Work Text:
Suara berisik alat dapur serta harum masakan tercium dari dapur salah satu pasangan muda yang baru saja menjalin ikatan suci. Dengan apron berwarna merah serta piyama pendek yang dikenakan, Nakula akhirnya mencoba resep yang baru saja ia pelajari dari media sosial.
Bukan sebuah iseng belaka, nyatanya semenjak menikah, ia jadi memiliki rasa penasaran besar untuk membuat dapur rumah ini berantakan tiap menjelang senja.
Tanpa disadari, suara pintu rumah terbuka dengan decitan sepatu yang tidak memecahkan fokus dari si cantik. Sedangkan dari sana, Sadewa sudah terburu-buru melepaskannya untuk berlari menuju sang suami terkasih begitu mencium harum masakan yang begitu menggoda.
Pemandangan yang sudah menjadi rutinitasnya setiap pulang dari aktivitas sehari-hari yang begitu padat.
Kedua tangan besarnya memeluk dari belakang, menyandarkan kepalanya pada Nakula hingga si surai biru itu turut terkejut sambil memberikan senyuman tipisnya.
Selain aroma masakan yang begitu menggugah, wangi suaminya ini tak kalah mematikan. Turut membuat Sadewa semakin nyaman untuk menghamburkan sejuta pelukan.
“Udah pulang? Nggak mau mandi dulu? Ini sebentar lagi opor susunya udah mateng.”
Sadewa sontak menggelengkan kepalanya, dengan semakin mempererat kedua tangannya.
“Ngga mau… tebak aku habis ngapain?”
Nakula menoleh sedikit, melihat peluh yang sedikit masih bercucuran dari leher Sadewa. Sontak terdiam sejenak dan memikirkan lagi bubble chat yang tadi pagi dikirim sempat mengganggu isi otaknya. Berisikan, “Nanti aku leg day.”
Tak ingin mencoba menghiraukan isi pikiran, akhirnya Nakula memberi sedikit dorongan, mencoba melepaskan terlebih dahulu tautan dari dua tangan besar itu.
“Mandi, mas…”
Tangan cantik yang sedari tadi masih memegang spatula untuk memastikan masakan di depannya ini mencapai batas matang yang sempurna menjadi bergetar, menangkap sinyal gugup atas perlakuan Sadewa yang semakin mengganggu.
Sadewa bahkan tidak bergeming sedikitpun, dengan iseng mencium-cium leher sang suami tanpa peduli permintaan yang dilontarkan.
Dengan segera, Sadewa mematikan kompor tersebut dan membawa paksa Nakula dengan kedua tangannya. Dibawanya Nakula dalam gendongan hangatnya.
“Kok ngehindar gitu dari suaminya, takut ya, cantik? Mas bawa aja ah kalo gitu.”
Kedua kaki dari yang lebih muda mencoba melepaskan paksa dari gendongan yang membawanya secara paksa itu. “MAASSS!!”
Tubuh Nakula dilabuhkan pada meja makan yang berada dekat dari dapur. Ia dikukung dengan tidak dibiarkan untuk kabur. Kedua mata Sadewa menelusuri lekuk tubuh Nakula, dengan senyuman puas melihat beberapa bercak merah samar yang masih nampak dari dada cantiknya.
Tangannya turut hadir, memberikan usapan halus pada pipi Nakula. Yang selanjutnya membuat Nakula menjadi tersipu malu.
Tangan Nakula juga senantiasa menahan dada Sadewa, mencegah sang suami menjadi semakin dekat walaupun jarak semakin tak kasap di mata. Deru nafas Nakula semakin berat dan tercekat. Sadewa menatapnya seolah ia adalah umpan manis yang siap disantap dalam sekali lahapan.
Walau sudah beberapa hari sejak menikah, rasanya ia tak pernah bisa terbiasa dengan sentuhan halus dari sang suami. Yang seperti menggoda, namun dengan sengaja pula akan menjebaknya.
“Mas.. mandi dulu… a-aku mau nyelesein masakannya…”
Enggan memberikan tanggapan, Sadewa melepaskan tali apron Nakula, dengan menurunkan salah satu lengan piyama itu.
