Actions

Work Header

hanya sebatas teman

Summary:

Dirga nggak sengaja cemburu karena ada yang deketin Ganen. Emangnya bisa dia tahan hanya sebatas predikat teman, apalagi setelah akhirnya mereka bisa berduaan di indekos?

Notes:

Jujur gw stres bgt pas nulis ini gara-gara kerjaan tp kayak gw ujung-ujungnya nulis Ganen DAN Dirga saling diacak-acak guys HOREEEEEEEEEEEEE nyami bgt

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dirgantara Arkana bisa dibilang adalah orang yang penyabar. Dosen pembimbing yang nggak jelas statusnya aja ia kejar sampai kediaman rumahnya demi mendapat bimbingan dan tanda tangan untuk lanjut ke bab selanjutnya.

Tapi menunggu sampai indekos kosong supaya dia bisa ngentotin Ganen hampir membuatnya hilang kesabaran.

Semenjak sesi listening party ketiga waktu itu, ada bayang-bayang Ganen setiap Dirga menutup kelopak matanya. 

Dan, Ganen seperti punya misi buat bikin Dirga positif gila.

Kamu harusnya kemarin ambil foto aku lagi nyepong kamu, ujarnya beberapa hari yang lalu kayak ngasih tau kabar angin. Dirga melotot dan tersedak stik pocky yang lagi dimakan, lalu nanya balik emang kamu suka difoto gitu? dan dijawab sama kamu aja tapi? dengan nada polos.

Sinting.

Terus kemarin, hal itu terulang lagi. Dirga sudah berdiri di dekat kelas Ganen, menunggu waktu pulang untuk berburu makan di sekitar kampus. Walaupun anter-jemput Ganen sudah jadi rutinitas mereka, sore kali ini ada yang berbeda karena Ganen mendadak harus diskusi sama temen sekelasnya mengenai suatu acara kampus.

Jadi, ya, Dirga tungguin aja. Toh, katanya bakal cuma lima belas menit.

Tapi lima belas menit berganti jadi tiga puluh menit. Tiga puluh menit pun berubah jadi empat puluh lima menit. Karena Dirga penasaran, dia coba masuk ke kelas yang ternyata cuma berisi dua orang.

Selain Ganen, ada laki-laki yang tampangnya selengean dan duduknya terlalu berdekatan sampai-sampai gak ada jarak antara pundak mereka. 

Otak Dirga rasanya kayak konslet. Pertama-tama, laki-laki yang namanya entah siapa itu senyum-senyum mesum ke arah Ganen, padahal tatapannya nggak diliat balik. Kedua, keliatan jelas kalau Ganen sudah pengen pulang tapi ditahan-tahan sama orang nggak jelas itu.

Dirga menggertakan giginya dengan keras. Rahangnya tegang melihat laki-laki itu menaruh tangannya di pundak Ganen. 

“Ganen. Udah selesai rapatnya?” Saut Dirga sambil jalan ke arah mereka.

Ganen sontak menengok ke arahnya dengan muka memelas. “Kak, maafin, bentar lagi ini kayaknya—”

Dirga tau kalau Ganen terlalu baik, makanya dia hanya fokus menatap sinis laki-laki di sebelahnya. “Ganen udah harus pulang. Bisa dilanjut besok aja gak rapatnya?”

“...Bisa sih. Sorry, tapi lo siapanya Ganen…?” Tanya laki-laki itu, alisnya terangkat sebelah.

Semua kontrol dari otak ke mulutnya Dirga lagi nggak berfungsi. 

Laki-laki di depannya ini, yang menurut Dirga gak pantes buat deketin Ganen, lagi nantangin dirinya? 

“Pacarnya.” Jawab Dirga, tidak pernah memutus kontak mata.

Dirga tahu itu bukan jawaban yang benar. Ia paham kalau apa yang diperbuatnya barusan bisa berubah menjadi rumor yang nggak-nggak, tapi kalau satu kata itu bisa ngebuat laki-laki slengean ini mundur dan berhenti gangguin Ganen, biarlah begitu.

