Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-05
Words:
4,047
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
144
Bookmarks:
15
Hits:
5,624

Boy Next Door

Summary:

— Dika pusing sekali, selain karena revisian bab 4 yang tak kunjung selesai, juga karena suara desahan yang tiap malam terdengar dari kamar sebelah.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Lampu meja belajar Dika masih menyala meski jam di pojok layar laptopnya sudah lewat tengah malam. Kursor berkedip di ujung kalimat yang sama sejak lima belas menit lalu.

Kegiatannya malam ini adalah revisi bab 4. Lagi.

Dika menghela napas panjang, menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya sudah perih, pikirannya mulai penuh, tapi isi tulisannya tidak berkembang sama sekali.

"Anjing... anjing..." gumamnya pelan.

Ia mengusap wajah, lalu kembali menatap layar. Memaksa jemarinya mengetik.

 

Namun belum sampai satu kalimat selesai, suara itu terdengar lagi dari kamar sebelah. Suara desahan pelan. Tapi cukup jelas untuk membuat jari Dika berhenti di atas keyboard.

 

Dika menutup matanya sebentar. Ia tahu suara itu. Sudah terlalu sering akhir-akhir ini.

Awalnya ia mencoba tidak peduli. Entah memakai headset, menyalakan musik keras-keras. Bahkan sempat pindah ngerjain ke kafe dekat kost an.

Tapi malam ini, ia terlalu lelah untuk kabur.

Suara itu terdengar lagi, sedikit lebih jelas sekarang. Membuat suasana kamar sempit itu terasa aneh.

Dika membuka mata, menatap kosong ke layar laptopnya.

 

"Bangsat..." bisiknya kesal, setengah mati mencoba fokus.

Tapi bukannya mengetik, ia malah diam untuk mendengarkan.

Hingga beberapa saat kemudian suara itu kembali menghilang. Lalu suara langkah kaki samar terdengar. Disusul tawa pelan dari tembok sebelah.

Dika menegakkan badan. Tangannya mengepal kecil di atas meja.

Ia benci merasa terganggu seperti ini.

Dengan kasar, ia menutup laptopnya.

"Besok lagi deh," gumamnya, bangkit dari kursi.

Ia meraih gelas dan berjalan keluar kamar, berniat ke dapur. Pintu kamarnya dibuka agak cepat, dan di saat yang sama, pintu kamar sebelah juga terbuka.

Dika refleks menoleh.

Dan di sanalah Joshua. Berdiri santai di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan, kaos longgar yang dikenakannya juga terlihat kusut. Tapi wajahnya tetap terlihat bersih dan rapi untuk ukuran orang baru saja melakukan—

"Eh, Dika."

Suaranya ringan. Biasa saja. Seolah tidak ada apa-apa.

Dika mengerjap sekali.

"Belum tidur?" lanjut Joshua, tersenyum tipis.

Dika menatapnya sejenak sebelum akhirnya menjawab singkat, "Belum."

"Lagi revisian ya?"

Dika mengangguk.

Joshua mengangguk balik, lalu bersandar santai di kusen pintu. "Semangat, ya. Kalau laper, tadi aku masak telur balado. Di dapur masih ada."

Seolah percakapan mereka ini normal.

Seolah tidak ada suara-suara yang barusan memenuhi kepala Dika.

Seolah Joshua tidak baru saja melakukan apa-apa.

Dika menelan ludah, mengalihkan pandangannya.

"Iya. Makasih, Kak."

Ia langsung berjalan melewati Joshua, menuju dapur tanpa menoleh lagi. Tapi bahkan setelah ia menenggak segelas air pun, suara desahan Joshua tadi masih tertinggal di pikirannya.

. ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁. . ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁.

Malam selanjutnya, Dika pulang lebih larut dari biasanya.

Tasnya terasa begitu berat, padahal isinya cuma laptop dan satu buku. Kepalanya pening, matanya panas karena terlalu lama menatap layar di perpustakaan.

Lorong kos sudah sepi. Lampu juga redup, hanya ada suara kipas dari beberapa kamar yang terdengar samar.

Dika berjalan pelan, menyeret langkah sampai akhirnya berhenti di depan kamarnya.

Ia bahkan belum sempat memasukkan kunci, tapi suara desahan Joshua di kamar sebelah sudah menyambutnya pulang.

 

Dika memejamkan mata, menghela napas panjang.

"...lagi?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Beberapa detik ia diam di tempat, seolah berharap suara itu akan berhenti dengan sendirinya.

