi di laut."
"Iya."
"Terus jangan lupa difoto."
Jovie tertawa kecil. "Buat apa?"
"Buat ngabarin ke gue."
Kali ini senyumnya benar-benar muncul. "Pasti."
Han mengangguk puas.
Jovie menarik napas panjang. Lalu mencoba tersenyum. "Besok..."
Han menoleh.
"Gue bakal nyalain HP lagi. Cuma buat ngehubungin lo."
Beberapa detik Han hanya menatapnya. Lalu tertawa pelan. "Oke."
Jovie kembali menatap jalanan di luar jendela. "Kalo ada barang ketinggalan bilang aja ya."
Han mengangguk.
"Nanti gue bawain pas balik Jakarta."
"Iya, Jov."
Taksi terus melaju.
Dan sebelum mereka sadar, lampu-lampu bandara sudah terlihat di depan.
Mereka sampai.
Terlalu cepat.
Setelah supir membantu mengeluarkan koper, kini mereka berjalan masuk bersama. Bandara malam itu cukup ramai. Namun entah kenapa Jovie hanya bisa melihat satu orang.
Han.
Han Ranu.
Hanya Han Ranu.
"Udah mepet nih." Han berhenti. "Lo balik langsung aja, Jov."
Jovie mengangguk. "Yaudah."
Suasana mendadak menjadi canggung. Karena sekarang tidak ada lagi hal yang bisa ditunda. Tidak ada lagi alasan untuk memperpanjang waktu.
Han akhirnya menepuk bahunya pelan. "Jov."
Jovie mengangkat kepala.
"Makasih banyak ya."
Hanya itu. Kalimat sederhana. Namun cukup membuat mata Jovie mulai panas. Ia buru-buru menunduk. Mencoba menahan semuanya.
Namun gagal.
Karena detik berikutnya ia sudah memeluk Han erat sekali.
Han tampak sedikit terkejut. Namun hanya sesaat. Kemudian ia membalas pelukan itu tak kalah erat. Di malam terakhir ini, sama sekali tidak ada candaan. Hanya ada dua orang yang sama-sama tidak ingin berpisah.
Pelukan pertama mereka.
Dan semoga saja bukan yang terakhir.
"Han..." Suara Jovie terdengar serak. "Hati-hati ya."
Han mengangguk. Meski Jovie tidak bisa melihatnya. "Lo juga ya, Jov."
Mereka akhirnya saling melepaskan diri. Tidak ada yang berani berlama-lama. Karena semakin lama mereka berdiri di sana, semakin sulit rasanya untuk pergi.
Han menarik koper, mulai melangkah mundur. Lalu melambaikan tangan kecil.
Jovie membalas dan tersenyum dengan mata yang sudah merah.
Han berbalik.
Berjalan menjauh.
Semakin jauh.
Semakin jauh.
Sampai akhirnya menghilang di balik kerumunan orang.
Dan saat itu juga, sesuatu di dalam dada Jovie terasa kosong.
Benar-benar kosong.
Ia berdiri beberapa detik menatap arah Han pergi. Lalu akhirnya berbalik. Keluar dari bangunan bandara.
Supir taksi mereka masih ada di sana dan menunggu.
Jovie menghampirinya. Lalu berkata pelan, "Sir, I'm not going back yet. I'm going to take a walk around here for a while, so you can go ahead."
Supir itu mengangguk ramah. "No problem."
Lalu pergi.
Meninggalkan Jovie sendirian.
Benar-benar sendirian.
Udara malam terasa sangat dingin. Dan Jovie mulai berjalan.
Tanpa tujuan, tanpa arah. Hanya mengikuti langkah kakinya sendiri.
Lampu jalan memantulkan warna kuning pucat di trotoar. Angin malam menyapu wajahnya. Dan entah sejak kapan, air mata mulai mengalir.
Tidak ada isak. Tidak ada tangisan keras. Tidak ada adegan seperti di drama-drama. Air mata itu hanya jatuh begitu saja dalam diam.
Sekarang, ada seseorang yang baru menyadari bahwa sesuatu yang sangat berharga baru saja pergi.
Jovie mengusap wajahnya cepat. Lalu tertawa kecil.
Bodoh.
Mereka baru kenal dua minggu. Tapi kenapa rasanya seperti kehilangan seseorang yang sudah dikenal bertahun-tahun?
Ia terus berjalan. Membiarkan udara dingin menggigit kulitnya.
Kini, Jovie merasa takut.
Bukan takut pada pekerjaannya. Bukan takut pada keluarganya ataupun pada masa depan.
Tapi takut pada kesunyian.
Karena sekarang ia tahu rasanya memiliki seseorang di sampingnya.
Dan besok pagi, saat matahari terbit lagi di Vancouver...
Han Ranu tidak akan ada di sana.
••~🦀🌊~••
Pagi itu Jovie terbangun jauh lebih siang dari biasanya. Tanpa ada alarm. Tanpa ada suara Han yang mengetuk pintu sambil bertanya mau sarapan di mana.
Tidak ada pesan juga agenda. Tidak ada apa-apa. Ia hanya membuka mata. Lalu menatap langit-langit kayu pondok itu lama sekali.
Biasanya begitu bangun, pikirannya langsung dipenuhi rencana.
Entah pergi ke tempat baru, atau paling tidak, mau mengomeli Han karena alasan tertentu.
Tapi sekarang? Benar-benar kosong.
Bahkan untuk bangun dari tempat tidur pun rasanya berat.
Jovie memejamkan mata lagi. Berharap bisa kembali tidur. Namun percuma. Karena pikirannya terlalu ramai. Dan kesunyian pondok ini terlalu terasa.
Akhirnya ia bangkit. Menyeret langkah ke meja kecil. Mengambil ponselnya yang dua minggu terakhir mati total, yang semalam sudah ia isi dayanya.
Dan hari ini... Hari ini ia akan menghubungi Han. Dan pikiran itu sedikit membuatnya bersemangat.
Ia membawa ponsel itu keluar. Duduk di teras. Lalu tanpa sadar menoleh ke pondok sebelah. Refleks. Namun tentu saja kosong.
Tirai tertutup dan pintunya tergembok. Tidak ada suara tawa. Tidak ada Han Ranu.
Jovie buru-buru mengalihkan pandangan. Lalu membuka kontak Han Ranu yang sempat ia simpan. Jemarinya langsung menekan tombol panggil.
Satu kali.
Tidak tersambung.
Ia mengernyit. Lalu mencoba lagi. Tetap tidak tersambung.
Jovie menatap layar.
Lalu membaca tulisan kecil yang muncul.
Nomor tidak aktif.
"Loh?"
Ia langsung mencoba lagi. Tapi hasilnya masih sama. "Apa-apaan sih?"
Panggilan ketiga.
Keempat.
Kelima.
Tetap gagal.
Jovie mulai duduk lebih tegak. Alisnya berkerut sedikit kesal. Sedikit bingung.
"Han, sumpah dah..." Ia menatap nomor itu. "kok tetep nggak bisa sih?"
Tidak mungkin.
Mungkin sinyal. Mungkin HP-nya bermasalah karena dua minggu tidak dinyalakan. Mungkin ada error.
Jovie buru-buru merestart ponselnya. Menunggu perangkat itu hidup kembali. Lalu langsung mencoba lagi.
Tapi tetap. Nomor tidak aktif.
Kali ini ia membuka aplikasi pencari kontak. Mencari nama Han. Mencari nomor itu. Mencari apa pun. Namun hasilnya nihil.
Kosong. Seolah nomor itu tidak pernah ada.
Jovie mulai merasa tidak nyaman. "Han..." Ia menatap layar lebih lama.
"Lo nggak lagi ngasih nomor asal kan?"
Tidak.
Tidak mungkin.
Han bukan orang seperti itu.
Iya kan?
Mereka menghabiskan dua minggu bersama. Setiap hari. Dari pagi sampai malam. Masa iya Han bohong soal nomor telepon? Tidak masuk akal.
Jovie menggeleng sendiri. "Nggak mungkin."
Mungkin belum sampai Jakarta. Mungkin roaming. Mungkin kartunya belum aktif. Mungkin ada seratus alasan lain.
"Tunggu sore aja deh."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun sore datang.
Tidak ada perubahan.
Malam datang.
Tetap sama.
Nomor itu tidak aktif. Tidak bisa dihubungi. Tidak bisa ditemukan. Tidak ada jejak.
Malam itu Jovie duduk sendirian di teras. Dengan satu batang rokok menyala di jemarinya.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Sampai akhirnya dua bungkus rokok yang dibelinya kemarin habis dalam satu hari. Rekor baru yang bahkan membuat dirinya sendiri jijik. Namun ia tidak peduli. Karena setiap kali mencoba memikirkan hal lain, pikirannya kembali ke satu pertanyaan yang sama.
Kenapa nomor itu tidak aktif?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Ia sudah mencoba puluhan kali. Mungkin ratusan. Tetap sama. Tidak ada jawaban. Tidak ada kabar.
"Anjing lah..." Suara Jovie terdengar pelan.
Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu menunduk. Mencoba tertawa. Namun yang keluar justru napas lirihnya yang gemetar.
"Masa iya sih..."
Rasanya tidak masuk akal. Karena dua minggu terakhir terasa begitu nyata. Terlalu nyata untuk menjadi kebohongan. Terlalu nyata untuk dihilangkan begitu saja.
Jovie akhirnya masuk kembali ke dalam pondok. Langkahnya terasa berat. Ia menjatuhkan diri ke lantai. Lalu melihat kamera yang tergeletak di meja. Dan saat itulah ia teringat sesuatu.
Memory card.
Memory card-nya masih ada pada Han. Han yang meminjamnya untuk memindahkan foto-foto ke laptop. Han yang berjanji akan mengembalikannya. Han yang sekarang bahkan tidak bisa dihubungi.
Jovie langsung berdiri. Mengambil kamera itu dan membuka slot memorinya.
Kosong. Tidak ada memory card. Tidak ada foto. Tidak ada hasil jepretan dua minggu terakhir. Tidak ada matahari terbit. Tidak ada laut. Tidak ada video.
Tidak ada foto Han.
Jovie menatap kameranya. Dan untuk pertama kalinya hari itu, kepanikan benar-benar muncul. Karena tiba-tiba semuanya terasa rapuh.
Nomor telepon tidak aktif.
Memory card hilang.
Tidak tahu alamat rumah.
Tidak tahu tempat kerja.
Tidak tahu akun media sosial.
