Actions

Work Header

Ku Habiskan Uang Terakhirku Untuk Menikmati Kupu-Kupu Indah Di Pinggir Kota Jakarta

Summary:

Uang Leo tersisa 100 ribu.

Tanpa pekerjaan di pusat Ibu Kota disertai tuntutan menghidupi keluarga di kampung, untuk pertama kalinya Leo memilih kebahagiaannya sendiri.

Uang 100 ribu itu akan ia gunakan untuk menyewa lonte cantik yang dikenalnya melalui aplikasi X.

Work Text:

Tiga bulan lalu, Leo terkena layoff.

Padahal Leo merupakan karyawan yang cukup rajin. Di tahun kedua bekerja di perusahaan tersebut, Leo selalu mengerjakan tugasnya tepat waktu dan minim sekali melakukan kesalahan.

Oleh sebab itu Leo tidak pernah siap menghadapi fakta bahwa ia merupakan salah satu dari banyaknya karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja yang diakibatkan keadaan ekonomi Indonesia yang memburuk, berefek pada perusahaan yang memilih melakukan pengurangan karyawan.

Sudah bolak-balik mendaftar kesana kemari. Mulai dari staff kantoran seperti pekerjaan sebelumnya sampai menjadi cleaning service. Namun dari ratusan job application yang dilakukan, tidak ada satupun yang menerimanya. Paling-paling hanya panggilan interview, kemudian Leo akan diberi janji-janji palsu apabila diterima maka mereka akan menghubungi kembali.

Namun sampai saldo hampir mendekati 0 rupiah, panggilan kerja tak pernah diterimanya.

Gaji UMR pas-pasan harus bisa memenuhi biaya hidup di Jakarta yang semakin meroket. Ditambah dengan tuntutan menghidupi satu keluarga di kampung, dimana kedua adiknya masih berada di bangku SMA dan SMP serta si Ibu dengan tabiat sok kaya yang suka meminjamkan uang kepada para tetangga.

Dalam kos-kosan 3x3 meter seharga 500 ribu per bulan di tengah kota Jakarta itu, Leo sedang rebahan di atas kasur busanya.

Dibalik muka datar yang lagi menatap layar ponsel itu, ada isi kepala yang mau meledak saking pusingnya.

Di layar ponsel itu terpampang jumlah saldo tabungan Leo, hanya tersisa 100 ribu sekian rupiah. Hasil nganggur tiga bulan, diperparah dengan kebohongannya menutupi fakta bahwa dia sudah terkena layoff dari keluarga. Jadilah Leo mau tak mau tetap mengirimkan uang bulanan kepada keluarga di kampung dengan nominal yang terus menurun dalam tiga bulan terakhir.

Alasan kebohongan Leo karena takut tuntutan sang Ibu yang pasti akan menyuruhnya cepat-cepat mencari pekerjaan. Takut dikiranya Leo cuman santai-santai saja, padahal kenyataan jauh berbeda.

Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang sedang serba sulit, mencari kerja bukan perkara kemauan semata. Kesempatan semakin sempit sementara persaingan semakin padat. Usaha keras sekalipun tidak langsung berbuah hasil sebab yang berusaha keras pasti akan kalah dengan usaha Mami Papi yang sudah menyiapkan posisi buat si anak.

Oleh sebab itu Leo memilih diam, pikirnya agar mentalnya aman dari tuntutan si Ibu.

Namun terlalu fokus pada keamanan Mental Health, Leo tidak memikirkan bahwa adanya kesempatan bahwa ia akan menjadi pengangguran dalam waktu yang lebih lama.

Terlalu bangga akan prestasi dan IPK 4.00nya selama kuliah, ditambah dengan track recordnya sebagai salah satu staff karyawan dari perusahaan cukup terkenal yang baru saja mem-layoff-nya. Leo pikir ia akan mudah diterima oleh perusahaan lain.

