Work Text:
Deru nafas saling beradu, rasa-rasanya ingin menunjukkan siapa yang lebih menikmati sedalam-dalamnya mereka berpadu. Pada akhirnya lepas segala desah dan erangan, meninggalkan keduanya saling dekap erat, diakhiri pagutan mesra.
"Huft... Udah ya?" Yang posisinya di atas kini bergerak menggeser tubuhnya, melepaskan penyatuan mereka guna beri wilayah lebih luas bagi kekasihnya tuk meraup udara.
"Hnh... Beloman ahh"
"Capek kamu, udah merem-merem gitu" Kururu mengangkat tangannya, mengusap wajah terkasihnya guna menggeser helai rambut yang tutupi binar indahnya.
Sosok dengan mahkota dwiwarna tersebut mengerang kecil sebelum berguling manja kembali mendekati usap sayang dari kekasihnya. Tidak lama ia buka mata birunya, tangannya menggenggam jemari Kururu sambil beri jilatan bak anak kucing dan kerlingan nakal.
"Lagi ya, please? Mau banget disayang-sayang kamu sampe pagi...."
Yang diuji keimanannya terkekeh kecil, mungkin tidak apa-apa bila ia menuruti apa kata belahan jiwanya? Toh namanya juga pasangan baru
"Yaudah, jangan nyesel loh ya?"
"Hehe"
Duh gemasnya, kalau seperti ini mungkin bukan salahnya kalau pikirannya merosot sampai selangkangan.
'Sesekali tidak ada salahnya', batin Kururu sebelum tubuhnya ditarik mendekat tuk berikan kasih sayang yang tak terkontrol meluap.
˖
⁺
‧
₊
˚
♡
˚
₊
‧
⁺
˖
˖
⁺
‧
₊
˚
♡
˚
₊
‧
⁺
˖
'Sesekali', mungkin pada awalnya memang itu yang ia rencanakan khawatir-khawatir melukai terkasihnya.
Tapi mungkin ini sudah lewat dari kata berkali-kali?
Pada awalnya mungkin Kururu terlalu meremehkan, memberikan respon layaknya menyerah demi permintaan sang cinta dengan harap juga lepaskan nafsunya. Tapi lama kelamaan sepertinya agenda pelepasan nafsu ini bisa berakhir memotong usianya.
"Sayaaangg~"
Nah kan datang lagi, cengiran bak iblis kecil yang berhasil curi hati -- walau tidak salah kalau dibilang Kururu sudah jatuh terlalu dalam -- wajahnya ia bawa menoleh dengan senyuman miring, dengan nada seperti itu pasti Andi ada maunya.
"Aku udah mandi ayo peluk-peluk!" Ucapnya seraya membuka lengan, tersenyum lebar dihadapannya meminta disayang-sayang.
Duh Gusti imutnya
Salahkan juga pada Kururu yang tidak bisa gemasnya. Lengan Andi ditariknya segera, menghempaskan kedua tubuh mereka langsung di kasur empuk kepunyaan keduanya.
Seperti biasa Andi akan menghirup aroma Kururu bak haus akan oase. Menyundulkan kepalanya pada dada kekasihnya minta dibelai dan disayang seperti kucing yang mereka pelihara.
"Manja banget kamu"
"Jangan berhenti puk-puknyaa"
Yang dititah tertawa, menggerakkan jemarinya di antara helai hitam legam kecintaannya, beri satu atau dua kecup cinta di keningnya
Andi senang disayang-sayang sedemikian rupa. Tapi seperti biasa(?) senandung senangnya tak lama berubah menjadi deru nafas dimabuk ingin
"Sayangg"
"Hm?"
"Sex lagi yuk"
"Kemaren kan udah, cinta. Kemarennya lagi juga udah, sampe kamu ketiduran"
"Lagii"
"Capek kamu kalo setiap hari"
"Ngga bakall"
"Capek kamu sayanggg. Tadi pagi aja bablas kan tidur sampe siang?"
"Itu kamunya ngga bangunin aku!"
Andi manyun, sementara Kururu kembali terkekeh sambil mencubit-cubit pipi gembil di hadapannya. Aduh yang kayak gini nih lucunya, mungkin antara kucing dan Andi tetap kekasihnya yang menang soal manja.
Andi masih bersungut sebal, tapi bukan dirinya kalau menyerah begitu saja. Dibawa tubuhnya bangun dan pinggulnya mundur, naik turun tubuhnya tepat di selangka Kururu, guna buat sang empu menyerah dan melahapnya langsung disitu
Kururu melenguh kecil, stimulasi di balik celana yang menutupi juniornya sama sekali tidak membantu pikir rasionalnya. Dengan segera ia mencengkram pinggul yang seenaknya mengendarai bagian bawahnya, membantunya bergerak mencapai putihnya.
"Mau juga kan kamu? Sok bgt deh nolak-nolak"
To be fair, ini ngga ada fair-fairnya.
Ngga ada yang briefing kalau kekasihnya yang dulu dipuji saja sudah semerah tomat sekarang terus-terusan minta digenjot gaada obat.
Dan berakhir malam ini pun Kururu menanggapi permintaan terkasihnya, memenuhinya dengan cinta sampai mentari tampakkan sinarnya.
。
˚
☁︎
˚
。
⋆
。
˚
☽
。
。
˚
☁︎
˚
。
⋆
。
˚
☽
。
Tidak disangkal hari-hari memuaskan kekasihnya membuat tubuhnya lebih bugar, massa ototnya meningkat, dan ejakulasinya keluar lebih lama mengikuti durasi yang diinginkan sang belahan jiwa. Dipikir-pikir kururu harus mencari cara untuk menghentikan Andi dan libido tingginya, tapi bagaimana?
Kata-kata tidak pernah cukup, Andi selalu berhasil mendorongnya over the edge, membuatnya berakhir menginginkan hangat yang sama dan mengikuti arah permainan sampai dengan tidak tahu kapan akhirnya.
Mungkin Kururu perlu membujuk sang cinta dengan pesonanya? Ah tidak, yang ada Andi semakin gragas mengkonsumsinya habis-habisan.
Apakah mungkin menemukan cara terbaik untuk menghentikan agenda bersenggama tiada henti mereka?
"Kurururururururu"
"Yaa"
"Sayanggg"
Panggilan itu lagi, Kururu tidak kaget merasakan gelayut manja pada tubuh bagian belakangnya. Tidak mengherankan juga keberadaannya di ruangan karena mungkin ini sudah waktunya istirahat tapi mata Kururu terus berkutat pada pekerjaan.
"Kelonin aku dong" ujar si pemilik helai dwiwarna, meletakkan kepalanya pada pundak suaminya, seperti biasa menghidu aroma yang membuatnya mabuk tak lagi bisa sepenuhnya sadar.
Kururu menanggapi dengan gumaman kecil, menyimpan semua data yang ada dan mematikan layar monitor. Lengannya dibawa membelai helai hitam legam tercintanya, sbelum bangkit dari bangku kerjanya diikuti Andi yang setia menempelinya.
Keduanya memasuki kamar mandi, pastinya untuk bersiap-siap ke alam mimpi. Setelahnya mereka berpindah ke kamar, merebahkan diri di kasur empuk nan lebar.
"Sini kalo mau dikelonin" Kururu merentangkan lengannya, berharap setidaknya malam ini kekasihnya mau loncat dalam peluknya tanpa meminta ronde lain untuk bersenggama.
Jelas Kururu tidak bisa mengharapkannya, karena tak lama didapatkannya Andi menarik celananya turun dan menghempaskannya sembarang arah sebelum merangkak mendekat dan masuk ke peluk erat yang ditawarkan sbelumnya.
"?? Katanya mau kelonan?"
"Sekali aja boleh ngga?" Si pemilik binar biru kembali mengerlingkan mata, menatap penuh harap. Dibawa kaki jenjangnya melingkar pada salah satu sisi pinggul Kururu, menariknya mendekat guna berikan friksi di bawah sana.
Aduh susah nih kalo udah begini
Tapi Kururu is a man of his words. Hari ini dia bersumpah akan membuat Andi mencintainya hanya karena penisnya. Maka dari itu Kururu memilih untuk bangkit dari rebahnya -- yang timbulkan puas di wajah Andi yang mengira harapannya kan terkabulkan -- dan beralih mengukung tubuh tersebut di bawah peluknya.
"Loh? Ngga dimasukin?"
"Tidur sayang"
Melihat respon yang ternyata tidak sesuai dengan harapannya, Andi meronta ingin lepas. Kalau Kururu tidak mau mencicipinya, ia saja yang bergerak menyantapnya.
"Lepasss masukin ihh"
"Tidur ganteng"
"Gamauu"
Merasakan friksi yang terus menerus hadir dari gerak acak kekasihnya, Kururu berdecak sebal. Dibawa kakinya berpindah, menjepit kedua kaki kekasihnya dalam dekapnya. Lengannya pun dibawa memeluk lebih erat, mungkin lebih tepatnya dikunci agar tidak dapat lepas. Yang ditahan kembali melayangkan protes, berusaha melepaskan diri sambil berusaha menepuk-nepuk punggung suaminya agar segera melepaskan dekapnya.
"Lepppassss"
"Shht, gamau aku, tidur."
"Aku mau disayang sayang kayak biasaaa, kelonin aku yang benerr"
"Ini kan lagi dikelonin Ganteng, kurang kah?"
Andi balas menggerutu sebal, sudah lelah meronta minta dilepaskan melihat Kururu sama sekali tidak berniat untuk pindah. Terlebih karena suaminya tersebut memilih untuk melepaskan feromon yang cukup menenangkan, kini Andi merasa ditimang ibunda, lama-lama berat matanya terutama dengar senandung irama dari bibir indah kekasihnya.
Cukup lama, tetapi berhasil. Selang puluhan menit sejak Andi meronta minta dilepaskan, tubuhnya melemas pasrah. Sungutan tak terimanya berangsur menjadi dengkuran halus, buat Kururu menghela nafas lega karena perlahan dapat pastikan sang cinta beristirahat tanpa dipaksa lelah.
Mungkin ini termasuk berhasil? Bisa dicoba lagi besok
