Work Text:
kalau ingat pelajaran biologi waktu sekolah, kita diberi tahu bahwa evolusi itu proses yang butuh waktu. berangsur-angsur, perlahan, sedikit demi sedikit. sialnya, teori itu terasa nyata buat hubungan adrian dan elio.
pegangan tangan jelas bukan hal yang susah. tangan elio itu ibarat punya kutub magnet buat adrian. tiap mereka ketemu, tahu-tahu jemari keduanya sudah saling bertaut. progres ke fase selanjutnya juga secepat kilat. paginya baru pegangan tangan, malamnya udah saling mencari kehangatan lewat pelukan. fasenya bahkan sempat ada di kecepatan penuh karena entah gimana tiba-tiba mereka udah sampai di tahap ciuman.
ah.. tapi kayaknya rentetan awal itu emang belum pantas dibilang evolusi. karena fase-fase berikutnya ini yang bener-bener ngerubah adrian jadi cowok paling gak sabaran sedunia. dari fase ciuman berdiri di depan pager kosan, sampai akhirnya adrian bisa cium elio sambil rebahan di kasur, itu butuh waktu kurang lebih tiga bulan. berangsur, perlahan, sedikit demi sedikit.
kalau boleh jujur, adrian aslinya udah mupeng parah. tapi dia sayang elio, dia gak mau bikin pacarnya itu ngerasa diburu-buru.
cuma ya gitu, sialnya progres mereka beneran macet total di tahap ini. tiap adrian nyari celah buat lanjut ke fase selanjutnya, elio masih menolak. waktu adrian nekat nyusupin tangannya ke balik kaos elio, dadanya didorong sekuat tenaga sampai dia jatuh dari sofa. atau waktu mereka ciuman dan tangan adrian mulai nakal turun ke area celana elio, lidahnya digigit sampai sariawan ganas berhari-hari.
makanya, waktu bulan kemarin elio duduk dan gesek gesek punya dia di atas pangkuan adrian, sisa-sisa benang rasional di kepala adrian putus total. malam itu adrian udah yakin banget kalau mereka akhirnya bakal sampai ke fase evolusi akhir: ngewe. tapi dasar adrian lupa sama hukum awalnya, kalau evolusi itu berangsur, perlahan, sedikit demi sedikit.
jadi malam itu dia harus maksa dirinya puas dengan ending nyepongin elio dan coli sendiri di kamar mandi.
dari adegan sepong itu, sialnya macet lagi. adrian kira setelah malam panas itu, besok-besoknya mereka bakal berubah jadi dua manusia hilang akal yang isinya cuma nafsu. tapi nyatanya cuma adrian doang yang kelimpungan nahan diri setengah mati. elio gak sama sekali.
bukannya ikut terhanyut sama afterglow malam itu, elio malah jadi lebih kikuk. dia tetap nempel-nempel manja dan minta dipeluk, tapi giliran adrian ngasih sinyal mau 'lebih', gelagat elio langsung kaku. ngalihin pembicaraan lah, pura-pura ngantuk lah, atau tiba-tiba haus dan kabur ke dapur.
dari situ, ego adrian mulai tersentil. padahal selama ini, rekam jejak adrian di bidang beginian tuh gak pernah mengecewakan. dia tahu persis apa yang dia lakuin, tapi penolakan elio yang konsisten ini sukses bikin dia overthinking.
apa malam itu gue nyepongnya kurang enak? apa kemaren gigi gue kena tititnya elio jadi bikin dia kapok? aduh, apa elio lebih jago dari gue dan nilai gue amatir ya?
ada 1001 pertanyaan di kepala adrian yang perlu diselesaikan. dan sebagai cowok yang pantang menyerah, juga punya harga diri selangit, adrian gak bisa cuma duduk pasrah. kalau emang skill-nya dirasa kurang memuaskan buat elio, ya dia harus upgrade level permainannya.
