Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-02
Words:
5,013
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
23
Bookmarks:
3
Hits:
444

Nyangkul

Summary:

Apa salahnya sih melihat orang lagi menyangkul?
Sama saja halnya seperti melihat Shota lompat-lompat kegirangan berhasil menangkap satu ekor tutut, atau kakeknya yang sedang memberi makan rumput pada sapi. Sekali lagi Keeho tegaskan, itu cuma menyangkul, apa spesialnya?

Ya jelas spesial lah karena bisa bikin elu sange.

Notes:

my bkp kampung pertama gw. sorry kalo kurang ngampung.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Tiga hari lagi," Keeho menghela napas berat. Menghitung sisa hari yang mesti dihabiskannya di kampung halaman Ayahnya, sebuah desa kecil yang nun jauh dari keramaian kota. Meskipun sudah jadi agenda tahunan, tetap saja Keeho tak pernah merasa betah berada lama-lama disini. Hanya ada hutan, sawah, dan kawanan sapi sedang merumput sepanjang mata memandang.

"Udah lah, Bang. Namanya aja lagi mudik," kata Shota, adik sepupu Keeho. Sok iya banget menasehati yang lebih tua. Kontras dengan Keeho yang hari-hari ngeluh pengen cepet balik ke kota, Shota malah enjoy banget dengan kehidupan di kampung. Baru hari pertama datang aja anaknya langsung ngebolang mandi di sungai, ikut kakeknya ngangon sapi, dan tahu-tahu udah berteman akrab dengan anak muda sini. Sempat-sempatnya di sahur terakhir, Shota ikut keliling kampung bangunin orang sahur. Keeho sih would never.  

“Apa kita extend aja ya, Bang. Biarin ajalah orang tua kita pulang duluan. Kampus kan masih lama liburnya,” usul Shota suatu hari saat Keeho lagi uring-uringan bolak-balik menggeser aplikasi menu di layar ponselnya.

“Lu aja lah. Kalau bisa balik sekarang juga langsung gas nih gua,” tolak Keeho mentah-mentah.

Bukannya Keeho sok apa gimana ya, tapi alasan sebenernya Keeho gak betah di kampung lama-lama tu karena sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di tanah ini, tak ada satu bar sinyal pun yang tertangkap di ponsel pintarnya.

Menurut kakek, satu-satunya tower penyedia jaringan internet di desa tersambar petir, tepat sehari sebelum kedatangan mereka. Dan berhubung teknisinya juga sudah pada mudik lebaran, terpaksa lah baru bisa diperbaiki setelah lebaran—menunggu teknisinya selesai cuti lebaran, tepatnya. Dan itu tepat di hari kepulangan mereka ke kota. Emang mungkin orang di kampung sini gak terlalu musingin internet apa ya, jadi ya santai-santai aja mereka gak ada tuh acara demo ke kantor providernya apa gimana. Semuanya pada pasrah ngikut apa kata pusat.

Lima hari tanpa internet, jangan tanyakan gimana rungsingnya keadaan Keeho saat ini. Buat orang yang chronically online kayak dia, rasanya seperti terdampar di pulau tak berpenghuni. Padahal mah sebelum mudik, Keeho udah bikin list panjang, konten tiktok apa saja yang akan dia buat selama di kampung. Biasalah, influencer wanna be. Gara-gara sekali kontennya pernah fyp tiktok dan di-follow sampe dua ribu orang, Keeho jadi ketagihan bikin konten. Dan mumpung lagi mudik nih, saatnya Keeho riding the wave. Kebayangkan bisa jadi berapa banyak konten dari persiapan mudik, D-day mudik, perjalanan penuh drama—hampir ketinggalan pesawat dan Shota muntah sampe tiga kali di perjalanan mobil—day 1 di rumah kakek, day 1 mandi di sungai, day 1 nangkap tutut sawah, dan day 1-day 1 lainnya lah. Tapi sekarang semua rencananya gatot alias gagal total karena ujung-ujungnya semua footage yang Keeho ambil cuma numpuk di ponsel. Keburu basi buat diposting nanti pake hastag late post. Ngerti gak sih, udah gak dapat momentumnya lagi. Keburu udah ganti tren baru. Ayah Keeho aja sempat ikutan ngomel karena gak bisa kirim ucapan selamat hari raya di grup-grup whatsapp. Ya apalagi Keeho, percuma aja bikin fit check lebaran yang keburu basi kalau diupload-nya tunggu mereka kembali ke kota.

“Gue mau nangkap tutut di sawah. Ikut gak?” ajak Shota yang udah ready dengan outfit nangkap tututnya itu. Kaos partai, celana training yang karetnya udah melar—digantikan dengan tali rafia— sepatu booth selutut, dan topi caping yang masih keliatan baru. Satu-satunya penyelamat outfit mematikan Shota hari ini.

“Najis banget gak ada baju lain apa,” kata Keeho.

“Bro, ini namanya dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.”

Atur aja lah, bos! Keeho malas memperpanjang argumen. Meski agak mager, tetep aja dia ngekorin satu-satunya penghiburnya selama disini. Jujur kalau nggak ada Shota, gak tahu deh gimana nasib Keeho. Atau setidaknya, itu yang Keeho pikirkan sebelum Shota asik sendiri dengan dunianya.

“Gue disini aja lah, males masuk lumpur,” kata Keeho sesampainya mereka di sawah.