“Ayo, pulang.” Kata Dirga, sambil mengambil tas Ganen, mengabaikan tatapan bingung dari laki-laki yang menonton setiap gerakannya seolah-olah ia akan memergoki kebohongan Dirga saat itu juga.

Tapi Ganen malah nyengir tipis, seperti ada rasa puas mendengar jawaban itu. Ia berdiri, lalu jemarinya mengunci tangan Dirga, menyeretnya keluar kelas tanpa ngomong satu kata pun. Dirga membiarkan dirinya dituntun, karena kurang familiar dengan sisi kampus yang isinya kebanyakan mahasiswa fakultas Farmasi.

“Ganen—”

“Sssh.”

Dirga didorong masuk ke dalam lab kosong tanpa aba-aba. Bunyi kunci yang diputar jadi satu-satunya peringatan, menyisakan deru napas Dirga yang terhenti sebelum bibir mereka saling menyapa.

Tas milik Ganen terlepas begitu saja dari genggaman Dirga, jatuh ke lantai dengan suara berdebum yang memecah hening. Dirga mematung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia ikut melebur dalam ciuman itu.

Jantung Dirga berdegup amat kencang ketika Ganen menjalin kedua tangan di belakang lehernya. Keduanya berjalan mundur, mundur, mundur sampai akhirnya paha Ganen menyentuh meja, tidak ada satu sekon dimana bibir mereka tidak terjalin.

“Ganen—” Dirga melepas ciumannya, tapi lehernya ditarik lagi. Bibir keduanya terlalu panas, dan bohong kalau Dirga nggak menyukai ini. Gerakan mereka terburu-buru, seperti belum pernah merasakan lidah satu sama lain, seperti belum pernah menelan rintihan masing-masing. “Fucking hell. Kamu—” Dirga menjambak rambut Ganen, mencengkram bahunya, apapun, yang bisa membuat Ganen berhenti sebentar. Nggak lucu kalau Dirga ngaceng padahal masih di area kampus.

“Kamu posesif banget.” Ujar Ganen, lidahnya menjilat bibir sendiri. “Aku suka.”

“Anjing—”

Ganen menghentikan kalimat itu dengan ciuman sambil merintih kecil.

“Stop, stop.” Dirga melepas ciuman mereka, tapi si adek mengejarnya tanpa malu. “Ganen.” Dirga menggeram lemah, menaruh jempolnya di bibir Ganen, supaya si kecil berhenti. “Kita lagi di kampus—”

“Terus?”

Pusing rasanya melihat bibir Ganen yang merah dan sedikit bengkak di depannya. “Nanti keterusan.”

“Ya terus?” Tantang Ganen lagi.

Dirga nggak bisa ngapa-ngapain lagi selain menggigit leher Ganen, menyisakan bekas berwarna merah karena sudah terlalu gemas. “Jangan nantangin aku. Serius.”

Ganen tertawa lemah sebelum binar matanya berubah menjadi amat jahil. “Kakak cemburu ya, tadi?”

Yang ditanya menegang kaku mendengar pertanyaan itu, seperti beban tak kasat mata baru saja dijatuhkan di atas bahunya. “...Mungkin.”

“Halah.” Ganen menusuk pipi Dirga dengan telunjuknya. “Keliatan banget tuh cemburunya. Pacarnya? Emang aku pacar kamu?”

Dirga mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Apa yang ditanya oleh Ganen nggak salah, mungkin memang ia bereaksi berlebihan. Tapi apa daya, Dirga benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya tadi.

Dan kalau boleh jujur, mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Ganen sedikit mengiris hatinya Dirga.

Nyatanya, hari-harinya Dirga sudah habis terjebak dalam satu poros yaitu Ganendra Adiwidya. Selalu Ganen, dan sialnya, lagi-lagi Ganen. Saat matanya terbuka di pagi hari, yang pertama melintas di pikiran adalah Ganen udah bangun belum ya? Dan setiap kali ia duduk untuk makan, pikirannya hanya sibuk bertanya Ganen udah makan belum ya?

