Work Text:
Suasana desa di pinggiran kota selalu punya caranya sendiri untuk membuat waktu terasa melambat. Lando, atau yang sering dipanggil warga desa sebagai 'kembang desa' saking manis dan montoknya tubuh pemuda itu, sedang sibuk di halaman belakang rumah. Ia mengenakan kaos singlet putih yang sudah agak tipis karena sering dicuci, melekat pas di tubuhnya yang berisi dan menonjolkan lekuk pinggulnya yang membuat siapa pun yang melihat pasti salah fokus. Lando sedang menjemur kain batik di bawah sinar matahari sore yang mulai meredup, bokongnya yang montok sesekali bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Ia tidak sadar bahwa di balik pagar bambu, Oscar, teman karibnya sejak kecil, sudah memperhatikan sejak tadi.
Oscar berbeda. Jika Lando adalah definisi kelembutan, Oscar adalah pria dengan bahu lebar dan punggung bidang yang kokoh. Sebagai pemuda desa yang kesehariannya membantu ayahnya mengurus sawah dan ternak, otot-otot di tubuh Oscar terbentuk alami, keras dan berwibawa. "Ngapain bengong di situ, Car?" Lando menoleh, menyadari kehadiran sahabatnya. Wajahnya yang manis memerah saat mendapati tatapan Oscar yang intens.
Oscar melangkah masuk, kakinya yang panjang melintasi pematang dengan tenang. Ia berdiri tepat di belakang Lando, jarak mereka sangat tipis hingga Lando bisa mencium aroma tanah basah dan keringat jantan dari tubuh sahabatnya itu. "Gerah, Lan. Tadi abis bantu Bapak di ladang," suara Oscar rendah, serak, dan berat. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk membantu menjemur, melainkan memegang pinggang Lando dengan tangannya yang besar dan kasar.
Lando tersentak, tubuhnya yang empuk terasa tenggelam dalam cengkeraman Oscar. Ia bisa merasakan bagaimana memek-nya berkedut hanya dengan sentuhan sederhana itu. Di desa ini, rahasia mereka adalah rahasia umum yang hanya disimpan berdua. Lando yang selalu minta 'dijaga' dan Oscar yang memang tidak punya niat untuk melepaskan miliknya. "Car... nanti ada orang lewat," bisik Lando pelan, meski kepalanya sudah bersandar nyaman di dada bidang Oscar yang terasa seperti tembok beton.
"Nggak ada siapa-siapa," gumam Oscar di dekat telinga Lando. Tangannya kini meremas pinggul Lando yang padat, menarik tubuh yang lebih kecil itu semakin menempel pada tubuhnya yang lebar. "Rumah lagi sepi, Lan. Cuma ada kita." Sore itu, di antara desir angin sawah dan suara jangkrik yang mulai bersahutan, Lando tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya. Di balik rimbunnya pohon pisang di samping rumah, Oscar siap untuk memanjakan sahabatnya, menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kendali atas tubuh montok Lando yang selalu merindukan sentuhan keras pria itu.
Oscar tidak membiarkan Lando menjauh. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan tubuh Lando hingga pemuda itu terpojok di dinding kayu gudang alat tani yang menghadap langsung ke arah pematang sawah terbuka. Sore itu, jalan setapak di depan rumah memang sedang sepi karena warga desa masih berada di ladang, tapi risiko terlihat selalu ada dan justru itu yang membuat adrenalin mereka terpacu.
"Car, ini terlalu terbuka..." bisik Lando, napasnya memburu. Namun, tangannya justru mencengkeram erat bahu lebar Oscar, menarik pria itu lebih dekat.
Oscar tidak peduli. Ia menarik sedikit kaos singlet Lando ke atas, membiarkan dadanya terpapar udara sore yang mulai dingin. Begitu kain itu tersingkap, sepasang puting Lando yang memang sangat sensitif langsung menegang dan ngacung keras menantang udara. Oscar tersenyum miring, lalu tanpa ragu menjepit salah satu pentil Lando di antara jari-jarinya yang kasar, memelintirnya pelan hingga Lando mendesah panjang.
"Liat betapa antusiasnya kamu, Lan" suara Oscar berat di depan wajah Lando. Lando hanya bisa memejamkan mata, kepalanya mendongak. Di balik celana pendeknya, Lando sudah bisa merasakan sensasi hangat yang menjalar. Memek-nya sudah mulai becek, membasahi pakaian dalamnya hingga terasa lengket dan sangat sensitif terhadap setiap gesekan. Ia merasa sangat tidak berdaya, namun di saat yang sama sangat menikmati posisi di mana ia bisa dinikmati kapan saja, di mana saja oleh Oscar.