Menatap penuh harap pada sang suami, seolah meminta persetujuan untuk melakukan hal bejat lainnya kala mengganggu kegiatan memasak.
Tanpa memberikan sedikit jawaban, Nakula akhirnya menyerahkan diri dengan mencium bibir Sadewa perlahan, mengalungkan kedua tangannya pada leher yang sebelumnya berkeringat akibat aktivitas olaharaga pasca kerja suaminya ini.
Sadewa memberikan sedikit lumatan panda tautan itu, meremas pinggang Nakula dengan sedikit memaksa untuk membuka atasan piyama yang menghalangi tubuh indah ini.
Kepala Nakula terangkat sesaat setelah Sadewa melabuhkan ciumannya pada leher yang masih bersih seperti kanvas itu.
Ketika persenggamaan terakhir dilakukan, ia sempat menolak diberikan tanda pada leher dengan alasan ingin bepergian dengan temannya yang lama tak dijumpa.
“Ahng— Mas…”
Rambut Sadewa diremas kencang, melampiaskan rasa geli yang sedari tadi menjalar di perutnya. Kedua matanya terpejam, menikmati saat-saat mulut Sadewa menyapu permukaan dadanya dengan sangat lembut. Tanda cinta mulai bertambah seiring waktu berjalan.
Sadewa tersenyum kecil sekali lagi, sebelum mengulum puting Nakula dengan sedikit rakus. Menyedotnya, menyapu lidahnya hingga Nakula mulai merintih keenakan.
Tangannya yang menganggur ia gunakan untuk menggoda bagian paha dalam Nakula yang masih terbungkus celana pendek piyama.
“MASSS… nghnn stophg … geli kalo gitu….”
Seolah tuli, Sadewa memainkan kelentit Nakula dari luar celana, untuk membuat permukaan vaginanya semakin banjir dengan stimulasi yang cukup berlebihan.
“Badan kamu perasaan lebih kecil, kok sanggup nampung punya mas, doyan ya dek?”
Semburat merah pekat kembali nampak dengan Nakula yang mengalihkan pandangan untuk menghindar dari godaan Sadewa. Dasar suami sialan, yang membuat Nakula ketagihan kan juga dirinya!
“Mhnn. Slurps... ini kalo ada susunya mas rasa nggak mau bagi-bagi sama anak kita nanti.”
Kedua kaki Nakula turut mendorong dada Sadewa, kala suaminya itu menekan dengan keras kelentitnya hingga tubuhnya menggelinjang seperti akan pelepasan. Badannya gemetaran menikmati dua stimulasi dalam satu waktu.
Nakula enggan melihat penampakan dirinya yang sangat berantakan, mengalihkannya dengan menjambak erat rambut Sadewa.
Kakinya masih mendenang-nendang, merasakan pelepasan semakin dekat hanya dengan sentuhan jemari tangan sang suami di kelentitnya.
“AHHKK— MAASS…!”
Sesaat setelahnya, pelepasan Nakula membanjiri tangan Sadewa.
Senyum pria itu terlihat puas setelah berani membuat suaminya berantakan di tengah-tengah kegiatan memasaknya. Kepala Nakula mulai terasa pening, ia menyenderkan kepalanya pada ceruk leher Sadewa.
“Masih sensitif, kaya perawan.” Tukas Sadewa dengan nada sedikit mengejek.
Bibir Nakula dikerucutkan setelah mendengar ejekan menyebalkan itu. Tangannya berusaha mencubit bisep Sadewa, walaupun tidak pernah terasa seperti cubitan bagi yang lebih tua.
Sadewa tidak berusaha memulai lagi, mencoba untuk memberikan ruang bagi Nakula untuk bergerak. Nakula yang cukup peka, turun dari meja makan, menarik tangan Sadewa untuk berpindah tempat.
Sofa di ruang tamu menjadi sasarannya. Nakula mendorong paksa tubuh Sadewa untuk dijatuhkan di atas sofa, dengan terburu-buru melepas kaos yang keringatnya sudah mulai kering itu. Sedang si tuan, hanya pasrah menerima perlakuan Nakula yang mulai semakin agresif.