jadilah selama sebulan penuh, adrian turun gunung buat research diam-diam. history browser-nya penuh sama pencarian macam "cara bikin pasangan orgasme 5 kali sampai pingsan.”
kalau elio lagi gak ada di kosan, adrian sibuk maraton bokep. alasan dia sih murni buat nyari referensi angle dan teknik baru. pokoknya adrian mau mastiin, kalau nanti dia dapet lampu hijau lagi, elio gak bakal punya celah buat komplain.
puncaknya kejadian di suatu malam. mereka udah pulang dari shift di cafe, dan sekarang keduanya duduk di karpet kosan elio. si adik rebahan tengkurap bosan, sementara adrian nyender di pinggir kasur sambil scroll hp.
tanpa ada aba-aba, elio merangkak pelan ke arah adrian. dagunya ditaruh di atas paha adrian, matanya menatap ke atas, lurus ke wajah pacarnya.
"kakak," panggilnya pelan.
"hm?" adrian cuma berdeham, matanya masih nempel di layar.
"kak ian marah ya sama aku?"
pergerakan jari adrian langsung berhenti. fokusnya pindah ke wajah pacarnya yang sekarang lagi cemberut.
"hah? marah kenapa?"
"soalnya..." elio menggigit bibir bawahnya pelan. "kakak diem dari tadi. di cafe juga gak nyuri nyuri kesempatan buat cium aku, sekarang udah berdua pun aku nya didiemin. kakak marah ya?"
adrian menghela napas panjang, dikunci layar ponselnya dan dia buang jauh-jauh kotak itu.
"el," suara adrian keluar tenang, nyembunyiin rapat-rapat ego dan gengsinya yang bergejolak.
"aku gak marah. aku cuma ngasih kamu space. habis malam itu, tiap aku deketin dikit, kamu selalu ngehindar. aku pikir kamu butuh waktu dan belum nyaman kalau kita ngelangkah lebih jauh. makanya aku tahan diri biar kamu gak risih."
mendengar itu, mata elio membulat kaget. dia merubah posisinya jadi duduk tegap depan adrian. tapi kepalanya menunduk dalem-dalem dan jari-jarinya gugup meremat pinggiran celananya sendiri.
"bukan gitu... ya abisnya..." elio menggigit bibir, kelihatan ragu setengah mati sebelum akhirnya mukanya merah padam sampai ke telinga. "kakak tuh kayaknya udah jago banget."
adrian mengerjap. hah?
"aku takut kalau kita beneran lanjut, aku malah cepet beres terus kelihatan amatir banget di depan kakak," cicit elio nyaris tanpa suara. "nanti kakak malah ilfeel ngeliat aku yang gak ada pengalaman ini... kan malu."
otak adrian butuh beberapa detik buat mencerna plot twist epik ini.
jadi... selama sebulan ini dia puasa, mikir aneh-aneh, sampai repot-repot belajar teknik advanced kayak orang gila cuma gara-gara pacarnya insecure karena dia kelewat jago?!
rasa lega yang luar biasa langsung bercampur aduk sama rasa gemas yang udah gak bisa ditahan lagi. saking gemasnya, sisa-sisa ketenangan adrian langsung menguap. dia narik elio ke atas pangkuannya, merengkuh si adik erat-erat sambil ketawa puas. adrian akhirnya menghujani seluruh wajah elio dengan ciuman. dari dahi, hidung, kedua mata, sampai akhirnya dia menggigit gemas pipi elio—seperti yang dia lakukan malam sebulan lalu— sampai si empunya mengaduh kaget.
"aw! kakak, sakit tau! kenapa sih aku digigit terus!" rengek elio sambil berusaha mendorong dada adrian, wajahnya udah semerah tomat.
"kamu tuh ya... bener-bener," geram adrian, suaranya sarat akan rasa sayang.
"bikin orang pusing sebulan ternyata alasannya cuma begini,” lanjutnya sambil menempelkan dahinya ke dahi elio, menggesekkan hidung mereka sambil tersenyum lebar.
tentu saja, fakta soal history browser dan riset diam-diam adrian bakal dia kubur dalam-dalam sampai hari kiamat. gak ada yang boleh tau.
"ya lagian..." elio memanyunkan bibirnya, merajuk karena pipinya masih terasa kebas bekas digigit. "...gara-gara aku gengsi, kakak malah jadi puasa nyentuh aku. padahal aku kan juga pengen."
mata elio menatap lurus ke mata adrian dengan sisa-sisa keberanian yang dia punya. "biarin deh kalau malem ini aku cepet beres atau kelihatan amatir, pokoknya kakak... ajarin aja."
oke. benang rasional adrian beneran udah putus. evolusi hubungan mereka rasanya udah bisa masuk tahap akhir.
seketika suasana gemas dan lucu di antara mereka menguap. raut wajah adrian berubah. senyum lebarnya terganti dengan tatapan gelap dan senyum tipis yang sukses bikin elio nelen ludah.
"aku gak terima komplain kalau besok kamu gak bisa turun dari kasur ya, el.”
kegiatan malam itu dimulai dengan pagutan menuntut dari keduanya. elio dan adrian sama-sama mencari, mengejar, dan menginginkan bibir satu sama lain. ciuman-ciuman adrian kemudian turun ke wajah, rahang, dan sekarang leher pacarnya. elio balas dengan mengalungkan kedua tangannya di leher adrian dan menengadahkan kepala untuk memberi adrian akses penuh.
adrian meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di sekitar leher elio. “punya aku,” lalu kecupan lain. “semuanya, punya aku.”
atasan yang dipakai elio semakin lama membuat dia semakin kesal. beruntungnya adrian peka dan mulai menelanjangi kekasihnya. dia cium tiap inci tubuh elio— mencium dari leher ke dada menuju pentil kemerahannya, menggigit pinggang kurusnya, lidahnya menjilati tulang pinggulnya. ketika dia sampai di celana elio, ia berhenti sejenak, matanya melirik ke atas.
“udah ngaceng, nih. gak sabaran banget.”
elio terengah pelan, kakinya berkedut saat adrian mencium bagian dalam pahanya. “kakak juga sama aja,” godanya, mengamati tonjolan di celana jeans adrian dan sedikit memberi friksi lewat kakinya.
adrian terkekeh. “pacar aku hampir telanjang di bawahku, masa iya gak sange.”
elio kemudian mengangkat tubuhnya untuk duduk, melihat adrian dengan tatapan memelas.
“kakak juga buka baju, dong. jangan curang..” pintanya. adrian mengangguk, mengangkat tangannya, lalu membiarkan tangan elio menanggalkan pakaiannya.
setelah berhasil menyingkirkan kaos abu milik adrian, elio kembali ke posisi berbaring dan menunggu pacarnya mengambil aksi berikutnya.
adrian mengambil posisi di antara kaki elio, menundukkan kepalanya dan mulai menciumi paha bagian dalam elio. ia kemudian melahap kontol elio tanpa peringatan, memasukkannya dalam-dalam, perlahan, dan penuh dengan keinginan untuk memberi elio nikmat.
elio tersentak, tangannya bergerak ke rambut adrian. lidah adrian berputar, menggoda kepala kontol itu dengan isapan lambat, lalu memasukkannya dalam-dalam hingga elio hampir gila. mengingatkannya ke malam adrian melakukan hal yang sama persis.
“ahh.. kakak.. udah— mau keluar.. nghh udaah,” ucap elio, menarik rambut adrian.
adrian melepaskan kulumannya dengan suara plop keras mengisi seluruh kamar persegi itu. dia menyeka mulutnya, matanya menatap milik elio dengan tajam.
“gak boleh. keluarnya kalau aku udah di dalem.”
“ya makanya masukin aja sekarang!” elio merengek.
“udah gak sabar diisi lubangnya ya, sayang? bentar ya, el harus disiapin dulu. mau berapa jari? tiga? empat kali ya, kamu kan kecil nanti aku gak bisa masuk,” goda adrian.
