Chapter Text
Seminggu kemarin ada surat resmi bertinta hitam pekat dari kampus bergengsi di Batavia, surat itu tertulis khusus untuk nya. Dirinya dapat beasiswa di sana. Senang bukan kepalang, ini kesempatan emas, ia bisa merubah masa depan Hindia Belanda dengan ilmunya.
Dimulai dari garis tangan nya sendiri yang menuliskan karya-karya puisi yang indah dan menyebar ke seluruh penjuru negeri hingga dapat biaya siswa yang sepadan dengan keinginan dan hobi nya.
Karya nya sering kali dicetak di bagian depan koran-koran harian, mengalahkan kabar jual dagang kopi yang terus meningkat setiap minggunya- mengasingkan pekerja yang terkena hutang datang dan lebih parah lagi ladang asli mereka yang diambil alih oleh orang kulit pulih, dirampas, tak ada kekuatan untuk menyerang dan mengambil kembali apa yang mereka punya. Baik, baik. Mari kembali ke sang penulis yang gila akan keadilan ini.
Dalam artikel mingguan cetak, namanya terlampir dalam jenis font Morris Roman, bertuliskan jelas; Benjamin Peterpan. Dan judul-judul karya puisinya yang luar biasa berada di atas namanya. Terdengar seperti nama palsu? Hah, tidak salah lagi! Tak ada yang tahu nama aslinya selain dirinya dan ibunda. Akrab dipanggil Peter oleh ibunda, seorang bujangan tampan asal Yogyakarta. Berkulit sawo matang seperti ibunya, rambutnya yang keriting keturunan ayahanda, dan senyum menawan, itu semua bisa membuat para kembang desa asal dekat tempat tinggal nya menggila-gila dengan parasnya. Sering dijodohkan dengan gadis cantik, tapi ditolak mentah-mentah olehnya. Ingin fokus mencari ilmu dahulu, katanya.
Pete merupakan anak satu-satunya dari dalam keluarga, pencinta gila karya-karya puisi luar, dan cita-citanya untuk menghapuskan penjajahan dalam negeri yang dirinya dibesarkan dan dilahirkan.
Dunia perlu lebih banyak manusia sepertinya, orang semacamnya dapat mengubah masa depan lebih baik.
Ia bisa tinggal jauh dari ayah tirinya yang pemabuk itu, Pete membenci pria itu dari apapun. Tiada serpihan kilauan di mata pria tua itu saat Pete menyerahkan surat beasiswa, seolah-olah malah meremehkan putra angkatnya itu.
Bayangan nya tertinggal jauh.
Rasanya seperti terbang tinggi melampaui langit lalu dibanting kembali ke dasar kerasnya bumi. Pete tidak bodoh, Pete mengerti, Pete paham pasti posisi bangsa mereka jauh lebih tinggi dibanding dirinya.
Sungguh, Pete membenci orang-orang berkulit putih itu. Mereka datang tak diundang, lalu seenaknya mengambil kekuasaan di tanah dirinya lahir dan dibesarkan.
Masa kecil Pete abu-abu. Ibu nya menjalin hubungan dengan pria lain setelah ayah nya mati di tangan para manusia-manusia haus kekuasaan itu, ini tragis, hatinya terkikis.
Di umur 13, ibunda resmi menikah lagi dengan pria Belanda, rasanya dunia meledak bagi Pete. Anak itu bahkan tidak pernah menerimanya sebagai figur ‘ayah’, persetan. Walau pria tua itu membiayai dirinya untuk bersekolah, memberi makan kepada keluarganya, mengurus keuangan keluarga dan menaikan tahta ibunda- Peter kenal sosok asli pria berambut pirang tersebut. Kasar terhadap perempuan.
Nafas berat terdengar saat setiap suku kata yang diucapkan, dengan berat membawa sejarah turun-temurun. Perlahan marga pria tua berambut pirang itu diturunkan kepadanya, nama lama nya diubah, ganti serapih mungkin. Peter Lewis Kingston Wentz III.
Realita telah berbunyi. Ada tekad yang berkedip, memintanya untuk bangkit.
...
Hari itu datang, panasnya mentari menyinari matanya yang masih setengah tertutup. Ia harus pergi dari Yogyakarta, secepat mungkin. Dan sekarang Yogyakarta akan kehilangan sosoknya untuk mimpi nya yang mulia.
Keretanya akan tiba pukul 4 sore nanti, sepanjang perjalanan Pete hanya bisa melamun keluar jendela kereta, melihat persawahan kering, hutan lebat. Sesekali menyantap bekal bakpia kacang dari ibunda.