Bohong kalau sekarang nggak sakit setiap kali Dirga dipaksa menelan kenyataan kalau hubungan yang mereka jalani adalah predikat teman saja.

Tapi, Dirga cemen soal percintaan. Jadi yang keluar dari mulutnya cuma sebatas: “Maaf deh.”

Ganen tertawa lepas sebelum mengecup lembut pipinya Dirga. 

Setelah kejadian itu, kesabaran Dirga sudah setipis benang yang siap putus. Ada rasa ingin membubuhkan tanda di setiap jengkal tubuh Ganen supaya yang lain tahu kalau Ganendra Adiwidya itu ada yang punya. 

Walaupun hanya sebatas teman.



***



“Kakak kok bengong aja dari tadi?” Tanya Ganen dari dekat kompor.

Malam itu hanya ada tiga orang di indekos, yaitu Dirga, Ganen dan Kamil. Mereka menyibukkan diri di dapur, niatnya mau bikin nasi goreng kecap ala Ganen untuk kedua kalinya. Tugasnya Dirga sebenarnya cuma untuk nyemangatin, karena Ganen nggak mau ada yang ngerecokin dirinya jika sudah mengangkut urusan memasak.

Tapi, kayak, anjinglah.

Kenapa Ganen harus masak pake celemek warna merah yang diikat begitu erat di bagian pinggang?

Jujur, celemek itu terlihat seperti gaun mini di mata Dirga. Gimana dia gak bengong ngeliatin, coba?

“Sange dia.” Saut Kamil yang duduk di kursi dingklik plastik berwarna pink di dekat dapur.

“Oi tuyul.” Tangannya Dirga hampir menjewer telinga Kamil tapi yang paling muda itu menghindar terlalu cepat. “Ngomong pake filter lah.”

“Jangan ganggu gue bang.” Pinta Kamil yang matanya fokus ke layar handphone di tangannya, ujung lidahnya sedikit menjulur keluar mulut. “Bentar lagi gue ama Eja mau ngedate.”

Hah kamu sama Eja mau ngapain?!” Tanya Ganen dari depan kompor.

“Seriusan?” Tanya Dirga, yang berdiri di sebelahnya, matanya melotot.

“Dia ngajak ekspedisi gunung salak di Roblox.” Jawab Kamil cengengesan, kedua telinganya merah padam.

Ganen sama Dirga saling liat-liatan. Yang lagi masak cuma bisa menggigit bibirnya karena gemes, yang satunya nahan ketawa karena anak kosan mereka yang paling bontot itu bener-bener kelihatan gugup.

“Yaudah have fun ya ngedatenya…” Akhirnya Dirga menjawab sambil mengusap-usap kepala Kamil.

Dirga jalan ke arah Ganen, mendapatinya sedang konsentrasi penuh memasak nasi goreng yang beraroma menggoda. Setelah menoleh ke belakang untuk memastikan Kamil masih asik sama dunianya sendiri, Dirga menyandarkan dagunya ke bahu Ganen, sembari meremas pelan pundak itu.

“Hey.”

“Hmm.”

“Wangi banget nasgornya.”

“Iya lah. Siapa dulu yang buat.”

Dirga mengecup tipis pipi Ganen. “Kamu.”

“Ish.” Ganen mengintip ke belakang, tapi untungnya Kamil masih cengengesan di depan handphonenya. “Jangan macem-macem.”

“Siapa suruh pake celemek seksi begini.”

“Sange terus otaknya.” Ganen tertawa sambil mematikan kompor. “Yuk makan.”

Kamil masih kencan di Roblox sama Eja, makanya ditinggal makan ke lantai dua sama Dirga dan Ganen. Di atas, mereka makan sambil nyetel lagu dari playlist Spotifynya Ganen yang mengalun rendah. Di sela-sela denting sendok garpu, Dirga nggak berhenti melontarkan pujian karena nasi gorengnya bahkan lebih enak dari sebelumnya.

