Work Text:
kursi di sebelah dane ditarik pelan. dane cuma melirik sebentar, itu riaan yang semalam bilang kalau dia bakal menyusul dane ke perpustakaan pusat kampus jam sembilan pagi untuk skripsian bareng.
jam sembilan pagi itu sudah dua jam lalu.
"tadi gak sengaja ketemu kating... alumni... terus ngobrol dulu." riaan memberi penjelasan tanpa diminta setelah menempatkan tubuhnya di atas kursi. kalau dane gak salah ingat, riaan sudah empat kali bilang begitu. tiga kali lewat pesan teks dan satu kali dia bilang secara langsung barusan.
lalu apa dane percaya? tentu saja iya. dane tau riaan gak mungkin bohong, tapi dia juga tau kalau sebenarnya riaan pasti bisa-bisa saja menyudahi obrolan dengan katingnya sesegera mungkin. persoalannya cuma satu, riaan-nya mau atau enggak?
ya, jelas riaan gak mau. kalau mau, dia gak bakal telat dua jam begini.
jari-jari dane yang semula sibuk bergerak di atas keyboard laptop berhenti. kali ini dia memiringkan sedikit tubuhnya ke kiri, memperhatikan riaan yang sibuk menyiapkan alat tempurnya: laptop, mouse, ponsel, buku catatan, pulpen, dan earphone kabel—barang-barang yang wajib ada selama dia skripsian.
"liat." sambil menunggu laptopnya menyala, riaan menyodorkan ponselnya pada dane. dane bisa melihat beberapa foto teman-teman sekelas riaan yang hari ini melaksanakan sidang skripsi. "berarti nanti kita juga sidang di sini, ya?"
"emang itu ruang sidang?"
riaan memperbesar salah satu foto, "iya, ini ada tulisannya."
dane gak menanggapi lagi. dia kembali duduk tegak dan lurus menghadap laptopnya. ada susunan kata-kata yang masih menunggu untuk diselesaikan menjadi sebuah kalimat utuh. kalau otak dane lancar, harusnya subbab 4.1 di skripsinya bakal rampung hari ini.
kalau soal skripsi riaan, untuk saat ini, dane gak tau apa pun. dia belum bertanya lagi sudah sejauh mana perkembangan skripsi pacarnya itu. terakhir yang dia tau, skripsi riaan sudah mau masuk kesimpulan, tapi dane gak yakin kalau sampai detik ini sudah ada perkembangan yang signifikan. soalnya selama ini riaan sering malas-malasan mengerjakan skripsi.
laptop riaan sudah menyala, menampilkan wallpaper bawaan yang gak pernah diganti semenjak laptop itu dibeli tahun lalu. kemudian dia membuka file yang diberi nama SKRIPSI RIAAN FIX YANG INI (SIDANG SEBELUM JULI 2026). di halaman terakhirnya, halaman delapan puluh empat, cuma ada dua baris tulisan yang terasa sangat menggantung.
sama sekali gak terpengaruh oleh semangat skripsiannya dane, riaan sekarang malah beralih menuju folder berisi kumpulan foto dan video di laptopnya. mencari apapun yang bisa dijadikan hiburan karena dia merasa otaknya belum siap kalau harus skripsian saat itu juga. dia butuh pemanasan sebentar (alasan).
dane melirik lagi, kali ini penuh tanda tanya. semakin heran ketika beberapa saat kemudian, di layar laptop riaan, mendadak muncul heath ledger dan julia stiles dalam film 10 things i hate about you.
"kocak, kok malah nonton," protes dane. "katanya mau skripsian."
"nanti, deh, nanggung soalnya sekarang udah jam sebelas. aku mulai skripsiannya abis makan siang aja." riaan menjawab tanpa menatap dane. telunjuknya sibuk mengoperasikan mouse, mencari scene yang menampilkan joseph gordon-levitt.
"kamu jadi nonton brokeback mountain?" riaan bertanya sambil mengetik. setelah makan siang, dia benar-benar mulai mengerjakan skripsinya dengan tenang. sudah setengah jam berlalu dan skripsi riaan juga sudah mau mencapai halaman delapan puluh lima.