Tapi tentu saja tidak.

Dengan rahang mengeras, Dika akhirnya membuka pintu kamarnya sendiri dan masuk. Pintu ditutup agak keras.

Ia melempar tas ke lantai, lalu menjatuhkan laptopnya ke kasur tanpa peduli.

"Anjing... kebanyakan ngewe apa nggak kebas tuh lobang," keluhnya kesal.

Dika menjatuhkan diri ke kasur dengan lengan menutupi mata. Nafasnya masih berat.

Suara itu tetap terdengar lirih, cukup untuk menembus dinding tipis kamar kos itu.

Dika berdecak pelan, memalingkan wajahnya ke arah tembok yang berbatasan langsung dengan kamar Joshua.

"Berisik banget... lama-lama gue samperin juga lu." gumamnya.

Ia mencoba memejamkan mata, mencoba tidur. Benar-benar mencoba. Tapi justru karena itu, suara itu terasa semakin jelas. Semakin sulit diabaikan.

Dika membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang kosong. Pikirannya mulai ke mana-mana, liar tanpa izin.

"...sampe teriak kayak gitu, seenak apa sih kontol cowoknya." bisiknya, agak mengejek.

Lidahnya menekan langit-langit mulut, menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.

Sunyi di kamarnya terasa berbeda sekarang. Seakan penuh oleh sesuatu yang tak terlihat.

Dika menghembuskan napas panjang, lalu memalingkan wajah, menekan pipinya ke bantal.

"Bangsat..." gumamnya lirih.

Yang membuatnya semakin sebal adalah sesuatu dibalik celananya yang kini mulai menegang tanpa bisa dikontrol.

Oke, mungkin Dika harus mandi sebelum tidur.

. ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁. . ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁.

Aroma kopi mulai memenuhi dapur kecil kost.

Dika berdiri membelakangi pintu, menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk kopi dan gula.

Pintu dapur terbuka.

"Eh, Dika."

Suara itu familiar.

Dika menoleh sekilas. "Eh... kak shua."

Joshua masuk dengan santai.

Dan seperti biasa juga, ia terlalu enak dilihat. Kaos longgar yang ia pakai jatuh sampai paha. Celana pendeknya nyaris tak terlihat kalau tidak benar-benar diperhatikan.

Dika buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke gelas, takut terpergok memandangi paha kecil yang mulus itu.

Ia hanya bisa menelan ludah.

Fokus, anjing. Fokus.

"Bikin kopi ya?" tanya Joshua, membuka kulkas.

"Iya," jawab Dika singkat.

Joshua hanya mengangguk, lalu mengambil camilan dan bersandar santai di dekat meja sambil memakannya pelan. Ia tidak pergi. Justru seolah sengaja menemani.

Tangan Dika jadi sedikit gemetar saat mengaduk kopi.

"Itu manis ya?" Joshua tiba-tiba bertanya.

Dika tertegun. "Hah?"

"Kamu suka kopi manis kan?" Joshua menatapnya sambil terseyum tipis.

Dika mengangguk cepat. "O-oh. Iya..."

Ia bahkan tidak sadar kalau Joshua memperhatikan hal sekecil itu.

Suasana kembali hening, sampai Dika tak tau harus berbicara atau diam saja. Tapi justru ia terbatuk karena terlalu lama menahan napas.

"Kamu kenapa, Dika?"

Dika langsung menoleh, berdehem kecil. "Hah? Enggak kok, kak."

Joshua mengamati wajahnya beberapa saat. Lalu mengangguk pelan. "Hmm."

Dika buru-buru menyelesaikan kopinya. Begitu selesai, ia langsung meraih gelas itu.

"Gue ke kamar dulu ya, kak."

Baru satu langkah ia menjauh—

"Loh."

Langkahnya terhenti.

Joshua berdiri lebih tegak sekarang, menatapnya dengan ekspresi setengah heran, sedikit menggoda.

"Udah ditemenin bikin kopi malah mau ninggal, gimana sih."

Dika kicep.

Bangsaaattt.

"Sini dulu lah," lanjut Joshua santai, menunjuk kursi di meja makan. "Ngobrol bentar. Aku lagi gabut banget juga."

Nada suaranya biasa saja, tapi entah kenapa terasa seperti bukan sekadar ajakan.

Dika mendesah pelan dalam hati, lalu menurut saja.

Ia duduk di seberang Joshua, memegang gelas kopinya seperti itu pegangan hidupnya.

