Work Text:
Aku menggigit bibirku. Di malam-malam seperti ini aku merasa ada yang aneh.
Seperti ada sesuatu yang ketinggalan.
Hari ini hari terakhirku di Jakarta. Besok pagi aku sudah berangkat ke Surabaya. Rasanya memang aneh, setelah bertahun-tahun main band di Dewa, aku pergi begitu saja. Aku saja belum sempat pamit. Sebenarnya aku sudah lama berencana keluar dari band itu, – mungkin sekitar 4 tahun – tapi aku tidak pernah jadi-jadi. Alasannya adalah karena Dhani. Si Dhani itu. Memang dia dari dulu sudah orang keras kepala. Dhani tidak mau aku keluar. Tapi, aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena dia merasa aku paling cocok untuk posisi itu, mungkin karena aku merupakan salah satu anggota Dewa 19 dari formasi awal, mungkin karena aku temannya, atau mungkin saja karena... Dhani takut kehilangan diriku.
Jujur saja, aku tidak akan pernah memahami kenapa kondisinya seperti itu. Aku selama ini hanya mempersulit dan menjadi beban untuk band itu, apalagi dengan kondisiku sekarang. Tapi kenapa Dhani tetap ingin di situ ada aku? Kenapa? Kenapa Ahmad Dhani Prasetyo selalu sabar pada orang yang kehilangan akal seperti aku? Memangnya aku ada spesialnya? Atau mungkin dia hanya kasihan denganku. Kalau bukan di Dewa aku dimana lagi emangnya?
Aku hanya berupa sebuah beban baginya (Dhani) dan orang di sekitarku, tapi mungkin dia sudah nyaman dengan beratnya keberadaanku.
Sedih amat pikiranku malam ini, lucu, aku biasanya ga se-galau ini.
Aku berdiri di trotoar Jakarta. Angin yang dingin mengelus kulitku. Jakarta masih rame di malam hari, tapi rasanya beda dengan jam-jam sibuknya. Sudah hampir tengah malam tapi masih banyak pedagang yang menjual di tepi jalan. Ada pula orang-orang yang masih muda berpegangan tangan sambil berlari bersama dan tertawa. Ada pula orang yang barusan pulang kerja. Ada pula orang yang seperti diriku, kehilangan arah di kota metropolitan ini.
Setelah ini apa yang akan aku lakukan? Aku merasa seperti tidak ada tujuan yang pasti. Jika ada, aku tidak yakin aku sanggup dalam menyelesaikannya.
Dhani Dhani, andaikan saja dirimu pas SMA ada di sebelahku sekarang.
Kita mungkin bisa menertawakan nasibku di malam kelam ini. Mungkin kamu bisa membicarakan ide lagu yang baru, atau mungkin juga kamu bisa ceritakan tentang cewek dari sekolah sebelah. Aku akan melihat matamu dan menemukan sebuah cahaya yang tampaknya tidak akan pernah padam. Saat denganmu, aku rasanya muda lagi. Muda dan tidak memedulikan apa-apa. Yang kupikirkan mungkin hanya suaraku jika nyanyi. Jika aku berbicara dengan Dhani versi SMA, pasti dia senang banget kalau tahu kita bisa ke Jakarta bareng. Pikiran itu membuatku tersenyum, memang luar biasa kamu, Dhan. Aku tak akan di sini tanpamu.
Ahmad Dhani Prasetyo tidak berubah sedikit pun dari SMA, tapi ia tampak lebih capek. Cahaya yang di matanya memang tidak akan pernah padam, tapi lama kelamaan cahaya itu keliatan lebih pudar. Mungkin dia lelah harus ngurusin semua ini, atau mungkin gara-gara dia melihat aku ya? Kadang-kadang aku melihat wajahnya, yang biasanya tak dapat terbaca tampak khawatir saat aku habis ngerokok, kadang-kadang aku merasa tangannya menggenggam jariku lebih kuat saat aku tak bisa berdiri, kadang-kadang aku melihat dia menangis sendiri setelah aku kembali menyuntik tanganku setelah aku berjanji tak akan melakukannya lagi ke dia.
