Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-21
Words:
951
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Hits:
232

i wish i could help you sleep better

Summary:

Sakura always have trouble with sleep. Chaewon wish she can do something to make her sleep better.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Chaewon tahu dia seharusnya tidak memperdulikan itu.

Fakta bahwa dia hafal jam tidur seseorang yang bahkan belum pernah dia temui secara langsung. Itu sudah cukup jadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak seharusnya berkembang sejauh ini.

Tapi tetap saja, setiap malam, tanpa sadar, matanya selalu mencari ke satu hal yang sama.

Status online yang terpampang di kolom chatroom mereka.

Dan malam itu, tentunya: online.

Jam di sudut layar ponselnya menunjukkan pukul 22:46. Apartemennya sudah sunyi. Chaewon masih terduduk di depan laptop, menyelesaikan pekerjaan yang muncul tiba-tiba malam itu. Padahal biasanya jam segini dia sudah terlelap di kasur.

She’s awake again.

Sebenarnya bukan hal baru. Sakura hampir selalu seperti itu. Tidur lewat tengah malam, bangun pagi seperti biasa, menjalani hari seolah tubuhnya tidak kekurangan istirahat.

Chaewon tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa bertahan seperti itu. Terlebih, dia tidak pernah merasa punya hak untuk bertanya dan ikut campur.

Jari-jarinya berhenti di atas layar ponselnya. Dia tahu, dia bisa saja tidak melakukan apa-apa. Seperti biasa. Close the app. Ignore. Pretend she didn’t see.

“belum tidur?”

Terkirim.

Penyesalan datang setengah detik kemudian. Reflek tangannya naik mengusap wajahnya kasar.

Tak terduga balasan datang cepat.

“belum. you?”

Chaewon mengembuskan napas kecil, menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Let’s just act normal.

“lembur. kamu kenapa belum tidur lagi?”

Gambar tiga dot berurutan muncul, menandakan si lawan bicara sedang mencoba membalas pesannya.

“can’t sleep.”

Jawaban yang selalu sama. Tetapi malam itu terasa berbeda.

Chaewon menggigit bagian dalam pipinya pelan. Merasakan ada dorongan yang sudah ia tahan berbulan-bulan.

Dia tidak punya posisi apa-apa. Bukan siapa-siapa. Bukan orang yang seharusnya memberi saran tentang hal sepersonal itu.

Apa daya, jarinya bergerak lebih dulu dari logikanya.

“anything i can do to make you sleep better?”

Oh, shit.

Begitu terkirim, rasanya Chaewon benar-benar ingin menghilang.

That's too much.

Dia sudah siap untuk diabaikan, dibalas seadanya, atau bahkan dianggap aneh.

Tapi yang muncul justru notifikasi lain.

Incoming call.

Dari Sakura.

Chaewon tertegun menatap layar, jantungnya otomatis berdetak lebih cepat dari biasanya.

Dia angkat panggilan itu. Menunggu untuk suara pertama di seberang muncul. 

“Halo?”

Masih teringat dalam benaknya bagaimana pertama kali ia mendengarnya. Dan bagaimana Chaewon seolah terhipnotis dengan suara yang menenangkan itu.

Sampai saat ini pun tetap sama. Lembut dan tenang. Seperti biasa. 

“Hi.”

“Masih di kantor kah?” suara Sakura terdengar pelan.

“Sudah di apart kok, cuman tiba-tiba ada kerjaan urgent,” Chaewon menjawab, mencoba terdengar normal. “Kamu juga belum tidur.”

“Iya, biasa.”

Hening sejenak.

Aneh, bagaimana hening dengan Sakura tidak pernah terasa canggung.

“Chaewon?”

“Ya?”

“What were you saying earlier?”

Chaewon menatap meja kerjanya, jemarinya mengetuk pelan. Dia tertawa kecil, gugup.

“Ah, itu…nggak penting sih. Aku cuma—”

“Tell me,” nada suaranya tetap lembut namun langsung membuat Chaewon untuk berhenti mengelak.

“Emm…cuma kepikiran aja,” katanya akhirnya. “Kamu sering banget nggak bisa tidur kan.”

“Hmmm?”

