Work Text:
Cantik.
Sejak pertama kali pandanganku jatuh kepada sosok dara dengan selendang biru tua itu, semua kosa kata yang berada di dalam pikiranku hanyalah cantik.
Kesan yang diciptakan oleh tiap jengkal langkah yang diambil olehnya itu seolah-olah menghipnotis, menyita seluruh perhatianku. Kepalaku rasanya kosong, hanya diisi oleh wajah dan gerakan cantiknya. Aku bahkan melupakan perkataan temanku lima menit yang lalu.
“Eh, pas nonton pikirannya nggak boleh kosong! Awakmu nanti melu kesambet.” Begitu katanya.
Namun, apa daya. Riasan di wajahnya itu seolah mempertegas pahatan indah Sang Maha Kuasa. Helaian rambut hitam selegam malam yang ditata dengan apik seolah mengundang tanganku untuk membelainya dengan lembut. Lengannya yang tampak kokoh dan gemulai di saat bersamaan, oh, sungguh aku ingin ditarik ke dalam dekapannya dan diajak menari bersama.
Suara keramaian terdengar tak berarti, terbuang jauh layaknya sepah. Seluruh atensiku hanya berpusat pada sang penari dengan selendang biru. Kedua tanganku mengepal dengan kuat, menahan diri supaya tidak melakukan hal terbodoh yang aku bayangkan; berlari ke tengah panggung pertunjukan dan berteriak bahwa aku ingin direngkuh mesra olehnya.
“Menurutmu, mbaknya itu suka perempuan nggak, ya?” Aku berbisik pada teman di sebelah kiriku, yang kemudian dibalas oleh satu cubitan ringan di lengan atasku. Tidak sakit, tetapi cukup membuatku meringis.
“Ih, wong gendeng. Fokus!”
Lho, ini aku sedang fokus. Fokus kepada si mbak penari yang aku sebut-sebut cantik dan menawan sejak tadi. Mereka tidak mengerti.
Bola mataku terus bergulir kesana kemari, mengikut tiap pergerakan elok yang dibuat oleh sang dara. Tidak terpecahkan bahkan ketika ada tiga penari berkostum Reog memasuki panggung dengan heboh, tanda babak baru dari kisah yang disajikan ini dimulai.
Sang penari berselendang biru itu mengambil anyaman babi hutan yang serupa dengan kuda lumping. Oh, kalau penari perempuan itu pakainya babi hutan? Kemudian, aku juga melihat dia meraih pecutan panjang yang berkali-kali dihantam ke atas panggung. Suaranya menggelegar.
Menurutmu, jika aku tiba-tiba teriak kalau aku ingin berubah menjadi panggung supaya terkena pecutan dari sang penari cantik berselendang biru itu, apakah mereka akan membawaku pergi dan diusir dengan tidak hormat?
Menurutku, iya. Maka dari itu, aku memilih untuk bungkam dan berteriak dalam hati.
Kemudian aku memutuskan untuk menenangkan diri dan pikiran. Kembali fokus pada pertunjukan. Menyibukkan pikiran dengan sesekali mengajak bicara teman-teman di sebelahku. Aku tidak begitu percaya dengan hal-hal ghaib yang disebutkan, tetapi tetap saja ada rasa khawatir apabila menjadi nyata.
Sejenak aku lupakan penari cantik berselendang biru itu. Aku membagi pandangan dengan adil kepada seluruh penari di atas panggung.
Namun, tepat ketika teman-teman di sekitarku heboh karena inti dari pertunjukan dimulai, dimana para penari dirasuki oleh entitas ghaib, kepalaku mendadak pusing tujuh keliling sebab pandanganku kembali jatuh pada sang penari berselendang biru.
Ikatan rambutnya telah terlepas total, acak-acakan, nyaris menutupi seluruh wajah, tetapi aku masih bisa mengintip wajahnya yang memerah dan penuh keringat. Gerakannya semakin tegas, ganas. Tidak ada kesan kemayu sama sekali dari tiap langkahnya.
Cantik, gila, cantik sekali.
Pikiranku terasa sudah tidak dapat berfungsi dengan normal tatkala kedua lengannya berayun dengan tegas, membanting salah satu penari lelaki yang telah dirasuki juga ke atas panggung dengan cukup keras.
Mau. Mau. Aku juga mau dibanting seperti itu.
