Work Text:
Yudis baru selesai mandi waktu Arjuna tiba-tiba datang gitu aja menerobos masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja sang empunya rumah berteriak karena dikejutkan oleh kedatangannya dan hampir melempar bantal kalau saja badannya tidak tiba-tiba ditarik oleh pria yang lebih tua darinya itu.
Bibirnya tiba-tiba diraup paksa. Lidah Arjuna menari-nari di dalam mulutnya, mengabsen deretan gigi si pria yang lebih mungil darinya. Tangannya yang sedari tadi tidak diam, mulai menggerayangi punggung Yudistira yang tidak tertutup sehelai benangpun.
Yudis menepuk-nepuk dada Arjuna, memaksanya untuk melepas lumatan pada bibirnya karena dirinya hampir kehabisan oksigen.
"Bang apas— AH!"
Pertanyaan yang belum sempat terlontar tertahan begitu saja dan digantikan dengan desahan karena Arjuna yang tiba-tiba memalingkan fokusnya ke ceruk leher Yudis. Aroma sabun yang masih menempel di tubuhnya membuatnya semakin menggila. Dijilat, digigit, dan kembali dijilat membuat Arjuna bertingkah seperti anjing kelaparan. Puting Yudis yang ereksi pun jauh dari kata aman. Jari lihainya terus memilin dan menarik-narik sampai membuatnya kemerahan dan sesekali akan digigit dengan rakus oleh Arjuna seolah mengharapkan air susu keluar dari sana.
Kali ini tangan Arjuna mengalihkan fokusnya ke bongkahan pantat Yudis yang masih terlilit oleh handuk.
"Hgnhhhh," erangan kecil keluar dari mulut Yudis saat merasakan remasan kasar pada bokongnya.
Arjuna yang sudah dibutakan oleh nafsu mulai merendahkan tubuhnya sampai memosisikan wajahnya tepat di depan selangkangan Yudistira. Walau tertutup oleh handuk, Arjuna bisa melihat dengan jelas gundukan kecil yang mengintip, "Kok udah berdiri aja sih?"
Yudis yang hendak menjawab lagi-lagi dibuat membisu karena Arjuna tidak segan-segan melepaskan satu-satunya kain yang menutupi dirinya, membuat penisnya yang sudah terangsang berdiri tegak di depan wajah Arjuna. Yudis malu sekali padahal ini bukan pertama kalinya dia telanjang bulat di depan Arjuna.
Senyum nakal tersungging dari bibir Arjuna sebelum akhirnya mulutnya melahap penis itu dan membuat Yudis hampir kehilangan keseimbangannya. Untung saja Arjuna sudah memojokkan dirinya ke meja terdekat sehingga Yudis tidak perlu repot-repot mencari pegangan untuk mempertahankan posisinya.
Arjuna sibuk menggerakkan kepalanya maju mundur dengan tangan yang tak tinggal diam tiba-tiba melesakkan jarinya ke dalam lubang anal Yudis dan membuat laki-laki itu kelonjotan dihantam rangsangan yang bertubi-tubi. Membuat badannya bergetar sebelum akhirnya hampir mengeluarkan putihnya kalau saja Arjuna tidak tiba-tiba menghentikan kulumannya.
Yudis terengah-engah, matanya yang sayu menatap ke bawah melihat Arjuna yang mengelap air liurnya yang berantakan sebelum akhirnya laki-laki itu berdiri kembali menghadap Yudis.
Tangannya meraih dagu Yudis, membuat si pemilik manik hijau itu menatap matanya, "Kamu tuh cantik banget kalau lagi berantakan gini, dis."
Baru saja Yudis ingin menjawab, badannya sudah dibalik begitu saja dan dipaksa untuk membungkuk. Tanpa melihat ke belakang pun Yudis sudah tau apa yang akan terjadi karena suara ikat pinggang yang dilepas dan resleting dibuka masuk ke telinganya. Benar saja, Yudistira mendesah saat merasakan benda keras digesekkan ke bongkahan pantatnya. Sesekali berhenti di depan lubang sempitnya seolah meminta izin untuk menerobos masuk.
"Boleh nggak dis?" Yudis mengangguk pasrah dan membuat Arjuna tersenyum senang. Penisnya yang entah sejak kapan sudah ereksi dilumuri oleh cairan precum miliknya sendiri sebelum akhirnya menerobos masuk.
Sempit dan hangat.
Dua hal yang selalu diingat oleh Arjuna saat penisnya mengisi penuh lubang anal juniornya ini. Dua hal yang menjadi alasan utama Arjuna ingin terus-terusan menyetubuhi laki-laki ini. Dua hal yang membuat Arjuna kecanduan memompa penisnya maju mundur dengan irama tak beraturan karena sensasi remasan lubang Yudis tiada duanya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Yudis. Penis Arjuna yang kelewat besar itu selalu berhasil membuat Yudis terbang ke langit ketujuh. Gerakan kasar Arjuna selalu membuatnya mabuk kepayang. Di saat seperti ini Yudistira tak ada bedanya dengan bintang video porno yang biasa dia tonton saat sendirian. Mulutnya menganga lebar sibuk mendesah dengan air liur yang berceceran, belum lagi matanya yang juling karena tak kuasa menahan nikmat yang diberikan oleh lelaki bersurai hitam di belakangnya.
"Aduh, Dis. Kamu seksi banget, kamu nih suka ya kalau aku entot kasar kaya gini?"
'Suka!' jawab Yudis di dalam hati.
Tangan Arjuna yang melingkar di pinggangnya bekerja sangat ekstra menggerakkan tubuhnya maju mundur agar mencapai titik-titik sensitifnya. Yudis hanya bisa mendesah, mendesah, dan mendesah sampai dia mulai merasakan gejolak aneh yang menghampiri.
"B-bang p-p-pelan pleasehh!"
"Oh kamu mau keluar ya?" Yudis mengangguk.
Bukannya mempercepat tempo gerakannya, Arjuna malah meraih penis Yudis dan mengocoknya kasar. Yudis yang diberi rangsangan bertubi-tubi seperti itu tentu saja sulit menahan orgasmenya yang kian mendekat. Belum lagi sodokan Arjuna terus-terusan menyentuh titik sensitifnya membuat laki-laki itu hanya bisa menggenggam erat meja yang menjadi tumpuannya sampai kuku-kukunya memutih.
Benar saja, Yudis langsung ejakulasi saat itu juga. Mengotori lantai dengan maninya yang berceceran.
"Enak?" Yudis yang masih terengah-engah hanya bisa mengangguk lagi.
Tiba-tiba saja dia merasakan penis Arjuna semakin membesar di dalam. Tempo gerakannya kembali tak beraturan sampai-sampai Yudis hampir tersedak dengan liurnya sendiri karena kali ini Arjuna sangat brutal.
"Dis kamu bisa rasain ini ga?" tangan Arjuna meraih perut bagian bawahnya, "Ini punyaku lho, dis. Punyaku bisa masuk sedalem ini, dis."
Dirasa pelepasannya juga semakin mendekat, Arjuna terus menghujam lubang Yudis tanpa ampun. Bokongnya kemerahan karena Arjuna memberikan tamparan dan membuat tubuh Yudis mengejang. Sebelum akhirnya pelepasannya benar-benar datang dan memenuhi perut Yudis.
Arjuna menunduk, mendekap tubuh kecil Yudis yang sudah tak berdaya. Tangannya mengusap pundak Yudis sebelum mendaratkan giginya. Keduanya mempertahankan posisi itu sebelum Yudis berkomentar.
"Berat bang!"
Arjuna terkekeh sebelum akhirnya bangkit dan mengeluarkan penisnya dari lubang sempit itu. Senyum sumringah terlihat jelas dari wajahnya saat melihat maninya yang semula tertahan oleh penisnya berlarian keluar dan menetes ke lantai, bercampur dengan cairan Yudis yang keluar lebih dulu.
"Cantik banget," ujar Arjuna mengagumi mahakarya yang dibuatnya malam ini.
Yudis yang sudah tidak memiliki tenaga hampir merosot jatuh kalau saja Arjuna tidak cepat-cepat menangkapnya dan menggendongnya ke kamar mandi.
Didudukkannya Yudistira di atas kloset, sedangkan dirinya meraih bidet untuk membantu Yudistira membersihkan sisa-sisa sperma.
"Udah ah bang, gue bisa sendiri."
Arjuna menggeleng, "Emangnya gue apaan Dis main ninggalin lo gitu aja tanpa aftercare yang proper."
Yudis hanya menurut.
"Bang," panggil Yudis.
"Hm?"
"Kita ini apa ya?" pertanyaan yang selama ini ingin Yudis lontarkan akhirnya keluar juga.
Pertanyaan itu membuat Arjuna diam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh laki-laki mungil di depannya dan seolah sedang mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Yudis.
Arjuna tersenyum. Tangannya meraih tangan Yudis dan digenggamnya tangan si pria yang lebih kecil darinya ini.
"Emangnya kenapa dis? Bukannya udah jelas kalau kita ini cuma temen ya?"
Yudis berharap dirinya menghilang saat itu juga.
