Actions

Work Header

Yang Ditunggu

Summary:

Hinata ke Brazil tapi tidak pamit dengan benar pada Yachi?

Work Text:

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah gorden milik kamar seorang gadis berambut pirang. Menyilaukan netra sang gadis dan membuatnya terbangun. Terbangun dari tidurnya dengan sekelebat ingatan mengenai kejadian kemarin. Ya, kemarin adalah hari yang mana teman terdekatnya memberitahu bahwa ia akan pergi dari Jepang.

"Brazil ya.."

"Ah, sudahlah. Ayo bersiap!"

Pagi ini Yachi harus kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi dan juga pekerja paruh waktu untuk suatu perusahaan desain. Bagimanapun juga, dunia tetap harus berjalan bukan?

"Haah, sepi."

Ya, gadis itu memang melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, tetapi wajahnya tampak lesu. Ia banyak melamun saat kelas sampai teman dekat di sampingnya menyadari hal itu. 

"Yachi?"

"Eh, i-iya?"

"Kau banyak melamun hari ini. Apa ada masalah?"

"T-tidak ada. Maaf, ya."

Begitulah keadaan Yachi saat kelas hari ini. Beberapa kali ia tidak fokus dengan apa yang diajarkan. Seperti salah memasuki ruang kelas berikutnya yang kemudian ia diseret oleh salah satu temannya. Atau ketika ia salah mengambil perlengkapan yang diperintahkan dan berakhir dengan ia harus bolak-balik antar ruang.

"Ada apa denganku!?"

Waktu terus berjalan hingga siang hari. Waktunya Yachi pulang dari kampus dan bersiap untuk nantinya bekerja di perusahaan desain. Ia berjalan dengan sangat malas menuju perusahaan sembari mencari tempat untuknya makan siang.

"Aku merasa lapar. Akh—"

Saat Yachi berjalan, ia tidak sengaja menabrak seorang pemuda berambut panjang bawah bahu sedikit dengan ujung berwarna kuning.

"Maaf—!"

Yachi menunduk kemudian menatap orang itu, "Kak Kozume..?"

"Mantan manajer Karasuno, Yachi..?"

Keduanya membeku menatap satu sama lain selama dua detik sebelum akhirnya kembali ke respon masing-masing.

"Iya, maaf Kak Kozume, aku nggak sengaja."

"Tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan disini?" Kenma memandang sang gadis dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Aku barusan selesai kelas. Kak Kozume sendiri?"

"Aku hanya sedang ingin pergi.. mencari sesuatu." 

"Ah begitu, baiklah. Aku duluan Kak Kozume," ucap Yachi lalu memutar badannya dan hendak kembali berjalan.

Namun, ia malah hampir menabrak orang. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau sekarang. Untungnya Kenma cekatan dan berhasil menarik Yachi agar tidak menabrak orang.

"Astaga, maaf dan terima kasih, Kak Kozume."

"Kau gapapa? Kelihatanya pikiranmu sedang kacau."

"Dia benar-benar mengkhawatirkannya?" pikir Kenma.

"Beneran, aku gapapa," balas Yachi menghindar.

"Apa karena Shoyo pergi?"

"Eh?" Yachi terdiam sejenak lalu segera melanjutkan, "a-ahaha nggak nggak. Bukan, kok."

"Tidak apa, itu hal yang normal."

Yachi menunduk, "Aku ini kenapa, sih? Eh-? Sebentar.. normal?"

"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa, Yachi," ujar Kenma sembari lalu.

Yachi menunduk, "Hati-hati, Kak Kozume."

"Shoyo, seharusnya kau pamit dengan benar padanya."

Semalam setelah siang hari Hinata memberitahu Yachi ia akan pergi ke Brazil, Hinata berada di bandara untuk berangkat menuju Brazil. Hanya Kenma yang mengantarnya malam tadi. 

"Kenma!"

"Shoyo."

"Terima kasih sudah mau membantuku."

"Sama-sama, Shoyo."

"Kenma, aku boleh minta satu hal padamu?"

"Apa itu?"

