Work Text:
Manusia akan beradaptasi dengan lingkungannya untuk bertahan hidup. Itu adalah hal yang sudah mutlak; satu dari sekian ciri makhluk hidup. Maka dari itu, masa kejayaan vampir sudah jauh tertinggal beratus tahun silam. Perlahan-lahan, dunia yang dulunya didominasi makhluk-makhluk abadi kembali dikuasai makhluk temporal yang begitu jarang mencapai usia seratus tahun. Ketakutan dan teror akan makhluk superior berangsur hilang.
Dewasa ini, manusia sudah berhasil meraih bulan, menciptakan alat besar yang bisa terbang menembus awan, berkomunikasi tanpa surat seperti telepati yang dimiliki vampir, dan berbagai pencapaian lainnya. Tunduk akan kuasa vampir bukanlah satu-satunya pilihan bagi mereka. Manusia terus berkembang, beradaptasi untuk tetap hidup dan bebas. Perburuan manusia digantikan dengan perburuan vampir. Berbekal kemampuan berpikir untuk mencipta senjata dan lawan yang sepadan, vampir berhasil ditekan mundur pada zamannya.
Manusia sukses memaksa vampir kembali bersembunyi, kemudian hilang sepenuhnya dari permukaan bak tidak pernah hidup di muka bumi.
Kini, vampir tidak lebih dari makhluk khayal bagi para manusia. Seolah mereka hanyalah bagian dari legenda yang hidup dari mulut ke mulut, tak ubahnya seperti momok yang digunakan para rakyat kelas menengah ke bawah untuk menakut-nakuti anak mereka ketika menjelang malam.
Akan tetapi, tidak berlaku untuk beberapa kaum aristokrat yang mendamba keabadian. Bagi mereka, vampir adalah hal nyata dan kunci dari kekekalan. Mereka terus meneliti, mencari cara agar bisa lebih lama menikmati kekayaan tanpa henti.
Beberapa dekade telah berlalu sejak obsesi gila untuk melawan mortalitas itu dicetuskan. Memang belum ada hasil yang pasti untuk bisa hidup abadi, tetapi para peneliti elit mereka telah menemukan cara untuk memperpanjang usia. Hal itu bisa disiasati dengan menjadi donor darah bagi vampir. Pada dasarnya, manusia yang selalu haus akan pengetahuan, kekuasaan, dan kekayaan akan melakukan apapun agar bisa membuat dunia ada di dalam genggaman.
Xu Minghao adalah salah satu dari manusia-manusia itu. Darah konglomerat bercampur ningrat membuatnya mudah menghambur uang untuk kepentingannya. Bisnis di mana-mana, keluarga Xu menguasai pasar dunia. Tentu saja, Minghao enggan melepas privilese yang ia miliki dengan mudahnya. Apa arti usaha dan didikan keras yang ia lalui sejak kecil jika pada akhirnya harus mengalah dengan keberadaan temporalitas manusia?
Xu Minghao ingin hidup selamanya.
Ia tidak mau menyerah begitu saja pada kefanaan yang nyata.
Ia mengubur diri pada—selain pekerjaan—penelitian dan pencarian vampir yang dipercaya bisa memperpanjang umurnya. Dengan cara menjadi donor pribadi makhluk haus darah itu, imunitas manusia dipercaya bisa meningkat pesat. Ketika vampir memiliki donor darah manusia yang paten, sifat baka miliknya juga akan ditularkan pada sang manusia.
Ini membuat mereka bergantung kepada satu sama lainnya. Sebuah ikatan yang saling menguntungkan.
Maka darinya, Minghao berakhir di sebuah lelang ilegal dunia bawah; dunia gelap eksklusif milik orang kaya yang tidak tersentuh hukum sama sekali. Hanya sejumput dari strata manusia yang bisa menjangkau tempat ini. Privasi dijaga ketat, biaya masuk yang tidak sedikit, dan berbagai barang—atau orang, makhluk—ditawarkan. Siapa pun bisa membeli apa pun asal berani mengeluarkan cukup uang.
Setengah wajahnya tertutup topeng. Pertama kali mendengar peraturan itu, Minghao sedikit mengejek geli karena pelelangan menjadi terasa seperti sebuah pesta topeng. Akan tetapi, kemudian, ia merasa wajar dan mulai paham bahwa aturan itu memang perlu ditegakkan.
Satu per satu barang mulai dikeluarkan. Berlian, hewan langka yang statusnya seharusnya dilindungi, manusia—kebanyakan wanita dan Minghao mulai merasa mereka semua yang menawar menjijikkan—yang diperuntukkan perbudakan, sampai barang tidak masuk akal seperti segumpal rambut milik seseorang yang dulunya terkenal.
Minghao harus menahan segala kemuakkan yang mulai menyeruak keluar. Ia menunggu satu hal yang menurut kabar burung akan hadir sebagai barang utama dalam pelelangan kali ini. Setelah barang receh—bagi Minghao—selesai dilelang, sang pembawa acara mempersilakan staf mereka membawakan masuk sebuah kotak tertutup kain.
“Terima kasih untuk tetap di sini sampai penghujung acara! Selanjutnya, kami memiliki sesuatu yang disinyalir bisa membawa keabadian. Dengan membuat diri menjadi donor darah pribadi mereka, niscaya kekekalan akan jadi milik kalian semua!” sang pewara berseru meriah. Kemudian, ia bergerak menyibak kain yang menutupi kotak itu.
Minghao menegakkan punggung begitu melihat isinya. Tubuhnya jadi condong ke depan setelah berapa lama menyandar. Matanya menangkap sosok menyerupai manusia setelah kain itu disingkirkan. Sebuah kandang yang bahkan tidak cukup untuk meluruskan kaki, membuat sosok itu meringkuk mengenaskan. Kedua netra Minghao terus memperhatikannya, tidak melepas pandang barang sedetik pun.
Sampai kemudian, dwi manik dari balik jeruji itu menatapnya balik. Nyalang dan garang, meski tubuhnya terlihat lemas dan menyedihkan. Padahal, sosok itu tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, ia berani memasang pandang sangar di depan sang tuan yang punya kendali penuh atas kuasa.
Senyum Minghao tersungging miring, ia seratus persen menginginkan itu.
“Kami perkenalkan, makhluk yang sudah lama tidak menampakkan diri setelah kemunduran bangsa mereka karena digempur umat manusia! Salah satu dari bukti bahwa manusia tidak akan pernah kalah dari apapun, termasuk dari makhluk yang kini serupa mitos dan legenda! Tapi, kami berhasil menangkap salah satunya. Bukti bahwa ia adalah vampir yang otentik juga akan disertakan usai kesepakatan diraih,” pewara itu kembali memulai tawarannya. “Inilah, vampir!” ia berseru, kemudian menunduk sembari sedikit mundur untuk memberikan spot panggung untuk sekotak jeruji.
Semua orang di tempat heboh. Beberapa berdiri untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas, beberapa lainnya berbisik pada pelayan dan sebelahnya. Tiap-tiap manusia di sana antusias atas makhluk langka yang dulunya mendominasi dunia.
Minghao terkekeh kecil, jemarinya menyentuh bibir ringan. Kini, vampir diperlakukan seperti hewan peliharaan yang eksotis. Tidak jauh berbeda dengan perlakuan yang diterima satwa-satwa langka yang tadi dipamerkan.