“tiga aja.. biar masih sempit.. biar kakak enak,” cicit elio. dia gak tau kalau omongannya ini bikin kontol adrian tegak sempurna.
“ah anjing,” adrian tertawa tipis, gak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. dia cium telinga elio sambil berbisik, “jorok banget sayang, suka deh.”
lalu satu jari, dua jari. sudah dilumuri pelumas sampai licin, pelan-pelan keluar dan masuk di lubang elio. adrian menciumi sisi wajah elio sambil mengucap semua kata pujian yang bisa dia ingat. pinter, sayang. cantik. liat jari kakak lancar keluar masuk lubang el. udah gak usah diajarin juga nilainya sempurna.
elio mengerang dan membiarkan kakinya dibuka semakin lebar. memberi tahu adrian bahwa dia bisa melakukan apa saja. dia serahkan semua dari dirinya.
“sempit banget el.. you're gonna feel every inch of me,” geram adrian pelan.
saat jari ketiga adrian masuk, elio ikut membawa tangannya ke arah celana adrian, mencoba untuk membuka jeansnya. “mau dibuka, el?” tanya adrian.
elio mengangguk. “mau.. masukin sekarang aja— udahan tangannya.”
adrian gak perlu diberi tahu dua kali. dia lucuti celana jeans dan dalamannya secara bersamaan. kontolnya udah tegang dan siap untuk dilesakkan dalam lubang milik elio.
elio menatap ke arah kontol dan mata adrian bergiliran. “ih bentar. THAT thing will be inside of me? ih ntar pantatku kebelah jadi dua kali, kak! gak akan masuk!”
adrian ketawa puas denger itu, dia ambil ucapan elio jadi pujian yang bikin dia besar kepala. ia kemudian mendekat ke arah elio, mengecup bibirnya lembut.
“kakak janji pelan-pelan, tapi kalau kamu ngerasa sakit atau gak nyaman bilang ya. kakak langsung berhenti,” kata adrian, dan dia gak pernah seserius ini.
elio tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “gak akan minta berhenti.”
adrian memakai kondomnya, menempatkan tubuhnya di tengah kaki elio, dan menatap dalam ke arah kekasihnya.
“breathe,” bisik adrian.
kontol adrian dengan perlahan menyapa lubang kemaluan milik elio, dia bawa untuk menggelitik sekitar pintu masuknya agar elio bisa beradaptasi.
elio mulai gak sabar. “masukin, kakak.”
dorongan pertama buat mereka berdua mengerang. punya adrian itu besar dan tebal, jadi peregangannya terasa sedikit menyakitkan. elio menggertakkan giginya, kewalahan karena dia beneran ngerasa seperti lubangnya dirobek. adrian berhenti, khawatir dengan keadaan pacar gemasnya.
“el sayang, kamu gak apa apa? mau aku keluarin aja, ya?” tanya adrian
“gak mau— jangan. jangan berhenti, lanjut aja. i just.. i need a moment,” jawab elio.
adrian menunggu, he kept his promise to be gentle. bibirnya kemudian menjemput punya elio, lidah keduanya bertanding untuk dominasi. elio semakin rileks berkat ciuman dari adrian, dia dorong sedikit dada adrian untuk melepas pagutan keduanya.
“udah.. lanjutin aja— bikin aku enak.”
adrian menurut— menarik keluar perlahan dan masuk kembali, menggesek dalam-dalam, memulai menaikkan tempo genjotannya. kasur elio berdecit berisik dengan setiap dorongan, suara kulit bersentuhan dengan kulit, desahan erotis dan erangan memenuhi udara. adrian cium bibir elio, sambil membisikkan kata-kata kotor yang menaikkan birahi yang lebih muda. “you’re taking me so well. pinter banget sayang.. ahh— kamu enak banget.”
