Work Text:
Mata Joni berkedip dengan ritme yang tidak stabil, nafas-nafas yang terengah memenuhi ruangan bersamaan dengan tepuk tangan yang mengudara. Adrenalinnya masih tinggi, tidak percaya bahwa dirinya bisa nge-drum se-oke itu. Joni meletakkan sepasang stik kayu di tangannya ke atas snare drum, memerhatikan perbincangan antara Jeffrey dan orang... produser musik? ya sepertinya sih begitu. Tepuk tangan berdiri yang meriah tadi seharusnya menjadi pertanda baik bagi mereka. Kakinya melangkah menuju mereka, sudah terlampau lambat dari jadwal pengantaran yang seharusnya, dia harus menepati janjinya pada wanita itu.
"Oke, sekarang lu ikut gua," tangan Joni menyentuh pundak Jeffrey kuat, sekuat tekadnya untuk sampai secepat mungkin ke gedung bioskop.
Orang musik itu tidak mengindahkan perkataan Joni barusan, "Sekarang gua mau ngenalin band lu ke orang-orang rekaman, gimana?" katanya pada Jeffrey. Joni sudah mau mengelak, tapi Jeffrey lebih dulu memotong, "Eh, tapi gua harus pergi?" Joni dalam diam menghargai Jeffrey yang mengutamakan janji mereka.
"Lu mau gua kasih kesempatan lagi nggak?" orang musik itu tetap mendesak Jeffrey, menekankan bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup mereka.
"Gabisa, men, dia harus ikut gua," potong Joni.
"Lu emangnya siapa sih? Germonya dia?" ucap orang musik itu sambil menunjuk Jeffrey.
Joni tersentak, dia hendak membantah keras, tetapi syok lebih menguasai dirinya hingga tidak ada kata yang bisa keluar. Namun, tidak berselang lama Vony datang menyelesaikan masalah mereka, "Biar gua aja yang diskusi sama orang rekaman. Lagian semua ini juga salah gua."
"Yaudah lah. Terserah," Joni berjalan keluar tanpa menengok ke belakang yang diikuti oleh Jeffrey.
"Oke, Von, makasih ya," ucap Jeffrey yang dibalas jempol ke atas oleh Vony.
Sebelum benar-benar menjauh dari garasi terbengkalai itu, Joni dan Jeffrey bisa mendengar sisa percakapan Vony dan orang musik itu. "Tapi, itu orang bakalan tetep jadi drummer lu, kan?" Vony menyilangkan tangannya di dada, memberikan ekspresi tidak yakin, "Nggak tau ya, liat aja tuh orangnya. Pemarah."
Dalam hatinya, Joni hanya mendebat kecil 'lagipula mereka pikir siapa penyebab dia marah begitu, hah?'
----
Mereka berdua berjalan menelusuri gang-gang sempit Jakarta yang setiap sudutnya pasti ada saja makhluk hidup, entah ayam, kucing, anak kecil mengejar layangan, atau ibu-ibu bergosip, “Lu yakin ini jalan yang bener?” tanya Joni sambil melirik Jeffrey yang berjalan di sampingnya dengan santai, tangan di saku hoodie. Sang gitaris itu hanya tersenyum miring kecil, terlihat sangat yakin.
“Yakin lah. Gua sering lewat sini pas nganter barang buat warnet.”
Joni mendengus pelan. Kakinya melangkah cepat, hampir setengah berlari. Harusnya dia sudah jauh lebih cepat dari ini. Wanita itu pasti sudah menunggu, dan dia benci sekali membuat orang kecewa, terutama untuk wanita secantik itu.
Suasana di antara mereka masih canggung yang terbentuk dari fakta bahwa mereka memang tidak saling mengenal, Jeffrey yang mencuri tas Joni, dan audisi band sebelumnya. Joni sesekali melirik Jeffrey dari samping, masih enggan untuk percaya dia benar-benar sedang ditemani anak band punk yang baru ditemuinya sejam lalu.
“Kenapa nggak lu kasih aja alamatnya ke gua?” gumam Joni tiba-tiba. “Gua bisa ambil sendiri tasnya. Lagian kita juga nggak bakal ketemu lagi setelah ini.”
Jeffrey meliriknya, alisnya terangkat. “Emangnya kenapa? Kan gua udah ngerepotin lu. Masa gua biarin lu sendirian? Oiya nama lu siapa? Gua Jefrrey.”
Joni menggaruk tengkuknya, agak kesal. “Ya nggak apa-apa. Gua biasa sendiri. Lagian lu kan sibuk sama band lu. Ngapain repot-repot kenalan segala.”
Jeffrey tertawa kecil, suaranya rendah. “Lu orangnya cepet banget sih nyimpulin. Gua cuma… mau bilang makasih. Beneran.”
Joni melambatkan langkahnya sedikit, menoleh. Jeffrey tidak lagi tersenyum tengil seperti tadi. Wajahnya... agak serius sekarang.
“Yang tadi di audisi… kita udah nyerah. Udah kepikiran bakal bubar kayaknya. Terus lu dateng, mau nolong kita. Padahal kita yang udah nyopet lu. Jangan-jangan malaikat ya lu? Hahahaha.”
Joni diam. Tawa renyah itu tidak mampu membantu otaknya untuk memikirkan jawaban yang tepat.
“Jadi… makasih,” lanjut Jeffrey, suaranya lebih pelan, kali ini dia menatap Joni walau masih sambil berjalan. “Bukan cuma soal jadi drummer dadakan, tapi lu bikin kita bisa buat nyoba di saat kita pikir sekedar nyoba itu bahkan hampir gak mungkin.”
Joni menghela napas. “Ya udah. Nggak usah lebay,” Joni memikirkan setidaknya 5 alternatif luaran dari perbuatan yang akan dia lakukan sekarang, tetapi dia memutuskan untuk memberikan namanya pada Jeffrey, "Btw.. gua Joni."