“Skripsi kamu gimana, kak, by the way?” Tanya Ganen setelah selesai mengunyah.

Dirga mikir sebentar sebelum menjawab. “Kemaren baru aja bimbingan, oke sih, so far. Tapi dospem aku masih sama nyebelinnya.”

“Kamu gak stres, atau gimana-gimana, kan?” Ganen menatapnya serius. “Maksud aku, aku kan belum skripsian, jadi nggak tau seberat apa. Tapi aku jarang liat kamu ngeluh tentang skripsi. Which is good, I guess?

Rasanya Dirga ingin tertawa terbahak-bahak karena keadaan sebelum Ganen datang ke indekos sangatlah berbeda. Mana ada Dirga yang bangun pagi dengan senyuman, mana ada Dirga yang tetap melangkah ringan sehabis bimbingan, hanya karena ada janji makan pecel lele di depan kampus sama Ganen?

Dirga nggak langsung menjawab pertanyaannya. “Aku boleh jujur gak?”

“Mn.” Ganen mengangguk, kedua pipinya sedikit menggembung karena mengunyah nasi goreng.

Gemes.

“Aku nggak stres lagi soalnya ada kamu.” Jawab Dirga serius.

Ganen tersedak hebat hingga harus menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Dirga malah terkekeh geli sambil bantu menepuk-nepuk punggung Ganen, sembari menyodorkan gelas berisi air putih dingin miliknya.

Begitu napasnya kembali normal, Ganen memukul pundak Dirga dengan tinju kecil. “Apasih gombal banget.”

“Nggak gombaaal.” Sahut Dirga memelas, bibirnya mengerucut. “Aku serius.” Dirga menangkap tangan Ganen yang masih sibuk memukulnya, lalu menahannya di sana. Dengan tangan yang lain, ia meraih tisu dan mengusap sisa butiran nasi di ujung bibir Ganen dengan hati-hati.

“Oh.” Ganen meneliti wajah Dirga untuk mencari celah kebohongan. Tapi yang ia temukan hanya tatapan Dirga yang jujur. “Kamu… Beneran serius.”

“Iya.” Dirga mengangguk kecil, sebelum dirinya kembali makan nasi goreng yang sudah mulai dingin. Ia membiarkan tangannya tetap tinggal di atas punggung tangan Ganen di atas meja, seakan-akan tidak ingin kehilangan koneksi fisik antara mereka.

Ganen terdiam. Ada jeda panjang saat ia memproses pengakuan Dirga, sampai akhirnya roda di balik matanya berhenti berputar dan mencapai sebuah konklusi. “Kamu se-naksir itu sama aku.”

Tawa kecil terlepas dari bibir Dirga. “Bisa dibilang.”

Keheningan menyelimuti ruang makan setelahnya, keduanya seperti hanyut dalam pikiran masing-masing. Bukan hening yang mencekam, tapi sunyi yang nyaman. Dirga akhirnya memecah kesunyian itu dengan suara yang sedikit ragu. “Itu… Bikin kamu takut, kah?”

Karena Dirga sudah bersiap untuk mundur perlahan, jika Ganen memintanya. 

Ganen membalas tatapan itu, mengunci mereka mata ke mata. “Anehnya… Nggak.” Gumamnya, sebelum melanjutkan dengan nada malu-malu yang jarang ditunjukkan oleh seorang Ganendra Adiwidya. “Kalau kamu belum sadar, aku juga… se-naksir itu sama kamu.”

Mendengar pengakuan yang ditunggu-tunggu itu, ada senyum yang tak tertahankan merekah di wajah Dirga. Makan malam dilanjutkan dalam suasana yang lebih hangat dimana sesekali mata mereka bertemu.

“Jalanin pelan-pelan aja ya, kak?” Tanya Ganen.

