Actions

Work Header

Double Trouble

Summary:

Ellie seharusnya tahu, bermain denagn si kembar berarti paham konsekuensinya.

Notes:

Comms by Anon on Twitter

Work Text:

Pintu rumah ditutup pelan setelah gadis dengan kaos hitam itu menghilang dari balik pintu lift gedung apartemen mewah itu. Ellie, tetangga beda lantai apartemen sekaligus teman masa kecilnya itu, akhirnya pulang sebelum pukul sebelas. Sylus melirik sejenak pada pemuda di sebelahnya, yang masih bersandar di tembok dingin, sebelum kemudian beranjak untuk membereskan sisa kekacauan mereka. Langkah kakinya membawanya ke ruang tengah, tempat di mana mereka mengacaukan selimut dan camilan yang seharusnya menjadi stok untuk seminggu.

Di belakangnya, Skye mengikutinya. Adik kembar beda lima belas menitnya itu sibuk memunguti selimut, sementara Sylus mematikan televisi sembari membereskan wadah kosong yang sebelumnya terisi penuh dengan camilan. Kegiatan itu hanya bertahan sejenak, karena sepuluh menit kemudian mereka sudah selesai dengan kekacuan itu, dan mulai beranjak ke kamar masing-masing.

Sylus tidak langsung tidur, tentu saja. Mana bisa ia tidur di jam sebelas malam? Ia kemudian mengambil sebuah buku dari rak, mendudukkan tubuhnya di kursi belajarnya, sebelum kemudian mulai membaca novel klasik yang ia beli belum lama ini. Tenggelam dalam bacaannya, ia tak sadar bahwa malam makin beranjak. Pukul satu dini hari, matanya baru beranjak dari seperempat isi buku itu. Ia mengedipkan matanya, berusaha membasahi matanya yang terasa kering. Buku yang sebelumnya ada di tangannya telah ia letakkan di atas meja. Pantang mengucek mata, ia raba meja belajarnya itu, mencari-cari tetes mata yang biasanya selalu ada di sana. Namun nihil, tetes mata itu seolah menghilang begitu saja.

Sylus berdecak saat menyadari bahwa barang yang ia cari tak ada di tempatnya. Buru-buru ia beranjak dari tempatnya, keluar dari kamarnya demi memasuki kamar Skye. Tebakannya adalah tetes mata miliknya itu kini sedang bertengger di meja kamar Skye. Sehingga ia segera menuju pintu kamar Skye, mengetuknya tiga kali sembari memanggil nama adik kembarnya itu.

Namun tak ada jawaban. Hening. Rasa gatal di matanya membuatnya tak sabar. Dengan segera ia putar kenop pintu kamar Skye hingga pintu kayu itu terbuka. Sylus cukup terkejut saat mengetahui kebiasaan buruk adik kembarnya itu masih dilakukan—tidur tanpa mengunci pintu. Sylus hanya menggelengkan kepala, sebelum ia segera memasuki kamar itu tanpa menutup kembali pintunya. Pandangannya segera mengedar begitu ia memasuki ruangan dengan aroma yang lumayan menusuk hidung sensitifnya. Ia mengernyit tak suka karena bau Skye menyeruak seolah berebut ingin masuk ke paru-parunya. Memang mereka kembar, tapi bukan berarti mereka memiliki selera yang sama.

Mata tajam Sylus memindai seisi ruangan itu, mencoba menemukan di mana tetes mata yang ukurannya mini itu tersembunyi. Dan dugaan awalnya benar, botol tetes mata yang hanya sebesar jari jempolnya itu ternyata tergeletak dengan tidak etis di atas meja game milik Syke. Sylus menghela nafas malas, melangkah ke arah meja itu dan segera meraih botol tetes mata. Namun belum juga tangannya mengulur, sebuah suara membuatnya refleks menoleh.

“Nghh… Ellie….”

Sylus mengernyit. Ia dekati adik kembarnya yang masih lelap dalam mimpinya itu.

“Ahh… Nghhh…”

Matanya menyorot tajam, alisnya menukik saat matanya menangkap pandangan sebuah gundukan di selangkangan Skye.

“Ellie… nghhh….”

Dan bisa Sylus lihat, tepat setelah desahan itu, celana Skye mulai basah. Sylus menyunggingkan sebelah senyumnya, sebelum meraih botol tetes mata miliknya dan segera keluar dari sana.

***

Dua hari berlalu sejak hari itu. Skye bingung saat kakak kembarnya yang biasanya sarkastik itu kini diam saja. Tatapannya memang tajam, tapi dua hari ini, tatapannya jauh lebih tajam lagi. Skye sampai merinding saat ia bertemu mata dengan Sylus. Sylus yang seperti ini adalah Sylus yang sangat ia hindari.

Tapi sialnya, pagi ini mereka bertemu di meja makan.

Tidak, Skye tidak dengan sengaja dan suka rela duduk berhadapan dengan Sylus yang seperti kerasukan itu. Ia yang duduk duluan, setelahnya tanpa aba-aba Sylus duduk di seberangnya.

Sarapannya yang sudah dingin itu terasa makin dingin saat Sylus mulai berdeham.

“Lo suka sama Ellie ya?”

Skye tersedak. Siapa yang tidak? Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi kakak kembarnya itu akhirnya mengutarakan apa yang menjadi keresahannya selama dua hari.

Setelah melegakan kerongkongannya dengan air putih, Skye berdeham. Ia kemudian memasang wajah datar.

“Kata siapa?”

Dapat Skye rasakan Sylus melirik ke arahnya. Ia hanya memalingkan pandang, berpura-pura sibuk dengan makanannya.

“Gue lihat lo mimpi basah kemarin.”

Lagi, Skye terbatuk. Beruntung kali ini ia tidak sedang melahap apapun. Jadi ia segera mengalihkan pada kepada Sylus dan membuka mulut, hendak membantah sebelum kakak kembarnya itu berucap lagi.

“Lo desahin nama Ellie.”

Skakmat.

Skye hanya tertawa canggung. Ia berdeham kecil sembari mendorong piringnya yang belum kosong.

“Ya nggak apa-apa kan? Wajar gue suka sama Ellie. Dia cantik, manis juga. Emang lo nggak—”

“Gue juga suka sama Ellie.”

Skye hampir melongo saat Sylus dengan percaya diri mendeklarasikan bahwa ia juga memiliki perasaan kepada teman masa kecil mereka. Tapi, yah, keterkejutan itu hanya sementara. Skye mengetahui tabiat Sylus lebih dari siapapun.

“Ya udah sih, nggak apa-apa. Belum tentu juga Ellie suka sama kita, kan?”

Skye mengangkat bahu santai, sebelum menoleh ke arah Sylus. Detik selanjutnya, ia berkedip ragu.

“…Kan?”

***

Malam minggu, rutinitas mereka kembali terulang. Movie night dengan rekomendasi film random yang mereka dapat dari manapun. Kali ini, yang mengusulkan judul film adalah Ellie. Gadis itu dengan semangat menyebutkan sebuah judul yang asing di telinga si kembar. Namun tentu saja mereka berdua tidak protes.

Dan sekarang mereka sudah duduk manis di depan televisi, menunggu opening film di sana. Sylus melirik, di sebelah kanannya duduk Ellie dengan posisi memeluk kedua lututnya, menyandarkan kepala pada sofa di belakangnya. Sedangkan di sebelah kanannya lagi duduk Skye dengan posisi bersila, kepalanya bersandar pada pundak mungil Ellie. Sylus hanya diam, menonton film yang sudah dimulai itu.

Satu jam pertama film itu, semuanya berjalan aman dan lancar. Film action itu sukses merebut fokus mereka bertiga hingga nyaris abai dengan camilan di depan mereka. Sampai kemudian, tanpa aba-aba, adegan berganti, dari yang tadinya di jalanan menjadi di sebuah kamar hotel. Sylus sudah bisa menebak alurnya. Ia hanya mengatupkan bibir sembari melirik pada Ellie yang masih fokus menonton. Lirikannya berpindah, kini ke arah Skye yang ternyata juga sedang meliriknya. Mereka hanya diam, membiarkan gadis di tengah mereka itu larut dalam adegan panas di layar televisi sana.