"Sebenarnya dengan perginya aku ke Brazil ini, ada seorang gadis yang akan mengkhawatirkanku. Aku mohon, tolong yakinkan dia, ya? Aku akan kembali dan baik-baik saja," ucap Hinata dengan wajah seriusnya.

"Siapa gadis itu?"

"Gadis itu adalah Yachi Hitoka," mata sang pria bersurai oranye itu memancarkan keseriusan.

"Mantan manajer Karasuno yang berambut pirang?"

"Iya! Aku nggak mau dia khawatir. Tapi aku juga gak bisa pamit dengan benar padanya."

"Aku mengerti."

"Terima kasih! Sampai jumpa lagi, Kenma!"

Percakapan malam itu di bandara selalu melintas di pikiran Kenma. Oleh karena permintaan Hinata itu,  Kenma sengaja melewati jalan yang biasa dilewati Yachi dan bertanya padanya untuk memastikan. Gelagat Yachi sudah cukup meyakinkan Kenma bahwa gadis itu tampak tidak tenang.

Keesokan harinya, Kenma sengaja datang di tempat Yachi biasa bersantai sembari mengisi waktu makan siang. Anggap saja Kenma sudah mencari informasi mengenai Yachi. Informasi yang tentu saja didapat dari Hinata. Hinata yang memberitahu kebiasaan Yachi yang pergi ke rumah makan untuk sekedar makan siang.

Saat memasuki rumah makan bertemakan cafe itu, dapat dilihat seorang gadis tengah melamun dengan tangan memainkan makanannya.

Pemuda itu menghampiri Yachi dan berkata, "jangan memainkan makanan."

"Eh-? Kak Kozume? Kenapa kau disini?"

"Apa kau selalu menanyakan hal itu pada orang yang kau temui?" ucap Kenma sambil menarik kursi depan Yachi.

"Tidak juga hehe."

"Boleh aku duduk disini?"

"Iya, tentu saja, silakan," jawab Yachi dengan senyum canggung.

"Omong-omong, sepertinya pikiranmu masih kacau."

"Tidak, kok."

"Aku melihatmu melamun. Kau mengkhawatirkannya bukan?"

Yachi terdiam.

"Kau menunggunya?"

Yachi masih terdiam, namun kemudian tersenyum hambar dan menjawab, "Hinata, ya?"

Kenma mengangguk.

"Tidak, kok. Sungguh. Dia pergi untuk cita-citanya, kan. Aku.. hanya bisa mendoakan yang terbaik.."

"..dan menunggunya. Oke mantap." batin Kenma.

"Kak Kozume sendiri?"

"Aku baik-baik saja."

"Ah, baiklah. Emm, tidak ingin memesan makanan atau minuman?"

"Boleh juga."

Kenma pun memanggil seorang pelayan dan memesan makanan. Keadaan lumayan damai dengan Yachi dan Kenma berbincang.

Hingga kemudian Kuroo datang.

"Oya, ada Kenma dan Yachi, hmm? Sedang apa kalian berdua?" ucapnya dengan nada menggoda dan senyum mencurigakan.

"Kak Kuroo. Anu, kami hanya makan siang," jawab Yachi.

"Kebetulan kami bertemu," Kenma melengkapi.

"Ah, begitu. Tidak bersama lelaki berambut jeruk itu?" tanya Kuroo.

"Hinata.. sedang pergi ke luar negeri."

"He? Kemana?"

"Brazil."

"Dia mau berlatih voli disana. Mempelajari voli pantai," jelas Yachi.

"Ohh, kau pasti kesepian ya?."

"Eh? A-ahaha, emm tidak juga, kan dia masih bisa pulang."

"Wajahmu itu tidak bisa berbohong lho," batin Kenma.

"Baiklah kalau begitu, aku ke sana dulu," ucap Kuroo sambil lalu.

"Jangan dengarkan dia," ucap Kenma.

"Hah, oh. Tidak apa-apa." Yachi tersenyum mencoba untuk netral.

Tak lama kemudian, mereka selesai makan dan harus kembali ke tempat masing-masing. Tidak mungkin Kenma akan terus bersama Yachi atau membuntutinya bukan? Meskipun ia mendapat tugas dari kawan baiknya untuk meyakinkan Yachi.