Tapi Leo salah, sekarang dia sudah diambang kematian karena ekonomi.

Kira-kira kemana ya janji-janji 19 juta lapangan pekerjaan dan 8% kenaikan ekonomi itu?

Apakah 19 juta lapangan pekerjaan itu digantikan oleh 19 juta lapangan padel? Atau lapangan pekerjaan yang dijanjikan itu sebenarnya untuk yang punya koneksi orang dalam saja?

Bodo amat lah, rakyat kecil kayak Leo bisa apa. Mau mem-kritik lewat sosial media bisa dipenjara, kalau ikut demo bisa dilindas kendaraan berlapis baja.

Jadi, dengan kuota sisa 1 GB itu, Leo tak lagi membuka Linkedin ataupun web-web perusahaan. Ia memilih untuk scroll aplikasi X miliknya yang sudah jarang dibuka– hemat kuota.

Namun bukannya jokes lucu seperti biasa, dalam timeline-nya hanya berisikan kabar-kabar buruk kondisi negaranya saat ini.

Mulai dari demo yang dilandasi para guru honorer yang pengabdiannya tak dihargai, kebakaran di beberapa kawasan Indonesia yang mungkin saja akan dijadikan lahan sawit baru, 17 triliun uang rakyat yang akan digunakan untuk mendukung genosida, hingga ambruknya IHSG Indonesia yang bisa saja berdampak pada daya beli rakyat di masa depan.

Dalam hati pengen bodo amat karena sehari-hari ada program MBG yang anggarannya lebih diutamakan daripada anggaran untuk pendidikan. Tapi Leo baru ingat kalau dia bukan murid sekolah lagi, mau tidak mau Leo harus membeli makanan menggunakan uang sendiri.

Mana saldo bank-nya sisa 100 ribu sementara barusan si adik minta tolong di transferkan 200 ribu rupiah untuk membeli sepatu yang sudah jebol. Padahal baru seminggu lalu Leo kirimkan simpanan terakhirnya untuk kebutuhan keluarga bulan ini. Kata si adik, Ibu kembali berulah dengan meminjamkan uang kiriman Leo kepada tetangganya yang lagi butuh pinjaman buat nyicil motor.

Sudah anak pertama, tulang punggung keluarga, WNI pula.

Udahlah, mampus aja Leo.

Kata si nomor 1 negeri Konoha, fluktuasi harga saham hanya menjadi urusan investor dan pebisnis besar. Namun nyatanya sebelum IHSG anjlok pun, Indonesia telah memiliki warga kelas menengah hampir 80%. Apa lagi setelah ada berita bahwa IHSG anjlok.

Kalimat-kalimat penenang dari pemerintah itu hanyalah omong kosong belaka bagi Leo. Nyatanya gejolak pasar saham itu nantinya akan memiliki efek domino yang mempengaruhi sektor pangan.

But, who knows?

Siapa tau besok kiamat.

Rasanya Leo depresi, mau mati tapi takut masuk neraka karena dirinya bukanlah umat yang rajin ibadah. Namun kalau dipikir-pikir, nanti kalau semisalnya Leo mati dia mau negosiasi sama Tuhan supaya dia bisa masuk surga.

Soalnya jadi rakyat Indonesia itu sudah terasa seperti di neraka. Masa pas hidup tinggal di neraka terus mati juga harus masuk neraka. Gak adil.

Sudah dapat solusi tentang akhirat, Leo mau self rewards dulu.

Semenjak mendapatkan gaji pertama, ini pertama kalinya Leo menggunakan uang hasil kerja kerasnya untuk kebahagiaannya sendiri.

Bodo amat sama adik-adik yang minta dibelikan sepatu baru atau si Ibu yang kemungkinan akan menelpon di keesokan hari karena membutuhkan uang tambahan. Kali ini keputusan Leo sudah bulat, untuk sekali saja ia ingin mencari kesenangannya sendiri.