Keduanya hanya diam.

Canggung.

Sangat canggung.

"Kak Shua nggak kerja?" akhirnya Dika buka suara, lebih ke menyelamatkan diri sendiri saja sih.

Joshua tersenyum. "Baru pulang. Baru ganti baju juga." Ia menarik sedikit kerah kaosnya, mengipasi diri. "Gerah banget akhir-akhir ini."

Gerakan itu nggak gimana-gimana sih, tapi cukup bikin Dika salah fokus lagi.

"Iya..." jawabnya cepat, lalu menyeruput kopi panasnya perlahan.

Duh, ngomong gak ya...

Dika menggigit bagian dalam pipinya. Ini kesempatan. Harusnya ia ngomong sekarang.

Harusnya.

"Kak..."

Joshua mengangkat alis. "Hmm?"

"Maaf nih kalo gue nggak sopan nanyanya..." Dika menggaruk tengkuknya. "Pacar kak Shua tuh sering banget nginep ya?"

Joshua terdiam sebentar. Lalu alisnya naik sedikit. "Nggak pernah nginep kok, Dik."

Dika langsung menatapnya. "Eh?"

"Kenapa?" Joshua terlihat santai.

"Tapi hampir tiap malem gue denger suara kak Shua—" Kalimatnya menggantung. Nyatanya ia tak berani menanyakan dengan gamblang.

Joshua malah terkekeh kecil. "Oh... kamu denger, ya, Dik?"

Nada suaranya enteng.

Dika langsung salah tingkah. "Ya... itu... kedengeran aja..."

"Dia selalu pulang habis itu," lanjut Joshua santai. "Nggak pernah nginep."

Seolah itu menjelaskan segalanya.

Padahal tidak sama sekali.

Dika hanya bisa mengangguk kaku.

 

"Sorry ya," tambah Joshua, sedikit memiringkan kepala. "Temboknya tipis."

Dika buru-buru menggeleng. "Nggak apa-apa—"

"Lain kali ketuk aja pintunya," lanjut Joshua, memotong.

Dika membeku.

"...biar aku nggak berisik."

"Ke-ketuk gimana?" Dika langsung gugup. "Kan malah ganggu—"

Joshua mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat. "Nggak juga."

Ia menatap Dika lebih dalam. Lebih lama.

"Kan bisa gabung."

kontollll!!!!

 

Dika benar-benar diam. Otaknya kosong. Tubuhnya kaku.

Sementara Joshua... malah tertawa kecil.

"Bercanda, Dika."

Tapi Dika tau, cara dia mengatakannya tidak terdengar seperti sepenuhnya bercanda.

Dika menelan ludah.

Tangannya yang memegang gelas sedikit gemetar.

"Oh..."

Hanya itu yang bisa keluar.

Bajingan, Joshua! Awas aja lo!

Joshua menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih dengan senyum tipis itu. Seolah menikmati reaksi Dika tanpa perlu melakukan apa-apa lagi.

Dan Dika, tidak tahu harus menatap ke mana. Atau harus memikirkan apa.

Yang jelas, satu hal terasa sangat pasti sekarang. Joshua tidak se-"tidak sadar" itu. Dan Dika... sudah terlalu jauh untuk berpura-pura biasa saja.

. ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁. . ܁₊ ⊹ . ܁ ⟡ ܁ . ⊹ ₊ ܁.

"Ahhh... anjing! Joshua anjing!"

 

Dika dan misi mengocok kontolnya itu merem melek diatas kasur. Diiringi suara desahan Joshua dari kamar sebelah, Dika tak mampu melakukan apapun lagi kecuali hal ini.

Ia sudah terlalu lama menahan. Ia terlalu penasaran. Tapi tak mungkin juga jika jika ia benar-benar mengetuk pintu kamar Joshua dan meminta bergabung. Konyol.

Tangannya yang dibaluri lubricant merk murah itu memompa semakin cepat batang tegaknya yang sudah berdiri sejak setengah jam lalu.

Hingga akhirnya sperma nya muncrat. Dengan cepat ia mengambil tisu untuk menangkup lubang kontolnya agar pejunya tak kemana-mana.

Dika menarik napas berat. Ia mencoba menajamkan telinga, dan benar, suara Joshua sudah tak lagi terdengar.

Lelaki itu pun berdiri, membuang tisu-tisu itu ke kantong sampah, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri agar bau spermanya hilang.

Setelahnya, ia mengambil botol minuman di meja dan berniat ke dapur untuk mengisinya, agar besok pagi ia bisa langsung minum air putih begitu bangun.