Aku merasa bersalah meninggalkan semuanya begitu saja, tapi ini yang terbaik bagiku.
Daripada aku menyakiti orang lain juga kan..
Dhani Dhani, andaikan saja aku masih sekuat diriku pas masih SMA.
Pas itu aku masih bebas, aku masih belum terpengaruhi orang lain, aku hanyalah Ari Lasso. Tapi kayaknya aku hanya ingin mengingat kisah-kisah manisku waktu masih muda. Sekarang semua kisah itu berlalu. Aku ingin suatu hari aku bangun dan aku sadar bahwa selama ini ternyata hanya mimpi dan aku ketiduran di kelas. Lalu aku akan keluar kelas dan menemu Dhani yang sudah menunggu dari tadi. Terus akhirnya dia tegur aku karena tidur siang di kelas dan bakal ngajak aku ngeband sepulang sekolah.
Tapi ini bukan mimpi. Gigitan di bibirku masih perih. Aku bangun dan aku sekarang sudah dewasa.
Jika aku sudah tahu hasilnya akan seperti ini, apakah aku bakal tetap ke Jakarta dengan Dhani?
Ada bagian kecil di hatiku yang ingin menoleh balik dan berlari kembali ke Dhani dan meminta maaf karena aku hampir mau pergi. Habis itu dia akan memelukku dan berbicara kalau tak masalah. Yang penting aku mengubah pikiranku. Lalu hari-hari akan berlalu dengan sama. Bukan sesuatu yang ideal, tapi sesuatu yang nyaman bagiku, sesuatu yang telah menjadi rutin. Tapi, aku tak boleh berpikir seperti itu. Nostalgia Dhani hanya akan membuatku terperangkap di kandang yang sama terus. Aku ya juga sudah lelah kayak gini terus.
Nanti pas aku kembali ke Surabaya, aku mau lewat SMAku dulu. Cuman untuk sekedar lihat jika ada perubahan atau tidak. Aku penasaran jika warung langgananku dulu masih buka atau tidak, aku juga penasaran jika ada bangunan baru di sekitarnya. Aku hanya ingin melihat kalau dunia ini akan selalu berubah dan aku harus melalui itu.
Semoga Tuhan memaafkanku. Semoga Ia juga memaafkanmu, Dhan.
Aku masih ingat pas itu pernah di tempat tersembunyi, kau menciumku. Bukan karena apa-apa, aku cuman penasaran saja. Bibirnya Dhani kasar amat, tapi ya punyaku juga jadinya aku tidak bisa berkomentar. Aku ga terlalu ingat kenapa ya Dhani cium bibirku, aku ga terlalu fokus sama apa yang terjadi sebelum itu. Tubuhnya bergermetar gak karoan saat aku melepaskannya. Mungkin Ia merasa bersalah ya. Setelah itu ia tak pernah berbicara tentang itu lagi. Paling dia malu. Hari berikutnya dia kembali berbicara tentang Maia atau apalah, dan aku sedikit bersyukur kita tak harus menghadapi itu. Apain juga ya kita gitu. Aku ga suka terlalu memikirkan itu, tapi aku beberapa hari ini mulai kepikiran terus. Persahabatanku dengan Dhani terlalu dekat untuk kenyamananku. Jika aku bisa mengulang waktu itu, pasti ku kan mengulangnya selamanya. Rasanya salah banget, tapi salahnya nyaman. Itu cuman rahasia di antara kita berdua kan, Dhan? Gila sih, ciuman sama laki, orang gila yang berani melakukan itu ya paling cuman sahabatku itu.
Jakarta memiliki bau khas, campuran antar keringat manusia dan air ludah. Menjijikan benar, tapi memang itu yang membuatnya terkenal. Semua orang di kota ini memiliki rahasia dan nafsunya sendiri-sendiri, makanya jarang ada orang yang mengurus urusannya orang lain.
Aku melihat di atasku, menatap bintang-bintang di langit, mencari tanda surga di antaranya.
Jika aku lihat terus, aku pasti akan menemukannya.
Jika ada surga, apakah aku akan menjadi penghuninya?