Tidak tahu apa pun.
Ia bahkan baru sadar. Selama dua minggu itu, mereka hampir tidak pernah membicarakan hal-hal penting. Mereka hanya hidup bersama. Tertawa bersama. Makan bersama. Berjalan bersama. Seolah waktu mereka tidak terbatas. Seolah nanti masih ada kesempatan.
Padahal sekarang... Ia bahkan tidak tahu harus mencari Han ke mana.
"Ah anjing..." Suara Jovie pecah. Kali ini benar-benar bergetar. "Han Ranu..."
Dadanya terasa sesak sekali.
Karena untuk pertama kalinya muncul kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Bagaimana kalau ia benar-benar tidak bisa menemukan Han lagi?
Bagaimana kalau perpisahan di bandara kemarin memang yang terakhir?
Bagaimana kalau semua janji itu tidak pernah bisa ditepati?
Jovie membaringkan diri di kasur. Menatap langit-langit kayu yang gelap. Tangannya masih menggenggam ponsel. Membuka kontak yang sama. Nomor yang sama. Nomor yang tetap tidak aktif.
Lalu dengan suara lirih, ia berkata, "Gue bakal cari lo pas udah sampai Jakarta."
Kalimat yang kemarin terdengar mudah. Sekarang terasa seperti sesuatu yang mustahil.
Jovie memejamkan mata. Namun tidak bisa tidur. Karena semakin malam, semakin ia sadar satu hal yang membuatnya frustasi setengah mati.
Ia tidak kehilangan kontak seorang teman. Ia kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya ingin kembali hidup.
Dan sekarang orang itu seperti menghilang begitu saja.
••~🦀🌊~••
Hari berikutnya ia pergi ke kedai kerang tempat mereka sarapan bersama pertama kali.
Wanita tua yang menjual makanan itu langsung mengenalinya. "Oh! The Indonesian guy!"
Jovie tersenyum. "Hi."
"Where's your friend?"
Pertanyaan sederhana. Namun cukup membuat dadanya sedikit sesak.
Jovie menunduk sebentar. Lalu menjawab ringan."He already went home."
Wanita itu mengangguk. "Oh, that's too bad."
Jovie tersenyum kecil. "He'll be back."
Entah mengapa ia mengatakannya dengan yakin.
Karena memang yakin. Han pasti punya alasan.
Pasti.
⸻
Hari berikutnya lagi, ia berjalan ke bukit tempat mereka makan kepiting.
Duduk di meja yang sama. Memesan menu yang sama. Bahkan tanpa sadar memesan dua minuman. Baru beberapa menit kemudian ia sadar.
Jovie menatap gelas kedua itu lama. Lalu tertawa sendiri.
"Bego."
Namun ia tetap membiarkannya di sana sampai makanan habis.
⸻
Hari ke-17.
Ia kembali menyewa papan surfing.
Ombak masih sama. Air laut masih sedingin biasanya. Dan ketika ia selesai bermain, tanpa sadar pandangannya mencari seseorang yang duduk di pasir.
Seseorang yang dulu selalu muncul. Seseorang yang dulu membuatnya kesal. Namun kini justru dirindukan.
Tidak ada siapa-siapa. Hanya pasir kosong.
Jovie menghela napas. Lalu duduk sendirian menatap laut lebih lama dari biasanya.
⸻
Hari ke-20.
Ia kembali naik kapal nelayan.
Kapal yang sama. Lelaki tua yang sama. Bahkan laut yang sama.
Begitu melihat Jovie, si bapak langsung tertawa.
"Where's your friend?"
Jovie tersenyum.
Pertanyaan itu lagi.
"He went home."
Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Oh."
Lalu setelah beberapa detik ia berkata, "You two looked happy together."
Jovie terdiam. Menatap laut yang berkilauan. Lalu mengangguk.
"I know."
Sangat bahagia.
Mungkin lebih bahagia daripada yang pernah ia sadari saat itu.
⸻
Hari-hari berikutnya berlalu begitu saja.
Jovie tetap memotret dengan memory card baru. Tetap berjalan jauh untuk berkelana. Tetap mencoba makanan baru. Tetap menikmati Vancouver.
Persis seperti yang diminta Han.
Kadang ia masih mencoba menghubungi nomor itu. Kadang masih membuka kontak Han sebelum tidur. Kadang masih mengecek apakah ada pesan masuk.
Namun tidak lagi sefrustrasi sebelumnya.
Karena semakin lama ia berpikir. Han bukan orang yang akan menghilang begitu saja. Tidak mungkin. Pasti ada alasan. Pasti ada sesuatu yang belum ia ketahui.
Dan suatu hari nanti saat kembali ke Jakarta, ia akan menemukan jawabannya. Begitu juga memory card itu. Jovie terkadang tertawa sendiri ketika mengingatnya.
"Dasar Han Ranu." Ia menggeleng. "Masa memory card orang dibawa kabur."
Pasti nanti dikembalikan.
Pasti.
Han bukan tipe orang yang mencuri kenangan orang lain.
⸻
Hari ke-25.
Ditemani udara dingin Vancouver, Jovie bangun pagi dan tidak langsung memikirkan pekerjaan. Tidak memikirkan keluarga, bahkan tidak memikirkan kematian.
Ia hanya membuka mata. Mendengar suara laut. Dan merasa damai. Damai yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Saat itulah ia sadar.
Han berhasil.
Entah bagaimana caranya. Namun lelaki itu berhasil membuatnya ingin hidup lagi.
⸻
Hari ke-28.
Jovie duduk di pesisir pantai saat matahari terbenam.
Membuka kamera. Lalu memotret dirinya sendiri. Hal yang hampir tidak pernah ia lakukan.
Melihat hasil fotonya, ia lantas tersenyum kecil. Wajahnya terlihat jauh lebih baik dibanding sebulan lalu.
Tidak lagi setegang itu. Tidak lagi setua itu. Matanya bahkan terlihat hidup.
Dan mungkin saat ini, Jovie mulai menyukai wajahnya sendiri.
⸻
Hari ke-30 datang lebih cepat dari yang ia kira.
Pondok itu kembali rapi. Semua barang sudah masuk koper. Ranjang sudah kosong. Kamera sudah tersimpan.
Jovie berdiri di depan pintu. Memandang ruangan kecil yang menjadi rumahnya selama sebulan terakhir.
Lalu menoleh ke pondok sebelah yang tetap kosong.
Namun kali ini ia tersenyum.
"See ya in Jakarta, Han Ranu."
Angin laut berhembus pelan seolah menjawab.
Jovie mengangguk kecil. Ia akan mencari Han nanti. Ia akan menagih memory card-nya. Ia akan memarahi Han karena memberikan nomor yang tidak aktif.
Dan setelah itu...
Mungkin mereka bisa kembali makan mie instan bersama. Atau tertawa soal ikan yang setengah matang. Atau merencanakan liburan tahun depan.
Siapa tahu.
Takdir kadang lucu.
Bukankah Han sendiri yang bilang begitu?
"Kalau takdir pasti ketemu lagi kok nanti."
Jovie tersenyum. Lalu menarik koper keluar meninggalkan pondok itu. Meninggalkan pantai itu.
Meninggalkan Vancouver.
Dan sesampainya di bandara pun, Jovie berdiri sejenak sebelum masuk ke terminal.
Menghirup udara Vancouver dalam-dalam. Aroma laut, aroma kayu, aroma angin dingin yang selama sebulan terakhir menemaninya.
Matanya menatap langit biru di kejauhan. Dan setelah bertahun-tahun... kini ia tidak merasa lelah. Tidak merasa hampa. Tidak ingin mati.
Ia hanya merasa hidup. Benar-benar hidup.
Jovie tersenyum kecil. Lalu menarik koper di belakangnya. Berjalan menuju pintu keberangkatan.
Menuju rumah. Ke hidup yang masih panjang.
Dan mungkin, menuju jawaban yang akan mengubah seluruh kenangan tentang Han Ranu selamanya.
••~🦀🌊~••
Jakarta tidak berubah.
Dan itu mungkin hal pertama yang membuat Jovie hampir tertawa begitu pesawatnya mendarat. Karena selama sebulan penuh ia melihat laut, langit, dan pegunungan.
Lalu sekarang? Klakson, polusi, motor yang muncul dari segala arah. Orang-orang yang berjalan terburu-buru.
Dan ponselnya yang kembali dipenuhi puluhan pesan, ratusan email, notifikasi tanpa henti. Seolah dunia sedang marah karena ia berani menghilang selama satu bulan.
Jovie hanya menatap layar itu beberapa saat. Lalu mendesah pelan. "Yaudahlah."
Dan bedanya , kali ini ia tidak lagi panik.
Dihari pertama masuk kerja terasa seperti bencana.
Semua orang mencari dirinya. Semua orang membutuhkan sesuatu. Semua orang punya masalah yang harus diselesaikan olehnya.
Begitu sampai di meja kerja, bahkan kursinya belum sempat diduduki ketika seseorang datang.
"Jov, bisa bantu gue nggak?"
Biasanya Jovie akan langsung mengiyakan.
Namun kali ini ia mengangkat kepala. "Minggu ini nggak bisa."
Temannya tampak kaget. "Oh?"
Jovie mengangguk. "Deadline gue lagi banyak."
Dan selesai.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada konflik. Temannya hanya berkata, "Oke."
Lalu pergi.
Jovie sampai melongo sendiri. Ternyata orang tidak marah ketika ditolak. Ternyata dunia tidak runtuh.
Ternyata dirinya boleh berkata tidak.
Sama seperti seminggu kemudian. Saat manajernya meminta laporan tambahan.
Di masa lalu, Jovie akan membawa pulang pekerjaan itu. Mengerjakannya sampai jam dua pagi. Lalu kembali ke kantor pagi-pagi sekali.
Namun kali ini ia menghela napas. Lalu berkata, "Kalau bisa saya kerjain minggu depan aja."
Manajernya mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Beban kerja saya lagi penuh."
Jovie bahkan sudah siap berdebat. Sudah siap dimarahi. Sudah siap mendengar ceramah panjang.
Namun manajernya hanya berpikir sebentar. Lalu berkata, "Yaudah kalau gitu."
Jovie berkedip bingung. "...Boleh?"
"Iya boleh."
"Serius?"
"Ya iya"
Dan lagi-lagi dunia tidak runtuh hanya karena ia tak menuruti.
Ternyata seperti itu boleh. Ternyata selama ini dirinya sendiri yang terlalu keras pada dirinya sendiri.