Senyum Sadewa mulai terukir sehingga tangannya turut membelai lembut pipi Nakula. Seolah memberi tanda bahwa ia bersedia menerima apapun yang akan dilakukan si cantik.
Celana pendek yang dikenakan juga ditarik paksa dengan begitu semangat. Nakula tersipu kembali, tidak pernah untuk bisa terbiasa melihat penis besar yang telah menjadi kepemilikannya ini. Rasanya kedua pipinya bisa menjadi kepiting rebus.
“Diliatin doang? Masa nggak dilanjut?”
Berusaha untuk melepas dalaman yang menjadi bagian terakhir menghalangi, pipi Nakula lantas tertampar dengan tidak sengaja oleh sebab penis si tuan yang sudah terbangun sejak tadi.
Kedua tangan lentiknya mulai memberikan gerakan memijat pelan. Melihat respon Sadewa yang mulai menikmati, Nakula memasukkannya ke dalam mulutnya.
Tidak seluruhnya, karena itu tidak mungkin muat. Hanya dari ujung hingga ke tengah, itu saja sudah memenuhi seluruh mulut serta tenggorokan.
Kepala Nakula dituntun untuk digerakkan dengan bantuan tangan Sadewa. Ia dapat melihat istrinya mati-matian menahan nafas untuk bisa membuatnya merasa puas.
Ada kebanggaan tersendiri, karena Nakula jadi terlihat berkali-kali lipat lebih cantik jika seperti ini.
“Terusin — ahh sial. Enak banget Na mulutmu, udah kaya memek kamu aja, sempit. Aggh shit.”
Kedua mata Nakula mulai berair merasakan nafasnya semakin tercekat. Ia tak bisa mundur. Sadewa menjambaknya dan mengontrol seluruh pergerakannya.
Tentu saja pria itu merasa sangat amat puas. Menggeram sepanjang waktu, merasakan jepitan hangat dari tenggorokan serta mulut sempit si biru.
Tidak dibiarkan menganggur, kedua tangan Nakula juga mengocok sisa dari penis Sadewa yang tidak bisa masuk ke dalam mulutnya.
Saat dirasakan penis itu semakin membesar, Nakula menepuk-nepuk paha Sadewa karena nafasnya sudah semakin sedikit, tidak bisa menggunakan indranya untuk mengambil lagi. Tentu Sadewa dengan baik hati melepaskan penisnya dari mulut Nakula.
Namun detik berikutnya, ia mengocok penisnya pada raut cantik suami terkasihnya hingga menumpahkan seluruh pelepasannya di wajah itu. Membuat wajah Nakula berantakan dengan banyaknya cairan putih menghiasi dari dahi hingga dagu.
“Fuck sialan. Aggh….. enak banget dek sumpah, cantik banget kamunya.”
Nakula tersenyum puas mendengar respon dari Sadewa. Ia dengan sengaja menjilat dan membersihkan sperma dari penis Sadewa untuk ditelan bersamaan dengan yang ada di sekitar mulutnya.
“Anjing. Seksi banget.” Sadewa membatin dalam hati.
Ia membantu Nakula dengan membersihkan wajahnya, hingga bisa bersih.
Setelahnya tanpa diberi jeda, Nakula menaiki tubuh Sadewa dengan sedikit memaksa. Ia juga melepaskan celana pendek, membuang asal benda yang menghalangi tubuhnya.
Tanpa memberikan sedikit jeda untuk bernafas, Nakula menggesekkan vaginanya tepat di atas penis Sadewa yang mulai tegang lagi. Melihat suami cantiknya yang begitu antusias, Sadewa juga turut merasa senang.
“Gila kamu Na, yang leg day aku yang paling semangat siapa.”
Nakula tertawa pelan, menggerakkan pinggulnya dengan sengaja untuk membuat vaginanya semakin basah. Dapat dirasakan juga kepemilikan Sadewa seperti ikut bersemangat.
Kedutan pelan mulai terasa dari dalam vaginanya, Nakula mendongakkan kepala kala kelentitnya terus bersinggungan dengan ujung penis suaminya ini.
