Actions

Work Header

From Stranger to something warm (Ver Indo)

Notes:

Halo semuanya! Maaf kalau ada kesalahan di cerita ini dan beberapa bahasa kerasa agak aneh atau karakternya kerasa beda. Ini fanfic keduaku uh yang pertama bikin aku malu sih makanya ku hapus😅

Aku harap kalian bakal enjoy sama ceritanya❤

Chapter 1: Kesalahan kecil

Summary:

“Tunggu, Paimon.” Langkah Lumine berhenti.

“Eh? Kenapa berhenti?” tanya Paimon, masih belum menyadari apa yang terjadi.

Jalan itu jauh lebih sunyi. Hanya terlihat beberapa hewan kecil melintas di antara semak-semak.

“Bagus, Paimon. Bahkan pemandu terbaik di Teyvat pun bisa salah jalan juga,” ujar Lumine sambil terkekeh.

Paimon hendak membalas, namun—“Maaf.” Suara pria dari belakang mereka membuat keduanya tersentak.

Notes:

English ver (translated) 

Chapter Text

Angin menerpa perjalanan mereka, berhembus pelan melewati rambut Lumine.

“Sebentar lagi kita sampai,” ujar Paimon, suaranya terdengar lebih cerah dari biasanya. “Paimon nggak sabar.”

 

Lumine tersenyum kecil, lalu mengangguk. Pandangannya beralih ke laut yang membentang di bawah mereka.

 

“Paimon, kamu udah bawa petanya, kan?” tanyanya.

 

“Iya dong, Paimon masih bawa kok,” jawab peri mungil itu dengan percaya diri.

 

Mereka terus mengobrol tentang hal-hal sepele selama kapal perlahan mendekati dermaga.

 

Angin siang yang semula hangat mulai berubah menjadi lebih sejuk. Di saat yang sama, gadis itu menyadari sesuatu—aliran phlogiston di tubuhnya terasa… melemah.

 

Beberapa jam kemudian, kapal pun singgah.

 

Orang-orang mulai turun dari kapal, begitu pula Lumine dan Paimon. Begitu menjejakkan kaki di dermaga, Paimon yang terlalu antusias beberapa kali hampir menabrak barang di sekitarnya.

 

Mereka menuju kota Nasha untuk mengunjungi Adventurers’ Guild. Namun mereka tidak berlama-lama di sana.

 

“Paimon mau lihat-lihat Nod Krai dulu, kita jalan-jalan yuk!” ujarnya sambil langsung meraih tangan Lumine.

 

Lumine menepuk bahu Paimon pelan. Peri itu pun menoleh.

 

“Kalau begitu, pemanduku yang hebat… ke mana aku harus pergi?” kata Lumine dengan nada main-main.

 

Sosok mungil itu buru-buru membuka petanya. “Uh… kita lewat sana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah jalan.

 

Lumine mengikuti arah yang ditunjukkan Paimon. Mereka melewati beberapa tikungan dan penanda jalan, hingga akhirnya tanpa sadar memasuki jalur yang semakin sepi.

 

“Tunggu, Paimon.” Langkah Lumine berhenti.

 

“Eh? Kenapa berhenti?” tanya Paimon, masih belum menyadari apa yang terjadi.

 

Jalan itu jauh lebih sunyi. Hanya terlihat beberapa hewan kecil melintas di antara semak-semak.

 

“Bagus, Paimon. Bahkan pemandu terbaik di Teyvat pun bisa salah jalan juga,” ujar Lumine sambil terkekeh.

 

Paimon hendak membalas, namun—“Maaf.” Suara pria dari belakang mereka membuat keduanya tersentak.

 

Mereka berbalik bersamaan.

 

“Sepertinya kalian tersesat,” ujar pria itu tenang. “Izinkan aku membantu.”

 

Ia menunjuk ke arah lain. “Jalur menuju kota ada di sana. Yang kalian lalui sekarang… tidak sering digunakan.”

 

Lumine melirik ke arah Paimon. Tuh kan.

 

Paimon langsung menghindari tatapan itu, seolah sudah tahu apa yang dipikirkan Lumine.

 

“Ah—pantesan sepi banget!” katanya cepat.

 

“Kalau tidak keberatan,” lanjut pria itu, “aku bisa mengantar kalian sampai persimpangan berikutnya.”

 

Mereka mengikutinya tanpa banyak bicara.

Langkah mereka berhenti ketika pria itu berbalik.

 

“Kalian sudah sampai di jalur yang lebih aman dan sering dilalui,” ujarnya.

 

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kyryll Chudomirovich Flins. Salah satu anggota Lightkeeper di Nod Krai”

 

“Ky—Kyryll… apa?” Paimon berusaha mengulang, namun menyerah di tengah jalan.

 

Pria itu tampak tidak terganggu. “Kalian bisa memanggilku Flins saja.”

 

“Ah, iya. Kami juga belum memperkenalkan diri. Namaku Lumine, dan ini temanku, Paimon. Senang bertemu denganmu, Flins,” ujar gadis itu.

 

“Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” jawabnya singkat. “Aku permisi.”

 

“Kamu juga, Flins!” kata Paimon sambil melambaikan tangan saat pria itu berjalan pergi.

 

Setelah itu, Paimon menoleh cepat ke arah Lumine. “Kamu lagi mau ketawain Paimon, ya??” katanya sambil melipat tangan, wajahnya terlihat kesal.

 

Lumine tidak menjawab. Ia hanya berusaha menahan tawanya.

 

Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan dan mulai berjalan lagi, Paimon masih melayang di sampingnya dengan wajah kesal. 

 

Jalan mereka sebelumnya sepi dan asing itu sudah cukup ramai. Beberapa orang berlalu-lalang melewati mereka langkah kaki dan percakapan ringan mulai terdengar. 

 

"Tadi itu Paimon cuma salah sedikit kok," Paimon tiba-tiba berbicara. 

 

"Oh ya?" Lumine agak mencondongkan tubuhnya ke arah Paimon sambil terkekeh. 

 

"Uh.. Ya.. Paimon salah sedikit sih." Peri kecil itu menggaruk kepalanya. "Orang tadi namanya susah banget, Paimon sampai ga bisa ngucapin."

 

"Ya makanya dia minta kita manggil dia Flins aja."

 

Mereka terus berjalan hingga gadis itu mendengar suara aneh. 

 

"Ahaha... Paimon laper." Temannya agak memalingkan muka. 

 

"Ya udah kita balik ke kota dulu, habis itu kita beli makanan." 

 

"Asik!" sosok mungil itu terlihat semakin imut ketika dirinya tampak antusias. 

 

Mereka mengambil jalan yang berbeda, selama perjalanan Paimon lagi-lagi mengoceh soal makanan dan Lumine hanya menanggapinya dengan senyum kecil. 

 

Bangunan kota mulai terlihat mereka semakin dekat denga kota, mereka terus berjalan dan singgah di Speranza untuk membeli makanan. 

 

"Paimon mau 4 Hot Dog!" seru temannya ketika melihat menu. 

 

"Kalau gitu aku pilih ini aja." Lumine menunjuk salah satu menu di sana. 

 

Kemudian mereka menempati salah satu meja di sana. 

 

“Eh, Lumine…” Paimon ngomong lagi sambil masih makan. “Tadi dia bilang Lightkeeper, kan?”

 

“Iya.”

 

“Itu tuh… sebenarnya apa sih?”

 

Lumine diam sebentar. “Kalau nggak salah… mereka itu penjaga wilayah.”

 

“Penjaga?” Paimon berhenti ngunyah.

 

“Yang jagain jalur, atau area berbahaya.”

 

“Oh…” Paimon langsung ngerti. “Pantesan dia tahu jalan tadi.”

 

“Mungkin memang tugasnya.”

 

“Berarti kita tadi beruntung dong?”

 

“Bisa dibilang gitu.”

 

Mereka lanjut makan sampai makanan habis. Lumine berdiri dan berjalan pergi di ikuti Paimon yang melayang di sampingnya. 

 

Tak lama mereka sudah sampai Flagship yang tak jauh dari sana, Lumine memesan salah satu kamar. Setelah mendapat kunci mereka pergi ke kamar mereka dan beristirahat. 

 

Lumine duduk di tepi kasur sedangkan Paimon sudah meringkuk di sebelahnya. Gadis itu melamun

 

Hari itu terasa seperti hari biasa—perjalanan, kesalahan kecil, dan pertemuan singkat dengan seseorang yang tak dikenal.

 

Lumine tidak memikirkannya lebih jauh.

Setidaknya, untuk saat ini. Namun entah kenapa, pertemuan itu terasa… terlalu tepat untuk sekadar kebetulan.