Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-24
Words:
2,035
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
33
Bookmarks:
1
Hits:
483

Call Boy Yuuji

Summary:

Yuuji si call boy ngelayanin Geto yang first time nyobain anal sex.

Work Text:


Tring!

Sebuah bunyi notifikasi dari ponsel memecahkan keheningan kedua insan tersebut. Pria dengan rambut hitam panjang itu memperlihatkan layar ponselnya secara gamblang.

"Udah saya transfer sisanya." Katanya lugas.

Pria yang lebih muda lantas merogoh saku celananya. Ia membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan pemberitahuan mengenai uang yang masuk ke dalam rekeningnya. 

"Terima kasih, Geto-san." Ucap Yuuji dengan nada ceria. Pria yang dipanggil Geto tersebut hanya mengganguk saja.

Perlahan Yuuji mendekati Geto yang memiliki perawakan lebih tinggi darinya. Akibat perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh, membuat Yuuji mengharuskan dirinya berjinjit untuk mengusap lembut pipi tirus pria tersebut.

"Did you get enough sleep, Geto-san?" Tanya Yuuji sesaat dirinya menangkap lingkaran hitam di bawah mata sang klien.

Geto dengan sengaja menumpukan wajahnya pada telapak tangan Yuuji. Ia tersenyum dengan mata tertutup, lebih memilih untuk menikmati sentuhan penuh pengertian dari Yuuji, dibandingkan menjawab pertanyaan yang bocah merah muda itu ajukan.

Yuuji yang melihat tingkah Geto layaknya anak kucing ikut tersenyum gemas sendiri, dirinya tidak menyadari bahwa kini tubuhnya sudah melayang di atas tanah. Geto dengan enteng menggendong tubuh Yuuji dengan satu tangan.

"W-woah!" Pekik Yuuji.

Dalam sepersekian sekon, tubuhnya sudah terlentang di atas kasur empuk kamar. Badannya yang lebih kecil terkurung sempurna di bawah dominasi Geto.  

Yuuji cepat-cepat membuka ponselnya, salah satu tangannya menahan dada bidang Geto yang berniat mendekatinya. "Wait, aku pasang timer dulu."

Geto menunggu Yuuji selesai dengan sabar. Setelah Yuuji menaruh kembali ponselnya, tanpa menunggu lama dirinya menangkup wajah Geto dan membawanya untuk berciuman.

Bibir lembut milik Yuuji melumat bibirnya dengan lihai. Membuat Geto tanpa sadar memejamkan kelopak matanya—menikmati ciuman lambat tersebut. Geto tak menyangka bahwa ia ternyata dapat mencium seorang pria, bahkan kini nafsunya kian meninggi hanya dengan ciuman yang diberikan yuuji. 

Lumatan-lumatan lambat itu perlahan mulai menuntut. Yuuji menggigit lalu menarik pelan bibir bawah Geto, membuat pria yang lebih tua itu membuka mulutnya. Tanpa membuang waktu, lidahnya yang hangat nan basah langsung menyusup masuk menjelajahi setiap sudut mulut Geto. 

Ujung lidah Yuuji menyentuh lidah Geto, ia melumat organ lunak itu dengan penuh nikmat. Geto mengeluarkan desahan rendah dari tenggorokannya, suara itu bergema di antara bibir mereka yang saling menempel. Lidah Yuuji menari dengan lidah Geto, saling menjilat, saling melumat, dan saling menghisap. Membuat saliva mereka bercampur menjadi satu lalu menetes hingga ke dagu. Yuuji menggigiti pelan lidah Geto sebelum mengisapnya kuat, membuat tubuh pria yang lebih tua itu menegang sejenak. Tangan Yuuji naik ke tengkuk Geto, jari-jarinya menyelip di rambut hitam panjang itu, menjambaknya pelan.

Yuuji mendorong kepala Geto untuk menjauh kala paru-parunya berteriak meminta oksigen. Geto dengan terpaksa melepaskan pagutan mulut mereka, kini wajah keduanya dihiasi oleh saliva. Baik Yuuji dan Geto saling melakukan kontak mata intens. Terdengar deru nafas yang memburu dari keduanya.

Telapak tangan Yuuji yang bebas, bergerak meraih selangkangan Geto. Ia dapat merasakan kedutan penis Geto yang sudah tak sabaran. "Mau aku BJ?" 

Geto meringis saat merasakan penisnya ditekan kasar oleh Yuuji. "Mau."

Yuuji turun ke lantai, berlutut di antara paha Geto yang kokoh, tangannya dengan cepat membuka resleting celana milik sang klien.

