Work Text:
Adakalanya Sekala kira cinta di muka bumi ini sudah diperas habis sampai tetes terakhirnya. Semenjak Bunda dikebumikan, semenjak tanah becek itu ditinggalkan satu per satu pengunjungnya, Sekala kehilangan separuh hatinya. Kematian Bunda sukses menggenapkan segala kesedihan yang Sekala tumpuk diam-diam di balik ubun-ubunnya. Dan seperti mayat hidup, Sekala kehilangan daya juang. Terkadang Sekala ingin sekalian mati saja. Biar dia jemput Bunda di atas sana, biar dia bermanja-manja di telapak tangan Bunda.
Tak kalah dari pemiliknya, rumah kecil tempatnya tinggal selama 20 tahun lebih juga ikut kehilangan warnanya. Tembok biru cerah seakan pudar menjadi abu-abu, tak ada lagi harmoni ketukan sendok dan panci di dapur, koleksi buku-buku di rak ruang tengah kini tak ubahnya rangkaian kalimat penuh omong kosong, Ru — kucing bulat yang sudah menjadi anggota keluarganya yang kedua — ikut mengeong tak selera pada makanannya, menolak makan jika bukan Bunda yang menuangkan pakannya. Ruangan 30 meter persegi miliknya menjelma jadi tempat Sekala untuk menumpang tidur kala mimpi mulai pesta pora di luar sana.
Sekala awalnya sangsi ketika Terry menyuruhnya membuka lowongan housemate. Untuk apa? Supaya orang yang mengasihani Sekala bertambah seorang lagi? Namun, melihat kondisi ekonominya yang sedang pailit, tawaran Terry mulai terdengar masuk akal. Tak sampai 2 minggu kemudian, hadir sesosok makhluk mungil di depan rumahnya, lengkap dengan koper dan berkardus-kardus barang.
Binar hidup sesuai dengan namanya. Lelaki itu secara harfiah selalu tampak berbinar. Sekala tidak mengerti, padahal apartemen ini sama matinya dengan dirinya, tapi Binar seakan tidak peduli. Malah seiring hari dia tanam binar-binar dirinya ke dalam tempat tinggal barunya itu.
Binar seolah tak acuh dengan duka yang terpampang jelas di kening Sekala. Tiap pagi dia sapa pemuda itu dengan sepiring sarapan di atas kabinet dapur. Kala Sekala pulang malam hari, disambut dirinya dengan ruang tengah yang bersih dan licin, padahal Sekala yakin sekali kemarin debu di kolong sofa masih sibuk berpesta saking banyaknya. Mau Sekala diamkan Binar, bibirnya tetap tak berhenti mengoceh. Mau Sekala kunci dirinya rapat-rapat di kamar, ketukan di pintunya selalu berhasil membuatnya keluar. Mau Sekala terisak di pojok ruang belajarnya, detak jantung yang hadir di pintu rungunya selalu buat dia tenang.
Sampai kemudian Sekala yakin benar dirinya sudah gila karena percaya bahwa Binar datang dengan membawa koper-koper penuh sihir. Buku-buku Binar yang diselipkan di antara buku-bukunya sendiri membawa kembali dunia baru yang dulu kerap dia jelajahi, wangi berbagai kuliner kembali menggantung di langit-langit dapur yang muram, dipan yang terasa dingin dan sesak itu kini terasa begitu hangat dan lapang kendati penumpangnya ditambah seorang, dan hantu-hantu yang kerap mendiami ceruk-ceruk ruangan dan makan dari kesedihan di ubun-ubun Sekala kini lenyap digantikan binar cerah yang buat Sekala betah.
Duka kemarin memang masih ada, menempel bebal tak mau hilang. Namun Sekala, Ru, dan apartemennya dibantu sosok mungil yang hadir tanpa aba-aba untuk hidup dengan memikul kesedihan. Dari Binar mereka temukan kembali sosok periang dan penuh harapan yang mengisi kembali jiwa-jiwa yang kosong.
Seperti kalimat Binar waktu itu, “Dunia memang gak adil karena ketika seseorang mati, harus kita yang hidup yang menanggung kesedihannya. Tapi, Ka, duka itu tanda bahwa kamu masih sayang sama bunda. Menjalani hari esok tanpa Bunda akan selalu menyakiti kamu dan mungkin Ru juga, tapi belajar untuk hidup dengan bersuka dengan semua memori yang kamu ingat tentang Bunda. Berdukalah seperti kamu mencinta.”
Binar buat Sekala percaya bahwa cinta masih ada di dunia. Disusupkannya hangat itu lewat sela-sela jari tangan Sekala. Diisinya kembali setengah jiwa yang hilang dulu sekali. Dikecupnya duka dan biru di kening Sekala. Bahkan bagi Ru, kucing tua itu menemukan majikan baru yang dapat membuatnya mengeong kegirangan seolah lupa bahwa dia sudah tak lagi muda.