“Aku tau kamu pasti udah coba banyak cara,” lanjut Chaewon cepat, seolah sedang menjustifikasi dirinya sendiri. “Jadi ya…aku juga nggak tau bisa bantu apa.”

Jeda.

“Just asking.”

Sunyi lagi.

Chaewon hampir membenturkan kepalanya ke meja kerjanya. Mengira dia sudah salah mengambil langkah.

Sampai Sakura bersuara lagi.

“Stay?”

Satu kata sederhana yang cukup untuk membuat Chaewon tertegun.

“Stay…?”

“On the call.”

Oh.

Jantungnya kembali berdegup lebih keras.

“…okay.”

Dan begitu saja, mereka tetap di sana.

Awalnya Chaewon tidak tahu harus melakukan apa. Di depannya jelas ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi di sisi lain, bagaimana ia bisa menolak pemintaan Sakura?

Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka percakapan.

“Today was…kinda long,” Chaewon mulai, pelan.

Dia tidak yakin kenapa dia mulai bercerita. Mungkin karena diminta tetap tinggal. Mungkin karena dia memang ingin.

Dimulai dari hal kecil. Tentang meeting yang molor. Tentang pilihan kopi yang salah dan malah membuat kepalanya makin pusing. Tentang lemburan malam ini.

Tentang hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Tapi Sakura tidak memotong. Tidak mengalihkan. Tidak terdengar bosan.

Hanya mendengarkan, sesekali menanggapi.

Dan itu membuat Chaewon terus bicara.

“…terus orangnya malah marah-marah masa,” dia tertawa kecil. “Aneh banget!” 

Kali ini di seberang sana tidak ada jawaban. Chaewon berhenti sebentar.

“Sakura?”

“Hm.”

Masih ada.

“Sorry, aku kebanyakan ngomong ya?”

“Enggak kok,” suaranya lebih pelan sekarang. Lebih lembut. “Keep going.”

Dan Chaewon melakukannya. Dia bahkan tidak sadar kapan ceritanya berubah jadi hal-hal yang lebih personal dan jujur. Seolah tau, selama dia terus bicara, Sakura tetap akan ada di sana.

Pekerjaannya akhirnya selesai. Jam di layar berubah.

23:55.

“Aaahhh, akhirnya selesai juga,” ujar Chaewon sambil meregangkan tubuhnya. “Laper, baru inget tadi ga sempat makan malam. Kamu makan apa tadi?”.

Tidak ada respon.

“…Sakura?”

Sunyi. Hanya ada suara napas pelan di seberang.

Chaewon terpaku sebentar. Lalu ia sadar.

Kembali ia menatap layar. Lima menit sebelum tengah malam. Senyum kecil muncul dari bibir Chaewon.

“You fell asleep.”

Tentu saja tidak ada yang menjawab. 

Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Sakura, tidur itu datang lebih cepat. Lebih ringan. Tanpa harus melewati tengah malam.

Chaewon bersandar di kursinya, menatap panggilan yang masih tersambung di atas meja. Dia seharusnya menutup telepon. Membereskan laptopnya. Bersiap untuk tidur. Namun sebaliknya, dia tetap di situ. Mendengarkan napas yang stabil di seberang sana.

Dan kembali untuk pertama kalinya dia merasa: maybe she can do something after all.

Sejak malam itu, semuanya sedikit berubah. Tidak drastis tapi cukup terasa. 

Panggilan sebelum tidur jadi kebiasaan. Kadang Chaewon hanya bercerita tentang harinya, kadang membahas hal-hal yang sedang ramai di media.

Di ujung panggilan Sakura tetap sama. Sesekali menanggapi, sesekali bercerita juga tentang sisi harinya.

Dan setiap kali suara Sakura mulai memudar, Chaewon tahu.

It’s working.

Aneh, bagaimana sesuatu yang sesederhana itu bisa membuatnya merasa cukup. Dia tidak perlu jawaban panjang. Tidak perlu pengakuan apa-apa. Cukup tahu bahwa di antara semua cara yang pernah Sakura coba, ada satu hal kecil yang berhasil.

And somehow, it’s her company.

Notes:

braced myself to write something that hit a little too close to home. hope y'all enjoy it :>