Penis Geto sudah tegang sempurna, kepalanya mengkilap oleh precum yang sudah bocor. Yuuji menatapnya sejenak dengan mata lapar sebelum menggenggam penis yang panas dan berdenyut itu. la mengusapnya pelan dari pangkal hingga ujung, meremasnya pelan hingga Geto mendesah rendah dan pinggulnya terangkat.

"Gede banget..." Gumam Yuuji sambil mencondongkan wajahnya ke depan. Nafas hangatnya menyapu kepala penis Geto, membuatnya berkedut keras di genggaman Yuuji.

Tanpa aba-aba lagi, Yuuji membuka mulutnya dan menelan kepala penis itu dalam satu gerakan lambat. Bibirnya yang masih basah dari ciuman tadi meregang mengitari batang tebal itu. Lidahnya langsung bekerja, menjilat dan melingkari kepala sensitif tersebut, menikmati rasa asin precum yang mengalir deras.

"Ahh... fuck." Desah Geto, tangannya langsung meraih kepala merah muda itu.

Yuuji mulai bergerak, menurunkan kepalanya lebih dalam. la mengisap kuat saat mundur, lalu menelan lagi hingga separuh batang Geto masuk ke mulutnya yang panas dan lembab. Suara basah dan lengket terdengar setiap kali ia naik turun diselingi desahan Geto yang semakin parau. Lidah Yuuji tak berhenti bergerak, menekan urat-urat yang menonjol di bawah kulit, sesekali menjilat celah kecil di ujung kepala penis Geto untuk menghisap lebih banyak cairan yang terus keluar.

Geto menggigit bibir bawahnya, napasnya memburu. la menatap ke bawah, melihat Yuuji yang tengah mengulum penisnya dengan penuh semangat. Pipi Yuuji agak cekung akibat menelan penis besarnya, air liurnya menetes dari sudut bibir, membasahi batang penis Geto dan membuatnya semakin licin. Yuuji menatap ke atas, mata mereka bertemu lagi. Tatapan Yuuji penuh goda saat ia menurunkan kepala lebih dalam, mencoba menelan Geto hingga ke pangkal tenggorokannya.

"Yuu... nghh." Geto mengerang, jari-jarinya menegang di rambut Yuuji. Pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan, mendorong masuk perlahan sesuai irama mulut Yuuji yang panas.

Yuuji melepaskan sebentar untuk bernapas, benang saliva tebal menghubungkan bibirnya dengan penis Geto yang berkilau basah. la tersenyum nakal, tangannya mengocok batang itu dengan cepat.

"Enak?" Tanyanya sebelum kembali menelan dalam-dalam, kali ini lebih rakus, kepalanya naik turun dengan irama yang semakin cepat.

Geto hanya bisa mendesah panjang, kepalanya terdongak ke belakang, menikmati setiap lumatan, setiap hisapan, dan setiap kali tenggorokan Yuuji menelan di sekitar kepala penisnya. 

"Aku.. nhh.. mau keluar, lepasin dulu, Yuu..." Racau Geto. Tangannya mendorong kepala Yuuji agar melepaskan penisnya.

Yuuji tak mengindahkan omongan sang klien. Ia kian gencar menelan seluruh batang penis itu, menolak membebaskan penis besar itu dari jeratan mulutnya.

"Yuu.. nhh.. fuck!" Geto mengerang keras. Pinggulnya terangkat secara refleks, tangannya kini malah mencengkeram rambut Yuuji kuat-kuat.

Tubuh Geto menegang hebat. Otot perutnya berkedut, ia tak bisa menahan lebih lama lagi. Dengan desahan panjang yang parau, Geto melepaskan semua di dalam mulut Yuuji. Sperma kental dan panas segera menyembur deras, memenuhi tenggorokan Yuuji dalam beberapa denyutan kuat. Namun Yuuji tetap menyedot penis gemuk itu, belum berniat melepaskannya, Yuuji menelan setiap tetes yang keluar secara suka rela. 

"Kentel banget sperma kamu, Geto-san." Gumam Yuuji setelah melepaskan penis Geto. Sebuah tetesan kental berwarna putih masih menetes di sudut bibirnya. Ia menjilat bibirnya secara sensual, netranya menatap Geto dengan senyum puas dan nakal. "Gimana? Rasanya enak 'kan?"

"Enak..." Geto hanya bisa terengah-engah, dada naik turun cepat, tubuhnya masih bergetar sisa orgasme. Matanya berkabut menatap Yuuji yang masih berlutut di depannya, mulut yang baru saja memuaskannya masih mengkilap oleh sisa cairannya sendiri.

Yuuji kembali merangkak naik ke atas kasur. Dirinya dengan tergesa melepaskan seluruh pakaiannya. Membuat tubuhnya kini telanjang sepenuhnya.

Geto melirik Yuuji dengan penuh minat. Sesi orgasmenya sudah perlahan turun. "Kita ke menu utama?" Tanyanya dengan nada usil.

Yuuji terkekeh mendengar celetukan dari kliennya itu. Ia mengambil tas selempang miliknya, lalu mengeluarkan isinya ke atas kasur. Berbagai macam merk serta ukuran kondom kini telah terpampang jelas di hadapan keduanya. 

"Geto-san pilih yang mana?" Tanya Yuuji.

Pria berambut panjang itu meraih satu kotak kondom dengan kemasan berwarna putih. Okamoto, 0.03. "Yang ini." Katanya.

"Oke." Yuuji menyingkirkan kondom-kondom lainnya. Kemudian ia meraih sebuah botol berukuran sedang dengan cairan bening terpampang dari balik kemasan

"Geto-san mau nyoba fingering?" 

Netra hitam Geto menatap lamat tubuh telanjang Yuuji. Kulitnya yang agak kecokelatan, putingnya yang menantang, serta penis kurus sang bocah yang mengacung. Tanpa sadar, penis Geto kembali berdenyut saat menikmati pemandangan indah tersebut.

"Boleh?" Jawab Geto dengan suara yang terdengar sedikit serak.

"Of course!" Yuuji melemparkan botol pelumas itu ke hadapan Geto. Lalu dirinya berbalik badan, lututnya menekan kasur, dan mengangkat bokong tinggi-tinggi. Punggungnya melengkung sempurna, memperlihatkan bokong bulat yang kencang dan lubang analnya yang berwarna pink kecokelatan.

Tenggorokan Geto terasa kering saat melihat visual tersebut. Dengan tangan yang gemetar dirinya membuka penutup pelumas, dan menuangkan ke atas telapak tangannya. 

Geto menelan ludahnya di saat ia melihat lubang anal Yuuji yang vertikal. Sialan, seksi. Batinnya. Belum lagi lubang tersebut terus berkedut seolah mengundang untuk dimasuki. Geto perlahan memasukan ujung jari telunjuknya ke dalam lubang sempit itu.

Yuuji mengeluarkan desahan kecil. "Ngh..."

Geto terkejut. Matanya melebar sedikit. "It's soft..." Gumamnya. Dinding dalam Yuuji ternyata sangat lembut, hangat, dan langsung meremat jarinya dengan rakus. la mendorong lebih dalam perlahan, merasakan otot-otot itu berkedut di sekeliling jarinya.

"Geto-san... Lebih dalam lagi." Pinta Yuuji dengan suara parau, bokongnya sedikit didorong ke belakang, mengejar tusukan jari panjang itu.

Geto menurut. la memutar jarinya pelan, menjelajahi dinding licin tersebut. Di saat jarinya menemukan titik kecil yang agak mengeras, ia menekannya lembut.

"Ahh-!" Yuuji tersentak. "Di situ.. nghh.. Geto-san.. Give me more."

Geto menambahkan jari tengahnya, sekarang dua jari yang mengembang lubang Yuuji dengan perlahan. Gerakannya semakin berani masuk-keluar, memutar, menekuk ujung jari untuk menggoda prostat Yuuji berulang kali. Bunyi licin pelumas dan desahan Yuuji yang semakin meliar memenuhi seisi kamar.

"Kamu benar-benar sensitif di sini, Yuu." Bisik Geto di telinga bocah itu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lihat, kamu menelan rakus jariku."

Geto menarik kedua jarinya perlahan dari lubang Yuuji yang sudah longgar dan basah. Lubang merah muda itu berkedut-kedut, seolah kehilangan dan merindukan sentuhan. Yuuji mendesah kecewa, bokongnya menggoyang pelan—meminta untuk kembali diisi.

"Geto-san, kenapa berhenti..." Rengeknya parau.

Geto tersenyum mendengar rengekan manis itu. Ia melepaskan celananya, membebaskan penisnya yang sudah keras sepenuhnya. Penisnya itu tebal dan tegak mengacung, ujungnya mengkilap oleh precum yang melimpah. Tanpa banyak kata, ia merobek bungkus kondom, memakainya dengan cekatan. Lalu dirinya menuangkan lebih banyak pelumas ke telapak tangan, mengoleskannya dengan rata ke seluruh permukaan penisnya hingga mengkilat licin. 

la meraih pinggul Yuuji yang ramping, menarik bokong bocah itu lebih tinggi. Kepala penisnya yang besar ditekan ke lubang anal Yuuji yang masih berkedut.