“Nghn … basahn. .. kedutann. Ughnmmamas…”
Seolah menikmati Nakula yang sedang mencoba mencari kepuasannya sendiri, Sadewa tidak bergerak sedikitpun. Memberikan ruang untuk Nakula menikmati dirinya sendiri dengan turut memegang pinggul si cantik, menahan tubuh itu agar tidak ambruk.
“Suka digesekin gitu? Enak, iya?”
Nakula hanya mengangguk-ngangguk. Kepalanya turut melihat pergerakan dari bagian bawah sana, melihat vaginanya semakin basah. Dengan kedutan yang terasa semakin nyata.
Rasanya begitu membuat frustasi, Nakula enggan untuk dimasukkan begitu saja karena ingin menikmati stimulasi ini. Mengulur waktu agar terasa lebih nikmat.
Naas, lubang vaginanya tidak berhenti berkedut sejak tadi. Sadewa juga menyadari cantiknya ini tidak sanggup lagi menahan stimulasi yang ia ciptakan sendiri.
Akhirnya ia bangkit, membawa Nakula dalam gendongannya kembali, direbahkan pula tubuh itu di atas sofa.
Dengan keadaan tak berdaya serta surai biru langitnya yang acak-acakan, Nakula sudah tidak sanggup lagi mencari kenikmatannya sendiri.
Ia sudah pasrah menerima.
“Mas.. masukin.. memeknya kedutan.. ngga enak…”
Tawa Sadewa terdengar pelan, seolah mengejek permintaan suami manisnya.
“Sabar dong, kamu kan belum siap, nanti sakit gimana?”
Tubuh Sadewa berlutut, membuka kedua paha dalam Nakula. Mengaitkan kedua kakinya pada leher.
“MAASS?? NGAPAIN — AAHHJJH MASSS… JOROKK—!”
Suara sapuan lidah Sadewa terdengar jelas di indra pendengaran Nakula. Ia menundukkan kepalanya, melihat suaminya dengan lihai menyapu vaginanya dengan lidah. Membuat kedua tangannya menahan diri pada bagian belakang sofa.
Badan Nakula gemetar, merasakan lidah itu mulai menelusup masuk ke dalam lubangnya. Bibirnya digigit gugup, merasakan kenikmatan yang sekali lagi membuatnya terkejut.
Kuku-kuku kaki Nakula sampai ditekuk. Mendengarkan suara cabul yang semakin tidak terkendali dari bawah sana. Kedua tangannya menjambak rambut Sadewa yang sekali lagi sudah sangat berantakan akibat ulahnya sebelum ini.
“MAASHB. NGGGAAHN… JANGAHNNN . Ughgg hhhuhuhuhuhuhuhu…geli… gemeter bangett mas sadewaa… udahggh—”
Mendengar permintaan suaminya, Sadewa justru tidak mengurangi tempo pergerakannya. Ia semakin menjilat, menghisap, merasakan cairan alami dari vagina itu yang terasa begitu memabukkan.
“M-MASSD . . Mas dewaaahh.. adek mau keluarrff AAGHHN ….”
Enggan memberikan pelepasan pada Nakula, Sadewa menarik diri dari bagian bawah sana. Melihat raut wajah kecewa Nakula dengan wajah yang semerah tomat. Ia tersenyum lagi.
Ciuman hangat dilabuhkan, meredakan perasaan kesal yang sebelumnya tertimbun dari benak Nakula akibat pelepasan yang ditahan.
Sadewa mengarahkan penisnya pada lubang vagina yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Memasukkannya perlahan, memberikan sedikit ruang bernafas bagi Nakula.
Ia juga mengalihkannya dengan tetap memberikan ciuman kepada Nakula. Si cantik yang merasakan vaginanya dimasukkan, memejamkan mata erat.
Mencoba terbiasa kembali untuk dimasukkan kepemilikan si suami yang ukurannya seharusnya sangat tidak biasa untuk dimasukkan di dalam sana.
“Mmhffh—”
Sadewa memaksakan penisnya masuk seutuhnya, menyentuh serviks Nakula. Membuat tubuh Nakula gemetaran hebat dengan cakaran pada punggung Sadewa.
Pria itu meringis ngilu, merasakan jepitan luar biasa dari dalam sana. Sial, baru dua hari lalu dijamah tapi masih terasa sesempit ini.