Begitu keluar dari kamar, Dika berhenti sejenak didepan pintu, tapi kamar Joshua sudah hening. Dika menghela napas, lalu berjalan ke dapur.

Ia segera mengisi botol minumnya, sambil sesekali berpikir sedang apa Joshua didalam kamar. Apakah sedang dipeluk manja oleh pacarnya, ataukah mungkin ia pingsan saking dahsyatnya kontol si pacar merojok lubangnya itu.

Dika menggeleng pelan. Setelah botolnya terisi penuh, ia berdiri dan keluar dari dapur dan berniat kembali ke kamar.

Tapi begitu sampai didepan kamar Joshua, pintu kamar itu terbuka keras. Dika terkejut bukan main. Botol minumnya jatuh keras ke lantai.

"sssttt!" Joshua menarik tangan Dika kedalam kamarnya sebelum bocah itu berteriak.

berteriak? ya, berteriak. Bagaimana tidak, Joshua membuka pintu dengan penampilan yang tak masuk akal. Bertelanjang dada, hanya terbungkus celana super pendek yang hanya menutupi selangkangan dan pangkal pahanya, sambil menenteng kresek hitam.

Dan Dika entah bagaimana bisa tidak menolak saat ia kini sudah berdiri didalam kamar Joshua.

"Jangan teriak, sorry sorry... " kata Joshua. "aku nggak tau kamu ada didepan, aku cuma mau buang sampah ke depan tadi." sambil mengangkat kresek hitamnya.

Dika terdiam. Ia hanya menatap Joshua yang rambutnya berantakan, yang kulit putihnya terekspos, yang wanginya harum sekali.

Lalu, Dika mengedarkan pandangan, dan tak menemukan pacar Joshua disini.

 

Dan sepertinya Joshua paham apa yang ada didalam pikiran Dika. "pacarku udah pergi."

Dika kembali fokus menatap wajahnya.

Astaga. Mau seberantakan apapun penampilan Joshua, wajahnya tetap segar dan cantik. Entah apa rahasianya.

"Sorry ya, aku refleks tarik kamu kedalem, soalnya kamu kayak udah mau teriak gitu. Nggak enak sama tetangga, udah malem." kata Joshua.

Dika mengangguk kaku. Matanya turun, dari mata, ke bibir Joshua, lalu ke lehernya yang mulus, ke kedua dada Joshua yang lumayan besar, dan ke puting merah yang mencuat mengundang nafsu itu.

Joshua tau itu, dan Joshua biarkan. Ia jusru mendengus. "Kenapa?" tanyanya.

Dika menelan ludah, menggeleng.

"Mau coba?"

anjing.... Kaki Dika terasa lemas hanya karena dua kata sederhana itu.

Joshua justru menghela napas, ia berjalan menjauh, lalu duduk di ujung kasurnya sambil melempar kresek sampahnya tadi ke ujung ruangan.

"Jangan kira aku nggak tau, Dika. Kamu sering coli sambil nyebut namaku, kan?"

Dika membeku. Kapan Joshua tau? Kenapa Joshua bisa tau? Bagaimana dia bisa tau?

Joshua menyeringai. "Sekalian aja kalo emang penasaran. Mumpung di kamarku juga kan."

Dika menelan ludah. "K-kak... " panggilnya gugup. "Lo sengaja ya?"

Joshua hanya mengangkat bahunya.

"Baru ngewe sama pacarnya, trus sekarang nawarin cowok lain buat ngewe?" kini nada Dika berubah sedikit lebih lemas.

Joshua mengangkat sebelah alis. Tertarik dengan perubahan nada, dan perubahan tatapan Dika padanya.

"Pacarku nggak bisa bikin aku puas." jawab Joshua tenang. "Keluarnya cepet. Aku teriak-teriak cuma biar bikin dia seneng aja."

Dika tertegun dengan kejujuran itu. Ia berjalan mendekat perlahan, lalu berhenti didepan Joshua yang masih duduk di ujung ranjang itu.

Joshua tersenyum tipis, tangannya terangkat untuk menngusap pelan lengan Dika yang lumayan berotot itu.

"Aku sering bayangin kontol kamu juga kok, Dik." katanya sambil menatap Dika. "Aku penasaran, aslinya segede yang aku bayangin nggak ya."

sialan. ego Dika tersentil.

Dika menunduk, cepat-cepat mencium bibir Joshua sebelum laki-laki itu berkata lebih banyak. Dika lumat bibir tipis itu, sambil tangannya bergerak menahan tengkuk Joshua agar tak terlalu terdorong.

Joshua? Tentu membalas dengan senang hati. Mengikut sertakan lidahnya yang lihai agar ciuman panas itu semakin nikmat dirasa.

Dengan mulut yang masih bertaut, Joshua perlahan membuka matanya. Melihat ekspresi Dika yang sudah hilang akal, memakan bibirnya seolah ini adalah satu-satunya kesempatan.

Dika pun menurunkan ciuman itu. Menuju lehernya yang bersih dan wangi. Ia kecupi pelan, lalu ia jilati hingga ke belakang telinga. joshua hanya bisa mendongak, merasakan sentuhan yang selama ini sudah ia dambakan itu.

"Pacar lo nggak pernah ngasih cupang ya?" tanyanya sambil masih menjilati leher Joshua.

Joshua melenguh kecil, menggeleng. "Dia nggak terlalu suka."

Dika meliriknya sejenak. "Sayang banget... "

Lalu lumatannya di leher berganti dengan hisapan kecil sehingga membuat tanda di jenjangnya yang mulus.

Satu tangan Dika ada di tengkuk Joshua, dengan dorongan dari tangannya agar leher lelaki cantik itu semakin dalam tersentuh bibirnya.

Tanda yang ia ciptakan pun tak berhenti di leher, namun merambat turun hingga ke dada Joshua, tergambar dengan indah dan memuaskan, disentuh penuh rasa, disesap penuh cinta.

Dika menjauhkan sedikit wajahnya, memandangi tubuh Joshua yang tadinya mulus, kini terdapat banyak bekas hisapannya yang lihai. Ia tersenyum puas.

Joshua yang melihat itu ikut tersenyum miring. Ia membawa tangannya untuk menepuk-nepuk kepala Dika dengan lembut. "pinter banget kamu. "

Hanya sesederhana itu kalimatnya, tapi Dika terpancing begitu saja.

Segera ia bawa wajahnya kembali maju, kini tepat pada puting Joshua yang sejak tadi sudah mengundangnya untuk dihisap. Maka dari itu, sekarang lidahnya sudah berputar-putar gemas di areolanya dan sesekali menggigit puting mungil itu dengan gemas.

"Eunghhh... enak banget... isep lagi, Dika... yang kenceng... "

Dititahkan seperti itu mana mungkin Dika tak menuruti. Ia sesap keras si mungil yang mengeras, sambil sebelah tangannya mulai memelintir puting yang tak tersapu lidahnya.

Joshua hanya bisa mendongak keenakan. Baru dadanya yang dijamah, tapi ini jauh lebih nikmat dari yang pacarny berikan.

Dika sendiri sibuk dengan pentil yang ia sedot seolah susu akan keluar dari sana. Sesekali ia melirik keatas, pada wajah Joshua yang merem merem saking tak kuatnya menahan desah.

"Desah aja, kak... " Dika bergumam dengan bibir yang masih di puting, membuat Joshua sedikit melengkungkan tubuh karena geli.

"Enak banget mulut kamu, Dika... Di susu aja udah enak, gimana ngelamotin memek aku nanti—ahhh brengsekk... jangan kenceng kenceng!"

Dika benar-benar mudah untuk dipancing. Karena kini, ia melepaskan diri dari sesi menyusunya, lalu menatap Joshua dengan posisi terduduk didepan kaki Joshua. Matanya berbinar kecil memandanginya.

Manis sekali. Ingin Joshua pelihara.

"Mau, kak... Mau ngelamotin memeknya kak shua... " katanya.

Joshua tersenyum kecil, kembali menepuk-nepuk rambut si berondong.

"Lepasin celana kak shua kalo gitu." katanya pelan.

Dika berbinar senang. Ia segera menarik karet celana Joshua, membuat memek basah tanpa rambut itu terekspos.

"Masih merah banget, kak... " kata Dika.

Joshua mengangguk. "Kan baru dipake." jawabnya singkat. "Tapi memek aku cantik nggak, Dika?"

Dika segera megangguk. Jemarinya ia bawa menyentuh lipatan labia itu, membukanya hingga lubang yang masih sedikit menganga itu terlihat dengan jelas.

Sudah pasti karena Joshua baru saja diewe pacarnya, jadi lubangnya masih ngowoh. Jadi Dika masukkan tiga jarinya sekaligus memasuki memek Joshua yang sudah banjir itu.

"Ahhhh... Dika...!"

Dika memompa jarinya keluar masuk. Lalu menatap wajah Joshua yang sudah tak karuan. Dika pun tersenyum senang, lantas segera memajukan wajahnya dan menjilati itil merah itu dengan kasar.

"Ahh! Pelanhhh... "

Dika menjilatinya cepat, dengan tiga jari yang masih merojok lubang memek, dan suara desahan Joshua yang kini terdengar tanpa terhalang tembok kamar.

slurrppp

Jorok sekali suara-suara yang memenuhi kamar sempit itu. Apalagi suara kocokan memek yang beradu dengan seruputan mulut Dika di itilnya.

"ahhh... enak banget... kamu lebih jago dari pacarku... "

Dika jadi semakin bersemangat karena kata-kata itu begitu membuatnya bangga.

"kamuhh... pasti udah sering jilatin memek ya—nghhh..."

Dika tak menjawab, masih menyesap dan menyeruput memek bengkak itu hingga Joshua terus mendesah kencang.

Ya kalau tak sering menjilati memek, tak mungkin juga Dika bisa sejago ini kan?

Dika pun menjauhkan wajahnya, mengeluarkan jemarinya dari memek Joshua juga. Lalu ia berdiri, menanggalkan celana sekaligus celana dalamnya dalam sekali tarikan. Sementara kaosnya ia biarkan masih terpakai.

Tangan lelaki itu mengocok kontolnya yang sudah berdiri tegak, menjulang hingga membuat mulut Joshua terbuka kaget.

"Segede bayangan kakak nggak?" tanyanya.

Joshua segera mengangguk. Ia segera meraih kontol besar itu dan mengambil alih kocokan tangan Dika menggunakan tangannya sendiri.

Dika merem melek, baru dikocok saja sudah melayang rasanya.

"Masukin ke mulut dong, kak. diemut yang enak."

Joshua pun menanggapinya dengan memajukan wajah, memasukkan si junior yang tak mungkin muat ia masukkan seluruhnya kedalam mulutnya yang mungil.

"Ahhh, kakk!" Dika mengerang.

Joshua mulai memaju mundurkan kepalanya, memompa kontol Dika dengan mulut. Kalau yang ini, jelas terlatih, jelas jago, dan Dika sama sekali tak berkomentar karena memang sejago itu lidah Joshua memanjakan miliknya.

Disela sepongan itu, Joshua juga menjilati bola kembar dibawah batang, menggelitiki dengan lidah atau jemari, sambil memijit pelan leher kontol Dika yang membuat Dika hampir oleng saking lemas kakinya.

"Kak... udahhh... aku udah gakuatt... " pinta Dika sambil memegangi bahu Joshua agar menjauh.

Joshua pun menghentikan kegiatannya. Lalu ia memandangi wajah Dika yang kini sedang mengatur nafasnya sendiri.

"Senderan kesini, Dika."

Dika naik ke kasur, lalu menyandarkan tubuhnya pada headboard. Sementara Joshua mulai merangkak diatas tubuhnya, dan berhasil mendaratkan pantatnya diatas kontol Dika yang masih berdiri tegak itu.

"Langsung aja ya," kata Joshua.

Pantatnya diangkat sedikit, dan dengan bantuan tangannya, ia perlahan memasukkan batang panjang itu kedalam memeknya.

"Ahhhh...."

 

Kontol besar itu ditelan dengan mudahnya oleh memek Joshua.

Dika sampai merem saking enaknya gesekan dinding memek Joshua pada kontol besarnya itu. Ia pegangi kedua pinggang lelaki cantik itu, lalu mengangkatnya sedikit, dan kembali menekannya kebawah hingga mentok.

Joshua berteriak. Benar-benar lantang. Mungkin penghuni kost lain akan ada yang mendengarkan, tapi biar saja, pasti mereka mengira Joshua sedang bersenggama dengan pacarnya sendiri.

"Penuh banget... ahhh... gede banget punya kamu, Dika—hhh"

"Goyang kak, goyang yang enak."

Tak perlu dua kali perintah, Joshua mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur, ke kiri kanan, memutar sensual bak biduan pantura yang dulu sering ditonton Dika waktu remaja.

Telapak tangan Dika yang semula ada di pinggang Joshua, kini salah satunya naik mengelus punggung mulus itu, mengusapnya dengan lembut sambil matanya memandangi wajah cantik joshua yang masih mengendarai tubuhnya dengan lihai.