“Ya udah,” Shota melesat ke dalam genangan air.

Keeho menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar gak jauh dari tempat Shota mencari tutut. Sekali lagi melakukan hal bodoh itu untuk kesekian kalinya; mengecek sinyal internet. Kosong. No internet connection. Anjing, apa gue lempar aja ni ponsel tolol jadi umpan tutut.

“Bang, videoin gue, dong!” panggil Shota.

“Dari sini aja ya. Males kesitu gue. Becek,” Keeho membuka aplikasi kamera dan mulai merekam Shota yang asik banget mengobok-obok air yang udah keruh itu menggunakan jaring ubur-ubur.

“Mana? Dapat gak?”

“Dapat satu,” Shota mengangkat satu ekor tutut yang berhasil ditangkapnya.

Selesai merekam Shota, Keeho mengarahkan kameranya ke arah lain. Kebetulan dia belum ada footage view sawah buat bahan editan vlog ala-alanya nanti. Setidaknya ya, meskipun gak bisa update daily life-nya secara real time, masih bisa lah di-edit dan di-upload saat sudah pulang nanti. Apalagi dengan tambahan bumbu kisah tragis seminggu di desa tanpa internet, Keeho yakin videonya bakal menggemparkan dunia pertiktokan.

Sedang asik-asiknya merekam sekeliling, kamera Keeho menangkap satu sosok yang bergerak-gerak di tengah sawah. Manusia kah ini? Apa cuma orang-orangan sawah atau mungkin… hantu? Jujur aja Keeho agak merinding dikit soalnya ini mereka posisinya lagi di tengah-tengah sawah yang sepi.

Jari Keeho cepat memperbesar layar, dan tampak lah seorang lelaki sedang menyangkul di tengah lahan sawah yang becek penuh kubangan lumpur.

Inilah momen menunjukkan gunanya iphone 17 promax layar OLED 6,9 inci 120Hz super terang, tenaga chipset A19 Pro berbasis 3nm dengan RAM 12GB, kamera Pro 48MP berteknologi tinggi dengan zoom hingga 8x yang selama lima hari ini cuma berfungsi sebagai penunjuk waktu.

"Oh, manusia," harusnya itu reaksi normal Keeho usai menuntaskan rasa ingin tahunya, lalu mengalihkan kameranya ke arah lain.

Namun yang terjadi....

"Shit," Keeho tak kuasa menahan rasa kaget—atau kagum?

Keeho memperbesar kapasitas zoom. Sosok petani itu makin tampak jelas di layar ponselnya. Seorang lelaki muda berkaos singlet putih yang sepertinya tak pantas disebut putih lagi. Bercak lumpur mengiasi kesucian kaos singlet yang kalau menurut Keeho, tak layak lagi dikenakan bagi tubuh seksi itu. Damn... Keeho perlu merendam kepalanya pada air pancuran di belakang rumah kakek karena bisa-bisanya ia menyebut kata...seksi? Pada? Seorang? Lelaki? Yang? Sedang? Menyangkul?

Keeho menelan ludahnya. Lihatlah bagaimana otot bisep dan trisep Si Singlet Putih—begitu Keeho akan memanggilnya—berkontraksi tiap ia mengayunkan dan menarik cangkul di genggaman tangannya. Ada gelenyar aneh mengaliri dada hingga turun ke pangkal perut Keeho saat tangan berurat itu melingkari gagang cangkul dan bergerak dengan tempo teratur. Naik turun melubangi tanah di bawahnya.

Tatapan Keeho naik pada wajah si singlet putih. Di bawah sinar matahari sore, wajahnya tampak kemerahan bersimbah keringat. Keeho memperbesar layar, mencoba menangkap bulir-bulir keringat yang mengalir dari pelipis, turun perlahan ke pipi dan mengikuti garis rahang, lalu meluncur bebas ke leher dan... lihatlah apa yang bersemayam di leher indah itu.

Ponsel Keeho nyaris lepas dari genggaman tangannya. Akal sehat Keeho berusaha mencari alasan bagaimana bisa sekujur badannya bereaksi aneh hanya karena melihat jakun Si Singlet Putih yang naik turun bergerak dengan indah mengikuti setiap helaan napas si empunya.

"Anjing. Stop, bego!" Teriak Keeho dalam hati.

Tatapan Keeho masih terkunci pada layar ponsel. Si Jakun Seksi—panggilan baru dari Keeho—menghentikan ayunan cangkulnya. Entah sadar atau tidak dirinya tengah menjadi sosok perhatian, setiap gerakan yang dilakukan Si Jakun Seksi bagaikan diarahkan oleh photographer profesional. Satu tangannya bertumpu pada gagang cangkul, dan satu tangannya lagi menopang sisi badan lainnya. Tanpa aba-aba, tangan kanannya meraih ujung kaos dan menariknya ke atas untuk mengelap jejak keringat di wajahnya.

Jikalau ada lalat lewat dan masuk ke mulutnya yang ternganga lebar, Keeho gak akan sadar sama sekali karena lenyap sudah seluruh kewarasannya. Fokusnya hanya tertuju pada layar ponsel, dimana si Jakun Seksi itu memamerkan otot perutnya yang indah. Di sisi perutnya yang belah kanan tampak goresan tinta hitam—tato kah itu?

