Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-20
Updated:
2026-04-21
Words:
2,220
Chapters:
2/3
Comments:
6
Kudos:
16
Bookmarks:
3
Hits:
553

Midnight

Summary:

Rania seorang sex worker yang terpaksa keadaan. Bertemu Ale seorang mahasiswa semester akhir stress skripsi. Winter As Rania, Karina as Ale

Notes:

Ini fic pertama aku setelah 7 tahunan gak pernah nulis jadi maaf banget kalo berantakan :D

Chapter 1: Our First Meet

Chapter Text

Angin berhembus kencang memenuhi sepinya kota Jakarta di tengah malam itu. Meskipun memang tidak sepenuhnya sepi karena masih banyak warung pecel lele yang mencoba peruntungan rezekinya di tengah malam. Kota Jakarta sejatinya bukan kota yang mati di kala malam datang, seperti julukannya—kota metropolitan.

Rania namanya, perempuan berusia 25 tahun itu berjalan menyusuri sebuah jalan di daerah Selatan kota Jakarta. Rania sebetulnya bisa saja memilih transjakarta sebagai kendaraanya untuk pulang, namun perempuan dengan rambut panjang itu memutuskan untuk mengulur waktu pulangnya agar dirinya bisa memandangi jalanan di kota besar itu sambil memecah pikirannya yang tengah berkecamuk banyak hal.

Rania kembali meratapi nasibnya yang di usia ini dirinya malah terjebak dalam lingkaran pekerjaan yang dipandang hina oleh orang lain. Rania kalau bisa jujur juga tidak menginkan takdir yang seperti ini, walaupun dirinya sudah lama berdamai dengan nasibnya, tapi jika dia mengalami hari yang berat seperti malam ini, Rania rasanya sangat sedih. Kenapa dia harus terlahir dengan kondisi ekonomi yang menyakitkan di negara hina penuh korupsi?

Rania menghela nafas kasar, kemudian membuka pintu sebuah minimarket bernuansa merah. Dirinya menyusuri rak-rak mie instan dan pergi ke arah lemari pendingin berisi air mineral. Dia kemudian mengambil salah satu botol yang dipandangnya memiliki harga yang paling murah, lalu berjalan ke arah kasir.

“Ada tambahan lagi kak?” tanya kasir laki-laki yang kemungkinan sepantaran dengan Rania.

Rania menggelengkapan kepalanya sambil memasang senyum kecilnya, memberikan isyarat bahwa dirinya menolak pertanyaan tersebut.

“Atau mau cimorynya kak, lagi buy 1 get 1?”

“Makasi kak, lain kali aja deh.” Tolaknya sembari menyodorkan uang sebesar Rp5.000 itu.

Merasa sudah tidak memiliki kesempatan lagi, kasir itu memutuskan untuk langsung menerima uang tersebut dan memberikan botol air mineral.

“Makasi.” Ucapnya datar.

Rania memasukan uang kembalian sebesar Rp2500 ke dalam tasnya, kemudian membuka pintu keluar dan langsung duduk di bangku kosong yang disediakan langsung oleh minimarket. Dengan tidak sabaran, Rania membuka botol itu lalu menegak hampir sebotol penuh.

“Pelan-pelan kak.” Sahut seseorang di sampingnya yang memecah focus Rania.

Rania menghentikan aksinya meminum botol air mineral, lalu terkekeh kecil. “Eh iya makasi, udah haus banget!”

Perempuan berkemeja kotak-kotak di sampingnya ikut terkekeh, “Saya ga bermaksud ganggu kamu minum, maaf juga ya. Saya cuman khawatir aja takutnya kakaknya tersedak atau gimana, sedangkan saya ga bisa melakukan pertolongan pertama.”

Rania tersenyum mengangguk, memahami maksud baik perempuan yang berpenampilan maskulin tersebut. “Gapapa kak, aku juga belum mau meninggal sekarang, sih. Setidaknya karena kamu ngingetin, aku jadi lebih hati-hati.”

Perempuan di sampingnya pun menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung harus menanggapinya bagaimana. Lantaran perempuan cantik di sampingnya tiba-tiba membawa-bawa kematian.

Rania berdeham tanda memecah keheningan yang melanda keduanya, “Kakaknya tinggal di daerah sini kah? Tumben malem-malem kaya gini ada perempuan yang keluar. Bahaya loh kak.”

“Saya kebetulan tinggal di gang depan itu sih. jadi dekat. Tapi memangnya jalanan ini ga berbahaya juga ya buat kamu?”

Sambil memandang lurus jalanan Rania bermain dengan botol plastik air mineral itu, “Oh gapapa kalo aku mah, udah biasa juga. I mean, aku udah terlanjur kaya gini, jadi ga masalah deh kalo emang gitu.”

“Maaf maksudnya kakaknya ga berhak memperoleh keselamatan kah?” Tanya perempuan itu bingung dengan pernyataan ambigu yang Rania lontarkan.

Rania terkekeh, “Bukan gitu! Ya as a sex worker aku kalo emang diapa-apain juga gapapa kan, udah terlanjur rusak.”

“Kamu sex worker?” Tanyanya hati-hati.

“Iya. Maaf ya aku terkesan terbuka banget padahal kita baru ketemu, cuman emang lagi punya hari yang berat jadi aku banyak ngoceh. Maaf kalo kamu merasa ga nyaman sama hal itu.”

Perempuan di samping Rania kemudian berdeham, “Eh iya ga masalah kok kak. Cuman kaget aja.”

Rania mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangannya, “Rania. Nama kamu siapa?”

“Saya Aleya atau Ale for short.” Dengan senyuman kecilnya Ale membalas uluran tangan tersebut.