Dan sejauh ini, memang hidup Jovie tetap berantakan. Tetap kacau dan melelahkan.
Tetap membuatnya pulang saat langit sudah gelap. Tetap membuat makan malamnya tidak teratur. Tetap membuat apartemennya berantakan karena jarang sempat dibersihkan.
Tidak ada keajaiban setelah Vancouver. Tidak ada hidup yang tiba-tiba sempurna. Namun ada satu hal yang berubah.
Kepalanya tidak seberat dulu.
Saat stres datang, ia tidak langsung berpikir tentang kematian. Saat lelah datang, ia tidak langsung ingin menyerah. Saat dunia terasa terlalu ramai, ia tahu caranya bernapas lagi.
Dan anehnya... sebagian besar itu karena seseorang bernama Han Ranu.
———
Malam-malam Jovie kembali sederhana.
Pulang kerja, masuk ke apartemen, menjatuhkan tas ke sofa, lalu membuat mie instan.
Biasanya setelah itu ia akan duduk di depan TV untuk menonton film. Kadang sampai tertidur.
Kadang tidak begitu.
Kadang ia memilih duduk di balkon untuk merokok. Menatap lampu-lampu Jakarta. Dan memikirkan laut Vancouver.
Namun ada satu kebiasaan baru yang muncul.
Sesuatu yang bahkan tidak ia sadari pada awalnya.
Jovie mulai memperhatikan orang. Setiap orang.
Di halte, lobby, di mall, bahkan di trotoar dan lampu merah. Ia selalu melihat wajah semua orang sedikit lebih lama. Sedikit lebih teliti. Sedikit lebih berharap.
Bagaimana jika itu Han? Bagaimana jika tiba-tiba Han muncul? Bagaimana jika mereka benar-benar bertemu lagi karena takdir?
Bukankah Han pernah bilang begitu?
Maka Jovie mulai percaya.
Ah, dan soal mencari Han Ranu?
Sejujurnya ia sangat ingin. Sangat.
Namun kenyataannya hidup tidak semudah itu. Ia tidak tahu alamat Han. Tidak tahu nama perusahaan keluarganya. Yang ia punya hanya nama dan nomor yang tidak aktif.
Sementara pekerjaannya terus menumpuk. Hari-harinya habis di kantor. Minggu-minggunya habis untuk mengejar target.
Dan ketika akhirnya punya waktu luang, biasanya tubuhnya sudah terlalu lelah.
Namun bukan berarti ia berhenti mencoba.
Kadang setelah lembur, Jovie akan sengaja berjalan sedikit lebih jauh. Masuk ke restoran seafood yang belum pernah ia datangi.
Duduk sendirian dan memesan kepiting atau kerang. Lalu diam-diam memperhatikan seluruh ruangan. Mencari satu wajah yang ia kenal. Satu suara yang ia rindukan. Satu tawa yang pernah memenuhi hari-harinya.
Namun kursi-kursi itu selalu diisi orang lain.
Tidak pernah Han.
Dan tentu saja waktu terus berjalan.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Dan meski kehidupan kembali menyeretnya ke dalam kesibukan Jakarta, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Harapan kecil yang terus ia simpan diam-diam. Bahwa suatu hari nanti.
Mungkin saat keluar dari kantor, mungkin saat membeli kopi, atau mungkin saat makan kepiting sendirian. Ia akan mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Dan ketika hari itu datang, Jovie sudah menyiapkan banyak sekali omelan. Tentang nomor telepon, memory card, tentang kabar yang tidak pernah datang.
Tentang dua minggu yang membuat hidupnya berubah.
••~🦀🌊~••
Malam itu sebenarnya tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Jovie baru pulang kerja hampir pukul sepuluh. Lembur lagi. Makan mie instan lagi.
Hidupnya masih sama. Jakarta masih sama.
Dan Han masih belum ditemukan.
Kini ia duduk di balkon apartemennya dengan satu kaki dinaikkan ke kursi dan sebatang rokok menyala di jemarinya.
Angin malam berembus pelan di antara gedung-gedung tinggi yang memenuhi pandangan. Di tangannya, ponsel menyala. Ia sedang menggulir sesuatu tanpa tujuan. Berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Membaca berita, melihat video pendek, membuka foto-foto lama.
Lalu entah kenapa, jarinya berhenti di aplikasi obrolan.
Jovie diam. Menatap satu nama yang sudah beberapa hari tidak ia buka.
Han Ranu.
Bukan karena tidak mau. Justru karena terlalu sering mau. Ia sudah terlalu sering membuka room chat itu. Terlalu sering membaca ulang pesan-pesan singkat darinya. Pesan yang tidak pernah dibalas. Pesan yang tidak pernah sampai. Pesan yang hanya memiliki satu centang.
Jovie menghela napas. Lalu membuka chat itu lagi. Kebiasaan buruk.
Namun saat layar terbuka... Jovie langsung membeku. Rokok di tangannya sampai hampir jatuh.
Tubuhnya mendadak tegak. Karena pesan terakhir yang ia kirim... sudah tidak lagi satu centang. Kini ada dua.
Dua centang.
Dua.
Jovie bahkan sampai berkedip beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.
Tidak.
Benar.
Dua centang.
Artinya pesan itu terkirim. Artinya nomor itu aktif. Artinya... Artinya Han ada.
Jovie langsung berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
"Anjing."
Jantungnya mendadak berdebar kencang. Rokok yang masih setengah langsung dipadamkan begitu saja.
Tangannya gemetar saat membuka kontak Han. Lalu menekan tombol panggil.
Sekali. Tidak tersambung.
Jovie mengernyit. Mencoba lagi, tapi tetap gagal.
Lagi.
Masih gagal.
"Loh?" Ia mencoba sekali lagi. Masih tidak bisa.
Namun kali ini rasanya berbeda. Karena sebelumnya nomor itu mati. Benar-benar mati. Sekarang? Pesannya masuk. Nomornya aktif. Berarti Han ada di sana. Di suatu tempat entah di mana.
Jovie kembali menekan panggil meski tetap tidak bisa.
"Han..." Ia mulai berjalan mondar-mandir di balkon seperti orang gila. "Please lah..."
Pada panggilan ketujuh pun masih tidak tersambung. Namun Jovie tidak peduli. Karena untuk pertama kalinya ia akhirnya punya harapan.
Tangannya langsung membuka kolom chat. Lalu mengetik cepat.
Satu demi satu pesan memenuhi layar. Tapi tetap tidak ada jawaban.
Namun berbeda dari sebelumnya. Karena sekarang pesan-pesan itu terkirim. Benar-benar terkirim. Dan itu saja sudah cukup.
Jovie duduk kembali. Menunggu hingga hampir tiga puluh menit. Namun anehnya ia tidak merasa sesak seperti biasanya. Tidak merasa putus asa.
Ia punya alasan untuk percaya.
Han belum menghilang.
Han ada.
Mungkin sibuk, mungkin sedang bepergian, atau mungkin ada alasan yang belum ia ketahui.
Namun Han ada.
Dan itu cukup.
Sebelum tidur, ia membuka chat itu sekali lagi. Membaca pesan-pesannya sendiri sambil tersenyum kecil.
"Ketemu juga lo, Han."
Meski belum benar-benar ketemu. Meski bahkan belum dibalas. Tetapi rasanya seperti menemukan jejak seseorang yang selama ini hilang.
Dan malam itu, Jovie tidur tanpa memikirkan kemungkinan terburuk. Ia tidak lagi membayangkan Han sengaja menghilang. Tidak lagi membayangkan Han melupakannya. Tidak lagi membayangkan semua itu hanya kebetulan yang berakhir di bandara.
Karena sekarang ia yakin. Cepat atau lambat mereka akan bertemu lagi. Cepat atau lambat Han akan membalas pesannya. Cepat atau lambat, memory card itu akan kembali.
Dan ketika hari itu tiba, Jovie sudah menyiapkan begitu banyak omelan yang ingin ia keluarkan.
Dengan pikiran itu, ia akhirnya memejamkan mata.
Tidur lebih nyenyak daripada malam-malam sebelumnya.
••~🦀🌊~••
Keesokan harinya, Jovie datang ke kantor dengan suasana hati yang cukup baik.
Pekerjaannya tidak berkurang. Justru sebaliknya. Begitu sampai di meja kerja, tiga email bertanda penting sudah menunggu.
Dua orang mencari dirinya. Dan rapat mendadak muncul di jadwal sore. Namun entah kenapa, hari ini tidak terasa seberat biasanya. Mungkin karena dua centang itu. Mungkin karena, ia merasa Han masih ada di suatu tempat.
Jovie bahkan beberapa kali membuka room chat Han di sela pekerjaan.
Membuka. Menutup. Membuka lagi. Menatap pesan-pesannya sendiri yang masih belum dibalas.
Namun tidak apa-apa. Pesannya masuk. Itu sudah cukup.
"Jov, bisa bantu cek ini bentar?"
Biasanya pertanyaan seperti itu akan langsung membuat kepalanya pusing. Namun kali ini ia mengangkat kepala dan tersenyum. "Taruh aja sini."
Temannya tampak terkejut.
Jovie hanya tertawa kecil.
Suasana yang sederhana.
Menjelang siang, saat ia sedang menyelesaikan revisi laporan, ponselnya bergetar. Jovie langsung meraih ponselnya. Jantungnya bahkan sempat berdebar.
Namun tanpa melihat nama yang muncul, ia langsung mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Mas."
Jovie langsung mendesah kecewa. "Oh."
Di seberang sana terdengar suara protes. "Kok gitu ngomongnya?"
Davian.
Adiknya.
Anak SMA yang belakangan ini suaranya makin berat setiap kali menelepon.
"Kirain siapa."
"Ya emang nunggu telfon dari siapa sih."
Jovie tak menjawab untuk beberapa saat.
"Kenapa telfon?"
Davian terdiam sebentar. "Lupa ya?"
"Lupa apaan?"
"Besok ulang tahun Ayah."
Jovie langsung terdiam. Tangannya berhenti bergerak di atas keyboard. "Oh ya?"
"Iya."
Beberapa detik berlalu tanpa perkataan lanjutan. Suara kantor di sekelilingnya tiba-tiba terasa jauh.
Davian kembali bicara. "Besok Mama mau kita ke ayah bareng-bareng."
Jovie memejamkan mata sebentar. "Hm."
"Mas ikut ya."
"Males."
"Mas, ayo dong."
"Gak bisa, Vian. Besok gue banyak kerjaan."