Sebuah dengusan membuat mereka melirik ke arah gadis yang kini tengah menyembunyikan sebagian wajah di lututnya itu. Bahkan dengan cahaya temaram pun mereka tahu bahwa wajah Ellie kini telah memerah sempurna. Namun melihat gadis itu tak bergeming dan tetap menatap layar televisi dengan khidmat, Sylus jadi berpikir, mungkin ada sesuatu yang harus mereka lakukan di sana. Jadi, ia melirik kembali ke arah Skye. Pemuda itu juga meliriknya. Entah insting anak kembar atau apa, tanpa sepatah kata pun, mereka kompak mendekatkan tubuh ke arah Ellie, membuat gadis itu semakin terhimpit.

Ellie yang sadar bahwa si kembar semakin menghimpitnya itu kemudian mendongak, menoleh menatap keduanya dengan mata yang berkaca-kaca. Sylus menyeringai. Tangannya terangkat, mulai membelai rambut pirang gadis cantik itu. Perlahan namun pasti, jemarinya bergerak menuju ke wajah cantik itu, mengusap pipinya dengan jempol besar miliknya. Sedangkan Skye mulai menyentuh lengan gadis cantik itu, membuat Ellie menoleh dan berbalik ke arahnya. Ia belai rambut pirang itu, mengendusnya pelan. Hanya dua detik kemudian, mata Skye beralih, menatap mata hijau indah yang kini tampak sayu. Seolah tenggelam, Ellie tanpa sadar memajukan wajahnya, mendekat ke arah Skye sampai jarak di antara hidung keduanya tak lebih dari lima senti.

“Boleh?”

Dan Ellie mengangguk sebagai jawaban.

Tak butuh satu detik untuk bibir Skye mendarat di bibir seksi Ellie. Awalnya perlahan, namun belum juga lima detik, Skye sudah melumat habis bibir manis itu.

Sylus yang melihatnya mengernyitkan dahi, agaknya jengkel melihat adik kembarnya mencuri start. Sehingga ia ikut berpartisipasi dengan menyentuh pinggang Ellie, merabanya sensual sampai gadis itu mulai melenguh indah. Tak ada penolakan. Yang ada justru gadis itu melenguh makin kencang saat Sylus meremat pinggang ramping itu. Ia dekatkan tubuhnya hingga menempel pada punggung gadis cantik itu.

Ellie melirik, melalui ekor mata memberi tanda pada Sylus, bahwa ia ingin lebih. Jadi tanpa ragu-ragu, Sylus selipkan tangannya di balik kaos longgar Ellie, mulai meraba dua gundukan besar yang sukses membuatnya terkejut.

Dua puluh tahun lebih mereka berteman, tentu saja Sylus tidak pernah memikirkan hal jorok tentang gadis yang satu tahun lebih muda itu. Termasuk mengira-ngira ukuran payudaranya, memangnya untuk apa? Tapi melihat gadis itu semakin menggeliat, Sylus justru semakin tertantang. Ia meremat kuat kedua payudara itu sampai ciuman Ellie dengan Skye terlepas. Gadis itu mendesah dengan kuat.

Skye di depan sana melongo, melihat bertapa Ellie yang berantakan itu tampak begitu indah. Bibirnya yang basah penuh saliva, rambutnya yang mulai mencuat kanan kiri, wajahnya yang merah sempurna, dan nafasnya yang terengah-engah. Sungguh, terlalu indah.

Merasa lemas, Ellie bersandar di tubuh bidang Sylus. Ia mendongak menatap pemuda itu dengan kedua mata sayunya. Air mata seolah hampir menetes dari sana. Sylus hanya tersenyum kecil sebelum meraih dagu Ellie, meraup bibirnya dengan rakus.

Ellie mengernyit merasakan Sylus melumat bibirnya dengan kasar. Jika ciuman Skye terasa lembut dan memabukkan, maka ciuman dari Sylus terkesan kasar dan agresif. Bunyi kecipak basah menjadi dominan di sana, bersahutan dengan suara desahan yang berasal dari aktor film di televisi sana. Ellie jadi berpikir, apakah yang ia tonton ini film action atau film dewasa.

Hampir satu menit ciuman itu, Skye mulai bosan. Ia meraba perut datar Ellie, sebelum menyibak kaos longgar yang dikenakan gadis itu. Payudaranya langsung terlihat di sana, tampak begitu menggoda dengan tangan Sylus yang masih sibuk meremat salah satu gundukan itu. Skye menyingkirkan tangan yang menghalangi itu. Ia turunkan bra yang terpasang itu hingga kedua gundukan besar itu menyembul dari sana. Putingnya yang berwarna merah muda kecoklatan sudah mencuat. Dan tanpa tunggu lama, mulutnya segera meraih puting itu, menyedotnya kuat seolah bayi yang haus susu. Sylus yang merasa terganggu kemudian mengembalikan tangannya agar bertengger di payudara itu lagi, memainkan puting tegang itu, memilin-milinnya sampai Ellie yang masih ia bungkam itu melenguh keras-keras.

Mulut Skye yang masih menghisap puting itu tak menghalangi kedua tangannya untuk mulai meraba dua gundukan besar di bawah sana. Ia bisa merasakan kenyalnya bokong Ellie dari luar celana santainya yang tipis. Ia remat-remat, kemudian tangannya mulai menyusup ke dalam celana sekaligus celana dalam Ellie.

Hangat.

Di sana, jemarinya menjelajah lagi, semakin turun hingga ia mencapai sebuah tonjolan kecil. Iseng, ia tekan tonjolan itu, membuat Ellie sontak melepaskan ciumannya dengan Sylus dan mendesah keras. Skye cukup terkejut dengan reaksi Ellie. Namun ia hanya menyeringai sejenak sebelum kembali menekan tonjolan kecil itu. Sylus pun tak tinggal diam. Satu tangannya meraba dada besar Ellie, sementara satu tangannya lagi sibuk menurunkan celana yang gadis itu pakai. Beruntung celana itu tipis, sehingga mudah menurunkannya—bahkan melepasnya.

Ellie menggigit bibirnya, menatap sayu pada Sylus dengan matanya yang benar-benar berlinang. Ia seperti akan menangis. Tapi Sylus lebih dari tahu kalau itu bukan sebuah tanda buruk. Maka ia justru dengan cepat meremat bongkahan kenyal milik Ellie, memainkannya sembari perlahan menyisipkan jarinya ke dalam lubang yang sudah basah sempurna itu.
Si Gadis yang merasakan lubang vaginanya terisi benda asing meringis, Sedikit perih. Namun jari Sylus yang panjang besar membuatnya tak ayal mendesah saat pemuda itu menggerakannya keluar masuk.

“Hnghh… Syl….”

Sylus menatap Ellie yang terlihat sayu itu. “Kenapa, Cantik?”

“Enak—nghh….”

Sylus tertawa kecil, memainkan lagi lubang vagina gadis cantik itu. Skye yang menyadari perbuatan kembarannya itu kemudian melepas kulumannya di puting si gadis. Ia menatap tak suka pada Sylus.

“Jari lo.”

Sylus mengangkat sebelah alis. “Kenapa?”

Skye hanya mendecakkan lidah, sebelum mengangkat bokong Ellie, membuat jari Sylus yang berada di dalam lubang gadis itu akhirnya terlepas. Gadis itu tersadar ketika tubuhnya sudah rebahan, berbantalkan paha Sylus yang entah sejak kapan sudah tanpa celana. Di depannya bisa ia lihat penis milik Sylus yang sudah menegang sempurna—hangat, bahkan panas. Sementara di bawah sana, Skye sibuk mengendusi kewanitaan Ellie. Gadis itu merengek saat merasakan lidah Skye mulai menjelajahi kemaluannya. Dimulai dari labia majora, kemudian naik ke klitorisnya, menjilatinya pelan.