"I'm going in now." Bisik Geto serak di telinga Yuuji.

Geto mendorong pinggulnya ke depan perlahan. Kepala penisnya yang tebal mulai merenggangkan lubang sempit Yuuji dengan paksa yang lembut.

"Nghh— Fuck! ... Geto-san... ahh!" Yuuji menggigit bantal, tubuhnya menegang sesaat saat lubangnya diregangkan lebar-lebar. Dinding bagian dalam analnya yang panas dan lembut perlahan menelan batang Geto inci demi inci.

Geto mendesis nikmat. "Shit! You're so tight, Yuu."

Geto terus mendorong masuk dengan kontrol penuh, hingga setengah batangnya tenggelam di dalam lubang Yuuji yang basah. Setiap kali Yuuji mengejang, Geto berhenti sejenak, memberi waktu bocah itu menyesuaikan diri sambil mengusap punggungnya yang berkeringat dengan lembut.

"Geez... relax, pretty. You're squeezin' too tight, gonna break my dick." Ujar Geto sambil mengecup tengkuk Yuuji. Lalu ia mendorong lagi, kali ini lebih dalam hingga pangkalnya menempel sempurna di bokong Yuuji yang bulat.

"Aaahhh, nghh... my insides... so full.. nghh.." Desah Yuuji sambil meracau, air mata kenikmatan mengalir di pipinya. Penisnya yang kurus meneteskan cairan bening tanpa henti ke kasur.

Geto menarik napas berat, menahan diri agar tidak langsung menggoyang liar. Ia menarik pinggulnya mundur perlahan hingga hampir keluar, lalu mendorong masuk kembali dengan satu hantaman pelan tapi dalam. Bunyi basah kecipak pelumas dan kulit yang bertemu memenuhi kamar.

Gerakannya perlahan mulai stabil, keluar masuk dengan ritme yang dalam dan terkontrol, setiap hantaman tepat menekan prostat Yuuji. Setiap kali kepala penis Geto menyentuh titik sensitif itu, Yuuji menjerit kecil dan tubuhnya kejang nikmat.

"Hahhh.. enak banget, anjing." Umpat Geto sambil mencondongkan tubuhnya lebih rapat. Dada bidangnya menempel erat di punggung Yuuji yang basah akan keringat. Satu tangannya meraih penis Yuuji yang kecil dan mengocoknya pelan mengikuti irama genjotannya.

"Geto-san.. nghhhh.. deeper, please, please." Pinta Yuuji dengan suara yang kian putus asa, bokongnya didorong ke belakang menyambut setiap hantaman.

Geto mendengus puas. la mempercepat gerakan pinggulnya, hantaman demi hantaman semakin kuat dan cepat. Bunyi hentakan yang kotor bercampur dengan desahan Yuuji yang tak terkontrol memenuhi seluruh ruangan.

Penis Geto yang tebal terus menghunjam lubang Yuuji yang sudah benar-benar basah dan longgar. Setiap kali ia masuk sampai pangkal, Yuuji merintih kenikmatan, tubuhnya gemetar hebat.

Geto mengerang dalam, pinggulnya mendesak kuat hingga pangkalnya menempel rapat di bokong Yuuji. Penisnya yang sudah tegang maksimal berdenyut-denyut hebat di dalam kondom yang membungkusnya erat. Rasa panas mulai ia rasakan di perut bagian bawahnya.

"Ahh.. Shit, I'm gonna come." Geram Geto.

Dengan hantaman terakhir yang dalam, Geto mencapai klimaksnya. Ejakulasinya yang luar biasa nikmat juga panas memuncrat deras ke dalam kondom, memenuhi karet pelindung itu hingga ujungnya penuh. Yuuji bisa merasakan denyutan kuat penis Geto di dalam lubangnya, setiap semburan panas yang tertahan di dalam lateks itu terasa begitu jelas.

"Nghh... Geto-san..." Erang Yuuji gemetar, lubangnya berkedut hebat menjepit batang Geto yang masih berdenyut di dalamnya.

Geto tersenyum tipis, nafasnya masih memburu. la mengejan pinggulnya sekali lagi, merasakan kondom yang penuh nan berat bergesekan di dalam lubang Yuuji. 

"Can I extend the duration?" 

Yuuji tersenyum tipis. "I'd be happy to."