"Besok kan sabtu."
Jovie terdiam sebentar. "Ya tetep aja."
"Mas."
"Apaan sih."
"Setahun sekali loh."
Jovie mengusap wajahnya. Sudah hampir bisa membayangkan ekspresi Davian sekarang. Pasti sedang mengerucutkan bibir sambil kesal.
"Mama juga pengen kita bareng-bareng."
Jovie mendesah panjang. "Kalau Mama yang minta, Mama aja yang ngomong."
"Tuh kan."
"Tuh kan apaan?"
"Berarti Mas Jov bisa ikut."
"Nggak juga."
"Mas Jovie..."
"Apa lagi sih?"
"Please."
Jovie menatap langit-langit kantor beberapa saat. Lalu menyerah, seperti biasa. "Yaudah lah."
Davian langsung bersorak kecil. "Nah gitu dong."
"Tapi gue cuma bisa bentar doang."
"Iya."
"Habis itu gue pulang."
"Iya."
"Nggak pake acara keluarga aneh-aneh."
"Iya."
"Nggak makan-makan."
"Iya."
"Lo iya-iya mulu."
"Hehe."
Jovie menahan tertawa.
Davian sendiri sudah tertawa di seberang sana.
Dan entah kenapa, pembicaraan itu membuat dadanya terasa sedikit hangat.
Karena sejujurnya, Jovie tak memiliki masalah dengan Davian, melainkan masalahnya hanya datang dari ibunya.
Setelah telepon berakhir, Jovie kembali bekerja seperti biasa. Tidak terlalu memikirkan ayahnya. Tidak terlalu memikirkan besok.
Hari itu terasa terlalu baik untuk dirusak oleh pikiran berat.
Ia hanya bekerja, rapat, menyelesaikan revisi, menolak beberapa pekerjaan tambahan, membuka chat Han sesekali.
Lalu kembali bekerja lagi.
Begitu saja.
Malam harinya pun, setelah keluar dari kantor, langkahnya kembali membawanya ke sebuah restoran seafood.
Siapa tahu. Mana tahu. Takdir kan kadang aneh.
Begitulah pikirnya.
Malam itu restoran tidak terlalu ramai. Jovie duduk sendirian di dekat jendela. Memesan kepiting saus pedas dan sepiring kerang.
Ketika makanan datang, seorang ibu paruh baya yang tampaknya pemilik restoran ikut mengantarkannya.
Wanita itu tersenyum ramah. "Mas sering banget makan disini ya."
Jovie ikut tersenyum. "Iya ya?"
"Iya. Saya sering lihat Mas."
Jovie tertawa kecil. Lalu menatap piring kerang di depannya. Entah kenapa. Mendadak teringat seseorang.
"Karena masakan ibu ngingetin saya sama temen saya."
"Oh ya?"
Jovie mengangguk.
"Dia juga suka seafood?"
Jovie tertawa kecil. "Suka banget."
Wanita itu ikut tertawa. "Kalau gitu ajak temennya ke sini aja, nanti ibu kasih bonus."
Jovie mengangguk. "Iya, Bu."
Wanita itu lalu pergi kembali ke dapur.
Sementara Jovie menatap kerang di depannya beberapa saat. Lalu mengambil satu. Memakannya pelan. Dan tanpa sadar kembali membuka room chat Han.
Malam ini terasa ringan.
Besok ia akan menemui ayahnya. Lalu hari ini ia masih punya harapan tentang Han. Dan untuk sekarang... itu sudah cukup baginya.
••~🦀🌊~••
Gedung kolumbarium itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali Jovie datang.
Masih sama sunyinya. Masih sama dinginnya.
Pintu kaca otomatis terbuka pelan saat Jovie masuk dengan satu tangan di saku celana dan satu tangan menggenggam ponsel.
Ia terlambat hampir empat puluh menit.
Bukan karena ada pekerjaan atau karena macet. Ia memang sengaja berlama-lama di apartemen.
Kalau boleh jujur, ia tidak terlalu suka datang ke tempat seperti ini. Ia tidak takut. Hanya karena setiap kali datang, ia selalu pulang dengan dada yang lebih berat.
"Mas!"
Suara yang familiar membuatnya menoleh. Davian berdiri dari kursinya sambil melambai-lambaikan tangan. Masih terlihat seperti adiknya.
"Mas, kok lama banget sih?"
Jovie mendengus kecil. "Yang penting gue datang."
Davian langsung mencibir. "Mama dari tadi nungguin."
"Hmm."
"Padahal rumah Mas paling deket."
"Iya iya maaf."
"Padahal—"
"Berisik banget."
Davian langsung tertawa.
Sementara di sebelahnya, ibunya ikut berdiri. Senyumnya masih sama seperti yang Jovie ingat. Lembut dan sedikit canggung. Sedikit terlihat hati-hati seolah takut mengatakan hal yang salah.
"Jovie..."
Wanita itu membuka tangan untuk memeluknya. Refleks. Kebiasaan seorang ibu.
Namun Jovie hanya mendekat seperlunya. Membiarkan dirinya disentuh sebentar tanpa benar-benar membalas pelukan itu. Hanya menempel beberapa detik. Lalu mundur lagi.
Ibunya tidak terlihat kecewa. Mungkin karena sudah terbiasa. Atau mungkin karena sudah menyerah berharap lebih.
"Sehat?" tanyanya pelan.
Jovie mengangguk.
"Hm."
"Kerjaannya gimana?"
"Biasa aja."
Davian langsung terkekeh. "Berarti Mas Jovie aman."
Jovie memutar mata. "Aman apanya."
Namun ia sedikit melempar senyum pada adiknya itu. Mereka lalu berjalan bersama melewati lorong yang tenang. Barisan rak-rak abu tersusun rapi di kanan dan kiri.
Nama-nama.
Foto-foto.
Orang-orang yang pernah hidup, yang pernah dicintai, yang pernah dirindukan. Dan di salah satu bagian lorong itulah ayah mereka berada.
Begitu sampai, Davian langsung berdiri di depan kaca. Ibunya mulai membereskan bunga yang dibawanya. Sementara Jovie hanya berdiri di belakang. Memasukkan kedua tangan ke saku celana.
Diam. Seperti biasa. Ia memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaan.
Davian yang lebih dulu membuka suara. "Selamat ulang tahun, Yah."
Anak itu tersenyum kecil. "Aku kelas dua sekarang."
Lalu mulai bercerita macam-macam tentang kehidupan sekolahnya.
Sementara ibu mereka ikut berbicara pelan. Menyampaikan doa. Menyampaikan rindu. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak pernah sempat diucapkan saat ayah mereka masih hidup.
Jovie hanya mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sesekali menjawab jika ditanya. Namun sebagian besar waktunya ia diam. Seperti biasa.
Setelah hampir dua puluh menit berlalu, ibunya akhirnya menoleh. "Jov."
"Hm?"
"Kamu nggak mau ngobrol sama Ayah?"
Jovie menghela napas. "Males."
Davian langsung mendecak. "Mas."
"Apa."
"Datang setahun sekali doang loh."
Jovie memandang foto ayahnya. Lalu mengusap tengkuknya pelan. "Yaudah."
Ibunya tersenyum tipis. "Mama sama Davian ke belakang dulu ya."
Jovie langsung menggeleng. "Nggak usah."
"Nggak apa-apa."
"Mama pulang aja sekalian."
Davian dan ibunya saling pandang.
Jovie memang begitu. Kalau sudah keras kepala, tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
Akhirnya ibunya mengangguk. "Yaudah. Mama sama Davian duduk dulu di sana." Ia menunjuk bangku yang berada cukup jauh di belakang. "Habis itu pulang."
Jovie mengangguk.
Mereka pun menjauh. Meninggalkan Jovie sendirian di depan kaca.
Suasana kembali tenang. Hanya ada suara pendingin ruangan yang samar.
Jovie menatap foto ayahnya lama. Lalu tersenyum kecil. "Yah..."
Tangannya ia keluarkan dari saku. Kepalanya sedikit tertunduk. "Doain Mas ya."
Suaranya lirih.
"Mas lagi nyari orang." Ia terkekeh sendiri. Merasa konyol. Namun tetap melanjutkan. "Kalau Ayah bisa bantu dari sana...tolong doain biar ketemu."
Matanya sedikit melembut. "Mas pengen banget ketemu dia."
Ia melirik ke belakang sebentar. Davian dan ibunya masih duduk jauh di sana. Sedang mengobrol pelan. Tidak mungkin mendengar dirinya.
Maka Jovie kembali menatap kaca.
"Selamat ulang tahun ya, Yah." Senyumnya sedikit melebar. "Kemarin Mas ke Vancouver. Kota impian Ayah."
Ia mengembuskan napas pelan. "Jadi anggap aja itu hadiah dari Mas."
Lalu ruangan kembali sunyi.
Sampai suara Davian terdengar dari kejauhan.
"Mas Jov!"
Jovie menoleh sedikit.
"Aku sama Mama pulang duluan ya!"
"Iya."
"Nanti kalau sempat mampir rumah!"
Jovie mengangguk malas.
Sementara Davian kembali berbicara dengan ibunya sambil berjalan menjauh. "Kasian ya..."
"Iya. "
"Aku juga baru lihat hari ini loh, Ma."
"Mungkin karena baru?"
"Iya ya, tapi ganteng juga loh..." Davian menunjuk ke arah rak yang sama. "Abu yang di samping punya Ayah itu."
Jovie refleks menoleh.
Karena memang guci di samping milik ayahnya baru beberapa bulan terakhir kosong. Ia tahu itu. Dan sekarang Davian bilang sudah ada penghuninya.
Maka tanpa sadar matanya bergerak ke sana.
Ke bingkai foto kecil yang berdiri di samping guci porselen baru itu.
Dan dunia terasa runtuh seketika.
Jovie membeku. Napasnya terputus di tenggorokan. Ia tidak dapat bergerak. Tidak dapat berpikir.
Karena di sana, di balik kaca, ada seseorang yang sangat ia kenal.
Seseorang yang selama berminggu-minggu ia cari.
Seseorang yang semalam masih ia kirimi pesan.
Seseorang yang beberapa hari lalu masih ia harapkan akan membalas chatnya.
Tubuh kurus, senyum lebar, dan mata yang selalu terlihat sayu.
Foto itu bahkan terasa tidak asing. Terlalu tidak asing.
Karena foto itu...