Terlepas dari antisipasinya, Jeffrey hanya menunjukkan senyum miring kecil itu lagi yang entah kenapa sedikit mengecewakan bagi Joni. Mereka kembali berjalan. Beberapa detik hening, lalu Jeffrey bertanya lagi dengan nada ringan, tapi jelas penasaran.
“Lu tinggal di mana sih? Keliatan orang Jakarta banget.”
“Daerah Tanah Abang,” jawab Joni pendek.
“Wah, deket. Gua tidur di warnet dekat situ. Anak keberapa lu?”
“Anak terakhir, kelima. Sodara gua cowok semua,” jawab Joni sambil menendang kerikil kecil di jalanan. “Lu?”
“Anak tiga. Tapi udah jarang ketemu keluarga,” Jeffrey nyengir tipis, tapi senyumnya nggak sampai ke mata. “Lu bisa main drum beneran? Atau cuma iseng tadi?”
Joni mengangkat bahu. “Dulu sering main di gereja. Udah lama nggak pegang. Kebetulan aja tadi.”
“Bagus banget kebetulannya,” kata Jeffrey sambil tertawa kecil. “Kalo nggak ada lu, kita mungkin udah pulang bawa malu.”
Joni melirik Jeffrey lagi. Anak ini ternyata nggak se-tengil yang keliatan. Ada sesuatu di balik sikap santainya yang agak… tulus. Tapi Joni buru-buru mengusir pikiran itu.
“Udah, nggak usah banyak omong. Kita buru-buru aja. Gua ada janji penting yang harus gua tepatin.”
Jeffrey mengangguk, tapi senyum kecil masih tersisa di bibirnya. “Oke, Bos. Gua ikut lu.” Mereka terus berjalan berdampingan. Joni masih merasa canggung, tapi entah kenapa, keheningan di antara mereka sekarang terasa sedikit lebih ringan daripada lima menit lalu.
----
Joni dan Jeffrey tanpa sengaja melangkah masuk ke area syuting film yang sedang berlangsung di pinggir jalan. Kabel-kabel berserakan, lampu sorot menyilaukan, dan beberapa kru berlarian. Joni yang tidak sadar bahwa itu adalah lokasi syuting memutuskan untuk bertanya arah kepada aktor dan aktris yang sedang berakting, "Mbak, mohon maaf kayaknya kita hilang arah, tahu rumahnya Adam Subandi?"
Aktris itu dengan cepat menjawab dengan nada marah bercampur frustasi, "Kita semua kehilangan arah di sini, gua gabisa bantu lu cari jalan yang lu mau," Joni yang mendengarnya hendak mengucapkan terima kasih dan pergi, tetapi aktris itu melanjutkan kalimatnya, "Tapi, tolong jangan pergi. Kalo lu pergi, gua gabakal bisa maju, gua juga harus ngulang semuanya dari awal.. dan gua pikir gua nggak akan sanggup."
Jeffrey yang juga tak sadar apa yang sedang terjadi menimpali, "Kan udah gua bilang, gua tahu jalan terbaiknya. Tinggal ikut aja apa susahnya sih?"
Joni langsung menoleh kesal. “Susahnya lu yang bikin gua susah, Jef! Lu bilang ‘tahu jalannya’, taunya malah muter-muter. Gua gabisa terus-terusan jalan tanpa arah.”
Jeffrey mengangkat kedua tangan. “Sabar dulu, denger ya, gua sendiri yang sebelumnya ngasih punya lu ke sana. Santai dikit, nanti juga sampe.”
Tangannya memegang pundak Joni kuat, sekuat kepercayaan dirinya, "Gua janji.. kita sekarang nggak sedang salah arah dan akan sampe ke tempat itu secepatnya."
Sutradara yang tadinya marah-marah langsung diam, matanya membesar. “Ini… ini bagus! CUT! Ini bisa jadi ad-lib yang mantap buat film kita. Kita semua kehilangan arah di sini.. ciamik..”
Dialog improvisasi yang sama sekali bukan akting itu malah dianggap mahakarya oleh sang sutradara. Ia bertepuk tangan dari belakang monitor. “Bagus! Natural banget! Chemistry-nya hidup! Ini yang gua cari dari tadi!”
Asisten sutradara mendekat sambil tersenyum lebar. “Kalian berdua mau stay sebentar nggak? Ada bayaran. Lumayan, 500 ribu per orang buat hari ini.”
Mata Jeffrey langsung berbinar. “Serius? 500 ribu?”
“Jef!” Joni langsung menyikut pinggangnya keras. “Gua buru-buru banget! Gua ada janji yang harus ditepati, dan lu juga udah janji ke gua.”
Jeffrey menggaruk tengkuknya. Wajahnya sempat tampak serakah, tapi perlahan berubah. Dia melihat wajah Joni yang sudah benar-benar kesal dan lelah.
“Gua… gua cuma mikir bisa dapat uang buat band,” gumamnya pelan.
“Lu tahu kan keadaan kita?” kata Joni dengan suara rendah tapi tajam. “Tas itu bukan tas biasa. Isinya rol film buat bioskop. Kalau gua telat, filmnya bakal berhenti di tengah jalan. Bukan cuma gua yang rugi, tapi banyak orang yang udah nyempetin waktu, ngantri, dan keluar uang buat nonton film itu. Gua nggak mau jadi orang yang ingkar janji.. dan kalau lu inget, lu yang nyebabin ini semua. Sekarang lu masih mau nahan gua?” Joni mendekatkan wajahnya kepada Jeffrey, menunjukkan keseriusannya.
Jeffrey terdiam cukup lama. Senyum tengilnya hilang total. Dia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
“Ya udah… ayo pergi,” katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. “Gua salah. Gua nggak punya hak nahan lu.”