“Hah.. hah… mas…. Penuh….”
Tautan ciuman mereka dilepas oleh Nakula. Menyisakan deru nafas memberat dari dua insan yang memadu kasih dengan saling berbagi peluh.
“Sempit dek.. fuckhh…”
Kedua mata Sadewa terpejam, menikmati bagaimana sensasi hangat dan jepitan luar biasa nikmat. Membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mulai menggerakkan pinggulnya.
Nakula masih setia menyakar punggung Sadewa, nyatanya tidak ada rasa sakit sama sekali setelah digerakkan. Ini sungguh nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.
“Aghh.. sempit… enak.. mhnm.. adek sayang…”
“AHH MASSS SADEWAA…!! Ah fuck, kamu kasar banget sumpahhn…...”
Kedua tangan Nakula menjambak erat surai gelap kekuningan milik pria di hadapannya ini. Gila, tenaga Sadewa benar-benar dikeluarkan dengan penuh sejak Nakula terbiasa merasakan penisnya di dalam sana.
“Bukannya kamu suka mas kasarin begini? Pengen dirusak kan memeknya?”
Nakula mengeratkan jepitan vaginanya pada penis si tuan begitu mendengar kata-kata itu. Ah sial, Nakula benar-benar lemah terhadap perkataan yang terkesan begitu merendahkan.
“Oh? Ternyata beneran suka dikasarin ya? Enak kalo memeknya mas hancurin kaya gini?”
“Masss.. mas dewaaaa huhuhuhuhuhu ampujnhnn…. Adek mints maaasff….”
Sadewa menampar kedua pipi Nakula, menarik dagu si cantik untuk mendekat.
“Kalau ditanya itu jawab, udah dikasih kontol malah cuma bisa ngedesah doang. Jawab yang bener!”
“Mas sadewaaaa.. ugh.. jangan berhentiii pleaseee huhu…”
“Beg me, sayang.”
Nakula menggigit bibir bawahnya. Memeluk erat leher Sadewa, hampir seperti siap untuk digendong oleh pria ini.
“Ngewein adek terus, please.. pakai adek semalaman ini.. sampai aku penuh, banjir sama peju kamu.. dihamilin kamu.. ugh.. penuhin rahim adekk…. pengen punya anak kamu uhuhuhuhuhuhu.”
Sadewa tersenyum senang. Badan Nakula sontak ditarik, pelepasan mereka pun terhenti sementara.
Nakula dibalik badannya oleh Sadewa, memunggungi pria jangkung itu. Dengan posisi begini, Sadewa sangat amat merasa puas menatap tubuh Nakula dan bisa menghancurkannya dengan mudah.
Dengan sekali hentakan, Sadewa memasukkan kembali penisnya.
“AGHHHG??! MAS DEWAA…. anjinghn……”
“Gak sopan banget suami macam kamu ini, daritadi anjing-anjingin suaminya. Mau dirusakin terus ya kamu?”
“Nggakhfgh. Aaaenhb ampunn jangsnn, aghh— dalem banget fucckhh fuck”
“Beneran udah gila ya kamu ini.”
Tawa Sadewa terdengar. Badan Nakula ditarik, punggungnya bersentuhan langsung dengan dada telanjang Sadewa. Bahkan kedua putingnya dimainkan secara kasar.
Leher Nakula diberi ciuman serta semakin banyak tanda yang nampak. Bisa-bisa Nakula tidak sanggup berjalan beneran kalau gini caranya!
“Aagh— mau keluar ughbn!! Kenapanpenuh banget, MAS SADEWAA…. penuhghj ughh memekku enaakk….”
“Keluar? Okay. Tahan ya. Ahh shit. Jangan makin ketat gitu dong cantik, sialan.”
Tubuh Nakula dilepas lagi, kali ini pria itu membawanya dalam gendongannya. Lalu mulai dihimpit ke tembok.
Nakula dapat merasakan Sadewa kembali memenuhi vaginanya, kali ini dengan kecepatan yang lebih gila dari sebelumnya. Jika bukan karena di dalam gendongannya, Nakula bisa jatuh pingsan karena lemas.
“MAS SADEWAAA AGHGF UDAHH DALEMMH BANGEETTT!!!”
