Work Text:
Dalam seloki terapit jari-jemari, soju itu terombang-ambing di tangan seorang Park Sohyun. Selaras ambiguitas bernama lain sebagai perasaan itu membuncah ruah kian melebihi segumpal berdebar di balik sesaknya dada juga dibuat goyah tak menentu arah oleh kenyataan di mana ia harus menempatkan diri malam ini.
Di bawah naungan atap tempat orang-orang bersambangan dengan hidangan dan berbotol-botol minuman yang para pecandu bilang bisa menjeda pengar akan tamparan kehidupan untuk beberapa teguk, ia sebagaimana adalah makhluk luar yang seolah tak seharusnya berada di sana. Menyelip dengan hening di perapitan gadis-gadis muda berisik akan canda tawa dan konyolnya cerita mereka di sela kunyah-mengunyah.
Park Sohyun lebih memilih bertemankan bungkam dalam ritual pengaguman kepada sang pemilik binaran seterang bintang mengawang-awang menyempurnakan cakrawala. Kekehan lolos dari bibirnya bukan untuk lelucon-lelucon yang riang dilontarkan, tetapi menjadi cerca akan ironi betapa pecundang ia di sebelah seorang Zhou Xinyu yang senantiasa menjadi pemenang. Ia, pemenang dari hati yang disangka mati. Namun, nirmala sang perempuan pujaan hadir menyalakan kehidupannya kembali.
Sayang, sanjungan tak terlekangkan untuk perempuan menawan tersebut tak lebih dari sekedar monolog dalam hati yang tak akan pernah terdengar. Bahkan apakah Zhou Xinyu bersama sukacita menghias cantiknya pernah tertuju melihat kepada pengecut seperti Park Sohyun?
Selama meja mereka kian ramai akan gairah masa muda, sedang Sohyun menjadi antonimitas yang sendu, mengamati Zhou Xinyu dan sepasang mata yang entah sudah berapa lama tak lagi mendarat kepada miliknya. Celakanya, sudah seperti hal tabu untuk berpaling muka dari cantiknya Xinyu yang tak jemu mengukir lengkung seindah sabit rembulan—meski bukan teruntuk Sohyun seorang.
Disugar surai legam yang menghadang haru biru wajahnya bersama frustasi. Diam-diam memerhatikan, Nien melumat daging favoritnya di sela kekhawatiran akan figur yang duduk paling ujung itu tak berkesudahan menuang alkohol pada gelas yang menjadi saksi nomor satu dari gemetar bibir Sohyun meratapi ketidakacuhan. Lebih tepatnya Nien nomor satu, sebagai sosok yang kerap menjadi ruang mengerti untuk Park Sohyun dan kasih tak sampainya.
Karena mau bagaimana pun Park Sohyun bukanlah orang yang bisa sembarangan.
Sesembarangan sehingga menjadi bahan olok-olokan baru teman-teman seperkumpulan yang memerhatikan pandangan si mabuk Sohyun loyal tertuju pada Xinyu. Kian intens sampai bidadari di sampingnya tampak malu-malu atau sejatinya malu yang berkandungkan definisi serupa mimpi buruk Sohyun. Entahlah, dia yang hilang akal ini tidak tahu.
"Sohyun-ah, kamu gapapa?"
Lembut suara itu mengalun untuk Sohyun, entah sekadar pelengkap hiburan mereka supaya kegirangan.
Namun, satu hal yang paling jelas, Park Sohyun tidak sembarangan. Bahkan ketika jari lentik Xinyu menyingkap helai rambutnya, mencemerlangkan sayu mata Sohyun untuk menikmati panorama yang membuatnya berani akui bahwasanya surga dongengan para religius itu tak lagi ada apa-apanya lagi.
Dalam rangkulan lengan Xinyu yang merambat perlahan, atas nama cinta yang dipatenkan Nien untuk segala kompleksitas rasa miliknya, ia serasa hampir mencairkan diri kepada pemilik peluk yang aroma tubuhnya semakin menambah mabuk. Namun, Park Sohyun tidak sembarangan.
"Hey, kamu mabuk berat, iya?"
Xinyu berusaha merebut gelas ditangan Sohyun, tetapi hal tersebut begitu menyebalkan. Karena dengan demikian Park Sohyun semakin tidak sembarangan, tetapi bangkit dari bantalan duduknya untuk memojokkan proporsi ideal Xinyu, sehingga tak ada lagi kesempatan bagi perempuan tersebut beranjak dari kungkungan seorang setengah sadar sepertinya. Detik berikutnya Park Sohyun seketika apik memposisikan diri di atas seorang Zhou Xinyu yang bergeming.
Tak mengindahkan mereka yang ber-wow ria menyimak adegan dari sosok yang biasanya penuh perhitungan untuk seluruh tindakan. Satu pun dari semua tak ada yang berbicara, tak ada yang menyela, dibungkam penasaran akan skema berikutnya sampai hidangan tak lagi menarik untuk dirasa. Untuk sekarang, kapan lagi bisa melihat Park Sohyun seberani ini. Dan Nien, menjadi yang paling lebar mengukir kemenangan di bibirnya.
Tidak ada yang sembarangan, apalagi Sohyun. Dalam keadaannya, ia hanya melakukan pengakuan lewat hangat dekapan di atas pangkuan di mana Sohyun selalu doakan suatu nanti bisa menjadi tempat dimana segenap kompleksitas cinta itu melebur dengan sendirinya, dengan lengan Xinyu semoga turut melingkari tubuh Sohyun yang akan selalu menjadi yang paling jujur.
Bsrsama linang air mata menggenang, Sohyun menangkup tepian wajah terpahat cantik perempuan lupa kata-kata berjarak seruas kelingking di bawah pandangan.
"Aku ... lihat aku, Zhou Xinyu."
