Work Text:
Sedikit banyak dari yang didengar, sebagian besar orang di sekitar mengatakan bahwa semester 6 itu terasa lebih mematikan dari dua semester yang menghimpitnya.
Awalnya Riku ragu untuk percaya hal itu. Jika melihat pengalaman di semester lalu, semua hal memang terasa memberatkan pundak dan timbulkan banyak kegundahan. Namun, semua beban dan resah yang dirasa itu menguap sesaat menerima nilai akhir yang memuaskan. Jadi, Riku tak menaruh sedikit pun kekhawatiran pada semester yang diwaspadai sebagian orang itu.
Namun, Riku keliru. Hal yang dijumpainya kini bukan hanya mata kuliah, dosen, tugas proyek, dan nilai. Riku lupa dirinya masih menjalankan peruntungan soal hati. Riku luput dalam menitikberatkan perasaan yang hingga kini belum juga menemukan keniscayaan. Riku tak sempat menyiapkan rencana matang yang akan mengamankan baik hati maupun nilainya. Dengan kelalaiannya ini, Riku mulai merasakan apa yang orang bilang padanya.
Akhirnya Riku ragu dengan dirinya sendiri. Begitu pemaparan dosen tentang seminar proposal—yang wajib ditunaikan di semester ini—berakhir dengan kalimat penutup kelas itu, Riku langsung menoleh pada Seunghan di sampingnya. Pun yang ditatap langsung membalasnya dengan sebuah tanda tanya pada ekspresinya.
“Menurut lo—”
“Menurut gue udah, Rik. Mending berhenti sekarang, okay?”
Riku mencebikkan bibirnya. “Tapi gue belum nemu titik terang. Gue belum dapat kepastian.”
“Ya justru itu, karena nggak ada kejelasan sampai sekarang. Emang lo bisa mikirin topik penelitian sambil mikirin mereka bertiga?” tanya Seunghan dengan raut wajah yang mulai jengah. Alisnya bertaut, timbulkan kerutan pada keningnya.
“Bisa-bisa aja… Mungkin?” jawaban ragu itu sukses membuat tangan Seunghan menoyor kepala Riku hingga tubuhnya terhuyung. “Sakit, anjir!”
“Sakit? Iya, otak lo sakit."
“Kok lo jadi kayak nggak suka banget gue deket sama mereka bertiga? Lo suka sama gue, kah? Lo cemburu, kan?”
“Otak lo beneran sakit, ya? Jangan ngaco.”
“Ya abisnya lo—”
“Kak Riku!”
Seketika Riku menoleh ke arah sumber suara, membiarkan kalimatnya tak menemui ujung.
“Oh? Yushi!” sahutnya dengan antusias. Seolah lupa dengan masalah yang beberapa menit lalu baru saja dikeluhkan pada Seunghan yang kini terdiam.
“Kelas pertama udah beres?”
“Udah.”
“Kelas selanjutnya kapan?”
“Belum ta—”
“Aduh, sorry banget, Yushi. Tapi gue sama Riku mau ke perpus abis ini.”
Mendengar itu Riku mengernyitkan alisnya, hendak menyanggah pernyataan Seunghan. Namun, tangannya sudah lebih dulu ditarik sebelum ia sempat bersuara. Meninggalkan Yushi dengan wajah kebingungannya, tak sempat—tak kepikiran untuk mencegah kakak tingkatnya.
Riku yang tak diberi kesempatan untuk melepaskan diri tak henti-hentinya mengumpat kencang pada Seunghan. Riku refleks mengecilkan suaranya begitu pintu perpustakaan sudah di hadapan keduanya. “Han! Lo apa-apaan, sih? Gue nggak mau ke perpus, lo aja sana masuk sendiri.”
“Nggak, lo juga masuk.”
“Apaan, sih? Maksa ba—”
“Riku, Seunghan?”
Keduanya menoleh bersamaan ketika satu suara familiar menginterupsi perdebatan itu. “Sion!” kali ini Seunghan yang membalas sapaan. “Lo udah masuk kelas seminar, kan?” tanyanya melupakan Riku yang masih menatapnya dengan kerutan di wajahnya.
“Udah kemarin, ini gue ke perpus mau cari ide,”
Sion yang dari awal menyadari tensi merah di antaranya mulai menunjuk keduanya. “Kalian ngapain?”
“Sama! Kita juga mau cari ide. Barusan banget kita abis kelas seminar, terus kepikiran mau langsung cari ide.”
Mendengar itu Riku hanya mendelik malas, tapi ia tetap membisu dan berubah dari yang awalnya ingin menyanggah jadi setuju. Entah mengapa Riku ingin terlihat baik dan semangat dalam perihal tugas. Jika Sion semangat, Riku juga harus semangat.