"belum."
"di laptop aku ada, ayo nonton bareng," ajak riaan sambil mencocokkan kalimat yang baru dia ketik dengan catatan di bukunya. "tapi nanti, tunggu aku selesaiin dua halaman dulu."
"oke." dane setuju-setuju saja. dia sendiri sudah cukup puas dengan perkembangan skripsinya hari ini, jadi, rasanya gak terlalu masalah kalau dia mau nonton film setelah ini. lagipula jam empat sore nanti mereka pasti bakal pulang karena perpustakaan juga tutup di jam segitu. dane masih punya waktu di malam hari untuk lanjut skripsian.
"eh! atau nonton heated rivalry aja, ya? atau monster?"
"hirokazu koreeda?"
"iya."
dane, yang sebelumnya sempat memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah riaan, kembali ke posisi asalnya sambil mengangkat bahu, "skip, ah, sedih."
jawaban dane membuat satu ide baru muncul di kepala riaan. akhirnya, dia beralih memeriksa akun letterboxd-nya. mencari film yang bisa ditonton bareng dane kalau nanti draf skripsinya sudah bertambah dua halaman.
"kalo nobody knows?" riaan menyebutkan satu judul film yang dia tonton tahun kemarin secara acak.
dane menghela napas. nolak monster, tapi selanjutnya malah dikasih nobody knows yang justru lebih sedih. pacarnya ini sudah gak waras atau gimana, sih?
"oh, aku kemaren nemu rekomendasi film thailand. judulnya... hm... the paradise of thorns."
"tentang apa?"
riaan kemudian mencari sinopsis film itu di google dan membacakannya dengan suara pelan pada dane.
"kayaknya sedih, ya? gak, ah."
"the cure?"
"itu bukannya sedih juga?"
"iya."
"coba yang lain."
"dead poets society!"
dane mengerutkan dahi. gak ada kalimat yang paling cocok untuk mendeskripsikan riaan selain make ni orang. di hari yang seharusnya berbahagia begini disuruh nonton ulang dead poets society? dane, sih, lebih pilih skripsian sampai pingsan.
"deal, kita nonton anderperry."
riaan gak butuh lama untuk menemukan film itu di sebuah situs yang sudah pasti bukan situs untuk menonton film secara legal—tapi dia gak peduli. riaan juga dengan semangat menarik kursi dane untuk memangkas jarak di antara mereka, kemudian memasangkan earphone ke telinga kiri dane.
tombol play akhirnya ditekan.
mana yang katanya mau skripsian sampai bertambah dua halaman dulu sebelum nonton? semua akan pret pada waktunya. SKRIPSI RIAAN FIX YANG INI (SIDANG SEBELUM JULI 2026) juga resmi dilupakan. kalimat terakhirnya bahkan gak cuma gantung, tapi benar-benar belum selesai—belum sampai titik, tapi sudah ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
dane, sejak detik pertama film dimulai, sudah melipat tangan meski matanya gak ke mana-mana, tetap menatap layar laptop riaan. sementara itu, riaan ngoceh-ngoceh setiap karakter favoritnya, charlie dalton, muncul. juga setiap ethan hawke dan robert sean leonard saling melempar tatap. riaan lumayan suka doomed yaoi dan apapun yang dia yakini pernah terjadi di antara neil perry dan todd anderson.
tau-tau, hampir satu setengah jam sudah berlalu. perhatian riaan teralihkan ketika sederet notifikasi dari grup kelas masuk ke ponselnya.
"temen-temen aku udah selesai sidangnya," kata riaan setelah mengunci layar ponselnya.
"kamu gak ke sana? gak ikut ngerayain?"
"gak. sebenernya tadi pagi ikut-ikutan yang lain doang ke sana, aslinya aku males."
dane cuma mengangkat satu alisnya. mencoba menerka-nerka sendiri apa yang sekiranya bikin riaan malas merayakan sidang beberapa teman sekelasnya.
"soalnya—" omongan riaan terputus bersamaan dengan telunjuknya yang menekan tombol pause untuk menghentikan film yang sedang berputar. "—yang sidang, tuh, orang-orangnya satu circle... circle yang orang-orangnya nyebelin..."