Dirga mengangguk pelan. Setelah makanan tandas, ia bantu Ganen membereskan piring kotor. Ia mengambil alih tugas mencuci piring, membiarkan Ganen lebih dulu memakai kamar mandi di lantai bawah.

Nggak butuh waktu lama untuk beberes dapur dan menyelesaikan rutinitas malamnya Dirga. Ketika ia melangkah masuk ke kamar, ia sama sekali tidak terkejut mendapati Ganen yang sudah bergelung nyaman di atas ranjangnya sambil scrolling handphone.

“Tidur di sini lagi?” Sapa Dirga sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, tangannya tidak lupa mengunci pintu dan mematikan lampu kamar utama, menyisakan cahaya kuning lembut dari lampu tidur.

“Hmm.” Ganen melipir ke arah dinding untuk membuat ruang untuk Dirga, sebelum ia menepuk-nepuk bantalnya. “Sini.”

“Bentar aku ngeringin rambut dulu.” Dirga mengambil pengering rambut dari laci meja dan mulai mengeringkan rambutnya.

Ganen terpaku sejenak. Rambutnya Dirga yang basah dan berantakan justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih ganteng. Kutang berwarna putih yang dipakai Dirga malah menambah kegantengannya malam itu. Sambil menggigit bibir bawahnya, Ganen bangkit dan menuntun Dirga untuk duduk di kursi, sebelum mengambil alih mengeringkan rambutnya dari belakang.

Dirga hanya bisa memejamkan mata ketika jari-jari Ganen bergerak luwes menyisir helai demi helai rambutnya. Rasanya… Adem, di sekujur tubuh, kalau Ganen ngelakuin hal-hal manis kayak gini.

Bibir Dirga sedikit manyun ketika suara bising pengering rambut berhenti setelah beberapa menit. Ganen yang menyadari hal itu hanya terkekeh pelan, lalu dengan lembut menarik kepala Dirga agar mendongak ke belakang, sebelum mendaratkan sebuah kecupan manis di dahi si kakak.

Sentuhan itu membuat Dirga senyum lebar hingga deretan giginya terlihat sebelum akhirnya ia bangkit dari kursi. Satu detik, ada ruang antara mereka, dan detik selanjutnya, Dirga mencium bibir Ganen amat dalam.

Mungkin karena semua hal yang terjadi belakangan, ciuman kali ini terasa lebih mencekik. Muncul percikan api yang menyala setiap ada goresan tubuh di antara  mereka. Ganen melompat naik ke pelukan Dirga, menyentakkan kakinya untuk melingkar di pinggang Dirga dengan erat.

Kakak—” Panggil itu terhenti karena Dirga meninggalkan ciuman dengan mulut terbuka ke rahang, leher, tulang selangka Ganen hingga akhirnya mewariskan bekas gigitan di sana, yang setelahnya ditenangkan dengan lidah.

Ganen mungkin sebentar lagi hilang akal. Fakta bahwa si kakak mampu menggendongnya selama ini membuatnya gerah bukan main. Akhirnya Dirga puas dengan bekas kemerahan di tulang selangka Ganen. Tatapan Dirga yang sayu seperti menyihirnya, jantung keduanya berdegup kencang bisa terdengar dari jarak bermil-mil jauhnya.

“Aku mau ngentotin kamu banget, fuck.” Geram Dirga, sambil meremas bokong Ganen, menggesekkan selangkangan mereka dengan erat.

Ganen rasanya sulit bernapas. Yang ada di otaknya cuma mau, mau, mau. “Sekarang? Kakak, sekarang, aku udah bersihin—”

Tanpa peringatan, tubuh Ganen dijatuhkan kasar ke atas ranjang dengan cuma-cuma. Dirga menatap Ganen dengan tajam, kesabarannya benar-benar hampir putus. “Kamu udah apa?”

“Bersihin—” Ganen membuka selangkangannya lebar-lebar, sebelum mendekap kokoh punggung Dirga yang berada di atasnya. “—di bawah sana.”