Riku selalu iri dalam cara yang tak bisa dijelaskan. Sion dan dirinya sering bertukar keluh kesah mengenai tugas-tugas. Bahkan di semester ini, Riku sudah tak bisa perkirakan berapa banyak keluhan yang Sion bagi lewat ruang obrolannya atau bahkan secara langsung ketika keduanya sedang bertemu pada waktu yang disengaja. Riku iri bagaimana Sion dapat menghadapi masalah-masalah dengan perhitungan yang jelas dan tepat. Masih jadi Sion yang selalu bisa mengandalkan diri sendiri bahkan dapat diandalkan oleh yang lain, sama seperti perannya saat proyek waktu lalu. Tak seperti dirinya yang terlalu banyak memikirkan hal-hal yang baiknya tak perlu dianggap.
Dengan itu, Riku selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kebutuhannya akan seorang pendengar dan juga saran atas masalah tugas tak jarang jadi tajuk pertemuan keduanya, meski tetap meluangkan waktu untuk melepas penat dari banyaknya peluh yang bercucuran. Bermain ke berbagai tempat demi suasana baru yang dapat meredakan hari-hari semrawut bagi keduanya.
Ya, pertemuan-pertemuan itu tak berhenti di waktu liburan saja. Jalan satu bulan pada semester ini, Riku bahkan masih memikirkan harus membuat gebrakan apa lagi supaya hubungan dengan ketiga yang lain tak berputar di situ-situ saja.
Seingat dirinya, ia sudah melakukan banyak hal dengan tiga lelaki yang sampai saat ini masih membolak-balikkan hatinya. Riku mulai mempertanyakan perlakuan baik dirinya pada ketiga yang lain maupun sebaliknya. Mungkinkah memang tak akan ada yang memenangkan hatinya. Pasalnya, Riku sendiri mulai menyadari bahwa yang dirinya lakukan ini terasa seperti permainan yang dijalankan demi kesenangannya semata. Atau… mungkin itu hanya perasaannya.
Riku sendiri masih tak bisa menilai. Semua momen yang dilalui selalu memunculkan kupu-kupu yang menggelitik dalam dirinya. Seperti halnya empat hari lalu saat ia keluar bersama Yushi di malam minggu. Bukan dirinya yang mengajak, melainkan Yushi. Dengan pesan yang selalu terasa mendadak, Yushi mengatakan ingin mengajaknya ke sebuah tempat yang menurutnya dapat merelaksasi diri dari denyut kehidupan mahasiswa yang sering kali membuat kewalahan.
“Gue mau ngajak lo ke tempat bagus.”
Riku tak perlu menjawab, sebab pernyataan itu jelas sesuatu yang tak bisa ia tolak juga bukan pertanyaan yang menawarkan kesediaannya. Sudah jelas dan pasti, Riku akan ikut kemana pun Yushi membawa dirinya.
Maka saat Yushi membukakan pintu mobil dan menarik tangan Riku untuk ia genggam, Riku hanya menatapnya. Masih berusaha menahan semua bingung yang mengendap di kepalanya selama perjalanan ke tempat ini. Yushi membawanya ke belakang mobil, di mana Riku baru tersadar bahwa pintu bagasi itu telah terbuka dan posisi jok paling belakang pun terlipat ke depan, menyisakan ruang yang dapat keduanya gunakan untuk duduk bersama.
Menghadap ke arah pemandangan yang menunjukkan keadaan kota dari dataran tinggi.
Lampu jalanan, lampu dari beragam gedung, dan lampu kendaraan yang bergerak di kejauhan menyatu seperti lautan bintang di bawah sana. Angin malam berhembus meniup helau rambut, tapi tak cukup untuk membuat keduanya menggigil. Udara malam itu rasanya sangat pas untuk dinikmati.
Genggaman tangan keduanya sudah terlepas sejak tadi, tapi Riku masih berdiri diam di dekat mobil, memandangi semuanya tanpa benar-benar melihat. Kepalanya masih terlalu kosong untuk menerka alasan Yushi yang tiba-tiba membawanya pergi di malam minggu ke sini, tanpa penjelasan begini. Tak sadar dengan Yushi yang kini sudah duduk manis mulai mengambil kain dan menggelarnya di ruang yang tersisa. Pergerakan itu yang menarik kembali Riku dari lamunan kilatnya.
“Duduk, Kak.” akhirnya Yushi bersuara, tangannya mengarahkan Riku untuk duduk di sampingna.
Tanpa banyak kata Riku melenyapkan jarak yang ada dengan duduk di samping Yushi. Tubuh keduanya menempel, seolah janggal jika jarak itu dibiarkan ada. Dan di detik itu, Riku sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. “Kenapa tiba-tiba ke sini, Yu?”
