Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-03
Words:
5,212
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
114
Bookmarks:
14
Hits:
4,840

It Wont Stop

Work Text:

James menarik pelan napasnya saat melihat ekspresi Keonho berubah— dari kaget, jadi pasrah manja dalam hitungan detik. Tangan James yang sudah terlanjur menyusup ke bawah celana pendek itu bergerak lambat, seperti sengaja menguji sampai mana batas Keonho.

Keonho memejam sebentar, lalu membuka matanya lagi untuk menatap James. Tatapan itu bukan tatapan orang yang ragu.
Itu tatapan orang yang memang mau.

James merasakan sesuatu mengunci di dadanya. Entah nafsu, entah rasa lain, tapi intens. Jemarinya mengusap paha dalam Keonho, lembut tapi penuh kontrol.

“You like it, huh?” suara James keluar rendah, sedikit berat.

Keonho menahan napasnya, tapi bukannya mundur— dia justru sedikit mendekat. Bibirnya terbuka tipis, seperti berusaha menahan suara.

“You know the answer, right…” Keonho menarik napas pendek, “aku nggak nolak.”

James mengangkat dagunya sedikit, menatap Keonho lebih dekat. Ada smirk kecil muncul di sudut bibirnya.

“Not enough?" Gumamnya.

Ia menekan jempolnya sedikit lebih kuat, gerakannya naik turun pelan, teratur.
Keonho menggigit bibir bawahnya, tubuhnya otomatis melengkung sedikit ke arah sentuhan itu. Suaranya pecah kecil—nyaris tidak terdengar, tapi James mendengarnya.

James mendekatkan mulutnya ke telinga Keonho, hampir menyentuh kulitnya.

“Definitely…” bisiknya, "i know you like it.”

Keonho tersenyum— kecil, nyaris nggak kelihatan, tapi James melihatnya jelas dari jarak sedekat itu. Senyum itu muncul bersamaan dengan matanya yang terpejam, seolah dia benar-benar menyerahkan semua kendali pada James.

Tangan James naik, telapak besarnya mengelus sisi wajah Keonho. Gerakannya lembut tapi penuh niat, dan Keonho merespons dengan miring sedikit ke arahnya, menikmati setiap sentuhan. Matanya perlahan terbuka, dan begitu ia melihat James…

…mereka berhenti.

Hanya saling menatap.

Dua pasang mata yang sama-sama panas, sama-sama menahan sesuatu yang terlalu jelas untuk disembunyikan.
Tatapan James jatuh ke bibir Keonho sebentar, singkat, tapi penuh makna—sebelum ia kembali mengunci mata itu.

Tangan James yang ada di bawah tetap bekerja, menjelajahi setiap inci dari Keonho, menyentuh, menekan, mengusap— membuat celana pendek Keonho terangkat sebelah, memperlihatkan betapa dia sudah tidak bisa menyembunyikan responsnya.

Keonho menggigit bibirnya, lalu perlahan memajukan tubuh. Pinggulnya bergerak, dan tangannya ikut naik ke dada James, mendorongnya sedikit— bukan menjauh, tapi memancing.

Gerakan kecil itu cukup untuk membuat James maju setengah langkah sampai punggungnya menyentuh tepi meja.

Keonho mendekat lagi, tubuhnya menempel. Tangan Keonho naik perlahan, jemarinya mengikuti garis rahang James seakan sedang memetakan setiap bentuknya. James menahan napas— sentuhan itu sederhana, tapi ada sesuatu yang terasa jauh lebih dalam dari sekadar sentuhan.

Keonho mengangkat wajahnya sedikit. Mata itu turun sebentar ke bibir James, lalu kembali naik, mengunci tatapan yang menunggu respon.

Dan di sana—
senyum kecil itu muncul.

Bukan senyum manis.
Bukan senyum malu.

Senyum yang bikin James refleks mengetatkan rahangnya di bawah sentuhan Keonho.

“Try me,” bisiknya pelan, hampir seperti sentuhan itu sendiri. Ujung kata-katanya menyapu kulit James, tepat di garis rahang yang tadi ia elus.

James tidak langsung menjawab. Matanya menatap Keonho seolah menilai, seolah memastikan apakah ucapan itu hanya keberanian sesaat atau sesuatu yang lebih serius.

Bahunya naik turun perlahan, menelan ketegangan yang tiba-tiba masuk begitu deras.

Kemudian ia meraih pergelangan tangan Keonho— tidak keras, tidak juga lembut—cukup untuk menahan tangan itu tetap di tempatnya.

“Sayang... jangan bilang begitu kalau kamu belum siap," gumam James, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.

Keonho tidak mundur. Dia justru mendekatkan wajahnya— bibir mereka nyaris bersentuhan, membuat jarak di antara mereka menipis hingga hampir tidak ada udara yang tersisa.

Tatapannya tetap sama: mantap. Menantang.

Dan James bisa merasakannya—
bahwa kali ini, tidak ada dari mereka yang sedang main-main.

Keonho mengecup sudut bibir James, lembut tapi jelas menantang.
“Emang aku keliatan main-main?”

James menatapnya tanpa berkedip. Gerakan tangannya— yang sejak tadi mengusap pelan di bawah celana pendek Keonho— ikut berhenti.
“Then,” ia menurunkan suaranya, “don’t regret anything, sayang.”

Keonho tersenyum manis sebelum menempelkan bibirnya pada bibir James. Gerakannya pelan, kedua tangannya otomatis melingkar di leher pria itu.

James ikut tersenyum kecil, membiarkan Keonho mengambil alih sesaat. Tangan yang sejak tadi berada di bawah celana pendek Keonho tetap mengelus— lebih terarah, menambah sensasi yang membuat napas Keonho tersendat. Sementara tangan satunya menahan punggung Keonho, menahannya tetap dekat.