Foto itu... diambil oleh dirinya sendiri. Di Vancouver. Saat senja. Saat Han meminta difoto di pantai.
Saat Han tersenyum dan berkata,"Ntar malem gue pinjem memory card lo ya."
Jovie mengenali foto itu secepat ia mengenali wajahnya sendiri. Karena tangannya sendiri yang menekan tombol shutter. Karena matanya sendiri yang melihat Han melalui lensa kamera saat itu.
Karena foto itu seharusnya masih ada di memory card miliknya.
Foto itu tidak seharusnya berada di sini.
Tidak.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Pandangannya turun perlahan ke tulisan kecil di bawah bingkai. Tulisan yang membuat seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.
HAN RANU
Jovie langsung ambruk.
Kedua lututnya menghantam lantai. Suara benturannya menggema di ruangan yang sunyi.
Namun ia bahkan tidak merasakan sakitnya. Tidak merasakan apa-apa. Karena seluruh dunia mendadak runtuh tepat di atas kepalanya.
Tidak.
Bukan.
Tidak mungkin.
Dadanya mendadak sesak.
m Begitu sesak sampai ia merasa tidak bisa menarik napas.
Jovie berkedip sekali. Dua kali. Tiga kali. Berharap tulisan itu berubah. Berharap wajah itu berubah. Berharap otaknya sedang mempermainkannya.
Karena tidak mungkin.
Han baru saja pulang dari Vancouver.
Han baru saja pergi beberapa minggu lalu.
Han baru saja aktif lagi nomornya.
Han belum membalas pesannya.
Han belum mengembalikan memory card-nya.
Han bilang mereka akan bertemu lagi.
Han bilang—
Tidak.
Tidak.
Namun semakin lama menatapnya. Semakin jelas semuanya.
Itu Han. Itu benar-benar Han Ranu-nya.
Han yang suka makan mie instan buatannya. Han yang takut berenang. Han yang selalu menggodanya. Han yang mengajarinya menikmati hidup lagi. Han yang berjanji mereka akan bertemu lagi. Han yang—
Napas Jovie mendadak tersengal.
Dadanya terasa seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat.
Sakit.
Sakit sekali.
Sampai ia tidak bisa menangis. Sampai air matanya bahkan tidak keluar. Karena rasa sakit itu terlalu besar untuk diubah menjadi tangisan.
"Han..."
Suaranya pecah. Tubuhnya mulai gemetar. Semakin lama semakin hebat. Tangannya mencengkeram lantai. Namun tetap tidak cukup.
Tetap tidak bisa menahan sesaknya.
"Han..." Ia menunduk.
Lalu tanpa sadar memukul dadanya sendiri. Berkali-kali. Seolah ingin memaksa paru-parunya bekerja lagi. Seolah ingin mengeluarkan sesuatu yang menyangkut di dalam sana.
Namun sesaknya tidak pergi. Justru semakin parah.
"Han..." Jovie membungkuk.
Rasanya kehilangan kemampuan bernapas. Karena kepalanya dipenuhi terlalu banyak hal sekaligus.
Nomor yang tiba-tiba aktif. Pesan yang berubah menjadi dua centang. Memory card yang dibawa Han. Hari terakhir mereka di Vancouver. Kalimat-kalimat yang dulu terdengar biasa, yang sekarang mendadak terasa mengerikan.
"Dua minggu lagi harusnya gue pergi sih."
"Gatau deh ada waktu nggak."
"Gue cuma nemenin lo dua minggu."
"Gue beruntung banget ketemu lo."
"Thanks, Jov."
"Lo udah bikin liburan gue seru."
Jovie menggigit bibirnya keras. Sampai terasa darah di mulutnya. Namun tetap tidak bisa mengurangi rasa sakit itu. Karena tiba-tiba semuanya masuk akal.
Kenapa Han tidak pernah membicarakan masa depannya.
Kenapa Han tidak pernah benar-benar menjawab pertanyaan tentang hidupnya.
Kenapa Han selalu terlihat lelah saat berjalan jauh.
Kenapa tangannya sering dingin.
Kenapa ia tidak pernah berjanji apa-apa.
Kenapa ia berkata, "Gatau ada waktu nggak."
Ternyata bukan karena sibuk. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena keluarga. Tapi karena memang... tidak ada waktu.
Han sudah tahu. Sejak awal.
Dan Jovie tidak tahu apa-apa.
Ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan benar. Tidak sempat bertanya atau memahami. Tidak sempat mengatakan bahwa dua minggu itu telah menyelamatkan hidupnya.
"Han..." Kini suaranya benar-benar pecah. Namun air mata masih tidak keluar.
Ia terlalu syok. Terlalu hancur. Terlalu terlambat memahami semuanya.
Dan tepat ketika tubuhnya masih gemetar di lantai... ketika pandangannya masih terpaku pada foto itu... ketika seluruh dunianya baru saja runtuh...
Terdengar suara langkah mendekat dari belakang.
Pelan.
Ragu-ragu.
Lalu berhenti tidak jauh darinya.
Dan sebuah suara asing bertanya, "Maaf..."
Jovie tidak menoleh. Tidak mampu.
Namun suara itu kembali terdengar.
"Kamu... Jovie?"
Entah kenapa. Jovie membeku. Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena suara itu mirip. Terlalu mirip. Tidak sama persis, namun cukup mirip untuk membuat dadanya kembali sesak.
Untuk sepersekian detik yang menyakitkan, pikirannya bahkan berani berharap.
"Han?" Suaranya nyaris tidak terdengar.
Parau.
Patah.
Lalu perlahan ia menoleh. Dan harapan itu langsung runtuh.
Bukan Han.
Tentu saja bukan.
Yang berdiri di sana adalah seorang lelaki lain. Usianya mungkin tidak jauh berbeda darinya.
Tubuhnya tinggi, bentuk matanya... anehnya sedikit familiar. Bahkan senyumnya sedikit mengingatkan pada seseorang.
Lelaki itu tampak sama terkejutnya. Matanya memerah. Seolah sudah lama mencari seseorang. Dan baru saja menemukannya.
"Jadi..." Lelaki itu tersenyum kecil. "Jadi ternyata kamu ya."
Jovie tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Otaknya masih tertinggal beberapa detik yang lalu. Masih tertinggal di foto Han. Masih tertinggal pada nama yang tertulis di bawah bingkai itu. Bahkan, masih tertinggal di Vancouver.
"Siapa..." Suaranya bergetar.
Lelaki itu menarik napas panjang. Lalu mengulurkan tangan pelan. "Aku Giri."
Jovie menatapnya kosong.
"Aku adiknya Han Ranu."
Dunia kembali terasa berguncang.
Adiknya?
Han punya adik?
Jovie bahkan tidak pernah tahu. Tidak pernah mendengar nama itu. Tidak pernah mendengar Han bercerita tentang saudara atau siapa pun. Seolah selama dua minggu itu Han hanya fokus mendengarkan hidup Jovie. Dan hampir tidak pernah membicarakan hidupnya sendiri.
"Gue..." Jovie menggeleng cepat. "Sebentar."
Napasnya mulai berantakan.
"Sebentar..."
Giri langsung menahan diri untuk tidak mendekat. Namun air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh juga.
Cepat-cepat ia usap. Tidak ingin membuat situasi semakin berat.
Tapi gagal.
Karena begitu melihat Jovie, begitu melihat wajah orang yang selama berminggu-minggu diceritakan Han, dan begitu melihat tas kamera yang ada di bahu lelaki itu, Giri langsung tahu.
Ini benar orangnya.
Ini Jovie.
Orang yang membuat kakaknya pulang dari Vancouver dengan senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Jov..." Suara Giri ikut bergetar. "Makasih banyak."
Jovie kembali menggeleng. Lebih keras kali ini.
"Jangan." Dadanya kembali sesak. "Jangan ngomong dulu."
Ia menekan kedua telapak tangannya ke wajah. Berusaha mengatur napas. Namun semakin dicoba, semakin sulit. Karena semua ini terlalu mendadak.
Terlalu besar.
Terlalu menyakitkan.
"Giri..." Suaranya pecah. "Sebentar."
Ia menunduk. Mencoba mengatur napas. Namun tetap sulit.
"Giri, gue nggak..."
Ia bahkan tidak tahu kalimat apa yang ingin ia ucapkan. Tidak tahu harus bertanya apa. Tidak tahu harus marah atau menangis. Tidak tahu harus percaya atau menyangkal.
Sementara di depannya, Giri kembali menghapus air mata dengan punggung tangan. Lalu tersenyum kecil. Senyum yang sangat mirip Han Ranu sampai membuat dada Jovie kembali nyeri.
"Boleh..." Giri berhenti sejenak. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. "...boleh denger cerita dari aku dulu nggak, Jov?"
Jovie menatapnya lama. Sangat lama. Lalu perlahan mengangguk.
Karena sekarang, ia juga ingin tahu. Sangat ingin tahu. Tentang Han Ranu. Tentang semuanya.
Giri mengembuskan napas pelan. Lalu mendekat. Tangannya meraih lengan Jovie dengan hati-hati. Membantunya berdiri.
Karena Jovie masih gemetar dan terlalu lemas untuk berdiri sendiri.
Mereka berjalan perlahan menuju bangku yang tadi ditempati Davian dan ibunya.
Duduk berdampingan. Menghadap lorong yang sunyi.
Sementara beberapa meter dari mereka... foto Han Ranu masih berdiri di sana. Tersenyum hangat. Seolah sedang menunggu seseorang menceritakan bagian cerita yang selama ini tidak pernah ia ucapkan.
••~⏳~••
Dua tahun lalu,
Saat itu Han Ranu berusia tiga puluh tahun.
Penyakitnya belum separah sekarang. Masih cukup sehat untuk berkata semuanya baik-baik saja. Masih cukup kuat untuk tertawa saat orang bertanya kabarnya.
Hari itu ia datang ke kolumbarium bersama seorang petugas. Mereka berjalan pelan menyusuri lorong.
"Yang bagian sini masih kosong, Pak." Petugas itu menunjuk beberapa rak.
Han mengangguk. Mendengarkan setengah hati. Karena sejujurnya, memilih tempat untuk abu diri sendiri adalah pengalaman yang sangat aneh. Sangat absurd.
Namun Han tetap melakukannya. Karena ia tidak ingin menyulitkan siapa pun nanti.
Lalu langkah mereka berhenti. Bukan karena petugas tersebut, melainkan karena seseorang. Seorang lelaki muda berdiri beberapa meter di depan mereka.
Membelakangi lorong. Menghadap sebuah guci.
Sedang menangis.
Han refleks mengalihkan pandangan karena merasa tidak enak. Namun saat petugas pergi sebentar mengambil data, Han masih berada di sana.
Dan suara lelaki itu terdengar pelan namun cukup jelas.
"Ayah..."
Han tidak sengaja mendengar.
"Makasih ya."
Suara itu bergetar.
Han menunduk. Merasa tidak sopan karena menguping. Namun kakinya juga tidak bergerak.
"Ayah jangan bilang siapa-siapa ya kalau Mas sempet ke sini." Ada tawa kecil yang terdengar lebih sedih daripada tangisan. "Cerita tadi juga rahasiain aja."
Lelaki itu mengusap matanya cepat. Lalu tertawa sendiri.
"Malu kalau ketahuan nangis."
Han akhirnya menoleh. Hanya sebentar. Hanya untuk melihat wajah lelaki itu.
Matanya sembab, kemejanya kusut, dan rambutnya berantakan. Terlalu muda untuk terlihat selelah itu.
Lalu lelaki itu pergi begitu saja.
Dan Han tidak pernah berpikir akan melihatnya lagi.
Namun beberapa minggu kemudian.
Han kembali.
Dan lelaki itu ada lagi.
Di tempat yang sama.
Di depan guci yang sama.
Menangis lagi.
"Ayah..." Suara itu terdengar lirih. "Ayah punya temen nggak?"
Han yang sedang berjalan langsung berhenti.
"Bosen nggak?" Lelaki itu tertawa kecil. "Kalau bosen bilang ya."
Han lalu memandang rak-rak kosong di kanan kiri guci itu.
Memang kosong.
Lalu suara lelaki itu kembali terdengar. "Kiri kanan ayah kosong semua." Ia mengusap hidungnya. "Ayah nggak kesepian kan?"
Entah kenapa. Han refleks menoleh ke petak kosong di samping guci ayah lelaki itu.
Sangat lama.
Lalu akhirnya bertanya pada petugas. "Yang sebelah situ masih pada kosong?"
Petugas mengangguk. "Masih."
Han tersenyum kecil. "Ohhh."
Petugas bingung. Namun Han tidak menjelaskan. Karena ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Lalu waktu berjalan.
Bulan demi bulan.
Dan Han beberapa kali melihat lelaki itu lagi. Kadang di kolumbarium. Kadang di kota. Kadang di tempat yang bahkan tidak masuk akal.
Seolah Jakarta terlalu kecil. Atau mungkin semesta memang sedang mempermainkannya.
Pernah suatu sore.
Han keluar dari sebuah kafe sambil membawa kopi panas.
Lalu seseorang menabraknya di trotoar. Kopi tumpah ke mana-mana.
"Sorry! Lagi buru-buru!"
Han membelalak. Lelaki itu lagi. Wajahnya tampak panik dan berantakan.
Ia kabur begitu saja. Padahal kemejanya terkena kopi Han, padahal seharusnya ia menjerit dulu karena kopi itu panas. Tapi ia malah langsung berlari. Meninggalkan Han yang berdiri mematung dengan kopi menetes dari lengan bajunya.
Bahkan tidak sempat menjawab. Tidak sempat marah. Tidak sempat apa-apa.
Han hanya berdiri beberapa detik. Lalu tertawa sendiri di trotoar.
"Lucu juga."
Dan tanpa pernah Han sadari.
Setiap kali hidup terasa terlalu pendek.
Setiap kali ia takut dan memikirkan kematian, ia selalu teringat lelaki yang terus datang ke kolumbarium hanya untuk memastikan ayahnya tidak kesepian.
Lelaki yang terlalu lelah. Terlalu kesepian. Terlalu keras kepala. Tapi terlalu hidup.
Sampai akhirnya...
Pada suatu hari.
Han berdiri lagi di depan tempat yang sudah ia pilih untuk dirinya sendiri.
Tepat di samping ayah lelaki itu.
Dan suara yang sudah sangat ia kenal kembali terdengar.
"Ayah."
Han menoleh. Jovie ada di sana. Berdiri di sampingnya tanpa peduli ada Han yang juga tengah berdiri disana.
Tubuh itu nampak lebih kurus. Lebih hancur.
"Aku ke Vancouver tanggal lima. Mau ke pulau, lihat laut—"
Untuk pertama kalinya... Han benar-benar memperhatikan. Karena ada sesuatu dalam suara itu. Sesuatu yang membuat dadanya ikut sesak.
"Aku udah nggak kuat."
Dan mungkin...
Tepat pada hari itulah.
Takdir yang selama ini hanya berupa tatapan-tatapan singkat dari kejauhan... mulai diciptakan oleh Han Ranu sendiri.
_______
Han Ranu sudah berada di Vancouver tujuh hari sebelum Jovie datang.
Sengaja.
Sangat sengaja.
Karena begitu mendengar nama kota itu keluar dari mulut Jovie di kolumbarium, Han langsung memutuskan.
Kalau memang waktunya tinggal sedikit. Kalau memang tubuhnya tidak akan membaik. Maka setidaknya sekali. Ia ingin melakukan sesuatu yang egois. Sesuatu yang hanya untuk dirinya sendiri.
Maka ia datang lebih dulu.
Berjalan menyusuri pantai. Masuk ke restoran-restoran kecil. Mencatat kedai seafood yang enak. Mencoba jalur-jalur wisata. Mencari tempat terbagus untuk melihat matahari terbit dan tenggelam.
Karena kalau semua berjalan sesuai rencana... Nanti ia akan punya teman menjalani semua itu.
Dan ternyata semuanya memang berjalan sesuai rencana.
Bahkan lebih mudah dari yang ia kira.
Han mengenal Jovie jauh lebih baik daripada yang Jovie sadari. Bukan karena mereka dekat. Justru karena Han terlalu sering mendengarkan lelaki itu bicara kepada ayahnya.
Tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan Jovie sendiri mungkin sudah lupa.
Termasuk soal penginapan.
Han tahu Jovie akan memilih tempat termurah yang masih nyaman. Kalau bisa hemat lima dolar, maka lima dolar itu akan disimpan.
Maka Han menyewa seluruh deretan pondok terlebih dahulu.
Semua.
Kecuali satu.
Pondok tepat di sebelah miliknya. Pondok yang akhirnya ditempati Jovie.
Ketika melihat koper Jovie diturunkan dari taksi sore itu, Han hampir tertawa sendiri. Karena rencananya berhasil.
Awalnya, Han berniat santai.
Pelan-pelan saja.
Namun begitu melihat wajah Jovie dari dekat, ia malah gugup.
Bodohnya lagi, Jovie bahkan tidak mengenalinya.
Padahal Han merasa sudah mengenal lelaki itu selama hampir dua tahun..
Akhirnya yang keluar dari mulutnya justru, "Orang Indo juga, Mas?"
Dan saat Jovie langsung melengos pergi... Han tertawa sendirian di teras.
Persis seperti yang ia bayangkan.
Galak.
Capek.
Dan jelas tidak ingin diganggu.
Namun Han tidak khawatir. Karena ia tahu sesuatu yang bahkan Jovie tidak sadari.
Jovie bukan orang yang ingin sendirian. Jovie hanya kelelahan. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Orang yang ingin sendirian akan menjauh. Sedangkan Jovie? Jovie hanya butuh seseorang yang cukup sabar untuk tetap tinggal.
Maka Han tinggal.
Sedikit demi sedikit.
Pelan-pelan.
Muncul di restoran yang sama. Muncul di pantai yang sama. Muncul di tempat yang sama.
Sampai akhirnya Jovie menyerah dan mulai bicara.
Oh! Beer pagi itu sebenarnya ide yang buruk. Sangat buruk. Dokternya mungkin akan memarahinya. Giri juga pasti akan marah jika tau.
Namun ketika Jovie mengernyit sambil berkata, "Beer? This morning?"
Han hanya tertawa. Karena akhirnya, ia bisa merasa hidup. Dan kalau hidupnya memang tinggal sedikit... segelas beer rasanya bukan masalah terbesar.
Saat naik kapal pun Han berbohong.
Tidak sepenuhnya. Tapi tetap berbohong. Karena sebenarnya Han bisa berenang. Sangat bisa. Dulu bahkan lebih jago daripada Giri.
Namun tubuhnya sekarang berbeda. Jantungnya cepat lelah. Air dingin membuat dadanya nyeri. Tangannya mudah mati rasa. Maka lebih mudah mengatakan, "Gue nggak bisa berenang."
Daripada menjelaskan semuanya.
Dan saat Jovie menariknya ke laut sambil berkata, "Kan ada gue. Nanti gue jagain."
Han hampir tidak bisa menjawab. Karena tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya selama bertahun-tahun.
Dan soal mie instan yang memenuhi koper Han juga bukan kebetulan. Sama sekali bukan.
Han masih ingat. Sore hari saat hujan di kolumbarium. Saat Jovie duduk di depan ayahnya dan mengeluh tentang adiknya. Ia tiba-tiba berkata,
"Kangen juga sih masakin mie buat Davian."
Dan Han mengingat kalimat itu entah kenapa. Maka ia membawa satu tas penuh mie instan ke Vancouver. Hanya karena berharap suatu hari nanti Jovie akan memasaknya.
Dan benar saja.
Malam itu terjadi persis seperti yang ia bayangkan. Bahkan lebih baik.
Karena ternyata Jovie tertawa lebih keras daripada yang pernah Han bayangkan.
Pagi ketika Jovie hampir memergokinya minum obat adalah salah satu momen paling menegangkan selama perjalanan itu.
Han masih ingat jelas. Tangannya sampai gemetar. Pil-pil itu baru saja masuk ke mulutnya ketika Jovie bergerak di atas kasur dan membuka mata.
Dan Han benar-benar panik. Untungnya Jovie masih terlalu mengantuk. Terlalu malas berpikir. Sehingga hanya bertanya,"Han? Ngapain?"
Dan Han hanya mengangkat gelas lalu menjawab, "Minum."
Sesederhana itu.
Namun setelah Jovie kembali bersembunyi di balik selimut, Han harus menunggu beberapa menit sampai jantungnya tenang lagi.
Dan dari semua kebohongan yang ia lakukan...
Yang terbesar bukan soal berenang. Bukan soal beer, mie. Bukan soal pondok ataupun Vancouver itu sendiri.
Melainkan satu hal yang terus ia sembunyikan selama dua minggu itu.