Riku mendapati Yushi menoleh dan mendengus dengan tawa yang tertahan.
“Siapa yang yang kemarin-kemarin bilang bosen kalau cuma ke mall atau ke cafe doang?”
Mendengar itu, Riku hanya terkekeh. Sangat ingat saat dirinya tak sengaja membocorkan isi hatinya di depan Yushi kala keduanya sedang jalan-jalan acak di sebuah mall. Riku tak menjawab, ia justru balik bertanya. “Kok lo bisa tau tempat kayak gini? Lo udah pernah ke sini?”
Pertanyaan Riku terlontar tanpa terjawab secara instan. Ada sunyi yang menyelinap ketika Yushi dengan gerak pelan menghirup udara dan mengalihkan pandangannya ke depan, mengarah ke titik-titik cahaya yang jadi pemandangan utama keduanya kini. Yushi terlihat seperti menerawang sesuatu yang jauh di sana. Tetap fokus pada pemandangan, Yushi mengulum bibirnya sesaat, “Gue baru dua kali ke sini.”
“Sama siapa?” pertanyaan itu mengudara tanpa peringatan.
Yushi yang mendengar itu kembali memandang Riku. “Kalau lo nanya gue sama siapa ke sini… Gue cuma ke sini sama lo, karena sebelumnya gue ke sini sendirian.” katanya sambil menatap Riku tepat di kedua matanya yang di pandangan Yushi, itu memancarkan pantulan bintang kota. Indah, membuat Yushi tiba-tiba tersenyum penuh ketulusan. Yushi terus menatap, hampir tak berkedip.
Tak sadar Riku yang langsung memiringkan kepalanya sejak Yushi mengakhiri kalimatnya barusan, penasaran mengapa Yushi ke tempat sebagus ini sendirian. “Kenapa?”
“Lo cantik banget, Kak.”
“Hah?”
“Eh? Apa? Lo nanya apa, Kak?” tiba-tiba Yushi menggelengkan kepalanya ribut, seperti berusaha mengembalikan jiwa ke raganya.
Melihat hal konyol itu Riku refleks tertawa. Mencoba menekan rasa menggelitik di perutnya akibat pernyataan mendadak itu. Sama seperti Yushi, Riku turut menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak, gapapa.” katanya, merasa tak perlu tahu saat ini juga.
Yushi mengangguk, tak mendesak. “Sini, Kak.”
Tangan Yushi mengarahkan Riku agar bersandar di bahunya. Riku yang ditawarkan seperti itu langsung tersenyum sebelum menaruh kepalanya di bahu Yushi. Tak ada keraguan di sana, entah mengapa Riku selaku yakin dengan Yushi di sisinya. Pun Yushi turut menyandarkan kepalanya di atas kepala Riku. Keduanya berusaha hadirkan kenyamanan untuk satu sama lain dalam posisinya.
“Kayak gini dulu, ya?”
Tanpa suara, Riku dengan yakin mengangguk. Membiarkan keheningan menyeruak. Bukan sepi yang mengganggu, tapi sunyi yang menenangkan. Meskipun Riku sendiri masih sedikit bingung akan tingkah Yushi yang membawanya ke sini… Sebab Yushi tidak seberisik biasanya. Mungkin saat ini memang Yushi yang butuh kelonggaran waktu untuk rasa lega dari padatnya jadwal kuliah dan hal lain yang menyesakkan. Lagipula, Riku suka tempat ini, Riku senang Yushi membawanya ke sini.
Itu hari terakhir Riku bertemu Yushi, sampai hari ini akhirnya bertemu tanpa sengaja. Riku sudah kepalang senang, tapi Seunghan menyeretnya ke perpustakaan dan membuatnya bertemu dengan Sion. Kini Riku menatap tumpukan skripsi kakak tingkatnya yang ia pikir akan menjadi inspirasinya dalam menentukan topik penelitian. Namun, menit-menit sebelumnya yang ia gunakan untuk mengingat momen bersama Yushi membuat semangatnya runtuh.
Riku mendongak. Di sana ia melihat Seunghan yang justru lebih banyak mengobrol dengan Sion. Skripsi yang diambilnya hanya ditaruh di meja, sedangkan dirinya fokus berbisik-bisik dengan Sion. Tepat di hadapannya.
Kampret! Cari ide apanya?
Batin Riku menjerit. Hatinya perih, alisnya berkerut, dan bibirnya merengut. Riku benar-benar tak paham. Bukan, bukannya Riku kesal dengan keakraban yang dimiliki Seunghan dan SIon. Riku cukup menghargai pertemanan keduanya yang lebih dulu darinya. Riku jengkel dengan Seunghan karena tingkahnya hari ini. Riku geram atas perbedaan sikap yang ditunjukkan oleh Seunghan terhadap Yushi dan Sion.