Nusantara rapuh, berita yang disiarkan di radio terdengar seperti kejayaan setan itu sendiri. Ratusan orang di ambang kelaparan masa, wanita dan anak ada yang diculik dan diperkosa. Orang-orang paruh baya yang dipaksa kerja rodi. Bangunan-bangunan kota besar hilang, kabar terakhir yang Pete dapat dari surat kabar adalah beberapa wilayah di kota Bandung terbakar hangus.
Mereka punya kuasa, berani menaruh nyawa untuk mendapatkan perubahan busuk. Esok hari bendera itu akan dirobek.
Bermimpilah sendiri-sendiri. Keadilan akan segera lahir, sudah waktunya Pete menginjakkan kaki kota baru, penuh lampu menghiasi udara, dan di mana mudahnya transaksi barang terlarang bisa dilegalkan di sini.
Kehidupan dalam suatu kota itu berbeda. Orang-orang di sana sibuk, mereka hanya bernafas, makan sepuasnya jika punya harta- lanjut bersulang sampai lupa jadi manusia.
Batavia, kota yang akan menuntun jalan Pete ke masa depan, menegakkan keadilan dari undang-undang yang tidak pernah tertulis dan pribumi terpaksa diambang gundah gulana. Pete akan menegakan hukum sampai berhasil jua, sampai semuanya orang mendapatkan keadilan, sampai nafas terakhir nya tersisa.
Itu tekad awal.
Namun, realita semuanya hanyalah tanda tanya.
Pete dilema, tentu saja ia ingin memberikan mahkota emas ke kepala wanita cantik berhati malaikat yang dikirimkan oleh tuhan itu, karya-karya tulis Pete ada karenanya.
Pete tidak takut, dirinya dirampas, ada ikatan tali yang membekas di dalam dirinya. Anak itu masih belum matang dengan pikirannya sendiri, apa semuanya akan percuma? Apa ibunda akan baik-baik saja tanpa putranya?
Jatuh bangun baginya sudah biasa, tapi pilihan ini bisa menjadi ancaman. Jangan pernah tinggalkan ibunda dengan pria brengsek dari Belanda itu.
Di matanya, mereka semua kumpulan manusia datang dari neraka. ‘Tugas mereka menghancurkan umat manusia, biadab. Ini tempat para pribumi tinggal, lahir, dan tumbuh besar. Orang-orang kiriman alam baka itu hanya bisa menumpang dan mengemis kekayaan tanah kami.’ Begitu luapan emosinya dari lembaran jurnal buku.
Pete tetap pergi, mungkin waktu akan menentukan jawabannya. Nanti sampai kekuatan ada di genggam nya, erat.
Besok akan jadi hari pertamanya di kampus, ia akan membawa nama marga keluarga ke tingkat yang lebih tinggi, pribumi dan bunda akan jauh dari kata peradaban. Suatu saat nanti, Peter janji.
...
Asrama pagi itu sepi, ramai lorong diganti oleh suara derasnya hujan. Pukul berapa sekarang? Entah, terakhir ia melihat jam saat tiba di stasiun Batavia. Tiga pagi dengan lampu remang-remang menyilaukan penglihatan nya.
Sebuah bendi putih menjemputnya, membawa Pete ke asrama universitas nya- kemudian seorang pria muda seumuran nya datang ke asramanya, memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah ketua pelajar di universitas itu- berjanji akan mengajaknya jalan-jalan keesokan harinya.
Pete tidak masalah jika tidak diajak berjalan-jalan kemudian, tempat ini memang baru darinya. Tapi berjalan keliling universitas baru ini akan lebih baik jika dilakukan sendiri, menguras waktu. Namun menyenangkan.
Semalaman itu dirinya tidak bisa tidur di kasur berseprai dan empuk itu, pikiran nya dibawa pergi kembali ke kota lama, nyanyian ibunya tiap malam merusak emosinya.
Panggil dirinya ini berlebihan dan sering menangis seperti bocah cilik yang jatuh saat belajar sepeda, sudah tertanam dalam dalam dirinya- dan sisi lemah itu, hanya boleh dirinya yang tau.
Ruangan itu tidak sepenuhnya kosong, ada dua ranjang tingkat di sana, bersebrangan dengan meja belajar dan sebuah jendela kecil untuk keluar masuk nya udara.
Pete tidur di ranjang pertama dari pintu, ranjang nya berada bagian bawah. Ada pula pelajar kulit putih yang satu kamar dengan nya, Andy Hurley dan ugh... Si bocah penuh tawa Joe Trohman. Hubungan Pete dengan mereka buram, saat dirinya masuk ke dalam kamar kedua nya tidur lelap. Pete bersumpah ia mendengar kedua pria bangsa barat itu saling bergumam dalam tidurnya- seperti ‘Aku sayang kamu, Joe.’ atau lebih menggelikan lagi, ‘Cium aku, Andy.’ semua itu dikatakan dengan bahasa Belanda. Pete tak mau tahu dan tak mau berfikir apa yang terjadi dengan kedua pria itu.