"oh, gitu." dane mengangguk, gak heran. kalau berdasarkan cerita-cerita yang sering riaan sampaikan ke dane, teman-teman sekelasnya memang cukup banyak yang menyebalkan dan problematic. "emang yang mana? aku kenal salah satunya?"
"yang pernah copas tugas aku."
dane mengangguk lagi. dia ingat kejadian dua tahun lalu yang sempat bikin riaan mencak-mencak sepanjang hari itu. "ohh."
"terus yang satunya lagi, tuh, katanya... suka main di kosan pacarnya, terus suaranya kenceng banget... sampe kedengeran ke kamar-kamar sebelahnya..."
"ih."
"katanya, mereka kayak gitu, tuh, sering." cerita (gosip) riaan masih berlanjut. "kadang pernah berjam-jam dan gak berhenti. nah, suatu hari, mereka putus dan temen aku itu punya pacar baru lagi. terus, ya... tetep begitu... berisik... katanya, ya..."
dane bergidik. menyesali apa yang barusan dia dengar. dalam hati kecilnya, dane ingin sekali menjitak kepala riaan.
"oh, iya, yang copas tugas aku itu masa pernah ngajak orang fwb-an di base kampus. aku udah pernah cerita, belum, sih, soal itu?"
"udah," balas dane singkat. walaupun seringnya dia suka dengan gosip-gosip yang dibawa riaan, tapi ada waktunya dia bisa merasa gak tahan. apalagi kalau gosip-gosipnya seputar pergaulan bebas begitu, itu lumayan jauh dari topik gosip kesukaan dane.
"yaa, jadi aku males," kata riaan. "setiap liat muka dia, aku gak bisa gak ngebayangin suara-suara di kosan—"
gak, gue gak bisa denger ini terus-terusan. lagian, ini mana, sih, yang katanya mau skripsian?
"kamu pernah kebayang, gak, kalo kamu yang denger—"
"riaan, udah, ya."
"hmph!"
kalau sudah begini, dane gak punya pilihan lain selain membungkam pacarnya itu. telapak tangan dane yang besar hampir menutupi seluruh wajah riaan—walau niat awalnya cuma mau membekap mulutnya. bagian belakang kepala riaan juga dipegangi oleh dane.
"hhh! ihh!"
kemudian, kepala riaan diguncang-guncang selama beberapa detik. rasanya mirip gempa bumi, juga bikin pusing (kesaksian dari riaan, satu hari pasca kejadian). riaan gak bisa banyak bersuara sebagai bentuk berontak karena dia masih sadar kalau mereka sedang berada di perpustakaan. alhasil, jalan pintas yang riaan ambil adalah dengan menyingkirkan kedua tangan dane dari kepalanya secepat mungkin dan memutuskan untuk balas dendam.
kalau ukuran telapak tangan riaan gak sebesar itu untuk menutupi seluruh wajah dane, maka seharusnya satu cara ini bisa lumayan ampuh untuk mengirim balik rasa kesalnya.
riaan langsung mengarahkan kedua tangannya ke leher dane.
"aduh! uhuk! uhuk!"
sementara itu, di hadapan dane dan riaan yang sedang sedikit (betulan, kok, sedikit!) bertengkar, layar laptop riaan belum mati.
dead poets society, 1:21:02.
charlie dalton jadi saksi bagaimana riaan di siang—menuju sore—itu mencekik dane sampai batuk-batuk dan ditegur oleh penjaga perpustakaan karena terlalu berisik.
sebagai tanda perdamaian setelah serangan di perpustakaan tadi, dane mampir sebentar ke rumah riaan. dane agak canggung karena di rumah itu rupanya ada youngjun, kakaknya riaan yang pendiam dan irit ngomong. padahal, sebelumnya, riaan bilang kalau di rumahnya sedang gak ada siapa-siapa.
"lagi galau kayaknya itu, soalnya lagi ldr sama pacarnya," ucap riaan dengan niat sedikit meledek ketika youngjun masuk ke dalam rumah tanpa suara setelah melewati riaan dan dane yang sedang duduk berdua di teras rumah. "kamu mau pulang jam berapa? nanti kalo udah mau pulang ingetin aku ambil kue di kulkas buat kamu."
"kue apa?"
"gak tau. mama beli tadi siang, katanya emang buat kamu."
"yaudah, aku pulang sekarang aja, takut makin macet kalo kemaleman."
riaan masuk ke dalam rumah dan kembali menemui dane dengan sebuah kantung plastik tebal berwarna putih. dia mengantar dane sampai ke depan pagar rumah.
"besok mau skripsian di mana?" tanya dane sebelum masuk ke dalam mobil.
riaan menggeleng pelan, "gak skripsian dulu, ah. capek."
"yaudah." dane memilih untuk gak bertanya atau protes. mengajak riaan skripsian kadang sama susahnya dengan skripsian itu sendiri. "aku pulang, ya."
"tunggu bentar."
"kenapa?"
riaan menyodorkan kantung plastik yang dia pegang kepada dane, kemudian mendaratkan satu ciuman, tepat di atas bibir dane.
"apaan, nih?" tanya dane. gak biasanya riaan mau kasih cium secara cuma-cuma gini di tempat terbuka. biasanya pasti ada maunya. "kamu mau apa?"
"cium lagi."
"di sini banget?"
"emang kenapa? orang sepi, kok."
dane memperhatikan sekeliling. benar juga, sih. sejauh matanya memandang, gak ada siapa-siapa di sekitar sana karena riaan tinggal di perumahan yang lingkungannya gak begitu ramai, kecuali kalau sedang ada acara atau perayaan tertentu. dane akhirnya sedikit merendahkan badannya, menyesuaikan tinggi badannya dengan tinggi badan riaan, kemudian mengecup bibir pacarnya itu. mereka sudah pacaran bertahun-tahun, kecupan di bibir rasanya biasa saja. gak ada bedanya dengan kecupan di pipi.
benar, sama sekali gak ada bedanya—kalau saja riaan gak menahan tengkuk dane dengan satu tangannya supaya bibir mereka menempel lebih lama.
oh, gitu mainnya? oke.
dane mendorong riaan hingga hampir menabrak pagar. akibatnya, kantung plastik berisi kue dari mamanya riaan jatuh ke aspal, tapi, baik dane maupun riaan sama sekali gak peduli soal itu. setelah mengambil napas selama beberapa detik, dane melumat bibir riaan—bikin riaan segera menangkup wajah dane dengan kedua tangannya.
ciuman itu berakhir setelah riaan mulai kehabisan napas, padahal, lidah dane belum lama masuk ke dalam mulutnya. sekali lagi, sebelum balik mendorong dane untuk segera masuk ke dalam mobil, riaan meninggalkan satu ciuman di leher pacarnya yang beberapa jam lalu sempat dia cekik itu. sekujur tubuh dane dibuat panas karena dia mendadak tersadar kalau mereka hampir gak ada bedanya dengan teman sekelas riaan yang main dengan berisik di kosan pacarnya. dalam hati, dane bersyukur karena gak ada yang memergoki kegiatan mereka tadi—atau kalau ada, semoga orang itu gak ambil pusing dan mau memaafkan dane serta riaan. dane janji hal seperti ini gak bakal terulang lagi di kemudian hari. dia gak mau kalau sampai ada tetangga riaan yang mikir hal-hal buruk tentang riaan.
"aku pulang, ya," pamit dane, dia mengambil kantung plastik yang tadi jatuh di dekat kakinya. sebelum benar-benar berpisah, dia mengelus pipi riaan yang semerah tomat karena ciuman barusan.
"okee, hati-hati."
setelah dane pergi, riaan masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu. gak jauh dari sana, ada youngjun yang duduk di sofa. dia menatap riaan serius dengan matanya yang mirip orang ngantuk.
menyadari tatapan gak biasa dari kakaknya, riaan kemudian bertanya sambil mengambil kunci di atas meja, "kenapa?"
"gimana caranya biar gue berani ngajak pacar gue ciuman di depan rumah kayak lu sama dane tadi?"
"hah?"