Maka sudah diputuskan, siang itu Leo menghubungi seseorang yang sudah menarik perhatiannya akhir-akhir ini.

Mereka berkenalan melalui aplikasi X. Berawal dari Leo yang berdebat dengan kumpulan suara 58,6%, kemudian orang itu turut berpartisipasi dalam diskusi panas tersebut.

Awalnya Leo hanya kagum dengan pendapat-pendapat yang diberikan oleh orang itu, Leo tebak orang itu adalah seorang akademisi yang ikut muak dengan keadaan Indonesia saat ini. Jadilah karena rasa kagumnya, Leo memberanikan diri nge-DM orang tersebut dengan maksud bertukar pikiran sembari menceritakan pengalamannya yang menjadi korban kekejaman rezim.

Orang itu menanggapi tiap aspirasi Leo dengan baik, berbeda dengan pemerintah yang pura-pura tuli ketika rakyat melakukan orasi di depan gedung DPR.

Hingga akhirnya orang itu mulai menceritakan tentang dirinya sendiri. Pekerjaannya bukan akademisi atau pekerjaan orang pintar lain seperti yang Leo pikirkan, namun seorang kupu-kupu malam dari pinggiran kota Jakarta, biasa dipanggil Sangwon.

Penyampaian argumentasi sudut pandang politik hanyalah retorika kosong semata, karena di akhir Sangwon menawarkan jasanya pada Leo.

Jelas waktu itu Leo menolak, karena ia bukanlah lelaki bernapsu bejat yang tidak bisa mengontrol kontolnya. Ia masih ingin menjaga keperjakaannya agar mampu membina keluarga harmonis di masa depan nanti.

Bukan berarti Leo menghakimi Sangwon. Semua orang bisa melakukan apapun di tengah kondisi ekonomi yang menghimpit. Leo pun tidak munafik mengakui bahwa ia sering coli menggunakan video berdurasi 20 detik dan foto-foto seksi Sangwon.

Bahkan sangking tidak munafiknya, akhirnya Leo tidak jadi dengan rencana awal membangun keluarga harmonis. Ia memilih menghabiskan uang terakhir berjumlah 100 ribu itu untuk menyewa Sangwon.

Dengan motor bebek yang telah menemani perjalanan hidupnya selama 8 tahun. Leo menempuh perjalanan dari pusat kota Jakarta menuju daerah pinggiran padat pemukiman. Dari jalan yang lebar dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya, suasana perlahan mulai berubah seiring dengan Leo yang melajukan motornya.

Pemandangan gedung-gedung tinggi berganti menjadi deretan rumah sempit diikuti oleh ukuran jalan menjadi gang-gang sempit, hanya cukup untuk satu motor lewat. Temboknya kusam, jemuran bergelantungan, dan bau got yang menyengat menusuk hidung.

Di beberapa titik jalan, Leo dapat merasakan tanah dibawah roda motornya ikut bergetar setiap kali KRL melintas, diikuti oleh suara klakson kereta yang memekakan telinga.

Tanpa sadar, Leo mulai membandingkan kosnya yang ia pikir begitu menyedihkan terasa lebih layak dibandingkan kawasan ini.

Tiga puluh menit perjalanan terlewati, mulai dari menempuh macetnya jalan utama kota jakarta hingga menelusuri gang-gang sempit yang berkelok seperti labirin. Kini Leo berdiri didepan pintu kayu sebuah kontrakan dengan tembok berwarna pink yang sudah mulai pudar.

Leo melirik ponselnya sekali lagi. Titik biru di Google Maps berhenti di tempat yang sama.

Leo telah sampai di rumah Sangwon.

Leo ketuk pintu usang itu. Matanya terasa seperti menerima berkat kala melihat pemuda cantik berambut pirang membukakan pintu untuknya, mempersilahkan Leo masuk ke kontrakan sempit yang dipenuhi oleh barang-barang si cantik.