“Hnghh… Skye—”

Sylus menepuk pipi gadis itu pelan, membuatnya mau tak mau mendongak. Sylus tak banyak bicara, hanya menggenggam pipi Ellie, kemudian membuatnya menoleh ke arah penis yang sudah menunggu sejak tadi. Seolah mengerti, Ellie segera menjulurkan kepalanya, mengecup pelan batang penis panjang itu, sebelum mulai menjilatinya pelan. Sylus menggeram merasakan hangat dari lidah yang membelai penisnya itu. Tanpa sadar, tangannya menggenggam rambut pirang itu, merematnya membuat Ellie merengek dalam bungkamnya.

Skye terkekeh saat mendengar rengekan tertahan itu. Ia kemudian menyedot klitoris Si Cantik, membuat gadis itu mengejang sebelum menyemburkan cairan dari vaginanya.

“Nghh—haa….”

Skye terkejut bukan main. Ia melepaskan kulumannya, menatap Ellie dengan tidak percaya. Gadis itu masih lemas, namun justru itu daya tariknya.
Skye buru-buru melepaskan celananya, menatap Ellie dengan tatapan yang sulit fokus.

“Sadar, jangan kayak anjing kebelet kawin.”

Suara berat Sylus membuatnya tersadar. Ia menatap Sylus dengan gamang, seolah meminta persetujuan dari kakaknya itu. Sylus hanya terkekeh, sebelum mengangkat tubuh Ellie. Disandarkannya tubuh lemas itu di dadanya, sebelum ia berbisik di telinga Si Cantik.

“Mau diewe?”

Seperti disengat listrik, tubuh Ellie meremang. Dengan sisa kewarasannya, ia mengangguk pelan, memberi persetujuan mutlak pada kedua kakak beradik itu, bahwa ia bersedia menyerahkan semuanya.

Skye sedikit ragu, ia takut jika nantinya Ellie akan marah padanya. Namun saat Sylus yang sedang menatapnya kemudian mengangguk, barulah ia memulai.

Pertama, ia gesekkan batang panjangnya itu dengan kemaluan Ellie. Ia gerakkan maju mundur, seolah sedang membasahi penisnya.

“Shh… ahh….”

Ia merem-melek, merasakan panas dari vagina itu. Baru luarnya saja sudah sepanas ini. Bagaimana dalamnya?

Maka, karena ketidaksabaran itu, Skye kemudian memposisikan kepala penisnya di mulut vagina Ellie, mendorongnya pelan, sembari menikmati betapa hangat jepitan di bawah itu.

“Mmhh… S—kye….”

Persetan.

Dalam sekali hentak, Skye menjebloskan penis panjangnya ke dalam vagina Si Cantik, membuatnya refleks memekik kencang. Pekikan itu membuat Skye terdiam sejenak. Raut wajah sangenya hilang seketika. Ia panik.

“Sakit, ya?” Ia bertanya cemas. Ellie yang masih mengatur nafas di bawahnya itu hanya menggeleng pelan, membuat Skye menghela napas, sedikit lega. Lalu tak menunggu lama, ia bergerak, perlahan, tidak ingin menyakiti Si Cantik. Tak butuh waktu lama sampai Skye menaikkan tempo, membuat gadis cantik di bawahnya itu terhentak.

“Shhh… Ellie… memek lo enak—hhh banget….”

Suara desahan mereka berdua kemudian menggema, kembali bersahutan dengan suara dari televisi—kini suara tembakan. Sylus yang mulai gerah akhirnya beraksi. Tubuh Ellie yang semula bersandar padanya, ia angkat sampai tautan di antara mereka berdua terlepas. Ellie yang merasakan lubangnya kosong menjadi bingung. Ia diam saja ketika Sylus memutar tubuhnya, membuat mereka saling berhadapan. Namun pekikannya kembali lolos saat vaginanya kini terisi penis milik Sylus.

“Ahh!! Hnghh!”

Permainan mereka berbeda. Ellie selalu bisa merasakan gerakan Skye cenderung halus dan teratur. Sedangkan Sylus bergerak dengan lebih berani. Hentakannya terasa lebih dalam, membuat Ellie mau tak mau merasa pusing.

“Gimana kontol gue?” Sylus bertanya. Suara beratnya membuat Ellie refleks mengetatkan lubangnya.

“Ditanya itu dijawab bukannya malah tambah sange, perek.”