Perbedaan itu sangat kentara. Riku tak mungkin tak menyadarinya. Riku yakin, ke perpustakaan hanya akal-akalan Seunghan supaya dirinya tak berinteraksi dengan Yushi. Mencari ide hanyalah alibi yang berbunyi dengan asal dari mulutnya. Seunghan menjadikan Sion sebagai pengalih perhatian Riku dari Yushi sejenak. Tanpa Seunghan tau, hal itu tak berpengaruh baginya.
Padahal Seunghan sendiri yang mengatakan padanya tak akan ikut campur lebih lagi usai mempertemukan kembali dengan ketiganya. Lantas mengapa kini Seunghan seperti tengah mencoba untuk hadirkan batasan baginya?
Seunghan menarik Sion di sini agar Riku tetap bersamanya. Kalau boleh jujur, Riku memang suka dengan kehadiran Sion. Yang tak Riku suka adalah bagaimana Seunghan memonopoli Sion darinya. Bahkan sampai detik ini, Seunghan terus saja berbisik. Tanpa peduli lawan bicaranya, sebab tanpa diduga Sion justru sedang memandangnya. Tubuh Riku menegang seketika, masih sulit untuk menghadapi tatapan Sion.
“Riku, are you okay?” tanya Sion. Membiarkan percakapannya dengan Seunghan terhenti.
Seunghan menatapnya, “Kenapa, Rik? Udah nemu ide?”
“Belum.”
“Kayaknya emang nggak mungkin bisa langsung dapat, sih. Mana sekarang gue laper lagi.”
“Kita ngantin dulu kali, ya?” tawar Sion begitu mendengar pernyataan Seunghan yang menurut Riku menyebalkan.
“Eh, tapi gue udah janji makan dan mabar sama yang biasa itu, loh. Lo makan sama Riku aja, gimana?”
Alih-alih menjawab, Sion menatap Riku yang tiba-tiba beranjak dari duduknya.
“Ah, anjir! Sumpah lo tuh nyebelin banget,” Riku memaki Seunghan lantaran sudah terlalu kesal dengan tingkahnya hari ini.
“Sion, ayo!” lanjutnya tegas beralih mengajak Sion untuk segera pergi dari sana.
Sion—yang tak mau kena makian Riku—dengan tergesa menyusul Riku dan langsung pergi tanpa membereskan buku-buku tebal berisi skripsi yang diambilnya. Hal itu timbulkan decakan sebal dan umpatan tertahan dari Seunghan yang kini harus membereskan semuanya sendirian.
—
Satu minggu berlalu dengan mental yang mulai goyah. Bukan tentang tugas, masih tentang hati. Urusan topik penelitian yang akan jadi bahan seminarnya sudah aman, dalam artian Riku hanya perlu menilai kelebihan dan kekurangan dari seluruh daftar ide yang tersimpan di catatannya, untuk nantinya ia jadikan judul. Kalau Riku sedikit lebih pintar, seharusnya ia menggunakan juga cara itu untuk melihat kelebihan dan kekurangan dari ketiga lelaki itu.
Namun, akalnya mengatakan itu hanya akan membuatnya merasa seperti protagonis yang besar kepala dalam sebuah cerita. Terasa seperti dirinya adalah pusat di mana ketiganya mengorbit pada poros masing-masing yang tak memiliki ujung, sebab terus berputar dalam pusaran waktu yang tak diberikan batas. Padahal selama Riku tak menyematkan judul hubungan dengan siapapun dari ketiganya, ia belum menjadi tokoh utama dalam sebuah kisah cinta. Tapi Riku tak mau jadi egois hanya karena tamak dengan keadaan dan keberadaan.
Mungkinlah ini karma yang dimaksud oleh Seunghan?
Dunia mulai muak dengan peruntungan yang dijalaninya. Bukan untung yang didapat, melainkan rugi. Riku hanya mempermainkan ruang dan waktu. Bukan mengunci keniscayaan, tapi semakin merengkuh keraguan.
Tiga jam yang lalu Riku baru saja mengunggah cerita di akun Instagram keduanya. Hari ini Riku bertemu dengan Daeyoung yang memintanya untuk membantu menyunting karya videonya. Tapi mana mungkin keduanya bertemu hanya untuk itu saja, sudah pasti ada agenda tambahan yang dilakukan. Keduanya berakhir menonton film komedi di bioskop dan makan di outlet makanan sekitar. Tak ada hal aneh yang sekiranya dapat memancing masalah, bahkan Seunghan masih memberinya tanda suka untuk cerita yang dibagikannya.