Sejauh ini dirinya tidak diganggu olehnya, Pete pun tak merasa terganggu oleh keberadaan keduanya. Sinar mentari menyinari wajahnya, entah pukul berapa sekarang. Dirinya ada janji dengan ketua universitas pagi itu, harus bergegas membersihkan diri dan pakai kemeja terbaik!
Dan di sana Joe dan teman Belanda satunya menertawai Pete. Pete menghiraukan, ia memakai sepatunya dengan cepat, merapikan rambutnya dengan sisir kayu lalu memberikan pomade agar terlihat sempurna dan mengkilat.
“Kau pelajar pertukaran darimana?” Tanya salah satu kedua pria belanda itu, logat Jawa nya sangat buruk, sekarang mereka berdiri di depan nya. Pete melangkah pergi, menuju ranjangnya kembali untuk mengambil koper kulit kecilnya.
Pria yang lebih pendek menarik pundaknya perlahan, memutar tubuh Pete untuk menghadap nya. Kemudian tangannya di silang. Pete menghela nafas. “Yogyakarta.” Jawabnya padat, tidak takut kepada mereka.
Pria yang berambut keriting mengangguk, “Pribumi? Perihal apa bisa masuk kemari? Ayahmu Bupati barangkali?” Pertanyaan yang dikeluarkan mendesak, Pete bahkan tidak bisa mengatakan apa itu merupakan hal bagus dan pertanda dia akan mendapatkan teman atau malah musuh di hari pertamanya di universitas itu.
Tatapan nya tajam, namun menahan emosi dalam suaranya. “Aku Jawa, namaku Peter Lewis Kingston Wentz III. Datang kemari untuk mempelajari ilmu hukum, beasiswa langsung dari negara.” jawab Pete panjang lebar, dengan sedikit senyum bangga yang kecut di mulutnya.
“Aku Joe. Joe Trohman. Aku pun pelajar.” Mula anak yang berambut keriting dengan bahasa Belanda, ia mengiringi tangannya untuk bersalaman dengan Pete. “...Anak di sebelah ku ini Andy Hurley.”
Pete tersenyum hambar kepada mereka, ia masih berpikir panjang apa ini semua hanyalah jebakan untuknya. Pete menjabat tangan Joe, menganggukkan kepala. “Salam kenal, Joe.” Kemudian berpindah ke Andy, “Salam kenal, Andy.”
“Aku suka cara bicara mu, seperti orang Belanda yang tidak punya takut!” Gurau Joe sambil menepuk punggung Pete, demi apa- Pete merasa tidak aman dengan itu.
“Joe-” pria yang berkacamata menyelamatkan nya, dan Joe melepas tangannya dari pundak Pete.
“Maaf,” Gumam Joe. “Sudah terbawa dari lahir...” Pengakuan Joe dengan malu, ia mengacak rambutnya yang berantakan setelah bagun tidur.
Andy menatap nya dari bawah ke atas seperti mahluk aneh. “Pete, ku hendak kemana pagi-pagi seperti ini? Kelas akan dimulai pukul 9 pagi. Kembalilah tidur.” begitu pesan nya.
Pete terkekeh, menggelengkan kepalanya. “Ini hari pertama ku di sini, ketua pelajar akan mengantarku jalan-jalan mengelilingi universitas. Dia minta sepagi mungkin.”
Joe batuk mendengarnya, “Ketua pelajar? Maksudmu Junior Kaspar? Bung, aku kira anak itu sudah lama tak aktif dalam kegiatan penyambutan pelajar baru setelah masalah nya dengan ayah brengsek nya itu!” Seru Joe sendiri, Pete ditinggal kebingungan di sana.
“Shhh! Tutup mulut mu itu, Joe.” Bisik Andy. Ya, mereka sedang menutupi sesuatu dari Pete. “...Hey, Pete? Bagaimana kalau aku dan Joe membawamu ke kafetaria dekat sini untuk sarapan sebelum kau berkeliling dengan perut kosong dan menyesalinya?”
Pete diam, berpikir kemudian. Perut nya memang kosong, tapi kalau disuruh memilih menyantap sarapan dengan kedua anak keturunan Eropa ini Pete belum siap untuk itu, lagi pula mereka ini baru berkenalan! Bangsa Eropa mana yang mau berkenalan baik dengan Pribumi? Miskin, Jawa pula. Pete memiliki firasat buruk.
“Tentu aku ingin, namun ku rasa mencari sarapan dengan kalian akan-” belum selesai Pete melengkapi ucapannya, kamar pintu asrama kayu itu diketuk. Berkali-kali. Pete harus pergi sekarang, Junior menunggunya.
Pete melangkah maju, meninggalkan kedua pria Eropa itu tanpa balasan darinya. Dia menggenggam erat koper kecil di tangan nya. “Baik- ya, ugh, terima kasih ajakan nya. Tapi Junior sudah menungguku, aku harus pergi sekarang.” Ucapnya menatap kedua pria itu dengan nada tawa cemas. “Ku lihat kalian lain kali, Joe, Andy... semoga harimu menyenangkan!”
Lalu Pete kabur dari pandangan mereka berdua lewat pintu, berlari secepat mungkindengan sepatu kulit kesayangannya.
...
Aku sungguh benci manusia-manusia sombong itu. Mereka dapat seenaknya mendapatkan pendidikan tinggi karena berkulit putih, aku tahu, mereka cukup pintar- tapi tidak semua, ada beberapa dari mereka yang masih belum lancar baca tulis. Apa ini yang disebut dengan kesetaraan?
Rakyatku yang harus ikut seleksi kesana kemari untuk mendapatkan beasiswa ataupun dari keluarga kaya raya agar pendidikan setidaknya tamat kelas enam. Ini gila. Aku tak marah pada pelajar itu, aku marah pada siapa yang mengatur cara kependidikan ini.
Ini memalukan, bahkan orang Belanda baru mau memberi kami pendidikan yang disebut nya setara setelah mantan pegawai pemerintah kolonial Hindia-Belanda asal Belanda yang kemudian beralih profesi menjadi penulis dan menjelaskan penderitaan rakyat kami di novelnya; Max Havelaar.
Mungkin tanpa dirinya, aku tak akan bisa menginjakkan kaki di universitas ini.
Karya novelnya melesat. Ia menggunakan nama palsu saat merilisnya, orang-orang mencari nama aslinya, membuntuti, menanyakan apakah yang dirinya tulis dalam novelnya merupakan kisah nyata. Dan semua itu benar-benar terjadi dalam tanahku.
Orang-orang Belanda di sana iba dengan penjajahan yang terjadi. Mereka memprotes dengan gila, meneriakan keadilan untuk kami. Lucu, sedikit konyol kalau dipikir-pikir.
Manusia yang datang ke negeri kami dan menjajah negara kami sendiri yang meminta keadilan untuk warga kami. Masih bisakah pikiranmu berputar?
Apapun itu, aku harus tetap berterima kasih kepada Multatuli karena karya novelnya yang membunuh kolonialisme.
Sejauh ini, Batavia berseru baik dengan ku. Dan aku sudah merindukan ibunda saja, semoga dirinya baik-baik saja di sana.
Langkahku cepat, ku buka pintu itu dengan perlahan. Siap menyapa Junior dan mengucap ‘terima kasih’ yang belum siap ku sampaikan pukul tiga pagi tadi.
“Hey! Maaf aku sedikit telat untuk membuka. Selamat pagi, Junior-” Ucapku terpotong dalam bahasa Belanda. Sosok yang berdiri di hadapan ku bukan Junior Kaspar sang ketua pelajar, melainkan pria kulit pucat berambut pirang stroberi, berkacamata dan... tersenyum kepadaku? Sial, siapa lagi manusia Eropa satu ini?
“Kau pasti Pete Wentz, ya? Pelajar beasiswa dari Yogyakarta?” Tanya nya lembut dengan bahasa Belanda yang lancar, dan ku rasakan pipiku memerah saat mahluk manis itu mulai berbicara kepadaku. Aku merinding bukan main. Aku mengangguk perlahan.
Dia tersenyum kembali, menjabat tangannya kepadaku. “Aku Patrick Vaughn Stump. Aku hendak membawamu berkeliling universitas. Senang bertemu dengan mu.”
Rasanya aku baru saja bertemu bidadari cantik, senyuman di mulut nya membuatku gila. Mata nya menawan, warna biru bercampur dengan hijau menyatu sempurna. Kedua pupil nya mirip dengan lukisan terkenal; The Starry Night 1889. Indah, sangat indah.
Pakaian nya rapi, kemeja coklat tua dengan celana pendek jeans berwarna hijau, dan kaus kaki putih dengan sepatu kulit berwarna hitam. Oh, hampir ku lupa- anak pirang stroberi ini ke anak-anakan. Dia memakai topi kecil berwarna hitam, sial, apa sebutannya? Oh, fedora! Dan itu membuatnya sangat manis.
Aku terkekeh melihat nya, lega sedikit. Kuhela nafas panjang. “Tepat, itu namaku. Salam kenal, Patrick.”
Dan aku menjabat tangannya dengan penuh gemetar.