"Terima kasih, Kak Kozume atas waktunya. Aku duluan," ucap Yachi membungkuk.

"Ya, hati-hati."

Yachi dan Kenma pun berpisah.

Yachi berjalan menuju kantornya dengan pikiran yang masih berantakan. Perlu baginya untuk menata ulang.

"Hitoka, Hinata akan kembali lagi, kok! Tidak apa-apa! Tak perlu khawatir!

"Tidak, tunggu. Aku tidak khawatir!

"Lalu kau kenapa?"

"Entahlah. Aku hanya-" wajah Yachi memerah.

"Aku, suka? Eh astaga! Bagaimana bisa kau menyukai teman, sahabat terdekatmu sendiri?"

"Jangan! Jangan sampai! Bisa fatal! Kau tidak ingin hubungan ini rusak, kan?

"Ya, ya. Mari kita doakan saja agar Hinata mendapatkan yang terbaik.

"Pasti! Hahaha, ayo Hitoka! Se-ma-ngat!"

Plak! Yachi mengakhiri perang batin dengan menampar kedua pipinya saat sampai di depan lift kantor. Masa bodoh untuk orang-orang yang memperhatikannya. Mungkin orang-orang akan berpikir Yachi ini stres.

Hari mulai gelap, saat bagi para pekerja kantoran untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Yachi. Saat Yachi hendak keluar dari gedung, ia dikejutkan oleh Yamaguchi yang sudah menunggunya.

"Yamaguchi? Ada apa?"

"Hai, aku hanya ingin mengajakmu ke kafe. Disana ada Tsukki dan Kageyama sudah menunggu. Seperti biasa."

"Oh, wow, baiklah. Aku kira kalian sibuk."

"Ahaha, iya kemarin."

"Yah, memang itu hal yang normal, kok."

"Benar sekali, semakin lama semakin sibuk dengan urusan masing-masing."

Obrolan memenuhi perjalanan mereka. Hingga kemudian sampailah mereka pada sebuah kafe.

"Tsukishima, Kageyama," sapa Yachi saat sampai.

"Yachi."

"Bagaimana kabar kalian?" tanya Yachi.

Kageyama menjawab, "Baik-baik saja."

"Yah, seperti biasa."

Yachi tersenyum kemudian berbicara sendiri tanpa sadar, "Kalau Hinata bagaimana, ya?"

Kalimat itu keluar dengan pelan, namun entah bagaimana bisa terdengar, oleh yang lain.

"Yachi kangen Hinata?" tanya Yamaguchi ditambah tatapan dari Tsukishima dan Kageyama.

"Eh- terdengar? T-tidak, hahaha."

Tiba-tiba ponsel mereka berempat bergetar bersamaan di atas meja. Seketika itu juga mereka membuka ponsel.

Pada nama kontak pengirim pesan, tertampang nama Hinata Shoyo.

"Sepertinya Hinata mengirim sesuatu," ucap Yamaguchi.

Benar, Hinata mengirim fotonya bersama dengan Oikawa. Dan khusus untuk Yachi, ia menambahkan suatu kalimat.

"Maaf baru menghubungimu sekarang:D"

Sebaris kalimat itu membuat Yachi merasa senang. Pipinya merona dan senyum terukir pada wajahnya.

Ia pun membalas pesan itu, "Tidak apa-apa. Pasti sangat sibuk ya? Apa kau senang?"

Dari seberang sama Hinata membalas dengan penuh semangat.

"Ya! Aku sangat sibuk, tapi aku senang!"

"Syukurlah kalau kau senang," balas Yachi.

"Benar! Ah! Ini sudah pagi, aku akan meneleponmu kapan-kapan, sampai jumpa!"

"Sampai jumpa!"

Sederhana, namun bermakna bagi Yachi Hitoka. Tanpa disadari olehnya, Tsukishima, Kageyama, dan Yamaguchi memperhatikannya dari tadi.

Ia baru sadar saat ia selesai berbalas pesan dengan Hinata.