Setelah lelang dibuka, penawaran terus-terusan melonjak. Ada pula yang lompat bid tanpa tanggung-tanggung. Ratusan juta sudah dilewati, persaingan kini berganti ke garis miliar. Puluh, ratus, semua berlomba menghambur dolar demi keabadian. Tentu, tak terkecuali Minghao. Ia sesekali lompat bid dengan angka fantastis yang membuat hitung mundur hampir selesai, sampai kemudian ada yang berani menantangnya dengan menaikkan penawaran. Perseteruan kekayaan itu berlangsung sengit, tapi tetap diakhiri dengan kemenangan Minghao.
Pelayan pribadinya sedikit mengerut kening saat palu lelang diketukkan beberapa kali. Mungkin, ia sedikit terkejut dengan uang yang baru saja dikeluarkan oleh tuannya dalam sekali duduk. Tidak lama setelah itu, langsung diumumkan bahwa yang berhasil membawa pulang gelar pemilik vampir adalah penawar nomor delapan—identitas pemilik nomor sepenuhnya dirahasiakan.
“Uang selalu bisa dicari,” kata Minghao setelah acara ditutup oleh pewara. Ia berdiri, merapikan jasnya yang tertekuk tidak rapi selama duduk tadi. “Apalagi kalau umurmu cukup panjang untuk itu. Mereka akan kembali lagi nanti.”
Sosok itu berambut terang dengan panjang yang berantakan, terlihat sekali tidak diurus dengan benar. Sorot matanya masih nyalang dan garang, menatap balik Minghao terang-terangan. Padahal, kedua tangannya saja masih tertahan dengan borgol berbahan silver di belakang. Minghao tidak tahu pasti bagaimana cara kerjanya sampai bisa menahan makhluk yang disinyalir seperti manusia super itu. Dari yang Minghao ketahui, ia menduga kalau borgol itu sudah dijampi menggunakan air suci atau semacamnya. Sosok itu tidak bisa berbuat banyak, hanya duduk di atas karpet sembari mendongak. Terlihat lemas dan tidak berdaya, meski dwi maniknya mengobar dan menyala.
“Kamu punya nama?” Minghao bertanya dengan kaki yang menyilang. Ia duduk di atas kursi persis di hadapan peliharaan baru miliknya. “Ah, iya. Kamu bisa bicara?”
“Kenapa aku harus jawab pertanyaanmu?” Suara akhirnya keluar dari bibir pucat yang sedari tadi diam.
Oh, baguslah kalau bisa diajak berkomunikasi. “Karena kamu milikku sekarang. Aku tuanmu.” Minghao mengangkat dagu, mendeklarasikan cap kepemilikan.
Sosok itu memalingkan wajah. Minghao bisa melihat tulang selangka yang menonjol di antara kain baju lusuh milik makhluk itu. Ia menunggu beberapa waktu untuk mendengar jawab, tapi tak kunjung datang jua. Mungkin, vampir itu tahu kalau masa emasnya memanglah sudah tidak ada dan manusia di depannya ini benarlah tuannya.
“Masa keemasan kaummu sudah lama hilang. Kamu sudah tidak bisa berbuat banyak sekarang. Manusia sudah jauh di atas vampir.” Minghao kembali membuka suara pada akhirnya. “Aku yakin kamu tahu betul soal itu. Lihat, kamu duduk menyedihkan di hadapanku. Aku yakin pendahulumu tidak akan pernah membayangkan pemandangan ini dulu. Di dunia yang sekarang ini, masa lalumu sudah tidak ada harganya.”
Desis kesal keluar dari sang vampir, kini pandangnya kembali menyambar tatap Minghao yang memandang rendah dirinya.
“Jadi, berhentilah melawan dan jangan buat aku turut susah!” Minghao menitah.
Tubuh Minghao menegak, ia berdiri dan mengambil langkah mendekat pada hal yang baru saja membuatnya mengeluarkan ratusan miliar itu. Berjongkok, lalu tangannya terangkat, Minghao menyentuh wajah, membelai sampai rahang. Ia berhenti di dagu, memaksa sang vampir membuka mulutnya.
“Jangan keras kepala,” kata Minghao pelan serupa gumaman.
Taring terlihat jelas di hadapan netra, Minghao menyentuh salah satunya. Dengan menekan kuat gigi runcing itu—lebih runcing dan tajam dari milik manusia, Minghao sengaja melukai ujung ibu jarinya. Cukup dalam hingga membuat ia sedikit meringis, tapi masih bisa ditahan. Minghao biarkan setetes darahnya meraih lidah peliharaannya, membuatnya mencicipi rasa dari tuan barunya.
Jakun itu bergerak, terdengar suara telan berat di telinga Minghao. Dengan jarak yang begitu dekat, Minghao juga bisa merasakan pandang yang terpaku pada dirinya. Ia mengalihkan tatap, menuju ke mata yang memandang lekat dirinya. Minghao bisa merasakan napas sang vampir memburu—sesungguhnya, ia juga tidak tahu apakah vampir perlu bernapas atau tidak—di hadapannya. Dapat ia rasakan netra yang menatapnya nyalang tadi seolah mengkilap sekilas, memandangnya dengan rasa haus yang beringas.
Jari Minghao masih ada di permukaan taring tajam itu, kemudian digerakkan turun. Minghao menyentuh indra pengecap milik sang vampir dengan lukanya. Ia dapat merasakan ada sapuan buru-buru di dalam sana.
“Lihat? Kamu juga butuh aku, berhentilah melawan,” ucap Minghao seolah berhasil membuktikan hal yang dipikirkannya.
Sang aristokrat menarik jarinya paksa meski vampir itu sedang gencar menghisap dan menjilatinya. Minghao membawa luka ibu jarinya mendekat ke wajahnya, memperhatikan seberapa dalam luka yang baru saja ia sebabkan dengan sengaja. Sedikit mengernyit ketika menyadari ukuran sakitnya tidak seberapa dibanding luka yang ada. Akan tetapi, ia tidak ambil pusing. Mungkin, memang begitu cara kerjanya. Kemudian, lidah Minghao meraih ibu jarinya. Sedikit penasaran akan rasanya.
Ah, apa enaknya?
“Jadi,” Minghao menjeda sembari mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka sisa basahnya, “siapa namamu?”
“Junhui.”
“Oh, Jun,” ulang Minghao dengan menyingkat nama yang baru saja ia dengar. “Aku Minghao. Xu Minghao. Aku tuan barumu, tapi kamu tidak perlu repot menggunakan honorifik denganku. Aku tidak peduli. Bagaimana pun, posisiku akan tetap berada jauh di atasmu.”
Vampir itu—kini Minghao tahu namanya Junhui—menjawab dengan cih singkat; ia tidak bisa mengelak.
“Senang bisa memilikimu.” Minghao kembali bersuara sembari memposisikan diri lagi di sofa, sebuah basa-basi. “Tidak ada penelitian ilmiah yang pasti soal kaummu, hanya artikel lawas terkaitnya, serta desas-desus dari satu mulut ke mulut lainnya. Jadi, beri tahu aku apa yang kamu tahu. Kita saling membutuhkan di sini.”
Junhui menegakkan punggungnya. Kini, mata itu tidak menyambar milik Minghao, melainkan fokus pada ibu jari Minghao yang bergerak bebas di udara.
“Kalau kamu mau darahku," Minghao menjeda kalimatnya, ia kembali menampilkan luka yang masih dirembes merah kental di sana, “kamu harus bekerja sama denganku.”