elio semakin hilang akal, kuku-kukunya tertanam di punggung adrian, kepalanya terangkat ke belakang saat adrian bergerak lebih dalam— menemukan titik yang membuatnya menjerit. “nghh iya.. itu.. disitu— lagiii. enaak.”
tangan adrian beranjak melingkari kontol elio, membelainya seirama dengan dorongannya. “aduh anjing bisa-bisanya yang begini baru gue entotin. el sayang, aku pake sampe pagi mau?”
elio di bawahnya hanya bisa mendesah sambil ngangguk-ngangguk. dia udah gak bisa mikir rasional. badannya menegang, lalu bergetar saat mencapai klimaks, tumpah di antara mereka dengan teriakan nikmat. “aahhh— aku.. keluar.. nghh kakaaaak.. udaah..”
tubuhnya menjepit adrian, dan adrian mengerang, menghantam dalam-dalam mengikuti pelepasan kekasihnya. mereka tetap saling berpelukan, dada mereka naik turun mencari oksigen, keringat bercucuran di pelipis keduanya.
adrian mencium bahu elio, lalu tersenyum dengan bibir yang masih menempel. “el sayang, gapapa?”
elio kemudian tertawa sambil menaruh tangannya di pipi adrian, “gapapa, kakak.”
adrian menyeringai. “bagus deh kalau gapapa, soalnya i’m not done with you yet. tadi kamu ngangguk waktu aku tanya mau dipake sampe pagi apa enggak.”
“do as you please, kakak. punya kamu semuanya.”
elio harusnya gak bilang itu.
karena saat ini adrian benar-benar bertindak semaunya. memakai tiap inci tubuh elio untuk merealisasikan semua fantasi jorok yang tersimpan di otaknya.
tadi elio udah keluar untuk yang kedua kalinya dengan kontol adrian tertanam dalam di lubangnya. saat ini adrian ada di antara kedua kakinya, membersihkan semua sisa pelepasan elio seperti anjing kelaparan.
“kakaaak.. udahan disitunya— ahhh...”
“bentar sayang, aku masih pengen makan kamu.”
dia bisa merasakan lidah adrian menjilat cepat lubangnya, menyapu kerutan-kerutannya dengan lihai. adrian menyesap kuat sebelum akhirnya menerobos kembali otot cincin anus elio dengan lidahnya.
“ahhh.. kakak.. udaah. udah makannya.. masukin aja sekalian,” elio merengek.
adrian gak menggubris ucapan elio, tangannya meremas bokong milik elio dan semakin melebarkan bongkah daging itu untuk memudahkannya memakan kekasihnya lebih jauh.
adrian menggeram saat ia menghisap daging lembut itu, lidahnya masih mendorong keluar masuk untuk menyapa dinding anus milik elio. kedua kaki elio dilebarkan dan disampirkan di atas pundaknya. daging tanpa tulang itu lanjut meregangkan lubang elio tanpa ampun sampai dia menjerit tertahan.
“hmhh, sayang.. kak ian— ah!”
sekujur kaki elio bergetar. air mata menggenangi sudut matanya sementara gerak lidah adrian menggerus akal sehatnya. elio mencapai pelepasan dengan hanya stimulasi di lubangnya.
“kamu dijilatin dari belakang aja bisa keluar, ya? berarti kontolnya gak usah dipake aja, aku bikin enak terus lubangnya ya?” adrian berucap sambil menyeka mulutnya.
“udah.. kakaaak.. capek udaah,” elio hampir menangis.
adrian menaikkan tubuhnya sejajar dengan elio. dia tatap kesayangannya sambil mengelus lembut rambut kecoklatannya. “sekali lagi ya, sayang? aku udah nahan sebulan— engga, deh. lebih dari itu kayaknya. sekali lagi ya, hm? aku janji beneran terakhir.”
elio udah gak habis pikir, dia udah keluar tiga kali malam ini. tapi dia gak pernah bisa menolak keinginan adrian, karena sebenarnya, dia juga udah nunggu lama untuk momen ini.
