Chapter Text
Carlos Sainz terbiasa hidup seperti high end fashion campaign. Segalanya ditata oleh stylist yang dibayar mahal, lighting-nya selalu jatuh sempurna menyorot tulang pipinya, dan nggak ada satu pun helai rambut yang berani keluar dari tempatnya.
Postur tubuhnya tegak. Kemeja putih berbahan sutra pas membingkai bahunya, dengan dua kancing atas yang sengaja dibiarkan terbuka, nampilin sedikit kulit tan-nya yang mengilap sehat. Celana tailored hitamnya jatuh sempurna tanpa lipatan berlebih di atas sepatu loafers-nya. Ditambah kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya, Carlos kelihatan seperti manifestasi berjalan dari kata haute couture.
Sebagai Global Ambassador untuk Adidas yang kebetulan jadi sponsor utama tim Mercedes-AMG Petronas F1 Team, kehadiran Carlos di paddock F1 GP Silverstone hari ini adalah urusan bisnis yang ritmenya sepadat jadwal fashion week. Jadwalnya udah diatur ketat: jam sepuluh morning tea sama eksekutif tim, jam sebelas photoshoot singkat di depan garasi, jam dua belas lunch bareng tim marketing.
Tapi tentu aja, dari semua jadwal yang udah di-fitting seketat itu, selalu ada satu 'kekacauan' di luar naskah yang nggak bakal bisa di-retouch oleh art director sehebat apa pun.
Kekacauan itu wujudnya buntelan berusia lima tahun dengan rambut cokelat berantakan, pipi gembil, dan noda cokelat di ujung bibirnya.
"Luke, por favor," desah Carlos pelan, narik tisu basah dari dalam tas tote Balenciaga-nya. "Jangan dilap ke celana, sayang. Papi bisa jantungan kalau lihat celana putih kamu kena noda croissant cokelat."
Luke Browning Sainz, bocah kecil yang lagi duduk santai di sofa lounge Mercedes yang harganya mungkin lebih mahal dari mobil SUV standar, cuma nyengir tanpa dosa. Gigi susu kecilnya kelihatan. Mata bulatnya yang berwarna gelap—mata yang, sejujurnya, selalu bikin dada Carlos berdesir karena begitu mirip dengan seseorang di masa lalunya—berbinar polos.
"Maaf, Papi," gumam Luke cadel, ngebiarin Carlos ngelap sudut bibirnya dengan telaten.
Carlos ngehela napas, setengah lelah setengah gemas. Dia ngerapihin kerah baju polo kecil yang dipakai putranya. "Duduk di sini sebentar, oke? Papi harus ngomong sama Tante PR di sana. Two minutes. Don't go anywhere."
"Okay!" jawab Luke riang, kembali fokus ke iPad di pangkuannya yang lagi muter episode Peppa Pig.
Carlos berdiri, ngerapihin kemejanya, dan masang senyum charming andalannya sebelum muter badan ke arah kerumunan staf. Ia cuma butuh waktu dua menit. Cuma ngecek draft press release dan briefing jadwal shoot sebentar. Apa sih yang bisa terjadi dalam dua menit?
Ternyata, banyak.
Bencana itu dimulai pas Luke ngedenger suara tawa yang sangat familiar dari luar pintu kaca hospitality Mercedes. Luke ngangkat kepala dari iPad-nya. Di luar sana, di tengah lautan manusia yang lalu-lalang ngelewatin area VIP, ada siluet seseorang pakai kemeja oranye terang. Papaya.
Uncle Lando! pekik Luke dalam hati.
Tanpa pikir panjang, bocah empat tahun itu naruh iPad-nya di sofa, turun dengan susah payah karena kakinya yang masih pendek, dan mulai lari kecil ke arah pintu kaca otomatis.
Masalahnya, Lando Norris kalau jalan di paddock itu kecepatannya nyaris sama kayak mobil balapnya waktu di straight line. Cepat, buru-buru, dan langkah kakinya kelewat lebar buat ukuran orang yang nggak setinggi itu. Waktu Luke berhasil nyelip keluar dari pintu hospitality Mercedes, kemeja oranye Lando udah belok ke arah deretan motorhome lain yang letaknya lebih jauh ke ujung.
"Uncle!" panggil Luke, suaranya langsung tenggelam oleh deru mesin mobil dari lintasan dan obrolan ratusan orang.
Luke terus jalan, ngelewatin kru mekanik yang bawa-bawa tumpukan ban, jurnalis TV dengan kamera raksasa, dan tamu-tamu VIP dengan tiket paddock club yang wangi parfumnya nyampur aduk bikin pusing. Makin lama, orang-orang di sekitarnya kerasa makin tinggi. Semuanya ibarat gedung pencakar langit buat anak sekecil Luke. Kemeja oranye Lando hilang tak berbekas ditelan keramaian.
Langkah Luke melambat. Paddock Silverstone yang tadinya kelihatan seru dan penuh warna dari balik kaca hospitality tiba-tiba berubah jadi labirin raksasa yang menakutkan. Suara mesin mobil yang lagi free practice menderu kencang banget sampai bikin telinga Luke sakit. Dia nutup kedua telinganya pakai tangan. Bibir bawah bocah itu mulai melengkung ke bawah. Matanya berkaca-kaca. Dia nggak tau ini di mana, dan yang paling parah, dia nggak tau jalan balik ke papi.
Sambil jalan mundur ketakutan buat ngehindarin troli logistik yang lewat, Luke nggak merhatiin jalan di belakangnya.
Bruk!
Kepala Luke nabrak sesuatu yang lumayan keras, tapi nggak bikin sakit. Lebih mirip nabrak tiang yang dilapisi kain tebal. Bocah itu oleng, nyaris jatuh ke aspal paddock, sebelum sebuah tangan besar dengan gerakan kilat menangkap lengannya.
"Whoa, careful there, little mate!"
Suara bariton itu terdengar kelewat lembut, kontras banget sama deru mesin yang bising dan udara kompetitif paddock. Luke mendongak. Dan mendongak lagi. Terus mendongak lagi sampai lehernya beneran pegal.
Pria di depannya ini menjulang tinggi banget. Jauh lebih tinggi dari papi. Jauh lebih tinggi dari Uncle Lando. Dia pakai kemeja teamwear berwarna biru tua dengan aksen putih. Pria itu punya senyum yang anehnya bikin tenang, dan matanya menatap Luke dengan ekspresi terkejut yang buru-buru berubah jadi senyum hangat.
Alexander Albon baru aja kelar media briefing di belakang garasi Williams yang sukses bikin energinya terkuras habis. Niat awalnya cuma pengen balik ke driver's room, minum kopi, dan ngecek data telemetri yang belum selesai dia baca. Paddock selalu kacau dan penuh sesak pas hari Jumat, dia tau itu. Tapi nabrak anak kecil yang jalan sendirian tanpa pengawasan orang tua dengan muka nyaris nangis? Itu masuk kategori anomali.
"Hei," panggil Alex lagi, kali ini langsung berjongkok. Lututnya sampai nyentuh aspal biar tingginya bisa sejajar sama bocah mungil ini. "Kamu sendirian? Mana orang tua kamu, hm?"
Luke nelen ludah. Tangan besarnya pria asing ini masih megang pundaknya dengan super hati-hati, seakan takut bikin Luke patah. Entah kenapa, wangi parfum pria ini—cinnamon, amber, dan sandalwood, meresap masuk ke penciuman Luke, menutupi bau bising aspal dan bahan bakar sirkuit. Wanginya kelewat hangat dan super comforting, seolah ngasih pelukan tak kasat mata. Kombinasi manis dari kayu manis dan sandalwood yang earthy itu sukses bikin dada Luke ngerasa aman. Dia nggak jadi nangis.
"Aku cari Uncle Lando," cicit Luke, tangannya meremat ujung bajunya sendiri.