Hela napas keluar dari mulut Minghao. Sang vampir kembali tidak bersuara, hanya tatap penuh haus yang Minghao dapati. Ia memutuskan untuk berdiri lagi. “Kamu harus mandi, nanti aku panggilkan orang untuk buka borgolmu dan merapikan rambutmu. Kamu lusuh dan bau,” ia berkata, lalu berjalan ke arah pintu. Mengalih pandang dari Junhui, meninggalkan vampirnya yang masih terduduk di ruangan itu.
Setelah memerintahkan seseorang untuk mengurus vampir kurus dan menyedihkan itu, Minghao kembali ke ruangannya. Lagi-lagi membenamkan diri ditemani matahari yang juga turut tenggelam seiring malam menjelang. Selain pekerjaannya, Minghao masih berusaha mencari-cari teori, cerita, atau penelitian terkait peliharaan barunya.
Sejauh yang ia dapat—entah itu betulan fakta atau hanya bualan manusia semata, para vampir cenderung memiliki donor darah pribadi pada zaman kejayaannya. Terutama para bangsawan yang berdarah murni, mereka tidak lagi repot berburu manusia di gang-gang sempit sembari menggoda manusia agar jatuh sempurna dalam perangkapnya seperti vampir kelas bawah. Dulu, manusia adalah peliharaan para vampir. Akan tetapi, kini yang terjadi justru sebaliknya. Minghao berhasil membeli Junhui dari pelelangan, menjadikannya peliharaan yang mau tidak mau harus patuh pada sang tuan.
Manusia yang menjadi pemasok darah pribadi itu dikatakan akan memiliki umur yang panjang, jauh melebihi rata-rata umur manusia. Ini dikarenakan umur abadi yang dimiliki kaum vampir turut ditularkan pada mereka. Mereka juga jadi berumur panjang untuk mengimbangi usia tuannya. Hal ini dinilai praktis, makanya para bangsawan vampir memiliki manusia peliharaannya masing-masing. Dulunya, mereka disebut dengan panggilan fana, sesuai dengan sifat eksistensi mereka yang sementara.
Tanpa mengetuk pintu, Minghao masuk begitu saja setelah membuka kunci ruangan di hadapannya. Hari sudah malam. Minghao telah mengganti pakaian dengan piyama tidur berkancing yang santai. Tanpa permisi, ia mendudukkan diri di pinggir kasur sebelah Junhui. Vampir itu duduk tegak dan masih tidak bicara, hanya memperhatikan sang tuan yang mengambil tempat di sebelahnya.
“Kalau dulunya kalian menyebut manusia donor kalian sebagai fana, apa kini aku harus menyebutmu sebagai baka?” Pertanyaan terlontar dari mulut Minghao dengan sedikit sarkasme di baliknya. Mungkin, sesi wawancara atas nama rasa penasaran akan dimulai sesaat lagi. “Karena sekarang, kamu peliharaanku dan lawan kata dari fana adalah baka. Tapi, itu menggelikan. Apa kamu sadar kalau kaummu sangat menggelikan dan sangat payah dalam memberi nama?”
“Memangnya aku masih punya hak untuk berpendapat di sini?”
“Oh! Akhirnya kamu bicara lagi. Kukira ada masalah dengan mulutmu,” kata Minghao. Ia duduk lebih dekat dengan sang vampir. Menaikkan kedua kakinya, menghadap Junhui seutuhnya. “Kamu darah murni? Bangsawan? Atau vampir kasta rendah yang liar?”
Kening Junhui mengernyit sesaat. Ini agak berbeda dari impresinya pada tuan yang tadi. Impresi pertama atas tuan yang membelinya adalah aristokrat sombong yang arogan. Mentang-mentang dengan mudah menghambur uang ratusan miliar, manusia sudah berani mendamba hal yang mutlak milik kaumnya?
“Memangnya itu penting?” Junhui balik melempar tanya.
“Tentu saja! Bukannya semakin murni darahnya, semakin kuat mereka?”
“Hampir ben—”
Sebelum Junhui berhasil menyelesaikan kalimatnya, Minghao telah mempersempit jarak di antara mereka berdua. Junhui didesak sampai punggung dan kepalanya menyentuh sandaran kepala di belakangnya. Satu tangan Minghao diletakkan di pundak Junhui, sedangkan satu lainnya kembali meraih rahang vampirnya. Luka di ibu jari tadi lagi-lagi menyentuh bibir bawah itu. Ia setengah berdiri di atas dua lutut yang menyentuh kasur, keduanya mengapit paha Junhui di antaranya.
“Buka,” pinta—lebih terdengar seperti perintah—Minghao. Ia mengapit dagu Junhui di antara ibu jari dan telunjuknya.
Aroma anyir itu tercium lagi oleh indra sensitif milik Junhui. Meski sudah tidak basah akan darah, Junhui masih bisa merasakan bau menggoda yang memasuki hidungnya. Bagaimana pun juga, indranya berkali-kali lipat lebih peka dibanding milik manusia. Maka, dimabuk oleh wangi amis yang manis, Junhui menuruti titah tuannya. Membelah katupan bibirnya, ibu jari Minghao kembali masuk ke rongga mulutnya seketika. Ditekuk usai melewati gigi seri milik Junhui, Minghao menarik wajah indah itu lewat rahang bawahnya. Lebih dekat dan semakin lekat.
“Hm ...,” gumam Minghao terdengar. Netranya tidak lepas dari rentetan gigi putih di depannya. Ia menganalisa; Minghao mempelajarinya.
Junhui menelan salivanya resah. Luka milik Minghao terlalu menggoda untuk tidak dijamah lidah. Kedua tangannya terangkat, meraih pinggang Minghao yang ada di hadapan sebab tuan itu mencondongkan tubuh ke arahnya. Junhui membawa Minghao lebih dekat, ia menghapus jarak yang disisakan Minghao di antara mereka. Anyir yang merekah di mulutnya ia raih dengan lidah, dibelai lembut sebelum satu tangannya meraih pergelangan milik Minghao yang bersarang di dekat wajah. Junhui memandu pergelangan tangan itu agar semakin rapat, membawa ibu jari Minghao semakin masuk. Belai berubah jadi sesap, memaksa cairan merah kembali merembes keluar dari luka yang mulai mengering.
“Junhui!” Minghao berseru. Sedikit memekik akan usap dan hisap beringas yang ia dapatkan di ibu jarinya. “Buka!” kata Minghao lagi, mengulang titah sebelumnya. Ia menarik paksa rahang bawah itu sampai terbuka, membebaskan jarinya dari sana.
“Jadi, begitu caramu menggoda,” komentar Junhui sembari membiarkan tangan Minghao ditarik pemiliknya. Ia mengembalikan telapaknya ke pinggang ramping di hadapannya.
“Aku bukan mau menggoda!”
Tatap Junhui yang seolah tidak percaya—memang tidak percaya—berhadapan dengan tatap tidak terima milik tuannya. “Terlihat seperti itu bagiku,” jawab Junhui.
“Aku cuma penasaran sesignifikan apa perbedaan taring kaummu dengan manusia,” jelas Minghao. “Buka lagi! Dan jangan lakukan apapun sebelum aku selesai melihatnya.” Kini, perintah tambahan diberikan.
Diraihnya kembali pergelangan tangan Minghao yang tidak memiliki luka di jemarinya. Junhui lantas menyapu telapak Minghao dengan miliknya. Memandu jari telunjuk untuk sampai di depan bibirnya. “Bedanya jauh,” kata Junhui sebelum menyentuhkan ujung jari telunjuk Minghao pada taringnya.