Sutradara yang melihat interaksi mereka malah semakin antusias. “Wah, adu mulutnya juga keren! Rekam semua!”
Begitu Joni dan Jeffrey hendak pergi, sutradara berlari mendekat sambil bertepuk tangan keras.
“CUT!! Lu berdua luar biasa! Lebih bagus dari aktor utama kita! Berantemnya asli gitu, chemistry-nya dapet banget. Pacaran ya kalian? Tadi mukanya deket banget, gua kira mau ciuman lho! Kok nggak ada cipokannya? Kecewa nih sutradara!”
Joni dan Jeffrey langsung saling pandang sekilas. Wajah keduanya memerah hampir bersamaan.
“Bukan! Kami bukan pacaran!” kata mereka hampir bareng.
Mereka buru-buru kabur dari lokasi syuting sambil dikejar teriakan sutradara yang masih semangat.
“Balik sini! Masih banyak adegannya! Eh jangan pacaran dulu! Masih ada scene romantisnya!”
Joni mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena lari. Sementara Jeffrey berjalan di sampingnya dengan wajah yang agak murung, sesekali melirik Joni dari samping. Entah kenapa, suasana di antara mereka terasa semakin berat… dan aneh.
----
Baru beberapa meter meninggalkan lokasi syuting, Joni dan Jeffrey belum sempat bernapas lega ketika terdengar suara teriakan kasar dari belakang.
“JEFRYYYY!! Lu kira bisa kabur begitu aja, hah?!”
Joni menoleh. Tiga orang preman bertato dengan muka garang sedang berlari ke arah mereka. Salah satunya memegang pipa besi.
“Siapa mereka?!” tanya Joni panik.
Jeffrey langsung memucat. “Teman lama… yang gua pernah tabrak motornya waktu balap liar.. lupa kapannya. Buruan lari!”
Tanpa banyak bicara, keduanya langsung berlari sekuat tenaga. Karena tidak memakai sepatu yang cocok berlari, mereka merasa seperti mau mati, napasnya sudah ngos-ngosan sejak tadi.
“Lu emang bawa masalah ke mana-mana ya?!” teriak Joni sambil lari.
“Gua juga nggak nyangka mereka masih dendam!” balas Jeffrey sambil tertawa gugup. “Lari ke kiri! Lewat gang kecil!”
Mereka berbelok tajam masuk gang sempit. Preman-preman itu semakin dekat, umpatan kasar mereka menggema di antara tembok.
“Lu yang bikin gua telat, lu yang bikin gua dikejar preman, lu emang pembawa sial!” gerutu Joni.
Mereka terus berlari, melewati tumpukan sampah dan genangan air. Joni merasa kakinya mulai pegal, tapi adrenalin membuatnya terus maju. Di belakang, suara langkah preman semakin dekat.
“Ke sana!” Jeffrey menunjuk sebuah tempat sampah kotak besar yang kosong di ujung gang. “Masuk! Cepet!”
Joni melirik Jeffrey sekilas dengan ekspresi “lu gila ya?”, tapi tidak ada pilihan lain. Mereka berdua langsung melompat masuk ke dalam tempat sampah yang pengap dan gelap itu.
Tempat sampah besar itu terasa seperti pintu masuk neraka kecil yang pengap. Begitu Joni dan Jeffrey melompat masuk dan menutup tutupnya, kegelapan langsung menelan mereka. Bau busuk dari cairan organik yang kering disekujur dinding plastik itu langsung menyerang hidung mereka tanpa ampun. Ruangannya sempit, nyaris tak cukup untuk dua orang dewasa. Bahu mereka saling bersentuhan, lutut mereka hampir bertemu, dan setiap gerakan kecil membuat tubuh mereka saling bergesekan.
Mata Joni berkedip cepat, berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan yang pekat. Napasnya masih tersengal-sengal setelah lari sekian jauh. Keringat membasahi punggungnya, bercampur dengan debu dan kotoran dari trotoar. “Gila… bau banget di sini,” Joni menyalakan korek api miliknya, memberikan penerangan minimalis yang hanya cukup untuk melihat wajah mereka berdua.
Jeffrey yang berada tepat di depannya, nyaris menempel, bermimik waspada, suaranya teredam. “Jangan ngeluh. Lu mau dikejar preman sambil digebukin pake pipa besi? Ini masih mending daripada tulang rusuk lu patah. Bisa mati bego.”
Di luar lokasi persembunyian mereka, terdengar langkah kaki berat dan suara umpatan kasar yang semakin mendekat. Joni langsung menegang. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena lari, tapi karena situasi absurd ini.
“Mereka dateng,” bisik Joni tegang, suaranya hampir hilang.
Jeffrey mengangguk pelan. Tubuhnya yang lebih besar membuat ruangan terasa semakin sempit. “Sstt… diem dulu. Mereka biasa begini. Pura-pura pergi, terus balik lagi.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hanya suara napas mereka yang terdengar, bercampur dengan bunyi detak jantung Joni yang terasa sampai ke telinga. Bau sampah semakin terasa menusuk, tapi Joni berusaha mengabaikannya. Yang lebih mengganggu adalah kedekatan tubuh Jeffrey. Lutut mereka bersentuhan karena berposisi jongkok, dan setiap kali Jeffrey bergerak sedikit, Joni bisa merasakan panas tubuhnya.
“Kayaknya udah pergi,” kata Joni pelan setelah beberapa saat.
“Tunggu dulu,” Jeffrey menahan lengan Joni. Jarinya hangat. “Jangan buru-buru. Preman itu dendamnya lama. Bisa aja mereka nunggu di ujung gang.”