Suara kecupan mereka terdengar jelas, melebur dengan napas yang mulai tidak teratur. James menikmati setiap ciuman yang Keonho berikan— pelan, lalu semakin dalam. Kedua tangannya naik, menahan pinggang ramping Keonho, menjaga tubuh itu tetap berada dekat dengannya di atas meja.

Keonho membalas dengan menempel lebih erat. Tangannya naik, membingkai wajah James, menariknya lebih dekat lagi— seolah tak ingin memberi jarak sedikit pun.

James menahan napas ketika Keonho menarik wajahnya lebih dekat. Ada sesuatu di tatapan Keonho— campuran yakin, manja, dan menuntut, yang membuat dunia James seolah mengecil jadi hanya satu titik: Keonho.

“Pelan,” gumam James, suaranya rendah, hampir serak.

Keonho bukannya mengendur. Ia justru menunduk sedikit, bibirnya menyusuri garis rahang James dengan lembut, seolah memetakan bentuknya. Jemari James otomatis mengencang di pinggang Keonho, menariknya makin dekat, hampir menempel sepenuhnya.

Keonho tersenyum kecil mendengar tarikan napas James yang tidak berhasil disembunyikan.
“Kamu yang mulai,” bisiknya di dekat kulit pria itu, hangat, membuat James terpejam.

James mengangkat wajah Keonho dengan kedua tangannya, ibu jarinya menyapu pelan pipi Keonho. “Dan kamu,” katanya perlahan, “selalu tau gimana bikin aku nggak bisa mikir jernih.”

Keonho menatap balik, matanya setengah redup.
“Emang itu tujuan aku.”

Tangan James turun ke pinggangnya lagi, menariknya lebih erat hingga dada mereka bertemu. Keonho memejam, tubuhnya otomatis mengikuti gerakan itu— seolah sudah hafal caranya menyatu dengan sentuhan James.

Bibir mereka kembali bertemu, dan kali ini James yang mengambil alih. Ia memiringkan sedikit wajahnya, memperdalam ciuman itu dengan kontrol yang pelan tapi dalam.

Keonho tersenyum di sela ciuman, pasrah mengikuti ritme yang James ciptakan. Jemari lentiknya naik mengelus tengkuk James, sentuhan ringan yang justru membuat James mengembuskan napas pendek dan— tanpa sadar membuka matanya.

Tatapan mereka bertemu di tengah ciuman itu. Dekat. Panas. Seakan seluruh ruangan lenyap.

Ciuman mereka terputus perlahan, hanya menyisakan napas yang saling menyentuh. Keonho masih membingkai wajah James, sementara James menatapnya seperti sedang mencoba membaca setiap detail ekspresinya.

“Hey…” bisik Keonho.

“Hm?” James menjawab, suaranya rendah.

Keonho tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, kan… kalau aku kayak gini sama kamu?”

James menyapu pipi Keonho dengan ibu jarinya, lembut tapi intens. “Sayang, aku justru suka kamu kayak gini.”

Keonho menahan napas sebentar— lalu senyumnya berubah. Sedikit nakal. Sedikit manja.
Dan James langsung tau Keonho sedang mulai cari masalah.

Keonho mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir James tapi sengaja berhenti satu sentimeter. “Kalau gitu… aku boleh nakal sedikit, kan?”

James terdiam sesaat. “Keonho.”

Alih-alih patuh, Keonho menurunkan wajahnya tepat pada tulang selangka pria itu— menciumnya sekilas.

Singkat, cuma setitik panas— dan langsung mundur, menatap James dengan mata yang terlalu percaya diri.

“… gitu contohnya.”

James menghela napas pendek, seperti baru saja ditantang secara langsung.
“Sayang,” katanya perlahan, “kamu beneran mau main kayak gitu sama aku?”

Keonho memiringkan kepala, pura-pura polos. “Kenapa? Kamu nggak bisa nyusul?”

Kata-kata itu yang memutus kontrol terakhir James.

Tangan James naik ke belakang kepala Keonho, menahan rambutnya dengan lembut tapi tegas. Ia menarik Keonho kembali ke arahnya— bukan dengan paksa, tapi dengan kepemilikan yang jelas.

“Kalau kamu senyum gitu lagi…” James berbisik di bibir Keonho, “aku nggak janji kita bakal tetap aman.”

Keonho hampir tertawa kecil. “Emang dari tadi kita gimana?”

Jawaban James bukan kata.
Ia hanya menarik pinggang Keonho, membuat tubuh itu menempel penuh di dadanya, mengurung pinggang ramping itu dengan kedua tangan. Meja di belakang Keonho berderak pelan saat tubuhnya terdorong lebih dekat.

“Aman, sayang.” James akhirnya berkata, suaranya turun nyaris seperti geraman halus, “Tapi kamu bisa bikin aku mulai kapan aja.”

Keonho melebarkan senyumnya, wajahnya memanas. “Kapan aja?”

James menunduk, bibirnya menyentuh bibir Keonho hanya sebagai ancaman manis.
“Kamu tau jawabannya.”

Keonho memejam tipis, jemarinya mencengkeram bahu James. “Kalau gitu…” napasnya goyah, “…lakuin sekarang."

James tersenyum miring. “Kalau gitu—”

Ia menarik Keonho lebih dekat lagi, membuat napas mereka bertabrakan.

“—jangan nyeselin apapun.”

Keonho merasakan seluruh tubuhnya melemah, bukan karena takut— tapi karena dia suka terlalu banyak.

Dan James tahu itu.
Dan Keonho tahu James tahu.

Udara di antara mereka menegang.
Manis. Panas. Dekat.

“Sekarang,” James berbisik, “kita lihat siapa yang nyesel duluan.”

James kembali mencium Keonho, lebih dalam daripada sebelumnya. Ciuman itu tertib, ritmis, penuh niat— seolah setiap kali bibir mereka bertemu, James makin yakin dengan apa yang ia mau dari Keonho.

Tangan James di balik kemeja kebesaran itu naik perlahan, menyusuri garis kulit Keonho yang masih hangat. Sentuhan awal dingin, tapi berubah jadi lembut—halus, terarah— membuat Keonho refleks menegang tipis.

Keonho tersentak kecil. “Ugh…”

James berhenti sejenak, bibirnya masih sangat dekat.
“Hey… you okay, honey?”

“N—nggak apa-apa… kamu ngagetin,” jawab Keonho pelan, pipinya memerah.

James tidak menjauh. Tatapannya justru menghangat, tapi ada sesuatu di baliknya—intens, fokus, dan penuh keyakinan.

“Oh?” James menggeser jari-jarinya lagi, lebih lembut tapi tetap jelas. “Bagian sini sensitif, ya?”

Keonho menggigit bibir bawah, wajahnya memanas. “James…”

James tersenyum kecil— senyum yang bahaya.
Karena itu bukan senyum orang yang mau mundur.
Itu senyum orang yang baru menemukan kelemahan baru Keonho.

“Kalau kamu nggak mau, bilang,” bisiknya lembut. “Tapi kalau kamu cuma kaget…”

Tangannya turun lagi, menyusuri sisi pinggang Keonho dengan telapak penuh.
“…aku bisa lanjut. Pelan.”

Keonho tidak sempat jawab. James sudah menarik pinggangnya lebih dekat, menahan tubuh Keonho tepat di antara kedua lengannya.

Tangan satunya menyusuri pinggul Keonho— mengusap, menahan, menuntun— cara yang sangat jelas menunjukkan bahwa James tahu apa yang ia lakukan.

“Nggak usah ditahan,” bisik James saat Keonho mengembuskan napas goyah. “Keluarin aja.”

Keonho menunduk sedikit, wajahnya merah seluruh. “You're touchy— ughh”

James mendekat lagi, bibirnya menyentuh sudut bibir Keonho sebelum menjawab.
“Sama kamu. Kenapa enggak?"

Ia menarik Keonho lebih dekat lagi, tidak memberi celah,
“Bahkan aku bisa lebih.”

Nada itu sendiri sudah cukup membuat lutut Keonho goyah.

Tangan James naik lagi, menyapu sisi perut Keonho— sentuhan luas yang hangat dan sangat terasa di kulit telanjang. Keonho terpekik kecil tanpa sengaja, menahan napas.

James langsung menatapnya.

Tidak agresif.
Tidak kasar.
Hanya intens.
Seolah setiap reaksi Keonho dicatat dan disimpan.

“Kamu suka, kan?” tanya James, suaranya rendah tapi stabil.

Keonho membuka bibir, tapi tidak ada suara yang keluar.

James tersenyum miring, sangat pelan—senyum orang yang tahu ia memegang kendali penuh, tapi tetap hati-hati.

“Gapapa,” ujar James sambil menyentuh pinggang Keonho lagi, lebih pelan tapi jauh lebih terasa. “Aku nggak perlu jawaban.”

Lalu ia menunduk, menempelkan keningnya ke kening Keonho, napas mereka bertabrakan.

“Sekarang,” bisik James, “boleh ya… aku sentuh kamu lagi?”

Keonho tidak bisa bicara.
Tidak perlu bicara.
Jarinya mencengkeram kerah James, menariknya sedikit— cukup sebagai jawaban.

Dan James tersenyum seperti seseorang yang sudah menunggu izin itu dari tadi.

Keonho baru saja menarik kerah James sebagai jawaban— gerakan kecil, tapi cukup untuk memutus sisa kontrol yang James simpan.

Dalam sekejap, James kembali mencium Keonho, tapi bukan seperti tadi.
Ciumannya lebih dalam, lebih berat, lebih menuntut.
Bibirnya ditarik, diberi ritme yang harus ia ikuti. Keonho hanya bisa ikut, karena James benar-benar mengambil alih.

Tangan James yang menahan pinggang Keonho kini bergerak lebih tegas— bukan kasar, tapi penuh kepemilikan. Jemarinya menyapu kulit di balik kemeja besar itu, naik-turun dengan tekanan yang bikin Keonho terangguk kecil tanpa sadar.

“Keonho…” suara James serak, terlalu rendah. “Liat aku.”

Pelan-pelan, Keonho membuka mata.

Dan James menatap— langsung, tanpa kedip, tanpa ragu.
Tatapan yang bicara lebih keras dari kata-kata.

Tangan James kemudian naik dari pinggang ke sisi tubuh Keonho, menyapu kulitnya dengan telapak penuh, membuat Keonho mengerjap kuat.

“God…” James mengembuskan napas, suaranya berat. “Kamu bereaksi segini cuma dari sentuhan?”

Keonho hampir memalingkan wajah, malu— tapi James menahan rahangnya dengan dua jari.

“No.”
Nada itu rendah, tegas.
“Lihat aku.”

Pelan. Perlahan. Keonho menoleh kembali.

“Good.” James tersenyum tipis— senyum yang terlalu percaya diri, terlalu memabukkan. “Let me see everything."

Tangan James turun lagi, kembali ke pinggang, menekan lembut titik yang tadi bikin Keonho tersentak.

Dan benar— Keonho kembali menggeliat kecil, bibirnya terbuka menahan suara.

James menunduk ke telinganya.
“Sensitive banget di sini…”
Jari James menekan halus lagi.
“…dan kamu cuma bisa nerima.”

Keonho meremas kerah James, napasnya berat. “James… you’re too—”

“Terlalu apa?” James berbisik, suaranya menurun seperti sesuatu yang bisa pecah.
“Terlalu deket?”
Jemarinya menyapu garis pinggang.
“Terlalu nyentuh kamu?”
Ia mencium rahang Keonho— lama, dalam.
“Atau terlalu bikin kamu nggak bisa mikir?”

Keonho mengembuskan napas patah. “James…”

James memiringkan kepala, menatap dari jarak yang terlalu dekat.
“Sayang,” ia menarik pinggang Keonho hingga tubuh mereka benar-benar bertemu, “aku masih pelan sekarang.”

Jemarinya menekan pinggang Keonho dengan perlahan— tapi intens.

“Kalau aku serius…”
James mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh bibir Keonho.
“…kamu nggak bakal bisa ngomong apapun.”

Keonho mematung— panas, gemetar, tapi tidak menjauh.

James tersenyum tipis, berbahaya.
“Aku tanya sekali lagi.”

Ia menyusuri sisi tubuh Keonho dengan sentuhan panjang, membuat Keonho menahan suara.

“Boleh aku lanjut?”

Keonho menutup mata, tangan mencengkeram bahu James.
Tidak ada kata.
Tapi tarikan kecil itu— itu jawaban.

James menunduk dekat ke telinganya.

“Good boy.”

James mencium bibir Keonho lagi, tapi hanya sebentar. Melumatnya pelan— kemudian ia melepasnya. Bibirnya turun menjelajah rahang hingga leher. Tangannya gencar di balik kemeja besar itu, meraba— mengelus halus perut Keonho.

Keonho menggeliat, tangannya menekan tengkuk James lebih dalam. Kakinya otomatis melingkar pada pinggang James yang tengah berdiri.

"Ughhm..."

Nafas James langsung berubah begitu Keonho mendongak— gerakan kecil yang terasa seperti undangan tanpa kata. Leher itu terbuka sepenuhnya, tipis, hangat, dan terlalu dekat untuk diabaikan.

Tangannya naik, menangkup sisi pinggang Keonho lebih erat, menarik tubuh itu sedikit lebih menempel pada dirinya. Sementara tangan Keonho di tengkuknya justru menambah tekanan— seolah meminta James untuk tidak berhenti, atau bahkan lebih dari itu.

“Hey, pretty…” bisik James, separuh terputus.

Ia menunduk lagi, bibirnya menyentuh kulit Keonho dengan ciuman yang lambat tapi penuh niat. Ia menyapu dari bawah telinga sampai ke tulang selangka, bukan tergesa, tapi dengan ritme yang sengaja membuat Keonho gemetar.

"U-ugnhh...!"

Begitu Keonho sedikit menegakkan tubuhnya karena gigitan itu, James langsung menahan pinggangnya dengan satu tangan— menjaga Keonho tetap berada di dekatnya.

Gigitannya tadi hanya iseng, tapi reaksi Keonho membuatnya ingin lanjut.

James menurunkan kepala lagi, kali ini lebih dalam, bibirnya kembali menempel pada kulit Keonho. Ia mengecup sekali… dua kali… lalu tanpa jeda, ia menghisap pelan di sisi tulang selangka yang lain. Tekanannya lembut tapi konsisten, cukup untuk membuat Keonho menarik napas pendek.

Tangan satunya menyelusup masuk ke balik kemeja besar Keonho, hangat dan besar— mengusap punggungnya pelan, naik turun dengan irama yang bikin Keonho makin condong ke arahnya. Jemari James menyisir kulit Keonho seolah menghafal tiap garis di sana.

“Mhmm…” James bergumam rendah di kulit Keonho, suara itu bergetar tipis karena ia sendiri mulai kehilangan ritme.

Ia kembali menggigit— kali ini sedikit lebih berani— kemudian menjilat bekasnya, seolah minta maaf dan sekaligus minta lagi.

Keonho otomatis membalas; jemarinya mengunci lebih kencang di tengkuk James, menariknya lebih dekat, lebih dalam.

James tersenyum separuh, napasnya hangat menempel di kulit Keonho.
“You love it, right…” gumamnya kecil, hampir seperti bisikan yang cuma dimaksudkan untuk Keonho.

Keonho masih mendongak— matanya terpejam dan ia tersenyum. Menikmati dan seolah menyukai apa yang James lakukan.

Tangannya perlahan naik sedikit ke rambut pria itu, meremas pelan.

James merasakan remasan itu— pelan, tapi cukup buat seluruh tubuhnya menegang sepersekian detik. Ada sesuatu di cara Keonho menyentuhnya: bukan agresif, bukan ragu… just the perfect amount. Seolah Keonho bilang lanjut tanpa benar-benar mengucapkannya.

James mengangkat kepala sedikit, hanya cukup untuk melihat ekspresi Keonho. Mata tertutup, bibirnya melengkung kecil—senyum yang nggak dibuat-buat, senyum yang muncul karena dia.

Dan itu bikin James sedikit gila.

Ia kembali turun, tapi bukan lagi ke tulang selangka. Ia naik sedikit, tepat ke bawah garis rahang Keonho. Bibirnya menyapu lembut dari titik itu, naik ke samping telinga— napasnya sengaja ia tahan di leher Keonho, panas, dekat, seolah menunggu reaksi berikutnya.