“Oh ….” Mulut Minghao membulat. Ia bisa merasakan ujung tajam di permukaan kulitnya. “Ternyata setajam ini?” gumamnya. Tadi, sewaktu ia melukai ibu jarinya sendiri, Minghao tidak terlalu memperhatikannya sebab teralihkan oleh perih yang terasa. Perilakunya tadi juga dipicu adrenalin sementara—ia sedikit bersemangat karena punya peliharaan baru di rumahnya. Minghao lantas mencoba merasakan ujung taring miliknya dengan lidah sebagai perbandingan. Begitu tumpul. Mustahil ia bisa mengoyak kulit dengan mudahnya. Benar-benar berbeda jauh seperti yang dikatakan vampirnya baru saja.
Junhui menjauhkan jemari yang menyentuhnya—agak sulit berbicara dalam posisi tadi—tetapi tidak melepaskan pergelangan tangan di genggamannya. “Mempermudah kami mengoyak kulit manusia,” timpal Junhui.
Sedikit mengerikan ketika membayangkan lehernya akan berlubang tiap kali sang vampir meminum darahnya, keberanian Minghao jadi sedikit tergoyahkan. Hal-hal seperti itu tidak terasa seberapa menakutkannya sebelum ia berhadapan dengan vampir secara nyata. Minghao menggunakan tangan satunya untuk meraih leher, menyapu kulitnya sendiri di sana. “Taringmu akan menembus kulitku,” kata Minghao, entah sebagai pertanyaan atau pernyataan.
“Ya,” sahut Junhui. “Tidak akan terlalu sakit.”
“Bohong,” tukas Minghao cepat.
“Kamu menyuruhku bekerja sama dan memberi tahu apa yang aku tahu.”
“Mustahil kalau tidak terlalu sakit,” kukuh Minghao. Baginya, tidak mungkin jika dua taring tajam itu tidak menimbulkan rasa sakit yang sangat saat menembus lehernya.
“Manusia benar-benar tidak tahu apapun, ya? Padahal, aku yakin pendidikanmu tinggi.” Terdengar nada mengejek di kalimat Junhui.
Minghao sedikit kesal mendengarnya. “Jangan asal bicara. Kaummu sudah tidak ada apa-apanya di hadapan manusia.”
Memang benar. Vampir telah dipukul mundur dan menghilangkan dari permukaan. Menghapus jejak mereka sehingga hanya segelintir manusia yang tahu seluk-beluknya. Itu juga jika mereka tidak ditangkap oleh maut yang senantiasa memata-mata. Sebab manusia begitu rapuh di hadapan kematian, rahasia-rahasia dan berbagai kebenaran soal vampir juga turut terkubur perlahan-lahan. Sekarang, vampir tak jauh beda dari folklor hiburan manusia. Semuanya hanya berdasarkan cerita yang sudah simpang siur kebenarannya.
“Tetap saja, kamu tidak tahu apa-apa soal kami, ‘kan?” Junhui menantang. “Biarkan aku minum darah manusia, nanti akan aku beri tahukan beberapa hal,” ia menyarat.
Tatap Minghao masih dengan skeptis menghujaninya.
“Tidak harus darahmu, aku tidak peduli milik siapa,” tambah Junhui.
“Itu akan bertentangan dengan tujuanku membelimu di pelelangan!” Minghao protes. “Untuk apa aku menebusmu beratus miliar jika yang mendapatkan keabadian adalah orang lain? Aku tidak akan sudi membagi apa yang harusnya jadi milikku sendiri.”
“Kalau begitu, biarkan aku minum darahmu.” Junhui membawa pinggang Minghao turun, membuat sang tuan duduk di atas pahanya. Ia meluruskan kaki, sedangkan tangannya terangkat, menuju ke leher sang manusia untuk merasakan detak di sana. “Di sini. Biarkan aku minum darahmu.”
Minghao terlalu fokus pada percakapan mereka untuk menyadari ia kini terduduk di pangkuan vampirnya dengan leher yang baru saja dibelai. Ia terkekeh singkat mengejek, memandang Junhui dengan senyum miring yang terukir di wajahnya. “Kamu harus memohon untuk itu.”
Sudah lama semenjak Junhui meminum darah manusia—selain dari luka kecil milik Minghao tadi—terakhir kali. Vampir memang bisa hidup dengan hal lain seperti darah dari hewan mamalia, Junhui berhasil bertahan di ambang hidup karenanya. Akan tetapi, mustahil untuk benar-benar meredakan haus yang bersarang di kerongkongan mereka. Tubuh vampir diciptakan untuk mencerna darah manusia, mereka tidak akan terpuaskan sepenuhnya jika hanya mengonsumsi sumber makanan pengganti. Akibatnya, tubuh Junhui jadi tidak dalam kondisi prima. Belum lagi, ia sempat mencicipi rasa serupa surga dari luka milik Minghao tadi, hausnya jadi semakin tidak terkira.
Junhui butuh lebih, ia ingin lebih banyak lagi.
“Tolong biarkan aku minum darahmu.” Kini, Junhui meminta. Ia menurunkan tangan dari lekuk leher sang tuan.
“Kamu sebut itu memohon?” Kedua alis Minghao terangkat. “Jauh dari kata cukup untuk membuatku menurutimu.”
Gigi Junhui menggigit ringan bibir dalamnya, menyalur kesal di sana. Harga dirinya sedikit terluka karena disuruh memohon pada seorang fana, tapi ia sendiri tahu ego yang tinggi itu sudah tidak ada artinya.
“Aku mohon, tolong biarkan aku minum darahmu,” Junhui menjeda sebentar, terlihat menimang hal yang akan ia katakan, “Tuanku,” lanjut Junhui akhirnya. Meski enggan, tetap ia katakan jika nantinya itu bisa memberinya kenikmatan.
Senyum puas tersungging di wajah Minghao, ia menggulung bibir bawahnya ke dalam. “Sayang sekali, tapi aku masih belum ingin memberikan darahku.”
Sungguh, Junhui ingin sekali rasanya membanting tubuh ramping yang ada di atas pangkuannya itu. Bukan hal yang sulit untuk benar-benar melakukannya, Junhui bisa dengan mudah mengirim punggung Minghao untuk membentur tembok yang cukup jauh di belakangnya. Junhui sudah menurunkan harga diri serendahnya, mengakui bahwa Minghao adalah tuannya. Dengan kata lain, ia mendeklarasikan bahwa kini ia adalah peliharaan manusia. Akan tetapi, Minghao tetap tidak membiarkannya menghapuskan rasa hausnya.
“Kamu takut,” cibir Junhui. “Kamu takut karena menurutmu akan terasa sakit. Kamu tidak berani mengambil risiko untuk keinginanmu sendiri.”
Minghao mendecak lidah dengan keras. “Tidak ingin merasa sakit itu wajar,” bela Minghao atas dirinya sendiri.
“Sudah kubilang, tidak akan terasa sakit. Dengar, Xu Minghao.” Kali ini, Junhui menyebut nama lengkap tuannya. Minghao sendiri yang mengizinkannya memanggil tanpa honorifik, maka Junhui benar-benar melakukannya. “Air liur kaummu, para manusia, mengandung opiorphin dalam jumlah kecil. Itu bekerja sebagai penghilang rasa sakit dan enam kali lebih efektif dari morfin. Kamu sungguh tidak tahu itu?”
Yang ditanya hanya diam, memberi tatap: lalu kenapa?
“Milik kaumku tentu saja lebih kuat dari milik kaummu,” lanjut Junhui. “Makanya, sudah kubilang, tidak akan terlalu sakit karena salivaku juga akan menyapu luka dari taringku.”