"Ah, gak keliatan jelas tatonya. Lagi dong," ujar Keeho tak tahu malu. Tenang, nanti kita slowmo-kan bagian tatto itu dan diedit pakai remini kalau masih kurang jelas. Ini kalau misalnya dikontenin, kira-kirajudul konten apa yang cocok untuk adegan barusan? Losing my mind over a sexy farmer? Yah, coba aja bikin konten begitu kalau Keeho mau kena cancel seluruh followernya yang tidak seberapa itu.

Keeho menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Anjing cabul banget gue. Dengan sisa kewarasannya yang ada, jempol Keeho bergerak menuju tombol stop. Namun apa yang terekam pada layar ponselnya mendadak membuat jempolnya kaku, lalu menjalar ke seluruh anggota tubuh lainnya.

Di layar ponselnya, tampak Si Jakun Seksi sedang menatap lurus tepat ke arah kamera. Keeho refleks menurunkan kameranya. Melihat ke depan dengan matanya langsung yang tentu saja sia-sia, lalu balik lagi melihat melalui lensa kameranya. Masih sama. Si jakun seksi masih menatap lurus padanya. Justru kali ini diiringi dengan seringaian kecil di ujung bibirnya.

SHIT! Ketahuan kah gua?

****

“Bang… Bang? Mau kemana lu?” panggil Shota pada Keeho yang lari terbirit-birit menuju arah jalan pulang. Kebelet berak apa ya?

Udah lah Shota gak mau ambil pusing. Awas aja kalau abis ini Keeho ikut makan tutut hasil tangkapannya.

Sementara itu, sesampainya di kamar, Keeho membenamkan wajahnya pada bantal dalam-dalam. Tak peduli pada napasnya yang masih tersengal-sengal sampai ia kesulitan bernapas. Biarlah ia kehabisan napas sekalian. Mati, lalu kembali ke kota hanya tinggal nama.

Gak mungkin kan ya cowok tadi sadar dirinya sedang direkam? Mungkin aja ia sedang menatap ke arah lain yang kebetulan searah dengan posisi Keeho. Ngeliat Shota lompat kegirangan berhasi nangkap tutut kali. 

Bisa jadi.

Tapi jelas-jelas tadi Keeho liat dia tersenyum ke arah kamera.

NO! Seringaiannya terlalu tipis untuk disebut senyuman. Mungkin ujung bibirnya cuma berkedut gara-gara terkena tetesannya keringatnya yang asin. Yeah, keringat luar biasa beruntung yang dapat singgah di bib—

STOP!

Keeho menekan kepalanya semakin dalam. Gimana kalau si kaos singlet dengan jakun seksi itu menyusulnya? Mengadu pada kakek dan seisi rumah kalau dia baru saja jadi korban pelecehan seksual Keeho? Oke pikirannya terlalu kejauhan. Keeho bahkan nggak melakukan hal aneh ke lelaki tadi. Hanya merekamnya saat sedang mencangkul—sambil mikir jorok dikit.

Merekam orang tanpa izin saja sudah jelas-jelas salah, tolol! Keeho rasanya pengen jedotin kepalanya ke dinding.

Keeho mengangkat kepalanya. Kalau itulah tuduhannya, maka satu-satunya cara untuk keluar dari tuduhan itu adalah menghapus bukti. Dan satu-satunya bukti tuduhan adalah hasil rekaman di ponselnya ini. Jari Keeho bergerak membuka galeri, lalu terhenti di depan sebuah video berdurasi 4.46 menit itu. Hampir lima menit. Umpatan kasar meluncur dari mulut Keeho yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Kerasukan setan apa lu nyet sampe begitu betahnya merekam orang tak dikenal sedang menyangkul? Garis bawahi dua kata terakhir: SEDANG MENYANGKUL.

Ada satu menit Keeho menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tinggal satu kali klik, bukti itu pun hilang dan Keeho bisa bernapas lega. Namun alih-alih menekan tombol tong sampah, jari Keeho justru menekan tanda putar, dan video berdurasi 4.46 menit itu pun terputar di layar ponselnya.

Awalnya hanya pemandangan sawah yang menyejukkan mata dengan hamparan langit biru dihiasi awan-awan kapas sebagai background alami. Memasuki di menit kedua, barulah adegan tak senonoh itu dimulai. Keeho menelan ludahnya. Sensasi itu datang lagi. Segala sesuatu di dalam dirinya terasa bergejolak dan tegang. Dengan posisinya yang sedang telungkup di atas kasur, Keeho merasakan sesuatu perlahan bangun dan melesak di antara kasur dan dirinya. Keeho meremas seprai dengan satu tangannya yang bebas. Mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan penisnya menegang tak terkendali. Keeho benci mengakui ini, namun kontolnya benar-benar ngaceng, dan ia...butuh...pelepasan.

Tanpa sadar, tangannya menyusup ke dalam celananya. Menyentuh ereksinya yang semakin menegang, membuat Keeho tersentak dan mati-matian menahan geraman suara keluar dari mulutnya. Di bawah sana, jemari Keeho naik turun menjinakkan kontolnya yang tak tahu malu minta dipuaskan, seiring dengan berjalannya detik demi detik durasi video di layar ponsel.

Keeho membalikkan badannya. Telentang menatap langit-langit kamar dengan ekpresi paling cabul sedunia. Matanya tak lagi menatap layar ponsel, melainkan memejamkan matanya. Membayangkan gagang cangkul yang digenggam oleh tangan berurat si Jakun Seksi tadi berubah menjadi batang kejantanannya. Betapa kokoh dan hangatnya jari-jari indah itu mengelilingi ereksinya. Keeho mempercepat kocokannya. Punggungnya melengkung dan racauan cabul semakin tak karuan keluar dari mulutnya. Dengan satu hentakan, pelepasan itu tiba. Keeho dapat merasakan cairan hangat melumuri tangannya. Masih dengan mata terpejam, Keeho menghela napas panjang dan menghembuskannya tak beraturan. Sekali lagi ia benci mengakui ini, tapi ia baru saja ejakulasi... dengan membayangkan si Jakun Seksi. Fuck!

****

“Lihat video kemaren dong,” kata Shota besok paginya saat Keeho akhirnya keluar kamar dengan muka sembab khas orang bangun tidur.

“Sorry, bro. Kehapus.”

“Hah?”

“Gak sengaja kehapus pada gue bersih-bersih storage. Nanti sore cari tutut lagi deh.”

“Males ah. Sore ini gue mau main ke sungai. Lu belum pernah mandi di sungai, kan?” tanya Shota.

“Ikut deh gue,” kata Keeho. Setelah kejadian kemaren sore, kayaknya Keeho butuh penyegaran buat meredam otaknya yang gak beres ini.

Setelah melewati siang yang membosankan sambil menonton siaran ftv di ruang tengah—satu-satunya hiburan buat Keeho—Shota mulai grasak-grusuk gak sabaran buat main ke sungai.

“Kata lu mau mandi doang, ngapain bawa jaring keramat lu lagi?” Keeho menatap jaring ubur-ubur yang digunakan Shota buat nangkap tutut itu.

“Buat nangkap ikan. Tolong bawain ember ya, bang. Gue yakin kali ini bakal dapat banyak.”

Kemarin juga Shota bilang gitu, tapi ujung-ujungnya cuma pulang bawa tutut gak nyampe dua puluh biji.

“Ini mau nunggu apa lagi sih?” kata Keeho waktu mereka nunggu lama di teras rumah.

“Nunggu temen baru gue.”

“Siapa?”

“Adalah pokoknya, lu juga paling nggak kenal.”

“Akamsi?”

“Sok banget akamsi-akamsi. Bapak lu noh akamsi.”

“Bapak lu juga akamsi.”

“Nah itu dia…” Shota menunjuk seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka. Karena back light, Keeho gak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi dari melihat siluetnya aja, napas Keeho mendadak tercekat. Itu… bukannya…

“Bang Jiung… sini, Bang, kenalan dulu lah sama abangku,” Shota menarik orang yang dipanggilnya Bang Jiung itu mendekat ke arah Keeho.

“Bang Keeho, ini Bang Jiung. Bang Jiung, ini Bang Keeho,” semangat banget Shota memperkenalkan dua abang-abang itu satu sama lain. “Untung aja ada Bang Jiung yang nemenin gue nangkap tutut kemaren. Oh iya, Bang Jiung bisa nangkap ikan sungai, gak?” Shota nyerocos panjang tanpa memedulikan Keeho yang cuma bisa berdiri kaku. Lidahnya kelu bahkan untuk sekedar menjawab sapaan Jiung? Begitu kah namanya? Akhirnya Keeho gak perlu memanggilnya singlet putih atau jakun seksi lagi.

Tak seperti kemarin sore yang hanya berkaos buntung, tampilan Jiung hari ini tampak sedikit friendly dengan kaos putih lengan panjang yang menempel sempurna di tubuhnya yang ramping. Samar-samar tampak tato di perutnya yang menjeplak di balik kaos tipis itu. Nanggung banget, buka aja sekalian gak sih?

Tuh kan, mulai lagi.

Melihat reaksi tenang Jiung saat berkenalan dengannya, Keeho sedikit bernapas lega. Kayaknya sih si Jiung-Jiung ini gak tahu lah ya soal rekaman kamera rahasia Keeho. Dan perihal dirinya yang tiba-tiba menatap kamera, Keeho yakin kebetulan saja. Keeho cukup berkilah kalau dia saat itu sedang merekam sawah buat instagram story. Namanya aja orang kota. Rada jakun kalau melihat sawah. Lagipula, apa salahnya sih melihat orang lagi menyangkul? Sama saja halnya seperti melihat Shota lompat-lompat kegirangan berhasil menangkap satu ekor tutut, atau kakeknya yang sedang memberi makan rumput pada sapi. Sekali lagi Keeho tegaskan, itu cuma menyangkul, apa spesialnya?

Ya jelas spesial lah karena bisa bikin elu sange.

"Huh, panas banget!" ucap Keeho tiba-tiba, cukup keras sampai Shota dan Jiung yang berjalan dua langkah di depan Keeho refleks menoleh ke belakang.

“Fotoin kita berdua lah, bang. Lu gak mau ngevlog emangnya? Otw sungai nih, bos!” Shota mengacungkan jari tangannya yang membentuk lambang rocker. Di sebelahnya, Jiung ikutan berpose sama, sampe ngejulurin lidah segala lagi tuh. Keeho gak nyangka juga kalau Jiung ini lumayan kocak orangnya. Jujur Keeho agak sedikit iri sih liat keakraban mereka, ngobrolin apa aja sambil ketawa ngakak, sementara Keeho cuma bisa diam ngekorin dua orang itu.