“Behave, cantik. Aghh fuck fuck fucking shit. Pengen banget hamilin cowo cantik kaya kamu, nanti di sini aku isi penuh terus ya? Biar kamu hamil, jadi sehari-hari cuma bisa ngangkang jadi lacur buat mas.”
“Ahhgf mauu mauu mau semuaahhgf — AHH MAS SADEWAAAAA MAU PIPISSDDDHH UDAH GA TAHANNNN”
“Keluarin, sayang. Pipisin aku yang banyak.”
Gerakan pinggul Sadewa semakin cepat, dengan suara desahan Nakula sebagai bahan bakarnya. Ia merasakan penisnya dijepit erat, sangat hangat di dalam vaginya cantiknya ini.
“Annghhh fucckkkk, MAS SADEWAAA AHHH!!!”
Nakula memejamkan matanya erat, tubuhnya bergetar seiring dirinya hendak mencapai puncak. Dapat dirasakannya vaginanya mengalirkan cairan deras akibat pergerakan Sadewa yang terasa memabukkan.
“Shit shitttt mas juga Na fuckk, aaghh!”
Sadewa menumpahkan pelepasannya di dalam vagina milik Nakula tanpa ada sisa, terasa begitu hangat dan penuh. Nakula memeluk tubuh suaminya erat, bersembunyi di potongan lehernya. Nafasnya menjadi begitu berantakan, tak teratur.
“Hahh.. hah.. kasar banget kamu mas sumpah… bisa pedih ini aku gabisa jalan gimana…”
Sadewa tersenyum miring, “Ya gapapa, kan besok mas libur.”
Seluruh wajah Nakula diberi kecupan lembut. Sadewa membisikkan beribu kata maaf karena sudah menyakiti suaminya ini dengan begitu kasar.
“Mau lagi? Biar kamu langsung isi sayang.”
Nakula memberikan pukulan pada pipi Sadewa begitu mendengar permintaan gila itu.
“GAUSAH GILA KAMUUU!”
Pinggang Nakula diusap lembut, diberikan kecupan hangat oleh Sadewa. Ia membiarkan Nakula menghela nafas, mencari pasokan oksigen yang banyak setelah pergerumulan panas mereka.
"Laper mas... opornya dinyalain dulu boleh minta tolong? Masukin timer 10 menit ya, itu udah dikit lagi matengnya."
Sadewa mengangguk nurut. Ia berjalan ke kamar mereka dan mengambil piyama baru untuk sementara dikenakan Nakula sebelum nanti ia memandikannya.
Setelah memakaikannya pada Nakula, Sadewa juga mengenakan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Hanya dibalut 1 kain karena memang terasa gerah, lebih nyaman shirtless.
"Sini mas gendong sayang."
Kedua tangan Nakula diulurkan, Sadewa menatap gemas sambil langsung membawanya ke dalam gendongan.
Nakula duduk di kursi meja makan. Melihat suaminya dengan telaten memastikan masakannya matang sempurna.
Tak perlu menunggu waktu lama, akhirnya santapan malam mereka matang. Sadewa menyajikannya terlebih dahulu untuk Nakula, baru setelahnya ia mengambil untuk dirinya sendiri.
"Sini Na, mangap dulu aaaaaa."
Nakula tersenyum geli, memakan suapan yang diberikan oleh Sadewa. Ia tertawa sambil mengunyah lembut. Melihat Sadewa yang juga menyantap makanannya dengan lahap, Nakula ikut senang.
"Enak kok sayang. Creamy banget ini, kamu jago beneran deh. Masuk masterchef aja Na."
Nakula mencubit lengan Sadewa, "Mana bisa kocak gausah lebay gitu!"
"Beneran Na ga lebay mas tuh. Nanti mau mas mandiin atau kamu mandi sendiri sayang?"
Mendengar tawaran Sadewa, kedua mata Nakula sontak berbinar. Dan tanpa perlu mendengar jawaban dari yang lebih muda, Sadewa sudah langsung mengerti.
"Hehehehe, terima kasih mass!"
Kedua pipi Sadewa dikecup lembut, dan dengan begitu mereka mengakhiri makan malam yang suasananya hangat.