Masih dilayangkan tatap skeptis oleh Minghao atas penjelasan yang begitu masuk akal dari vampirnya. Kalau vampir disebut sebagai manusia super karena indra, kekuatan, serta umurnya jauh melebihi manusia, tidak akan mengherankan apabila seluruh tubuh mereka menjadi lebih canggih, ‘kan? Itu menjadi sangat masuk akal.
“Bukannya tadi kamu sudah mencobanya sendiri?” tanya Junhui membicarakan luka di ujung ibu jari milik Minghao yang disebabkan dirinya sendiri. “Tapi, kalau kamu masih tidak bisa percaya juga, kita bisa gunakan cara lain lagi untuk membuktikannya.”
Dia mulai banyak bicara, pikir Minghao usai mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut vampirnya. Luka tadi memang tidak seberapa sakit rasanya, jadi Junhui bukannya sepenuhnya tidak bisa dipercaya. “Cara lain apa?”
“Ini adalah kulit manusia yang paling tipis,” kata Junhui sembari membawa ibu jarinya ke salah satu kelopak mata Minghao, memaksa sang pemilik menutupnya sesaat. “Tapi, mustahil jika aku menggigitmu di sana. Maka, pilihan lainnya, ada di sini.” Ibu jari Junhui pindah, turun lagi ke bibir Minghao. Aku bisa menggigitmu di sini lebih dulu kalau kamu tidak percaya. Kulit yang menutupi bibirmu juga begitu tipis. Akan memerlukan waktu singkat untuk benar-benar mengoyaknya.”
“Berhentilah menggunakan kata mengoyak!”
“Baik. Menembusnya,” ralat Junhui patuh seketika. “Akan mudah menembusnya.”
“Kalau kalimatmu terbukti tidak benar, aku tidak akan memberimu darah apapun selama dua minggu,” ancam Minghao.
“Jadi, kamu setuju,” simpul Junhui sebab Minghao tidak benar-benar menolak usulnya.
Ujung ibu jari Junhui yang sudah pindah dari kelopak ke bibir Minghao itu menyapu permukaan kulit tipis itu singkat. Begitu tipis hingga menampilkan warna merah muda di sana. Terlihat penuh dan menggoda, bibir Minghao serupa buah ranum yang siap dikulum.
“Buka.” Kali ini, Junhui yang memberi titah, persis seperti Minghao sebelumnya. Junhui mendorong turun rahang bawah Minghao hingga mulutnya sedikit terbuka. “Minghao, buka lebih lebar lagi.”
Lidah Junhui menyapu bibir dalam milik Minghao, sebelum mendaratkan salah satu taring miliknya di sana. Menajam, siap menembus kulit tipis yang membalut rapat tiap mili dari plasma di dalamnya. Minghao sedikit merintih sewaktu taring Junhui sudah menorehkan luka baru di permukaan kulitnya. Sedangkan Junhui, vampir itu tampak menikmati waktunya. Menyesap sedikit untuk kembali merasa darah manusia yang bisa menghapus rasa haus yang tidak terkira. Junhui menelan merah yang tidak seberapa keluar dari lubang kecil yang disebabkan taringnya, kemudian kembali meraih luka dengan lidahnya. Menyeka permukaannya, Junhui membiarkan salivanya bekerja untuk meredakan perih yang tidak seberapa.
“Lihat? Sudah kubilang, tidak akan terlalu sakit,” kata Junhui setelah menjauhkan diri dari wajah Minghao.
Tangan Minghao terangkat, membawa ibu jarinya kepada sumber sakit yang ia rasa. “Memang tidak seharusnya aku percaya. Jelas-jelas ini sakit, apanya yang tidak terlalu?!” hardik Minghao kesal. Ia memegangi bibirnya dari luar, nyeri itu makin terasa dari dalam.
“Ah. Itu berarti masih kurang,” simpul Junhui. “Makanya, buka yang lebar. Buka mulutmu untukku, Tuanku.” Junhui kembali mengejar bibir Minghao setelahnya. Menyambar untuk menyesap bagian bawah yang begitu menggoda dengan merah.
Bibir mereka bersatu kembali, kali ini tanpa taring yang menyertai. Minghao bisa merasakan dingin bibir sang vampir di atas miliknya, memagut secara menyeluruh tanpa jeda. Napas Minghao jadi tercekat di tenggorokannya, pasokan oksigen untuk paru-parunya berhenti sementara. Kemudian, sensasi dingin itu kembali dirasakan oleh bagian tubuh Minghao lainnya. Kali ini, di lidah. Kemudian, detik berikutnya, di tengkuknya. Minghao dibuat lebih dekat lagi, mulutnya terbuka lebih nganga untuk menerima lidah milik Junhui yang menyambangi rongganya dengan paksa.
“Nnh—” Minghao bermaksud mengeluarkan protes dari mulutnya, tetapi yang keluar justru sebuah rintih yang tidak terbaca. Tubuhnya ditangkup peluk Junhui sepenuhnya, membuat jarak mereka terkikis tidak bersisa. Lengan Junhui melingkar di punggungnya, satu lagi masih senantiasa menahan tengkuknya agar tidak kembali memperlebar jarak di antara mereka.
Sang vampir enggan melepas lumat, justru semakin gencar mengejar nikmat dengan giat. Junhui mengecap tiap-tiap sudut mulut Minghao dengan lidah serta sesap, bak tengah memuja setiap mili di dalamnya. Hausnya jauh dari kata terpuaskan. Akan tetapi, selama ia masih bisa mengayap rembes darah dari luka, Junhui menelan setiap tetes yang bisa didapatnya. Ujung lidahnya menemui rentet gigi Minghao satu per satu seolah menyapa, lalu menuju pipi bagian dalam sebelum kembali bergesekan dengan indra pengecap sang lawan. Junhui menyalurkan sebagian besar hasrat, sampai-sampai tangannya kembali beri tekanan pada tengkuk sang tuan di pangkuan. Ia tetap ingat tujuannya kembali menyambangi bibir ranum di depannya, jadi Junhui menyapu luka yang sedikit menganga dengan saliva dan membuat basah mengalir di setiap celah rongga. Ia yakin, setelah ini, perihnya akan reda.
Tidak terlalu ada hal yang bisa Minghao lakukan sekarang. Tubuhnya terlalu lemas untuk melawan, seolah energinya turut hilang bersamaan dengan tiap hisap dan sapuan yang vampirnya berikan. Minghao hanya bisa melampiaskan debar hebat di jantungnya dengan meremas dan menarik baju sang lawan dengan mata terpejam. Tiap sentuh dari Junhui begitu dingin di permukaan kulitnya, tetapi Minghao justru merasakan sensasi yang benar-benar berbeda. Dadanya naik-turun atas panas yang mulai menjalar ke kepalanya, Minghao tidak kuasa selain berusaha mencari celah untuk menarik dan menghela napas pendek di antara lumatnya. Yang keluar dari bibirnya hanya berupa rengek kecil yang tertahan, mencicit keluar seolah begitu ingin dibebaskan.
Minghao dibuai oleh peliharaan barunya. Setetes saliva—entah milik siapa—merebas dari ujung bibirnya setelah Junhui menjauhkan diri, menghentikan gempur lidah yang tadi menggerayangi rongga mulutnya tanpa henti.