Kini tangannya berpindah untuk menekan tengkuk belakang penari lelaki yang tadi dibanting, menciptakan gestur seolah ingin mencekik, sebelum dipisahkan oleh salah satu pawang yang memang bertugas untuk menjaga jalannya pertunjukan.
Mau. Mau. Aku tidak masalah apabila kedua tangannya digunakan untuk mencekik leherku.
Semakin aku perhatikan, deru napasku semakin memberat dan pandanganku terasa kabur. Ditutupi oleh, entah, godaan ghaib atau memang dasarnya pikiranku memang kotor. Aku diam-diam mengutuk diri sendiri, sebelum aku rasakan tepukan di bahu.
“Heh, kamu nggak kesambet, to? Hawane gak enak, tah? Mulih wae, yuk?” Ujar salah satu temanku.
Aku lekas menggelengkan kepala sembari mengatur napas dan menggenggam pergelangan tangan temanku. “Nanti aja baliknya nunggu selesai. Keluar dulu aja sebentar, yuk. Pengen jajan.”
Pertunjukan selesai sekitar satu jam setelahnya. Es di minumanku sudah mencair dan sudah tidak ada rasanya. Aku berpencar dengan teman-temanku. Sebagian ingin berfoto, sebagian lagi ingin membeli makanan, dan aku memilih untuk menyendiri di selasar lorong dekat kamar mandi wanita sebab kepalaku rasanya masih tidak karuan.
Aku pejamkan mata sejenak sembari mendengarkan suara jarum jam yang berada di dinding, mencoba menyesuaikan ritme napasku dengan setiap detik yang berjalan.
Suara langkah kaki menyapa indera pendengaran, tetapi aku tetap bergeming. Berusaha untuk menyusun kembali kepingan kewarasan yang sejak tadi berceceran nyaris tak bersisa. Aku pikir, siapa yang peduli dengan seorang gadis yang tengah terdiam seorang diri dan memejamkan matanya di selasar lorong sepi ini.
Tadinya, aku mencoba untuk tidak peduli. Namun, langkah kaki itu berhenti di dekatku, atau tepatnya berada di hadapanku. Aku lekas mengangkat kepala dan membuka mata, bersiap untuk melayangkan pukulan apabila yang aku temui adalah seorang lelaki berwajah mesum.
Namun, napas yang sejak tadi telah berusaha untuk aku atur sontak terasa berat bersamaan dengan jantungku yang berdegup dengan sangat kencang. Kepingan kewarasan yang telah disusun sedemikian rupa pun langsung buyar, hilang tak bersisa.
Tanganku yang terkepal erat kini terasa lemas, begitu pula dengan kedua lututku ketika yang aku dapati bukanlah sosok lelaki kurang ajar yang suka menyusup ke toilet wanita, melainkan seorang wanita dengan rambut yang terurai sedikit berantakan. Tatapannya teduh dan senyuman kecil tersungging di bibirnya.
“Cah ayu, sendirian aja?”
Mundur satu langkah, punggungku bertabrakan pada dinding dengan cukup keras. Aku meringis dan wanita di hadapanku tampak khawatir. Sepasang tangannya terjulur untuk meraih bahuku.
“Maaf. Kaget, ya?”
Aku temukan alunan rasa bersalah pada tiap kata yang keluar dari bibirnya. Kemudian aku ditarik mendekat. Tangan kanannya turun menyentuh pinggangku sementara tangan kirinya pindah untuk mengelus punggungku dengan lembut.
Gesturnya terasa sangat tulus, tetapi aku ingin pingsan detik itu juga. Tiada satu katapun terucap dari bilah bibirku. Aku gigit pipi bagian dalamku, kembali meringis ketika menyadari bahwa ini bukanlah mimpi.
Sang penari cantik berselendang biru yang sejak tadi aku kagumi di dalam pikiran kini sedang berada di depanku. Aku nyaris berada di dalam rengkuhan eratnya. Lengan kokoh yang sejak tadi aku bayangkan terasa begitu nyata. Wangi sesajen yang masih melekat pada tubuhnya itu menyengat hidungku.
Tunggu, apa dia masih kerasukan?
Sepertinya dia menyadari sorot mataku yang tiba-tiba diambil alih oleh rasa takut. Ia pindahkan tangan kirinya untuk mengelus pucuk kepalaku dengan lembut. Lalu berucap, seolah-olah dapat membaca dan menjawab isi pikiranku. “Jangan takut, ya. Mbak udah sadar, kok. Hehe.”
“Oh…” Bodohnya. Otakku masih malfungsi sehingga hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut. Bingung. Aku harus apa pada situasi seperti ini.