Sesampainya di sungai, baik Shota maupun Keeho excited banget buat langsung menyeburkan badannya ke air sungai yang luar biasa menggoda itu. Segar banget, jir. Mana kali ini Jiung mengajak mereka ke bagian lain sungai yang katanya lebih banyak ikan—sesuai request Shota. Kata Jiung sih di bagian sini emang agak mendekati hulu sungai, makanya airnya lebih jernih dan agak lebih deras arusnya.

“Hape gue taro sini aman lah ya,” Keeho menunjuk satu batu besar di bawah pohon rindang dekat tepi sungai. “Lu buka baju gak?”

Percuma aja nanya itu ke Shota soalnya anak itu udah nyaris bugil cuma menyisakan secarik boxer mini untuk menutupi bagian tengah tubuhnya.

“Aman sih harusnya. Lu gak mau ngevlog dulu? Fotoin gue dong, bang!” Shota berpose metal lagi.

“Foto-foto mulu. Enjoy the moment, bro!

“Alah biasanya juga lu banci kamera,” ejek Shota lalu berlari duluan ke arah air. Byur! Langsung saja dinginnya air sungai membungkus badannya. “Gila, seger banget, Bang.”

Sejujurnya Keeho juga udah gak sabar mau cepet-cepet nyebur, tapi dia masih agak gimana gitu soalnya ada Jiung yang sedang…. tanpa malu sedang melepas bajunya. GILA!!! Godaan segarnya air sungai gak ada apa-apanya dengan pemandangan indah di depan matanya ini.

Tatto’s meal yang Keeho idam-idamkan itu terpampang nyata di depan mata. Gak lagi lewat rekaman video yang harus Keeho pause dan zoom satu-satu untuk melihatnya lebih jelas—bahkan diedit di remini buat naikin kualitasnya. Ternyata bentuk kupu-kupu. Gak cuma satu, tapi ada…satu…dua…

BYUR!!! Keeho nyebur ke sungai bahkan tanpa melepas satu helai baju pun. Gak bisa dia lama-lama di darat, khususnya dekat Jiung yang sedang melepas celana panjangnya hingga hanya menyisakan celana pendek setengah paha itu. Niatnya berendam di sungai buat mendinginkan kepala, ujung-ujungnya Keeho malah makin kepanasan.

“Jir, gak lepas baju lu. Hape taro mana?”

Keeho menyelupkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Sebenarnya sungainya gak dalam-dalam banget sih. Cukup sepinggang Keeho dan hampir sedada Shota yang agak lebih pendek dikit darinya.

Dinginnya air sungai lumayan membantu Keeho meredam panas badan dan pikirannya. Kenapa Keeho langsung nyebur tuh karena di bawah sana, kontolnya mulai ngaceng lagi. Emang anjing ni benda satu. Perasaan tiap nge-gym entah berapa banyak otot dada, otot perut, otot punggung yang terpampang di depan mata Keeho. Nggak pernah tuh sekalipun dia ngaceng sampe gak ada harga diri kayak gini. Ini cuma ngeliat tato di pinggang ramping Jiung aja jantung Keeho berdesir gak karuan.

Dari dalam air, samar-samar Keeho melihat Jiung mendekat ke arah mereka.

Tenangin di loe, Yoon Stephen Keeho!

“Sepi ya, bang, disini. Gak kayak di tempat biasa aku main. Banyak ibu-ibu nyuci baju,” kata Shota pada Jiung yang ikut merendamkan separuh badannya dekat mereka.

“Emang gak banyak orang kesini. Soalnya agak jauh kan. Oh iya, banyak ikannya juga loh. Jadi mau nangkap ikan gak?”

“Mauuuu!”

Keeho gak tahu harus berterima kasih atau sebel pada Shota yang sekarang sedang memonopoli Jiung seorang diri. Berterima kasih karena akhirnya Keeho bisa napas lega dikit, dengan jaga jarak dengan Jiung. Atau sebel karena gak bisa menikmati polosnya tubuh Jiung dalam jarak sedekat tadi.

Jujur aja berenang pakai baju lengkap gini agak bikin Keeho susah gerak. Jadi mumpung kedua orang itu lagi seru nangkap ikan dekat bebatuan, Keeho naik bentar buat melepas baju dan celana. Seragaman dah tu bertiga cuma boxeran doang.

Sekembalinya Keeho ke dalam air, gantian Shota yang naik sambil meringis memegang pantatnya.

“Kenapa lu? Disengat lele?” ledek Keeho.

“Pengen boker.”

“Anjir, awas ya lu berak dalam air.”

“Balik aja apa ya gua.”

“Emangnya tahan?”

“Tahan-tahanin lah. Gak bisa gue kalo berak ga di wc.”

“Bang Jiung aku balik bentar dulu ya mau buang air besar,” Shota teriak ke Jiung yang masih diri dekat batu-batuan buat nangkap ikan. Keeho agak mual dikit denger cara Shota membahasakan dirinya ke Jiung begitu sopan dan pake istilah buang air besar segala. Kaya mau izin berak sama guru aja.

“Apa?”

“AKU PULANG DULU MAU BUANG AIR BESAR.” Selesai mengulang ucapannya, Shota langsung lari kenceng.