“Biarkan paru-parumu mendapatkan oksigennya lagi. Ambil napasmu,” suruh Junhui enteng. Sekali lagi, vampir itu mendekat. Menjilat sisa hasrat pada pojok bibir tuannya, mengeklaim lagi tetes cair saliva yang sudah tercampur milik keduanya.
Tangan Minghao segera meraih wajahnya, menyeka sisa basah dan hangat yang ditinggalkan Junhui di pinggir mulutnya. Tatap kesal dilayangkan. Menyambar seolah penuh api—tidak tahu pasti karena marah atau gairah—pada dwi manik yang menghadang pandangnya. Mulutnya belum berbicara, Minghao masih sibuk mengembalikan pasokan udara untuk organ pernapasannya. Ia terengah, setengahnya seperti penuh lelah, setengah lagi disebabkan gairah.
“Berhenti membodohiku,” kata Minghao setelah berhasil mendapatkan energi untuk berbicara.
“Apa maksudmu?” Junhui balik bertanya.
“Hal itu tidak diperlukan untuk apapun.” Minghao membicarakan soal tukar cium hebat yang terjadi baru saja.
“Itu diperlukan. Memang begitu cara kerjanya,” sahut sang vampir di tempatnya. Junhui bisa berkata apapun soal kaum dan kebiasaan mereka. Memang, manusia tahu apa?
Kalimat Junhui sulit sekali dipercaya. Minghao tidak merasa ciuman yang barusan betul-betul diperlukan untuk membuktikan bahwa gigitan vampir tidak akan terlalu menyakitkan. Hal itu tidak masuk akal.
“Lihat, kamu sudah tidak terlalu merasakan sakit di bibirmu, ‘kan?” Junhui kembali buka suara sebelum Minghao melayangkan lagi kalimat tidak percaya.
Setelah dipikir-pikir, Minghao merasakan kalimat Junhui ada benarnya. Bukannya luka itu hilang dengan ajaib, hanya saja rasa sakitnya perlahan mulai raib. Mungkin, yang Junhui kata memang sedikit-banyak bisa dipercaya: bahwa saliva milik vampir dicipta untuk meredam sakit yang akan dirasa manusia setelah kulit lehernya ditembus taring tajam.
“Kalau kamu mau aku memberitahumu hal-hal yang aku tahu, berhentilah meragukanku.” Junhui seolah bisa membaca mimik wajah Minghao yang mulai sedikit percaya. “Seperti katamu, kita saling membutuhkan di sini. Aku hampir mati kehausan saking lamanya tidak minum darah manusia. Aku tidak akan menipumu.”
“Kaummu memang susah dipercaya. Kamu mau manusia percaya begitu saja pada makhluk yang dulunya memburu mereka?” Minghao bertanya, menimpali. “Hanya orang bodoh yang akan melakukannya.”
Decak pelan keluar dari mulut Junhui. Ia menyeka bibir dengan lidahnya, lalu membuka mulutnya untuk berbicara. “Biarkan aku minum darahmu,” Junhui kembali meminta. Tangannya yang tidak lepas dari tengkuk Minghao, lagi-lagi membawa tuannya mendekat. Jemarinya bergerak, ibu jari menandai tempat sumber detak. “Di sini. Tolong biarkan aku minum darahmu. Tidak akan terlalu sakit, sungguh.”
“Tergantung seberapa banyak informasi yang bisa kamu beri tahu padaku,” syarat Minghao. “Soal hubungan vampir dan donornya, apa benar bisa memperpanjang usia? Sifat abadimu akan tersalurkan padaku?”
“Dan jawabanku tergantung seberapa banyak darah yang bisa kuminum darimu. Aku tidak keberatan jika harus minum hanya darimu, itu justru lebih praktis daripada harus berburu,” sahut Junhui. “Minghao, seberapa jauh jalan yang bisa kamu tempuh untuk keinginanmu? Keabadian bukan hal yang gampang, itu bukan hal enteng untuk didapatkan. Kesepakatan harus dibentuk. Di sini, kita harus saling memberi keuntungan.”
Minghao sedikit terhenyak. Apakah pengaruh hidup abadi, makanya cara bicara vampir itu memang seperti ini? Efek samping penuaan dan mengalami berbagai zaman? Terdengar berlebihan dan menggelikan, tapi juga sedikit mengerikan. Sebagian diri dari Minghao merasa seolah ia bukannya mendapatkan peliharaan, tetapi justru jatuh dalam perangkap dan ikatan.
“Biarkan aku minum dulu,” kata Junhui setelah mendapati Minghao tak kunjung menimpali. “Aku akan menikmatimu perlahan, kita bisa bicarakan itu di sela-selanya.”
“Kamu benar-benar harus pelan-pelan,” peringat Minghao. Dengan kata lain, ia sudah mengizinkan.
Setelah diperbolehkan, Junhui kembali mencondongkan badan. Taringnya dikeluarkan, meruncing penuh untuk menembus jenjang leher sang tuan. Masih dengan Minghao di pangkuannya, tubuh itu ia raup sekali lagi untuk masuk dalam pelukan lewat pinggang.
Nyali Minghao sudah dipersiapkan untuk merasa kesakitan setelah izin ia berikan. Tetapi, yang ia rasa hanya sapu dingin berair di lehernya. Alih-alih tajam taring, kulit Minghao justru bertemu dengan lidah Junhui yang mulai tidak asing lagi baginya. Memberi basah saliva di sana, sampai kemudian runcing mulai melesak masuk ke lehernya. Ia mengerang pelan, merintih sakit yang tertahan.
“Junh—” Minghao tidak bisa menyelesaikan protesnya. Ia justru memiringkan kepala ke arah yang berlawanan dari sumber sakitnya, memberi akses penuh pada sang vampir seolah dipaksa menyerah begitu saja.
Bagaimana pun juga, vampir pernah berjaya beratus tahun lamanya. Mereka jadi sang pemburu saat itu, manusia dipaksa bertekuk lutut di hadapan mereka. Dengan harga diri yang begitu tinggi, rasa ingin mendominasi masih tersimpan di ujung diri Junhui. Ia perdalam taringnya, menembus kulit sampai lubang tercipta. Bisa ia rasakan tubuh sang tuan mulai menegang di pangkuannya.
Tanpa dihisap pun, cairan merah itu keluar dengan sendirinya. Menetes pada turunan leher, kemudian mendarat di indra pengecap Junhui. Sang vampir buru-buru menggerakkan lidah, meraih merah untuk ditelan mentah-mentah. Junhui menarikan diri di sana, membelai pelan permukaan kulit yang berlubang. Bukannya menyesap agar darah lebih banyak lagi keluar, Junhui justru memilih mengkhidmatinya dengan jilatan.
Rasa sakitnya jauh lebih terasa dibanding ketika bibirnya dibubuh luka—mungkin sebab perbedaan tebal-tipis di antara mereka. Padahal, masih menggunakan taring yang sama. Kedua mata Minghao sedikit berair karenanya. Ia sudah mati-matian mencoba untuk menahan perihnya, bahkan menggigit tangan kanannya sendiri sementara yang kiri mengalung pada Junhui. Akan tetapi, ini jauh dari yang ia kira. Minghao mulai menepuk resah punggung Junhui, menggestur karena tidak benar-benar bisa melayang protes lisan untuk meminta jeda. Tepuk digantikan tarikan pada baju sang vampir, berusaha menyampaikan pesan kalau ia ingin berhenti barang sebentar.
