Work Text:
Nafasnya tak beraturan. Jantungnya bertalu-talu tak berhenti. Kepalanya pusing sekali, dihantam dengan perasaan asing. Keringat terus menetes, turun bersamaan dengan air mata. Bima tidak nyaman. Tapi, hal ini buat ia mabuk kepayang. Sisa kesadarannya tahu, kalau ini salah. Tetapi, ia tak bisa menghilangkan kenikmatan friksi tiap ia bergelung dengan kemeja Sadewa. Haus akan wangi Sadewa untuk memenuhi relung paru-parunya.
Bima tidak tahu, ia kenapa seperti ini. Yang lelaki itu ingat hanya ia menerima bakwan dari orang tak dikenal. Menikmatinya sepanjang perjalanan menuju Di Antara. Baru saja ia sampai, tubuhnya sudah terasa panas. Gemetar. Sadewa sempat menghampiri di ruang ganti, karena ia terlalu lama. Saat Sadewa datang, Bima tak dapat menggerakkan tubuhnya sendiri. Seakan dikendalikan, ia rengkuh pria di depannya. Air matanya menetes. Takut dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Hanya panas dan tak nyaman yang menyisa.
Bima hanya bisa merengek tak nyaman dalam pelukannya. Sadewa paham, ada yang aneh. Sadewa segera memesan taksi, agar Bima dapat istirahat di rumahnya terlebih dahulu. Sebelum meninggalkan Bima sendiri, ia berbisik untuk tetap menunggu Sadewa di kamarnya.
Sampailah saat ini, di mana Bima bergelung di kasur Sadewa. Bima sudah tidak tahu ini pukul berapa. Tetapi, panasnya belum berhenti. Apalagi, penisnya kini berdiri. Tiap gesekan pada kasur, buat tubuhnya melengking mencari nikmat. Sesekali surai ungu itu menggesekkan tubuhnya pada seperai kasur dan tangan miliknya sendiri. Pikirannya kacau, hanya ingin seseorang merengkuh, mengendalikan dirinya. Ia ingin dibelenggu oleh kenikmatan sampai kepayang.
Selagi ia menghirup wangi Sadewa, tangannya turun. Mengeluarkan kerasnya. Membebaskan dari sesaknya celana yang ia kenakan. Bima hanya mengikuti insting, mencari kenyamanan. Tangan itu kini perlahan menyentuh penisnya. Desahan keluar dari bibir manisnya. Genggamannya ia kencangkan, buat di bawah berkedut hebat.
“Hnnnhg…”
Matanya terpejam. Masih kurang. Pusing. Air matanya menetes. Mau lebih, tapi tak bisa. Ia coba mainkan penisnya. Tetapi, nihil. Jauh dari kata puas. Penisnya masih berdiri tegang. Sakit. Entah akal darimana, Bima ambil bantal di belakangnya. Ia paksakan tubuhnya duduk. Bantal sudah ada di depannya, ia gunakan untuk menggesekkan penisnya di sana. Ia jepit, mencari sempit. Persetan Sadewa marah. Yang penting, penis dan tubuhnya tidak tersiksa seperti ini.
Saat ia gesekkan perlahan, rasanya tubuh Bima bergetar hebat. Nikmat. Desahnya tak tertahankan. Dirinya dapat membayangkan penisnya dijepit nikmat. Dimanjakan, digenggam mesra di liang hangat. Ia sampirkan baju Sadewa pada bahunya, agar wangi Sadewa tercium terus. Tangannya sudah bertumpu pada kasur. Terus memaju mundurkan pinggulnya, membiarkan penisnya tergesek dengan bantal.
Masih kurang, terus.
Batin Bima tak berhenti. Tubuhnya makin panas, butuh sentuhan.
“Seru?”
Suara Sadewa menggelegar ditengah heningnya kamar. Bima seperti tertangkap basah. Diam membatu. Langkah Sadewa mendekat. “Seru main tanpa saya, Bim?” Bisiknya pada telinga Bima. Merah tubuhnya. Melihat Bima yang seperti anak anjing yang butuh bantuan, buat surai emas tak tega. Gemas sekali. Sedikit kecewa karena dia terlambat melihat pujaannya memuaskan dirinya sendiri.
“Mau saya bantu?” Kekehnya.
Sadewa tersenyum riang, saat Bima mengiyakan. Malam ini, akan menjadi malam panjang bagi mereka berdua. Saling berbagi hangat dan keringat hingga puas. Saling mencinta dengan penuh nafsu.
——
Paginya, Bima menangis.
Ia peluk Sadewa erat sekali. Melihat betapa hancurnya kamar Sadewa saat ini. Baju robek berserakan, cairan cinta dimana-mana. Terlebih, liang Sadewa masih kotor belum ia bersihkan. Lirihan maaf berulang kali ia utarakan dari bibirnya. Sadewa yang tengah tertidur pulas sampai bangun. Matanya mengerjap kaget saat suara isakan Bima menelusup inderanya. Tangannya ia sampirkan pada bahu Bima, mengelus, menenangkan yang lebih muda. Bima sesenggukan. Sadewa kecup-kecup wajahnya.
“Kamu kenapa nangis sih?” Ia kecupi lagi, sembari mengusap air mata Bima. Ah, Bima-nya yang manis. Malam tadi, ia bagai dirasuki incubus. Menghajar habis prostatnya, memenuhi liangnya hingga rasanya Sadewa akan hamil malam itu juga. Kini, ia air matanya mengucur tak berhenti. “Mas.. hng… maaf… sakit ya Mas….? Sampai hiks— sampai biru badan kamu..” isaknya. nafasnya tak beraturan.
“Maafin a-aku… huhuhu..” Isakannya makin kencang saat ia melihat leher Sadewa dengan cengkraman bekas telapak besar Bima. “Bima, tenang dulu ya. Tenang. Coba tarik nafas dulu, pelan-pelan.” Tuntunnya, masih memberikan sentuhan hangat untuk surai ungu itu.
“Coba tarik nafas, tahan, terus buang ya. Jangan nangis. Saya gak apa kok.”
Ia ciumi lagi wajah lelaki di hadapannya itu. Berusaha meyakinkan, karena kalau boleh jujur. Sadewa malah senang. Senang sekali digauli dengan kasar seperti malam tadi.
“T-tapi.. Mas.. hmp—“ ucapannya terpotong, Sadewa mengecup bibirnya. Ia lumat bibir yang malam tadi memberikan tanda pada seluruh tubuhnya. Membawa Bima tenggelam akan cumbunya. Lidahnya sesekali menggoda bibir manis itu sebelum ia tarik kembali wajahnya menjauh.
“Saya gak kenapa-kenapa Bima. Serius. Jangan nangis lagi.”
Baru saja bibir Bima terbuka untuk membalas, mengelak perkataan Sadewa. Bibir itu kembali dibungkam dengan kecupan.
“Mmmpp—“
“Stop nangis Bim. Kalau nggak, saya ludahin ya.” Cecarnya. Bima hanya mengangguk takut. Ia meringkuk takut. Karena… ini pertama kalinya melakukan hubungan seperti ini. Saling beradu kelamin penuh dengan nafsu layaknya hewan sedang birahi. Memikirkannya saja, buat Bima memerah. “Sudah ya, sayang.” Sadewa kembali membuka suara. Memecah hening dan pikiran Bima. Ia hanya bisa mengangguk. Mengiyakan.
“T-tapi, Mas… aku beneran minta maaf sumpah.. tadi malam, gue juga gak tau gue kenapa.” Alis Sadewa naik sebelah, menatap penuh tanya. “Kenapa memangnya Bim? Ada apaa?” Bima yang ditanya begitu, segera menceritakan saat malam kemarin ia diberikan bakwa secara cuma-cuma oleh orang asing sampai dimana tubuhnya merasa panas dan kehilangan kontrol atas nafsunya secara singkat. Bima meringkuk takut. Padahal badannya lebih besar, juga ia adalah seorang bodyguard. Tapi, mengapa ia polos sekali. Mudah sekali di iming-iming.
“Nanti kita cari ya orangnya. Kamu kasih paham aja. Kita hajar sama ludahin di perosotan bareng-bareng. Saya marahin deh.” Seru Sadewa. “Masa dia mau racunin kamu.”Bima mengangguk setuju seperti anak kecil. Matanya berbinar. “Beneran ya Mas, nanti kita hajar bapak tua itu.” Air wajahnya berubah, menjadi lebih tenang. Lucu sekali.
“Jadi kamu gak usah khawatir lagi ya Bim. Jangan nangis lagi.” Bima mengangguk, mengiyakan dengan hati lega. “Gak perlu dipikirin sekarang. Nanti saja.”
Sadewa menjeda perkataannya.
“Yang lebih penting sekarang, kamu peluk-peluk saya saja dulu. Saya masih mau pelukan.”
Bima segera menenggelamkan wajahnya kembali ke ceruk leher yang lebih tua. Ia eratkan pelukannya, mendusel manja. Sesekali ia hanya bergumam. Buat geli Sadewa yang sensitif. Sungguh, Sadewa berterima kasih pada seseorang yang memberikan Bima makanan itu. Sekarang tubuhnya penuh dengan ekstasi dari berondong itu.
Kapan-kapan ia harus coba lagi seperti ini.
