Work Text:
di gerbong paling belakang kereta malam itu, sayang. oh sayangku yang pipinya sebulat bakso lapangan saat mengunyah wafer cokelat kesukaan. sayangku yang pipinya semerah buah delima saat hembusan pendingin menerpa wajah yang berkilauan. sayangku yang ujung bibirnya tertarik ke atas saat aku hapus bekas remahan yang mampir di pipi sebelah kanan.
aku menoleh ke kursi sebelah dan menemukan kamu menahan kepala untuk tidak bersandar. mengapa begitu sayang? padahal, bahu ini hanya dibuat oleh tuhan sebagai tempat kamu beristirahat. namun aku paham, mungkin beberapa pasang mata yang menempel di belakang kepala tidak akan pernah terasa nyaman.
apa tidak bisa kita pergi dari sini dan menikmati ruangan berdua, sayang? sempit pun tak apa, akan aku akomodir kakimu yang jenjang dan lenganmu yang panjang. empat dinding itu pasti muat untuk menampung cinta dua anak adam yang selalu bergelimang.
sekarang percaya dengan aku ya?
akan aku gandeng jemari lentikmu menuju gerbong paling belakang di rangkaian kereta mewah. entah apa yang akan kita temui disana, namun janjiku adalah tanganmu akan selalu hangat di dalam dekapan.
puluhan pasang kursi kita lewati dari lorong yang sempit. tersenggol di kanan dan kiri namun tautan jari ini tidak pernah menjadi sepi, yang ada malah lebih kamu genggam erat, seakan-akan takut akan ditinggal di belakang.
sayangku, asal kamu tahu, akan aku arungi pulau dan samudera hanya untuk menjemput cintamu yang selalu menjadi penerang malamku. membawa berapa ratus meter untukmu, bukanlah apa-apa dibanding berapa juta langkah yang rela aku beri untuk menebus ciuman singkat dari dirimu.
lalu, kita bertemu dengan pintu kaca yang memperlihatkan ekor dari setiap rel yang sudah dijajaki oleh kereta. kamu sontak tertawa dan menunjuk mesin penjual otomatis di sebelah kanan. haus rupanya kesayanganku.
di depan jejeran minuman yang beragam, kamu bergumam sembari menimbang-nimbang botol mana yang akan jatuh dalam genggaman. telunjukmu meraba susu coklat dari kaca terluar, lalu bergeser ke minuman isotonik berwarna biru cerah, lalu bergeser lagi ke sebotol kola yang terlihat menggigil dari luar. jarimu berhenti di sana untuk beberapa detik sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk memasukkan koin dan memilih sebotol air putih dingin.
aku terkekeh dan menyenderkan punggung ke dinding kereta yang beku. dinginnya malam ternyata tidak memberi ampun untuk siapapun ya, sayang? bulu kudukku meremang dan sebelum kamu ikut merinding, aku taruh tangan kananku di belakang punggung agar kamu tidak kedinginan. kamu yang hendak menaruh punggung ke belakang kaget karena bukan dingin yang kamu sapa melainkan telapak tanganku yang mengantarkan hangat.
walau punggung tanganku rasanya seperti tersetrum listrik saat bergesekan dengan permukaan besi yang berembun, tanganmu kirimu yang sekarang bertapa di atas paha dan meremasnya pelan sebagai tanda terimakasih sukses membawa kembali hangat yang aku rasakan. kamu dan seribu caramu untuk membuatku sebagai manusia paling bahagia di dunia.
pundak kita bersebelahan. kamu teguk air putih dinginmu dan kamu oper ke tanganku saat botolnya sisa setengah. dengan senang hati aku cicip rasamu dari bibir botol yang masih basah. aku sisakan sedikit agar bisa kamu teguk lagi saat dahaga masih membandel di ujung tenggorokan.
earphone kabel yang menjuntai di sebelah kanan terlihat menganggur, sayang. boleh tidak ya aku ikut mendengar apa yang memenuhi gendang telingamu? aku ingin tahu segala apapun yang mampir di kepala cantikmu. lagu, tulisan, pendapat, lukisan — apapun itu aku ingin tahu. betapa beruntungnya mereka yang sempat hidup barang sepetak di pikiranmu.
setelah aku pinta, kamu taruh earphone yang menganggur itu ke telingaku. oohh jadi ini yang sedang kamu dengarkan. kamu tersenyum sambil menunjukkan judulnya di layar telefon genggam. aku jadi ikut menarik ujung bibir — bukan, bukan karena tersanjung dengan lagu yang kamu dengar, namun tertular senyummu yang selalu berkilauan walau di bawah lampu yang menyilaukan mata.
lalu kepalamu akhirnya bersandar dan berbagi sedikit beban dengan pundakku yang lebar untukmu seorang. rambut hitam legam yang lurus menghadiahkan gelitik di wajahku, namun semuanya tetaplah mulia jika datangnya dari kamu.
aku genggam lagi tanganmu dan cium punggungnya sebelum aku taruh di dekat paha. semoga kamu tidak kedinginan ya sayang walau kamu hanya memakai kaos putih polos yang sedikit transparan.
aku berdoa agar perjalanan kereta ini memberikan kita waktu sedikit lebih lama untuk memadu mesra. di ujung gerbong ini lah yang bisa kita anggap aman untuk sekedar bergandengan tangan dan bersandar. setidaknya botol-botol kedinginan di dalam mesin itu tidak akan menaruh pandangan penuh tanya kepada kita. bingar yang dibagi pun hanya suara nafas kita dan suara rel yang berderu di bawah sana.
disini lebih lama ya sayang?
kamu jawab resahku dengan merapatkan tubuh kita sampai tidak ada lagi ruang untuk udara menjadi penghalang. dada bertemu dada, perut bertemu perut. begini kah sayang caramu untuk berkata aku lebih suka berhimpitan denganku disini daripada kembali duduk di kursi empuk itu?
oh sayangku, cintaku, kasihku, ohyul. semoga tuhan berikan lagi ya gerbong nir penumpang yang dapat membungkus cinta kita rapat. atau kalau dunia berubah menjadi lebih baik, kursi kelas bisnis itu bisa diduduki oleh dua anak adam yang tidak pernah lepas dari satu sama lain. selimut kita akan terbentang dari ujung kursi ke kursi lainnya sembari menyembunyikan tautan jari yang berkelit.
sampai hari itu datang, tolong janjikan aku untuk selalu bersama ya, sayang? aku tidak perlu cinta yang suarnya menggema sampai satu dunia ataupun berseri seperti emas. aku hanya butuh kamu seutuh-utuhnya dan senyata-nyatanya — tidak perlu dipoles karena sudah aku terima kamu apa adanya.