"Eh, ada apa-"

"Yachi suka Hinata?" tanya Kageyama yang tumben peka keadaan.

"Hah? Kenapa kau bertanya begitu?" balas Yachi dengan wajah canggung.

"Karena Hinata juga- mmph," mulut Kageyama dibungkam oleh Yamaguchi yang duduk disebelahnya.

Ia membungkamnya dengan kue. Lalu, lupakan soal Kageyama yang peka keadaan.

"Enak kan, Kageyama?" tanya Yamaguchi mengalihkan topik.

Sedangkan Tsukishima hanya menggelengkan kepalanya, ia lelah temannya ini masih sama dengan saat SMA.

Kemudian Yamaguchi mendekati Kageyama dan membisikkan sesuatu, "Jangan kau beritahu, biarkan Hinata sendiri yang melakukannya."

Kageyama hanya mengangguk-angguk sambil mengunyah dan melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

"Karena Hinata juga tampaknya senang berbalas pesan denganmu."

"Ah, ahaha mungkin karena lama tak berbalas pesan."

"Kageyama bodoh!" batin Yamaguchi dan Tsukishima.

Begitulah Yachi hari ini, selesai bersama dengan teman-teman seangkatannya.

"Halo?"

"Halo Yachi!"

"Ah, Hinata! Bagaimana disana?"

"Menyenangkan! Banyak pemain yang sangat tinggi disini."

"Benarkah?"

"Ya! Voli pantai disini menyenangkan, meskipun pasirnya seperti wussh saat aku melompat! Lebih sulit sedikit dari voli indoor."

"Pasti seru ya walaupun agak sulit? Bagaimana dengan tempat tinggalmu?"

"Ya! Aku tinggal bersama anak seumuranku! namanya Pedro. Dia juga yang mengajari aku bahasa Portugis."

"Hebat!"

"Benar! Oh iya, kalau Yachi sendiri bagaimana?"

"Ah-" Skakmat. Yachi bingung.

"Kamu baik-baik aja 'kan?"

"Um, ya! Aku baik-baik saja. Ada Tsukishima, Kageyama, dan Yamaguchi yang kadang bertemu bersama."

"Syukurlah. Kamu nggak kesepian 'kan?"

Yachi menggeleng walau tak nampak oleh Hinata, "Nggak, kok. Ah, bahkan kadang aku bertemu dengan Kak Kozume. Entahlah jadi sedikit sering."

"Mungkin ia sedang keluar dan kebetulan selalu bertemu denganmu."

"Iya, mungkin saja."

"Kalau begitu, aku tutup dulu! Sampai nanti, Yachi!"

"Iya! Sampai nanti, Hinata!"

Hari ini, Hinata mengakhiri harinya dengan semangat. Tentu saja karena ia barusan telepon dengan Yachi.

"Terima kasih banyak, Kenma."

Dirinya jadi tidak sabar untuk bertemu Yachi. Meskipun di Brazil pun menyenangkan.

"Aku harus belajar voli pantai dengan benar!"

Hari ini juga Yachi memulai harinya dengan semangat. Senyum merekah pada wajahnya. Kebahagiaannya pun bertahan hingga matahari berada pada puncaknya.

"Tampaknya kau bahagia hari ini," ujar Kenma yang datang tiba-tiba setelah ia memesan makanan.

Ya, mereka kembali bertemu di kafe.

"Ah, Kak Kozume. Apakah tampak begitu?"

"Yah, kelihatan, kok. Ada apa?"

"Tidak, hanya saja tadi pagi aku mendapat telepon dari Hinata. Rasanya seperti sudah lama tak bertemu."

"Oh, akhirnya, ya."

"Iya— eh apa?" Yachi merona.

"Pfft- gak gak. Lupakan saja."

Kini Yachi makin merona. Kenma yang sedikit tertawa membuatnya malu. Membuatnya ingin mengalihkan topik.

Bersamaan dengan datangnya pelayan membawa pesanan mereka.

"Kak Kozume, akhir-akhir ini kau sering kemari. Apa ada alasan khusus?"