Oscar meraba bagian depan celana Lando yang sudah basah, mengusapnya dengan ibu jari hingga Lando melengkungkan punggungnya. Lando merasa seperti kembang desa yang siap dipetik; tubuhnya gemetar hebat. Oscar tidak memberikan ampun, ia menempelkan tubuhnya yang keras ke depan milik Lando, membuat gesekan yang membuat cairan dari memek Lando semakin mengalir deras.
"Kalau ada yang lewat, biarin aja mereka liat siapa yang punya kamu," bisik Oscar, tangannya kini menyelinap masuk ke dalam celana Lando, langsung menyentuh kulit yang sudah sangat basah dan panas.
Lando semakin meracau, memek-nya berkedut liar saat jari-jari Oscar mulai bermain di sana, menyapu setiap inci dengan ritme yang lambat namun menekan. Di tengah pematang yang terbuka, dengan suara gesekan kulit dan napas yang beradu, Lando menyerahkan segalanya pada Oscar, tidak lagi peduli pada risiko ketahuan, hanya fokus pada sensasi yang membakar tubuhnya.
Oscar tidak membuang waktu. Ia menekan pinggul Lando semakin kuat ke dinding kayu, memaksanya untuk lebih membuka diri. Jari-jari Oscar yang kasar kini mulai menelusup masuk ke dalam lubang memek Lando yang sudah banjir. Begitu satu jari masuk, Lando langsung mendongak, punggungnya melengkung tajam.
"Ahhh... ngghhh, C-Car... jangan... nanti ada yang denger..." desah Lando panjang, suaranya parau tertahan, beradu dengan suara angin di sela-sela batang padi.
Oscar tidak berhenti. Ia menggerakkan jarinya dengan ritme yang sengaja dibuat lambat namun dalam, menghantam titik sensitif di dalam sana yang membuat Lando langsung menjerit pelan. "Ah! Ahhh, Oscar... gila... ssshh... jangan di situ..." Lando meremas bahu lebar Oscar dengan jari-jarinya yang gemetar, kakinya terasa lemas menopang berat badannya sendiri.
Setiap kali Oscar menekan bagian dalam memeknya, desahan Lando semakin tak terkendali. "Nghhh... becek banget... Car, ssshh... penuh... aahh!" Ia bahkan tidak bisa lagi menahan suaranya agar tidak keras. Lando benar-benar menyerah, membiarkan suaranya bergema di area terbuka itu, seolah menantang siapa pun yang mungkin kebetulan lewat di pematang sawah.
Oscar menyeringai melihat Lando yang sudah benar-benar hilang kendali. "Biarin mereka denger, Lan. Biar mereka tau siapa yang bikin kamu basah kayak gini," bisik Oscar di telinganya.
Lando hanya bisa membalas dengan lenguhan panjang yang makin nyaring. "Aahhh! Oscar, kenceng banget... nghhh... ah! Jangan berenti... aahhh... aku nggak tahan..." Puncaknya, Lando merasakan memeknya berkedut hebat, cairan makin meluap membasahi jari-jari Oscar. Ia mendesah panjang, suaranya pecah di tengah sunyinya senja, tubuhnya lemas tak berdaya di pelukan pria yang kini benar-benar mendominasi seluruh keberadaannya.
Oscar menarik jarinya keluar dengan gerakan mendadak, membuat Lando merintih protes. Namun, Oscar segera menggantinya dengan gesekan telapak tangannya yang lebar, menekan tepat di atas bukit kemaluannya yang sensitif, memutar dan menekan dengan ritme yang jauh lebih brutal.
"Nghhh! A-ahhh! Car, jangan begitu... aahhh!" desah Lando tak beraturan. Napasnya terputus-putus, kepalanya terkulai di bahu Oscar, membiarkan tubuhnya diguncang oleh setiap tekanan yang diberikan Oscar.
Lando bisa merasakan sensasi itu merambat naik dari dasar perutnya, terkumpul menjadi satu titik panas yang sangat menyiksa sekaligus nikmat. Memek-nya berkedut liar, becek luar biasa hingga cairan bening mulai menetes turun, membasahi paha bagian dalamnya dan tanah di bawah kaki mereka.
"Car, ssshh... nggak kuat... aahh! Aaahhh!" Suara desahan Lando kini lebih melengking, menggema di sela-sela heningnya sore hari. Oscar tidak melepaskan tekanannya, justru menambah intensitas dengan meremas bokong montok Lando, memaksanya menempel lebih erat agar gesekan mereka terasa lebih dalam.
Lando meracau, matanya berkaca-kaca menahan puncak kenikmatan yang sudah di depan mata. Saat Oscar memberikan tekanan terakhir yang sangat dalam pada titik sensitifnya, pertahanan Lando hancur.
"AAAAHHHHHHH!”