Joni menghela napas panjang. “Gua harus buru-buru, Jef. Gua nggak mau bikin puluhan orang di bioskop kecewa.” Jeffrey diam sejenak. Dalam cahaya remang-remang, Joni tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi nada suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Komponen besi dari korek itu terasa terlalu panas untuk terus dipegang, Joni melepaskan tekananannya, membuat tempat itu kembali gulita selama tiga detik. Namun, Jeffrey yang menyadarinya langsung meraih kantongnya dan memantik api miliknya, "Lu nggak inget berita tentang lima orang yang dibakar di terminal? Cuma gara-gara ada orang yang neriakin mereka maling?"
Joni tahu berita itu, dan bukan bohong jika dia khawatir hal sama akan terjadi kepada mereka. Mengecewakan penonton, gadis yang dia suka, dan mati sia-sia. Sungguh nasib terburuk khas kehidupan di ibukota. Namun, dibalik kekhawatiran itu, Joni sadar bahwa semakin lama dia menunda-nunda dan memikirkan luaran terburuk berkali-kali sama saja dengan membuat dirinya semakin dekat dengan luaran terburuk itu.
Matanya memejam kuat, memaksa dirinya untuk sadar bahwa dia harus secepat mungkin bertindak. Tangan Joni memegang tangan Jeffrey yang sedang memegang korek api. Lidah api itu bergoyang, seirama dengan jantung Jeffrey yang entah kenapa ikut tersentak. Entah karena gerakan Joni yang sama sekali tidak dia antisipasi, atau hal lain?
"Tapi.. gua punya pekerjaan. Dan gua harus ambil resiko ini buat selesain pekerjaan itu," Tatapan mereka terkunci sesaat, Jeffrey yang pertama memutusnya.
Mereka diam lagi. Suara langkah di luar sudah tak terdengar. Hanya angin sepoi-sepoi yang samar-samar menyusup lewat celah penutup tempat sampah.
“Udah aman kayaknya,” kata Jeffrey akhirnya sambil mengeluarkan nafas berat. “Ayo keluar. Lu harus cepet kan?”
Joni melirik jam digital di tangan kirinya. Layarnya menyala samar di kegelapan. “Iya. Kita harus—”
Belum sempat selesai bicara, Jeffrey yang mencoba bangun kehilangan keseimbangan karena lantai tempat sampah yang licin oleh sisa cairan entah apa. Tubuhnya ambruk ke depan secara mendadak, menindih Joni hingga tersungkur.
Korek gas yang mereka pegang jatuh ke lantai dan padam.
Gelap total.
Dalam kegelapan yang mendadak itu, bibir mereka bertemu tanpa sengaja.
Entah berapa lama, tapi rasanya seperti waktu berhenti. Bibir Jeffrey hangat, sedikit kasar karena cuaca panas dan lari-larian seharian. Joni membeku sepenuhnya, matanya terbuka lebar meski tak bisa melihat apa-apa. Napas Jeffrey yang tersengal menyapu pipinya. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang mundur. Hanya ada rasa hangat yang aneh, lembut, dan membingungkan yang merayap pelan di dada Joni. Kegelapan absolut membuat mereka tidak bisa melihat ekspresi masing-masing. Apakah salah satunya menutup mata? Apakah sang lawan main memberikan raut jijik? Ketidaktahuan itu menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka.. Atau malah disayangkan?
Tangan Jeffrey yang sebelumnya mencoba menopang tubuhnya tanpa sengaja bergeser di dada Joni. Jarinya menyenggol puting Joni lewat kaos tipis yang sudah basah keringat dengan kecepatan dan tenaga yang tidak terkontrol baik.
“Hngh—!” Joni mendesah kecil, suara lucu yang keluar tanpa izin, campuran kaget, geli, dan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Mereka langsung tersadar seperti disengat listrik. Kedua-duanya mendorong tubuh masing-masing sekuat tenaga. Kepala mereka membentur tutup tong sampah keras sekali.
“Anjing!” seru mereka berbarengan.
Mereka buru-buru keluar dari tempat sampah. Begitu berdiri di luar, udara terasa segar meski masih bau sampah menempel di baju mereka. Jarak di antara mereka hanya tersisa sekitar sepuluh senti. Joni membersihkan bajunya dengan gerakan kaku, wajahnya memerah sampai ke telinga. Jeffrey menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dilapisi hoodie itu, mukanya juga merah padam, beruntung dapat lebih disembunyikan. Untuk pertama kalinya, si tengil Jeffrey terlihat benar-benar salah tingkah.
“...Sori,” gumam Jeffrey pelan, suaranya aneh dan gugup. “Gua… gua nggak sengaja.”
Joni nggak berani menatap mata Jeffrey. Dia hanya mengangguk kaku. “Nggak usah dibahas.”
Tapi di kepala Joni, pikiran itu berputar-putar tanpa henti. Sebelum keluar dari tempat sampah, Joni sempat melirik sekilas jam digitalnya. Tiga belas detik. Ternyata mereka berciuman selama tiga belas detik. Namun, bukankah menurut penelitian waktu rata-rata ciuman pertama adalah dua belas detik saja? Lalu kenapa milik mereka bisa lebih lama dari kebanyakan orang di seluruh dunia?! Joni dalam hati terus mengutuk kenapa mereka tidak langsung bangun? Kenapa dirinya… tidak langsung mendorong Jeffrey? Jika saja tangan Jeffrey tidak bergerak dan rasa malu tidak mengambil alih kesadaran mereka, akankah ciuman itu akan terjadi jauh lebih lama? Joni sama sekali tidak mau mendengar apapun jawabannya.
Joni melirik kilat ke sebelahnya melalui ujung mata, Jeffrey juga diam. Dia yang biasanya selalu punya jawaban jail, kali ini hanya bisa menelan ludah.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam yang canggung. Tapi jarak di antara mereka kini lebih dekat dari sebelumnya. Bahu mereka sesekali bersenggolan, dan tak satu pun yang berusaha menjauh.
