Work Text:
Dirga pikir kalau ada alat uji seberapa gila kamu dibuat oleh Ganendra Adiwidya? dirinya akan berada di skala seribu dari sepuluh.
Iya, itu melampaui batas skala yang ada. Mungkin setengahnya salah diri sendiri, karena udah masuk ke kamar Ganen dan mencuri cium pertama mereka diam-diam. Isi kepala Dirga kepalang kabut semenjak malam itu, rasanya mabuk kepayang oleh wajah Ganen yang merengek meminta lebih.
Sesi coli di kamar sendiri rasanya udah nggak cukup. Apalagi Ganen yang semakin sering memberikan sentuhan disana-sini. Kadang tangannya Dirga dia ambil buat dipegang, terus sekarang, listening party ketiga mereka terpaksa berhenti setelah tiga puluh menit karena Ganen dateng ke kamarnya pake celana hitam pendek yang menggoda.
Pahanya mulus sampe Dirga nggak bisa konsen. Ganen menggodanya lagi dengan menarik tangan Dirga dan dia taruh di bagian dalam pahanya. Mereka lagi di atas ranjang Dirga yang nggak seberapa lebarnya, jadi mau nggak mau duduknya harus menempel satu sama lain.
“Kapan kakak mau pegang-pegang aku?” Tanya Ganen.
“Lu gila ya.” Jawab Dirga. Tapi tangannya semakin naik, pelan, sampai berhenti tepat di celana pendek Ganen.
“Yang lain kapan perginya sih.” Decak Ganen, sambil mengusuk-usuk kepalanya ke leher Dirga. “Kan aku mau kamu ngentotin aku.”
“Ganendra.” Desis Dirga. Lagi-lagi rasa panas mulai mengumpul di perut bagian bawah. Dirga yakin ada yang salah sama libidonya karena ini nggak normal.
Suara lagu Roman Picisan oleh Dewa 19 menggelegar dari suara speaker di kamar. Sesuai janji ke Gilang, mereka nggak nyetel lagu sekeras biasanya.
Tapi matanya Ganen bulat meminta dan Dirga benar-benar hanya ingin memberi.
Tangan Dirga buru-buru menaikan volume suara speaker, jauh lebih keras dari biasanya lalu mengatur supaya lagu Roman Picisan diputar secara berulang, dan balik ke Ganen yang menatapnya secara polos.
“Kok suaranya kamu gedein banget—mmph!”
Dirga mencumbu bibir Ganen amat dalam hingga jantungnya berdebar sampai terasa di mulut. Ganen menerima semuanya, membuka selangkangannya lebar-lebar supaya Dirga bisa leluasa bergerak di atasnya.
Basah dari mulut ke ceruk leher Ganen membuat kamar nomor empat di indekos Margojaya terasa terlalu gerah, apalagi pas kaos Ganen diangkat dan dadanya dibantai oleh mulut Dirga yang tak henti menggigit dan menghisap putingnya.
Ganen rasanya positif mabuk padahal tidak ada setitik alkohol yang diminumnya. “Kakak—”
“Sssh.” Dirga menutup mulut Ganen dengan tangannya. “Jangan berisik. Bisa kan?”
Tidak butuh waktu lama untuk melucuti celana Ganen yang pendeknya bukan main. Dirga melemparnya entah ke arah mana, ia tidak peduli. Makian berupa fuck, Ganen, cantik banget kamu lepas dari mulut Dirga ketika ia melihat seluruh diri Ganen di depan matanya.
Ganen menelan ludah dengan keras. Ereksi yang sudah keras berdenyut tidak henti karena tatapan yang diberikan oleh Dirga. “Gak adil, aku doang yang hampir telanjang.”
Hidungnya Dirga mendengus. “Kalau aku juga telanjang, satu kosan bakal tau kita lagi ngapain.”
“Cepetan, kakak,” Dadanya Ganen kembang kempis. “Sini, mulutnya.” Dirga diperintah kayak anak anjing.
Ganen menyisir rambut Dirga dengan jarinya, memperhatikan bagaimana Dirga mengulum ereksinya dengan lihai, tidak sekalipun memutus kontak mata. Ganen mengutuk pelan ketika Dirga tak henti mengisap, pelan, lambat, tapi tetap membuat air mata mengalir dari kelopak mata Ganen.
Rasanya terlalu panas, sampai Ganen refleks melengkungkan punggung, meminta Dirga untuk mengambil semuanya.
Dirga mengerang lemah, tahu betul bahwa rambutnya sudah acak-acakan dan kukungan di celananya sendiri semakin terasa sakit. “Ganen, cantik—” Ada seutas ludah yang menyambungkan mulutnya dengan kepala ereksi Ganen. “Gigit bibir kamu, jangan berisik.”
Ganen mengangguk cepat. Wajahnya nggak pernah sepanas ini. “Lagi, kak, lagi—”
Dirga tidak bisa apa-apa kecuali menurut. Mulutnya dipakai sampai Ganen merasa enak, enak, enak. Kepala Ganen mendongak ke langit-langit indekos, pinggulnya tidak berhenti bergerak, seperti merasa melayang.
“Kakak, aku—” Tidak lama sampai tangan Ganen menjambak rambut Dirga untuk melepas mulutnya, karena terlalu banyak sensasi sampai bibirnya berdarah secuil usai menggigit terlalu dalam.
Rasanya seperti mengigau ketika Dirga duduk bertumpu di kedua lututnya, kedua mata tidak pernah lepas dari pemandangan di bawahnya. Ganen ejakulasi sambil menangis, seluruh tubuhnya tegang, tapi pintar karena tangannya digigit supaya minim suara. Putih mengotori perutnya, badannya terkulai lemas di atas ranjang.
“Fuck.” Tidak ada yang didengar oleh Dirga selain nafasnya yang semakin berat. Dengan cepat Dirga menurunkan celananya yang penuh sesak, ereksinya menepak ke pelvis amat keras.
Ganen terkesiap, rahangnya menggantung rendah kala melihat Dirga mengocok ereksinya dengan cepat. Ganen menyukai warna kulit Dirga yang seputih susu, namun saat itu banyak semburat merah di sekujur tubuhnya. Ereksi yang sudah basah akibat cairan pra-ejakulasi itu pun kemerahan.
“Ganen.” Dirga mengeluarkan nafas dengan kasar, dahinya mengernyit. “Aku, boleh—”
Mungkin Ganen tersihir, entah, yang jelas ia mengagetkan diri sendiri dengan merangkak ke arah Dirga dan mengambil alih dengan mulutnya.
“Pinter, Ganen, fuck—” Dirga mengeluarkan nafas dengan kasar karena melihat mulut Ganen yang kecil susah payah mengulum ereksinya. “—enak kontol kakak?”
“Mmmgh—” Ganen melepas mulutnya untuk memohon. “Mau peju kamu di muka—”
Dirga cuma bisa mengerang di atasnya. Ia memakai mulut Ganen secara cuma-cuma, jari-jarinya mencengkeram erat rambut sampai suara tersedak di ereksinya menjadi saksi betapa kotornya suara di kamar Dirga.
Tahu-tahu Dirga menarik kepala Ganen ke belakang. Dirga meludahi tangannya sendiri untuk mengocok ereksinya, dan Ganen mengecup kepala ereksi yang sudah merah padam itu.
“Shit. Anjing, anjing—“
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya putih ejakulasi mengotori sebagian wajah Ganen. Ereksinya Dirga berdenyut hebat, tidak henti mengeluarkan sperma sampai ada yang menyangkut ke bulu mata Ganen.
Dirga merasa sakit jiwa.
Roman Picisan masih berkumandang di kamarnya, tapi fokusnya hanya pada Ganen. Seringai puas muncul di bibir seakan-akan sedang mengagumi karya seni miliknya seorang.
“Cakep banget kamu. Kayak gini.” Dirga mengelus rambut Ganen. Ia mengecup pipinya, berbisik kakak ambil tisu dulu, dan membiarkan Ganen tiduran di ranjangnya.
Malam itu, Ganen numpang tidur di kamar nomor empat indekos Margojaya setelah ditemani si Kakak bersih-bersih dan cuci muka di toilet lantai pertama.
“Kamu nakal deh kak…” Ganen menyaut ketika lampu sudah padam.
“Heh? Nakal gimana?”
Ganen memeluknya semakin erat. “Padahal aku iseng aja godain kamu. Eh kok sampe lanjut gini.”
“Kamu suka kan tapi?”
“Suka. Mau lagi.”
Dirga tertawa lepas. “Kamu kalau di chat berani banget. Tapi ciut kalau udah tatap muka sama aku.”
“Nggak ya. Ini karena aku masih malu aja. Kan masih awal-awal.” Ganen protes.
“Oh gitu. Mau dong liat Ganen bossy di ranjang.” Goda Dirga.
“Tapi kamunya juga…” Ganen menggigit bibirnya. “Seksi sih kalau bossy.”
“Yeah?” Dirga nyengir lebar. “Muka kamu sih bikin pengen aku acak-acak sampe mampus.”
Ganen nyubit tangan Dirga. “Naksir banget itu namanya.”
“Kalo iya?”
“…Ya gak apa-apa.” Ganen lalu melanjutkan. “Tapi kamu jangan ngewe sama yang lain.”
Dirga mencoba menatapnya dalam gelap. “Emang aku mau ngewe sama siapa sih?”
“Ya gak tau, kamu kan ganteng. Emang gak ada yang ngejar?”
“Kalaupun ada nggak aku ladenin. Kamu kan yang banyak deketin.”
“Good. Kamu sama aku aja. Ngewenya.” Ucap Ganen final.
“Tapi aku lama kelarnya, kamu tahan gak?” Tanya Dirga.
Ganen nggak tahu pertanyaan itu serius atau nggak tapi tetap membuat lehernya gerah. “Aku tahanin. Kamu pake aku aja terus.”
“Tidur deh mending.” Potong Dirga. “Ini kalau kamu lanjutin aku ngaceng lagi.”
Gantian Ganen yang ketawa lepas.