Tubuh Junhui menuruti gestur yang menariknya, melonggar erat kedua tangannya. Ia melepaskan diri dari ceruk di leher Minghao, lalu melempar pandang ke tuan yang sudah sedikit berantakan di hadapan. Lidahnya meraih ujung taring kiri yang masih merah, lalu menyapu dan membasahi bibir bawah.
“Berhenti membohongiku,” kata Minghao lirih, hanya tersisa sedikit daya padanya. “Itu sakit sekali, sungguh. Berhentilah membohongiku. Katakan saja kalau memang sesakit itu, biar aku mempersiapkan nyali dengan lebih baik lagi,” tambahnya. Terdengar seperti rintihan minta ampun yang memohon untuk didengarkan.
Junhui menghela napas yang tidak ia perlukan itu. Tatapnya beralih ke ceruk Minghao yang kini memiliki dua titik luka bekas ritual minumnya, mereka masih menetes darah menuju ke tulang selangka. Jemari kanannya berpindah ke sana, menghampiri aliran darah yang sedang turun dengan pelan. Tekanan yang Junhui berikan di sekitar luka setelahnya membuat Minghao mengaduh spontan, juga membuat darah semakin menitik dengan gencar. Ia menyeka merah segar yang baru saja ia paksa keluar, kemudian membawanya ke dekat wajah.
“Ini darahmu yang akan jadi makananku sehari-hari kalau kamu memang mau mengincar abadi,” Junhui bersuara sembari menampilkan darah yang membalut jari tengah dan manisnya kepada Minghao.
Minghao memperhatikan dengan napas pendek yang ditarik dan diembus buru-buru. Sekujur tubuhnya kaku melihat pemandangan itu. Sekarang, tidak ada cermin untuk Minghao melihat darah yang mengalir pelan dari sumber lukanya, jadi ia cuma bisa lihat cairan merahnya menyelimut jemari milik Junhui.
“Dan ini—” Junhui berhenti. Alih-alih melanjutkan kalimatnya, Junhui justru menjulurkan lidah bersamaan dengan jarinya yang mendekat disesap. Anyir kembali tercium, ia membersihkan darah di antara jari. Menjilat dengan bersih, enggan menyisakan barang setetes jua. Haus yang masih belum terpuaskan seutuhnya membuat Junhui menyesap dan melumat jemarinya sendiri. Memberikan gambaran bagi Minghao betapa dahaganya butuh dipenuhi.
“Apa yang kamu lakukan? Minumlah dengan normal!” Nada Minghao meninggi oleh pemandangan yang disajikan, punggungnya sedikit mundur. Ia menyentuh bibirnya sendiri, napasnya makin tidak teratur lagi. Fisik vampir memang terkenal rupawan menggoda, hal itu digunakan mereka untuk berburu mangsa. Tapi, Minghao juga tidak menyangka kontras merah dan pucat wajah yang indah akan jadi kombo yang terlampau memikat. Wah, gila. Benar-benar gila.
Wajah Minghao dibuang ke kanan, berusaha mengalihkan diri dari Junhui dengan mengitarkan pandangan. “Berarti sudah, ‘kan? Waktunya kamu jawab pertanyaan-pertanyaanku.”
“Jangan bercanda, masih jauh dari kata terpuaskan. Aku belum benar-benar minum.”
“Tapi, rasanya terlalu menyakitkan!” protes Minghao kembali memberi Junhui pandang. Sedikit lagi, ia merasa ingin menyerah. Yang membuatnya masih bertahan adalah ratusan miliar yang sudah ia keluarkan.
“Aku sudah pelan-pelan,” sahut Junhui tenang. Memang benar, ia bahkan belum menenggak sama sekali. “Makanya, terima saja yang kuberi. Telan seperti aku meneguk darahmu nanti. Biar penghilang nyeri itu makin banyak teredar di dalam tubuhmu.”
Minghao bingung. Terima apa? Telan apanya? Penghilang nyeri? Maksudnya sa—
Bibir Minghao telah dibungkam bahkan sebelum ia sempat mengutarakan bingungnya. Kedua matanya berubah sayu, kemudian tertutup sempurna. Kali ini, Minghao menerima cium dengan sukarela. Tahu-tahu, lengannya mengalung ke leher Junhui; ia merapatkan tubuhnya. Tubuhnya mendekat dan merapat, mengejar nafsu yang baru Junhui dipicu. Deru napas yang tadi belum diatur temponya, kini sudah tertahan lagi bersamaan dengan bibirnya yang terbuka. Rongga mulutnya kembali nganga, dijajah lagi oleh lidah vampirnya. Minghao bisa merasakan rasa amis besi di mulutnya, menyecap sisa-sisa darah miliknya sendiri yang masih melekat pada Junhui.
Junhui membawa segumpal basah kepada mulut yang sedang ia jelajah; mereka bertukar ludah dengan lincah. Setelah memastikan Minghao menerima dan menelannya, Junhui menarik diri. Dengan begitu saja, cium di antara mereka resmi disudahi.
“Kenapa menatapku begitu?” tanya Junhui sewaktu dwi manik Minghao kembali terbuka dan memberi tidak senang padanya. “Kalau kamu belum puas juga, aku akan menciummu lagi nanti.”
“Omong kosong.”
“Biarkan aku minum dulu.” Tidak mengindahkan tanggapan Minghao sebelumnya, Junhui justru kembali meminta. Ia membawa telapak tangan ke belakang leher tuannya, mendekat lagi untuk menghirup luka. “Tahan sedikit,” Junhui berbisik di ceruk Minghao.
Lidahnya menyapu lagi, lalu taringnya kembali masuk ke dalam luka yang dibuatnya tadi. Junhui bisa merasakan tubuh Minghao menegang sempurna, bajunya tertarik ke belakang—hasil remas untuk menahan sakit dari tuannya. Setelah tadi memberi basah berupa saliva, kini Junhui meminta balas berupa darah dalam mulutnya. Ia menghisap dengan agak kuat, membawa cairan kental itu menuju kerongkongannya. Akhirnya, ritual minum Junhui dimulai juga.
“Mmh—” Minghao mengerang di tempatnya. Ia menunduk, menahan nyeri familiar yang menyengat. Desir darah seolah bisa ia tangkap dengan telinga, mengalir memenuhi dahaga sang vampir.
Ada sebagian dari dirinya yang ingin mendorong Junhui pergi, tetapi Minghao lebih memilih mendengarkan sebagian dirinya yang lain lagi. Jantungnya berdegup kencang, seolah berlomba memompa darah untuk menggantikan yang dihisap keluar. Ujung jemari yang memberi remas pada kain di genggaman mulai bergetar. Sakitnya mulai tergantikan dengan sensasi lain yang seharusnya tidak ia rasakan, tubuh Minghao bergerak resah karenanya. Hampir menggelinjang, tetapi ia tahan karena enggan membuat dua taring itu menancap semakin dalam.
Akan tetapi, barangkali memang itu yang Minghao inginkan.
Pinggul Minghao bergerak sedikit di atas pangkuan. Perlawanan sebab perih yang tadi Minghao rasakan perlahan menghilang, kini justru mengejar sakit yang berdatangan.
Tiap mili yang diteguk Junhui benar-benar terasa seperti sepotong surga baginya. Mungkin karena sudah lama sejak terakhir kali ia minum darah manusia, atau mungkin juga karena memang milik tuannya begitu nikmat sebagai pemuas dahaga. Matanya terpejam, menikmati segala rasa yang meraih setiap sudut mulutnya. Turun ke kerongkongan, meluncur bebas dengar segar.