Dirga membuka matanya lebar-lebar sebelum tertawa sinis, merasa tidak percaya, tapi ini seorang Ganendra. “Jadi kamu sengaja tidur di kamar aku emang ada maunya?”

Ganen hanya bisa merintih. “Plis, kakak, plis—jari kamu aja, apapun—”

Jempolnya menelusuri bibir bawah Ganen yang bengkak karena tak usai digigit. “Di kosan masih ada Kamil, Ganendra. Kamu se-sange itu sampe mohon-mohon kayak gini?”

Tapi tangan Dirga pelan-pelan melepas baju Ganen, lalu celananya, hingga yang tersisa hanya Ganen yang telanjang penuh di atas ranjangnya.

Dirga merasa pusing dengan nafsu.

Ia mengunci tatapan Ganen sebelum menggerakan pinggul ke arah analnya, menggesekkan ereksinya tepat di selangkangan Ganen yang terbuka lebar.

“O-oh.” Ganen menghela nafas. Celana pendek warna hitam Dirga yang tipis, yang jadi satu-satunya penghalang, ia cengkeram sampai buku jari memutih. “Kakak, kalau ngentotin aku, kayak gini?”

Dirga mengerang lemah, sebelum melepas kaos kutang putih yang ia kenakan. Dadanya kembang kempis melihat betapa seksinya Ganen yang sudah hilang akal di bawahnya. Entah bagaimana ia tetap bisa berteguh diri, tangannya dengan buru-buru membuka laci kecil di samping ranjang untuk mengambil botol pelumas.

Tutup botol yang terbuka terdengar seperti musik di kuping Ganen. Mulutnya berbentuk huruf ‘o’ ketika jarinya Dirga yang basah memutar di analnya, sebelum pelan mendorong ujung jarinya ke dalam.

Rona merah yang mengalir di sekujur wajah dan leher membuatnya lebih cantik malam itu. Suara yang Dirga belum pernah dengar keluar dari bibir Ganen, seperti desahan yang dicampur oleh rengekan, dan ia ingin dengar itu lagi, lagi dan lagi.

“Sssh, Ganen, tutup mulutnya.” Dirga senyum sinis ketika bola mata Ganen memutar ke belakang kala dua jari tambahan ikut masuk ke analnya, membuatnya lebih longgar di bawah sana. “Baru gini aja udah gila kamu. Gimana pake kontol aku, coba?”

Kakak, kak—” Sekujur badan Ganen kaku saat Dirga menemukan prostatnya, sampai ada cairan pra-ejakulasi yang mengalir ke pusarnya.

“Berisik, mulut kamu.” Tapi Dirga mainin analnya sampai mampus, sampai ada air mata yang keluar dari kelopak mata si kecil, sampai tiga jarinya gampang keluar masuk.

Ganen menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, menyetop tangan Dirga dengan kedua tangannya. “Plis, mau, plis, kakak—”

Dirga udah panas bukan main. “Mau apa?”

“Ujungnya aja, kakak, aku mohon—” Ganen dengan cepat menarik celana Dirga supaya ereksinya keluar. Matanya Dirga terbelalak ketika Ganen meludah di tangannya sebelum tangan itu melingkar di ereksinya, mengocoknya dengan cepat, membuatnya terengah-engah seketika.

Kedua tangan Dirga yang menopang tubuhnya di siku hampir goyah. “Ganen—” Dirga menggertakan giginya, melihat perbedaan ukuran ereksi mereka yang berdampingan. 

Please, kakak.” Ganen mengecup bibir Dirga, menggigit bibirnya sambil mengarahkan kepala ereksi Dirga ke analnya. “Ujungnya, plis, ujungnya aja.

Dirga merasa payah. “Ambil kondom—”

“Gak usah, buat apa—” Protes Ganen.

“Kamu, shit, gila—”

“Kan kemaren kamu bilang,” Ganen cegukan. “Hasil tes kamu terakhir bersih. Aku juga.”