Ellie hanya menjawabnya dengan desahan. Otaknya sudah beku. Ia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain penis Sylus yang keluar masuk lubangnya dengan cepat. Ia tak ingat dunia, sampai ia merasakan lubang analnya seperti dibuka.

Ellie menoleh ke belakang, dan mendapati Skye sedang memasukkan dua jarinya ke dalam lubang analnya. Beruntung ada cairan vaginanya yang membuat lubang itu jadi licin, sehingga jari Skye bisa keluar masuk dengan mudah.

Syke tersenyum saat mendapati Ellie menatap ke arahnya. Ia keluarkan jarinya, sebelum mulai memposisikan lagi kepala penisnya, kali ini di depan lubang anal Si Cantik. Dalam sekali hentak, ia masukkan batang panjangnya itu ke dalam lubang anal Ellie—yang lagi-lagi membuat gadis itu memekik.

“ANGHHH!!”

Sylus meringis merasakan vagina Ellie mengetat kuat, sebelum cairan bening menyembur dari vagina itu.

“Shh… sialan. Lo crot?” Sylus memperhatikan bagaimana wajah kepayahan gadis itu, sebelum terkekeh.

Tanpa aba-aba, ia hentakkan kuat penisnya, bergerak cepat membuat Ellie memekik lagi. Di belakang sana, Skye juga tak mau kalah. Ia gerakkan penisnya dengan cepat. Hentakannya dalam dan pasti, membuat Ellie hanya mampu menggeleng merasakan kedua lubangnya dihajar habis-habisan.

“Ngghhh Ellie… lubang pantat lo enak banget, sial… hnghh….”

Sylus memajukan wajahnya, membuat bibirnya sejajar dengan telinga Ellie.

“Gimana rasanya dikontolin depan belakang? Nghh… enak?”

Ellie menggeleng. Ia seperti sudah kehilangan kewarasannya.

“E—nak—hh… ahh… aahhh….”

Kedua penis itu bergantian menghantam titik nikmatnya. Ellie benar-benar sudah tidak memiliki kewarasan yang tersisa, sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah memekik dan mendesahkankan nama kedua teman kecilnya itu.

“Sy—lushh… Skye… aahhh….”

Sylus menggigit bibirnya saat ia merasakan vagina Ellie semakin mengetat, gadis itu hampir klimaks lagi. Dan jepitan itu sukses membuatnya hampir mencapai pnucaknya.

“Shit, gue mau crot.”

Hentakannya makin cepat, disusul dengan Skye yang juga mempercepat hentakannya.

“Nghh Ellie… ahh… gue mau—hnghh… crot juga….”

Tak dapat ditahan lagi, merasakan kedua penis besar itu menumbuk tubuhnya dengan brutal, Ellie mengejang. Vagina dan analnya menjepit rapat, membuat kedua pemuda itu melenguh sembari menghentakkan penisnya kuat-kuat.

“HNGHHH!! AAHHH!!”

Cairan menyembur keluar dari vagina Ellie, membuat Sylus dan Skye semakin mempercepat gerakannya, hingga tiga hentakan kemudian Sylus menumpahkan spermanya di dalam vagina Ellie.

“Fuck! Nghhh!!”

Cairannya menembak jauh ke dalam sana, membuat hangat vagina Ellie. Sementara Skye, menyusul kemudian. Ia hentakkan penisnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkan muatannya dengan erangan keras.

“Nghhh!! Ellie—nghhh!”

Beberapa detik sampai muatan mereka benar-benar habis, Sylus dan Skye kemudian melepaskan penis mereka dari kedua lubang persenggamaan itu. Cairan sperma milik keduanya kemudian mengalir keluar, jatuh di karpet bulu yang sedari tadi menjadi alas bermain mereka. Ellie yang lemas luar biasa hanya bisa bersandar di dada Sylus, mengatur nafas dengan susah payah.

Skye yang sudah mengumpulkan tenaga kemudian menegakkan tubuh. “Gue ambil tisu dulu,” katanya. Namun, belum juga ia beranjak dari duduknya, tangan Ellie sudah menghalanginya untuk pergi.

Katanya,

“Mau lagi….”

END