Bahwa setiap kali Jovie tertawa. Setiap kali Jovie memanggil namanya. Setiap kali Jovie berkata,
"Besok kita ke sini yuk."
Atau,
"Tahun depan kesini lagi yuk."
Han selalu menjawab dengan senyum. Seolah semuanya mungkin. Seolah ia juga punya masa depan. Padahal kenyataannya...
Setiap malam sebelum tidur, Han menghitung.
Tidak. Bukan menghitung hari liburan yang tersisa. Ia menghitung berapa banyak waktu yang masih ia miliki untuk berada di samping Jovie.
Dan semakin dekat hari kepulangannya, semakin pula Han menyadari sesuatu. Bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Ia datang ke Vancouver untuk menikmati akhir hidupnya. Namun tanpa sengaja... ia jatuh terlalu dalam pada seseorang yang tidak akan bisa ia miliki.
Seseorang yang nantinya akan ia tinggalkan sendirian.
••~⏳~••
Giri mengusap wajahnya cepat sebelum akhirnya menarik napas panjang.
Seolah berusaha membereskan emosinya sendiri.
Lalu ia merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet kulit berwarna gelap yang sudah tampak sedikit usang di sudut-sudutnya.
"Ada satu lagi."
Jovie masih duduk diam. Tatapannya kosong. Kepalanya masih terlalu penuh. Terlalu sesak. Terlalu banyak hal yang baru saja ia ketahui dalam waktu berdekatan.
Giri membuka dompet itu perlahan. Lalu mengeluarkan sebuah benda kecil. cukup membuat jantung Jovie langsung berhenti berdetak sesaat.
"Soal memory card..." suara Giri terdengar pelan. "Han sengaja ambil dari kamu."
Ia tertawa kecil. Tertawa yang terdengar lebih mirip usaha untuk tidak menangis.
"Nih." Giri mengulurkan kartu memori itu. "Aku balikin."
Jovie menatap benda kecil itu selama beberapa detik. Benar-benar hanya menatap. Karena mendadak semua kenangan di Vancouver muncul bersamaan.
Dan ternyata...
Itu benar-benar kenangan terakhir.
Tangan Jovie mulai bergetar saat menerima kartu kecil itu. Sampai ia harus menggenggamnya dengan kedua tangan. Takut benda itu jatuh. Takut benda itu hilang lagi. Takut semua ini ternyata mimpi.
"Oh iya, Jov." Giri tersenyum kecil. "Semalem..."
Ia menunduk sebentar. "Sebenernya aku yang aktifin nomor Han."
Jovie langsung mengangkat kepala. "Apa?"
"Itu bukan nomor palsu kok." Giri terkekeh pelan. "Dan iya... aku baca semua chat kamu."
Jovie memejamkan mata. Kalau biasanya ia akan malu setengah mati mendengar kalimat itu...sekarang ia bahkan tidak punya tenaga untuk malu.
Karena yang lebih besar dari rasa malu adalah rasa kehilangan.
"Makanya aku tau kamu bakal ke sini hari ini." Giri menunjuk ponsel Jovie yang masih ada di kursi. "Soalnya kamu ngasih kabar ke nomor itu."
Jovie menunduk. Mengingat pesan yang ia kirim tadi pagi. Pesan yang bahkan terasa memalukan sekarang.
Pesan yang ia kirim sambil setengah bercanda. Sambil setengah berharap. Sambil berpura-pura Han masih bisa membacanya.
Ternyata memang ada yang membaca. Hanya saja bukan Han.
Giri mengusap pelan bahu Jovie. Gerakan yang sangat mirip dengan kakaknya. Membuat dada Jovie kembali terasa nyeri.
"Setelah pulang dari Vancouver..." Giri tersenyum tipis. "Han banyak senyum."
Jovie menoleh perlahan.
Giri tertawa kecil sambil menggeleng. "Sumpah. Kakakku tuh biasanya nyebelin banget."
Jovie hampir ikut tertawa mendengarnya. Hampir.
"Tapi habis pulang dari sana dia beda." Giri memandang ke arah foto Han yang ada di balik kaca. "Dia banyak cerita. Semuanya tentang Vancouver. Tentang kamu."
Jovie menatapnya lekat. "Dia cerita semua?"
Giri mengangguk. "Semua. Dia cerita kalau akhirnya berhasil bikin kamu mau ngobrol. Dia cerita kalau ternyata kamu lucu. Dia cerita kalau kamu ternyata nggak galak-galak amat dan gampang dijinakkin."
Jovie langsung menunduk sambil tertawa kecil di sela sesaknya. "Kurang ajar."
"Iya kan." Giri ikut tertawa. "Menurut dia juga gitu."
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Lalu Jovie bertanya pelan. "Terus... kenapa dari awal nomornya nggak aktif, Gi?"
Pertanyaan yang selama berminggu-minggu mengganggunya. Yang membuatnya kesal, frustrasi, dan diam-diam terluka.
Giri menghembuskan napas panjang. Lama. Sangat lama.
"Sengaja."
Jovie mengernyit. "Sengaja?"
Giri mengangguk. "Han yang minta."
Jovie terdiam.
"Dia bilang..." Giri tertawa pelan. "...kalau kamu pasti bakal sibuk ngechat dia terus."
Jovie langsung membantah refleks. "Enggak juga."
Giri mengangkat alis. "Yakin?"
Jovie terdiam. Lalu mengalihkan pandangan. Membuat Giri terkekeh.
"Nah kan." Ia kembali menepuk bahu Jovie. "Dia cuma pengen kamu nikmatin sisa liburan kamu. Dia nggak mau kamu sibuk pegang HP. Dia nggak mau kamu mikirin dia terus."
Jovie menggigit bibirnya pelan. Karena...
Ya.
Masuk akal.
Sangat masuk akal.
Han memang seperti itu.
Selalu menyuruhnya menikmati hidup.
Menikmati hari ini. Bukan memikirkan besok.
"Dia cuma minta dikirimin foto kan?" Giri berkata pelan. "Dia nggak pernah minta dihubungin buat ngobrol."
Jovie menunduk. Lalu mengangguk kecil. Benar. Han memang tidak pernah meminta apa-apa. Tidak pernah. Dan entah kenapa kenyataan itu justru membuat dadanya semakin sakit.
Giri kembali menatap foto kakaknya. Lalu berkata pelan. "Han berpulang seminggu setelah pulang dari Vancouver."
Jovie membeku. Meski sudah menduga. Meski sudah melihat guci itu. Tetap saja mendengarnya langsung terasa berbeda. Jauh lebih nyata. Jauh lebih kejam.
"Tiga hari pertama..." Giri tersenyum tipis. "Dia cerita semua ini ke aku. Semua yang aku ceritain barusan."
Suara Giri mulai bergetar. "Dia bahagia banget waktu itu."
Jovie menutup matanya. Tidak sanggup membayangkan. Tidak sanggup membayangkan Han yang baru pulang. Han yang mungkin masih menyimpan pasir pantai di sepatunya. Han yang mungkin masih menyimpan foto-foto mereka. Han yang mungkin masih tertawa mengingat dirinya.
"Tiga hari setelahnya..." Giri berhenti. Lama. Sangat lama. "...dia drop."
Dan itu saja. Tidak ada penjelasan lain.
Karena tidak perlu.
Jovie sudah cukup mengerti. Terlalu mengerti.
Giri mengusap matanya cepat. Lalu menarik napas panjang. "Jov."
Jovie mengangkat kepala.
"Kalau butuh apa-apa, tetep chat nomor kemarin aja."
Jovie terdiam. "Nomor Han?"
Giri mengangguk. "Aku yang pegang sekarang. Dan aku pasti bales."
Dan Jovie hanya bisa tersenyum. "Thanks, Gi."
Giri mengangguk. Kemudian berdiri perlahan. "Aku mau balik. Mau aku anter sekalian?"
Jovie menggeleng cepat. Karena ia tahu. Kalau sekarang ada yang mencoba mengantarnya pulang, mungkin ia akan benar-benar menangis.
"Nggak usah." Suaranya serak. "Aku mau sendiri dulu."
Giri mengangguk paham. Tidak memaksa. Tidak membujuk. Sama seperti Han.
"Kalau gitu aku duluan ya, Jov."
Jovie mengangguk.
"Kabarin aja kalau butuh teman." Giri tersenyum. "Aku bakal luangin waktu."
Lalu ia berbalik. Berjalan perlahan menyusuri lorong kolumbarium.
Semakin jauh.
Semakin menjauh.
Sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
Meninggalkan Jovie sendirian. Lagi.
Namun kali ini... di telapak tangannya masih ada sebuah memory card kecil.
Dan Jovie merasa bahwa Han benar-benar telah pulang kepadanya.
••~🦀🌊~••
Sudah berjam-jam Jovie duduk diam di kursi kerjanya.
Lampu apartemen hanya menyala sebagian. Kota Jakarta masih hidup di balik jendela kaca, tetapi suara kendaraan di bawah sana terdengar jauh sekali. Seolah berasal dari dunia lain.
Kakinya ditekuk ke atas kursi. Kedua lengannya memeluk lutut. Matanya kosong. Pikirannya bahkan lebih kosong lagi.
Laptop di depannya masih menyala. Memory card itu sudah terpasang sejak satu jam lalu. Namun selama satu jam penuh, ia hanya menatap wallpaper desktop tanpa melakukan apa-apa. Tidak membuka folder atau mengklik file.
Masih terlalu syok.
Masih terlalu sakit.
Masih terlalu sulit menerima kenyataan bahwa Han Ranu benar-benar tidak akan pernah membalas pesannya lagi.
Saat pulang dari kolumbarium tadi siang, bahkan ia tidak sanggup menyetir. Mobilnya masih tertinggal di sana. Ia menyerahkan kuncinya pada petugas dengan tangan gemetar lalu memesan taksi.
Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya menatap jendela. Tidak menangis. Tidak bicara. Saat lift membawanya naik ke lantai apartemen, tubuhnya bahkan tidak kuat berdiri. Ia berjongkok di pojok lift. Memeluk lutut dan menunduk. Seperti seseorang yang baru kehilangan seluruh arah hidupnya.
Padahal umurnya baru dua puluh sembilan. Namun sore itu, ia merasa sangat tua. Sangat lelah dan rapuh.
Dan sekarang.
Jam sepuluh malam.
Ia akhirnya menggerakkan kursor.
Folder terbuka. Dan Jovie langsung membekap mulutnya dengan satu tangan.
Takut.