"Jago banget kamu goyangnya... " gumam Dika. Lalu ia memajukan wajah, mengecupi dada Joshua, menjilatinya pelan. "Pantes pacar kamu minta ngewe tiap hari ya kak."

Joshua tak bisa menjawab. Ia masih merem melek, masih bergerak, kadang akan mendongak saat kontol panjang dan besar milik Dika menubruk gspot nya dengan tepat.

"Kencengin lagi desahnya, kak... aku suka banget dengernya—nghhh!" Dika kembali menyandarkan tubuh pada headboard karena goyangan Joshua makin brutal, desahannya juga semakin keras.

"ahhh—pacar akuhh nggak pernah bisa mentok sampe ujungghh... " racau Joshua.

Dika tersenyum miring. "oh ya?"

Lalu jemari panjangnya ia bawa ke bawah, pada itil Joshua yang mencuat tegang diatas labia. Ia elus benda kecil itu dengan jempolnya, membuat si empunya melenguh dengan tubuh tertekuk kaget.

"Kalo sama aku, aku jamin kamu puas... pasti kamu ketagihan kak... "

Dika kencangkan elusan jarinya pada itil Joshua sehingga lelaki cantik diatasnya itu semakin berteriak heboh. Tubuhnya sedikit bergetar, tapi hebatnya ia masih bisa menggoyangkan pinggul seolah tak lupa jika harus memanjakan kontol Dika juga.

Kepala Dika kembali maju, mulutnya kembali membasahi dada Joshua dengan liurnya. Ia sedot keras payudara gemuk itu sambil jarinya masih mengocok itil di bawah.

"AHHH!! DIKAA—hhhh! Sh... stoph... "

Namun Dika jelas tak mendengar. Ia masih menyusu dengan nikmat, masih betah mendengar berisiknya suara Joshua di telinganya. Hingga akhirnya ia pecah telor!

Joshua muncrat banyak sekali sambil berteriak. Pinggulnya terangkat, segera dibantu oleh tangan Dika untuk menahannya, dengan tubuh bergetar, cairan bening itu keluar deras membasahi tubuh keduanya.

Dika takjub melihat itu. Wajah Joshua yang sangat cantik saat orgasme, getaran tubuhnya yang indah, dan cairan deras yang keluar membuat keduanya becek.

Joshua kembali terduduk dengan kontol Dika yang masih ada didalam memeknya, sementara kepalanya terkulai di bahu Dika. Lemas.

Dika elus punggungnya pelan, lalu ia kecupi bahu Joshua kecil kecil.

"Banyak banget kak, keluarnya... ini pertama kalinya squirt apa gimana sih?"

Dan secara mengejutkan, Joshua mengangguk lemah di pelukan Dika.

Dika tentu kaget. Karena ia berpikir, meski kontol pacarnya tak bisa membuat Joshua puas, setidaknya ia pernah sekali dua kali keluar, kan?

"Serius...?"

Joshua kembali mengangguk. "Kontol kamu yang paling enak. Baru kali ini aku ngerti rasanya puas."

Dika tersenyum kecil, tentu saja ia bangga. Dan kata-kata itu benar-benar memancing lebih besar nafsunya.

Persetan dengan revisi bab 4 yang tak kunjung selesai itu, malam ini Dika hanya mau ngentotin Joshua sampe lumpuh.

Maka sekarang Dika menghentakkan kontolnya keatas, membuat Joshua tersentak kaget. Tentu ia masih sensitif, dan sama sekali tak siap dengan tusukan lagi seharusnya.

"D—dikahhh..."

Dika mengecupi leher Joshua, melumat singkat cuping telinga itu, lalu merambat ke pipi Joshua dan dikecupnya singkat disana.

"Desah aja sayang... merdu banget suaranya... " bisik Dika.

Dika menghentak-hentakkan pinggulnya hingga kini tubuh Joshua terpantul-pantul diatasnya. "ahhh... anjing... enak banget memek lo gila... "

Dika melumat bibir Joshua dengan kasar, diladeni pula oleh Joshua yang tubuhnya juga mulai enjoy dientot si berondong.

Ciuman itu semakin dalam, melibatkan lidah dan liur yang mulai menetes keluar saking liar dan jagonya lamotan mereka berdua.

Goyangan Dika pun sudah berhenti, digantikan dengan gerakan pinggul Joshua yang mulai mengambil alih lagi.