“Cah ayu suka sama pertunjukannya tadi?” Tanyanya dengan suara yang sedikit serak, mungkin kelelahan sebab pertunjukan tadi. “Tadi tiap Mbak curi-curi pandang ke arah penonton, kamu kelihatannya fokus sekali. Senang, deh, kalau ada anak kota yang masih suka sama pertunjukan seperti ini.”
Aku mengangguk. Mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawabnya, tetapi rentetan kalimat yang ingin kuucapkan seolah berhenti di tenggorokan.
“Iya, Mbak. Suka.” Aku harap dia tidak menyadari getaran dalam kalimat yang aku ucapkan. “Keren banget tadi. Mbak juga cantik banget.”
Bodoh…
Tawanya mengalun, bergema di lorong yang sepi sementara aku sibuk merutuki diri sendiri. Puji pertunjukannya, puji bakatnya, bodoh. Kenapa malah mengomentari penampilannya. Dasar bodoh.
“Oh, ya?”
Kepalaku terasa berputar dengan cepat, darahku mengalir dengan deras di dalam tubuh, seolah dipompa dengan begitu kuat ketika aku rasakan tangan kanannya mengelus pinggangku dari luar baju. Lidahku terasa kelu dan aku hanya bisa terdiam.
“Jadi, kamu suka sama pertunjukannya apa suka sama Mbak?”
Sinting.
Ponselku tergeletak di atas meja wastafel dengan sedikit mengenaskan setelah aku mengirim pesan kepada teman-teman jika aku sudah pulang duluan karena ingin beristirahat.
Dusta. Dusta besar yang aku buat malam ini. Nyatanya, aku kini berada di dalam ruang toilet wanita yang pintunya telah dikunci rapat. Duduk di atas meja wastafel dengan punggung yang bersandar pada kaca dan sepasang kaki yang mengangkang lebar. Kaos hitamku tersingkap ke atas dan ujungnya kugigit untuk meredam suara-suara penuh dosa yang keluar dari mulutku.
Mbak penari cantik, yang bahkan aku tidak tahu namanya itu, kini tengah melahap bagian intimku yang sudah basah total. Memalukan. Tidak ada yang lebih memalukan daripada dibuat becek oleh orang yang bahkan namanya saja tidak aku ketahui.
Rasanya aku ingin menjerit kuat-kuat ketika rasakan lidahnya yang naik turun dan membuat gerakan memutar di sekitaran labiaku. Ujung lidahnya menyapa klitoris berkali-kali, tetapi hanya sekadar sapaan basa-basi seolah tengah menggoda. Memaksaku untuk memohon supaya disentuh lebih jauh.
“Cah ayu ternyata nggak hanya wajahnya yang cantik, tapi memeknya juga cantik.” Mbak, cukup. Cukup. “Coba aja kalau Mbak punya kontol kayak laki-laki di luar sana, ya. Rasanya Mbak pengen hamilin kamu, deh.”
Aku mendongak dengan mata yang terpejam ketika merasakan vaginaku semakin basah, banjir, ketika mendengarkan rentetan perkataan kotornya. Mbak hanya tertawa sambil menggerakan jemarinya untuk membuka bibir vaginaku dan menatapnya dengan lekat. Erangan tertahanku terdengar begitu memalukan.
“Suka ya, nduk? Suka kalau Mbak beginikan?” Jari telunjuk wanita itu kini menari-nari di atas klitoris, menekan tanpa ampun, sementara tangannya yang lain berpindah untuk menampar paha dalamku.
Gigitanku pada ujung baju terlepas, tidak tahan untuk tidak melepaskan desahanku. “Ahh, Mbak. Mbak. Suka, suka banget.”
Aku tangkap senyuman kecil di sudut bibir Mbak ketika aku berkata seperti itu. Terlihat begitu puas, tidak berhenti menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum kembali jatuh pada vaginaku yang menjadi mainan barunya. Terlihat begitu bangga karena berhasil membuatku nyaris hancur, menggeliat tidak karuan hanya dengan sentuhan dan jilatannya.
Sepersekian detik kemudian, aku menjerit dengan punggung yang membusur ke depan, merasakan tamparan cukup kencang di labiaku. Nyeri. Namun, anehnya dinding vaginaku menyempit dan berkedut dengan kencang.
Mbak kembali tertawa. “Walah, walah. Harusnya kamu sakit toh, kok malah kesenengan gini.” Gerakan jemarinya berubah kasar, mengucek klitorisku dengan sembarangan. “Cah ayu, kamu cantik-cantik kok kayak perek. Memeknya banjir kedutan gini di depan perempuan yang nggak kamu kenal.”
Air mata mengalir membasahi wajahku. Tidak, bukan karena aku tersinggung dengan perkataannya yang seharusnya melecehkan harga diriku. Justru aku merasa semakin terangsang, nafsuku seolah terbang bebas layaknya asap tebal yang memenuhi ruangan, dadaku terasa sesak bukan kepalang.
“Mbak, ahh, Mbak.”
Kemudian aku rasakan pipiku memanas ketika Mbak melayangkan satu tamparan di sana. Harusnya aku marah, tapi Mbak kembali tersenyum miring ketika merasakan pinggulku yang justru bergerak maju seolah mengejar friksi yang jauh lebih memabukkan daripada ini.
“Kalau mau apa-apa itu bilang. Mulutnya dipake, jangan cuman bisanya ngedesah aja.” Bekas tamparan itu dielus dengan lembut. “Masa baru begini sudah tolol. Cah ayu mau apa, ayo bilang.”
Aku terisak, tidak kuat dengan rangsangan dan hawa nafsu yang melahap habis setiap inci tubuhku. Apalagi ketika tangan Mbak kini turun untuk meremas payudaraku.
“Mbak, mau—hiks, mau dipake sama Mbak. Aku mau dipake sampe tolol sama Mbak. Nhh, Mbak. Mbak. Aku pereknya Mbak.”
Yang terjadi setelahnya akan membuatku malu setengah mati seumur hidup jika tiba-tiba teringat sebab aku mendesah dengan keras, suaraku melengking memenuhi ruang toilet. Aku rapalkan doa supaya tidak ada siapapun di luar sana, supaya suara-suara penuh dosa ini tidak terdengar hingga selasar lorong.
“Pinter, sayang.” Dua jarinya kini menerobos memasuki vagina sementara ibu jarinya tidak berhenti menekan-nekan klitoris dengan kasar. Kepalanya mendekat ke arah dadaku sebelum menjilat putingku yang mencuat tidak tahu malu. “Cah ayu, perempuan paling cantik yang Mbak temui. Pereknya Mbak.”
Deklarasi kepemilikan itu membuat tubuhku semakin bergetar, menggigil menyedihkan. Kedua jarinya membuat gerakan menggunting di dalam, menggesek dinding vaginaku sebelum digerakkan keluar masuk dengan kasar. Mulutnya melahap putingku dengan penuh nafsu. Sepasang tanganku berpindah untuk menarik rambutnya, menyalurkan rasa nikmat yang tidak terbendung.
“Ahh, Mbak. Mbak.”
Lidahnya memutar di areola, bergantian kanan kiri, sebelum mengulum putingku dengan lahap. Membasahinya dengan air liur. Lalu, Ia kembali merunduk, wajahnya dibuat sejajar dengan vaginaku. Kedua jarinya masih bergerak keluar masuk, merojok vaginaku tanpa ampun.
“Kayaknya selain kamu, memekmu juga suka banget sama Mbak, ya? Seneng banget dirojokin gini sama Mbak.” Setelah itu, mulutnya sibuk digunakan untuk bermain dengan klitoris.
Pinggulku semakin bergerak tidak karuan, kemudian ditahan oleh tangannya yang menganggur. Cengkramannya terasa begitu kuat, sepertinya mampu meninggalkan jejak kemerahan di sana. Mulutku tidak dapat berhenti mengerang, menyuarakan desahan, menangis dengan nikmat ketika jarinya meraih bundalan sensitif yang terasa membengkak di dalam sana. Kulumannya pada klitorisku pun terasa semakin liar.
“Mbak, ahh! Mbak, aku mau keluar. Mbak, tolong.” Aku merintih, terisak-isak merasakan gesekan jarinya pada dinding vaginaku yang semakin menyempit. Namun, seolah tuli, Mbak tidak menyahuti. Yang ada, tusukan jemarinya pada vaginaku semakin kasar begitupula dengan lidahnya yang mengisap klitorisku tanpa ampun.
“Nhh- ahh, Mbak. Mbak!”
Aku tarik helaian rambutnya dengan kuat, tetapi ia seolah tidak terganggu sama sekali. Pahaku sudah gemetaran luar biasa dan perutku mengencang. Aku mendongak dengan bola mata yang bergulir ke belakang bersamaan dengan jeritan melengking ketika aku berhasil mencapai puncak kenikmatan. Aku keluar berkat permainan jemari dan lidah sang penari.
Tanganku terkulai lemas. Mbak menjauhkan wajahnya dari kemaluanku, kulirik bibirnya yang mengkilap basah karena cairanku. Kedua tangannya ditarik keluar. Aku kira, kami sudah selesai. Namun, erangan manja kembali keluar dari mulutku ketika jemarinya kini beralih untuk mengucek klitorisku dengan asal, meratakan cairanku di sana.
Pinggulku bergerak tidak karuan, tetapi kali ini tidak ditahan. Suaraku semakin melengking, air mata kembali membasahi pipi. Berlebihan. Rasanya terlalu berlebihan. Seolah telah mendarat dengan tenang di tanah, tetapi kembali ditarik ke atas dengan paksa. Sensitif.
“Mbak, Mbak!” Tersedak oleh air liurku sendiri, asupan oksigen terasa menipis. Namun, aku tidak menemukan tanda adanya ampunan dari wanita di hadapanku. “Mbak, udah. Udah, ahh!”
“Mbak penasaran, lho, Cah ayu.” Tubuhku menggelinjang, tetapi ia tidak peduli. Justru semakin bersemangat untuk menghancurkan apa yang tengah disentuh. “Kamu sange selama nontonin Mbak nari di panggung tadi?”
Rasanya seperti dipermalukan. Namun, akal sehatku seolah direbut oleh nafsu. Gila. Aku bahkan tidak ingat namaku sendiri. Aku mengangguk, membenarkan ucapannya. Tidak mampu mengeluarkan kalimat apapun, kewarasanku hancur total karena sentuhannya.
“Mbak, udah, tolong. Ahh! Berhenti, aku mau pipis. Ampun, Mbak. Udah. Udah- nhhh!”
Bukannya berhenti dan menjauh, jemarinya semakin beringas mengerjai klitorisku, sesekali menampar labiaku yang basah total. Wajahnya tampak puas, bangga karena berhasil membuatku tidak berdaya. Sekujur tubuhku gemetaran.
“Pipis aja, Cah ayu. Udah kepalang becek begini. Memek murahan bisa apa lagi memangnya.” Satu tamparan mengenai klitoris, sebelum tangan si Mbak kembali sibuk untuk menguceknya dengan kasar. “Tolol banget. Hancur kamu, Cah ayu. Betulan perek rupanya kamu.”
Kepalaku terasa kosong, tidak ada sisa kewarasan sama sekali. Aku menjerit, suaranya bergema di dalam ruangan. Tidak berhenti menangis ketika aku keluar untuk yang kedua kalinya bersamaan dengan cairan bening yang turut menyembur keluar. Membasahi perutku sendiri serta lengan si Mbak. Juga muncrat membasahi sebagian dagunya.
Aku lemas total. Bertahun-tahun hidup di dunia, baru kali ini aku merasakan orgasme hebat, dua kali dalam waktu yang berdekatan. Sampai pipis pula. Memalukan.
Mbak memberikan sentuhan lembut di paha dalam, mencoba untuk menenangkanku yang masih di awang-awang. Wajahnya dibawa mendekat, kemudian bibirku dikecup dengan lembut.
“Kamu pulang sama siapa, nduk?”
Aku membuka mata perlahan, mendapati tatapan teduh sang penari. Aku jawab pertanyaannya dengan suara serak, “Sendiri, Mbak. Teman-temanku udah pulang duluan.”
“Wah, udah malam banget. Gak elok anak gadis pulang malam-malam.” Begitu ucapnya. Seolah-olah kami tidak habis melakukan hal yang jauh dari kata elok.
Ia bergumam sebentar sebelum wajahnya kembali maju, kini mendekat ke arah telinga untuk berbisik pelan. “Ke tempat Mbak aja, yuk? Mbak masih pengen main sama kamu. Cah ayu masih mau dipake sama Mbak, kan?”
Seharusnya aku menggeleng dan menolak.
Namun, akal sehatku telah terbuang entah dimana. Tidak dapat diraih kembali. Maka, aku mengangguk dengan lemah. Menyetujui ucapannya, disambut dengan senyum penuh kemenangan.
Malam itu, aku serahkan diriku pada sang penari berselendang biru yang rupanya ayu seperti bidadari. Aku serahkan diriku pada surga duniawi yang dibuatnya. Tanpa ampun hingga hancur.
