Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-05
Words:
1,089
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
7

Senyum sang mentari.

Summary:

Mereka sudah menjalin hubungan selama lima tahun hingga akhirnya Rizu berani meminang sosok manis bersurai emas itu, berjanji akan selalu menjaga serta mencintainya. Dua bulan setelah pernikahan mereka, Alarich dinyatakan positif hamil, membawa bahagia baru untuk keluarga kecil mereka.

Notes:

WARNING!!!
•alay banget pokoknya soalnya aku lagi pengen nulis manis

Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam penulisan fanfic ini, selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Mas berangkat dulu ya, Al. kalo ada apa-apa langsung hubungi mas, ya." Rizu mencium kening istrinya lembut sebelum mengusap rambut yang kian memanjang itu.

"Mas Rizu tenang aja, aku bisa jaga diri kok," Senyum cerah terukir pada birai manis sang empu, memancing Rizu untuk mengecupnya gemas. "Istirahat yang banyak ya, Al. Jangan petakilan biar nggak capek." Ucapan suaminya hanya Alarich tanggapi dengan anggukan.

Rizu menarik Alarich ke dalam pelukan, mencium keningnya sekali lagi, kali ini menahannya cukup lama seolah menunjukkan betapa besar rasa sayang yang tidak berubah sejak awal mereka bersama. "Mas berangkat,"

Alarich mengangguk seraya melepaskan pelukan yang selalu jadi tempatnya bersandar itu, melambaikan tangan ketika Rizu melangkah keluar dengan setelan kerja yang selalu jadi favoritnya. Ketampanan Rizu bertambah ketika ia memakai jas pilihan Alarich, satu dari sekian banyak hal yang Alarich suka.

Dua jam berlalu sejak suaminya berangkat kerja, sudah waktunya untuk melakukan hal yang jadi kebiasaannya baru-baru ini. Berendam di bak mandi sampai kulitnya keriput. Menikmati harum sabun yang menguar memenuhi kamar mandi. Tentu saja Rizu tidak mengetahui kebiasaan Alarich ini, jika ia mengetahui hal ini Alarich akan dimarahi.

Embun dari uap air hangat mengaburkan pandangan seolah memerangkap Alarich, tubuhnya kelewat rileks dan semakin merosot ke dalam bak mandi sampai batas hidung. Sangat nyaman. Terlalu nyaman sampai Alarich mulai mengantuk. Tanpa sadar, kepalanya terkulai pada sandaran bak mandi, matanya memejam perlahan diiringi dengkuran halus sebelum akhirnya ia benar-benar tertidur di tengah kegiatan berendamnya.

***

"...ich, ...arich, ...Alarich, ...ALARICH!"

Mendengar suara yang sangat amat dikenalinya, kesadarannya perlahan kembali. Matanya mengerjap pelan mencoba menangkap sosok yang memanggil namanya. "Mas..?"

Belum sempat ia mencerna, tubuhnya sudah direngkuh erat tanpa aba-aba. "Ya Tuhan, mas kira kamu kenapa-kenapa, Al. mas takut banget," Suara Rizu bergetar, menyadarkan Alarich dari lamunan sesaat.

Seingatnya, ia tertidur di kamar mandi, tapi sekarang ia berada di kamar. Sinar lampu yang sengaja diredupkan langsung menyadarkan Alarich bahwa ini sudah waktunya para manusia berkelana di alam mimpi. Ini sudah malam. Kalau begitu, berapa lama itu tertidur? Apakah selama itu sampai Rizu pulang kerja dan menemukannya di kamar mandi?

Rizu masih tak melepaskan pelukannya, kali ini diiringi usapan lembut pada perut yang kian membesar. "Sayangnya mas kenapa tidur di kamar mandi? Ada yang gaenak badannya? Merasa gak nyaman?" Ia bertanya lembut, mengusahakan agar nada bicaranya tidak terdengar kasar.

Alarich menggeleng pelan, jari jemarinya memilin satu sama lain. "Awalnya aku cuma berniat berendam aja, Mas. Aku gatau aku bakal ketiduran dalam jangka waktu panjang. Aku minta maaf sudah bikin Mas khawatir," Alarich mencicit, tidak berani menatap kedua mata Rizu.

Rizu mengerti. Sejak hamil, cantiknya itu memang selalu ingin melakukan banyak hal tak biasa seperti mandi di selokan, main arung jeram, menyelam di kedalaman lima meter, sampai keinginan menyentuh hiu. Rizu selalu pintar mengakali keinginan Alarich, pria itu mengorbankan banyak hal demi bisa melihat senyum indah sang mentari yang raga serta jiwanya sudah berhasil ia miliki itu.

"Kenapa nggak ngomong ke mas, Al? Biasanya kamu ngasih tau kalo mau sesuatu, sekecil apapun itu. Al takut mas marah?" Rizu melepas pelukannya, beralih menangkup pipi gembil yang selalu jadi sasaran gemasnya. "Kenapa Al nggak ngasih tau Mas kalau Al mau berendam ber jam-jam?"