“yaudah, iya. tapi dari depan ya. aku mau liat muka kakak,” jawab elio pasrah.
adrian tertawa. “iya, sayang. aku juga mau liat muka kamu, kalau sange seksi bange— AH SAKIT GAUSAH DICUBIT.”
“ngomong tuh gak pernah difilter! apa lagi tadi pake bilang bilang kontol aku gak kepake, apaan coba?!” balas elio sambil mencubit pinggang adrian.
“lah kan bener, gausah dipake lagi itu,” lalu adrian maju untuk berbisik di telinganya. “bisa aku enakin kamu pake lubang ini doang.”
adrian gak buang waktu. kondomnya udah terpasang lagi, kontolnya udah dilumuri pelumas, lubang elio udah terbuka. tahap terakhir tinggal dia kembali memasuki elio dengan desahan rendah. tubuh elio masih panas, masih penuh bekas sentuhannya, dan itu bikin adrian mengumpat pelan.
“anjing, enak banget. kamu lahir buat dimasukin kontol aku ya, el?”
elio mulai mendesah lagi, buku-buku jarinya memutih mencengkeram seprai. “sekarang gausah pelan-pelan ya kak... ahh— i can take it.”
mendengar itu, kendali adrian hancur seketika.
dia mencengkeram pinggul elio dan menghantam masuk dengan keras dan dalam, langsung menciptakan ritme yang cepat dan tajam. suara perpaduan kulit menggema di ruangan dengan keras. napas elio berubah menjadi erangan nyaring yang nyaris mendekati jeritan. adrian menunduk, menggigit bahu milik elio, dan lalu menciumi bekas gigitannya.
“pinter banget,” adrian mengerang. “kontol aku enak banget dijepitnya, sayang.”
elio hanya merengek mendengar pujian adrian, dia mendorong balik, berharap lebih. tubuhnya seperti kelaparan akan adrian.
adrian menyelipkan tangannya ke bawah, menggenggam kontol elio dan mulai menaik turunkan tangannya. setiap sentuhan selaras dengan dorongannya di lubang elio yang tanpa henti.
“udah boleh keluar lagi,” adrian menggeram di telinganya. “aku juga mau keluar, bareng ya, cantik.”
dan elio pun menurut. mencapai klimaks dengan erangan putus asa, tubuhnya menegang, suaranya serak. lubangnya mencengkeram kontol milik adrian dengan kuat, membuat empunya kehilangan kendali. adrian mengerang keras, menghantam masuk sekali, dua kali, lalu membeku saat dia mencapai puncak untuk kedua kalinya, lebih dalam kali ini.
mereka jatuh ke kasur, terengah, bercucuran keringat dan tubuh bergetar karena nikmat.
setelah beberapa saat, adrian berguling ke samping dan menarik elio ke dalam pelukannya, mencium dahinya, pipinya, bibirnya, semua yang bisa dia raih.
elio menatap adrian dengan pipi yang memerah dan mata setengah terpejam. “aku kayaknya beneran gak bisa turun dari kasur.”
adrian tersenyum mendengarnya dan maju untuk mencium bibir elio— gak terburu-buru oleh nafsu, melainkan penuh cinta dan kasih sayang.
“aku yang gendong kamu kemana-mana, el. sekarang tidur ya? kan capek,” ucap adrian sambil menarik elio ke dalam pelukannya, mulai memberikan tepukan-tepukan kecil di punggungnya.
“i love you,” ini datang dari elio.
“i love you so much more, el,” dan ini dari adrian.
mulai detik ini, teori biologi sialan itu resmi adrian coret dari daftar prinsip hidupnya.
siapa sangka, proses evolusi itu gak melulu berjalan lambat. kadang, hubungan bisa tiba-tiba naik level cuma gara-gara kesalahpahaman konyol dan satu malam panjang untuk saling meyakinkan— oh! mungkin lebih tepatnya, satu malam panjang ngewe mantap!