----
Rumah Adam Subandi berdiri di ujung gang sempit seperti sebuah rahasia yang enggan terbuka. Dindingnya tinggi, dicat pudar dengan warna abu-abu yang hampir menyatu dengan senja. Pintu kayu beratnya terasa seperti gerbang antara dunia biasa dengan sesuatu yang lebih aneh. Joni berdiri di depan pintu itu, napasnya masih agak tersengal. Jeffrey berdiri di sampingnya, lebih diam dari biasanya.
Joni mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Joni dan Jeffrey memutuskan untuk langsung masuk. Udara terasa lebih berat di sini. Bukan karena panas, tapi karena ada sesuatu yang tak kasat mata yang mengawasi, seperti banyak cerita yang pernah disimpan di balik tembok ini. Mungkin itu iguana yang ada di terarium? Mungkin juga itu kodok yang ada di paludarium? atau herpetofauna lain di dalam rium-rium lainnya. Suara api unggun terdengar dari arah belakang yang mana mereka ikuti sumbernya. Terdapat pintu terbuka yang mengarah ke sebuah halaman belakang besar, banyak barang-barang bekas di sana, dan sebuah api unggun yang membara, serta seorang pria paruh baya dengan rambut putih acak-acakan. Adam Subandi.
"Pamerannya belum dimulai," Adam Subandi yang memunggungi Joni dan Jeffrey berkata mantap walau salah membaca intensi mereka berdua.
“Tasnya,” kata Joni langsung, suaranya tegas meski lelah. “Saya datang untuk mengambil tas yang dicuri orang-orang itu. Mereka bilang tas saya ada di sini.”
Adam membalikkan badan tersenyum tipis, kakinya melangkah pelan menuju tumpukkan barang-barang bekas, tangannya meraih sebuah tas.
"Maksudmu tas ini?" Adam Subandi mengangkat tas berisi rol film itu seolah-olah trophy pemburu.
“Kenapa saya harus mengembalikan tasmu?” tanya Adam pelan, suaranya dalam dan tenang.
Joni menelan ludah. “Karena tas itu bukan milik saya. Saya cuma orang yang dipercaya untuk mengantarnya. Kalau saya gagal, banyak orang yang bakal kecewa. Film di bioskop bakal berhenti di tengah. Saya… sudah berjanji, saya nggak mau jadi orang yang ingkar janji.”
Adam mengangguk pelan, dia melangkah mendekat menuju api. “Pertanyaan kedua. Kepada siapa tepatnya kau menjanjikan hal itu?”
Joni hendak merebut tasnya, tetapi seketika berhenti ketika mendengar ancaman Adam Subandi, "Kau mendekat satu langkah saja, kubakar tas ini."
Joni membeku. Kakinya tertahan di batas ubin yang lembap. Namun, belum sempat Joni membuka mulut, sebuah bayangan ber-hoodie hitam melesat maju, mendahuluinya.
"Eh, Pak! Jangan gila ya!" Jeffrey berteriak, suaranya parau tapi bergema galak di halaman belakang yang sunyi. Dia melangkah maju dua langkah, menempatkan tubuhnya sendiri di antara Joni dan Adam Subandi, seolah siap menerjang api demi merebut tas itu. "Lu kalau mau bakar, bakar aja barang rongsokan lu yang lain! Jangan tas itu. Itu punya Joni, dan lu nggak ada hak!"
Adam Subandi tidak tersentak. Joni berterima kasih samar dalam hati terhadap gertakan Jeffrey, sekaligus merasa geli karena mendengar namanya disebut untuk kali pertama olehnya.
Mata sang seniman yang sedingin raksa beralih dari Joni, kini mengunci Jeffrey. "Aku punya hak penuh atas apa pun yang masuk ke dalam teritoriku. Termasuk sampah."
"Gua yang bawa tas itu ke sini! Gua yang bego karena ngasih itu ke anak buah lu!" Jeffrey maju selangkah lagi. Bahunya menegang, tangannya keluar dari saku hoodie, terkepal kaku. "Jadi kalau lu mau minta alasan, minta ke gua. Jangan ke dia. Dia nggak tahu apa-apa, dia cuma korban kesialan gua hari ini," lanjut Jeffrey dengan nada yang lebih lembut dan rendah.
Joni menatap punggung Jeffrey dari belakang. Ada getaran samar di pundak cowok itu yang bukan karena takut, melainkan karena sisa adrenalin dan rasa bersalah yang menumpuk sejak sore. Bau keringat dan sisa asam dari tempat sampah yang menempel di tubuh Jeffrey menguap bersama hangatnya api unggun, menyergap indra penciuman Joni.
Adam Subandi tersenyum tipis, kepalanya miring. "Menarik. Dua orang asing tersesat di rumahku. Yang satu bersikeras membawa beban dunia, yang satu lagi bersikeras menjadi tamengnya. Beri aku satu alasan... kenapa aku tidak membakar tas murahan ini. Ini tidak cocok untuk pameranku."
"Karena tas itu berharga buat dia!" Jeffrey menunjuk Joni tanpa menoleh ke belakang. "Gua nggak peduli soal pameran lu yang sok berseni ini. Tapi cowok di belakang gua ini... dia udah kehilangan motor, diuber preman, hampir mati digebukin, dan masuk ke tempat paling busuk cuma demi benda di tangan lu. Lu seniman, kan? Katanya seniman menghargai perjuangan? Itu perjuangan, Bangsat! Kasihlah!"
"Jeffrey, udah..." bisik Joni, mencoba menarik ujung hoodie Jeffrey. Dialog kasar Jeffrey terasa terlalu berisiko di depan pria eksentrik seperti Adam.
Namun Adam Subandi justru terkekeh. Suaranya rendah dan bersih. "Perjuangan untuk apa? Kau," Adam menunjuk Joni dengan dagunya, "Kau bekerja sebagai apa?"