Alex ngerjap. Uncle Lando? Otaknya langsung muter cepat. Di seluruh grid F1 ini, nama Lando cuma merujuk ke satu orang idiot berbaju oranye yang kebetulan adalah sahabat baiknya. Alex ngamatin wajah bocah itu. Rambut brunette yang sedikit ikal, mata bulat gelap, bentuk bibir yang... tunggu. Wajah anak ini entah kenapa kelihatannya familiar banget di mata Alex. Rasanya kayak dejavu, seakan dia pernah ngelihat siluet wajah yang mirip banget dengan anak ini entah di mana.
"Lando? Lando Norris yang pakai baju oranye terang itu?" tanya Alex, memastikan.
Luke ngangguk semangat. "Iya! Uncle Lando jalannya cepet banget kayak roket. Aku mau kejar tapi hilang."
Alex ketawa kecil, suara tawanya renyah dan tulus, bikin beberapa otot di wajah tegangnya rileks. "Yeah, he does walk like a penguin on speed sometimes. Nama kamu siapa, buddy?"
"Luke."
"Oke, Luke. I’m Alex," Alex nyodorin tangannya yang besar, dan Luke menjabatnya pakai tangan kecilnya tanpa ragu. Alex sama sekali nggak kelihatan risih. "Gimana kalau kita cari Uncle Lando bareng-bareng? Daripada kamu keinjak orang di sini. Mau digendong?"
Luke ragu sedetik. Papi bilang nggak boleh ikut orang asing. Tapi orang tinggi ini kenal Uncle Lando, dan suaranya baik banget. Karena kaki Alex beneran panjang banget dan dia kelihatannya bisa diandalkan, Luke akhirnya ngangkat kedua tangannya ke udara.
Alex tersenyum lebar. Dengan mudah, dia ngangkat tubuh kecil Luke, mendudukkannya di lipatan lengannya dengan effortless. Pria itu bahkan nggak kelihatan terbebani sama sekali. Luke otomatis ngalungin sebelah tangannya ke leher Alex, nyenderin kepalanya ke bahu lebar itu.
Nyaman banget, batin Luke. Kayak dipeluk kasur hangat.
Alex melangkah santai nembus keramaian paddock, kali ini dengan satu kargo tambahan. Beberapa mekanik dan reporter TV yang papasan sama dia noleh dua kali dengan tatapan bingung. Seorang pembalap dengan tinggi 186 sentimeter, jalan santai di tengah hiruk-pikuk sesi latihan bebas sambil bawa bocah bocah yang entah dari mana asalnya? Classic Alex Albon behaviour, pikir mereka. Pria itu emang kelewat soft.
"Kita ke hospitality McLaren, ya. Jaraknya lumayan jauh dari sini. Kamu dari mana emangnya tadi?" tanya Alex santai sambil terus jalan, sesekali nunduk buat ngelihat muka Luke.
"Dari tempat mobil warna hitam-silver," jawab Luke polos.
Alex ngernyit. Mercedes? Lando punya kenalan di Mercedes yang bawa anak bocah? Ah, udahlah, pikir Alex. Otaknya udah terlalu penuh sama setup suspensi mobil buat mikirin silsilah keluarga Lando Norris.
-
Di sisi lain paddock, Carlos Sainz lagi ngalamin mental breakdown.
Dua menit. Dia cuma ngalihin pandangan dua menit. Waktu dia balik badan, sofa leather tempat dia ninggalin anaknya itu kosong. Nggak ada Luke. Cuma ada remahan croissant dan iPad yang masih nayangin animasi babi warna pink beresolusi 4K ke arah sofa kosong.
"Luke?!"
Carlos keliling lounge VIP itu dengan panik. Dia nanya ke waitress, nanya ke petugas security di pintu, dan pas security bilang dia ngelihat anak kecil lari keluar ngejar seseorang pakai seragam tim McLaren, jantung Carlos rasanya anjlok sampai ke dasar lambung.
Mierda. Mierda. Mierda.
Carlos berlari keluar. Reputasinya sebagai Global Ambassador yang elegan dan selalu poised mendadak hancur berantakan. Dia lari nerobos kerumunan orang, kemeja sutranya sedikit kusut ditiup angin, kacamata hitamnya dilepas kasar dan dimasukin ke saku celana. Napasnya memburu. Paddock ini berbahaya buat bocah. Terlalu banyak orang, terlalu banyak alat berat, dan suaranya bisa bikin anak sekecil Luke overstimulated.