Masalah kembali mengusik di dua jam lalu ketika Yushi dengan titel “mendadak” yang melekat pada dirinya muncul di hadapan Riku dan Daeyoung yang sudah menghabiskan makanannya. Ia dengan santai—tanpa adegan merajuk—mengajak Riku untuk lanjut jalan dengannya, dan hal yang tak disangka justru terjadi. Daeyoung dengan lapang dada menyerahkan dirinya pada Yushi, lalu pamit pergi setelah mengutarakan ia senang menghabiskan waktu bersamanya sambil mengusak rambutnya.
Riku bingung.
Sungguhan bingung, sebab Riku pernah melihat ketua dan wakil ketua angkatan itu adu mulut perkara merebutkan dirinya. Jadi, apa maksud tingkah aneh yang ditunjukkan keduanya barusan?
Ini buruk.
Lebih buruk, kebingungan itu semakin merayap dalam dirinya ketika Yushi mengajaknya untuk bersenang-senang di area permainan. Kemudian menyarankan untuk membeli benda-benda sepasang.
Beruntungnya, hari ini Yushi hadir sebagai Yushi yang benar-benar dikenalnya. Yushi yang berisik dan konyol, bukan Yushi si ketua angkatan yang jika bicara harus berbobot. Bingung yang sempat membuatnya waspada itu menguap sedikit demi sedikit. Tak beruntungnya, satu jam yang lalu ia diingatkan kembali dengan Seunghan yang semakin menunjukkan dirinya tak suka dengan Yushi. Itu terlihat dari perbedaan reaksinya terhadap cerita yang ia bagi di akunnya. Kini bukan tanda suka yang diberitakan pada bar notifikasinya, melainkan sebuah pesan balasan.
Lah, itu mobil Yushi? Kok lo balik sama Yushi, sih? Daeyoung kemana? Mana beli barang couple pula?
Suara hatinya mulai berisik. Menanggapi semua bisikan-bisikan yang bunyi di kepalanya, Riku membalas tanpa pikir panjang.
“Lo kalau punya masalah personal sama Yushi, lo beresin baik-baik. Kalau emang butuh bantuan dari gue karena gue lagi deket sama dia, gue bantu. Tapi jangan gini, jangan komen gak jelas.”
Dan pesan itu hanya dibalas “sorry” oleh Seunghan. Tak menjawab, justru semakin munculkan tanda tanya juga tanda seru di benak Riku.
Momen-momen yang terjadi hari inilah yang membuat benang-benang di kepalanya semakin kusut. Meski enggan, Riku kembali mengedepankan pertanyaan paling mendasar yang sebelumnya sudah terlintas kala mengingat momen hari ini.
Mungkinkah ini karma yang dimaksud oleh Seunghan?
Riku memang kesal dengan perilaku Seunghan akhir-akhir ini. Riku memang tak mau Seunghan ikut campur terlalu dalam, tapi Riku tetap menganggap Seunghan sebagai kawannya.
Riku mulai berasumsi buruk bagi setiap tingkah aneh yang dilihat dan dirasa olehnya. Mulai dari Seunghan yang sejak minggu lalu terang-terangan tak suka dengan Yushi. Kemudian dengan Daeyoung yang tak menolak permintaan Yushi untuk bisa bermain bersama Riku. Dan yang paling membuatnya kepikiran adalah Yushi. Lelaki itu memiliki perangai yang beragam, di satu pertemuan ia akan berisik dan di pertemuan lain mendadak irit bicara. Anehnya, Riku rasa ini bukan perihal suasana hati. Firasatnya mengatakan ini lebih dari itu. Riku curiga, berubahnya sikap Seunghan, Daeyoung, dan Yushi ini saling berkaitan.
Helaan napas lelah tak terhindarkan. Riku tahu ini semua hanya spekulasi yang belum bisa dibuktikan. Sementara ini, memang hanya Sion yang terlihat “aman”. Riku merasa tak perlu melakukan sesuatu terhadapnya.
AKhirnya setelah berpikir cukup lama sembari bolak-balik melihat cerita yang diunggahnya, Riku putuskan untuk mengajak Daeyoung bertemu kembali. Lusa, di sebuah cafe dekat kampus. Tujuannya bukan untuk mengambil hati, tapi untuk menguatkan dugaannya atas situasi yang mulai tak karuan.
Tibalah hari itu, saat Riku duduk dengan Daeyoung di ujung ruangan pada sebuah cafe bintang empat. Setelah kedua dari mereka menghabiskan makan malamnya, Daeyoung menyeruput minuman yang dipesannya sebelum menatap Riku.
“Dari tadi kita ngomongin tugas, tapi sebenernya tumben banget ya kita ketemuan tanpa ngerjain atau saling bantu ngerjain tugas.” kalimat itu Daeyoung suarakan dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya. Tapi entah kenapa, Riku justru mendengus. Hampir saja lidahnya berdecak sebal sesaat kalimat barusan ia tangkap sebagai pernyataan pahit.