"Pengantar rol film," Joni yang menjawab, suaranya tegas menginterupsi ketegangan.
"Dan kau menganggapnya sebagai karir?" tanya Adam lagi, nadanya mulai menguliti. "Kamu terdengar cerdas. Tapi kenapa memilih jadi orang yang... under achiever? Kamu bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik kalau mau."
Sesuatu bergerak di dada Joni. Bukan amarah. Lebih seperti kelelahan yang menemukan bentuknya. "Apa definisi Anda soal pekerjaan yang lebih baik? Yang gajinya besar? Begitu?" Joni menggeleng pelan. "Bapak mengecewakan saya. Untuk seorang seniman, cara pandang Bapak terlalu dangkal."
Mendengar ketegasan Joni, Jeffrey yang tadinya menggebu-gebu mendadak urung menyela. Dia menurunkan tangannya perlahan, mundur satu langkah hingga kembali berdiri sejajar dengan Joni, terserap oleh wibawa tenang yang mendadak menguar dari tubuh pengantar rol film di sebelahnya itu. Jeffrey tidak bergerak lagi, dia membiarkan lengannya bersentuhan samar dengan lengan Joni, matanya terpaku pada profil samping wajah Joni yang mengeras di bawah jilatan cahaya jingga api unggun.
"Jelaskan," kata Adam.
"Pekerjaan yang tepat adalah pekerjaan yang membuat Anda bahagia menjalaninya."
"Dan kau bahagia mengantar rol film?"
"Ya." Joni tidak ragu. Dan anehnya, di momen itu dia sendiri terkejut betapa dirinya sungguh-sungguh bermaksud demikian. "Karena pengiriman adalah dasar dari semua komunikasi. Dia menghubungkan orang. Ingat para nabi? Mereka juga bekerja sebagai pengirim. Mereka mengantarkan pesan Tuhan kepada manusia."
Adam menatapnya lama. Halaman belakang itu mendadak jatuh ke dalam bentang sunyi yang ganjil. Di samping Joni, Jeffrey menelan ludah dengan berat; sebaris kalimat tentang "menghubungkan orang" itu seperti menghantam sesuatu yang rapuh di dalam dadanya sendiri, mengingatkannya pada bandnya yang nyaris bubar sore ini sebelum ketukan drum Joni menyatukan mereka kembali. Jeffrey perlahan menggeser posisinya, bergerak mundur ke sudut halaman dekat pintu, menyandarkan satu bahunya pada kusen kayu yang lapuk, menyembunyikan tangannya dalam-dalam di saku hoodie seolah sedang melindungi diri dari kebenaran yang baru saja ia dengar.
"Kau sungguh pikir aku akan percaya omong kosong itu?" tanya Adam, memecah keheningan.
"Tampaknya tidak."
"Tepat sekali."
Adam Subandi menatap Jeffrey sekilas, lalu pandangannya bergeser kembali ke arah Joni. Ada dinamika aneh yang ditangkap oleh mata tua sang seniman dari gerak-gerik kaku kedua pemuda itu. "Dia membelamu dengan sangat baik, Pengantar Rol Film. Lebih baik daripada caramu membela dirimu sendiri."
Hening sedetik. Adam mengangkat tas itu tinggi-tinggi di atas lidah api.
"Jangan—"
Api menelan sesuatu. Detik yang menjedang itu membuat jantung Joni dan Jeffrey seolah berhenti berdetak bersamaan. Namun, yang hangus terbakar adalah tas duplikat yang usang. Adam Subandi memadamkan percikan kecil di lengan kemejanya, lalu menjulurkan tas yang asli ke arah Joni.
"Itu tas lamaku. Kamu juga beli ini di Blok M, kan? Ini."
Tangan Joni maju, menerima tas itu. Dingin. Ritsletingnya sedikit berkarat di sudut kiri, tapi berat di dalamnya menandakan rol film itu aman. Utuh. Napas Joni keluar berbarengan dengan helaan napas berat dari Jeffrey yang langsung menurunkan bahunya yang tegang.
Tapi sebelum mereka sempat berbalik, Adam Subandi melempar pertanyaan terakhirnya. Pertanyaan yang sebenarnya.
"Kepada siapa tepatnya kau menjanjikan hal itu?"
Joni terpaku. "Kepada seorang perempuan. Saya berjanji mengantarkan filmnya tepat waktu. Kalau berhasil, kami akan bertukar nama."
Saat kata "perempuan" itu lolos dari bibir Joni, Jeffrey yang berada di sebelahnya mendadak terdiam sepenuhnya. Lapisan defensif dan kegarangan yang tadi dipamerkannya runtuh seketika. Jeffrey memalingkan wajahnya ke arah kegelapan halaman belakang, tangannya kembali menyusup dalam-dalam ke saku hoodie.
Ada perubahan suhu yang drastis di antara mereka berdua. Udara mendadak terasa lebih berat daripada saat Adam mengancam akan membakar tas tersebut.
"Sebuah nama," gumam Adam Subandi, matanya menatap lekat ke arah Joni, namun sudut matanya dengan jeli membaca perubahan sikap Jeffrey. "Manusia itu lucu. Mereka rela menerjang badai demi sebuah konsep abstrak yang mereka sebut masa depan, sampai-sampai mereka lupa melihat siapa yang menopang mereka selama badai itu berlangsung."
Joni tidak bodoh. Kalimat Adam berputar di kepalanya seperti proyektor yang kehilangan fokus. Siapa yang menopangnya selama badai?
Secara tidak sadar, mata Joni melirik ke samping. Jeffrey berdiri di sana, diam, membelakangi cahaya api. Rahangnya mengeras. Di bawah remang senja rumah Adam, Joni bisa melihat jari tangan Jeffrey yang memutih karena terlalu lama dikepalkan.