"Oranye... baju oranye..." gumam Carlos panik. Otaknya langsung narik satu kesimpulan valid. Lando. Bocah itu pasti lihat Lando.
Dengan kecepatan yang nggak kalah dari mobil kualifikasi yang lagi melaju di trek, Carlos bergegas menuju hospitality McLaren. Jarak dari Mercedes ke McLaren itu lumayan jauh, ngelewatin setengah panjang paddock. Carlos nyaris nabrak jurnalis yang lagi stand-up reporting, ngumpat pelan dalam bahasa Spanyol, dan terus memacu langkahnya. Dalam hati dia merapal doa supaya Luke udah bareng Lando. Kalau nggak, Carlos beneran bakal ngerobohin sirkuit ini.
-
Sementara itu, di lantai dasar hospitality McLaren yang bernuansa modern industrial dan didominasi warna oranye terang.
Lando Norris lagi asik nyedot botol minumnya sambil ngetawain video TikTok yang ditunjukin oleh performance coach-nya. Suasananya santai, AC-nya dingin, dan Lando baru aja nyelesaiin kewajiban medianya. Semuanya terasa damai.
Sampai pintu kaca otomatis di depan mereka terbuka.
"Lando, mate," sebuah suara berat yang familiar manggil dari arah pintu.
Lando noleh. "Oh, Albono! Tumben lo main ke—"
Kalimat Lando terputus. Matanya melotot sempurna. Botol minum di tangannya nyaris merosot jatuh ke karpet abu-abu. Kalau ini film kartun, rahang Lando pasti udah lepas dari engselnya dan ngegelinding di lantai.
Berdiri di sana adalah Alex. Sahabatnya yang punya postur menjulang itu lagi tersenyum ramah. Tapi bukan eksistensi Alex yang bikin roh Lando rasanya mau terbang keluar dari raganya menuju atmosfer. Masalah utamanya ada pada makhluk kecil yang lagi anteng digendong sama Alex.
Makhluk kecil berambut cokelat, bermata bulat, yang sekarang lagi ngelambai antusias ke arah Lando dari pelukan kokoh Alex.
"Uncle Lando!" seru Luke girang.
Darah di tubuh Lando mendadak beku. Fucking hell. Otaknya langsung korslet. Pesan Error 404: Brain Not Found berkedip-kedip di jidatnya. Ini bencana Avengers level threat. Lando adalah satu dari segelintir manusia di muka bumi ini yang tau kebenaran soal asal-usul anak itu. Dia tau tanggalnya, dia tau kejadiannya lima tahun lalu di pestanya, dan dia tau betul alasan kenapa Carlos menyembunyikan eksistensi Luke dari pria tinggi yang sekarang lagi berdiri di depannya ini.
Dan sekarang, anak itu lagi anteng digendong sama bapak kandungnya sendiri yang sama sekali nggak sadar apa-apa.
"Mate, gue nemu dia nyasar di deket garasi Aston Martin tadi," kata Alex santai, melangkah masuk ke ruangan. Tangannya yang besar refleks nepuk punggung Luke dengan gerakan menenangkan yang, jujur aja, terlalu natural. "Katanya dia nyariin lo. Keponakan lo, ya? Pantesan mukanya kayak nggak asing. Good looking kid, unlike you."
Lando nelen ludah kasar. Tenggorokannya mendadak sekering lintasan Bahrain di siang bolong. "Alex," panggil Lando, suaranya bergetar nyaris kayak tikus kejepit pintu. "Turunin anak itu. Now."
Alex ngernyit bingung. Senyumnya memudar sedikit ngelihat wajah Lando yang pucat pasi kayak baru lihat setan. "Kenapa? Dia nggak berat tau. Lagian dia nyaman kok digendong. Beneran keponakan lo? Dari saudara lo yang mana? Gue kira—"
"Gue bilang, turunin dia," desis Lando panik, buru-buru maju buat ngambil Luke dari lengan Alex sebelum keadaan makin kacau.
Tapi sebelum jari Lando sempet nyentuh kain baju Luke, pintu kaca di belakang Alex terbuka dengan dorongan paksa. Bunyi braak pelan dari engsel pintu yang kena hantam bikin beberapa anggota tim McLaren di ruangan itu menoleh kaget.
"Lando!"
Suara itu serak, kehabisan napas, dan terdengar sangat putus asa.
Alex, yang posisinya membelakangi pintu, refleks memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang dengan energi sebrutal itu. Luke yang ada di gendongannya otomatis ikut menoleh ngelewatin bahu lebar Alex.
"Papi!" seru Luke girang, merentangkan tangannya yang kecil.
Waktu seakan berhenti berdetak di hospitality McLaren. Semua pergerakan mati.
Berdiri mematung di ambang pintu adalah seorang pria yang penampilannya berantakan tapi entah gimana tetap mancarin aura yang mengintimidasi. Rambut brunette-nya yang biasanya tertata rapi tanpa cela kini jatuh menutupi dahi. Kemeja putih mewahnya sedikit kusut, ngelihatin dadanya yang naik turun dengan cepat karena oksigen yang terkuras habis. Wajahnya merah karena berlari panik, tapi matanya...
Mata pria itu terbelalak lebar, terkunci lurus ke arah Alex.
Alex ikut mematung. Untuk sesaat, dia lupa cara bernapas.
Tentu saja Alex tahu siapa pria ini. Carlos Sainz. Wajahnya ada di billboard raksasa di berbagai sudut jalan tol Eropa. Dia global ambassador, model papan atas yang pesonanya sering jadi bahan obrolan para pembalap di driver's parade.
Tapi buat Alex, Carlos bukan sekadar model di papan reklame. Carlos adalah pria dari balkon apartemen di London lima tahun lalu. Pria dengan wangi parfum mahal dan senyum tipis yang berhasil memporak-porandakan isi kepala Alex semalaman. Pria yang menghilang dari tempat tidurnya sebelum matahari terbit, saat Alex masih terlelap, ninggalin Alex dengan euforia kursi F1 pertamanya dan sepotong memori indah yang nggak pernah benar-benar bisa dia lupakan seutuhnya.
Dan sekarang, pria itu berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Tapi yang bikin sistem otak Alex benar-benar lumpuh bukan pertemuan kebetulan ini. Bukan karena fakta bahwa jantungnya kembali berdetak dua kali lebih cepat hanya karena ngelihat Carlos.
Melainkan fakta bahwa Luke, bocah kecil bermata bulat di gendongannya ini, baru saja memanggil Carlos dengan sebutan "Papi".
Carlos berdiri kaku di tempatnya. Logikanya teriak nyuruh dia untuk lari, narik Luke dari sana, dan pergi jauh-jauh dari hadapan pria ini. Tapi kakinya seolah dipaku ke lantai. Matanya perlahan naik, bergerak dari wajah bahagia putranya, menuju lengan kokoh yang menggendongnya, dan akhirnya... natap wajah pria yang menjulang tinggi di depannya itu.
Perbedaan fisik mereka terasa nyata. Meskipun Carlos berdiri tegak, dari jarak beberapa meter ini pun dia masih harus sedikit mendongak untuk bisa menatap lurus ke dalam mata Alex. Mata gelap yang lembut, mata yang lima tahun ini hanya bisa Carlos lihat dari sorotan layar kaca televisi dengan perasaan bersalah yang tak berkesudahan.
Alex menatap Carlos, keterkejutan tergambar jelas di rahangnya yang sedikit terbuka. Carlos menatap Alex, kepanikan dan rahasia besar tertahan di tenggorokannya.
Di antara mereka berdua, ditemani deru samar mesin mobil dari luar, ada keheningan yang memekakkan telinga. Keheningan yang sarat akan jutaan pertanyaan tak terucap, ribuan rahasia yang disimpan rapat-rapat, dan lima tahun waktu yang hilang.
Lando, yang berdiri di samping mereka berdua, perlahan mundur satu langkah. Dia mejamin mata erat-erat, memijat pangkal hidungnya yang mendadak pening, dan membatin pasrah,
Bloody hell. We are entirely, absolutely doomed.
-
Kepanikan Carlos tidak berhenti saat pintu hospitality Mercedes tertutup di belakangnya setelah dia merebut Luke dari pelukan Alex. Setelah menyerahkan bocah itu ke nanny-nya untuk diganti bajunya, Carlos langsung narik kerah baju balap Lando, menyeret sepupunya itu ke dalam ruang meeting kosong dan mengunci pintunya.
"Carl, mate, leher gue kecekek—"
"A word, Lando. Lo keluarin satu kata aja soal Luke ke dia, gue pastiin lo nggak bakal pernah nginjekin kaki di paddock lagi," desis Carlos. Matanya menyala penuh ancaman, tapi napasnya berantakan. Tangannya yang mencengkeram kain baju Lando bergetar hebat.
Lando nelan ludah kasar. Dia menatap wajah Carlos yang pucat pasi, tapi pikirannya otomatis terlempar ke bulan Maret 2019.
Saat itu di Melbourne, beberapa jam sebelum balapan debut mereka bertiga. Lando sedang muntah-muntah di toilet karena anxiety yang parah. Alex yang menemukannya. Alih-alih mengejek, cowok jangkung itu duduk di lantai toilet, mengusap punggung Lando, dan membawakan botol air. "Kita bakal ngelewatin ini bareng-bareng, Lando. We made it," kata Alex waktu itu.
Alex adalah salah satu sahabat terbaik yang Lando punya. Dan menyembunyikan eksistensi anak kandung sahabatnya sendiri selama lima tahun... Lando merasa seperti manusia paling bajingan di muka bumi.
"Carl... sampai kapan?" tanya Lando pelan, suaranya sarat akan rasa bersalah. "Alex berhak tau. Tadi dia ngelihat Luke. Lo pikir dia nggak bakal curiga?"
"Dia nggak boleh tau!" Carlos membentak, suaranya pecah di ujung kalimat. Dia mundur, memeluk tubuhnya sendiri. "Lo mau karir dia hancur? Lo mau media ngulitin hidup gue dan nyeret-nyeret anak gue? Nggak. Kita tutup rapet-rapet. Anggap hari ini nggak pernah terjadi."
Malam harinya, di kamar hotel bintang lima di London, keheningan terasa mencekik.
Carlos duduk di pinggir kasur, mengusap rambut ikal Luke dengan handuk kecil. Luke, yang biasanya cerewet, malam ini agak diam. Mata bulatnya menatap Carlos dengan tatapan observasi yang terlalu tajam untuk anak berusia lima tahun.
"Papi," panggil Luke cadel.
"Ya, amor?"
"Papi takut sama Uncle Alex?"
Gerakan tangan Carlos terhenti. Jantungnya serasa jatuh ke lantai. "Kenapa Luke bilang gitu?"
"Papi mukanya kayak waktu Luke mau jatuh dari sepeda. Terus Papi tarik Luke kenceng banget," Luke mengerutkan kening. "Uncle Alex orang jahat?"
Air mata Carlos menggenang seketika. Ini adalah pertama kalinya dia harus berbohong langsung ke wajah anaknya. "Nggak, sayang. Uncle Alex bukan orang jahat. Papi cuma... kaget karena Luke lari sendirian. Papi takut Luke hilang."
Beberapa jam kemudian, saat Luke tertidur pulas, Carlos duduk sendirian di lantai balkon hotel ditemani segelas whiskey. Dia membuka galeri ponselnya. Jarinya menggeser foto-foto Luke. Bentuk rahangnya, senyum miringnya, lengkungan alisnya. Carlos menenggak whiskey-nya dengan kasar, mencoba menelan kenyataan pahit bahwa sekuat apa pun dia berlari, bayang-bayang Alexander Albon sudah tertanam abadi di wajah putranya.
