Actions

Work Header

Silly Guys, Retreat!

Summary:

Katanya si, Ivan sama Mizi pacaran. Duh tapi gak tau aja mereka, di belakang, dua orang itu GAY SEJATI. Apalagi si Mizi, dia mah udah tiap hari kelonan sama pacar nerd cantiknya alias Sua. Tapi bagi Till, yang baru masuk ke Klainden tiga hari lalu. Si Ivan ini brengsek, kurang ajar, lagi bajingan. Padahal dia tahu si Till udah naksir Mizi dari zaman bocah, eh dia malah dapat rumor Ivan macarin tuh cewe. Kurang brengsek apa coba?

Lebih kocak lagi, Ivan masih aja chill. Gak pernah nanggepin kalau si Till maki-maki atau mukul dia. Tetap aja sok baik begitu. Till kan jadi makin rese sama nih orang.

Tapi yang Till gak pernah tau, jauh... Jauh di dalam hati Ivan. Alasan dari dia yang tidak pernah menanggapi kebencian Till. Dibalik wajah si populer yang selalu tersenyum dan licik arogan itu, dia akan selalu jatuh, jatuh, dan jatuh lagi ke dalam pesona teman emo nya itu.

Chapter Text

Cheerleader x Jock, A Popular Couple?!

“Girls, girls oh my godd. Liat SG Ivan pleaseee! Lucu bangettt”. Seluruh gadis di Klainden High School jadi ramai jimpah sampai berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel pintar mereka. Di layar itu, terpampang seorang lelaki pemain rugby kekar berambut hitam yang tampan sedang berpose sambil merangkul gadis blonde dengan rambut sambung merah muda yang memegang satu pom-pom dan banner bertuliskan “Ivan GO GO❤️”. Mereka berdua terlihat sangat serasi satu sama lain. Lagipula siapa yang tidak kenal mereka di sekolah ini? Ivan dan Mizi, the most famous-rumoured-couple di Klainden!

“Mereka lagi dekat gak sii? Kemarin gue lihat mereka pulang berdua dan dan mesra banget!”.

“Lah bukannya udah pacaran? Lagian mereka sering banget update selca satu sama lain, Mizi juga satu-satunya anak cewe yang masuk di feeds instagramnya Ivan selain sepupunya, Sua”.

“Mizi juga gitu, tau! Padahal dia populer banget sama cowo-cowo, mana temennya juga banyak, tapi dia cuma mau foto dan dirangkul oleh Ivan. Apalagi kalau bukan pacaran mereka!”.

“Ivan mantep banget lagi, udah ganteng, peringkat 2 seangkatan, atlet rugby pula. Siapa cewe yang gak mau ama dia? Tapi yang paling cocok ya cuma Mizi yang baddie itu, couple goals parah mereka. Tapi kenapa mereka gak pernah mau ngakuin kalau mereka pacaran si? Padahal kan tidak ada yang kecewa”.

Benar, tidak akan ada yang kecewa.

 

Begitulah yang berusaha diucapkan di dalam hati seorang laki-laki berambut silver dengan anting dan piercing yang memenuhi telinganya. Dia merapal kalimat itu di dalam hati berkali-kali ketika melihat snapgram Ivan dan Mizi sebelum akhirnya berteriak marah, dan memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Persetan pendapat semua orang! Dasar Ivan anjingggg!”.

 

****


“BUGH!”. Pukulan mendarat keras di pipi Ivan yang baru lima meter keluar dari gerbang sekolah.  Dia belum sempat menyadari siapa yang melayangkan pukulan ke arahnya sebelum pukulan lain datang lebih keras ke pipi kirinya. Pria itu juga menendang tungkai kakinya sekuat tenaga membuat Ivan langsung terjatuh ke trotoar. Butuh beberapa saat bagi Ivan untuk menyadari siapa yang tiba-tiba melayangkan pukulan ke arahnya, sebelum pukulan lain datang ke wajahnya. Sosok yang berdiri di hadapannya tadi mencengkram kerah seragamnya dengan kuat. Sekarang Ivan dapat melihat dengan jelas laki-laki monolid dengan bola mata hijau gelap berwajah penuh amarah di hadapannya ini.

“Bajingan lu, Ivan”. Pria itu ingin melayangkan pukulan lagi sebelum seorang perempuan berambut sambung pink menghampiri Ivan dan menjauhkannya. Di belakangnya perempuan berambut hitam pendek yang terlihat ogah-ogahan ikut membantu Ivan untuk berdiri.

Sementara pria berambut silver itu dipegangi oleh Luka, ketua kedisiplinan Klaindein High School. Di pegangi seperti itu, pria itu sontak mengamuk-ngamuk dari tahanan Luka. Dia berteriak-teriak seperti kesetanan. “Bangsat lu Luka, lepasin gua! Ini udah di luar sekolah ya anjing, gak usah ikut campur lu sama urusan orang. Biar gua hajar muka bajingan tengik ini!”.

“Jangan gila. Ini masih di depan sekolah, masih untung gue yang datang bukan guru.” Sementara dia dan Luka masih sibuk beradu mulut. Anak-anak lain sudah sibuk berbisik-bisik dan bersorak-sorak di sekitar mereka. Ada yang senang melihat perkelahian, ada yang khawatir, ada juga yang penasaran dengan sosok yang mencari masalah dengan Ivan tersebut.

Ivan yang menyaksikan situasi tidak kondusif itu hanya menghela nafas.

 

Ia melepaskan pegangan Mizi di lengannya, sebelum dia berdiri dan melangkah menuju pria berambut silver itu yang masih beradu mulut dengan Luka. Secara tiba-tiba, dia merangkul pria itu dan menariknya menjauh dari Luka bersama senyum sumringah terlihat di seluruh wajahnya. Sementara pria yang dirangkulnya makin sibuk memaki dan berusaha memukulnya. Kerumunan yang dari tadi riuh jimpah langsung terdiam melihat adegan tidak terduga itu.

 Sementara itu, Mizi dan Sua hanya saling bertatapan. Dengan Sua yang menggulirkan bola mata dan memalingkan wajah dengan ekspresi malas.  Di sebelahnya, wajah Mizi sudah berbinar-binar dan dia terkekeh-kekeh sambil melihat Sua dengan bahagia.