Junhui masih ingin lagi. Lagi. Belum cukup. Sedikit lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. La—
Lengan yang tadinya melingkar di pinggang, kini perlahan menyelip ke dalam baju yang membalut tubuh sang tuan. Suhu dingin dari tubuh Junhui bertemu dengan hangat milik Minghao. Telapak tangannya membelai, menyentuh kulit sang tuan di pangkuan secara langsung. Ia bawa naik dengan pelan dengan sapuan, menggoda punggung yang makin menegang.
“Ah ….” Ada desah pelan yang lolos dari mulut Minghao. Agak tertahan sebab sang tuan sesungguhnya tidak ingin suara itu terloloskan.
Deru napasnya tidak teratur. Junhui memberi ritme dalam caranya minum. Perlahan, dalam, kemudian berhenti sejenak. Dalam jeda, Junhui memainkan lidahnya di atas luka. Menyapu, menjilat dengan tekun di atas permukaannya. Minghao rasa, itu dilakukan agar perihnya mereda. Sepertinya cara itu berhasil karena tubuh Minghao jadi menyesuaikan dengan rasa sakitnya. Bukan berarti sakit itu hilang sepenuhnya, hanya saja Minghao mulai bisa menikmatinya.
Dingin telapak tangan Junhui yang meraba kulit punggung Minghao begitu kontras dengan tubuhnya yang mulai hilang kendali. Bergerak gelisah, diiringi sedikit desah. Sensasi panas yang menjalar dari lehernya membuat napas Minghao terhela berantakan.
Di posisinya, Junhui berkali-kali membawa tubuh Minghao merapat. Ketika Minghao terus-terusan menggelinjang di pangkuan, ia jadi harus kembali menyesuaikan posisi mereka. Junhui terus menghisap dan menyesap, ia betul-betul menikmati tuannya perlahan. Nafsu dari hausnya saja belum terpuaskan, kini telinganya sudah menangkap desah tertahan. Junhui mau dengar lebih lagi. Ia ingin agar melodi itu Minghao sepenuhnya lepaskan alih-alih berusaha dibungkam.
“Mmh …, Junh …,” lirih Minghao. Ia merasa Junhui sudah terlalu lama minum, terus-terusan membawa darahnya keluar dari badan. Kepalanya jadi terasa ringan, tetapi energinya hampir sepenuhnya padam. Ia menarik-narik kain baju milik Junhui pelan.
Matanya terbuka, Junhui melonggarkan peluknya. Seolah baru disadarkan, ritual minumnya berhenti seketika. Lengannya turun, keluar lagi dari balik baju sang tuan. Dahaganya sudah mulai teratasi, ia melepas taring dari dari leher Minghao. Menjilat satu kali, kemudian mundur untuk menatap wajah tuannya.
“Oh?” Junhui mengangkat kedua alis ketika matanya menangkap sosok Minghao di pangkuannya. Berantakan dengan wajah yang memerah, terengah tidak karuan. Pandangnya menyapu. Dari atas, turun, kemudian kembali saling mengunci tatap dengan milik Minghao. Lidahnya meraih bibir bawahnya sendiri, Junhui menyapu bekas merah yang tersisa. “Minghao,” panggil Junhui kemudian.
Yang dipanggil hanya diam, belum kuasa menjawab sebab sibuk mengatur napasnya. Punggung tangannya dibawa ke depan bibir, Minghao menutup setengah wajahnya meski pandang masih beradu dengan vampirnya.
“Xu Minghao, kamu terangsang,” gamblang Junhui setelah mendapati Minghao yang menegang, sembari melirik turun di antara kaki sang tuan. “Rasa sakit ini membuatmu terangsang.”
“Tidak, bukan begitu.”
Tangan Junhui menuju pergelangan tangan Minghao yang menutup wajahnya. Ia tersenyum, terkekeh mengejek singkat sewaktu muka merah Minghao terekspos sempurna. “Sungguh, Minghao? Kamu benar-benar terangsang sekarang.”
“Sudah kubilang, bukan begitu.” Minghao masih bersikeras untuk mengakui kalimat Junhui, meski bukti sudah terpampang nyata. “Kamu salah.”
“Yang mana yang membuatmu berdiri? Di bibirmu atau di lehermu? Atau keduanya?” Junhui bertanya, meremas pinggang Minghao yang ia genggam. “Ah! Benar. Aku tadi merasakan pinggulmu bergerak di pangkuanku. Hm ….”
“Berhenti bicara omong kosong!”
“Baiklah, baiklah,” kata Junhui menyerah. Ia melepas cekal di pergelangan tangan Minghao. Mengangkat kedua tangan di udara seolah tersangka, lalu menaikkan kedua bahunya. “Mungkin sebaiknya memang aku berhenti dulu hari ini. Baiklah, Tuanku. Kalau begitu, bukankah ini saatnya kamu turun dari pangkuanku?” Nada menggoda terselip di antara kalimatnya.
Seharusnya begitu, tetapi Minghao justru bergeming di tempat. Kedua tangannya turun menyentuh perut peliharaannya. Tatapnya terus beradu dengan Junhui, tidak melepas kontak mata sama sekali meski tidak ada yang keluar dari mulutnya untuk menimpali.
“Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? Wajahmu bilang seolah tidak ingin aku benar-benar berhenti.” Tanpa jawaban dari lawan bicaranya, Junhui melanjutkan setelah mengukir senyum miring di wajahnya. “Oh. Kalau begitu, memohonlah.”
Permainan telah diputarbalikkan. Tadi, Junhui yang harus meminta, kini ia lakukan hal yang sama. Satu lengannya berpindah, kini meraih pipi Minghao untuk menangkupnya. Membelai pipi merah yang kontras panas dengan ibu jarinya yang dingin, Junhui kembali bersuara. “Memohonlah. Gunakan mulutmu,” katanya. “Memohonlah. Aku mau tahu bagaimana kamu menggunakan mulut itu selain untuk melontarkan sarkasme atau mengejek kaumku.”
Vampire sialan. Minghao mengutuk dalam hati. Akan tetapi, tubuhnya benar-benar sedang mengkhianatinya kali ini. Sensasi panas yang ditoreh Junhui sedang menyerangnya, kini ia sulit untuk mendengarkan ego tingginya. “Jangan berhenti,” Minghao mencicit, mengalih pandang ke samping.
“Memohonlah dengan lebih sungguh, Tuanku yang agung,” suruh Junhui lagi. Ia menekan panggilan untuk sang tuan, dibalut sedikit ejekan. “Aku akan mendengarkanmu melontar maumu.”
“Junhui,” panggilnya terjeda, “jangan berhenti,” ulang Minghao kembali menyambar tatap di hadapan—mata mereka beradu sekai lagi. Satu telapaknya terangkat, Minghao membalas belai pada tangan yang ada di pipinya.
Junhui menggigit bibir bawahnya senang. Ia mendekat, menyisakan begitu sedikit jarak di antara wajah mereka berdua. “Katakan,” bisik Junhui di posisinya. “Selain memberi umur yang panjang, apakah memenuhi nafsu sang tuan juga jadi bagian dari tugas peliharaan?”
Dengan jarak sedekat itu, embus napas panas milik Minghao langsung menerpa wajah Junhui.
“Ya,” sahut Minghao cepat. “Jadi, penuhi tugasmu sekarang juga.”
Di masa kini, bangsa vampir memang sudah kalah dan dipaksa bersembunyi. Akan tetapi, kalau ada kesempatan kembali untuk mendominasi manusia, Junhui tidak akan menolaknya.
Meski dalam bentuk yang berbeda.