Tangan Dika juga tak mau diam, ia elus-elus seluruh tubuh Joshua yang mulus itu, sesekali akan menampar pantatnya dan meremasnya keras hingga pantat putih itu berubah merah dalam sekejap.

"ahh... kencengin lagi... gue mau keluar... " Dika melepaskan ciuman mereka, mendongak sambil memejamkan mata.

Joshua yang melihat itu langsung menggoyangkan pinggulnya lebih keras, mengulek dengan sensual, membuat Dika mendesah keras lalu mencengkeram erat pinggang Joshua dan menahannya bergerak dalam posisi mentok ke rahim.

Dan begitulah peju Dika meluncur keluar memenuhi memek Joshua, membuat Joshua ikut mendesah karena merasakan aliran panas yang masuk kedalam jalur rahimnya.

Keduanya berpelukan, sambil menetralisir detak jantung masing-masing. Dika menaruh wajahnya pada bahu Joshua, mengecupnya lama, mengeratkan pelukannya pada pinggang Joshua.

“Enak banget, kak… kamu jago banget goyangnya,” bisik Dika ditelinga Joshua.

Joshua tersenyum kecil, ia mengecup pipi Dika dari samping. “kamu juga enak, kontolnya besar.”

Dika terkekeh kecil, lalu mereka melepaskan pelukannya dan menjauhkan sedikit wajah. Dika pandangi Joshua yang terlihat berantakan namun masih benar-benar cantik.

Pelan, Dika angkat tubuh Joshua sehingga kontolnya terlepas dari memek lelaki itu, lalu menaruh tubuh Joshua rebah di kasur, sementara Dika kini duduk didepan tubuhnya.

“Gue bersihin ya kak?”

Joshua hanya mengangguk. Biar saja apa yang akan dilakukan oleh bocah yang sedang stress skripsian itu.

Jadi, sekarang Dika bersimpuh didepan tubuh Joshua, memposisikan kedua kaki si kakak mengangkang dan memperlihatkan memek merah yang masih ngowoh itu.

anjing… pengen gua makan terus rasanya

Lalu Dika bawa jarinya mengelus pelan labia itu, membuat tubuh Joshua agak bergetar kecil sedikit kaget.

Dua jari pun Dika masukkan kesana, mengorek isi memek Joshua untuk memancing pejunya keluar. Tapi daripada membersihkan, lebih cocok disebut nyolmekin joshua sebenarnya.

Joshua bergerak resah, mendesah kecil karena jari Dika yang masih mengubek memek seenaknya.

Sedikit demi sedikit cairan putih itu keluar dari lubang memek, lalu Dika bersihkan dengan tisu yang sudah tersedia di nakas, menyapu permukaan vagina itu hingga lumayan bersih.

“Udah bersih, kak… “ kata Dika.

Joshua hanya menatapnya dengan tatapan lemah dan bibir terbuka.

Ah, maksudnya… kalau sudah bersih lalu kenapa jari Dika masih bergerak mengocok memek Joshua? Ya tentu saja untuk ronde selanjutnya. Membersihkan memek Joshua hanyalah modus, karena Dika tentu mau lagi.

“Ahh—Dikh—Dikkaahhh! ahh…”

Dika mempercepat kocokan jarinya pada memek Joshua, menciptakan suara jorok yang mungkin tak kalah terdengar dari teriakan Joshua dari tadi.

Dua jari merojok, tangan lain mengucek itilnya dengan keras. Kalau sudah begini jelas Joshua tak bisa diam, jelas teriakannya lebih keras daripada suara sound dangdutan di rumah sebelah yang berisik itu.

Hingga akhirnya cairan Joshua kembali keluar deras. Squirt yang datangnya bukan dari sang pacar, tapi dari tetangga kost nya ini.

Dika pun melepaskan jarinya, lalu memandangi Joshua yang masih bergetar kecil menghabiskan cairannya yang keluar.

“Cantik banget sih kak,” kata Dika. “Kalo gini ya gue sama sekali nggak heran pacar lo minta ngewe terus kak.”

Joshua hanya menatapnya dengan napas yang tak beraturan. Lemas maksimal.

“Tiap habis ngewe sama pacar lo itu, gue boleh nggak ngewein lo juga? Biar puas sekalian kak, gantian pake kontol yang gede, jangan cuma pake kontol kecil pacar lo itu.”

Dan Joshua jelas saja tersenyum mendengus mendengar itu.

Dika menyeringai senang.

Daripada dientot revisian, ia lebih memilih ngentotin Joshua.

Notes:

au in X @producebyjisoo