Seharian ini, Joni meyakinkan dirinya bahwa dia berlari demi senyuman wanita di bioskop. Wanita itu adalah akhir yang indah, sebuah janji yang rapi. Tapi Jeffrey... Jeffrey adalah rusuh yang nyata. Kulit yang bergesekan, napas memburu yang tertangkap indra pendengaran, dan rasa hangat menggelitik yang tertinggal di bibirnya selama tiga belas detik di dalam kegelapan absolut tong sampah.
Apakah Joni benar-benar menyukai wanita itu? Atau dia hanya menyukai ide tentang menepati janji? Dan lagipula kenapa pula dia jadi sering memikirkan Jeffrey? Apakah karena dia sedang bersamanya? Atau fakta bahwa mereka baru saja 'berciuman' yang mana masih membekas rasanya hingga kini?
"Jon," suara Jeffrey memecah keheningan. Nada bicaranya berubah total, seperti kehilangan semua letupan emosi yang tadi ada, menyisakan suara yang rendah, parau, dan terlampau tenang. "Ayo pergi. Keburu filmnya putus. Cewek lu... udah nunggu."
Kata "cewek lu" diucapkan Jeffrey dengan berat, seperti menelan kerikil tajam. Dia tidak menunggu jawaban Joni. Jeffrey berbalik lebih dulu, melangkah kaku menembus ruang tamu Adam Subandi yang gelap.
Joni memeluk erat tas rol film di dadanya. Ironisnya, setelah berhasil mendapatkan kembali benda yang dia pertaruhkan sepanjang hari, kakinya justru terasa terlalu berat untuk melangkah menuju bioskop.
-----
Langkah kaki Joni terasa berat, seolah ubin bioskop dilapisi lem yang menahan setiap jengkal sepatunya. Di lobi yang berbau karpet tua dan berondong jagung manis, Jeffrey berhenti. Dia tidak masuk lebih jauh. Cowok ber-hoodie itu hanya berdiri di dekat pintu kaca besar, tangannya kembali tenggelam ke dalam saku, memberikan anggukan kecil yang kaku.
"Goodluck," kata Jeffrey pendek.
"Makasih," balas Joni.
Untuk beberapa saat ke depan hanya keheningan canggung. Rasanya seperti masih ada yang harus dikatakan, tapi tidak tahu apanya. Joni kemudian hanya mengangguk lagi kepada Jeffrey, "Bebas lu sekarang, makasih lagi ya."
Joni langsung berbalik badan, memasuki bioskop. Dadanya bergemuruh. Dia setengah berlari menuju ruang proyektor, meniti anak tangga demi anak tangga dengan jantung yang berdentum memekakkan telinga. Pintu kayu ruang proyeksi didorongnya kasar.
Pak Ucok sedang duduk di kursi plastik, menghisap rokok kreteknya yang tinggal setengah. Mesin proyektor raksasa di sampingnya mati. Dingin. Tidak ada deru seluloid yang berputar. Sunyi di ruangan itu terasa begitu mutlak, seperti kuburan massal untuk harapan yang mati muda.
"Pak..." Suara Joni parau, tas rol film disodorkannya dengan tangan gemetar. "Ini. Rol segmen terakhir filmnya."
Pak Ucok menoleh, tatapannya dipenuhi rasa iba yang tak tertutupi. Dia mengembuskan asap rokoknya pelan. "Udah bubar, Jon. Tiga puluh menit lalu. Penonton ngamuk, sebagian minta duit dibalikin. Kosong udahan."
Dunia Joni rasanya runtuh saat itu juga. Rekor bersihnya, dedikasinya, segalanya menguap menjadi abu. "Perempuan itu... perempuan berbaju biru, rambut bergelombang sebahu?"
Pak Ucok tidak menjawab dengan kata-kata. Dirina merogoh saku kemejanya yang lohor, mengeluarkan sepotong tiket bioskop yang bagian belakangnya telah dicoret dengan pulpen hitam. "Dia nunggu paling lama. Pas yang lain udah pulang, dia masih duduk sendirian di dalam. Tapi ya... manusia ada batasnya, Jon. Dia titip ini sebelum naik taksi."
Joni menerima kertas itu. Jari-jarinya kaku. Di atas kertas tiket yang agak lecek, sebaris tulisan tangan yang rapi tapi tegas menyengat matanya:
"Saya pikir kamu berbeda. Saya pikir kamu... tepat. Ternyata saya salah. Semoga harimu menyenangkan."
Tidak ada nama. Janji itu mati sebelum sempat bertukar kata.
Joni mundur selangkah, napasnya keluar dalam satu helaan pendek yang terasa menyakitkan di dada. Batinnya tidak mendebat. Dia tidak menjelaskan pada Pak Ucok bahwa motornya dicuri, bahwa dirinya harus menjadi drummer dadakan, atau bahwa rol filmnya hampir dibakar seniman gila. Semua alasan itu mendadak terasa murah di hadapan sebuah kegagalan yang mutlak.
Joni berjalan keluar melalui pintu belakang, menghindari lobi. Tubuhnya berakhir di area parkir luarbioskop yang mulai sepi. Senja telah sepenuhnya mati, digantikan oleh langit Jakarta yang gerah dan pekat. Udara berbau asap knalpot dan aspal basah yang melepaskan sisa panas siang hari.
Joni duduk di pembatas semen parkiran, menekuk lututnya, dan menunduk dalam-dalam. Tas rol film itu sudah kosong sekarang sama seperti otak dan hatinya. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. Semuanya sia-sia. Motornya yang merupakan satu-satunya aset untuk menyambung hidup harus hilang tanpa jejak. Perempuan yang membuatnya gila seharian ini pergi membawa kekecewaan. Dan sekarang dia sendirian. Kosong. Kenapa ini semua harus terjadi pada dirinya? Apa salahnya? Kenapa takdir begitu kejam? Apakah dunia akan hancur jika dirinya bahagia? Salahkan dirinya mengejar kebahagiaan? Apakah omong kosong Adam Subandi tadi benar?
