Actions

Work Header

disayang

Summary:

Chan tersenyum sambil membalas dengan lembut, bahkan Wonwoo tidak dapat mendengar itu dengan jelas kali ini. Tapi tidak apa, tidak masalah sama sekali asal Chan selalu berada disini bersamanya.

Notes:

cuma soal mas wonwoo dan kesayangannya yang lagi pusing banget banget, happy reading ya teman temann.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Chan sudah kepalang bingung, tidak mampu berlama lama di tempat yang membuatnya merasa seperti sisa makanan yang sudah tidak layak bahkan hanya untuk ditatap. Bergegas pergi tanpa peduli makanan yang sudah ia pesan sebelumnya, ya walaupun hanya sekedar fish n chips serta matcha latte yang akhir akhir ini ia gemari.

 

Malam yang juga tidak kalah panas dari siang hari, hanya terbantu karena awan yang terus mencoba menutupi langit berwarna biru tua itu. Terlihat juga beberapa bintang tampak seperti berlomba menunjukkan hadirnya kepada pria berambut ikal ini, sedangkan Chan—dengan gusar membalas pesan para bajingan yang membuatnya harus merugi akibat sponsor yang kabur untuk acaranya. Ingin sekali rasanya ia berteriak agar amarah ini tidak memenuhi hati, toh ia juga sudah membayar taxi dengan mahal pikirnya. Tapi tentu saja, Chan ini adalah manusia yang beretika di hadapan orang lain—ia harus mampu mengendalikan dirinya.

 

Walau rasanya seperti dikelilingi setan, atau bahkan ia sudah menilai dirinya sedang di rasuki setan sekarang. Memukul dinding lift yang sedang ia naiki untuk sampai kepada kasihnya, sudah tidak sanggup untuk mengomel di roomchat karena tau pacarnya itu tidak kalah sibuk dari dirinya. Ia bahkan berlari kecil, saat melihat pria tinggi dengan kacamata kotaknya berdiri tepat di depan pintu apartemennya.

 

Chan tidak memeluk pria itu, melainkan menariknya masuk dan membanting pintu yang ada di belakangnya. Melampiaskan geramnya dengan erangan yang cukup untuk membuat para tetangga di samping kebingungan, dengan Wonwoo yang senantiasa mengelus punggung Chan tanda hadir. Tidak berkata apa apa sampai pacarnya selesai melampiaskan emosi yang sudah ia pendam sejak hari hari sebelumnya, tapi akhirnya juga membawa Chan masuk ke dalam pelukannya.

 

“angkat sampe sofa, sumpah kepalaku pusing banget emang orang orang anjing”

 

Adunya kepada yang lebih tua, yang diberi mandat juga paham dan langsung membopong sayangnya ini ke atas sofa berwarna hijau tua lengkap dengan cushion yang berwarna abu abu. Wonwoo bergegas mengambil air dingin dan juga beberapa snack bar untuk Chan, karena menurut yang ia dengar pacarnya itu sedang menjaga pola makannya.

 

Chan menyembunyikan wajahnya di cushion abu abu itu, sesekali berteriak karena sudah kepalang mampus. Bahkan tidak sadar Wonwoo sudah berada di sisinya, bukan duduk di samping melainkan duduk di atas karpet lembut yang ia belikan dulu saat Wonwoo baru pindah kesini. Mengelus rambut coklat ikal Chan dan tidak lama bergeser untuk memijat telinga pacarnya agar bisa rileks walau hanya sedikit.

 

“minum dulu coba, kasian kamu daritadi pasti gak minum”

 

Chan tidak perlu bertanya kenapa orang yang sedang ada di hadapannya sekarang tau, mengingat tadi pagi melapor karena tumblernya tertinggal di tempat Soonyoung setelah membahas soal kondisi stage dan masalah ticketing yang mengulur. Menarik wajahnya dari bantal kecil itu untuk menatap Wonwoo, menghela nafasnya lalu meminum air dingin itu dengan telaten.