Karena ia tahu. Begitu melihat wajah Han lagi, mungkin ia tidak akan kuat.
Foto pertama muncul. Pemandangan pesisir pantai yang ia bidik sendiri di hari pertama dan kedua.
Jovie menggulir perlahan. Semakin ke bawah. Semakin banyak kenangan bermunculan.
Lalu akhirnya muncul foto Han, Han yang baru keluar dari pondok, masih memakai kaus kusut dengan rambut berantakan. Wajahnya kaget karena tiba-tiba difoto.
Jovie langsung menunduk. Tangannya mulai gemetar lagi.
Ia kembali menggulir.
Ada foto Han sedang memancing.
Han sedang tertawa.
Han sedang memegang kepiting.
Han sedang menunjukkan mie instan seperti bocah.
Han.
Han.
Han.
Selalu Han.
Mata Jovie mulai panas. Foto-foto itu perlahan menjadi buram. Air mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Berusaha melihat dengan jelas. Berusaha tetap kuat.
Namun saat terus menggulir ke bawah, ia mendadak berhenti. Keningnya mengernyit.
Ini bukan fotonya. Bukan foto yang ia ambil.
Jovie membuka file itu.
Dan napasnya langsung tertahan.
Foto dirinya di kolumbarium. Jauh sebelum Vancouver. Sedang berdiri di depan abu ayahnya.
Foto kedua, ada dirinya sedang berjalan keluar dari gedung.
Foto ketiga, dirinya yang duduk sendirian di bangku luar.
Jovie membeku. Tangannya langsung gemetar hebat.
Lalu ada video. Ia segera menekan tombol putar.
Layar menampilkan trotoar kota Jakarta. Kamera bergoyang sedikit. Suara Han terdengar begitu hidup.
"Tu bocah nabrak gue tiba-tiba." Terdengar tawa kecil. "Mana kopi gue panas."
Kamera memperlihatkan noda kopi di kemejanya.
"Pasti dia kepanasan juga deh gara-gara ketumpahan."
Han tertawa.
Video berakhir.
Jovie langsung membekap mulutnya lebih erat. Dadanya mulai sesak.
Ia membuka video berikutnya.
Han sedang duduk sendirian di sebuah pondok. Belum ada Jovie. Belum ada pertemuan pertama.
Han menatap kamera.
"Seminggu ke depan..." Ia tersenyum sendiri. "...tu bocah pasti dateng."
Lalu mendadak merapikan rambut. Mengubah posisi duduk.
Tersenyum lagi.
Tidak puas.
Tersenyum lagi.
Masih tidak puas.
Lalu tertawa sendiri. "Gue lagi latihan senyum."
Video berakhir.
Jovie tertawa. Benar-benar tertawa. Padahal air matanya terus mengalir.
"Anjing..." Suaranya pecah. "Anjing lo, Han..."
Ia mengusap matanya lagi.
Membuka video berikutnya.
Video amatir. Hanya memperlihatkan tangan mereka. Terlihat sedang berdiri di sebuah rak toko. Lalu muncul suara Jovie terdengar kesal.
"Bener kan, Han? Gue bener kan?"
"Iya." Suara Han menjawab santai. "Lo bener kok."
"Lah terus kenapa dia yang ambil?"
"Sabar ya."
"Ya nggak bisa!"
Han langsung tertawa.
Video selesai.
Lalu video lain.
Hari memancing. Hari mereka membeli ikan karena gagal total. Hari mereka berjalan pulang sambil membawa kresek hitam.
"Han Ranu yang jelek ini ngajakin gue mancing seharian cuma buat mancing emosi!"
Terdengar tawa Han yang keras sekali.
Tawa yang kini tidak akan pernah terdengar lagi.
Lalu ada video lain.
Jovie sedang tidur. Pulas sekali. Meringkuk di sofa pondok. Bahkan sedikit mendengkur.
Suara cekikikan Han memenuhi ruangan.
"Buset..." Han berbisik pelan. "Cakep cakep gini ternyata ngorok."
Video berakhir.
Dan Jovie akhirnya mulai menangis. Bukan lagi air mata yang mengalir diam. Bukan lagi mata yang berkaca-kaca. Melainkan tangis yang mulai pecah perlahan.
Karena semua ini nyata.
Han benar-benar menyimpan semuanya.
Semua.
Setiap hari, setiap momen, setiap detik. Seolah takut melupakannya.
Lalu ia membuka video terakhir.
Dan dunia Jovie langsung berhenti.
Han ada di layar.
Namun bukan di Vancouver. Melainkan di rumah sakit. Pakaian pasien berwarna biru muda membungkus tubuhnya. Wajahnya lebih kurus.
Jauh lebih kurus.
Namun senyumnya masih sama. Selalu sama.
"Jov..." Suara itu langsung menghancurkan sesuatu di dalam diri Jovie. "Lo pasti udah diceritain Giri ya?"
Han tertawa kecil.
"Sorry ya gue nggak bisa cerita langsung."
Jovie menunduk. Tangannya sudah tidak mampu lagi menahan gemetar.
"Gue nggak mau liburan kita kacau gara-gara cerita gue."
Han meneguk air putih sebentar. Lalu tersenyum.
"Gue juga nggak mau lo nginget gue karena penyakit gue doang." Matanya terlihat sayu.
"Lagian gue pengennya lo nginget gue sebagai Han Ranu." Ia tertawa. "Orang random yang lo temuin delapan ribu mil dari rumah."
Jovie mulai menangis lebih keras. Karena bahkan sekarang. Bahkan sampai akhir, Han masih memikirkan perasaannya.
"Padahal semuanya udah gue atur." Han menggaruk tengkuknya malu-malu. "Sorry kalau menurut lo gue serem."
Han tertawa lagi. Lalu menunduk. Dan didalam video itu, Han mendadak terlihat gugup.
"Soalnya..." Ia berhenti. Tersenyum kecil. "...ya gue naksir lo."
Jovie langsung menutup matanya.
Tangisnya pecah.
Benar-benar pecah.
"Anjing..." Suara seraknya keluar. "Anjing..."
Namun video masih berjalan.
"Lo tuh cakep, Jov." Han tersenyum. "Jangan sedih mulu. Cari temen yang banyak. Jangan terlalu ngurusin mama lo yang nyebelin itu."
Jovie tanpa sadar mengangguk. Seolah Han benar-benar ada di depannya. Seolah Han masih hidup dan sedang duduk didepan matanya.
Han kembali minum. Lalu tertawa kecil.
"Oh iya. Giri mirip gue kan?"
Jovie menangis sambil tertawa.
Han masih sempat bercanda. Masih sempat memikirkan hal-hal bodoh.
"Cakep, tinggi, suaranya juga mirip gue banget. Oh iya, umurnya sama kayak lo."
Han mengangkat alis.
"Siapa tau kalian jodoh."
Jovie langsung menutupi wajahnya. Tangis dan tawa bercampur menjadi satu. Karena itu benar-benar kalimat yang akan diucapkan Han. Ia bahkan sudah bisa menebak. Persis sekali.
Lalu terdengar suara pintu. Han menoleh.
"Oh. Giri udah dateng."
Ia kembali melihat kamera. Senyumnya masih sama. Senyum yang selama ini selalu berhasil membuat Jovie merasa tenang.
"Enjoy your day, Jov. Bahagia terus ya."
Han melambai kecil. Lalu tertawa.
Dan mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat yang akan terus tinggal bersama Jovie sepanjang hidupnya.
"Gue bawa nama lo sampai mati." Mata Han sedikit berkaca. Namun ia tetap tersenyum. "Doain gue dari sana ya."
Video berhenti.
Layar berubah hitam.
Dan saat itulah Jovie akhirnya hancur. Benar-benar hancur. Tangis yang selama ini ia tahan meledak begitu saja.
Ia membungkuk di depan laptop. Membekap wajahnya.
Meraung keras. Menyakitkan. Menyedihkan.
Ia baru sadar bahwa kebahagiaan terbaik dalam hidupnya ternyata sudah berakhir.
"Han..." Suaranya pecah.
"Han..." Ia memanggil lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Seolah lelaki itu bisa mendengar.
Seolah lelaki itu akan menjawab dari balik layar.
Seolah setelah ini Han akan meneleponnya dan berkata semuanya cuma lelucon.
Namun tidak ada jawaban.
Hanya suara isak tangisnya sendiri yang memenuhi apartemen.
Karena sekarang akhirnya Jovie mengerti.
Mengapa Han selalu terasa tidak asing. Mengapa Han selalu tahu harus berkata apa. Mengapa Han selalu muncul di tempat yang tepat. Mengapa Han begitu sabar. Mengapa Han begitu mengenalnya.
Karena Han sudah memperhatikannya jauh sebelum Vancouver.
Jauh sebelum perkenalan mereka.
Jauh sebelum mereka menjadi teman.
Dan selama dua minggu itu... Han tidak sedang menemukan seseorang. Han sedang menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang sudah lama ia sukai.
Sedangkan Jovie... baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
Bukan karena Han pergi. Melainkan karena Jovie akhirnya sadar... hari-hari paling bahagia dalam hidupnya ternyata hanya berlangsung dua minggu.
Dan orang yang memberikannya kini sudah tidak ada lagi.
••~🌊❤️~••
Beberapa bulan kemudian.
Jovie kembali berdiri di depan kolumbarium. Di depan ayahnya. Di depan Han Ranu.
Membawa foto Vancouver yang sudah dicetak. Ia menaruhnya sebentar di sana.
Lalu berkata pelan. "Han. Lo menang."
Angin dari pendingin ruangan berembus pelan.
Jovie tersenyum kecil. "Gila sih. Lo bikin gue jadi pengen hidup lagi."
Matanya mulai basah.
"Tadinya gue ke Vancouver buat nyerah. Tapi pulangnya malah bawa alasan buat tetep bertahan."
Jovie tertawa kecil. Lalu menatap foto Han.
"Lo tau nggak? Gue masih sering makan seafood. Masih sering nonton film jelek yang lo puter di pondok dulu."
"Gue juga masih sering ngeluh soal kerjaan. Hidup gue masih berantakan. Tapi sekarang... gue nggak pengen mati lagi."
Hening menyergap. Sangat lama.
Lalu Jovie berdiri. Merapikan kemejanya. Mengusap matanya.
Dan sebelum pergi ia berkata,
"Thanks ya, Han."
"Udah nyamar jadi takdir."
Kemudian ia berjalan pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai... ia tidak menoleh ke belakang lagi.