“Awas ngicrit di jalan,” ledek Keeho. Ngakak banget ngelihat kelakuan Shota yang emang selalu aja bikin geleng-geleng kepala. Sampai sosok sepupunya itu hilang dari pandangan, barulah Keeho menyadari sesuatu.

Anjing, jadi sekarang tinggal gue berdua sama Jiung dong?

“Mas Keeho?” Tahu-tahu Jiung udah ada di dekatnya. Darah Keeho berdesir bukan aja karena sekarang tinggal mereka berdua dengan jarak sedekat ini, tapi tadi Jiung manggil dia apa? Mas?

“Panggil Keeho aja, Mas Jiung,” Keeho nyengir kuda.

“Gak enak lah, Mas. Mas Keeho kan cucunya bos saya.”

“Oh, Mas Jiung kerja buat kakek saya?”

“Iya.”

“Oh…”

“Mas Keeho lupa ya…”

“Maksudnya?”

“Kemaren kan Mas Keeho lihat saya lagi nyangkul di lahan kakek Mas Keeho.”

“Hah?” Rasanya jantung Keeho berhenti mendadak.

“Ngaceng ya, Mas?” Dengan lancang Jiung menatap bagian bawah Keeho. Shit, Keeho lupa kalau sekarang posisi mereka tuh di air yang agak dangkal, gak nyampe sepinggang Keeho lagi, jadi keliatan jelas lah benda tolol itu ngacung dari tadi.

“Hehe, iya nih. Karena kedinginan kayaknya,” balas Keeho nonchalant.

“Mau saya bantu lemesin gak, Mas?”

“Hah?”

“Mau dikocok apa disepong?”

***

“Ungh… anjing jago banget lu…. Sialan… isep terus….ahhh… enak banget…”

Di balik bebatuan tempat Shota mencari ikan tadi, Keeho merem melek tiap bibir mungil Jiung maju mundur menelan batang kejantanannya ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Punggung Keeho bersandar pada satu batu lumayan besar, menjadi tempat berpegangan Keeho yang udah kelojotan parah karena diservis Jiung habis-habisan di bawah sana.

Gak tau deh ini gimana gimana caranya sampai mereka ada di posisi seperti itu. Keeho kaya amnesia dibuatnya. Pokoknya sejak pertanyaan itu diucapkan—dikocok apa disepong—tahu-tahu disini lah mereka berada.

Jiung yang berinisiatif menarik Keeho ke tempat sedikit tertutup, di balik batu besar yang cukup menghalangi mereka kalau ada orang tiba-tiba datang—Shota selesai berak, misalnya. Keeho bahkan gak perlu milih karena Jiung langsung menyentuh gundukan daging di balik boxernya itu tanpa rasa malu. Lelaki itu berjongkok dan menarik boxer keeho turun dan kontol DDN (dikit-dikit ngaceng) itu langsung mengacung di depan wajah Jiung. Gak tahu diri emang. Punya harga diri dikit lah, boy! Keeho mengelinjang geli saat Jiung melingkarkan jemarinya ke batang kemaluan Keeho.

“Cakep deh, kontol Mas Keeho. Sunat dimana, Mas?” kata Jiung. Aneh banget pertanyaan ini ditanyakan saat lagi ngentot. Tapi Keeho cuma bisa melenguh soalnya abis itu kontolnya diberi kecupan kecil-kecil di sekeliling kepalanya dari bibir mungil Jiung.

“Suka deh lihat kepala kontol kayak gini. Mekarnya bagus, jahitannya rapi.”

Kenapa jadi review kepala kontol, anjing. Lama-lama gua sodok juga tuh mulut sampe mentok, geram Keeho yang udah gak sabaran. Lidah Jiung menjilati kepala kontol Keeho, sambil matanya menatap sayu pada lelaki di atasnya yang cuma bisa meracau keenakan.

Lidah Jiung berhenti memberikan jilatan. Gantian tangannya mengambil alih. Jemarinya mengelilingi ereksi Keeho yang besar dan panjang. Asli sih Jiung gak bohong soal memuji bentuk kepala kontol Keeho barusan. Beneran cakep. Mekarnya tuh bagus dengan jahitan rapi melingkar tanpa ada sedikitpun kulit kulup yang tersisa.

Jempol Jiung menekan pelan pada ujung kontol yang udah merekah, sebelum mulai menaik turunkan kocokannya dengan tempo yang gak bisa diprediksi. Kadang pelan, kadang dikocok kenceng sampe rasanya isi ubun-ubun Keeho mau kesedot habis. Setelah itu temponya teratur kembali, sambil sesekali dielus-elus tuh kepala kontol kebanggaan Keeho. Apalagi tangan Jiung tuh kasar dan kapalan gara-gara kebanyakan nyangkul kali ya, jadi kocokannya terasa makin enak kayak ngasi sensasi ngilu-ngilu sedap gitu. Oh, ini kah rasanya menjadi gagang cangkul yang membuat Keeho iri setengah mati itu.

“Sepongin aja lah…” Keeho akhirnya nyerah. Tahu kalau pelepasannya gak bakal lama lagi, mending bucat sekalian di dalam mulut Jiung.

“Mau apa, Mas Keeho?” Jiung kembali melemparkan pandangan sayu itu.

“Isep kontol gua…aaaah!”