"Huh.. emm, tidak ada. Aku kebetulan suka menu di sini. Lihat?" Ditunjukkannya menu pesanan yang selalu sama.

"Untunglah aku pesan menu yang sama tiap kali kesini," batinnya.

"Uh, wah, begitu."

Yachi sendiri tidak berani berasumsi apapun. Ia tidak mau terlalu percaya diri.

"Selamat makan."

"Selamat makan."

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Dilalui Yachi dengan sedikit perasaan yang masih terbuka. Begitu juga dengan Hinata. Hingga akhirnya sekarang waktu untuk Hinata kembali ke Jepang. Tentu saja Hinata ingin merahasiakan hal ini dari Yachi. Tapi Kenma mengetahui hal ini.

"Apa Kak Kozume sudah tidak kesini lagi ya?" Batin Yachi saat mendapati Kenma tak lagi datang dihadapannya.

"Yah, bukan apa-apa, sih. Tunggu! Masa aku menunggunya?"

Bagaimanapun juga, selama ini Kenma yang selalu menemani Yachi saat siang hari. Pria itu bahkan sempat mengajari Yachi bermain game. Saat ini ia merasa sedang menunggu seseorang. Namun tak pasti kepada siapa perasaan itu ditunjukkan.

Cring

"Ah, datang ternyata."

Yachi memandang seorang pria yang muncul dari balik pintu. Pria itu berjalan memesan lalu ke meja Yachi.

"Yachi, kau sudah disini rupanya."

"Iya, dari tadi selesai kelas.”

Perasaan menunggu itu masih terpatri jelas di hatinya.

"Ternyata aku tidak menunggunya. Terus aku menunggu siapa?" perasaan Yachi belum lengkap rasanya.

"Hei, sepertinya ini akan menjadi kali terakhir kita bertemu," tukas Kenma.

"Eh, Kak Kozume akan pergi?"

"Tidak, hanya saja tugasku sudah selesai," Kenma tersenyum.

"Tugas?"

"Ya, sudahlah. Mau bermain game lagi?"

Yachi masih berusaha mencerna kalimat Kenma, yang memang seharusnya sulit dimengerti olehnya.

"Boleh, Kak."

Hingga akhirnya mereka berakhir bermain game bersama. Dan kembali ke kediaman masing-masing.

"Kak Kozume, aku memang tidak mengerti maksudmu dengan 'tugas', tapi kurasa aku harus berterima kasih padamu.

Terima kasih karena menemaniku setiap siang dan mengajariku bermain game, Kak," Yachi membungkuk, dirinya benar-benar berterima kasih.

Sedangkan Kenma tersenyum tipis, "sama-sama, Yachi."

Malam harinya, Yachi masih memikirkan kata-kata Kenma. Ia duduk pada sofanya dan menatap langit rumah. Seketika pikirannya buyar saat ada terdengar bunyi telepon dari ponselnya diatas meja.

"Halo, Hinata?"

"Halo Yachi! Bagaimana harimu?"

"Menyenangkan, Hinata sendiri?"

"Juga menyenangkan.Kamu sibuk ngga sekarang?"

"Emm, nggak juga. Cuma lagi rebahan. Ada apa, Hinata?"

"Aku ingin kau keluar dari apartemenmu sekarang, apakah bisa?"

"Untuk..?"

"Keluarlah saja dulu."

"He? Baiklah."

Yachi keluar dari ruangannya, melewati lorong dan turun menggunakan lift. Kemudian ia keluar dari apartemennya.

"Aku sudah di luar sekarang-" Yachi terdiam, menatap seorang pria berambut oranye.

"Aku pulang, Yachi."

Dengan telepon masih terhubung satu sama lain, mereka saling bertatap muka.

Yachi yang juga kaget, hampir menjatuhkan ponselnya. Namun dengan cekatan diambil oleh Hinata.

"Yah, dialah yang selama ini aku tunggu. Kak Kozume, aku mengerti maksudmu sekarang," batin Yachi.

"Selamat datang, Hinata!"

Dengan perasaan yang meluap-luap, ia memeluk Hinata. Begitu juga dengan Hinata, ia sangat senang bisa bertemu kembali dengan Yachi.