"Aku gamau Mas Rizu repot karna aku lagi." Alarich menjawab jujur. "Kalau aku ngasih tau, pasti Mas bakal ikut berendam, mastiin kalo aku aman bahkan saat lagi mandi. Waktu yang harusnya Mas pakai untuk nerusin pekerjaan atau sekadar istirahat jadi kepake buat aku lagi. Aku gamau." Alarich menatap mata ungu itu lembut, menyampaikan rasa bersalah karna merasa dirinya selalu merepotkan Rizu. "Maaf aku merepotkan terus sejak hamil,"

Lawan bicaranya menghela napas pelan sebelum menanggapi, dengan lembut ia mengangkat Alarich agar duduk di pangkuannya. Mata bertemu mata. "Sayang, dengar. Sejak mas meminta kamu untuk menerima mas sebagai suami, mas sudah sangat siap untuk jadi tempat bergantung. Mas juga tidak pernah membawa sisa pekerjaan ke rumah agar tidak mengganggu waktu berdua kita. Andai bisa, mas ingin memberikan semua waktu untuk kamu, Al, jadi tolong jangan berpikir seperti itu ya?" Rizu berujar pelan, memastikan kata per kata yang keluar dari mulutnya bisa dipahami Alarich.

"Mas jangan gitu, cintanya jangan terlalu besar, aku takut gabisa balas...," Alarich mencicit. Apa saja yang sudah ia berikan untuk Rizu? Apa semua itu cukup untuk membalas rasa cinta suaminya yang begitu besar? Apa Alarich sudah memberikan Rizu bahagia seperti Rizu memberikan bahagia untuk Alarich dengan begitu mudah?

Senyum tipis terukir pada wajah Rizu ketika mendengar jawaban Alarich. "Al, ketika kamu menerima lamaran mas, itu sudah sangat cukup. Ketika kamu menyambut kepulangan mas dengan senyum dan masakan dari resep baru yang kamu temukan di internet, itu juga membuat mas bahagia." Rizu mencium pipi Alarich lembut sebelum melanjutkan ucapannya. "Mas selalu merasa dicintai setiap kamu tersenyum dan berceloteh, kamu sadar nggak dirimu itu merupakan mentari yang selalu menyinari rumah kita? Gak pernah sekali pun ada rasa capek saat menuruti permintaanmu, Al. Mas akan mengusahakan apapun yang kamu mau, jangan sungkan, ya?"

Ya. Rizu akan melakukan apapun yang Alarich inginkan, apapun itu. Semua itu ia lakukan demi melihat senyum sang mentari. Senyum yang menyelamatkan hidupnya jadi kehampaan. Senyum yang mewarnai hitam putih hidupnya.

Binar hijau itu berkaca-kaca, hanya butuh hitungan detik sampai air mata Alarich tumpah. "Aku sayang Mas, aku sayang banget sama Mas, terima kasih sudah memilih aku untuk jadi pendamping hidup—" Racau Alarich disertai deru tangis yang mulai memenuhi ruangan.

Ah, ia benar-benar merasa dicintai. Rizu memberikan cinta yang sejak kecil jarang ia dapatkan. Betapa beruntungnya dirinya.

Rizu tertawa pelan, tangannya terangkat mengusap wajah Alarich yang sudah basah. Istrinya memang menjadi semakin sensitif semenjak ada kehidupan lain di tubuhnya. "Iya, mas juga sayang kamu."

"Aku mau kelapa coklat,"

Rizu tertawa kencang mendengar permintaan yang terlalu tiba-tiba itu, bahkan Alarich masih terisak kecil ketika mengatakan keinginannya. Mudah sekali mood nya berubah. "Kelapa coklat?"

Alarich mengangguk cepat. "Iya, air kelapa dan daging kelapanya dicampur coklat cair. Aku mau," Ia menjelaskan sambil mengusap air matanya cepat.

"Al maunya sekarang?" Tanya Rizu memastikan.

"Heem,"

Rizu mengangguk mengerti. "Mau cari kelapanya berdua? Sekalian makan malam di luar,"

"MAU!" Alarich mengangguk penuh semangat.

"Oke, mas keluarin mobil dari garasi dulu. Al siap-siap ya," Rizu mencium hidung Alarich singkat sebelum bangkit dari duduknya, berjalan keluar kamar menuju garasi demi mewujudkan keinginan Alarich.

Pria itu sudah sangat terbiasa mendengar berbagai pinta, entah itu umum, unik, sampai bahaya. Meskipun begitu, Rizu akan mengiyakan apapun permintaan Alarich selama masih sanggup ia lakukan. Semua itu dirinya lakukan hanya untuk satu tujuan, yaitu melihat senyum cerah Alarich.

Senyum sang mentari yang menyinari kelam hidupnya, senyum yang menjadi alasannya untuk tetap hidup apapun risikonya. Senyum yang berhasil ia miliki beserta raga sang pemilik.

Notes:

Terima kasih sudah membacaa, kritik dan saran dipersilahkan langsung dm aja 🤍💛