Actions

Work Header

Quality Time

Summary:

Hongjoong dan Jongho akhirnya menyusul Seonghwa dan Wooyoung di villa tempat mereka menghabiskan weekend.

Notes:

hiii! rasanya udah lama banget since the last time I wrote fics... life has been hard lately im arranging it back <3 ini kelanjutan dari socmed au ku yah, kalian bisa baca ceritaku lainnya di twt mybabymiso!

Work Text:

Satu tangan Hongjoong menggandeng tangan Jongho– bungsunya. Mereka kini berada di depan villa yang ia pesan untuk 2 malam. Ingin menghabiskan weekend dan mencari suasana baru, katanya. Ia mengirimkan pesan kepada sang istri, tanda bahwa mereka sudah sampai– tak lupa ia menjinjing snack-snack ringan untuk dinikmati nanti.

Denyit pintu terdengar, sesosok paras ayu muncul dari balik pintu– memberikan senyuman lebar. Matanya tertuju kepada buah hati kecilnya. “Anak mama,” pekik Seonghwa– sang paras ayu yang dimaksud. Suaranya kepalang ceria.

Tentu saja, genggaman tangan Jongho pada Ayahnya ia lepas, lalu lari secepat kilat menuju kaki Seonghwa, memeluknya. Bocah itu terkikik kecil, menenggelamkan wajahnya ke sisi luar paha Seonghwa.

Entah kenapa, wajah Hongjoong menghangat– menyaksikan pemandangan di hadapannya sekarang. Rasanya, dada Hongjoong ikut penuh. Tanpa sadar, kakinya maju perlahan, mendekati istrinya. Bibirnya membubuhkan kecupan di pelipis Seonghwa, yang tentu saja mengundang rona merah di pipi si manis.

“Ayah..” Seonghwa bergumam, wajahnya masih tersipu malu.

“Mmhm?”

Seonghwa hanya menggeleng pelan. Tampaknya, 18 tahun pernikahan keduanya belum membuat Seonghwa terbiasa– ia tetap salah tingkah– saat Hongjoong bersikap manis.

“Masuk ya Sayang? Anginnya kenceng ini.” Mereka bertiga jalan beriringan, dengan Jongho yang memeluk kaki Mamanya.

Sesampainya di ruang TV, Jongho merebahkan dirinya di sofa dan mengguling-gulingkan badannya kesana kemari sedangkan Ayahnya menata snack-snack yang ia beli di atas meja.

“Abang kemana, Ma?” tanya Hongjoong, belum menangkap presensi anak sulungnya.

“Abang mandi, tadi baru aja kelar berenang.” jawab sang istri pelan. Seonghwa mendudukkan dirinya di samping Hongjoong. Netranya terpaku pada raut wajah penat suaminya, tangannya secara refleks mengusap tengkuk Hongjoong.

Hal ini tentu membuat Hongjoong mengalihkan atensinya kepada si manis, “Kenapa sayang?”

Lagi-lagi, jawaban yang didapat oleh Hongjoong adalah gelengan kepala. Hanya saja, kali ini, Seonghwa menyandarkan pipinya ke bahu Hongjoong. Tangan yang tadinya mengusap tengkuk suaminya, beralih memeluk pinggang Hongjoong.

“Mandi ya? Aku siapin air hangat? Sekalian sama Adek nanti.”

“Nggak perlu Sayang. Nanti aku siapin sendiri, okay? Kamu pasti capek kan ngeladenin Abang?” Hongjoong terkekeh, teringat energi si sulung begitu besar– tergambar sudah bagaimana lelahnya Seonghwa menemani anaknya bermain.

Seonghwa mengerucutkan bibirnya. Suaranya mengecil, mirip seperti bisikan, “Let me take care of you, Ayah.”

Kalau seperti ini, Hongjoong mana bisa menolak. Terkadang ia harus diingatkan kembali bahwa tidak masalah untuk menerima kasih sayang sedemikian besarnya. Ia terbiasa memberikan seluruh cinta dari dirinya– dan kabar baiknya, Hongjoong memiliki pasangan yang selalu siap mengisi tangki cintanya kembali.