Yang ada di pikiran Dirga hanyalah tapi kita belum eksklusif. “Tapi kamu—nggak bakal, sama orang lain—”

Ganen menggelengkan kepalanya dengan cepat, menatap Dirga seakan-akan si kakak bodoh. “Nggak, kamu juga nggak boleh—”

Kening mereka saling bersentuhan, sebelum Dirga tidak tahan dan melumat bibir Ganen sampai basah dengan air liur mereka. “Ujungnya aja, ya? Abis itu udah?”

“Iya, iya—

Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamar Dirga. “Bang? Bang Dirga? Udah tidur belom?” Suara Kamil menyaut dari luar.

Shit.” Bisik Dirga. Ia menyaut balik susah payah. “Kenapa, Mil?”

“Minjem motor boleh gak, bang? Si Eja ngajak main di luar. Lo gak bakal keluar lagi kan?”

Ganen terkesiap di bawahnya, mulutnya langsung mengejar leher Dirga yang sudah berkeringat tipis. Dirga mendesis kala rasa ejakulasi menghampirinya ketika Ganen mulai mengocok ereksinya lagi. “Ambil aja. Kuncinya digantung di ruang—”

“Makasih bang! BYE!” Kamil nggak menunggu Dirga sampai selesai ngomong.

Begitu pintu depan berdentum keras, keheningan langsung menyergap kamar Dirga, menegaskan bahwa akhirnya pada malam minggu itu, indekos Margojaya hanya menjadi milik mereka berdua.

Dirga hampir hilang kewarasan ketika Ganen merengek kencang untuk pertama kalinya malam itu. “Cepet, kakak, cepetan—”

Botol pelumas buru-buru dibuka oleh Dirga. Tangannya yang lumer dengan cairan itu buru-buru mengocok ereksinya yang sudah berdenyut, rasanya panas sampai ke ubun-ubun melihat tubuhnya Ganen yang melengkung indah di bawahnya, tidak berhenti meminta.

Kutukan kasar keluar dari mulut Dirga ketika berangsur-angsur tubuh mereka menyatu. Tidak pernah ia merasa segila ini. 

Dirga bercinta seperti ia dilahirkan untuk itu, untuk bercinta dengan Ganen, lagi-lagi untuk Ganen. Hebat bisa tahan menunggu sampai saat ini, karena Dirga pikir, kalau ngentotin Ganen seenak ini, ia gak akan pernah mau berhenti. Dirga sudah tidak tahu dimana tubuhnya berakhir dan dimana tubuhnya Ganen dimulai.

Kasarnya hentakan pinggul diterima penuh oleh Ganen yang hanya bisa mengais jarinya ke bahu Dirga. Mulutnya tidak henti meminta jangan stop, kakak, lagi, di situ. Rengekan kotor dari ranjang harusnya membuat malu, apalagi dicampur suara mereka yang Dirga yakin, terdengar sampai ke luar indekos seperti suara video porno.

Yang jelas tubuh mereka hanya saling mengejar rasa enak, ditambah tidak memakai kondom, membuat Dirga tidak henti memandang bagaimana ereksinya keluar masuk anal Ganen yang masih sempit.

Ergh, anjing,” Dirga mengumpat, tangannya mencakar pinggul Ganen. “Enak? Yeah? Ganen suka? Kamu cantik banget kayak gini, fuck, fuck, anjing—”

Desahan yang amat parau keluar dari tenggorokan Ganen ketika Dirga meludahi tangannya sendiri untuk mengocok ereksinya yang terbengkalai. “Kakak—”

“Iya, sayang,” Panggilan baru itu membuat Ganen merengek kencang ke lehernya. “Suka ya,” Dirga menggertakkan giginya. “Diewe gini sampe goblok?”

Mana bisa Ganen jawab pertanyaan itu kalau otaknya sudah bising. Melihat wajah Ganen yang sudah kewalahan membuatnya mencengkram pinggul Ganen lebih erat, menaikkan tempo, mengabaikan seluruh otot yang sudah protes kepadanya.