Lando menjerit tertahan, tubuhnya menegang hebat. Bersamaan dengan desahan panjang yang nyaris melengking, cairan bening itu menyemprot keluar, membasahi celana dan tangan Oscar yang masih setia memeganginya. Squirting itu terjadi cukup deras, membuat napas Lando benar-benar habis. Ia terkulai lemas di pelukan Oscar, dadanya naik-turun dengan cepat sementara putingnya masih menegang keras, sisa-sisa kenikmatan masih terasa berdenyut di dalam memek-nya yang masih basah kuyup.
Oscar tertawa rendah, suara yang terdengar sangat puas dan dominan. Ia membiarkan Lando yang masih gemetar di pelukannya, menikmati pemandangan bagaimana sahabat karibnya itu benar-benar tak berdaya di tangannya.
Setelah squirting yang menguras tenaganya, Lando hanya bisa bersandar lemas pada dada bidang Oscar. Tubuhnya masih gemetar hebat, napasnya memburu tak beraturan, dan overstimulasi yang ia rasakan membuatnya benar-benar kehilangan akal sehat. Matanya sayu, menatap Oscar dengan tatapan kosong dan pasrah, seolah jiwanya baru saja melayang.
Oscar tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Ia tahu Lando sudah dalam kondisi overstimulated, sangat peka, dan tidak bisa berpikir jernih. Dengan gerakan yang penuh dominasi, Oscar membuka celananya sendiri, membebaskan kejantanannya yang sudah berdiri tegak dan keras.
"Cantik, liat aku," bisik Oscar, suaranya parau penuh gairah. Ia menempelkan kepala kejantanannya yang panas tepat di depan lubang memek Lando yang masih berdenyut dan basah kuyup. "Aku mau kamu hamil. Biar semua orang di desa ini tau, kamu cuma punya aku."
Lando yang otaknya sudah terasa kosong hanya mengangguk pelan, bibirnya terbuka sedikit mengeluarkan desahan tak sadar. "Iya... masukin... hamilin aku, Car... buat aku hamil..." ucapnya dengan suara serak, sudah tidak peduli pada harga diri atau siapa pun yang mungkin melihat.
Tanpa basa-basi lagi, Oscar mendorong pinggulnya kuat-kuat. Dengan satu sentakan keras, kejantanannya yang besar menerjang masuk ke dalam memek Lando yang sempit dan panas.
"AAAAHHH! SHHH!!!" Lando melengking, kepalanya mendongak ke belakang saat kejantanan Oscar merobek masuk hingga ke dasarnya. Rasa penuh yang menyiksa itu bercampur dengan kenikmatan luar biasa yang membuat otak Lando benar-benar blank.
Oscar mulai menghentak dengan ritme yang buas dan tidak kenal ampun. Setiap kali ia menghantam, tubuh Lando ikut terhentak, menabrak dinding kayu gudang. "Ah! Ah! Aaaah! Car! Dalem banget! Aaaaah!" Lando terus meracau, tangannya meremas kencang baju Oscar sementara air matanya menetes karena intensitas yang terlalu hebat.
Di tengah pematang sawah yang sunyi itu, Oscar terus memompa dengan penuh tekad, menanamkan benihnya jauh di dalam rahim Lando, memenuhi janji posesifnya untuk membuat sahabat karibnya itu mengandung anaknya. Lando, yang sudah kehilangan akal sehatnya, hanya bisa terus mengiyakan setiap hantaman, menikmati nasibnya yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Oscar.
Hantaman Oscar yang brutal di tengah pematang sawah itu mendadak terhenti saat telinga mereka menangkap suara gemersik daun dan langkah kaki di kejauhan. Seseorang entah petani yang pulang terlambat atau warga desa lainnya tengah berjalan menyusuri jalan setapak yang hanya berjarak beberapa meter dari gudang kayu mereka.
Lando, yang setengah sadar karena overstimulasi dan kejantanan Oscar yang masih tertanam dalam di dalam memek-nya, langsung tersentak panik. Matanya membelalak, air mata mulai mengalir di pipinya karena ketakutan yang bercampur dengan rasa nikmat yang masih berdenyut kencang.
"C-Car... ada orang..." bisik Lando gemetar, suaranya tercekat. Ia meremas bahu Oscar dengan panik, air mata menetes dari sudut matanya. "Sembunyi... tolong, jangan sampai ketahuan... aku takut..." isaknya pelan, memohon dengan wajah yang memerah padam karena gairah dan ketakutan.
Oscar mendecih, namun ia tidak kehilangan akal. Dengan masih menyatukan tubuh mereka, kejantanannya yang berdenyut masih tertanam dalam di lubang memek Lando lalu Oscar mendekap tubuh montok sahabatnya itu. Ia memutar posisi mereka dengan cepat, menarik Lando yang lemas ke balik tumpukan papan kayu tua yang bersandar di balik pohon besar di sudut belakang gudang.
Tempat itu cukup tersembunyi, gelap, dan tertutup rapat. Mereka berdua terhimpit di antara pohon besar dan papan-papan kayu yang lapuk.
"Sshhh," bisik Oscar, napasnya terasa panas di leher Lando. Ia mencengkeram pinggang Lando semakin erat, menekan tubuh mereka agar tidak ada celah. "Diem, kalau kamu gak mau mereka denger suara kamu."
Lando menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis dan erangan yang nyaris meledak. Posisi mereka yang sangat rapat membuat kejantanan Oscar di dalam sana terasa semakin menyesakkan, setiap napas Lando terasa berat karena tertahan. Di luar, suara langkah kaki terdengar makin mendekat, lalu perlahan menjauh seiring bayangan seseorang lewat di balik papan kayu tersebut.
Saat orang itu benar-benar hilang dari pandangan, Oscar justru menyeringai jahat. Ia tidak mencabut miliknya, justru mulai menghentak kembali dalam tempo yang lebih lambat namun lebih dalam, sengaja memanfaatkan ketakutan Lando untuk membuat pria itu semakin basah."Bagus, Lan. Kamu makin sempit," bisik Oscar di telinganya.
Lando hanya bisa merintih tertahan, membenamkan wajahnya di dada bidang Oscar. Air matanya masih mengalir, bukan lagi karena takut, tapi karena sensasi penetrasi yang terasa jauh lebih intens di tempat persembunyian yang sempit dan pengap ini. Ia benar-benar tidak punya pilihan selain pasrah, membiarkan Oscar melampiaskan segalanya di sana, di balik papan kayu yang menjadi saksi bisu kebejatan mereka.
Tepat saat Oscar memberikan hentakan yang dalam, sebuah bola plastik berwarna terang menggelinding jatuh tepat di samping tumpukan papan kayu tempat mereka bersembunyi. Bruk!
Lando tersentak hebat. Tubuhnya menegang di bawah kungkungan Oscar. Detik berikutnya, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat. Seorang anak laki-laki kecil muncul di balik papan, matanya membulat saat melihat sekilas bayangan dua orang dewasa yang tampak berhimpitan di balik pohon.
Oscar membeku, namun ia tidak menarik kejantanannya. Ia justru menahan gerakan pinggulnya dan membekap mulut Lando dengan telapak tangannya yang besar.
"Nghhh-mmphhh!" desah Lando teredam, matanya terbelalak menatap anak kecil itu dengan air mata yang masih mengalir di pipi. Kejantanan Oscar yang masih tertanam di dalam memek-nya terasa makin membesar karena gairah yang tertahan, membuat Lando kewalahan. Seluruh otot perutnya menegang, menahan diri agar tidak melepaskan desahan keras yang akan mengkhianati mereka.
Anak kecil itu mengambil bolanya dengan cepat, mungkin merasa aneh melihat dua pemuda yang tampak berpelukan erat di tempat gelap, lalu lari menjauh sambil tertawa kecil.
Begitu jejak langkah anak itu hilang sepenuhnya, Oscar melepaskan bekapannya dan langsung meledak. Ia tidak lagi menahan diri. Dengan punggungnya yang bidang, ia menghantamkan tubuh Lando ke batang pohon dengan ritme yang buas dan tidak manusiawi.
"Akh! Aaaah, C-Car... pelan... ah! Ah! Ahhh!" Lando mulai kehilangan kendali. Sensasi overstimulated di memek-nya sudah mencapai batas. Ia merasa kandung kemihnya sudah sangat penuh desakan untuk kencing itu bercampur dengan kenikmatan seksual yang meledak-ledak.
Oscar meremas pantat montok Lando, memaksanya menungging lebih dalam. Setiap sodokan Oscar terasa seperti menghantam rahim Lando secara langsung.
"Nghhh... Car... aku... aku mau keluar... aahhh... aku mau pipis... ahhh!" racau Lando, kepalanya terkulai lemas di pundak Oscar. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi. Air seni yang sudah di ujung jalan, bercampur dengan cairan nikmat dari memek-nya, mulai menetes bersamaan dengan cairan Oscar yang mulai mengalir deras memenuhi rahimnya.
Oscar menggeram rendah, otot-otot bahunya menegang saat ia mencapai puncaknya. Ia menghujamkan miliknya sampai ke titik terdalam, memompa benihnya berkali-kali tanpa ampun, sementara Lando menjerit panjang. Kombinasi antara jeritan kenikmatan, isak tangis, dan kelegaan saat ia benar-benar melepaskan segalanya di balik pohon tua itu.