Tangan James di punggung Keonho ikut naik, masuk lebih dalam ke bawah kemeja besar itu, menyentuh kulit yang lebih sensitif di sekitar tulang belikat. Ibu jarinya membuat lingkaran kecil di sana, tanpa sadar mengikuti ritme napas Keonho.

"Ahh... mhmm..."

Keonho menggeliat, tawa kecil lolos setiap kali James mengisap sisi lehernya. Setelah beberapa detik, ia mendorong dada James pelan— bukan menolak, tapi membuat pergerakan baru.

James langsung berhenti, menatap Keonho dengan rasa penasaran yang jelas terlihat di matanya.

Keonho tersenyum. Kakinya yang tadi melingkar pada pinggang James ia tarik perlahan, menarik tubuh pria itu sampai terdorong ke ujung meja. Tangannya kemudian naik, menggantung di bahu James sebelum ujung jarinya mengelus tengkuk pria itu.

James mengangkat salah satu alis, sikapnya menunggu. Tapi Keonho hanya membalas dengan senyum manis—senyum yang jelas punya maksud lain.

Tangan Keonho turun dari bahu ke dada bidang James, mengelus di atas kemeja.
“Should I do it?” tanyanya, masih dengan senyum itu.

James terdiam. Pemandangan di depannya terlalu mematikan: Keonho dengan kemeja kebesaran yang melorot hingga memperlihatkan salah satu bahunya, bagian sisi lain kemeja itu terangkat dan memperlihatkan celana pendeknya. Semua itu disertai senyum polos-tapi-tidak-polos yang hanya diberikan Keonho padanya.

Secara refleks, tangan James di pinggang Keonho kembali mendekap, menghapus sisa jarak yang tadi diciptakan Keonho.

“What do you want, pretty?” bisik James, suaranya rendah.

Keonho masih tersenyum, jemarinya tetap mengelus dada pria itu— pelan, sabar, tapi menyimpan niat.

Ia tidak memilih menjawab, tapi tangannya kemudian turun ke bagian tengah dada James. Ibu jarinya menggambar garis kecil di sana, tepat di antara kancing kemeja. Gerakannya lembut… tapi sengaja.

Wajah James menegang, bukan marah—tapi karena detiknya terasa lama. Terlalu lama.

“Keonho…” suaranya berat, sedikit turun, mengancam manja. Jemarinya di pinggang Keonho berubah dari memegang menjadi mencengkeram perlahan, menarik pinggang itu lebih dekat ke tubuhnya.

Keonho hanya mengangkat dagu sedikit, bibirnya menyentuh udara tepat di depan bibir James… tapi tidak menyentuh James-nya.

“Aku nanya dulu,” ucapnya, lebih pelan, hampir seperti bisikan yang menari di bibir James,
“kamu mau aku lakuin… atau kamu mau aku main-mainin kamu dulu?”

James mengembuskan napas keras lewat hidung, rahangnya menegang.

“Don’t test me, honey,” bisik James rendah.
“Aku bisa ambil alih kapan aja.”

“Oh, really?” Keonho mengangkat dagu sedikit, matanya menyipit nakal.
“What if I do this?”

Tanpa memberi James waktu untuk bersiap, Keonho condong maju dan mencium rahang pria itu. Satu kecupan… lalu satu lagi. Ia seperti mengabsen setiap sisi rahang tegas itu— pelan, rapi, dengan niat yang sangat jelas.

James mengembuskan napas berat. Pegangannya di pinggang kecil Keonho otomatis mengerat, jari-jarinya nyaris meremas kulit di bawah kemeja.

Keonho tersenyum kecil, puas dengan reaksi itu. Ia turun perlahan ke leher, persis meniru apa yang James lakukan padanya barusan— sama ritmenya, sama tekanannya, tapi dengan sentuhan Keonho yang lebih lembut dan manis.

James menahannya, tapi bukan mencegah— lebih ke menahan diri sendiri agar tidak mengambil alih.

Sementara Keonho terus mencium, tangannya naik ke dada James, dan dengan gerakan pelan tapi mantap, ia mulai membuka kancing kemeja satu per satu. Kancing pertama terlepas. Kancing kedua menyusul.

James terkejut sesaat, napasnya goyah. Tapi ia tidak memprotes.

Tidak satu kata pun keluar dari mulut James. Ia hanya menghela napas pendek—napas yang terdengar seperti ia sedang berusaha mempertahankan diri— sambil membiarkan Keonho melanjutkan. Dan pada akhirnya semua kancing itu terlepas, membuka seluruh garis torso James dari dada hingga perut.

Jemari lentik Keonho langsung turun. Ia menyusuri dada James dari atas ke bawah, pelan… sangat pelan… seolah menghafal setiap pahatan otot yang bergerak mengikuti napas pria itu. Lalu ia naik lagi, membalik arah dengan sentuhan yang sama ringannya.

James tersenyum tipis, senyum yang muncul karena ia menikmati sekaligus kewalahan. Dia mengangkat satu tangannya, menyentuh rahang Keonho, lalu mendongakkan wajah Keonho keluar dari lehernya.

“Hey,” suaranya rendah, serak dengan kontrol yang mulai goyah.

Keonho mendongak. Kedua mata mereka saling menangkap— hangat, dekat, tegang.

“Nakal ya kamu…” ucap James, senyumnya menyerempet bahaya.

Keonho hanya membalas dengan senyum manis yang membuat matanya menyipit.

Kemudian, tanpa menunggu apa pun, ia memiringkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir James— pelan dulu, seperti permulaan. Tapi begitu sentuhan pertama terjadi, Keonho menekan sedikit lebih dalam.

Dan James membalas seketika.
Ciuman itu dalam, James turut memiringkan kepalanya guna mencari akses lebih.

Satu tangannya turun dari pinggang — menuju paha Keonho, mengangkat dan menahannya tepat di sisi tubuhnya. Sesekali mengelus pelan, menambah tensi di antara mereka.

Keonho menahan napasnya. Tangannya balas mengelus pelan perut James, membuat James mengeratkan cengkraman pada paha Keonho.

"Ughmm- ngh.."

James tersenyum mendengar lenguhan itu. Pegangannya makin gencar—meremas halus, menciptakan lebih banyak sensasi yang memaksa Keonho menahan napas.

Keonho berusaha keras menahan erangannya. Tiba-tiba ia turun dari meja, membuat James sedikit mundur karena gerakan mendadaknya.

Namun refleks, tangan James langsung menarik pinggang Keonho, menghapus jarak yang sempat tercipta. Ia kembali memagut bibir Keonho, melanjutkan ciuman yang sempat terputus.

Keonho tidak menolak— bahkan tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Tangannya melingkar di leher James, mengikuti ritme pria itu meskipun keputusan untuk berdiri barusan terasa benar-benar salah besar.

Perlahan, Keonho merasakan pergerakan.
Tangan James di pinggangnya turun perlahan, menuju pinggul, hingga menyusup ke dalam celana pendek itu— berhenti tepat di benda kenyal dan padat miliknya.

Keonho menahan napasnya. Tangan yang tadi hanya mengelus— pelan, sabar, seperti sedang menguji batas— kini menekan sedikit lebih dalam, menggenggam dengan ritme yang jauh lebih terarah. Rematan halusnya bukan keras, tetapi cukup untuk membuat Keonho kehilangan pijakan dalam ciuman itu.

Keonho berjengit, bibirnya terlepas sedikit dari ciuman mereka. Matanya melebar, napasnya tercekat.

“Angh—James..!” suaranya pecah, separuh tercekik, separuh memohon.

James melirik wajahnya dari jarak yang menyakitkan— terlalu dekat, terlalu intens.
“Apa?” gumamnya rendah, jempolnya masih bergerak pelan di bawah sana, seperti sengaja menunggu reaksi berikutnya.

Keonho menggenggam kuat bahu James, tubuhnya condong ke depan seakan ingin hilang di dadanya.
“A-anghh…,” ia berusaha bicara, tapi suaranya terdengar seperti erangan yang tersamarkan.

James tersenyum kecil— bukan mengejek, tapi jelas menikmati setiap detail reaksi itu.
“Suka? Suka aku giniin?” bisiknya sebelum meremas sedikit lebih mantap, hanya sekali, membuat Keonho kembali tersentak dan menarik napas tajam.

Keonho menggigit bibirnya keras-keras, mati-matian menahan suara.
“James-nghh... jangan… gitu…,” katanya— padahal dari nada suaranya, itu sama sekali bukan larangan.

James mendekat lagi, bibirnya menyentuh sudut bibir Keonho.
“Kalau kamu beneran mau aku berhenti…”
Ia menggerakkan tangannya sekali lagi—pelan, tapi tepat.
“…kamu nggak bakal panggil namaku kayak gitu.”

Keonho menggeliat, napasnya terputus-putus. Ia mendongak tanpa sadar— bukan karena ingin, tapi karena James tidak berhenti. Setiap gerakan pria itu seperti gelombang kecil yang naik perlahan, menghabisi fokusnya satu per satu.

Dan kemudian— tangan James yang satunya ikut turun. Tidak masuk. Hanya menyentuh dari luar, melalui kain celana pendek itu. Elusannya ringan, tapi terasa jelas… berbeda. Kontras dengan tangan sebelahnya. Mengacaukan.

Keonho tercekik napasnya sendiri.

Kaki Keonho gemetar— bukan sekadar lelah, tapi karena sensasi ganda itu membuat tubuhnya sulit memilih harus bereaksi pada yang mana.

“J–James, ughh…” suaranya pecah, hampir seperti ia memohon sesuatu yang belum ia mengerti.

James mendekat, menempelkan dahinya ke sisi wajah Keonho. Gerakannya lambat, seolah ia sedang menikmati bagaimana tubuh Keonho kehilangan kendali.

“Pegangan,” bisik James pelan di telinganya.

Nada suaranya rendah, mantap, dan entah bagaimana membuat dada Keonho semakin sesak.

Keonho menggenggam leher James lebih erat— berharap itu cukup untuk menahan dirinya tetap berada di dunia nyata, bukan tenggelam begitu saja dalam sensasi yang memabukkan itu.

James merasakannya. Tangannya yang berada di luar celana itu sekaligus untuk menahan pinggang Keonho lebih kuat, memastikan tubuh itu tetap dekat, tetap ada di pelukannya, tetap mengikuti ritme yang ia ciptakan.

“Gitu, stay like that," gumam James, ucapnya sambil tersenyum.

Keonho tidak bisa melakukan apa pun selain memeluk lebih erat— karena detik itu, satu-satunya hal yang stabil hanyalah James.

“Ughm… ah-hng…” Kesadaran Keonho terasa terkikis sedikit demi sedikit, suaranya pecah di antara tarikan napas.

James tersenyum mendengarnya. Ia menoleh, menatap Keonho dengan tatapan yang terlalu lembut untuk situasi seperti itu.
“Kamu suka?” tanyanya, sengaja dengan nada menggoda.

Keonho tidak menjawab— hanya menarik napas panjang yang bergetar.
James terkekeh kecil. “Kalau aku sih… suka banget.”

Tangan James meremas lagi, lebih mantap, membuat Keonho tersentak halus.
“Gemes deh kamu, sayang…” bisiknya rendah, nyaris seperti ia sedang menikmati setiap reaksi kecil Keonho.