“Kak, anjing, enak, aku—”

Badan Ganen tegang sampai ke ujung kaki ketika tahu-tahu dirinya ejakulasi. Desahan berupa panggilan nama Dirga tidak henti keluar dari mulutnya karena si kakak menegakkan diri bertumpu di kedua lutut, sebelum mengaitkan tangan ke pinggul Ganen yang ramping dan memakainya asal-asalan seperti itu.

Tidak ada penolakan dari Ganen, seluruh kendali diserahkan ke Dirga yang sudah terlihat sangat berantakan di depannya, rambutnya sudah acak-acakan, napasnya menderu kasar dan berat, persis seperti orang yang sedang mabuk tanpa sisa.

Fuck,” Hentakan pinggulnya Dirga sudah tidak beraturan. Urat yang muncul di sepanjang lengan dan lehernya ingin Ganen jilat, dadanya yang merah karena cakaran Ganen terlihat seperti lukisan. “Anjing, Ganen, kamu—”

“Yeah?” Ganen menarik Dirga agar mendekat, sebelum akhirnya bisa menjilat leher si kakak yang matanya sudah sulit berkedip. “Pake aku sampe puas, kakak—”

Geraman frustasi lolos dari dari bibir si kakak. Wajahnya disembunyikan di ceruk leher Ganen, pinggulnya tidak henti mengejar puncak. Entah berapa lama sampai Ganen berbisik lagi, sebuah suara genit yang berhasil meruntuhkan kewarasan Dirga malam itu.

Jangan keluar di dalem, ucap Ganen lirih sembari mengunci tubuh Dirga dengan kedua kakinya, sebuah tindakan yang amat bertentangan dari apa yang keluar dari mulutnya, nanti aku hamil, gimana?

Erangan keras keluar dari mulut Dirga, menggema di sela-sela napas mereka yang memburu. Satu, dua, tiga hentakan amat keras sebelum Dirga pecah. 

Ejakulasinya tidak berhenti secepat biasanya, sampai ada bekas peju yang perlahan mengotori seprai kasur yang sudah berantakan.

“Ganen, kamu,” Dirga berdesis lemah, menggigit bibir Ganen. “Gila.

Respon Ganen hanya mencium Dirga dengan mata yang sayu. “Mau lagi.” Pinta Ganen.

Dirga cuma bisa nyengir. 

Bantal dan guling yang tadinya ada di atas kasur, sekarang sudah hilang entah kemana. Dirga mengecek jam yang sudah menunjukkan tiga puluh menit sebelum pukul dua belas malam. Sebentar lagi pasti anak-anak akan pulang.

“Aku ambil lap dulu ya? Bersihin kamu?” Dirga mengecup dagu Ganen.

Ganen cuma bisa mengangguk pelan. Sekujur tubuhnya merah akan bekas gigitan dan cakaran yang Dirga tinggalkan. Badannya kotor di bawah sana, sampai ia malu melihat ke bawah karena takut tiba-tiba ngaceng lagi.

Hanya butuh sekian menit sampai Dirga balik dengan handuk lembab, membersihkan badan Ganen dan membawanya ke kamar mandi lantai bawah. Mereka mandi bareng, walaupun Ganen sudah lemas bukan main, kepalanya bersepuh ke pundak Dirga yang pelan-pelan membersihkan badannya pakai sabun.

Malam itu, Ganen jatuh terlelap dalam balutan kaos Dirga yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Tapi Dirga hanya mampu memaku tatap, terjaga berjam-jam hanya untuk mengabadikan wajah itu dalam ingatannya.

Ketika akhirnya kantuk menyerang, cuma ada satu hal yang ada dipikirannya: Kayaknya… Gue udah bener-bener jatuh cinta sama Ganen.

Notes:

tell me what you think please comment because i have a praise kink

Series this work belongs to: