Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2026-05-30
Words:
2,599
Chapters:
1/1
Comments:
17
Kudos:
96
Hits:
2,670

Special MC mau jadi princess

Summary:

Ucapan Keonho tentang konsep "Princess" untuk nge-MC di live ternyata berbuntut panjang saat ia bertemu Shinyu malam itu.

Notes:

Thank you untuk yang ngasih ide pair ini 🫶🏻

Maaf kalau berantakan, buatnya karena ga bisa tidur jam 2 pagi 🙏🏻

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu, koridor di lantai ruang latihan gedung HYBE sudah sunyi senyap. Kebanyakan orang sudah pulang ke dorm masing-masing. Di sisi lain, Keonho terpaksa melangkah balik menyusuri koridor yang remang karena ada barang miliknya yang tertinggal di meja pojok ruangan latihan. Dia mengira ruangan itu sudah kosong, namun begitu pintu geser itu terbuka, ia mendapati Shinyu masih menetap di sana.

 

Senior yang lebih tua enam tahun darinya itu sedang duduk bersandar santai di kursi sudut sambil memegang sebuah tablet, tampak serius seperti mengecek sesuatu. Shinyu hanya mengenakan kaos hitam longgar dan celana hitam, terlihat santai namun tetap karismatik. Hal itu membuat atmosfer ruangan langsung terasa berbeda.

 

"Eh, Sunbaenim? Belum pulang?" Keonho menyapa agak canggung sambil berjalan pelan menuju meja tempat barangnya yang tertinggal.

 

Mendengar suara itu, Shinyu mendongak dari layar tabletnya. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan terukir di wajah tampannya.

 

"Belum, masih nanggung recheck beberapa jadwal untuk minggu depan. Kamu sendiri kenapa balik lagi?"

 

"Ini, AirPods aku ketinggalan di meja," jawab Keonho sambil menunjukkan benda kecil itu dengan senyum canggung.

 

"Kalau begitu, aku duluan ya, Sunbaenim, permisi."

 

"Keonho-ya, sebentar."

 

Langkah kaki Keonho mendadak tertahan. Dia menoleh dan mendapati Shinyu sudah meletakkan tabletnya di atas sofa. Shinyu berdiri, berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah santai, tetapi sorot matanya entah kenapa terasa sangat mengintimidasi dan mengunci pergerakan Keonho.

 

"Iya, Sunbaenim?"

 

"Panggil Hyung aja, santai," kata Shinyu, suaranya terdengar kasual namun berat. Dia berhenti tepat di depan Keonho, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap juniornya dari atas ke bawah.

 

"Ngomong-ngomong, kemarin aku sempat lihat live grup kamu yang lewat di fyp."

 

Jantung Keonho mendadak berdegup lebih cepat.

 

"Ah... yang mana ya, Hyung?"

 

"Yang kamu bilang sendiri ke fans kalau kamu pengen banget nyoba konsep princess pas nge-MC,"

 

Shinyu menaikkan sebelah alisnya, senyumnya makin kentara saat dia melangkah satu langkah lebih maju, mempersempit jarak di antara mereka.

 

"Terus di live itu kamu bilang, 'Tapi masa Shinyu sunbaenim ikut jadi princess?’ Iya, kan? Aku gak salah ingat, kan?"

 

Wajah Keonho langsung memerah padam sampai ke telinga. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar-benar salah tingkah karena kutipan omongannya di live diingat sejelas dan sedetail itu oleh sang senior.

 

"Itu... itu cuma bercanda aja sih, Hyung. Maaf ya kalau kedengarannya agak aneh atau gak sopan..."

 

Shinyu terkekeh pelan, melangkah maju satu kali lagi sampai mereka hampir bersentuhan. Keonho terpaksa mendongak untuk menatap seniornya.

 

"Gak aneh kok. Kalau aku emang gak cocok jadi princess..."

 

Shinyu mengulurkan tangannya , dengan lembut menyelipkan beberapa helai rambut Keonho yang agak panjang ke belakang telinga. Ibu jarinya sengaja turun, mengusap rahang juniornya itu dengan gerakan lambat yang sangat intim.

 

"...kalau gitu aku jadi prince-nya, biar bisa cocok sama kamu."

 

Godaan yang begitu blak-blakan dari seorang senior besar membuat pertahanan Keonho runtuh total. Urusan senior-junior seolah melebur begitu saja di dalam ruangan yang sepi itu, digantikan oleh ketegangan seksual yang luar biasa pekat dan panas.

 

"Kamu emang cantik, Keonho-ya. Apalagi waktu kamu nari Genie kemarin. Gerakan kamu halus banget...,"

 

Shinyu mulai menurunkan tangannya ke bawah, meraba lekuk pinggul Keonho yang tertutup kaos sebelum akhirnya merangkul pinggang ramping juniornya itu dengan erat, menyentak tubuh mereka berdua agar semakin menempel rapat tanpa jarak.

 

"...mata aku sampai gak bisa beralih dari pinggang kamu yang ini. Lentur banget."

 

Sentuhan posesif di pinggangnya membuat tubuh Keonho bergidik pelan, napasnya mulai memberat.

 

Shinyu menunduk sedikit, berbisik tepat di depan bibir Keonho yang sedikit terbuka, "Gedung lagi sepi banget, Keonho... Mau have a quickie gak?"

 

Keonho membelalakkan matanya, terkejut dengan tawaran segila itu. Lidahnya mendadak kelu.

 

"Hyung... m-maksudnya—"

 

Sebelum Keonho sempat menyelesaikan kalimat protesnya, Shinyu memajukan wajahnya dan mengecup bibir Keonho singkat. Hanya sebuah kecupan basah yang menempel selama beberapa detik, seolah menguji air sebelum melangkah lebih jauh. Shinyu menarik kepalanya sedikit ke belakang, menatap langsung ke dalam mata Keonho yang sudah sayu dan kacau.

 

Detik berikutnya, Shinyu kembali merapat dan mencium Keonho untuk kedua kalinya. Kali ini, ciuman itu jauh lebih dalam dan menuntut. Dan di luar dugaan, Keonho tidak memberontak; dia justru mulai merespons, membalas lumatan Shinyu dengan jepitan bibir yang sama runtuhnya, memberikan lampu hijau penuh bagi sang senior untuk mengambil kendali. Lenguhan pasrah lolos dari mulut Keonho saat lidah Shinyu langsung menyapu masuk, mengabsen rongga mulut sang junior. Keonho meremas kaos Shinyu erat-erat, berserah pada ciuman yang memabukkan itu.

 

Merasakan respons pasrah dari yang lebih muda, Shinyu langsung melepaskan tautan bibir mereka yang basah, menyisakan benang saliva tipis di antara keduanya. Tanpa membuang waktu, Shinyu langsung mencengkeram pergelangan tangan Keonho, menariknya keluar dari ruang latihan dengan terburu-buru, lalu berbelok cepat menuju toilet yang posisinya tepat berada di samping ruangan tersebut.

 

Begitu masuk ke dalam toilet yang kosong, Shinyu membawa Keonho menuju bilik toilet yang berada di paling ujung koridor, lalu membanting pintu bilim itu dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.

 

Di dalam bilik yang sempit dan pengap itu, napas mereka berdua terdengar memburu hebat. Shinyu memojokkan tubuh Keonho ke dinding bilik, mengunci pergerakannya dengan tubuh tegapnya sendiri. Namun, sebelum melangkah lebih jauh ke, Shinyu menatap dalam-dalam sepasang mata Keonho yang sudah sayu oleh gairah.

 

"Ini... first time gak buat kamu?" tanya Shinyu dengan nada suara yang rendah dan serak, menuntut jawaban jujur dari pria di depannya.

 

Keonho mengatur napasnya yang tidak beraturan, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan yang sepenuhnya sudah dikuasai oleh hasrat.

 

"Enggak, Hyung..."

 

Jawaban itu seperti memutus tali kendali terakhir yang menahan kewarasan Shinyu selama ini. Sebuah senyum miring yang liar muncul di wajah tampan sang senior.

 

"Bagus kalau gitu. Karena aku gak berniat buat main pelan-pelan malam ini.“

 

Shinyu langsung membalikkan tubuh Keonho dengan kasar agar menghadap ke dinding bilik yang dingin, memaksa juniornya itu sedikit membungkuk hingga dalam posisi menungging. Sambil mengunci posisi pinggul Keonho dari belakang, Shinyu menundukkan kepalanya, menyiumi dan menjilati leher Keonho dengan rakus, meninggalkan tanda gigitan kemerahan yang memicu lenguhan dari mulut Keonho.

 

Tangan Shinyu lalu bergerak cepat ke bawah, melepaskan ciumannya pada leher Keonho tepat saat tangannya mencengkeram pinggiran celana Keonho bersama celana dalamnya. Dengan sekali hentakan yang tidak sabaran, Shinyu menarik kedua celana itu turun sampai lolos ke batas lutut, mengekspos pantat dan paha mulus Keonho sepenuhnya ke udara toilet yang dingin. Setelah itu, dengan gerakan yang sama terburu-burunya, Shinyu menurunkan ritsleting celananya sendiri, mengeluarkan penisnya yang sudah menegang keras.

 

Shinyu kemudian mengumpulkan air ludah di mulutnya sendiri, lalu meludah cukup banyak langsung ke telapak tangan kirinya. Dengan gerakan yang kasar, Shinyu mengoleskan air ludah yang basah dan kental itu ke penisnya sendiri, lalu sisa lendir di tangannya langsung diratakan di lubang Keonho, memberikan sensasi basah yang instan di area sensitif tersebut.

 

"Hyung, langsung...? Nanti sakit…, Hyung... ah," bisik Keonho panik saat merasakan ujung keras penis Shinyu sudah menekan lubangnya tanpa aba-aba.

 

"Tahan sebentar, Keonho," balas Shinyu serak.

 

Tanpa memberikan waktu bagi Keonho untuk bersiap, Shinyu langsung mendorong penisnya masuk ke dalam lubang ketat Keonho dalam satu sentakan penuh yang liar dan sangat dalam.

 

"Mmmph—!" Keonho refleks menutup mulutnya sendiri, matanya berair seketika karena rasa penuh yang luar biasa padat mendesak masuk secara paksa ke dalam tubuhnya. Punggungnya melengkung kaku menerima hantaman instan yang begitu besar.

 

Shinyu bener-bener tak memberi ampun. Dia langsung bergerak dengan ritme yang sangat cepat dari belakang, menghantam lubang Keonho tanpa jeda. Gerakan pinggul Shinyu benar-benar memompa tubuh Keonho habis-habisan. Akibatnya, tubuh lentur Keonho diguncang hebat, menghasilkan suara hantaman kulit yang basah, becek, dan sangat berisik di dalam bilik yang pengap itu. Keonho bener-bener terengah-engah, kewalahan setengah mati menghadapi kecepatan seniornya.

 

"H-Hyung... ah! C-cepat banget... mmmph... pelan... pelan sedikit, Hyung..." racit Keonho di sela-sela nafasnya yang putus-putus.

 

Shinyu tidak menurunkan temponya sama sekali; dia malah semakin mempercepat hantamannya dari belakang, mencengkeram pinggang Keonho dengan urat-urat tangan yang menonjol sampai meninggalkan bekas kemerahan di kulit mulus juniornya.

 

"Gak bisa pelan-pelan, Sayang. Kalau kelamaan nanti kamu dicariin sama manajermu," bisik Shinyu penuh di ceruk leher Keonho yang sudah basah oleh keringat.

 

"Kenapa ditahan suaranya, Keonho?" lanjut Shinyu.

 

Shinyu sengaja menjeda kalimatnya. Detik berikutnya, dia menarik pinggulnya mundur lalu menghentakkan kembali penisnya ke dalam dengan satu tumbukan yang sangat keras dan dalam. Hantaman kasar itu membuat tubuh Keonho bergetar hebat ke depan, membuat lubangnya meremas penis Shinyu semakin kuat. Ia masih menahan desahannya sekuat mungkin agar tidak keluar terlalu keras.

 

"Kenapa? Takut ketahuan?" goda Shinyu lagi dengan nada berbisik yang kotor di telinga Keonho yang memerah.

 

"Takut orang-orang tahu kalau kamu lagi becek karena dipake sama seniornya gini, ya?"

 

"N-nggak... ah! Hyung... mmmph," Keonho menggelengkan kepalanya panik, air matanya menetes bebas ke dinding toilet, sementara dia terus mencoba menahan suaranya dengan menggigit bibirnya sendiri sampai membekas.

 

Tiba-tiba, terdengar suara pintu utama toilet luar yang dibuka. Langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan.

 

"Halo? Ada orang di dalam?" tanya orang itu dengan suara keras dari samping wastafel.

 

Seketika itu juga, gerakan liar Shinyu terhenti. Tubuh Keonho mendadak menegang kaku, dan reaksi spontan itu membuat lubangnya menjepit penis Shinyu dengan sangat ketat. Jantung Keonho rasanya mau lepas. Dia memutar kepalanya sedikit ke belakang, menatap Shinyu dengan mata yang basah dan penuh kepanikan, memohon agar mereka tetap diam sampai orang itu pergi.

 

Namun, Shinyu justru tersenyum nakal. Sisi liar di dalam dirinya benar-benar keluar karena adrenalin yang terpacu. Bukannya diam, Shinyu malah mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan pinggulnya sedikit lebih dalam ke lubang Keonho, sengaja menggesek titik terdalam juniornya itu dengan senggatan kecil yang mematikan, membuat Keonho hampir saja meloloskan jeritan keras kalau dia tidak buru-buru menggigit bibirnya sendiri hingga terasa ngilu.

 

"Jawab, Keonho-ya," bisik Shinyu sangat rendah, panas, dan berbahaya tepat di telinga Keonho.

 

"Ngomong ke dia kalau ada orang... atau aku gerakin sekarang juga? Biar dia tahu kita lagi ngapain di dalam sini."

 

Mata Keonho melebar penuh ketakutan mendengarkan ancaman gila dari seniornya. Di bawah tekanan yang luar biasa menegangkan antara takut ketahuan dan rasa nikmat yang menumpuk di bawah sana, Keonho terpedaya. Dia terpaksa mengumpulkan seluruh sisa suaranya yang gemetar, mencoba menstabilkan napasnya mati-matian agar terdengar senormal mungkin.

 

"I-iya... ada orang di dalam," sahut Keonho agak keras, suaranya sedikit pecah dan serak di ujung kalimat karena tepat saat dia bicara, Shinyu sengaja memberikan satu hentakan kecil dari belakang yang mengocok lubangnya.

 

Mendengar jawaban dari bilik ujung, orang di luar tampak mengangguk paham.

 

"Oh baiklah, pantas ada suara, saya pikir ada yang lain-lain.“

 

Tak lama kemudian, suara langkah kakinya menjauh dan pintu utama toilet kembali tertutup rapat. Berdentum.

 

Begitu pintu luar berbunyi tanda sudah terkunci kembali, suasana toilet terasa kembali aman. Namun, adrenalin tinggi akibat ketakutan ketahuan dan ancaman gila Shinyu tadi justru membuat gairah di antara keduanya meledak menjadi lebih liar dan tidak terkendali.

 

Shinyu tiba-tiba menarik penisnya keluar sepenuhnya dari tubuh Keonho, menimbulkan suara basah yang sangat kotor. Keonho melenguh kehilangan seketika, tubuh bagian bawahnya terasa dingin dan hampa, membuatnya bertumpu lemas pada dinding bilik dengan lubang yang tampak memerah dan basah oleh sisa cairan ludah Shinyu.

 

"Sini, balik badan kamu," perintah Shinyu dengan suara yang sudah serak parah akibat menahan puncak. Dia mencengkeram kasar kedua bahu Keonho, memutar paksa tubuh juniornya lalu mendorongnya untuk duduk di atas penutup kloset yang tertutup.

 

"Angkat kaki kamu, buka yang lebar ke atas dada kamu. Aku pengen liat muka cantik kamu pas aku masukin."

 

Keonho yang kesadarannya sudah setengah melayang oleh gairah yang membakar tidak bisa menolak lagi. Dia duduk di atas penutup kloset, mengangkat kedua kakinya yang gemetar hebat dan mengekspos lubangnya ke hadapan wajah Shinyu. Cairan pelumas alami yang kental bercampur sisa air ludah yang becek terlihat jelas mengalir di sana, membuat pemandangan itu terlihat sangat kotor dan merangsang Shinyu.

 

Sebelum menghantam lubang Keonho lagi, tangan kanan Shinyu bergerak turun. Dia mencengkeram penis Keonho yang sudah tegang dan mulai mengocoknya dengan gerakan yang cepat dan kasar. Gesekan tangannya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi Keonho menciptakan suara desis lendir yang kotor. Bersamaan dengan kocokan kasarnya, Shinyu memajukan pinggulnya dan kembali mendorong masuk penisnya ke dalam lubang Keonho dalam satu hentakan yang kasar.

 

"Ahhh-h! Hyung! emph... akhh!" Keonho mendongak keras sampai kepalanya menabrak dinding belakang, tangannya mencengkeram pahanya sendiri dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

 

Sambil terus mengocok penis Keonho di tangannya, Shinyu memacu gerakan pinggulnya dari depan, menusuk lubang hangat juniornya itu tanpa ampun dengan ritme yang sangat cepat dan bertenaga. Dia menunduk, menatap wajah Keonho yang hancur berantakan karena kepuasan, lalu membisikkan kata-kata kotor tepat di depan bibirnya yang basah.

 

"Kamu dari tadi sibuk banget nutupin mulut, padahal punya kamu di bawah sini udah tegang banget minta dikocok," goda Shinyu dengan suara serak, jemarinya semakin cepat naik-turun mengurut penis Keonho yang berkedut hebat.

 

"Tapi percuma kan aku kocok gini? Ini gak guna kalau kamu lebih suka dirodok kasar sampai jebol kayak gini.”

 

"Ah... Hyung... mmmph! Jangan... mulutnya j-jorok banget... ah! Terus... rodok terus, Hyung!" Keonho benar-benar kalah total. Dia meracau lirih, sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Guncangan tubuh cantiknya sangat berantakan, air liurnya sendiri mulai menetes ke dagu karena dia sudah tidak bisa lagi mengontrol ekspresi wajah dan otot-otot tubuhnya di depan sang senior.

 

Setiap hentakan dari Shinyu membuat pantat Keonho menabrak penutup kloset berulang-ulang kali, menciptakan suara hantaman yang berisik, berantakan, dan acak-acakan di dalam bilik seolah-olah ruangan sempit itu mau runtuh.

 

"Kamu bener-bener cantik banget kalau lagi berantakan kayak gini. Sempit, becek... persis kayak pelacur."

 

“Hyunghh.. ahhh… ummhh,” desah Keonho berantakan, tak biss membalas ucapan seniornya yang memalukan.

 

Shinyu makin gila saat mendengar desahan pasrah Keonho. Dia mempercepat gerakannya secara brutal, menumbuk titik terdalam lubang Keonho berkali-kali dengan ritme yang mematikan, sementara tangan kanannya terus memompa penis Keonho hingga batas akhir. Keringat dari dahi Shinyu menetes bebas, jatuh mengenai dada dan perut Keonho yang terekspos karena bajunya terangkat, membuat suasana penyatuan mereka malam itu sangat kotor, basah, dan kacau-balau.

 

"Ah... Hyung... mmmph... gila... hancur... aku mau keluar, Hyung! Udah gak kuat... ah!" Keonho memekik lirih, seluruh tubuhnya bergetar hebat menghadapi orgasme yang sudah berada di ujung tanduk. Dinding dalam lubangnya menjepit penis Shinyu dengan kedutan yang luar biasa ketat, seolah memeras penis seniornya agar ikut keluar.

 

"Bareng, Princess," balas Shinyu dengan napas terengah-engah yang panas, matanya menggelap penuh kepuasan.

 

Mengingat melakukannya tanpa pengaman, Shinyu tahu benar kapan harus menarik diri sebelum terlambat. Begitu merasakan semburan cairan pelepasan Keonho keluar memancar berantakan akibat kocokan tangannya dan hentakan pinggulnya, Shinyu memberikan tiga tumbukan keras terakhir yang sangat dalam, lalu dengan sentakan kuat yang kasar, dia menarik dirinya keluar tepat waktu sebelum cairannya memancar di dalam.

 

Cairan putih kental Shinyu lalu memancar deras, menyemprot berantakan di atas lantai ubin toilet yang dingin, sebagian mengenai paha, dan sela-sela kaki Keonho yang masih terbuka lebar di atas kloset. Cairan mereka bercampur di sana, menciptakan pemandangan yang benar-benar kotor dan berantakan.

 

Keonho langsung terkulai lemas seperti boneka kain di atas kloset, ia melepaskan pegangan pada kakinya sendiri, membiarkan kakinya jatuh hingga ia terduduk diatas kloset. Napasnya memburu parah dengan dada yang naik turun dengan cepat, matanya terpejam menikmati sisa kedutan pasca-orgasme. Bilik toilet itu sangat berantakan dan pengap oleh aroma intim yang pekat serta sisa cairan yang berceceran.

 

Shinyu membiarkan mereka berdua mengatur napas selama beberapa menit di dalam bilik sempit itu, membiarkan detak jantung mereka kembali normal. Perlahan, sisi liar di dalam diri Shinyu luntur, kembali bertransisi menjadi sosok senior yang lembut dan penuh perhatian.

 

Shinyu menarik segulung tisu toilet yang banyak, lalu dengan telaten dan lembut membantu membersihkan sisa-sisa cairan putih yang berantakan di lantai ubin, di paha dan di sela kaki Keonho sampai benar-benar bersih tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Shinyu kemudian membantu Keonho berdiri dari kloset, memakaikan dan merapikan kembali celana juniornya itu seperti semula. Dia bahkan sempat membenahi rambut Keonho yang basah oleh keringat dengan gestur yang sangat manis, lalu merapikan pakaiannya sendiri.

 

"Yuk, keluar. Nanti manajermu nyariin," ucap Shinyu santai dengan senyum tipisnya yang biasa, kembali ke mode senior yang tenang dan berwibawa, seolah-olah aktivitas liar dan kotor di dalam bilik toilet tadi tidak pernah terjadi.

Notes:

Pengen nyoba buat yang jorok, tapi ini aja gemetar sendiri ngetiknya.

Siapa setuju kalau Keonho memang cantik? (Shinyu jawab iya). Memang Cocok sih jadi princess.