Riku tahu, pertemuannya dengan Daeyoung memang jarang dalam rangka bermain. Tiga atau empat pertemuan terakhir dengannya memang selalu diselingi dengan agenda mengerjakan tugas masing-masing. Yang tak Riku tahu, adalah maksud Daeyoung mengutarakan fakta itu dengan santai. Terlalu santai. Itu membuat Riku tak bisa menebak maksudnya. Menurut Riku, nada bicaranya tak seperti orang sarkas ataupun orang yang sedang memberinya sinyal tertentu. Riku merasa kalimat itu terlalu ringan karena kosong. Tak ada sedikitpun perasaan yang terselip.
“Haha, iya juga. Kan udah gue bilang kali ini beneran sengaja buat makan malem bareng tanpa ada tugas menugas dulu. Dipikir-dipikir kita lebih sering makan bareng di kantin daripada di luar kampus kayak gini. Makanya gue ajak ke sini.”
Dari panjangnya respon yang Riku berikan, Daeyoung hanya mengangguk… dan lanjut menghabiskan minumannya.
The hell?
Riku membuang napas kasar, lalu segera menenggak minumannya hampir secara brutal. Riku mulai naik pitam, tapi setidaknya air yang menyegarkan tenggorokannya dapat mendinginkam sedikit emosi dalam dirinya. Ia hanya tak habis pikir dengan seorang Daeyoung yang biasanya ia banggakan karena keramahan, malah timbulkan kemarahan.
Baru saja Riku akan kembali bersuara, Daeyoung mendahuluinya. “Mau pulang sekarang?”
Fucking hell?
Terlalu geram, Riku bahkan tak bisa tunjukkan wajah kesalnya. Riku justru tertawa pahit, “Ya udah.” dan bangkit dari kursinya.
Di detik ini, Riku putuskan untuk berhenti berharap dan berhenti mengartikan semua baik yang Daeyoung tujukan padanya sebagai bentuk perhatian lebih dari seorang teman. Tingkah laku dan tutur katanya hari ini benar-benar di luar perkiraan. Atau memang selama ini Riku yang terlalu melebih-lebihkan. Kemungkinannya sejak awal Daeyoung menganggap semua interaksi dengan Riku hanya hubungan mutualisme antara kakak dan adik tingkat yang berpijak di balik kata “nilai”.
Kewaspadaannya mengenai sikap yang dilihat dan dirasakan semakin kuat. Tapi Riku tak serta merta membenci Daeyoung. Amarahnya tadi adalah sinyal bahwa kesadarannya mulai terbentuk. Kini Riku hanya perlu untuk mulai mengkotakkan tajuk yang semestinya ada di antara dirinya dan Daeyoung. Riku akan menjadikan momen ini sebagai eliminasi awal dalam permainan yang sudah berbulan-bulan ini tak ada titik terang.
Di atas motor itu, keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai di tengah perjalanan, langit mencurahkan rintik hujan. Daeyoung dan Riku menepi di sebuah gerai alat tulis untuk menghindari basah.
“Kedua kali kita neduh hujan, ya?” Daeyoung yang pertama membuka percakapan.
“Ya?”
“Inget nggak, Kak? Kita neduh di lobi prodi pas lo baru aja ngumpulin tugas proyek waktu itu. Yang kita dengerin lagu bareng.”
Now what?
Untuk apa juga Daeyoung menyinggung hari itu. Jelas Riku ingat, itu hari tersial baginya. Hari di mana Riku meninggalkan ketiga yang lain dan ciptakan jarak yang jadi awal mula hilangnya keteguhan dalam diri sampai kini.
“Inget.” jawabnya singkat tanpa melihat bagaimana ekspresi Daeyoung saat ini. Membiarkan jeda tercipta di antara keduanya.
Firasatnya mengatakan di detik selanjutnya akan ada bom waktu, dan kepingan yang dihasilkannya bisa jadi rambu bagi keberlanjutan peruntungannya.
Satu, dua, ti—
“By the way… Makasih, Kak Riku. Maaf kalau terlalu tiba-tiba. Jujur gue suka ngerasa nggak enak sama lo karena jarang bawa topik selain tugas kalau lagi bareng. Gue bingung mau bahas apa sama lo, gue sering mikir pasti di mata lo gue anaknya boring. Nggak kayak Kak Sion atau Yushi atau… Kak Seunghan, mungkin? Tapi lo tetep mau ngajak gue makan bareng terus kayak tadi, gue beneran berterima kasih.”
—ga. Kan!
Akhirnya Riku menoleh. Ia menatap Daeyoung yang justru mengalihkan pandangannya. “Daeyoung,” panggilnya pelan. Tak selaras dengan jantungnya yang mulai berdetak lebih kencang, bersiap mengakhiri semuanya sekaligus mengawali kembali. “Gue di mata lo itu apa?”
“Maksudnya?”
“Lo pernah mikir nggak, sih? We’re in a situation that almost brings us together in a relationship?”
Riku dengan degupan tertahan dapat mendengar helaan napas dari Daeyoung yang kini tersenyum pahit.
“Awalnya, iya.”
“Sekarang?”
Daeyoung menggeleng, akhirnya membalas tatapan Riku. “Kayaknya kita nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Kayak yang gue bilang, gue nggak bisa memperlakukan lo lebih baik dari yang lain. Gue rasa berteman sama lo itu udah lebih dari cukup.”
Yang lain?
Riku membisu seketika. Tiba-tiba merasa bersalah pada Daeyoung yang sepertinya dari awal sudah mendeteksi permainannya. Terlebih saat bom waktu tadi sudah menghancurkan harapannya, saat Daeyoung menyebut nama-nama yang lain.
“Jadi, karena itu kemarin lo dengan santainya pamitan dan biarin gue berduaan sama Yushi?”
“A-ah, iya. Yushi bilang dia mau beli sesuatu sama lo. Gimana? Lo ada beli sesuatu sama dia?”
Riku mengangkat sebelah alisnya tanda bingung. “Ada… cuma beli beberapa barang couple aja.”
“Biarin aja, dia pasti seneng karena itu emang kepengennya.”
“Kok lo tau-tauan, sih?”
“E-eh? Kita kan partner. Gue paham banget tabiat dia, emang random gitu, kan?”
“Nggak, deh. Sekarang gue mau nanya sama lo. Yushi—”
“Eh, Kak! Udah reda, ayo pulang sebelum hujan lagi.”
Riku seketika memandang ke arah langit, lalu memejamkan matanya sambil menarik dan membuang napas perlahan. Kecewa karena pembuktiannya belum terjawab, tapi semakin yakin dengan dugaannya tentang keterkaitan sikap Daeyoung dan Yushi yang terasa janggal.
—
Jeda yang dibalut oleh “kesibukan” seringkali memutus simpul yang tak diikat kuat. Jarak itu kembali ada bukan untuk meruntuhkan, tapi untuk memberinya waktu sendiri. Dan tentunya memberikan waktu bagi yang lain.
Pertemuannya dengan Daeyoung saat berteduh waktu lalu adalah pertemuan terakhir sebelum Riku benar-benar memfokuskan dirinya pada proposal penelitiannya. Pun dengan Yushi sudah jauh lebih lama saat keduanya bermain dan belanja beberapa benda sepasang.
Itu sudah satu bulan yang lalu. Interaksi Riku dengan keduanya hanya terpaut oleh ruang obrolan dan reaksi pada fitur di platform media sosial yang terbilang jarang. Sebab Riku sendiri mulai membatasi dirinya dalam bermain media sosial, demi kelancaran seminarnya nanti. Pun bertemu di kampus dengan keduanya sudah jarang, entah kenapa Riku benar-benar tak menemukan salah satu dari dua pilar angkatan bawahnya itu. Dan di saat ini, Riku belum ada niatan untuk memutus jarak yang kini terbangun, meskipun spekulasinya soal kedua lelaki itu tak kunjung mereda.
Dalam sebulan ini, hanya Sion yang masih dan terus berada di sekitarnya. Sion dengan cerita-ceritanya saat bertemu, ataupun saat bertukar pesan dalam ruang obrolannya. Baik Riku maupun Sion, sama-sama sedang diliputi pening yang merambat di kepala setiap kali mengingat kemajuan proposalnya. Terkadang keduanya menyengaja untuk mengerjakan kewajibannya itu di ruang belajar terbuka milik kampus atau sebuah cafe yang nyaman dan tentram.
Saat menuju dua bulan dalam ‘jeda’ yang masih Riku jadikan alat penyangga untuk peruntungannya, jadwal seminar telah diumumkan. Sion termasuk ke dalam nama-nama yang dijadwalkan pada batch kedua, sedangkan nama Riku berada dalam daftar batch keempat. Dalam artian, tersisa dua minggu bagi Sion dan empat minggu bagi Riku.
Kini, Riku dan Sion tengah duduk di taman dekat kost yang ditinggali Sion. Riku sengaja mendatanginya untuk melihat bagaimana Sion menyiapkan diri sebelum benar-benar menunaikan kewajibannya dalam dua minggu mendatang. Ketika dirasa cukup, Sion yang mengajukan terlebih dahulu agar keduanya bersantai dan menikmati waktu sore hari sambil jajan kecil.
Riku fokus mengunyah jajanan yang dibelinya sambil menonton anak-anak warga lokal yang sedang bermain. Sesekali ada saja yang membuatnya tertawa. Namun, sosok di samping yang sedang merangkul bahunya justru tak bersuara sama sekali. Riku menoleh, mendapati Sion yang selalu saja tertangkap sedang memandangnya.
“Degdegan, ya?”
Sion tak memutus tatapannya pada Riku. Pandanganya justru semakin berusaha untuk menembus kedua netra berkilauan di hadapannya. “Iya.”
“Lo pasti bisa, kok. Gue yakin pas hari—”
“Nggak, gue bukan degdegan karena sempro.”
“Oh… Terus?”
Sion tak langsung menjawab. Tangannya semakin mengeratkan rangkulannya pada Riku. Pun wajahnya sedikit bergerak lebih dekat ke arahnya. “Karena lo.”
Dan di detik itu, Riku merasakan panas yang mulai menjalar dari wajahnya hingga ke seluruh tubuh. Riku tak bisa menanggapi kata-kata Sion barusan, tubuhnya mendadak kaku. Riku hanya bisa memejamkan matanya menahan senyuman dan merah yang merambat di pipi meskipun faktanya tak bisa.
Riku berdiri, “G-gue mau balik.” katanya tergagap. Riku benar-benar tak bisa memperlihatkan wajahnya yang mungkin terlihat konyol saat ini.
Sion yang masih duduk itu hanya tersenyum. Bibirnya mulai berkedut. “Lah, tiba-tiba. Kenapa? Degdegan juga?” tanyanya dengan gelak tertahan.
“Siooonnn…”
Riku mulai merengek dan mengembungkan pipinya, tapi masih tak berani menatap mata pemilik nama itu.
Sion yang dihadapkan dengan pemandangan menggemaskan seperti itu tak kuasa menahan tawanya. Ia berdiri dan langsung mengacak-ngacak rambut halus Riku, membuat si empunya semakin ribut.
“Ayooo!”
“Iyaaa!”
Tangan Sion kembali merangkul bahu Riku dan menggiringnya ke arah motor Sion yang terparkir di sana.
Riku benar-benar menikmati angin sore dalam perjalanan menuju kostnya. Sampai saat motor itu berhenti tepat di depan kost, Riku dibuat terkejut saat melihat ada satu figur yang sangat dikenalinya berdiri di sana. Riku yang harusnya langsung turun malah terdiam. Tiba-tiba otaknya tak mampu perintahkan kakinya bergerak. Pun Sion di depannya tak menyuruhnya untuk turun, sama-sama menatap sosok itu—Yushi—dalam diam.
Riku yang sempat terpaku menatap Yushi, mulai tersadar saat menangkap arah pandang Yushi. Riku mengikutinya. Sialnya itu mengarah pada kedua lengan Riku yang masih merengkuh tubuh Sion. Riku terlonjak, tanpa aba-aba langsung turun dari motor Sion. Seolah otaknya baru saja kembali berfungsi secara mendadak.
“Y-Yushi?”
“Gue ganggu, ya?”
“Nggak! E-eh? Uhm, iya. Nggak, kok.” saat ini juga Riku ingin menabrakkan kepalanya ke pagar kost di belakangnya. Tak paham dengan dirinya sendiri yang gugup menghadapi Yushi setelah sebulan tak berinteraksi secara langsung.
Mendengar Riku begitu, Yushi beralih menatap Sion. Dan Sion yang merasa ditanya, langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak, gue langsung balik.” ujarnya sambil bersiap untuk kembali melajukan kendaraannya itu. Sion menoleh pada Riku, “Gue balik, ya.” saat melihat Riku mengangguk sambil tersenyum, Sion langsung melajukan motornya meninggalkan Riku bersama Yushi.
Tanpa kata, Riku meraih tangan Yushi dan menariknya untuk ikut masuk.
Sesaat pintu kamarnya tertutup, Yushi tak membuang waktu. “Gue boleh peluk lo nggak, Kak?”
Raut wajah Riku yang sebelumnya bingung karena kedatangan Yushi, kini menjadi terkejut usai mendengar kalimat barusan. Matanya berkedip-kedip ketika bibir yang awalnya menganga berangsur terkatup. Namun, seolah bertolak belakang dengan reaksi yang ditunjukkan melalui ekspresinya, tangan Riku terentang.
Tanpa mengucap ulang permintaannya, Yushi langsung melangkah maju dan menarik tubuh Riku ke dalam pelukannya, seakan takut keberanian itu akan hilang jika ia menunggu lebih lama.
Di posisinya, Riku bingung dengan tangannya yang turut membalas erat rengkuhan Yushi pada tubuhnya. Apakah itu bergerak atas perintah akalnya yang mencoba untuk salurkan empati, atau bergerak atas dasar keinginan hatinya yang diam-diam rindu.