Tanpa disuruh dua kali, Jiung melahap habis batang lezat di depannya. Keeho kaget dikit soalnya gak nyangka langsung masuk mentok sampe mengenai tenggorokan Jiung. Sensasi ngilu kayak nyetrum langsung menyebar ke sekujur badan Keeho.

Mulut Jiung agak kewalahan dikit. Rasanya mulut kecilnya itu sesak banget menampung batang kemaluan Keeho yang besar dan berurat, tapi dia seneng diperlakukan begini. Air ludahnya udah netes ke dagu sambil tangannya mainin buah zakar Keeho. Meski air matanya mulai menggenang di pucuk mata, Jiung puas banget ngelihat lelaki di atasnya kelojotan sambil merem melek dengan peluh bercucuran. Apalagi sekarang tangan Keeho mulai mencengkram kepalanya buat menekan dalam-dalam kontolnya ke tenggorokan Jiung.

“Anjing… sering ya lu nyepongin kontol warga sini?” Refleks Keeho menggerakkan pinggulnya. Tangannya mencengkram pipi Jiung untuk mengarahkan pandangan lelaki itu ke arahnya. “Lonte kampung ya lu… Jiung lonte… perek… doyan nyepong…”

Asli sih ini Jiung bener-bener mabuk kontol. Mendapat dorongan dari pinggul Keeho, lalu ditekan pula tengkuknya sama tangan Keeho. Jiung udah gak ada kendali lagi sekarang. Bukannya nyepong, mulut Jiung malah kayak lagi diperkosa. Liurnya udah netes kemana-mana dan ia dapat merasakan kontol Keeho makin membesar di dalam mulutnya. Tak akan Jiung biarkan satu tetes pun peju Keeho lolos dari mulutnya.

“AHHHH!”

Peju Keeho nyembur di dalam tenggorokan Jiung. Panas dan asin. Jiung nyaris tersedak tapi tetap aja ia paksakan menelan semua semburan rudal berurat cowok kota itu. Gak mau satu tetes peju Keeho netes lalu masuk ke dalam air dan jadi rebutan ikan-ikan kecil disana. Gimana kalau ikannya hamil anak Keeho?

“Enak banget, sayang…” Keeho melepas cengkramannya dari tengkuk Jiung. Gak tega sebenernya melihat wajah cantik itu sesak napas diperkosa kontolnya, tapi ekspresi wajah Jiung bikin Keeho sange terus. Belum apa-apa, kontolnya bangun lagi. Ya gimana gak bangun kalau di depannya Jiung masih aja menatapnya dengan tatapan sayu menggoda.

“Gagal deh aku ngelemesin kontolnya Mas Keeho,” kata Jiung, melirik penis Keeho yang mulai ereksi lagi. Ditowelnya pelan tapi cukup meninggalkan erangan panjang di bibir Keeho.

“Lanjut ngentot lah.” Keeho menarik Jiung berdiri. Lalu merengkuh pinggang ramping lelaki itu ke dalam pelukannya. Satu tangan Keeho menyusup ke dalam celana Jiung. Batang kemaluan lelaki itu sama tegangnya seperti milik Keeho.

“Boleh ya? Mumpung Shota masih berak,” bisik Keeho pada telinga Jiung. Si Cantik melenguh geli. Bisikan tadi tepat mengenai titik sensitifnya. Jiung merinding sebadan-badan.

“Mau aku lemesin dulu apa langsung ngentot, sayang?”

“Langsung…masukin aja… gatel banget…ah…. Keeho…” Jiung makin merinding karena Keeho tak henti-hentinya menghujaninya dengan kecupan di sepanjang leher. Lelaki itu menjilat, menekan, dan mengisap jakun Jiung sampai si empunya kesulitan bernapas.

“Mau apa?”

“Mau…dientotin… sama kamu…ah...”

Keeho membalikkan badan Jiung dan mendorongnya ke arah batu.

“Nungging dikit ya, sayang,” kata Keeho sambil memberi kecupan basah nan panjang di punggung Jiung.

Jiung merasakan tangan Keeho melebarkan pahanya dan menempatkan tangannya yang kuat di pinggulnya. Satu tangan Keeho menyusup di antara belahan bokong sintal Jiung. Mencari lubang anal Jiung yang udah berkedut minta isi. Satu jarinya diselipkan disitu, lenguhan tak tertahankan lolos dari mulut Jiung. Masih sempit banget gila. Keeho mengumpulkan ludah di dalam mulutnya untuk dijadikan pelumas. Dua jari Keeho menggoda celah itu kembali, sementara satu tangan lainnya menekan kepala kontol Jiung. Kombinasi itu membuat Jiung berdenyut-denyut.

“Masukin langsung, Mas. Gak tahan aku mau dientot kontol besar kamu…” suara Jiung makin parau. Keeho tersenyum puas. Kalau nggak mikirin Shota yang bisa tiba-tiba aja muncul, Keeho pengen banget bermain lebih lama dengan tubuh Jiung yang tak berdaya di rengkuhannya ini.

Keeho masukin kontolnya perlahan. Meski udah sange sampe ubun-ubun, Keeho tetap hati-hati saat menekan masuk. Kepala kontolnya yang terlalu besar dan tumpul itu menabrak lubang Jiung.

Jiung memejamkan matanya dan sedikit menunggingkan pantatnya agar dapat membantu jalan masuk kontol Keeho.

“Anjing…sempit banget lu. Jarang dipake ya…”

“Pake aku sampe melar, Mas Jiung,” Jiung makin menekan pinggulnya ke paha Keeho. Udah gatel banget lubangnya minta disodok kenceng sama kontol besar Keeho.

“Ah…” kontol Keeho rasanya nikmat banget diremat-remat padahal belum ada masuk setengahnya.

Jiung memejamkan matanya saat kontol Keeho bergerak semakin jauh di dalam dirinya. Rasanya sangat penuh dan hangat. Keeho sengaja gak mau gerak dulu. Masih menikmati rematan lubang pantat Jiung yang sempit. Gawat, bisa-bisa dia bucat sebelum sempat ngegenjot.

Lidah Keeho memberi jejak basah di sepanjang punggung Jiung, membuat si cantik terlena sebentar, sebelum ia mundurin dikit pinggulnya, dan menghentak kontolnya kuat-kuat. 

“Ahhh...” Jiung mendesah nikmat dan sakit menjadi satu. Dalem bangat. Keeho langsung ngegenjot kencang sambil meremat pantat Jiung. Jujur aja Keeho tuh aslinya bukan tipe grasak-grusuk gini. Dengan latar suasana hutan dan sungai yang menenangkan, agenda ngentot mereka mestinya agak dramatis dikit. Bayangin aja suara desahan dan ceplak ceplok kulit mereka beradu dengan suara kicauan burung dan aliran air sungai yang syahdu.

Tangan Keeho meraba-raba perut dan tete Jiung yang rata, namun putingnya luar biasa tegang minta dipuaskan juga. Sama keeho, dada itu diremasnya cukup kenceng sampe punggung Jiung melengkung. Gak tau deh itu reaksi enak apa sakit. Satu tangan Keeho menarik kepala Jiung untuk menoleh kepadanya melalui bahu. Gila Keeho makin sange lihat muka Jiung yang udah merah parah dengan air mata mulai meleleh di sudut matanya.

“Sakit ya? Apa gue cabut aja nih kontol dari memek elu?” tanya Keeho. Lagaknya aja mau nyabut, tapi pinggulnya tetep aja ngegenjot.

“Genjot aku terus, Mas Keeho…. M-m-mentokin… yang kence…ah…remes puting aku…”

“Kaya gini…” Keeho mempercepat sodokannya seraya memilin kedua puting Jiung. Ditambah lagi giginya mulai ikut main dengan memberikan gigitan-igitan kecil di bahu Jiung.

“AH….AH……” Kepala kontol Keeho tepat mengenai prostat Jiung, mengirim gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhnya.

Suara desahan Jiung bikin Keeho makin semangat menggenjot. Gerakannya makin liar dan kasar. Satu kaki Jiung diangkat ke arah pahanya buat memperdalam sodokannya ke lubang pantat Jiung yang makin enak aja berkedut-kedut memijat batang kemaluan Keeho.

“Aku mau keluar…” Jiung sesak dengan tumbukan kontol Keeho di prostatnya.

“Sabar ya, sayang… bareng aku… bentar lagi…” tangan Keeho mengocok kontol Jiung yang udah merah tegang dan siap menyemburkan peju itu.

“G-gak…b-isa…. A-aku…ah…”

Badan Jiung bergetar hebat dan pejunya pun muncrat kemana-mana. Mengenai batu di depannya. Tumpah ruah ke dalam air, lalu jadi rebutan ikan-ikan kecil di bawah sana.

“AH…AH…” Tahu lawan mainnya udah muncrat duluan, Keeho gak peduli dan makin semangat menekan kontolnya.

“Di dalem aja. Aku…ah…. gak mau…b-erbagi peju Mas Keeho…s-ama ikan...”

Rasanya Keeho pengen ketawa ngakak tapi gelombang kenimatan itu hampir tiba. Keeho mempercepat gerakannya. Semakin mendekap erat pinggang Jiung sambil tak henti-hentinya menjilati bahu si Cantik. Dinding anal Jiung semakin mengetat dan menjepit erat kontol Keeho tanpa ampun. Beberapa detik kemudian, Keeho memberikan hentakan terakhir dan gelombang nikmat itu pun tiba.

“Ahhh….” Sesuai keinginannya, Jiung dapat merasakan sperma Keeho menyembur begitu banyak di dalam lubang analnya.

Badan Jiung masih bergetar, nafasnya tercekat. Lemes, dan kakinya mendadak lupa berfungsi. Rasanya lebih melelahkan ngentot bareng Keeho daripada harus menyangkul satu hektar lahan. Badannya direngkuh Keeho dan kini keduanya bersandar pada batu besar yang jadi saksi mati perbuatan tak senonoh dua manusia tadi.

“Kasian deh, ikan-ikannya gak kebagian peju gue,” meski sama-sama lemes, tapi Keeho puas banget. Tak disangkanya kalau main sama akamsi bakal bisa seseru ini.

“Gue balik lusa,” kata Keeho.

“Shota udah bilang.”

“Besok main lagi ya.”

“Jangan ajak Shota.”

“Besok gue kurung Shota di kandang sapi.”

 

“BANG….. BANG KEEHO…. BANG JIUNG….. PADA KEMANA, BANG????”

***

 

Notes:

Makasih yang udah baca. Hope u guys enjoy it muachh. Let me know if you like it.