 

“apa aku mundur aja ya mas? padahal kan selama aku jadi project manager ga pernah sekacau ini”

 

Ucapnya terjeda, menatap mata Wonwoo yang senantiasa memperhatikannya. Merasakan tangan Wonwoo memijat jari jarinya tenang disana.

 

“apa karena udah nggak kerja bareng mas ya makanya aku bisa ngerasa gini?”

 

Karena selama ini, event event yang Chan tangani selalu saja ada Wonwoo di dalamnya. Ntah sebagai backup dirinya, atau pula hanya staff yang menumpang nama; Chan selalu tenang jika ada nama Wonwoo ikut terselip di barisan setelah namanya.

 

“bisa sayang, percaya sama mas. selama ini sudah selalu keren kok, buktinya sudah sampai di bagian eksekusi hari H. mas selalu tau kamu dan yakin kamu mampu, mas selalu awasin kamu dari jauh.”

 

Wonwoo menjeda sedikit, kini bergeser agar sepenuhnya duduk di hadapan sang kasih yang sedang memandang dirinya rendah.

 

“soal sponsor itu, mas yang bakal handle biar tau jelasnya gimana. nanti pakai uang mas juga buat nalangin yang kurang kurang, pokoknya jangan di pusingin dulu kalau masih ada mas.”

 

Chan merasa malu bisa gagal di depan Wonwoo, walau tau Wonwoo tidak akan pernah berfikir hal ini gagal dan sia sia. Ikut turun dari sofa itu dan duduk di atas pangkuan pacarnya, mengalungkan kedua lengannya di leher Wonwoo cukup erat.

 

Sunyi melanda mereka berdua, Wonwoo mendekap Chan sepenuh hati. Berniat mengambil semua lelahnya agar Chan bisa kembali dengan lantang berkata bahwa dia tidak kalah keren dari Wonwoo.

 

“pengen di kontolin mas.” Bisik Chan di pangkuan Wonwoo, dengan ia yang mulai mengecup ringan leher pacarnya itu.

 

Wonwoo akan selalu memuja bagaimana Chan sangat mudah mengucapkan itu untuknya. Bangga karena Chan selalu tau apa yang ia inginkan, jadi Wonwoo tidak perlu memutar kepala jauh untuk memahami maksud dari pacarnya itu. Wonwoo juga terlanjur tergoda, membayangkan Chan menggantikan sinar rembulan malam ini di apartemennya.

 

“aku tadi baca di twitter, katanya mending muntah gara-gara di kontolin daripada muntah karena orang kontol.”

 

Wonwoo tentu saja tertawa, menurutnya lucu bagaimana Chan meminta semata mata karena melihat cuitan itu dari sosial media. Apalagi keadaannya yang sungguh amat akurat, hampir 90% kemiripan dari apa yang Chan bilang barusan.

 

“berarti mau blowjob sampai muntah?” Wonwoo menggoda Chan, menatap mata yang lebih kecil dengan genit.

 

“muntah sama peju mas”

 

Wonwoo semakin beremangat, bahkan hanya dengan dirty talk singkat sudah membuat penisnya begitu tegang di bawah bokong Chan. Mengangkat tubuh Chan untuk pindah ke dalam kamarnya, tidak ingin membuat tubuh itu kelelahan mengingat acaranya yang sebentar lagi diselenggarakan.

 

Tubuh Chan sudah direbahkan di atas kasur, diciumi pipinya terlebih dahulu sebelum Wonwoo menelanjangi Chan dengan lemah lembut. Telapak tangannya yang hangat ia bawa menuju areola dengan pacarnya yang sudah terlihat berkeringat, padahal belum sama sekali Wonwoo memulai kegiatan yang akan menghabiskan waktu sepanjang malam ini.

 

Chan tampak begitu kecil malam ini, mungkin pengaruh kata kata yang sebelumnya ia lontarkan atau memang Chan ingin menjadi pillow princess. Tapi yang Wonwoo tau, Chan ingin merasa sangat disayang malam ini dan Wonwoo pun selalu siap dengan apa yang selalu Chan minta dengan apapun bentuknya.

 

“cape gak sayang? kalau ga cape mas boleh minta kamu di atas mas ngga?”

 

Chan menatap Wonwoo, memang ia sudah beraktifitas sejak pagi hari. Tapi jika itu datang dari urusan ranjangnya, tentu saja ia tidak akan pernah lelah apalagi disuguhi dengan Wonwoo yang begitu lembut kepadanya.

 

“nggak kok mas, sini aku bantuin dulu lepas bajunya.”

 

Chan bangun untuk duduk di atas kasur Wonwoo yang empuk, membantu melepaskan kaus putih milik pacarnya yang mengeluarkan wangi woody persis seperti referensi Chan. Sisanya biar Wonwoo yang lepaskan sendiri, Chan juga menatap bagaimana Wonwoo meletakkan potongan kain itu dengan rapih di atas kursi kerja yang ada di ujung kamar.

 

Yang lebih tua naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya, disusul Chan yang naik ke atas tubuhnya. Kaki kanan Chan letakkan di tengah selangkangan Wonwoo, sementara kaki kirinya dibawa untuk turun di sebelah paha kanan pacarnya. Wonwoo merapihkan poni pacar kecilnya, membawa ciuman lembut tanda hadir dirinya hari ini untuk Chan.

 

Berciuman dengan tangan Wonwoo yang kini mulai mengusap paha sebelah kiri Chan yang menimpanya, sedikit meremas hingga menemukan vagina Chan yang sudah sangat licin—pelumas alaminya sudah keluar sejak di pangku Wonwoo tadi. Bahkan sekarang Wonwoo pun sudah memasukkan satu jarinya disana.

 

“kok udah basah sayang? perasaan mas belum ngapa ngapain kamu”

 

“aaahhhhgg mas lembut aja aku ngocor terus, mas ngomong sayang aja aku mau ngompol rasanya” Chan menatap Wonwoo, menggerayangi dada hingga perut pacarnya itu dengan tatapan yang terlanjur tergoda. Bahkan hanya dengan satu jari, Wonwoo sangat mampu membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perut Chan sekarang.

 

“emang boleh ya gitu, cantik?”

 

“emang ngga boleh ya? f-ucckk mas ngghhh mas” dua jari Wonwoo sudah berada disana. Chan tampak begitu rewel seperti seorang yang jarang mendapat servis seperti ini dari Wonwoo, tapi mungkin juga pengaruh tekanan hal yang ia sedang kerjakan sekarang.

 

Kepala penis Wonwoo menggesek clit Chan terus terusan, dua jarinya masih terus mengucak dalam hingga Chan terus mendesah.

 

“mmm-au keluar mas”

Chan kewalahan, tapi juga terlalu menikmati.

“pipisin mas ya sayang”

 

Wonwoo menambah digit jarinya hingga tiga, membuat Chan mencakar dada yang lebih tua agar bisa tetap ada disini. Bahkan hanya dengan jari membuat Chan mengompol dan membuat kasur Wonwoo basah dengan squirtnya, jari Wonwoo dikeluarkan untuk ia jilati sendiri. Merindukan sekali rasa pacarnya ini.

 

Wonwoo membiarkan Chan menjatuhkan tubuhnya, dada mereka saling menempel dengan pucuk kepala Chan ada di bawah dagu Wonwoo. Penis Wonwoo masih tegang dan terhempit kedua paha Chan, membuat Chan terus menggoyangkan tubuh serta terus memperkecil ruang di antara pahanya. Melihat Wonwoo yang tampak sangat keenakan sambil juga merasa precumnya hinggap di sisi paha Chan.

 

“aahh enak sayang, terusin”

 

Chan terus menggesek kedua pahanya sambil mengelus dagu Wonwoo, sebelum akhirnya berhenti karena bukan posisi ini yang ia inginkan malam ini.

 

“tetep mau blowjob sayang?”

 

Chan mengangguk, merangkak turun sementara Wonwoo menata bantal yang akan menjadi sandarannya disana. Merapihkan poninya agar tidak menghalangi pemandangan penis besar yang tegang berwarna pink agak kecoklatan milik pacarnya disana.

 

“aku potong rambut aja kali ya, ribet deh kalo mau sepong kamu harus benerin poni dulu. risih kayak susah banget aja kalo mau liat muka kamu yang keenakan itu”

 

Keluh si manis yang sudah mulai mengecup kepala penis Wonwoo, meludahi sebelum ia bawa tangannya meremas testis yang tergantung agak bawah. Wonwoo meringis kecil sambil mengelus kepala Chan lembut.

 

“mas jujur cinta banget sama rambut kamu yang ini, panjangnya bikin kamu tambah manis. mas kayaknya nangis kalo kamu sampe potong rambut….” nada Wonwoo menjadi sedih, memang sangat terasa bagaimana Wonwoo selalu meminta pap dari Chan, bahkan hampir 3x sehari Wonwoo bisa menagih foto Chan yang sekarang sedang berambut ikal berwarna coklat ini.

 

“iya deh ngga"

 

Chan langsung memasukkan penis Wonwoo tanpa aba-aba, membuat Wonwoo kaget dengan sensasi hangat di dalam sana. Jangan tanya seberapa jago Chan dalam hal ini, belum bergerak saja Wonwoo sudah mulai meracau tidak karuan.

 

Chan memaju mundurkan kepalanya, menghisap penis tegang yang bisa mencapai ujung tenggorokannya. Sesekali ia lepas dan ia jilati seluruh permukaannya, termasuk buah zakar yang ia kulum seperti sedang memakan es batu. Tangan Wonwoo sudah berada di atas kepala Chan, menuntun dan juga sesekali mengelus permukaan rambut Chan seperti biasa—tidak berani menjambak karena takut membuat mood Chan tiba tiba berubah.

 

“yessss sayy-ang disituu uugh”

“terus sayangnya mas kempotin pipinya cantik”

“kammu makin c-cantik kalau kontol mas di mulut kamuu”

“ngghh benneran mauh liat kmu muntah pejju mas aaggh”

 

Dan tepat setelah kalimat terakhir, Wonwoo menumpahkan air maninya tepat di mulut Chan. Penuh rasanya hingga Chan harus membuka mulutnya sambil menjulurkan lidah, membuat peju itu mengalir di dahu dan jatuh tepat di atas penis Wonwoo.

 

“tumben banyak banget, beneran kamu pengen pejuin mulut aku kayaknya”

 

Wonwoo terbahak sebelum menarik Chan untuk menimpanya, menciumi bibir Chan lembut sambil merasakan sisa pelepasannya barusan. Memang Wonwoo akhir akhir ini sedang sangat menjaga pola makan dan pikirannya, dan tidak heran bagaimana tidak ada rasa pahit di bibir maupun lidah Chan sekarang.

 

Bertatapan dengan Wonwoo yang mengelus pipi Chan yang cukup tirus, yakin sekali berat badannya turun karena pengaruh diet atau banyak sekali pikiran pacarnya sekarang ini.

 

“mas sayang kamu banget, tolong selalu jadi kesayangannya mas ya chan?”

 

Chan mengecup bibir Wonwoo sekali lagi.

 

“iyalah, emangnya mas pikir aku mau jadi kesayangan orang lain selain mas?”

 

Terkekeh lembut sambil mengusap punggung Chan, sebelum akhirnya bergerak untuk membuat tubuh yang lebih kecil berada di bawahnya. Ia gerayangi tubuh sang pacar dari ujung kepala hingga telapak kaki, sebelum akhirnya memposisikan dirinya tepat di depan vagina Chan.

 

“kondom mas abis sayang….. kamu ada bawa ga?”

 

Chan mengerutkan dahinya, tapi memaklumi karena memang biasanya mereka memakai pengaman dengan alasan safety.

 

“kayaknya aku bilang mau di kontolin deh mas, lagian kalo ada aku yang minta kamu ga usah di pake. aku mau kontol kamu yang tanpa apa apa itu.”

 

Mutlak. Apapun yang di ucapkan Chan di atas ranjang adalah mutlak dan Wonwoo tidak akan pernah bisa menepis itu.

 

Tapi tetap saja ia kembali turun untuk mengambil lubricant di laci nakas, melumuri penisnya dan juga memberikan sedikit di area labia Chan agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Memang segitu perhatiannya Wonwoo terhadap kenyamanan Chan, dan itu juga kenapa Chan bisa sangat mencintai Wonwoo.

 

Wonwoo memposisikan kaki Chan agar melingkar di pinggangnya, perlahan memasukkan penisnya sedikit demi sedikit meskipun sudah berpuluh kali melakukan ini dengan pacarnya.

 

“uuuggh masss kenaph kontolnya m-asih segede inii?!”

 

Wonwoo tidak menjawab, tapi berhasil memasukkan seluruh penis tegangnya ke dalam vagina Chan yang terus terusan menjepitnya. Ngilu dan enak menatap Chan yang sedang mengatur nafasnya sambil merasakan seberapa tebal dan panjang penis Wonwoo disana.

 

“mas sange banget sama kamu, beneran sange mampus liat kamu kayak gini… kamu kan jarang banget pengen missionary.”

 

Wonwoo menghentak sekali, Chan terasa begitu penuh dan menggeliat sangking enaknya. Mulutnya menganga lebar setiap Wonwoo menghentakkan pinggulnya, terasa bagaimana kepala penis itu mencapai bibir rahimnya.

 

“aaghhhhg mas ennak! mass memek akku penuhh…”

“t-terus remesin kontol mass biar pejunya bisa buat kamu kenyan-gg”

 

Chan sudah mengences, bagaimana Wonwoo membuatnya lupa daratan. Tubuhnya terhentak atas bawah dengan pinggangnya diusap Wonwoo hangat, agar Chan tau Wonwoo selalu mencintainya.

 

“aa-aahh maa-s muncrat”

 

Chan muncrat dengan deras saat Wonwoo masih terus memasuk keluarkan penisnya disana, sedikit kesat tapi hangat dan enak membuat Wonwoo juga muncrat di dalam Chan di waktu yang hampir bersamaan.

 

“aaahh fuck lee chan”

“uhh mas…. mas wonwoo”

 

Wonwoo bernafas sambil memindahkan tubuhnya untuk berada di samping Chan tanpa berniat melepaskan penyatuan mereka di bawah sana, Chan bisa merasakan lemas penis Wonwoo saat dipeluk dari belakang. Wonwoo mengecup bahu Chan dengan hati hati selalu.

 

“jangan di lepas ya mas…. aku mau bobo”

 

Wonwoo mengangguk, merapihkan rambut Chan yang sudah sangat basah akibat keringat. Cukup satu sesi untuk malam ini, Chan sudah berusaha sebaik mungkin hidup sebagai manusia dan juga pacarnya. Dan Wonwoo sangat bangga bagaimana Chan mampu berlari ke arahnya di saat ia sedang kelelahan, dan semoga Chan paham betapa Wonwoo mencintai Lee Chan ini.

 

“mas sayang kamu sekali”

 

Chan tersenyum sambil membalas dengan lembut, bahkan Wonwoo tidak dapat mendengar itu dengan jelas kali ini. Tapi tidak apa, tidak masalah sama sekali asal Chan selalu berada disini bersamanya.

Notes:

WKWKWKWKWK jujur aku nulis ini karena di ceritain sama project managerku yang harus ganti 20jt karena sponsornya kabur, terus ini sudah ada di draf dari maret kemarin cuma baru diupload ckckck.