James menurunkan wajahnya, napasnya menyapu kulit Keonho yang sudah memerah.
“Gemes banget…” ulangnya pelan, hampir seperti gumaman yang cuma boleh didengar Keonho.

Tangan James meremas lagi— lebih dalam, lebih yakin— membuat Keonho lemas, punggungnya sedikit melengkung tanpa bisa ia kontrol.

“Hnng… J-James…” suaranya pecah, nyaris seperti rengekan yang ditahan.

James tersenyum, puas. “Hmm? Baru gitu aja udah nggak bisa ngomong?” Bisikannya lembut, tapi nada manjanya kena banget di telinga Keonho.

Ia menarik tubuh Keonho mendekat, memindahkan berat badan mereka— ia mendorong pelan ke belakang. Menuntun sampai punggung Keonho menyentuh ranjang— gerakan yang natural tapi tetap membuat Keonho terengah.

James ikut turun, setengah menindih, wajahnya tepat di atas Keonho.

Tangan James naik, menyelinap masuk ke balik kemeja besar Keonho, kulit ke kulit.

Begitu telapaknya menyentuh pinggang Keonho langsung—
Keonho menggigit bibirnya, mengerang pelan, “…ahh… James—”

James menahan napas kecil, senyuman nakal muncul. “Gitu dong bales aku.”

Ia naik sedikit, satu jempolnya terarah menyentuh bibir Keonho— mengelusnya, sebelum menekan ringan dan menyusup ke dalamnya.

Keonho membiarkan itu, mengulumnya. James menatapnya dengan senyum tersungging di sudut bibirnya.

“Pretty…” gumamnya, matanya setengah redup sambil melihat Keonho menghisap jempolnya perlahan, pasrah, wajahnya memerah cantik.

“Lanjut, ya?” James berbisik, suaranya turun satu oktaf.

Keonho tidak membalas. Ia hanya membuka dirinya, membiarkan jempol James menjelajah— mengobrak-abrik isi mulutnya pelan, lembut, tapi memabukkan hingga lututnya serasa tak punya tenaga.

Rahang James sempat menegang melihatnya, namun senyum tetap tersungging di wajahnya.
Jari-jari tangan yang lain— yang tidak berada di mulut Keonho— mengelus sisi wajah Keonho seolah menenangkan sesuatu yang justru ia sendiri buat kacau.

James menunduk sedikit, wajahnya makin dekat. Napasnya menyapu bibir Keonho yang masih sibuk dengan jempolnya.

“Pretty, look at me..." bisiknya.

Keonho mengangkat pandangan pelan—mata yang basah, pipi memerah, dan jempol James masih di antara bibirnya. Pemandangan itu membuat dada James mengencang.

“Good boy.” gumam James, suaranya rendah sekali.

Ia menarik jempolnya keluar dengan gerakan lambat— benang tipis air liur menyambung sebentar sebelum putus. Keonho langsung menarik napas cepat, seolah baru dilepas dari trance.

James tak memberi waktu.
Tangan yang tadi mengelus wajah Keonho kini turun ke rahangnya, menahan agar wajah itu tetap menatapnya.

“Kamu bikin aku pengen banget, tahu nggak?”

Keonho menelan ludah, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari otaknya. “J-James…”

James naik sedikit di atas tubuh Keonho, menindih lebih penuh, tubuh mereka bersentuhan dari dada sampai pinggul. Keonho mengerang pelan.

Tangan James menyelinap lagi ke balik kemeja besar Keonho, tetapi kali ini lebih berani— telapaknya bergerak naik, menyapu kulit Keonho dari pinggang sampai tulang rusuk.

Keonho membeku sepersekian detik, lalu menggeliat lembut, seperti meminta lebih.

"Ahh- hngg... mhm.."

James hampir kehilangan kontrol melihat itu.
“Aku suka banget kamu begini…” suaranya serak, jujur, dan keukeuh nahan diri.

Ia menunduk, bibirnya menyentuh sudut bibir Keonho dulu— ringan, sekilas—sebelum akhirnya menekan penuh ke bibirnya, mencium tanpa ragu.

Keonho mencengkeram kerah kemeja James, menariknya lebih dekat.
Tubuh mereka melebur, napas tersangkut, dan segalanya terasa terlalu panas terlalu cepat.

“James…” Keonho berbisik di sela ciuman, suaranya patah-patah.

“Hmm?” James masih menahan pinggangnya, ibu jarinya mengelus lembut garis tulang belakang Keonho.

“Jangan berhenti…”

James menahan ciumannya sebentar, hanya cukup lama untuk melihat wajah Keonho yang masih terpejam, napasnya turun-naik cepat.

“I don’t even think about that…” bisik James sambil tersenyum kecil, suaranya serak tapi hangat.
Tangan besarnya bergerak pelan di pinggang Keonho, seolah mencetak bentuk tubuh itu di telapaknya. “I love to hold you close… like this.”

Keonho menggigit pelan bibirnya, napasnya keluar tak teratur. Sentuhan James di pinggangnya membuat tubuhnya bergetar pelan.

James tak tahan. Ia mencondongkan tubuh dan mengecup bibir Keonho sekali lagi— lebih lembut dari sebelumnya, tapi terasa dalam sampai ke dada.

Keonho memejamkan matanya sepenuhnya, membiarkan dirinya jatuh ke dalam sensasi itu.
“Nghh…” erangannya kecil, namun cukup untuk membuat James tersenyum puas.

James menempelkan dahinya ke dahi Keonho, membiarkan hidung mereka bersentuhan.
“You feel so good in my hands,” gumamnya, jempolnya menggambar lingkaran kecil di sisi pinggang Keonho.

Tangan Keonho terangkat perlahan, memegang kerah James, menariknya sedikit lebih dekat.
“…lagi,” bisiknya nyaris tanpa suara.

James tertawa kecil— luruh, sayang, dan jelas kalah.
“Of course, sayang.”

Ia menangkap bibir Keonho lagi, kali ini lebih dalam, lebih panas.

Keonho membalas— membiarkan sisa kewarasannya mengambil alih arah. Ciumannya lebih mantap, lebih mencari, seolah tubuhnya yang bicara lebih dulu daripada pikirannya.

James tersenyum di tengah ciuman itu sebelum tubuhnya bergerak turun, mengambil posisi di antara kaki Keonho dengan gerakan yang natural, tanpa memaksa. Tekanan dua tubuh itu membuat ranjang berderit pelan, cukup untuk membuat ruangan terasa lebih kecil dari seharusnya.

Ciuman mereka semakin dalam— ritmenya kacau, penuh tarikan napas yang terpotong antara ingin berhenti dan ingin tenggelam lebih jauh lagi.

Suara bibir yang saling lepas dan kembali bertemu mengisi udara. Napas James berat, hampir menyentuh pipi Keonho setiap kali ia menariknya.
Dan dari Keonho… suara kecil yang tidak bisa ia tahan, pecah di sela bibir yang merah karena terlalu banyak bercumbu.

"Angh-mhm..."

James menahan wajah Keonho dengan kedua tangannya, ibu jari mengusap pelan tulang pipi itu.
“Hey…” suaranya rendah, nyaris tidak stabil. “Look at me.”

Keonho membuka mata perlahan— kabur, memerah, dan jujur.

James menatapnya seolah dunia mengecil sampai hanya memuat mereka berdua.
“That’s it… stay with me,” katanya pelan, bukan perintah, tapi permintaan yang jatuh lembut di antara mereka.

Suasana tetap panas— tapi juga penuh sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang James sendiri tidak berani beri nama.

Ranjang kembali berderit— lebih jelas kali ini— seiring James menyesuaikan tubuhnya di antara kaki Keonho, berbagi panas, berbagi napas.

“Keonho…” suara James terdengar hampir putus. Bukan karena ragu— tapi karena terlalu ingin.

Keonho hanya menggeleng kecil, seolah bilang: nggak usah ngomong apa-apa.

James menelan keras, lalu menurunkan ciuman ke rahang Keonho, menyusuri garis kulit yang memerah karena sebelumnya.
Keonho menghirup napas tajam ketika James menemukan titik sensitif itu— tepat di bawah telinganya.

“A-ahh…” suara itu kecil, tapi cukup membuat James menghentikan gerakan dan menatapnya lagi.

Wajah Keonho sudah merah seluruhnya, bibirnya mengkilap, dadanya naik turun cepat.
James tersenyum pelan, bukan nakal—tapi kalah.

“You’re… killing me,” gumamnya, jari-jarinya menelusuri pinggang Keonho lagi dengan penuh hati-hati.

Keonho mengangkat satu tangannya, menyentuh pipi James dengan gemetar, lalu menarik James turun untuk mencium lagi— lebih keras, lebih dalam, seolah ia tidak mau memberi ruang sedikit pun.

James menahan pinggang Keonho, menariknya naik sedikit ke arahnya.

Ciuman mereka bertabrakan lagi, panas dan tidak rapi— tapi justru di situ letak kejujurannya.

Keonho memegang erat bahu James, bibirnya bergetar saat melepas napas.

“James…”

“Ya, sayang?”

Keonho menarik napas pendek— seolah mau bicara, tapi yang keluar malah erangan kecil yang tak terkontrol.

"A-ahh.... ngh-mmh..."

Dan itu membuat James hampir kehilangan dirinya lagi.

Kedua netra itu bertemu— keduanya menggelap, berat. Seolah tertutup kabut yang menggebu dari dalam dada mereka masing-masing.

Keonho menahan napas. Jemarinya naik, mengelus rahang pria di atasnya itu dengan sentuhan yang hampir gemetar. Lalu ia mengangguk kecil.

Napas James langsung tercekat. Tatapannya luruh menatap wajah cantik di bawahnya, seakan segala logikanya runtuh di detik itu juga.

“Sayang…” panggilnya pelan, nyaris seperti permohonan.

Tapi tangan Keonho bergerak, menutup bibir James sebelum pria itu bisa menyelesaikan kata-katanya. Ia menggeleng kecil, tatapannya mantap— cukup untuk menjawab semua keraguan.

James masih mencari kepastian, suaranya rendah. “Think again, honey…”

“No, no—” Keonho mengangkat sedikit tubuhnya, mengecup bibir James singkat, seperti menandai. “I want it. Please…”

Napas James langsung runtuh.

Keonho baru selesai mengucap ketika jemari James sudah menahan pinggangnya erat, seolah tubuh itu bisa hilang kalau ia telat satu detik saja.

Gerakannya berubah— bukan lagi ragu, tapi hati-hati yang intens. Dengkul James menahan paha Keonho, memiringkannya sedikit, memberi ruang. Tangan satunya merayap masuk ke balik kemeja besar yang dipakai Keonho; hangat telapaknya menyentuh kulit dingin di pinggang, naik perlahan ke punggung.

Keonho tersentak kecil, tapi bukan menolak— tubuhnya justru melengkung mengikuti.

James menunduk, bibirnya jatuh ke pangkal leher Keonho. “Tell me what you feel, sayang…” suaranya rendah, nyaris serak.

Keonho mengusap tengkuk James, menarik napas yang patah-patah. “I like it… suka— kayak gini…”

Itu sudah cukup untuk memutus sisa kendali James.