“Ahnghh… Mas Leo pinter banget jilmeknya…”

Dada Leo membusung sombong kala menerima pujian dari si cantik yang lagi keenakan kala memeknya diberi servis top oleh lidahnya.

Semenjak dibukakan pintu oleh si pirang, Leo sudah terpesona dengan keelokan rupanya. Betapa beruntungnya Leo sebab pengalaman seks pertamanya ini dia mendapatkan partner yang bukan cuman wajahnya aja yang cantik, namun memeknya juga tidak kalah indah.

Begitu sampai, Sangwon langsung mengangkang dan mempertontonkan memeknya yang tembem bersih terawat, beneran kayak artis bokep Jepang yang suka Leo tonton di X. Belum lagi kelentitnya yang sudah menegang lucu di antara lipatan labianya.

Disuguhi memek begitu, langsung saja Leo santap.

Baru saja lima menit sampai di lokasi, ia sudah berada diantara paha mulus si cantik. Fokus mengulum kelentit Sangwon yang dari awal sebelum pertemuan sudah menarik perhatiannya. Ia kempotkan pipinya, menyedot klitoris si cantik seakan seperti seperti sedang menyedot air dari sedotan. Sementara jempolnya sibuk mencolok-colok lobang memek yang mulai mengeluarkan cairan lengket tanpa benar-benar memasukkannya.

Tindakan itu membuat si manis menjerit keenakan, “Ahhh! Mamas! J-jangan disedot gitu… Mau pipishh rasanya…”

Meski sudah ditegur Leo tetap tidak peduli, ia hisap klitorisnya lebih kuat. Tangan Sangwon bergerak mendorong kepala Leo, namun si dominan yang keras kepala malah mendorong pinggang si cantik lebih dalam menuju mukanya. Memek itu akan di makan habis oleh Leo malam ini.

“M-mass! awasss…”

Tanpa dapat dikendalikan, Sangwon Yang sudah tak kuat menahan godaan memuncratkan pipisnya tepat di wajah Leo yang berada di bawahnya.

Leo yang kini rambut dan wajahnya sudah basah karena kencing tidak marah. Ia malah mengelus memek kemerahan yang masih berkedut-kedut muncratkan cairan, langsung masukkan jempolnya sampai mentok ke dalem.
“Anghh! Mas sensitif…”

Keluhan Sangwon dihiraukan oleh Leo. Jempolnya didalam sibuk menyapa dinding lobang memeknya itu, dengan gerakan memutar seakan memijat dinding dalam memeknya. Sementara jempol kirinya kembali menggoda klitoris miliknya, memijat dengan gerakan memutar persis seperti yang dilakukannya di lobang memek Sangwon sehingga si pirang makin teler.

“Anjing, belom ada lima menit gua lamotin udah muncrat aja. Pantes memeknya dihargain 100 ribu doang!” Leo dengan terpaksa mengeluarkan jempolnya kala si cantik kembali mengeluarkan pipisnya dengan deras.

Ngeliat lonte sewaannya udah teler mana mungkin Leo bisa menahan diri. Ia tepuk-tepuk kecil memek ngowoh yang masih kedutan, membuat Sangwon memekik enak.

“A-aku harga segitu karena BU… Daripada Mas Leo, duit sisa 100 ribu bukannya dibuat nyari kerja malah buat nyewa lonte– ah!”

Celana bahan murahan itu Leo lepaskan memperlihatkan kontolnya yang sudah tegak mengacung, langsung ia masukkan ke memek Sangwon yang sudah sangat basah.

Penetrasi tanpa aba-aba langsung membuat memek Sangwon merasakan ngilu sekaligus nikmat ketika urat-urat kontol Leo menggaruk dinding memek gatelnya. Sangwon langsung bucat mengeluarkan cairan lengket dari lobang memeknya, padahal kontol Leo baru aja masuk.

“Anjing, memeknya ketat banget!”