Di tengah badai kepalanya sendiri, sebaris cahaya samar memotong bayangan malam di atas sepatunya. Sebuah siluet tinggi berdiri tepat di hadapannya, menghalangi lampu merkuri parkiran.
Joni mendongak pelan. Jeffrey berdiri di sana. Hoodie hitamnya agak kotor di bagian siku, wajahnya lelah, tapi matanya tetap tajam menatap Joni. Dia tidak pergi.
Melihat kehadiran Jeffrey, benteng pertahanan Joni runtuh. Sudut matanya terasa panas. Kerongkongannya tercekat oleh tumpukan kalimat yang ingin meledak keluar seolah ingin mengutuk hari ini, ingin menjerit bahwa dia gagal, dia kalah telak, bahwa wanita itu menganggapnya pembohong. Wajah Joni melunak, matanya yang lelah menatap Jeffrey dengan sorot rapuh, pasrah, dan telanjang seperti anak anjing yang kehilangan arah di tengah hujan badai. Ego pengantar rol film yang angkuh itu hilang total, menyisakan Joni yang telanjur patah.
Joni membuka mulutnya, "Jef, gua..."
"Nggak, nggak, nggak, nggak." Jeffrey langsung memotong, tangannya bergerak cepat menutup kedua telinganya sendiri dengan telapak tangan, kepalanya menggeleng-geleng kuat dengan gestur berlebihan. "Gua nggak mau tahu dan denger cerita menye-menye lu itu. Ogah banget gua."
Joni tertegun. Mulutnya setengah terbuka, napasnya tertahan di udara. Sorot matanya yang kebingungan justru membuat Jeffrey perlahan menurunkan tangannya dari telinga.
Jeffrey menatap Joni selama beberapa detik. Keheningan parkiran itu mendadak terasa begitu tipis. Lalu, perlahan, sebuah senyum tipis terbit di wajah Jeffrey. Bukan senyum tengil atau licik seperti biasanya, melainkan sebaris senyuman hangat, sangat kecil, jenis senyuman yang biasanya disimpan seseorang saat melihat orang yang sangat ingin ia lindungi.
"Udah, udah," Jeffrey mengibas-ngibaskan tangannya di udara, mencoba mencairkan atmosfer yang terlampau berat. "Masih banyak ikan di laut, Jon. Kalau ikannya abis, ya bisa juga kita cari pasar, kan? Ribet amat."
Joni mendengus pelan, sebuah tawa kecil yang getir lolos dari hidungnya. "Pasar udah tutup jam segini, bego."
"Ya cari pasar malam. Yang ada komidi puternya," sahut Jeffrey cepat, kembali ke setelan pabriknya yang santai.
Joni menurunkan tangannya ke pangkuan, matanya masih menatap Jeffrey yang kini ikut duduk di pembatas semen, beberapa jengkal di sebelahnya. "Lu... kenapa masih di sini, Jef? Urusan kita kan udah selesai. Tas gua udah balik."
Jeffrey tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya di luar pagar bioskop yang dipadati lampu merah-kuning kendaraan yang merayap.
"Lu... tadi sempet cerita motor lu dicolong di Jalan Satelit jam dua siang, kan?" Jeffrey berdehem, suaranya agak rendah. "Kebetulan aja sih. Gua tahu daerah situ. Dan gua tahu biasanya hasil colongan motor di wilayah itu disimpen di mana sebelum dijual pretelan."
Joni langsung menoleh, matanya melebar. "Lu serius?"
"Muka gua keliatan kayak lagi ngajak bercanda?" Jeffrey menoleh balik, menatap Joni tepat di mata. Senyum miringnya kembali, tapi kali ini terasa tulus. "Gua bisa bantu lu cari. Anggap aja... perpanjangan kontrak utang budi gua karena lu udah nyelametin band gua sore tadi. Gimana? Mau nggak?"
Joni menatap Jeffrey lama. Untuk pertama kalinya hari itu, berat yang bergelayut di dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh debaran lain yang asing, yang tidak menyakitkan. Sesuatu yang hangat mendesak naik ke tenggorokannya.
"Mau," jawab Joni pelan. Dirinya terkejut dan mengutuk dirinya sendiri karena terdengar sedikit terlalu excited.
Jeffrey tegak berdiri, menepuk celananya yang berdebu. "Yaudah, ayo. Keburu digunting-gunting motor lu jadi rongsokan."
Mereka berdua berjalan berdampingan, meninggalkan pelataran bioskop yang temaram, menuju kegelapan jalanan Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur. Kali ini, langkah mereka tidak lagi diburu oleh waktu. Jarak di antara bahu mereka memendek, menyisakan celah tipis yang nyaris tak ada.
Suasana di antara mereka berubah, melunak menjadi sebuah kehangatan yang diam dan pekat. Di bawah dinginnya angin malam yang sesekali berembus, baik Joni maupun Jeffrey diam-diam merasa bersyukur bahwa mereka sedang memakai jaket tebal dan hoodie saat itu. Kain katun dan jins kasar itu menjadi batas suci yang menyelamatkan mereka. Karena jika tidak dan jika kulit lengan mereka yang telanjang sampai bersentuhan, mereka tahu pasti debar jantung yang menggila di dalam dada masing-masing akan bisa didengar oleh orang-orang yang lalu lalang di trotoar.
Atau, jangan-jangan, suara debaran yang terlalu keras itu memang sudah terdengar sedari tadi?
Entahlah. Di bawah riuhnya klakson kota, keduanya memilih mengabaikan akal sehat, membiarkan diri mereka hanyut dalam ritme langkah yang kini berjalan selaras.
TAMATTTT YEAYYYY