Leo langsung genjot memek Sangwon. Sementara dibawah sana Sangwon mendesah menikmati genjotan Leo yang bikin kepala kontolnya nabrak pintu rahimnya. Dari seluruh pelanggan yang Sangwon terima, cuman kontol Leo doang yang bisa mentokkin sampe ke spot enaknya Sangwon.

“Ahh… Hnghh– Mas Leo genjotannya enakhhh…” Sangwon mengalungkan kedua lengan ke leher Leo, mempererat persatuan keduanya di bawah sana.

Leo yang sibuk menggenjot memeknya kini mulai mencium tengkuk Sangwon, menghirup wangi parfum murahan yang biasa dijual di indomaret. Entah kenapa, malah membuat Leo semakin sange.

“Ini pasti memeknya gak pernah dipake anggota DPR ya? Padahal kalau adek jual memeknya ke anggota DPR gak bakal tinggal di gang sempit gini cantik…”

“Padahal mukanya cantik, mulus, semok. Tapi kok gak bisa jadi simpenan anggota DPR sih, dek?”

Leo dapat merasakan memek yang tengah digenjotnya kini semakin mengetat kala ia sebutkan kata-kata Dewan Penghancur Rakyat, dirinya hanya tertawa menerima respon dari mulut bawah Sangwon yang rupanya lebih jujur.

“Lebih demen dientot pemerintah ternyata daripada dientot gue ya? Gue sebut kata-kata DPR memeknya langsung ngetat gini.”

Dibawah sana Sangwon hanya merespon dengan desahan melengking merasakan kontol Leo yang udah mentok masuk ke dalam rahimnya sembari menggelengkan kepalanya berusaha keras menolak ucapan Leo.

Leo perhatikan lamat-lamat wajah cantik Sangwon. Bibirnya sudah bengkak karena terus-terusan di gigit, rambut pirangnya sudah lepek, dan air mata membasahi pipinya.

“Mas… ah… Mas… A-aku gak suka kontol orang kaya… Nnhghh– ngewe sama orang miskin lebih enak–! Hhh…”

Mendengar kalimat yang susah payah Sangwon katakan membuat Leo tertawa. Hentakan demi hentakan Leo berikan kepada Sangwon sehingga membuat mata si cantik menjuling merasa keenakan.

“Ah! Ah! Anghh– Mas, adekhh mau bucattt!!”

“Bareng–hhh…”

Desahan nyaring keluar dari bibir tipis si cantik begitu semburan hangat kekuningan Sangwon keluarkan disusul dengan cairan bening kental yang terpompa keluar dari vaginanya, membuat Leo yang sudah tak tahan lagi langsung tumpahkan cairan puncaknya tepat didalam rahim Sangwon.

Leo yang begitu puas dengan pengalaman seks pertamanya itu mencium kening si cantik yang sudah hampir tak sadarkan diri karena kelelahan.

Napas keduanya beradu kasar dalam ruang pengap itu. Udara terasa berat sehabis acara persenggamaan keduanya, bercampur dengan bau keringat dan pesing. Sedangkan di pojok ruangan, suara kipas berderit pelan bersahut-sahutan dengan suara lagu dangdut dari speaker tetangga yang menembus dinding tipis kontrakan Sangwon.

Leo cepat-cepat langsung mengeluarkan kontolnya, menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar karena memuncratkan benih-benih calon anaknya ke dalam ruang nyaman yang akan membawa mereka lahir ke dalam dunia pilu ini.

Leo tatap perut rata Sangwon. Tangannya bergerak berikan elusan lembut pada bagian perut bawah Sangwon sambil menekan sedikit, mengundang desahan halus dari Sangwon yang belum benar-benar tidur.

“Kenapa mas?”

“Adek jangan lupa minum pil KB ya. Kasihan kalau anaknya lahir nanti, presidennya penjahat HAM terus wapresnya fufufafa…”

Series this work belongs to: